CONTOH PUISI ARAB PRA ISLAM


CONTOH PUISI ARAB PRA ISLAM
OLEH: ANDRI NAZARUDIN M
Di bawah ini merupakan contoh puisi Umru' al-Qais yang menceritakan perjalanan bersama kekasihnya yang bernama Unaizah, seperti di bawah ini:
ويوم دخلت الخدر خدر عنيزة  ¤  فقالت لك الويلات إنك مرجلى
تقول وقد مال الغبيط بنا معا  ¤  عقرت بعيرى يا امرأ القيس فانزل
فقلت لها سيرى وارخى زمامه  ¤  ولا تبعدينى من جناك المعلّل
"Suatu hari ketika aku sedang masuk  ke dalam Haudat kekasihnya Unaizah, maka Unaizah berkata kepadaku: "Celakalah kamu, jangan kamu beratkan untaku".
"Ketika punggung untanya agak condong ke bawah (karena berat), maka ia berkata kepadaku:  "Turunlah hai Umru al-Qais, janganlah kamu ganggu jalan untaku ini".
"Di saat itu, kukatakan kepadanya: "Teruskanlah perjalananmu dan lepaskanlah tali kekangnya, janganlah engkau jauhkan aku dari sisimu".
Penyair ini juga mensifati kecantikan kekasihnya, Unaizah, seperti dalam bait puisi di bawah ini:
فلمّا اجزنا ساحة الحىّ وانتحى  ¤  بنا بطن خبت ذى حقاف عقنقل
هصرت بفودى رأسها فتمايلت  ¤  على هضيم الكشح ريّا المخلخل
مهفهفة بيضاء غير مفاضة  ¤  ترائبها مصقولة كالسّجنجل
وجيد كجيد الرئم ليس بفاحش  ¤  اذا هي نصته ولا بمتعطل
وفرع يزين المتن اسود فاحم  ¤  انيث كقنو النخلة المتعثكل
"Ketika kami berdua telah melewati perkampungan, dan sampai di tempat yang aman dari intaian orang kampung"
"Maka kutarik dirinya sehingga ia dapat merapat kepadaku, perutnya ramping dan dadanya putih bagaikan kaca".
"Lehernya jenjang bak leher kijangi, jika dipanjangkan tidak bercacat sedikit pun, karena lehernya dipenuhi kalung permata".
"Rambutnya yang panjang dan hitam bila terurai di bahunya bagaikan mayang korma".
Pada bait puisi di atas Umru' al-Qais menggambarkan kecantikan kekasihnya dengan gayanya yang khas, dan gambaran yang seindah itu tidak dapat terlukiskan, kecuali bagi orang yang mempunyai daya khayal yang tinggi, ditambah dengan pengalaman yang luas, sehingga dengan itu semua ia dapat melukiskan sesuatu dengan berbagai macam perumpamaan dan sepertinya benar-benar terjadi.
Contoh lain yang menunjukkan kemahiran penyair ini dalam menggambarkan suatu kejadian dengan gayanya yang khas sehingga bayangan yang ada benar-benar terjadi. Seperti kesusahan yang dialaminya pada malam hari, seperti dibawah ini:
وليل كموج البحر مرخ سدوله  ¤    عليّ بأنواع الهموم ليبتلى
فقلت له لمـّا تمطّى بصلبه  ¤  واردف اعجازا وناء بكلكل
الا ايّها اللّيل الطويل الا انجلى  ¤  بصبح وما الإصباح منك بأمثل
"Di kala gelap malam bagaikan badai laut yang tengah meliputiku dengan berbagai macam keresahan  untuk mengujiku (kesabaranku)".
"Di kala malam itu tengah memanjangkan waktunya, maka aku katakan padanya".
"Hai malam yang panjang, gerangan apakah yang menghalangimu untuk berganti dengan pagi hari? Ya walaupun pagi itu pun belum tentu akan sebaik kamu".
Pada bait-bait puisi di atas, sebenarnya penyair ini ingin mengutarakan betapa malang nasibnya. Di mana keresahan hatinya akan bertambah susah bila malam hari tiba. Karena saat itu ia merasa seolah-olah malam itu sangat panjang sekali. Sehingga ia mengharapakan waktu pagi segera tiba, agar keresahannya dapat berkurang, namun sayang sekali keresahannya itu tidak juga berkurang walaupun pagi hari telah tiba. Puisi di atas, tidak lain merupakan contoh dari kepandaian Umru' al-Qais dalam menggambarkan suatu keadaan. Sehingga seolah-olah itu benar-benar terjadi.
Bait puisinya terkumpul semuanya dalam kasidah mu'allaqat-nya. Mu'allaqat Umru' al-Qais sangat terkenal dikalangan setiap orang yang mempelajari kesusastraan Arab. Penyair ini menciptakan kasidah muallaqadnya tidak lain adalah untuk mengabadikan suatu kejadian yang dialaminya. Seperti kejadian yang dialaminya besama sang kekasih Unaizah.
Pada suatu ketika Umru' al-Qais ingin bertemu kekasihnya, namun keinginannya itu selalu dihalangi oleh pamannya, karena ia takut anak puterinya itu akan terbujuk dengan puisi Umru' al-Qais. Karena itulah, Umru' al-Qais berusaha dengan sekuat tenaga untuk mendapatkan kesempatan agar dapat bertemu dengan anak pamannya yang bernama Unaizah. Dan pada suatu ketika, ia berhasil bertemu dengan Unaizah dan bersepakat bertemu dalam kesempatan lain bila anggota kabilahnya sedang pergi mengambil air. Dan telah menjadi kebiasaan kabilah itu, bila hendak mengambil air kaum lelaki berjalan terlebih dahulu, kemudian barulah diikuti kaum wanita dari belakang.
Sewaktu kaum lelaki pergi ke mata air, Umru' al-Qais tidak keluar bersama mereka, bahkan penyair ini menunggu keberangkatan kaum wanita. Dan ketika kaum wanita keluar menuju mata air, maka Umru' al-Qais keluar mendahului mereka agar dapat sampai lebih dahulu. Sesampainya di mata air yang bernama Juljul yang terletak di daerah Kindah (Nejed), penyair ini langsung bersembunyi di balik batu yang tidak terlalu jauh dari tempat itu.
Ketika rombongan wanita yang di dalamnya terdapat kekasihnya tiba di mata air Juljul, maka mereka langsung menanggalkan pakaiannya masing-masing, dan meletakkannya di atas batu. Setelah mereka masuk ke dalam air, maka Umru' al-Qais yang tengah asyik memperhatikan dari balik batu, langsung mengambil pakaian mereka semua, dan berjanji tidak mengembalikannya kecuali bila mereka keluar dari mata air itu  dengan keadaan telanjang bulat. Melihat kejadian itu, semua kaum wanita terkejut dan meminta Umru' al-Qais untuk mengembalikan pakaian mereka. Namun Umru' al-Qais tetap bersikeras tidak mengembalikan pakaian mereka bila mereka tidak mau keluar dalam keadaan telanjang bulat.
Akhirnya, dengan keadaan terpaksa kaum wanita itu keluar dari mata air Juljul dalam keadaan telanjang bulat untuk mengambil pakaian mereka dari tangan Umru' al-Qais, tetapi hanya Unaizah yang tidak mau keluar dari mata air, dan ia meminta Umru' al-Qais untuk mengembalikan pakaiannya. Setelah ia mengetahui bahwa Umru' al-Qais tidak akan mengembalikan pakaiannya, maka dengan terpaksa Unaizah keluar dari mata air dengan keadaan telanjang dan meminta Umru' al-Qais untuk mengembalikan pakaiannya. Dan kemenangannya itu, diabadikannya dalam kasidah mu'allaqat-nya.
Umru' al-Qais juga memiliki puisi-puisi panjang dan pendek. Puisi panjangnya yang paling terkenal dan menjadi buah bibir orang dalam kepopulerannya, terdapat dalam kumpulan mu'allaqat-nya seperti terdapat di bawah ini:
قفا نبك من ذكرى حبيب ومنـزل  ¤  بسقط اللوى بين الدحول فحومل
فتوضح بالمقراة لم يعف رسمها  ¤  لما نسجتها من جنوب وشمال
"Marilah kita berhenti untuk menangis (mengenang) kekasih dan rumahnya di Siqthi liwa antara Dakhul dan Haumal"
"Tudlih dan Miqrat, bekas-bekasnya belumlah lenyap karema hembusan angina selatan dan angina utara"
  


REFERENSI


Idris, Mardjoko. 2009. Kritik Sastra Arab. Yogyakarta: Teras

Related Posts

Subscribe Our Newsletter