MAKALAH KEPEMIMPINAN SITUASIONAL

BAB II
PEMBAHASAN
       A)    Pengertian kepemimpinan sitiuasional
Kepemimpinan adalah sebuah proses mempengaruhi orang lain untuk melaksanakan tugas-tugas organisasi secara suka rela (Fairholm, 1991; Gardner, 2000). Bahkan menurut Gemmil dan Oakley (1992) kepemimpinan adalah sebuah proses kerjasama antara anggota organisasi dalam merumuskan metode baru untuk meningkatkan kualitas organisasi.[1] Fulan mengatakan bahwa “leadership is a process of persuasion or example by which an individual (or leadership team) induce the group to pursue objectives shared by the leaders and his or her followers”. Fulan berpendapat bahwa kepemimpinan adalah suatu proses untuk mempengaruhi anggota organisasi lainnya untuk mencapai tujuan yang sudah dirumuskan oleh pemimpin dan anggota organisasi lainnya. Ini artinya bahwa kepemimpinan bukan hanya didefinisikan dari sudut jabatan, tapi lebih tepatnya, kepemimpinan ini adalah kemampuan seseorang untuk mempengaruhi orang lain tanpa paksaan untuk mencapai sesuatu yang sudah dirumuskan sebelumnya oleh anggota organisasi.[2] Menurut Hersey dan Blanchard, kepemimpinan situasional adalah:
1.      Jumlah petunjuk dan pengarahan yang diberikan oleh pemimpinan
2.      Jumlah dukungan sosioemosional yang diberikan oleh pimpinan
3.      Tingkat kesiapan atau kematanganpara pengikut yang ditunjukkan dalam melaksanakan tugas khusus, fungsi, atau tujuan tertentu.
Konsepsi ini telah dikembangkan untuk membantu orang untuk menjalankan gaya kepemimpinan dengan tanpa memperhatikan perannya yang lebih efektif didalam interaksinya dengan orang lain. Konseptual melengkapi pemimpin dengan pemahaman dari hubungan antara gaya kepemimpinan yang efektif dan tingkat kematangan para pengkutnya.
Dengan demikian walaupun terdapat banyak variable-variabel situasional yang penting lainnay misalnya : organisasi, tugas-tugas pekerjaan, pengawasan dan waktu kerja, akan tetapi penekanan dalam gaya kepamimpinan situasional ini hanyalah pada prilaku pemimpian dan bawahannya saja. Prilaku pengikut atau bawahan ini amat penting atau mengetahui gaya kepemimpinan situasional, karena bukan saja pengikut sebagai individu, ia menerima atau menolak pemimpinnya, akan tetapi sebagai pengikut secara kenyataannya dapat menentukan kekuatan pribadi apapun yang dipunyai pemimpin.
Perilaku tugas adalah suatu perilaku seorang pemimpin untuk mengatur dan merumuskan peranan-peranan dari anggota-anggota kelompok atau para pengukut,  menerangkan kegiatan yang harus dikerjakan oleh masing-masing anggota, dan bagai mana tugas-tugas tersebut harus dicapai. Perilaku hubungan adalah perilaku seorang pemimpin yang ingin memelihara hubungan-hubungan antara pribadi di antara dirinya dengan anggota-anggota kelompok atau para pengikut dengan cara membuka lebar-lebar jalur komunikasi, mendelegasikan tanggung jawab, dan memberikan kesempatan pada bawahan untuk menggunakan potensinya.
Menurut Model Fiedler, Mengemukakan bahwa kinerja kelompok yang efektif bergantung pada penyesuaian yang tepat antara gaya pemimpin dalam berinteraksi dengan bawahan dan pada tingkat mana situasi memberikan kendali dan pengaruh kepada pemimpin tersebut. Konsep ini telah dikembangkan untuk membantu seseorang untuk menjalankan kepemimpinan dengan memperhatikan peranannya yang lebih efektif dalam berinteraksi dengan orang lain ditiap harinya. Dalam hal ini, konsepsional menjadi pelengkap pemimpin dengan gaya kemimpinan yang efektif dan tingkat kematangan para pengikutnya. Walaupun terdapat banyak variabel – variabel situasional yang penting lainnya, perilaku pengikutnya ini amat penting untuk mengetahui kepemimpinan situasional. Dalam panjelasan lain diakatakan, teorti kepemimpinan situasional merupakan suatu pemdekatan terhadap kepemimpinan yang menyatakan bahwa pemimpin memahami prilakunya, sifat-sifat bawahannya, dan situasi sebelum menggunakan suatu gaya kepemimpinan tertentu.
Jadi kepemimpinan situasional adalah gaya kepemiminan yang bergantung pada kesiapan para pengikutnya, melakukan interaksi dengannya dan pada tingkat dimana situasi memberikan kendali dan pengaruh kepada sipemimpin. Dengan memerhatikan situasi yang terjadi di perusahaan, pemimpin dapat melakukan strategi-strategi yang baik untuk kemajuan produk maupun perusahaanya.
Berdasarkan teori gaya kepemimpinan situasional dari beberapa ahli diatas, maka dapat disimpulkan bahwa gaya kepemimpinan situasional adalah pola prilaku yang diperlihatkan seorang pemimpin pada saat memimpin pada saat mempengaruhi aktivitas orang lain baik sebagai individu maupun kelompok, maka konsep ini telah dikembangkan untuk membantu orang dalam menjalankan kepemimpinan dengan memerhatikan peranannya, yang lebih efektif dalam berinteraksi pemimpin dengan orang lain dalam kesehariannya. Dalam hal memengaruhi perilaku bawahan, situasi merupakan salah satu faktor penting karena kepribadian seseorang yang dibawa dari lahir bisa berubah dengan adanya kondisi lingkungan yang berubah.
B)    Gaya dasar Kepemimpinan Situasional
Gaya kepemimpinan situasional, yaitu gaya kepemimpinan yang berdasarkan atas hubungan yang dipengaruhi oleh 3 hal yang paling utama, yaitu tingkat bimbingan dan arahan yang diberikan pemimpin, tingkat dukungan sosioemosional yang disajikan pemimpin, serta tingkat kesiapan yang diperlihatkan bawahan dalam pelaksanaan tugas, fungsi dan tujuan tertentu.
Untuk mengimplementasikan gaya kepemimpinan situasioanl, maka seorang pemimpin perlu mengetahui bagaimana cara mempertemukan antara gaya kepemimpinan dengan kematangan pengikut karena pada saat seorang pemimpin berusaha mempengaruhi orang lain, maka tugas-tugas yang harus diketahui terdiri dari 2 bagian penting, diantaranya adalah mendiagnosa tingkat kesiapan bawahan dalam tugas-tugas tertentu, dan dapat menunjukkan gaya kepemimpinan yang tepat untuk setiap situasi.
Dalam kepemimpinan situasional, kematangan merupakan suatu hal yang kerap dipandang sebagai kemampuan dan kemauan orang-orang atau kelompok untuk memikul tanggung jawab untuk mengarahkan prilaku mereka sendiri dalam situasi tertentu. Dengan hal ini, maka dalam kepemimpinan situasional, maka kematangan merupakan konsep yang berkaitan dengan tugas tertentu dan bergantung kepada hal yang ingin dicapai oleh seorang pemimpin.Dalam hubungannya dengan prilaku pemimpin ini, ada dua hal yang biasanya dilakukan terhadap bawahannya atau pengikutnya menurut Hersey dan Blanchard yang dikutip oleh Miftah Thoha,( 2003:65) yakni : prilaku mengarahkan atau prilaku mendukung.
a)      Perilaku mengarahkan adalah sejauh mana seorang pemimpin melibatkan dalam komunikasai satu arah. Bentuk pengarahan dalam komunikasi satu arah ini antara lain, menetapkan peranan yang seharusnya dilakukan pengikut, memberitahukan pengikut tentang apa yang saharusnya bias dikerjakan, dimana melakukan hal tersebut, bagaimana melakukannya dan melakukan pengawasan secara ketat kepada pengikutnya.
b)      Perilaku mendukung adalah sejauh mana seorang pemimpin melibatkan diri dalam komunikasi dua arah, misalnya mendengar, menyediakan dukungan dan dorongan, memudahkan interaksi, dan melibatkan pengikut dalam pengambilan keputusan.
Kedua norma prilaku tersebut ditempatkan pada dua poros yang terpisah dan berbeda seperti dibawah ini sehingga dengan demikian dapat diketahui 4 (empat) gaya dasar kepemimpinan menurut Hersey dan Blanchard, Empat gaya dasar kepemimpinan situasional terlihat pada gambar sebagai berikut :

Sumber: Miftah Thoha, (2003:65)
 
 











Empat Gaya Kepemimpinan Situasional
Gaya 1 (G1), seorang pemimpin menunjukan perilaku yang banyak memberikan pengarahan dan sedikit dukungan. Pemimpin ini memberikan instruksi yang spesifik tentang peranan dan tujuan bagi pengikutnya, dan secara ketat mengawasi tugas mereka. Dalam hal ini pemimpin memberikan batasan peranan pengikutnya dan memberitahu merekatentang apa, bagaimana, bilamana dan dimana melaksanakan berbagai tugas. Inisiatif pemecahan masalah dan pembuatan keputusan semata-mata dilakukan oleh pemimpin.  Pemecahan masalah dan keputusan diumumkan, dan pelaksanaannya diawasi secara ketat oleh pemimpin.[3]
Gaya 2 (G2), pemimpin menunjukan perilaku yang banyak mengarahkan dan banyak memberikan dukungan. Dalam gaya ini dirujuk sebagai Konsultasi, karena dalam menggunakan gaya ini, pemimpin masih banyak memberikan pengarahan dan masih membuat hampir sama dengan keputusan, tetapi hal ini diikutu dengan meningkatkan banyaknya komunikasi dua arah dan perilaku mendukung, dengan berusaha mendengar perasaan pengikut serta ide-ide dan saran-saran mereka. Tetapi tetap pemimpin harus terus memberikan pengawasan dan pengarahan dalam penyelesaian tugas-tugas pengikutnya.
Gaya 3 (G3), perilaku pemimpin menekankan pada banyak memberikan dukungan dan sedikit pengarahan. Gaya ini dirujuk sebagai Partisifasi, karena posisi kontrol atas pemecahan masalah dan pembuat keputusan yang dipegang secara bergantian. Dengan penggunaan gaya 3 ini, pemimpin dan pengikut saling tukar menukar ide dalam pemecahan masalah, komunikasi dua arah ditingkatkan, dan pemimpin juga mmendukung usaha-usaha mereka dalam menyelesaikan tugas pengikutnya.
Gaya 4 (G4), perilaku pemimpin yang memberikan sedikit dukungan dan sedikit pengarahan. Gaya ini dirujuk sebagai Delegasi, karena pemimpin mendiskusikan masalah bersama-sama dengan bawahan sehingga tercapai kesepakatan mengenai definisi masalah yang kemudian proses pembuat keputusan didelegasikan secara keseluruhan kepada bawahan. Pemimpin memberikan kesempatan yang luas bagi bawahan untuk melakasanakan pengontrolan atas tugastugasnya, karena mereka memiliki kemampuan dan keyakina untuk mengemban tanggung jawab dalam pengarahan perilaku mereka sendiri.
Sesuai dengan uraian tersebut diatas, bahwa empat gaya dasar kepemimpinan merupakan hal yang penting bagi seorang pemimpin dalam hubungannya dengan perilaku pemimpin itu sendiri dalam mempengaruhi bawahannya dalam hal ini perilaku mengarahkan dan perilaku mendukung yang nantinya akan melibatkan hubungan kerja yang berorientasi akan tugas.
C)    Teori-teori kepemimpinan
Beberapa teori kepemimpinan,[4] yaitu :
1)      Teori Sifat Kepemimpinan
Teori ini sering disebut juga “great man”, lebih lanjut menyatakan bahwa seseorang itu dilahirkan membawa atau tidak ciri-ciri atau sifat-sifat yang diperlukan bagi seorang pemimpin, atau dengan kata lain, individu yang lahir telah membawa ciri-ciri tertentu yang memungkinkan dia dapat menjadi seorang pemimpin.
Keith Davis mengiktisarkan ada 4(empat) ciri utama yang mempunyai pengaruh terhadap kesuksesan kepemimpinan dalam organisasi :
1.      Kecerdasan (intelligence)
2.      Kedewasaan sosial dan hubungan sosial yang luas (social motuorty and breadth)
3.      Motivasi diri dan dorongan berprestasi
4.      sikap-sikap hubunga manusiawi
Ciri-ciri yang dikemukakan Davis diatas hanyalah salah satu daftar diantara banyak kemungkinan sifat-sifat penting kepemimpinan organisasi.
2)      Teori kelompok
Teori ini menyatakan bahwa untuk pencapaian tujuan-tujuan kelompok harus ada pertukaran yang positif antara pimpinan dan bawahannya. Kepemimpinan itu merupakan suatu proses pertukaran (exchange process) antara pemimpin dan pengikutnya, yang juga melibatkan konsep sosiologi tentang peranan yang diharapkan kedua belah pihak.
3)      Teori Situasional (contingency)
Setelah baik pendekatan sifat maupun kelompok terbukti tidak memadai untuk mengungkapkan teori kepemimpinan menyeluruh, perhatian dialihkan pada aspek-aspek situasional kepemimpinan, Fred Fieder telah mengajukan sebuah model dasar situasional bagi efektifitas kepemimpinan, yang dikenal sebagai Contingency model of leadership effectiveness. Model ini menjelaskan hubungan antara gaya kepemimpinan dan situasi yang menguntungkan atau menyenangkan.
Situasi-situasi tersebut digambarkan oleh Fiedler dalam tiga dimensi empiri,
yaitu :
a)      Hubungan pimpinan anggota
b)      Tingkat dalam stuktur tugas
c)      Posisi kekuasaan pemimpin yang didapat melalui wewenang formal
Situasi-situasi itu menguntungkan bagi pemimpin bila ketiga dimensi diatas adalah berderajat tinggi, bila setuasi terjadi sebaliknya maka akan sangat tidak menguntungkan bagi pemimpin. Atas dasar penemuannya, Fiedler berkeyakinan bahwa situasi-situasi menguntungkan yang dikombinasikan dengan gaya kepemimpinan akan menetukan efektivitas pelaksanaan kerja kelompok.
Penemuan Fiedler menunjukan bahwa dalam situasi yang sangat menguntungkan atau sangat tidak menguntungkan, tipe pemimpin yang berorientasi pada tugas atau pekerjaan (task-directed atau “hard-nosed”) adalah secara efektif. Tetapi bila situasi yang sangat menguntungkan atau tidak menguntungkan hanya moderat (terletak pada range tengah), tipe pemimpin hubungan manusiawi atau yang toleran dan lunak (“lenient”) akan sangat efektif.
Model Kepemimpinan Fieder Sebagai contoh, mengapa tiap pemimpin yang orientasi tugas, sukses dalam situasi yang sangat menguntungkan Fiedler memberikan penjelasan bahwa dalam kondisi yang sangat menguntungkan dimana pemimpin mempunyai kekuasaan, dukungan informal dan struktur tugas yang relative baik, kelompok siap untuk diarahkan dan mengharapkan pentunjuk apa yang harus dikerjakan.
4)      Teori Path-Goal
Telah diakui bahwa secara luas mengenai teori-teori kepemimpinan dikembangkan dan mempergunakan kerangka dasar teori motivasi. Ini merupakan pengembangan yang wajar, sebab kepemimpinan itu erat hubungannya dengan motivasi disatu pihak dan dengan kekuasaan dipihak lain. Teori Path-Goal ini menganalisa pengaruh (dampak) kepemimpinan (terutama prilaku pemimpin) terhadap motivasi bawahan kepuasan dan pelaksanaan kerja. Teori ini memasukan 4 (empat) tipe atau gaya pokok prilaku kepemimpinan yaitu :
a)      Kepemimpinan Direktif (Directive Leadership)
Bawahan tahu jelas apa yang diharapkan dari mereka dan perintah-perintah khusus diberikan oleh pemimpin. Disini tidak ada partisipasi oleh bawahan (pemimpin yang otokratis). Hasil penemuan menyatakan bahwa gaya kepemimpinan direktif mempunyai hubungan yang positif dengan kepuasan dan harapan bawahan melakukan pekerjaan mendua (ambiguous), dan mempunyai hubungan yang negatif dengan kepuasan dan harapan bawahan yang melakukan tugas-tugas yang jelas.
b)      Kepemimpinan Suportif (Supportive Leadership)
Kepemimpinan yang selalu menjelaskan, sebagai teman, mudah didekati dan dan menunjukan diri sebagai orang yang sejati bagi bawahan. Gaya kepemimpinan ini mempunyai pengaruh yang sangat positif pada kepuasan bawahan yang bekerja dengan tugas-tugas yang penuh tekanan, frustasi dan tidak memuaskan.
c)      Kepemimpinan Partisipatif (Participative Leadership)
Kepemimpinan mengajukan tantangan-tantangan dengan tujuan yang menarik bagi bawahan dan merangsang bawahan untuk mencapai tujuan tersebut serta melaksanakannya dengan baik. Diperoleh penemuan bahwa untuk bawahan yang melaksanakannya tugas-tugas mendua dan tidak rutin, makin tinggi orientasi pemimpin akan berprestasi, makin banyak bawahan yang percaya bahwa usaha mareka akan menghasilkan pelaksanaan kerja yang efektif.
Gaya-gaya kepemimpinan ini dapat digunakan oleh pemimpin yang sama dalam berbagai situasi yang berbeda. Baik model Fiedler maupun teori Path-Goal memasukan tiga variabel penting dalam kepemimpinan, yaitu : pemimpin, kelompok dan situasi.
A.    Gaya-Gaya Kepemimpinan
Gaya kepemimpinan adalah suatu cara yang dipergunakan oleh seorang pemimpin dalam mempengaruhi perilaku orang lain. Masing-masing pemimpin mempunyai gaya yang ingin memancarkan kepemimpinannya.[5] gaya kepemimpinan diantaranya :
1)      Gaya Kepemimpinan Direktif Otokratif
Gaya kepemimpinan ini memberikan peluang yang sangat luas kepada pemimpin untuk melaksanakan otoritasnya, sedangkan kebebasan bawahan untuk mengemukakan pendapat sangat terbata. Pemimpin merupakan pusat komando, pusat perintah terhadap bawahan.
2)      Gaya Kepemimpinan Persuasif
Pemimpin melaksanakan otoritas dan kontrol terutama dalam proses pemecahan masalah dan pengambilan keputusan. Pemimpin memperhatikan masukanmasukan dari bawahan, bawahan mendapat kebebasan terbatas untuk mengemukakan pendapatnya, mereka diikut sertakan dalam pengambilan keputusan. Dalam hal ini, putusan pimpinan merupakan keputusan bersama meskipun jumlah/persentase masukan dari bawahan masih terhitung mini.
3)      Gaya Kepemimpinan Konsultatif
Pemimpin memberikan kempatan yang luas kepada bawahan untuk ikut serta dalam pengambilan keputusan. Cara yang ditempuh adalah menyajikan rancangan yang bersifat sementara. Rancangan tersebut ditawarkan kepada bawahan, yang masih terbuka kemungkinan adanya perubahan. Dengan cara ini pemimpin berkesempatan menguju gagasannya kepada bawahannya melalui proses konsultasi. Cara ini juga memberikan peluang yang luas bagi bawahan untuk mengemukakan pendapatnya secara bebas dalam membuat suatu keputusan manajemen.
4)      Gaya Kepemimpinan Partisipatif
Pemimpin memberikan kesempatan dan kebebasan yang seluas-luasnya kepada bawahan untuk mengemukakan pendapatnya. Pemimpin dan bawahan bekerjasama secara penuh dalam team. Cara lain, pemimpin dan bawahan bekerja dalam team tetapi pemimpin tidak berperan langsung melainkan mendelegasikan kepada staff senior. Pendelegasian pembuatan keputusan menunjukan adanya kebebasan bertindak dalam batas tertentu, meskipun bawahan sangat dominant tapi tetap tanggung jawab berada pada pimpinan.
5)      Gaya Kepemimpinan Musyawarah
Kepemimpinan berdasarkan tata nilai kebersamaan yang diwujudkan dalam bentuk kekeluargaan dan gotong royang, tindakan pemimpin ditandai oleh rasa tolong menolong, saling membantu dan berkerja sama berdasarkan kasih saying, serta tetap berpegang pada efisiensi dan efektif. Tindakan yang dilakukan oleh pemimpin dalam pengambilan keputusan mengikuti prosedur penentuan masalah, pengumpulan data, analisa data dan pengambilan kesimpulan.






BAB III
PENUTUP
A)    Kesimpulan
Kepemimpinan situasional tidak jauh berbeda dengan kepemimpinan transformasional. Kepemimpinan situasional merupakan gaya pemimpin yang mempertimbangkan situasi yang dihadapi sebuah perusahaan. Baik dalam proses pengambilan keputusan terhadap sebuah masalah maupun dengan mengarahkan para bawahannya. Kepemimpinan situasional dalam hal ini, mengubah gaya kepemimpinan yang lama dengan gaya kepemimpinan baru yang di anggap lebih baik dengan pertimbangan situasi-situasi yang dialami perusahaan.
Dalam kepemimpinan situasional ini, pimpinan bukan hanya melihat dari situasi yang dialami oleh parusahaan, tetapi juga melihat kematangan para pengikutnya. Kematangan pengikut juga sangat berpengaruh terhadap perkembangan perusahaan sehingga perlu diperhatikan kematangan dari para pengikutnya.
B)    Saran
Gaya kepemimpinan situasional hanya salah satu dari beberapa macam gaya kepemimpinan. Setiap gaya kepemimpinan memiliki kelebihan dan kelemahan. Berdasarkan kesimpulan dan dengan memperhatikan keterbatasan penelitian ini, maka saran yang dapat disampaikan adalah:
Bagi Dosen
a.       Hendaknya guru dapat menggunakan gaya kepemimpinan situasional dalam pembelajaran yang dapat mempermudah siswa dalam memahami materi pelajaran. Hal ini bertujuan supaya dapat meningkatkan prestasi belajar siswa.
b.      Pembelajaran dengan menggunakan gaya kepemimpinan situasional membutuhkan kemampuan yang baik untuk melaksanakan, sehingga guru hendaknya berlatih secara terus menerus dan mencoba menerapkan gaya kepemimpinan situasional secara berulang-ulang didalam pembelajaran di kelas.
Bagi Peneliti
a.       Sebagai bahan kajian untuk dapat dimanfaatkan dalam penulisan karya ilmiah selanjutnya dan untuk mengadakan penelitian lanjutan.
b.      Perlu dilakukannya penelitian dengan menggunakan gaya kepemimpinan yang lain untuk dapat dibandingkan agar diperoleh gaya kepemimpinan yang betulbetul efektif dan dapat direkomendasikan dalam rangka meningkatkan prestasi











DAFTAR PUSTAKA
Ø  Riberu, J.   1982.  Dasar-dasar Kepemimpinan.  Jakarta : LEPPENAS
Ø  Thoha, Miftah. 1983. Kepemimpinan dalam Manajemen. Jakarta: Rajawali Pers.
Ø  Tampu bolon, Manahan p, (2004). Perilaku Keorganisasian, Jakarta: Ghalia Indonesia.
Ø  Winardi, 2000, Kepemimpinan Dalam Manajemen, Jakarta : PT Rineka Cipta
Ø  Kartini Kartono, 1983, Pemimpin dan Kepemimpinan, Jakarta : CV RAJAWALI
Ø  Mar’at, 1980. Pemimpin dan kepemimpinan, Bandung : Ghalia Indonesia







[1] Kartini Kartono, Pemimpin dan Kepemimpinan, : Cv Rajawali Peres: Jakarta),hal 5.
[2]Miftah Thoha, Kepemimpinan dalam Manajemen,( Rajawali Pers: Jakarta ), hal 65 . Selanjutnya disebut Miftah Thoha, Kepemimpinan dalam Manajemen

[3] Tampu bolon, Manahan p, Perilaku Keorganisasian, (Ghalia Indonesia: Jakarta).hal 47. Selanjutnya disebut Tampu bolon, Manahan p, Perilaku Keorganisasian.
[4] Mar’at, Pemimpin dan kepemimpinan, (Ghalia Indonesia: Bandung).hal 30. Selanjutnya disebut Mar’at, Pemimpin dan kepemimpinan

[5] Winardi, Kepemimpinan Dalam Manajemen, (PT Rineka Cipta: Jakarta),hal 15. Selanjutnya disebut Winardi, Kepemimpinan Dalam Manajemen

Related Posts

Subscribe Our Newsletter