BAB II
PEMBAHASAN
A)
Pengertian kepemimpinan sitiuasional
Kepemimpinan adalah sebuah proses mempengaruhi orang lain untuk
melaksanakan tugas-tugas organisasi secara suka rela (Fairholm, 1991; Gardner,
2000). Bahkan menurut Gemmil dan Oakley (1992) kepemimpinan adalah sebuah
proses kerjasama antara anggota organisasi dalam merumuskan metode baru untuk
meningkatkan kualitas organisasi.[1]
Fulan mengatakan bahwa “leadership is a process of persuasion or example by
which an individual (or leadership team) induce the group to pursue objectives
shared by the leaders and his or her followers”. Fulan berpendapat bahwa
kepemimpinan adalah suatu proses untuk mempengaruhi anggota organisasi lainnya
untuk mencapai tujuan yang sudah dirumuskan oleh pemimpin dan anggota
organisasi lainnya. Ini artinya bahwa kepemimpinan bukan hanya didefinisikan
dari sudut jabatan, tapi lebih tepatnya, kepemimpinan ini adalah kemampuan
seseorang untuk mempengaruhi orang lain tanpa paksaan untuk mencapai sesuatu
yang sudah dirumuskan sebelumnya oleh anggota organisasi.[2] Menurut
Hersey dan Blanchard, kepemimpinan situasional adalah:
1.
Jumlah
petunjuk dan pengarahan yang diberikan oleh pemimpinan
2.
Jumlah
dukungan sosioemosional yang diberikan oleh pimpinan
3.
Tingkat
kesiapan atau kematanganpara pengikut yang ditunjukkan dalam melaksanakan tugas
khusus, fungsi, atau tujuan tertentu.
Konsepsi ini telah dikembangkan untuk membantu orang untuk
menjalankan gaya kepemimpinan dengan tanpa memperhatikan perannya yang lebih
efektif didalam interaksinya dengan orang lain. Konseptual melengkapi pemimpin
dengan pemahaman dari hubungan antara gaya kepemimpinan yang efektif dan
tingkat kematangan para pengkutnya.
Dengan demikian walaupun terdapat banyak variable-variabel
situasional yang penting lainnay misalnya : organisasi, tugas-tugas pekerjaan,
pengawasan dan waktu kerja, akan tetapi penekanan dalam gaya kepamimpinan
situasional ini hanyalah pada prilaku pemimpian dan bawahannya saja. Prilaku
pengikut atau bawahan ini amat penting atau mengetahui gaya kepemimpinan
situasional, karena bukan saja pengikut sebagai individu, ia menerima atau
menolak pemimpinnya, akan tetapi sebagai pengikut secara kenyataannya dapat
menentukan kekuatan pribadi apapun yang dipunyai pemimpin.
Perilaku tugas adalah suatu perilaku seorang pemimpin untuk
mengatur dan merumuskan peranan-peranan dari anggota-anggota kelompok atau para
pengukut, menerangkan kegiatan yang
harus dikerjakan oleh masing-masing anggota, dan bagai mana tugas-tugas tersebut
harus dicapai. Perilaku hubungan adalah perilaku seorang pemimpin yang ingin
memelihara hubungan-hubungan antara pribadi di antara dirinya dengan
anggota-anggota kelompok atau para pengikut dengan cara membuka lebar-lebar
jalur komunikasi, mendelegasikan tanggung jawab, dan memberikan kesempatan pada
bawahan untuk menggunakan potensinya.
Menurut Model Fiedler, Mengemukakan bahwa kinerja kelompok yang
efektif bergantung pada penyesuaian yang tepat antara gaya pemimpin dalam
berinteraksi dengan bawahan dan pada tingkat mana situasi memberikan kendali
dan pengaruh kepada pemimpin tersebut. Konsep ini telah dikembangkan untuk
membantu seseorang untuk menjalankan kepemimpinan dengan memperhatikan
peranannya yang lebih efektif dalam berinteraksi dengan orang lain ditiap
harinya. Dalam hal ini, konsepsional menjadi pelengkap pemimpin dengan gaya
kemimpinan yang efektif dan tingkat kematangan para pengikutnya. Walaupun
terdapat banyak variabel – variabel situasional yang penting lainnya, perilaku
pengikutnya ini amat penting untuk mengetahui kepemimpinan situasional. Dalam
panjelasan lain diakatakan, teorti kepemimpinan situasional merupakan suatu
pemdekatan terhadap kepemimpinan yang menyatakan bahwa pemimpin memahami
prilakunya, sifat-sifat bawahannya, dan situasi sebelum menggunakan suatu gaya
kepemimpinan tertentu.
Jadi kepemimpinan situasional adalah gaya kepemiminan yang
bergantung pada kesiapan para pengikutnya, melakukan interaksi dengannya dan
pada tingkat dimana situasi memberikan kendali dan pengaruh kepada sipemimpin.
Dengan memerhatikan situasi yang terjadi di perusahaan, pemimpin dapat
melakukan strategi-strategi yang baik untuk kemajuan produk maupun
perusahaanya.
Berdasarkan teori gaya kepemimpinan situasional dari beberapa ahli
diatas, maka dapat disimpulkan bahwa gaya kepemimpinan situasional adalah pola
prilaku yang diperlihatkan seorang pemimpin pada saat memimpin pada saat
mempengaruhi aktivitas orang lain baik sebagai individu maupun kelompok, maka konsep ini
telah dikembangkan untuk membantu orang dalam menjalankan kepemimpinan dengan
memerhatikan peranannya, yang lebih efektif dalam berinteraksi pemimpin dengan
orang lain dalam kesehariannya. Dalam hal memengaruhi perilaku bawahan, situasi
merupakan salah satu faktor penting karena kepribadian seseorang yang dibawa
dari lahir bisa berubah dengan adanya kondisi lingkungan yang berubah.
B)
Gaya dasar Kepemimpinan Situasional
Gaya kepemimpinan situasional, yaitu gaya kepemimpinan yang
berdasarkan atas hubungan yang dipengaruhi oleh 3 hal yang paling utama, yaitu
tingkat bimbingan dan arahan yang diberikan pemimpin, tingkat dukungan
sosioemosional yang disajikan pemimpin, serta tingkat kesiapan yang
diperlihatkan bawahan dalam pelaksanaan tugas, fungsi dan tujuan tertentu.
Untuk mengimplementasikan gaya kepemimpinan situasioanl, maka seorang
pemimpin perlu mengetahui bagaimana cara mempertemukan antara gaya kepemimpinan
dengan kematangan pengikut karena pada saat seorang pemimpin berusaha
mempengaruhi orang lain, maka tugas-tugas yang harus diketahui terdiri dari 2
bagian penting, diantaranya adalah mendiagnosa tingkat kesiapan bawahan dalam
tugas-tugas tertentu, dan dapat menunjukkan gaya kepemimpinan yang tepat untuk
setiap situasi.
Dalam kepemimpinan situasional, kematangan merupakan suatu hal yang
kerap dipandang sebagai kemampuan dan kemauan orang-orang atau kelompok untuk
memikul tanggung jawab untuk mengarahkan prilaku mereka sendiri dalam situasi
tertentu. Dengan hal ini, maka dalam kepemimpinan situasional, maka kematangan
merupakan konsep yang berkaitan dengan tugas tertentu dan bergantung kepada hal
yang ingin dicapai oleh seorang pemimpin.Dalam hubungannya dengan prilaku
pemimpin ini, ada dua hal yang biasanya dilakukan terhadap bawahannya atau
pengikutnya menurut Hersey dan Blanchard yang dikutip oleh Miftah Thoha,(
2003:65) yakni : prilaku mengarahkan atau prilaku mendukung.
a)
Perilaku
mengarahkan adalah sejauh mana seorang pemimpin melibatkan dalam komunikasai
satu arah. Bentuk pengarahan dalam komunikasi satu arah ini antara lain,
menetapkan peranan yang seharusnya dilakukan pengikut, memberitahukan pengikut
tentang apa yang saharusnya bias dikerjakan, dimana melakukan hal tersebut,
bagaimana melakukannya dan melakukan pengawasan secara ketat kepada
pengikutnya.
b)
Perilaku
mendukung adalah sejauh mana seorang pemimpin melibatkan diri dalam komunikasi
dua arah, misalnya mendengar, menyediakan dukungan dan dorongan, memudahkan
interaksi, dan melibatkan pengikut dalam pengambilan keputusan.
Kedua norma prilaku tersebut ditempatkan pada dua poros yang
terpisah dan berbeda seperti dibawah ini sehingga dengan demikian dapat
diketahui 4 (empat) gaya dasar kepemimpinan menurut Hersey dan Blanchard, Empat
gaya dasar kepemimpinan situasional terlihat pada gambar sebagai berikut :
![]() |
||
|
||
Empat Gaya Kepemimpinan Situasional
Gaya 1 (G1), seorang pemimpin menunjukan perilaku yang banyak
memberikan pengarahan dan sedikit dukungan. Pemimpin ini memberikan instruksi
yang spesifik tentang peranan dan tujuan bagi pengikutnya, dan secara ketat
mengawasi tugas mereka. Dalam hal ini pemimpin memberikan batasan peranan
pengikutnya dan memberitahu merekatentang apa, bagaimana, bilamana dan dimana
melaksanakan berbagai tugas. Inisiatif pemecahan masalah dan pembuatan keputusan
semata-mata dilakukan oleh pemimpin.
Pemecahan masalah dan keputusan diumumkan, dan pelaksanaannya diawasi
secara ketat oleh pemimpin.[3]
Gaya 2 (G2), pemimpin menunjukan perilaku yang banyak mengarahkan
dan banyak memberikan dukungan. Dalam gaya ini dirujuk sebagai Konsultasi,
karena dalam menggunakan gaya ini, pemimpin masih banyak memberikan pengarahan
dan masih membuat hampir sama dengan keputusan, tetapi hal ini diikutu dengan
meningkatkan banyaknya komunikasi dua arah dan perilaku mendukung, dengan
berusaha mendengar perasaan pengikut serta ide-ide dan saran-saran mereka.
Tetapi tetap pemimpin harus terus memberikan pengawasan dan pengarahan dalam
penyelesaian tugas-tugas pengikutnya.
Gaya 3 (G3), perilaku pemimpin menekankan pada banyak memberikan
dukungan dan sedikit pengarahan. Gaya ini dirujuk sebagai Partisifasi, karena
posisi kontrol atas pemecahan masalah dan pembuat keputusan yang dipegang
secara bergantian. Dengan penggunaan gaya 3 ini, pemimpin dan pengikut saling
tukar menukar ide dalam pemecahan masalah, komunikasi dua arah ditingkatkan,
dan pemimpin juga mmendukung usaha-usaha mereka dalam menyelesaikan tugas
pengikutnya.
Gaya 4 (G4), perilaku pemimpin yang memberikan sedikit dukungan dan
sedikit pengarahan. Gaya ini dirujuk sebagai Delegasi, karena pemimpin
mendiskusikan masalah bersama-sama dengan bawahan sehingga tercapai kesepakatan
mengenai definisi masalah yang kemudian proses pembuat keputusan didelegasikan
secara keseluruhan kepada bawahan. Pemimpin memberikan kesempatan yang luas
bagi bawahan untuk melakasanakan pengontrolan atas tugastugasnya, karena mereka
memiliki kemampuan dan keyakina untuk mengemban tanggung jawab dalam pengarahan
perilaku mereka sendiri.
Sesuai dengan uraian tersebut diatas, bahwa empat gaya dasar
kepemimpinan merupakan hal yang penting bagi seorang pemimpin dalam hubungannya
dengan perilaku pemimpin itu sendiri dalam mempengaruhi bawahannya dalam hal
ini perilaku mengarahkan dan perilaku mendukung yang nantinya akan melibatkan
hubungan kerja yang berorientasi akan tugas.
C)
Teori-teori kepemimpinan
Beberapa teori kepemimpinan,[4]
yaitu :
1)
Teori
Sifat Kepemimpinan
Teori ini sering disebut juga “great man”, lebih lanjut menyatakan
bahwa seseorang itu dilahirkan membawa atau tidak ciri-ciri atau sifat-sifat
yang diperlukan bagi seorang pemimpin, atau dengan kata lain, individu yang
lahir telah membawa ciri-ciri tertentu yang memungkinkan dia dapat menjadi
seorang pemimpin.
Keith Davis mengiktisarkan ada 4(empat) ciri utama yang mempunyai
pengaruh terhadap kesuksesan kepemimpinan dalam organisasi :
1.
Kecerdasan
(intelligence)
2.
Kedewasaan
sosial dan hubungan sosial yang luas (social motuorty and breadth)
3.
Motivasi
diri dan dorongan berprestasi
4.
sikap-sikap
hubunga manusiawi
Ciri-ciri yang dikemukakan Davis diatas hanyalah salah satu daftar
diantara banyak kemungkinan sifat-sifat penting kepemimpinan organisasi.
2)
Teori
kelompok
Teori ini menyatakan bahwa untuk pencapaian tujuan-tujuan kelompok harus
ada pertukaran yang positif antara pimpinan dan bawahannya. Kepemimpinan itu
merupakan suatu proses pertukaran (exchange process) antara pemimpin dan
pengikutnya, yang juga melibatkan konsep sosiologi tentang peranan yang
diharapkan kedua belah pihak.
3)
Teori
Situasional (contingency)
Setelah baik pendekatan sifat maupun kelompok terbukti tidak
memadai untuk mengungkapkan teori kepemimpinan menyeluruh, perhatian dialihkan pada
aspek-aspek situasional kepemimpinan, Fred Fieder telah mengajukan sebuah model
dasar situasional bagi efektifitas kepemimpinan, yang dikenal sebagai
Contingency model of leadership effectiveness. Model ini menjelaskan hubungan
antara gaya kepemimpinan dan situasi yang menguntungkan atau menyenangkan.
Situasi-situasi tersebut digambarkan oleh Fiedler dalam tiga
dimensi empiri,
yaitu :
a)
Hubungan
pimpinan anggota
b)
Tingkat
dalam stuktur tugas
c)
Posisi
kekuasaan pemimpin yang didapat melalui wewenang formal
Situasi-situasi itu menguntungkan bagi pemimpin bila ketiga dimensi
diatas adalah berderajat tinggi, bila setuasi terjadi sebaliknya maka akan
sangat tidak menguntungkan bagi pemimpin. Atas dasar penemuannya, Fiedler
berkeyakinan bahwa situasi-situasi menguntungkan yang dikombinasikan dengan
gaya kepemimpinan akan menetukan efektivitas pelaksanaan kerja kelompok.
Penemuan Fiedler menunjukan bahwa dalam situasi yang sangat menguntungkan
atau sangat tidak menguntungkan, tipe pemimpin yang berorientasi pada tugas
atau pekerjaan (task-directed atau “hard-nosed”) adalah secara efektif. Tetapi
bila situasi yang sangat menguntungkan atau tidak menguntungkan hanya moderat
(terletak pada range tengah), tipe pemimpin hubungan manusiawi atau yang
toleran dan lunak (“lenient”) akan sangat efektif.
Model Kepemimpinan Fieder Sebagai contoh, mengapa tiap pemimpin
yang orientasi tugas, sukses dalam situasi yang sangat menguntungkan Fiedler
memberikan penjelasan bahwa dalam kondisi yang sangat menguntungkan dimana
pemimpin mempunyai kekuasaan, dukungan informal dan struktur tugas yang
relative baik, kelompok siap untuk diarahkan dan mengharapkan pentunjuk apa
yang harus dikerjakan.
4)
Teori
Path-Goal
Telah diakui bahwa secara luas mengenai teori-teori kepemimpinan
dikembangkan dan mempergunakan kerangka dasar teori motivasi. Ini merupakan
pengembangan yang wajar, sebab kepemimpinan itu erat hubungannya dengan
motivasi disatu pihak dan dengan kekuasaan dipihak lain. Teori Path-Goal ini
menganalisa pengaruh (dampak) kepemimpinan (terutama prilaku pemimpin) terhadap
motivasi bawahan kepuasan dan pelaksanaan kerja. Teori ini memasukan 4 (empat)
tipe atau gaya pokok prilaku kepemimpinan yaitu :
a)
Kepemimpinan
Direktif (Directive Leadership)
Bawahan tahu jelas apa yang diharapkan dari mereka dan
perintah-perintah khusus diberikan oleh pemimpin. Disini tidak ada partisipasi
oleh bawahan (pemimpin yang otokratis). Hasil penemuan menyatakan bahwa gaya kepemimpinan
direktif mempunyai hubungan yang positif dengan kepuasan dan harapan bawahan
melakukan pekerjaan mendua (ambiguous), dan mempunyai hubungan yang negatif
dengan kepuasan dan harapan bawahan yang melakukan tugas-tugas yang jelas.
b)
Kepemimpinan
Suportif (Supportive Leadership)
Kepemimpinan yang selalu menjelaskan, sebagai teman, mudah didekati
dan dan menunjukan diri sebagai orang yang sejati bagi bawahan. Gaya kepemimpinan
ini mempunyai pengaruh yang sangat positif pada kepuasan bawahan yang bekerja
dengan tugas-tugas yang penuh tekanan, frustasi dan tidak memuaskan.
c)
Kepemimpinan
Partisipatif (Participative Leadership)
Kepemimpinan mengajukan tantangan-tantangan dengan tujuan yang menarik
bagi bawahan dan merangsang bawahan untuk mencapai tujuan tersebut serta
melaksanakannya dengan baik. Diperoleh penemuan bahwa untuk bawahan yang
melaksanakannya tugas-tugas mendua dan tidak rutin, makin tinggi orientasi
pemimpin akan berprestasi, makin banyak bawahan yang percaya bahwa usaha mareka
akan menghasilkan pelaksanaan kerja yang efektif.
Gaya-gaya kepemimpinan ini dapat digunakan oleh pemimpin yang sama dalam
berbagai situasi yang berbeda. Baik model Fiedler maupun teori Path-Goal memasukan
tiga variabel penting dalam kepemimpinan, yaitu : pemimpin, kelompok dan
situasi.
A.
Gaya-Gaya Kepemimpinan
Gaya kepemimpinan adalah suatu cara yang dipergunakan oleh seorang pemimpin
dalam mempengaruhi perilaku orang lain. Masing-masing pemimpin mempunyai gaya
yang ingin memancarkan kepemimpinannya.[5] gaya
kepemimpinan diantaranya :
1)
Gaya
Kepemimpinan Direktif Otokratif
Gaya kepemimpinan ini memberikan peluang yang sangat luas kepada
pemimpin untuk melaksanakan otoritasnya, sedangkan kebebasan bawahan untuk mengemukakan
pendapat sangat terbata. Pemimpin merupakan pusat komando, pusat perintah
terhadap bawahan.
2)
Gaya
Kepemimpinan Persuasif
Pemimpin melaksanakan otoritas dan kontrol terutama dalam proses
pemecahan masalah dan pengambilan keputusan. Pemimpin memperhatikan
masukanmasukan dari bawahan, bawahan mendapat kebebasan terbatas untuk mengemukakan
pendapatnya, mereka diikut sertakan dalam pengambilan keputusan. Dalam hal ini,
putusan pimpinan merupakan keputusan bersama meskipun jumlah/persentase masukan
dari bawahan masih terhitung mini.
3)
Gaya
Kepemimpinan Konsultatif
Pemimpin memberikan kempatan yang luas kepada bawahan untuk ikut
serta dalam pengambilan keputusan. Cara yang ditempuh adalah menyajikan
rancangan yang bersifat sementara. Rancangan tersebut ditawarkan kepada
bawahan, yang masih terbuka kemungkinan adanya perubahan. Dengan cara ini
pemimpin berkesempatan menguju gagasannya kepada bawahannya melalui proses konsultasi.
Cara ini juga memberikan peluang yang luas bagi bawahan untuk mengemukakan
pendapatnya secara bebas dalam membuat suatu keputusan manajemen.
4)
Gaya
Kepemimpinan Partisipatif
Pemimpin memberikan kesempatan dan kebebasan yang seluas-luasnya
kepada bawahan untuk mengemukakan pendapatnya. Pemimpin dan bawahan bekerjasama
secara penuh dalam team. Cara lain, pemimpin dan bawahan bekerja dalam team
tetapi pemimpin tidak berperan langsung melainkan mendelegasikan kepada staff
senior. Pendelegasian pembuatan keputusan menunjukan adanya kebebasan bertindak
dalam batas tertentu, meskipun bawahan sangat dominant tapi tetap tanggung
jawab berada pada pimpinan.
5)
Gaya
Kepemimpinan Musyawarah
Kepemimpinan berdasarkan tata nilai kebersamaan yang diwujudkan
dalam bentuk kekeluargaan dan gotong royang, tindakan pemimpin ditandai oleh
rasa tolong menolong, saling membantu dan berkerja sama berdasarkan kasih
saying, serta tetap berpegang pada efisiensi dan efektif. Tindakan yang
dilakukan oleh pemimpin dalam pengambilan keputusan mengikuti prosedur
penentuan masalah, pengumpulan data, analisa data dan pengambilan kesimpulan.
BAB III
PENUTUP
A)
Kesimpulan
Kepemimpinan situasional tidak jauh berbeda dengan kepemimpinan
transformasional. Kepemimpinan situasional merupakan gaya pemimpin yang
mempertimbangkan situasi yang dihadapi sebuah perusahaan. Baik dalam proses
pengambilan keputusan terhadap sebuah masalah maupun dengan mengarahkan para
bawahannya. Kepemimpinan situasional dalam hal ini, mengubah gaya kepemimpinan
yang lama dengan gaya kepemimpinan baru yang di anggap lebih baik dengan
pertimbangan situasi-situasi yang dialami perusahaan.
Dalam kepemimpinan situasional ini, pimpinan bukan hanya melihat
dari situasi yang dialami oleh parusahaan, tetapi juga melihat kematangan para
pengikutnya. Kematangan pengikut juga sangat berpengaruh terhadap perkembangan
perusahaan sehingga perlu diperhatikan kematangan dari para pengikutnya.
B)
Saran
Gaya kepemimpinan situasional hanya salah satu dari beberapa macam
gaya kepemimpinan. Setiap gaya kepemimpinan memiliki kelebihan dan kelemahan.
Berdasarkan kesimpulan dan dengan memperhatikan keterbatasan penelitian ini,
maka saran yang dapat disampaikan adalah:
Bagi Dosen
a.
Hendaknya
guru dapat menggunakan gaya kepemimpinan situasional dalam pembelajaran yang
dapat mempermudah siswa dalam memahami materi pelajaran. Hal ini bertujuan
supaya dapat meningkatkan prestasi belajar siswa.
b.
Pembelajaran
dengan menggunakan gaya kepemimpinan situasional membutuhkan kemampuan yang
baik untuk melaksanakan, sehingga guru hendaknya berlatih secara terus menerus
dan mencoba menerapkan gaya kepemimpinan situasional secara berulang-ulang
didalam pembelajaran di kelas.
Bagi Peneliti
a.
Sebagai
bahan kajian untuk dapat dimanfaatkan dalam penulisan karya ilmiah selanjutnya
dan untuk mengadakan penelitian lanjutan.
b.
Perlu
dilakukannya penelitian dengan menggunakan gaya kepemimpinan yang lain untuk
dapat dibandingkan agar diperoleh gaya kepemimpinan yang betulbetul efektif dan
dapat direkomendasikan dalam rangka meningkatkan prestasi
DAFTAR PUSTAKA
Ø Riberu, J. 1982. Dasar-dasar Kepemimpinan. Jakarta : LEPPENAS
Ø Thoha, Miftah. 1983. Kepemimpinan dalam Manajemen. Jakarta:
Rajawali Pers.
Ø Tampu bolon, Manahan p, (2004). Perilaku Keorganisasian, Jakarta:
Ghalia Indonesia.
Ø Winardi, 2000, Kepemimpinan Dalam Manajemen, Jakarta : PT Rineka
Cipta
Ø Kartini Kartono, 1983, Pemimpin dan Kepemimpinan, Jakarta : CV
RAJAWALI
Ø Mar’at, 1980. Pemimpin dan kepemimpinan, Bandung : Ghalia Indonesia
[2]Miftah
Thoha, Kepemimpinan dalam Manajemen,( Rajawali Pers: Jakarta ), hal 65 .
Selanjutnya disebut Miftah Thoha, Kepemimpinan dalam Manajemen
[3] Tampu bolon,
Manahan p, Perilaku Keorganisasian, (Ghalia Indonesia: Jakarta).hal 47.
Selanjutnya disebut Tampu bolon, Manahan p, Perilaku Keorganisasian.
[4]
Mar’at, Pemimpin dan kepemimpinan, (Ghalia Indonesia:
Bandung).hal 30. Selanjutnya disebut Mar’at, Pemimpin dan kepemimpinan
[5]
Winardi, Kepemimpinan Dalam Manajemen, (PT Rineka Cipta:
Jakarta),hal 15. Selanjutnya disebut Winardi, Kepemimpinan Dalam Manajemen

