BAB I
PENDAHULUAN
II. 1 Latar Belakang
Mortalitas dan morbiditas pada wanita
hamil dan bersalin adalah masalah besar di dunia khususnya negara berkembang.
Tahun 1996 WHO memperkirakan lebih dari 585.000 Ibu pertahunnya meninggal saat
hamil atau bersalin (Saefuddin, 2002). Negara-negara maju untuk angka kematian
maternal berkisar 5 – 10 per 100.000 kelahiran hidup, sedangkan di
negara-negara berkembang berkisar 750 – 1000 per 100.000 kelahiran hidup.
Survey Demografi Kesehatan Indonesia
(SDKI) melaporkan bahwa pada tahun 1994, Angka Kematian Ibu (AKI) se-Indonesia
yang merupakan barometer pelayanan kesehatan ibu masih sangat tinggi, yaitu 390
per 100.000 kelahiran hidup dan menurut Survey Kesehatan Rumah Tangga (SKRT)
tahun 1995, yaitu 373 per 100.000 kelahiran hidup dan merupakan Angka Kematian
Ibu tertinggi di ASEAN. Kurang lebih 90% kematian ibu terjadi disekitar
persalinan dan kira-kira 90% penyebab kematian ibu adalah komplikasi obstetri
yang sering tidak dapat diperkirakan sebelumnya. Angka kematian ibu di Jawa
Barat mencapai 321 per 100.000 kelahiran hidup.
Penyebab kematian ibu terbanyak (90%)
oleh komplikasi obstetrik yaitu hipertensi dalam kehamilan, pendarahan, infeksi
dan 10 % kematian ibu disebabkan oleh faktor lain. Untuk menurunkan angka kematian
ibu di Indonesia, Depkes melakukan strategi agar semua asuhan antenatal sekitar
80 % dari keseluruhan persalinan ditangani oleh tenaga kesehatan terlatih.
II.2 Tujuan
1. Untuk mengetahui tentang distosia
persalianan abnormal
2. Untuk mengetahui kelainan volume cairan
amnion
3. Untuk mengetahui presentasi bokong dan
persalinannya
4. Untuk mengetahui kelainan plasenta, tali
pusat, dan kulit ketuban
BAB II
TINJAUAN
PUSTAKA
II.1. Definisi Distosia Persalinan
Distosia berarti persalinan yang
sulit dan ditandai oleh terlalu lambatnya kemajuan persalinan. Secara umum,
persalinan yang abnormal sering terjadi apabila terdapat disproporsi antara
bagian presentasi janin dan jalan lahir. Kelainan persalinan ini adalah
konsekuensi empat kelainan yang dapat berdiri sendiri atau berkombinasi :
1.
Kelainan gaya
dorong (ekspulsi), baik akibat gaya uterus yang kurang kuat atau kurangnya
koordinasi untuk melakukan pendataran dan dilatasi serviks (disfungsi uterus),
maupun kurangnya upaya otot volunter selama persalinan kala dua.
2.
Kelainan tulang
panggul ibu, yaitu panggul sempit
3.
Kelainan
presentasi, posisi, atau perkembangan janin
4.
Kelainan
jaringan lunak saluran reproduksi yang membentuk halangan bagi turunnya janin.
Antonim bahasa Yunani untuk eutosia, atau persalinan normal adalah distosia yang menandakan persalinan yang
abnormal atau sulit. Distosia dapat terjadi akibat beberapa kelainan tertentu
yang melibatkan serviks, uterus, janin, tulang panggul ibu, atau obstruksi lain
di jalan lahir. Kelainan-kelainan ini terbagi menjadi tiga kategori utama yakni
:
1.
Kelainan
kekuatan (power)—kontraktilitas
uterus dan upaya ekspulsif ibu
2.
Kelainan jalan
lahir (passage)—panggul
3.
Kelainan yang
melibatkan janin (passenger)
Gambaran klinis umum pada wanita dengan
kelainan-kelainan persalinan ini diringkas di tabel berikut;
Tabel
2.1. Temuan Klinis Umum pada Wanita dengan Persalinan yang Tidak Efektif
Dilatasi serviks atau penurunan janin
yang tidak memadai
|
Persalinan
memanjang—kemajuan lambat
|
Persalinan
macet—tidak ada kemajuan
|
Daya
ekspulsif kurang memadai—“mendorong” kurang efektif
|
Disproporsi fetopelvik
|
Ukuran
janin berlebihan
|
Kapasitas
panggul kurang memadai
|
Malpresentasi
atau posisi janin
|
Pecah
ketuban tanpa diikuti persalinan
|
(Williams, 2005)
II.2. Distosia dan Persalinan Normal
Distosia merupakan hal yang sangat kompleks, dan
walaupun definisinya—kemajuan persalinan yang abnormal—tampak sederhana, hingga
saat ini belum ada kesepakatan mengenai apa yang dimaksud dengan “kemajuan yang
abnormal”. Dengan demikian, terlebih dahulu harus dipahami mengenai arti
persalinan normal, agar dapat mengetahui terjadinya penyimpangan (dari normal).
Kendala terbesar untuk mengenali persalinan normal
adalah mengenali permulaannya. Definisi ketat persalinan—kontraksi uterus (his) yang menyebabkan pendataran dan
dilatasi serviks yang nyata—tidak memudahkan dokter dalam menentukan kapan
sebenarnya persalinan dimulai, karena diagnosis ini hanya bisa dipastikan
setelah kejadian berlangsung. Untuk mengatasi dilema ini ditawarkan beberapa
pilihan. Salah satunya adalah memindahkan wanita yang bersangkutan untuk
menghitung kontraksinya selama periode waktu tertentu, kemudian mendefinisikan
awitan persalinan sebagai jam saat kontraksi yang nyeri mulai timbul teratur (his). Cara ini sangat subjektif dan
memang menimbulkan frustasi baik bagi dokter kebidanan maupun pasiennya. Memang,
representasi uterus yang menyebabkan rasa tidak nyaman dapat timbul setiap saat
selama kehamilan, tetapi hal ini bukan merupakan representasi persalinan
sejati. Kontraksi meningkat secara progresif selama trimester ketiga, yang
jelas menimbulkan kebingungan bagi wanita yang bersangkutan untuk menentukan
kapan persalinan dimulai. Persalinan “palsu” sering berhenti secara spontan,
atau dapat berkembang dengan cepat menjadi persalinan yang efektif.
Pilihan kedua adalah dengan mendefinisikan awitan
persalinan sebagai permulaan masuknya wanita yang bersangkutan ke kamar
bersalin. Di National Maternity Hospital di
Dublin, telah dilakukan usaha-usaha untuk mengkodekan kriteria rawat inap,
mengikuti penatalaksanaan persalinan yang telah ditentukan (O`Driscoll dkk,
1993). Kriteria-kriteria pada kehamilan aterm ini mensyaratkan kontraksi uterus
yang nyeri disertai oleh salah satu kejadian berikut :
1.
Pecahnya air
ketuban
2.
Bloody
show
3.
Pendataran
serviks yang sempurna
A. Tiga Kala
Persalinan
Persalinan
aktif dibagi menjadi tiga kala yang berbeda :
1.
Persalinan
Kala Satu
Kala satu persalinan mulai ketika telah tercapai
kontraksi uterus dengan frekuensi, intensitas, dan durasi yang cukup untuk menghasilkan
pendataran dan dilatasi serviks yang progresif. Kala satu persalinan selesai
ketika serviks telah membuka lengkap (sekitar 10 cm) sehingga memungkinkan
kepala janin lewat. Oleh karena itu, kala satu persalinan disebut stadium
pendataran dan dilatasi serviks.
2.
Persalinan
Kala Dua
Tahap
ini berawal saat pembukaan serviks telah lengkap dan berakhir dengan keluarnya
janin. Median durasinya adalah 50 menit untuk nulipara dan 20 menit untuk
multipara, tetapi angka ini juga sangat bervariasi. Pada wanita dengan paritas
tinggi yang vagina dan perineumnya sudah melebar, dua atau tiga kali usaha
mengejan setelah pembukaan lengkap mungkin cukup untuk mengeluarkan janin.
Sebaliknya, pada wanita dengan panggul sempit atau janin besar, atau dengan
kelainan gaya ekspulsif akibat anestesi regional atau sedasi berat, maka
persalinan kala dua dapat sangat memanjang.
3.
Persalinan
Kala Tiga
Kala tiga persalinan mulai segera setelah janin
lahir, dan berakhir dengan lahirnya plasenta dan selaput ketuban janin. Kala
tiga persalinan adalah stadium pemisahan dan ekspulsi plasenta.
B. Tiga Tahap
Fungsional Persalinan
Friedman (1954) mengembangkan konsep dasar tiga
tahap fungsional pada persalinan untuk menjelaskan tujuan-tujuan fisiologis
dari masing-masing bagian. Tahap ini antara lain:
1.
Tahap persiapan,
termasuk fase laten dan fase akselerasi
2.
Tahap pembukaan,
yang menempati kecuraman fase maksimum dan
3.
Tahap panggul,
yang mencakup fase deselerasi dan kala-dua serta bersamaan dengan fase
kecuraman maksimum penurunan janin (Friedman, 1954).
Pada
tahap persiapan (preparatory division)
hanya terjadi sedikit pembukaan serviks, namun demikian, cukup banyak perubahan
yang berlangsung pada komponen jaringan ikat serviks. Tahap persalinan ini
mungkin peka terhadap sedasi dan anestesia regional. Tahap pembukaan (dilatational division), merupakan tahap
dimana terjadi pembukaan serviks yang berlangsung paling cepat, tidak
dipengaruhi oleh sedasi atau anestesia regional. Tahap panggul (pelvic division) berawal dari fase
deselerasi pembukaan serviks. Mekanisme klasik persalinan yang melibatkan
gerakan-gerakan pokok janin pada presentasi kepala—masuknya janin ke panggul,
fleksi, penurunan, rotasi internal (putaran paksi dalam), ekstensi, dan rotasi
eksternal (putaran paksi luar) —terutama berlangsung selama tahap panggul.
Namun, dalam praktik sebenarnya awitan tahap panggul jarang diketahui dengan
jelas.
Dua fase
pembukaan serviks adalah: fase laten yang sesuai dengan tahap persiapan dan
fase aktif yang sesuai dengan tahap pembukaan. Friedman membagi lagi fase aktif
menjadi fase akselerasi, fase kecuraman maksimum, dan fase deselerasi.
1.
Fase
Laten
Fase laten
merupakan saat ketika ibu mulai merasakan kontraksi yang teratur (Friedman,
1972). Selama fase ini, orientasi kontraksi uterus berlangsung bersama
perlunakan dan pendataran serviks. Kriteria minimum Friedman untuk masuk ke
dalam fase aktif adalah kecepatan pembukaan serviks 1,2 cm/jam bagi nulipara
dan 1,5 cm/jam untuk wanita para. Kecepatan pembukaan serviks ini tidak dimulai
pada pembukaan tertentu. Sebagai contoh, beberapa wanita mencapai pembukaan 5
cm sebelum kecepatan pembukaan mereka setara dengan persalinan fase aktif.
Sebaliknya, sebagian lain wanita mengalami pembukaan lebih cepat dan telah
mencapai fase aktif pada pembukaan sebesar 3 cm. Dengan demikian, fase laten
terjadi bersamaan dengan persepsi wanita yang bersangkutan akan adanya his
teratur yang disertai oleh pembukaan serviks yang progresif, walaupun lambat,
dan berakhir pada pembukaan 3-5 cm. Ambang ini secara klinis mungkin
bermanfaat, karena mendefinisikan batas-batas pembukaan serviks yang bila
terlewati dapat diharapkan terjadi persalinan aktif. Rosen (1990) menganjurkan
agar semua wanita diklasifikasikan berada dalam “persalinan aktif” apabila
dilatasi mencapai 5 cm, sehingga apabila tidak terjadi perubahan progresif,
perlu dipertimbangkan untuk melakukan intervensi.
Fase laten
disebut berkepanjangan (fase laten berkepanjangan) apabila lama fase ini lebih
dari 20 jam pada nulipara dan 14 jam pada wanita para. Durasi rata-rata fase
laten pada nulipara adalah 8,6 jam dan rentangnya dari 1-44 jam. Dengan
demikian, lama fase laten sebesar 20 jam pada wanita nulipara dan 14 jam pada
wanita para mencerminkan nilai maksimum secara statisktik.
Faktor-faktor
yang mempengaruhi durasi fase laten antara lain adalah anestesia regionalis
atau sedasi yang berlebihan, keadaan serviks yang buruk (mis. Tebal, tidak
mengalami pendataran, atau tidak membuka), dan persalinan palsu. Konsep fase
laten ini sangat penting dalam memahami persalinan normal pada wanita karena
persalinan menjadi jauh lebih lama apabila fase laten disertakan.
2.
Fase
Aktif
Fase aktif
persalinan, dari segi kecepatan pembukaan serviks tertinggi, secara konsisten
berawal saat serviks mengalami pembukaan 3 sampai 4 cm. Kemiripan yang agak
luar biasa ini digunakan untuk menentukan fase aktif dan member petunjuk bagi
penatalaksanaan. Dengan demikian, pembukaan serviks 3 sampai 4 cm atau lebih,
disertai adanya kontraksi uterus, dapat secara meyakinkan digunakan sebagai
batas awal persalinan aktif.
Rerata durasi
persalinan fase aktif pada nulipara adalah 4,9 jam. Deviasi standar 3,4 jam
cukup lebar. Dengan demikian, fase aktif dilaporkan memiliki maksimum statistic
sebesar 11,7 jam dengan durasi yang cukup bervariasi. Memang, kecepatan
pembukaan serviks berkisar antara 1,2 sampai 6,8 cm/jam. Dengan demikian,
apabila kecepatan pembukaan yang dianggap normal untuk persalinan fase aktif
pada nulipara adalah 1,2 cm/jam, maka angka ini kecepatan normal minimum, bukan
maksimum. Pada multipara, kemajuan persalinan fase aktif agak lebih cepat
dengan kecepatan normal minimum 1,5 cm/jam
Beberapa kurva
persalinan memiliki kecenderungan yang mencolok durasi fase aktif yang serupa.
Secara spesifik, wanita wanita nulipara yang masuk ke fase aktif dengan
pembukaan 3 sampai 4 cm dapat diharapkan mencapai pembukaan 8 sampai 10 cm
dalam 3 sampai 4 jam. Pengamatan ini mungkin bermanfaat. Sebagai contoh apabila pembukaan serviks mencapai 4 cm,
dokter dapat memperkirakan bahwa pembukaan lengkap akan tercapai dalam 4 jam
apabila persalinan spontan berlangsung normal. Namun, kelainan persalinan fase
aktif sering dijumpai. Sokol dan rekan (1977) melaporkan bahwa 25 peren
persalinan nulipara dipersulit kelainan fase aktif sedangkan pada multigravida
angkanya adalah 15 persen.
Friedman (1972),
membagi lagi masalah fase-aktif menjadi gangguan protraction (berkepanjangan, berlarut-larut) dan arrest (macet, tak maju). Protraction didefinisikan sebagai
kecepatan pembukaan atau penurunan yang lambat, yang untuk nulipara adalah
kecepatan pembukaan kurang dari 1,2 cm per jam atau penurunan kurang dari 1 cm
per jam. Untuk multipara, protraction didefinisikan
sebagai kecepatan pembukaan kurang dari 1,5 cm per jam atau penurunan kurang
dari 2 cm per jam. Arrest didefinisikan
sebagai terhentinya pembukaan atau
penurunan secara total. Kemacetan pembukaan (arrest of dilatation) didefinisikan sebagai tidak adanya perubahan
serviks dalam 2 jam, dan kemacetan penurunan (arrest of descent) sebagai tidak adanya penurunan janin dalam 1
jam.
II.2. Distosia—Persalinan yang Tidak Adekuat
Distosia atau persalinan yang sulit dapat disebabkan
oleh berbagai faktor, dan paling sering dijumpai pada kasus berikut : (1)
mereka yang gaya ekspulsifnya subnormal atau kurang kuat untuk mengalahkan
resistensi alami terhadap keluarnya janin yang ditimbulkan oleh bagian lunak
ibu dan bagian tulang jalan lahir; (2) mereka yang, walaupun kekuatan gaya
ekspulsifnya mungkin normal, memiliki kelainan struktur atau karakter jalan
lahir yang menimbulkan hambatan mekanis terhadap turunnya bagian terbawah janin
(panggul yang sempit) yang tidak teratasi; (3) mereka yang janinnya karena
kelainan presentasi atau perkembangan yang berlebihan (ukuran janin terlalu
besar) tidak dapat dikeluarkan oleh vis a
tergo (yaitu suatu gaya yang bekerja dari belakang atau gaya propulsif).
Kepala janin harus berhadapan dengan segmen bawah
uterus yang relatif tebal dan serviks yang belum membuka, sementara otot fundus
uteri kurang berkembang sehingga mungkin efektivitas gaya dorongnya kurang.
Pada tahap ini, kontraksi otot uterus, resistensi serviks, dan tekanan ke depan
yang ditimbulkan oleh kepala janin di bagian depan merupakan faktor-faktor yang
mempengaruhi kemajuan persalinan kala satu.
Namun, setelah pembukaan serviks lengkap, hubungan
mekanis antara ukuran kepala janin dan kapasitas panggul, atau proporsi
fetopelvik, menjadi lebih jelas seiring turunnya passenger
(janin) ke panggul tanpa dihalangi serviks. Otot fundus uteri jauh lebih tebal
dan dengan demikian gaya dorongnya lebih kuat, yang jelas meningkat dengan
membukanya serviks secara lengkap. Dalam kaitannya dengan gangguan kemajuan
persalinan, kelainan fungsi uterus, dalam hal ini, disfungsi uterus,
kemungkinan besar mendominasi sebelum
pembukaan serviks lengkap sedangkan kelainan proporsi fetopelvik, atau,
disproporsi, kemungkinan besar menjadi lebih jelas setelah kala dua tercapai.
Kemungkinan penjelasan atas malfungsi otot uterus
adalah overdistensi akibat ukuran janin terlalu besar dan/atau kelelahan uterus
karena persalinan terhambat oleh kapasitas panggul yang tidak memadai, ukuran
janin berlebihan, atau keduanya. Dengan demikian, persalinan yang tidak
efektif umumnya diterima sebagai
kemungkinan tanda peringatan adanya disproporsi fetopelvik. Karena keterkaitan
yang kompleks antara disfungsi uterus dengan disproporsi fetopelvik, dan tidak
adanya cara objektif yang dapat secara tepat secara tepat membedakan kedua
kausa kegagalan persalinan tersebut, dokter harus mengandalkan partus percobaan
apabila ingin menentukan apakah persalinan per vaginam dapat dilakukan.
Mendefinisikan adekuat tidaknya partus percobaan merupakan prioritas untuk mengurangi
angka seksio sesarea atas indikasi distosia di Amerika Serikat.
A.
Kelainan
Kekuatan (Power)—Kontraktilitas
Uterus dan Upaya Ekspulsif Ibu
Propulsi
dan ekspulsi janin yang disebabkan oleh kontraksi uterus, yang pada kala dua
diperkuat oleh kerja otot volunter dan involunter dinding abdomen—“mendorong”.
Intensitas kedua faktor ini mungkin kurang sehingga persalinan melambat atau
terhenti.
1.
Kelainan
Kontraktilitas (his)—Disfungsi
Uterus
Frekuensi dan
intensitas kontraksi uterus bersifat informatif. Disfungsi uterus, yang
ditandai oleh kontraksi jarang dengan intensitas rendah, sering dijumpai pada
disproporsi yang cukup signifikan karena uterus jarang “menghancurkan dirinya”
apabila menghadapi obstruksi mekanis. Respons serviks terhadap persalinan ini
memiliki makna prognostik yang besar. Secara umum, kemajuan yang progresif dan
spontan menuju pembukaan lengkap menunjukkan bahwa pelahiran per vaginam
kemungkinan besar akan berhasil. Disfungsi uterus pada fase pembukaan serviks
manapun ditandai oleh tidak adanya kemajuan, karena salah satu karakteristik
utama persalinan normal adalah kemajuan.
a)
Jenis-Jenis
Kelainan His
Ø Inersia Uteri
Di sini his bersifat biasa dalam arti bahwa fundus
berkontraksi lebih kat dan lebih dahulu daripada bagian-bagian lain, peranan fundus
tetap menonjol. Kelainannya terletak dalam hal kontraksi uterus lebih aman,
singkat, dan jarang daripada biasa. Keadaan umum penderita biasanya baik dan
rasa nyeri tidak seberapa. Keadaan ini dinamakan inersia uteri primer atau hypotonic uterine contraction. Kalau
timbul setelah his berlangsung kuat untuk waktu yang lama, disebut dengan
inersia uteri sekunder. Karena dewasa ini persalinan tidak dibiarkan
berlangsung demikian lama sehingga dapat menimbulkan kelelahan uterus, maka
inersia uteri sekunder jarang ditemukan, kecuali pada ibu yang tidak diberikan
pengawasan baik pada waktu persalinan.
Diagnosis inersia uteri paling sulit ditegakkan pada
masa laten. Kontraksi uterus disertai dengan rasa nyeri tidak cukup untuk
menjadi dasar utama diagnosis bahwa persalinan sudah dimulai. Untuk sampai pada
kesimpulan ini diperlukan kenyataan bahwa sebagai akibat kontraksi itu terjadi
perubahan pada serviks yaitu pendataran dan/atau pembukaan. Kesalahan yang
sering dibuat alah mengobati seorang penderita untuk inersia uteri padahal
persalinan belum dimulai— false labour
(Prawirohardjo 2009).
Ø His Terlampau
Kuat
His terlampau
kuat disebut juga hypertoic uterine
contraction. Walaupun pada golongan coordinate
uterine contraction bukan merupakan penyebab distosia. His yang terlalu
kuat dan terlalu efisien akan menyebabkan persalinan selesai dalam waktu yang
sangat singkat. Partus yang sudah selesai dalam waktu kurang dari 3 jam disebut
partus presipitatus yang ditandai
oleh sifat his yang normal, tonus otot di luar his juga biasa, kelainannya
terletak pada kekuatan his. Bahaya partus presipitatus pada ibu adalah
terjadinya perlukaan luas di jalan lahir, khususnya vagina dan perineum. Bayi
bisa mengalami perdarahan dalam tengkorak karena bagian tersebut mengalami
tekanan yang kuat dalam waktu yang singkat (Prawirohardjo 2009).
Batas antara
bagian atas dan segmen bawah rahim atau lingkaran retraksi menjadi sangat jelas
dan meninggi. Dalam keadaan demikian lingkaran ini dinamakan lingkaran retraksi
patologik atau lingkaran Bandl. Ligamenta rotunda menjadi sangat tegang serta
lebih jelas teraba, penderita merasa nyeri terus-menerus dan menjadi gelisah.
Akhirnya, apabila tidak diberi pertolongan, regangan segmen bawah uterus
melampaui kekuatan jaringan sehingga dapat menyebabkan terjadinya ruptur uteri (Prawirohardjo
2009).
Ø Incoordinate
Uterine Contraction
Di sini sifat
his berubah. Tonus otot terus meningkat, juga di luar his, dan kontraksinya
tidak berlangsung seperti biasa karena tidak ada sinkronisasi kontraksi bagian-bagiannya.
Tidak adanya koordinasi antar kontraksi bagian atas, tengah, dan bawah
menyebabkan his tidak efisien dalam mengadakan pembukaan (Prawirohardjo 2009).
Di samping itu,
tonus otot uterus yang menaik menyebabkan rasa nyeri yang lebih keras dan lama
bagi ibu serta dapat pula menyebabkan hipoksia pada janin. His jenis ini
disebut juga incoordiante hypertonic
uterine contraction. Kadang-kadang pada persalinan lama dengan ketuban yang
sudah lama pecah, kelainan his ii menyebabkan spasmus sirkuler setempat,
sehingga terjadi penyempitan kavum uteri pada tempat itu. Ini dinamakan
lingkaran kontraksi atau lingkaran konstriksi. Secara teoritis lingkaran ini
dapat terjadi di mana-mana, tetapi biasanya ditemukan pada batas antara bagian
atas dengan segmen bawah uterus (Prawirohardjo 2009).
Ada kalanya
persalinan tidak maju karena adanya kelainan pada serviks yang dinamakan
distosia servikalis. Kelainan ini bisa primer atau sekunder. Distosia
servikalis dinamakan primer kalau serviks tidak membuka karena tidak mengadakan
relaksasi berhubng dengan incoordinate
uterine contraction. Penderita biasanya seorang primigravida. Kala I
menjadi lama, dan dapat diraba jelas pinggir serviks yang kaku. Kalau keadaan
ini dibiarkan, maka tekanan kepala terus-menerus dapat menyebabkan nekrosis
bagian serviks dan dapat mengakibatkan lepasnya bagian tengah serviks secara
sirkuler. Distosia servikalis sekunder disebabkan oleh kelainan organik pada
serviks, misalnya karena jaringan parut atau karena karsinoma. Dengan his kuat
serviks bisa robek dan robekan ini dapat menjalar ke bagian bawah uterus. Oleh
karena itu, setiap ibu yang pernah operasi pada serviks, selalu harus mengawasi
persalinannya di rumah sakit (Prawirohardjo 2009).
b)
Kausa
disfungsi uterus yang dilaporkan
Kelainan his
terutama ditemukan pada primigravida, khususnya primigravida tua. Pada
multipara lebih banyak kelainan yang bersifat inersia uteri. Faktor herediter
mungkin memegang peranan pula dalam kelainan his. Sampai seberapa jauh faktor
emosi (ketakutan dan lain-lain) mempengaruhi kelainan his, khususnya inersia
uteri, ialah apabila bagian bawah janin tidak berhubungan rapat dengan segmen bawah
uterus seperti pada kelainan letak janin atau pada disproporsi sefalopelvik. Peregangan
rahim yang berlebihan pada kehamilan ganda atau pada hidroamnion juga dapat
merupakan penyebab nersia uteri yang murni. Akhirnya, gangguan dalam
pembentukan uterus pada masa embrional, misalnya uterus bikornis unikolis,
dapat pula mengakibatkan kelainan his. Akan tetapi, pada sebagian besar kasus
kurang lebih separuhnya, penyebab inersia uteri tidak diketahui.
Berbagai
intervensi persalinan diperkirakan juga menjadi penyebab disfungsi uterus.
Ø Analgesia
epidural
Perlu ditekankan bahwa analgesia epidural
dapat memperlambat persalinan (Sharma dan Leveno, 2000). Sebagai contoh,
analgesia epidural dilaporkan berkaitan dengan memanjangnya persalinan kala
satu dan kala dua serta melambatnya kecepatan penurunan janin.
Ø Korioamnionitis
Faktor infeksi pada korioamnionitis
berperan dalam menimbulkan kelainan aktivitas uterus. Korioamnionitis yang
didiagnosis pada persalinan tahap lanjut terbukti merupakan penanda seksio
sesarea atas indikasi distosia, sedangkan hal ini tidak dijumpai pada wanita
yang didiagnosis mengidap korioamnionitis pada awal persalinan (Williams, 2006).
2.
Kelainan
Kala-Dua—Kurang Kuatnya Gaya Ekspulsif Ibu dan Penyebabnya
Setelah
pembukaan lengkap, sebagian besar wanita tidak dapat menahan keinginan untuk
“mengejan” atau “mendorong” setiap kali uterus berkontraksi. Biasanya, wanita
menarik napas dalam, menutup glotisnya, dan melakukan kontraksi otot abdomen
secara berulang dengan kuat untuk menimbulkan peningkatan tekanan
intra-abdominal sepanjang kontraksi. Kombinasi gaya yang ditimbulkan oleh
kontraksi uterus dan otot abdomen akan mendorong janin ke bawah, menuntun
wanita yang bersangkutan untuk mengejan dengan kuat. Dibandingkan dengan
membiarkan mereka mengikuti kemauan mereka sendiri untuk mengejan, dilaporkan
tidak memberi manfaat (Pamell et al¸1993;
Vause et al, 1998).
Kadangkala,
kekuatan gaya yang dihasilkan oleh kontraksi otot abdomen terganggu secara
bermakna sehingga bayi tidak dapat lahir secara spontan melalui vagina. Sedasi
berat atau anestesi regional-epidural lumbal, kaudal, atau
intratekal—kemungkinan besar mengurangi dorongan reflex untuk mengejan, dan
pada saat yang sama mungkin mengurangi kemampuan pasien meng-kontraksikan
otot-otot abdomen. Pada beberapa kasus, keinginan alami untuk mengejan
dikalahkan oleh hebatnya nyeri yang ditimbulkan saat mengejan.
Pemberian jenis
analgesia yang cermat dan waktu pemberiannya sangat penting untuk menghindari
gangguan upaya ekspulsif voluntar. Dengan sedikit pengecualian, anastesi
intratekal atau anastesi umum jangan diberikan sampai semua kontraksi untuk
pelahiran dengan forceps pintu bawah panggul (outlet forceps) yang aman telah terpenuhi. Pada analgesi epidural
kontinu, efek paralitik mungkin perlu dibiarkan menghilang sendiri sehingga
wanita yang bersangkutan dapat menghasilkan tekanan intra-abdomen yang cukup
kuat untuk menggerakka kepala janin ke posisi yang sesuai denga pelahiran
dengan forseps pintu bawah panggul. Pilihan lain-pelahiran dengan forceps
tengah yang mungkin sulit atau seksio sesarea-merupakan pilihan yang kurang
memuaskan apabila tidak terdapat tanda-tanda gawat janin.
Bagi wanita yang
kurang dapat mengejan dengan benar setiap kontraksi karena nyeri hebat,
analgesia mungkin akan memberi banyak manfaat. Mungkin pilihan paling aman
untuk janin dan ibunya adalah nitrose oksida, yang dicampur dengan volume yang
sama dengan oksigen dan diberikan saat setiap kali kontraksi. Pada saat yang
sama, dorongan dan instruksi yang sesuai kemungkinan besar memberi manfaat.
B.
Kelainan
Jalan Lahir (Passage)—Disproporsi Fetopelvik
Disproporsi
fetopelvik merupakan suatu keadaan yang muncul karena berkurangnya ukuran
panggul, ukuran janin terlalu besar, atau yang lebih umum, kombinasi keduanya.
Setiap penyempitan pada diameter panggul yang mengurangi kapasitas panggul
dapat menyebabkan distosia saat persalinan. Mungkin terdapat penyempitan pintu
atas panggul, pintu bawah panggul, atau panggul yang menyempit seluruhnya
akibat kombinasi hal-hal di atas.
1.
Penyempitan
pintu atas panggul
Pintu
masuk panggul biasanya dianggap menyempit apabila diameter anteroposterior
terpendeknya kurang dari 10,0 cm atau apabila diameter transversal terbesarnya kurang
dari 12 cm. Diameter anteroposterior pintu atas panggul yang sering
diperkirakan dengan mengukur konjugata diagonal secara manual, yang biasanya
lebih panjang 1,5 cm. Dengan demikian, penyempitan pintu atas panggul biasanya
didefinisikan sebagai konjugata diagonal yang kurang dari 11,5 cm.
Telah
terbukti bahwa diameter parietal janin rata-rata berukuran 9,5 cm sampai 9,8 cm
sebelum persalinan. Dengan demikian, sebagian janin mungkin sangat sulit atau
mustahil melewati pintu atas dengan diameter anteroposterior yang kurang dari
10 cm. Wanita bertubuh kecil mungkin memiliki panggul kecil, tetapi ia juga
kemungkinan besar memiliki bayi kecil. Pada obstetri hewan, sering diamati
bahwa pada sebagian besar spesies, penentu utama ukuran janin adalah ukuran
ibu, bukan ukuran ayah.
Normalnya,
pembukaan serviks dipermudah oleh efek hidrostatik selaput ketuban yang belum
pecah atau, setelah pecah, oleh persentuhan langsung bagian terbawah janin ke
serviks. Namun, pada panggul yang sempit, saat kepala tertahan di pintu atas
panggul, seluruh gaya yang ditimbulkan oleh kontraksi uterus bekerja secara
langsung pada bagian selaput ketuban yang menutupi serviks yang membuka.
Akibatnya, besar kemungkinan terjadinya pecah selaput ketuban. Setelah selaput
ketuban pecah, tidak adanya tekanan oleh kepala terhadap serviks dan segmen
bawah uterus memudahkan terjadinya
kontraksi yang inefektif. Karena itu, pembukaan lebih lanjut berlangsung secara
lambat atau tidak samasekali.
Pintu
atas panggul yang menyempit berperan penting dalam menimbulkan kelainan
presentasi. Pada nulipara normal aterm, pada nulipara normal aterm, bagian
bawah janin sering sudah turun ke dalam rongga panggul sebelum persalinan
dimulai. Namun, apabila pintu atas mengalami penyempitan yang cukup berarti,
penurunan (kalaupun berlangsung) belum terjadi sampai setelah awitan
persalinan. Satu hal yang penting untuk ditekankan adalah, pada wanita yang
panggulnya sempit, presentasi wajah dan bahu dijumpai tiga kali lebih sering,
dan prolaps tali pusat terjadi empat sampai enam kali lebih sering.
2.
Penyempitan
pintu tengah panggul
Hal
ini lebih sering dijumpai dibanding penyempitan pintu atas panggul. Penyempitan
pintu tengah panggul ini sering menyebabkan terhentinya kepala janin pada
bidang transversal, yang dapat menyebabkan perlunya tindakan forceps tengah
yang sulit atau seksio sesarea.
Bidang
obstetris di panggul bagian tengah membentang dari batas inferior simfisis
pubis, melalui spina-spina iskiadika, dan menyentuh sakrum dekat pertemuan
antara vertebra keempat dan kelima. Secara teoritis, sebuah garis transversal
yang menghubungkan kedua spina iskiadika membagi penggul tengah menjadi bagian
anterior dan posterior.
Rata-rata
ukuran diameter pintu tengah panggul adalah sebagai berikut : diameter
transversal (interspinarum), 10,5 cm; diameter anteroposterior (dari batas
bawah simfisis pubis ke perbatasan antara vertebra keempat dan kelima), 11,5
cm; dan diameter sagitalis posterior (dari titik tengah garis interspinarum ke
titik tengah di sakrum), 5 cm. Walaupun definisi penyempitan panggul tengah
belum ditentukan secara pasti seperti pada penyempitan pintu atas panggul,
pintu tengah panggul kemungkinan besar dikatakan sempit apabila jumlah diameter
interspinarum dengan ditambah diameter sagitalis posterior panggul tengah
(normal, 10,5 cm ditambah 5 cm, atau 15,5 cm) adalah 13,5 cm atau kurang.
Penyempitan
panggul patut dicurigai apabila diameter interspinarumnya kurang dari 10 cm.
apabila lebih kecil daripada 8 cm, maka panggul tengah sudah pasti dikatakan
sempit. Walaupun belum ada metode manual yang dapat mengukur secara persis
ukuran-ukuran panggul tengah, kemungkian adanya penyempitan kadang-kadang dapat
diperkirakan apabila spina-spina menonjol, dinding samping panggul mengalami
konvergensi, atau takik sakroiskiadika sempit.
3.
Penyempitan
pintu bawah panggul
Hal
ini biasanya didefinisikan sebagai pemendekan diameter intertuberosum hingga 8
cm atau kurang. Pintu bawah panggul secara kasar dapat dianggap sebagai dua
segitiga dengan diameter intertuberosum sebagai dasar keduanya. Sisi-sisi
segitiga anterior dibentuk oleh kedua ramus pubis, dan puncaknya adalah
permukaan posterior inferior siomfisis pubis. Segitiga posterior tidak dibatasi
oleh tulang di sisinya tetapi di apeksnya dibatasi oleh ujung vertebra sakralis
terakhir.
Menyempitnya
diameter intertuberosum yang menyebabkan penyempitan segitiga anterior akan
mendorong kepala janin ke arah posterior. Dengan demikian penentuan apakah
janin dapat lahir sebagian bergantung pada ukuran segitiga posterior, atau
secara lebih spesifik pada diameter intertuberosum dan diameter sagitalis
posterior pintu bawah panggul. Pintu bawah yang sempit dapat menyebabkan
distosia bukan sebagai penyebab tunggal karena sebagian besar disertai
penyempitan pintu tengah panggul. Penyempitan pintu bawah panggul tanpa
disertai penyempitan pintu tengah panggul sangat jarang terjadi.
Bahkan
apabila disproporsi antara kepala janin dengan pintu bawah panggul tidak
terlalu besar untuk emnimbulkan distosia berat, hal ini dapat berperan penting
dalam menimbulkan robekan perineum. Dengan semakin sempitnya arkus pubis,
oksiput tidak dapat keluar tepat di bawah simfisis tetapi dipaksa semakin
kebawah menuju ramus iskiopubik. Pada kasus yang ekstrem, kepala harus berputar
mengelilingi sebuah garis yang menghubungkan tuberositas iskiadika. Karena itu,
perineum akan menjadi sangat teregang dan menyebabkannya mudah robek.
4.
Fraktur
panggul dan kontraktur yang jarang
Trauma akibat kecelakaan lalulintas
merupakan penyebab tersering fraktur panggul (Speer dan Feltier, 1972). Pada
fraktur bilateral ramus pubis, sangat sering terjadi penyusutan kapasitas jalan
lahir akibat pembentukan kalus dan malunion. Riwayat fraktur panggul mengisyaratkan
perlunya pengkajian ulang atas foto sinar-X sebelumnya dan mungkin CT
pelvimetri pada tahap akhir kehamilan.
C.
Distosia
karena Kelainan yang Melibatkan Janin (passenger)
1.
Distosia—Kelainan
Presentasi dan Posisi Janin
Asalkan
panggul tidak menyempit, kecil kemungkinannya bagi anak yang tumbuh normal,
dengan berat kurang dari 4500 atau 5000 g untuk menimbulkan distosia
semata-mata karena ukurannya. Dengan kata lain, walaupun ambang berat janin
menurun dari 5000 g menjadi 4500 g, ukuran janin saja jarang dapat menjelaskan
kegagalan persalinan. Hal ini penting untuk diketahui mengingat distosia karena
kelainan yang melibatkan janin, tidak semata-mata terjadi hanya karena ukuran
janin yang terlalu besar, melainkan terjadi karena adanya keterlibatan faktor
lain seperti kelainan presentasi, posisi, dan perkembangan janin.
Pada hampir 97%
kehamilan, saat pelahiran, janin masuk ke panggul dengan presentasi kepala.
Pada sekitar 3% kelahiran terjadi presentasi bokong. Pada sekitar 0,5% sisanya,
presentasi janin mengikuti sumbu panjangnya, baik melintang atau oblik, atau
kepalanya mengalami ekstensi sehingga presentasinya adalah muka atau dahi
janin.
a)
Presentasi
Muka
Pada presentasi
muka, kepala dalam posisi hiperekstensi sehingga oksiput menempel pada punggung
bayi dan dagu (mentum) menjadi bagian terbawah janin. Muka janin dapat tampil
sebagai dagu (mentum) anterior atau posterior, relatif terhadap simfisis pubis.
Pada janin berukuran-aterm, kemajuan persalinan biasanya terhambat oleh
presentasi mukamentum posterior karena dahi (bregma) janin akan tertekan oleh
simfisis pubis ibu. Posisi ini menghambat fleksi kepala janin yang diperlukan
untuk membuka jalan lahir. Berlawanan dengan keadaan ini, fleksi kepala dan partus
pervaginam sering dijumpai pada presentasi mentum anterior. Banyak presentasi
mentum posterior yang berubah spontan menjadi presentasi mentum anterior bahkan
pada tahap akhir persalinan (Duff, 1981).
Ø Insiden
Cruikshank
dan White (1973) melaporkan insiden presentasi muka, yaitu satu di antara 600
kelahiran atau 0,17 persen. Dari hamper 700.000 kelahiran bayi tunggal di Parkland Hospital sejak 1995 sampai
1999, 36—atau sekitar 1 per 200— adalah kelahiran dengan presentasi muka.
Ø Etiologi
Penyebab
presentasi muka sangat banyak, dan pada ummnya berasal dari faktor apapun yang
menyebabkan ekstensi atau menghalangi fleksi kepala. Pada kasus-kasus luar
biasa, pembesaran leher yang nyata atau lilitan tali pusat di sekitar leher
dapat menyebabkan ekstensi. Janin anensefalus secara alami akan tampil dengan
presentasi muka. Posisi ekstensi lebih sering terjadi pada panggul sempit atau
bila janin sangat besar. Dalam penelitian terhadap 141 presentasi muka oleh
Hellman dan rekan (1950), insidensi penyempitan pintu atas panggul adalah 40%.
Insidensi penyempitan pintu atas panggul yang tinggi ini, disamping bayi besar,
harus diingat ketika mempertimbangkan penatalaksanaannya.
Pada
wanita multipara, perut gantung merupakan faktor predisposisi untuk presentasi
muka. Keadaan tersebut menyebabkan punggung bayi merosot ke depan ke arah
lateral, seringkali pada daerah yang sama dengan oksiput, sehingga menambah
ekstensi vertebra servikalis dan torakalis. Paritas tinggi itu sendiri
merupakan faktor predisposisi (Fuchs et
al, 1985).
Ø Mekanisme
Presentasi
muka jarang ditemukan di atas pintu atas panggul. Pada umumnya yang muncul
adalah presentasi dahi, yang biasanya akan berubah menjadi presentasi muka
setelah terjadi ekstensi kepala lebih lanjut selama penurunan kepala. Mekanisme
persalinan pada kasus-kasus seperti ini terdiri atas beberapa gerakan utama
yaitu penurunan kepala, putaran paksi dalam, fleksi, serta gerakan tambahan
seperti ekstensi dan putaran paksi luar. Penurunan disebabkan oleh
faktor-faltor yang sama seperti pada presentasi kepala. Sekstensi terjadi
akibat hubungan antara tubuh bayi dengan kepala yang terdefleksi, yang berubah
menjadi luas 2 lengan dengan lengan yang lebih panjang menjulur dari kondilus
oksipitalis ke oksiput. Bila dijumpai tahanan, oksiput harus didorong ke arah
punggung bayi sementaradagu turun.
Tujuan
putaran paksi dalam pada presentasi muka adalah untuk membawa dagu ke bawah
simfisis pubis. Hanya dengan cara ini, leher akan berada di bawah permukaan
posterior simfisis pubis. Jika dagu langsung memutar kea rah posterior, leher
yang relative pendek tak dapat terentang sepanjang permukaan anterior sacrum
yang panjangnya sekitar 12 cm. oleh sebab itu, kelahiran kepala jelas tidak
mungkin terjadi kecuali bahu telah masuk panggul pada saat yang sama, yaitu
suatu kejadian yang baru bisa terjadi kalau bayi sangat kecil atau sudah
mengalami maserasi. Putaran paksi dalam terjadi akibat faktor-faktor yang sama
seperti presentasi puncak kepala.
Setelah
rotasi anterior dan penurunan kepala, dagu dan mulut akan tampak pada vulva,
permukaan bawah dagu menekan simfisis dan kepala dapat dilahirkan dengan fleksi
kepala. Hidung, mata, dahi (bregma), dan oksiput secara berturut-turut tampak
di atas margo anterior perineum. Setelah kepala lahir, oksiput menggantung ke
belakang ke arah anus. Kemudian, dagu mengadakan putaran paksi luar ke arah
sisi bagian dagu mula-mula menghadap, dan bahu dilahirkan seperti pada
presentasi kepala.
Edema
sering mengacaukan bentuk muka secara mencolok. Pada saat yang sama, tengkorak
mengalami molase yang cukup nyata, yang ditandai oleh betambah panjangnya
diameter oksipitomentalis kepala.
Ø Diagnosis
Presentasi muka didiagnosis melalui
pemeriksaan dalam (vaginal touche)
dan palpasi bagian muka yang jelas seperti mulut dan hidung, tulang pipi, dan
terutama benjolan orbita. Seringkali terdapat kekeliruan dalam membedakan
presentasi bokong dengan presentasi muka, karena anus dapat disangka mulut dan
tuberositas iskhii dianggap prominensia zigomatikus (tonjolan tulang pipi).
Hasil pemeriksaan radiografik yang menunjukkan kepala bayi dalam posisi
hiperektensi dan tulang-tulang muka yang berada pada atau sedikit di bawah
pintu atas panggul merupakan gambaran yang cukup khas.
Ø Penatalaksanaan
Apabila
panggul tidak sempit, dan terjadi secara persalinan efektif, persalinan
pervaginam biasanya akan berhasil. Pemantauan frekuensi denyut jantung jain
sebaiknya dilakukan dengan menggunakan alat-alat eksterna untuk menghindari
kerusakan pada muka dan mata. Karena presentasi muka pada bay aterm lebih
sering terjadi pada kasus penyempitan pintu atas panggul, seksio sesarea sering
sekali diindikasikan.
Upaya
manual mengubah presentasi muka menjadi presentasi puncak kepala, rotasi manual
atau dengan forceps pada posisi dagu posterior persisten menjadi posisi mentum
anterior dan kemudian versi pondalik interna serta ekstraksi sangat berbahaya
dan sebaiknya tidak dilakukan.
b.
Presentasi
Dahi
Keadaan ini
sangat jarang dijumpai dan didiagnosis bila bagian dari kepala janin yang
berada di antara tonjolan orbita dengan ubun-ubun besar tampak pada pintu atas
panggul. Kepala janin kemudian menempati posisi di tengah-tengah antara fleksi
penuh (mentum atau muka). Kecuali apabila kepala bayi kecil atau rongga panggul
sangat besar, engagement kepala janin
dan pelahiran tidak dapat terjadi selama presentasi dahi tak berubah
(persisten).
Ø Etiologi
Penyebab
presentasi dahi persisten pada prinsipnya sama dengan pada presentasi muka.
Pada umumnya presentasi dahi tidak stabil dan akan berubah menjadi presentasi
muka atau presentasi oksiput (Cruikshank dan White, 1973).
Ø Diagnosis
Presentasi
dapat diketahui dengan palpasi abdomen bila baik oksiput maupun dagu dapat
diraba dengan mudah, tetapi pemeriksaan dalam (vaginal touche) juga penting dilakukan. Sutura frontalis, ubun-ubun
besa (depan), tonjolan orbita, mata dan pangkal hidung, dapat diraba pada
pemeriksaan dalam. Namun, mulut maupun dagu sering tak teraba.
Ø Mekanisme
Persalinan
Pada
bayi yang sangat kecil dan panggul yang sangat besar, persalinan biasanya
berlangsung dengan mudah. Akan tetapi, pada bayi berukuran besar, umumnya
pelahiran sangat sukar karena engagement
tidak mungkin terjadi sampai terdapat molase secara nyata yag menimbulkan
pemendekan diameter oksipitomentalis, atau yang lebih sering terjadi, sampai
terjadi baik fleksi menjadi presentasi oksiput dan ekstensi menjadi presentasi
muka. Molase berat yang sangat diperlukan untuk pelahiran pervaginam dengan
presentasi dahi persisten secara khas akan mengakibatkan deformitas kepala
bayi. Kaput suksadenum terbentuk di atas dahi, dan dapat begitu besar sehingga
identifikasi dahi dengan palpasi tidak mungkin dilakukan. Pada keadaan ini,
dahi akan menonjol serta melebar, dan diameter oksipitomentalis berkurang.
Ø Prognosis
Pada
presentasi dahi yang terjadi sesaat, prognosis bergantung pada presentasi
terakhir. Jika presentasi dahi berlangsung persisten, prognosis pervaginam
jelek, kecuali bila bayi kecil atau jalan lahir sangat besar.
Ø Penatalaksanaan
Prinsipnya
pada dasarnya sama dengan pada presentasi muka. Bila, secara kebetulan, proses
persalinan berlangsung tanpa tanda-tanda kegawatan bayi yang dipantau dengan
ketat, dan tanpa adanya kontraksi uterus yang berlangsung sangat kuat, tidak
diperlukan tindakan intervensi.
c.
Presentasi
Ganda
Pada presentasi
ganda, satu ekstremitas menumbung di sisi bagian terbawah janin, dan kedua
bagian ini sekaligus berada di dalam panggul.
Ø Insiden dan
Etiologi
Goplerud
dan Eastman (1953) menemukan tangan atau lengan menumbung di samping kepala
pada 1 dari 700 persalinan. Kejadian yang lebih jarang lagi adalah prolaps
salah satu atau kedua ekstremitas bawah bersama-sama presentasi kepala ataupun
tangan disertai presentasi bokong. Penyebab presentasi ganda adalah keadaan
yang menghalangi oklusi sempurna pintu atas panggul oleh kepala bayi, termasuk
persalinan prematur (Goplerud dan Eastman, 1953).
Ø Prognosis dan
Penatalaksanaan
Kematian
perinatal meningkat akibat persalinan premature, prolaps tali pusat, dan
tindakan obstetric yang traumatic. Pada sebagian besar kasus, bagian yang
menumbung dapat dibiarkan begitu saja, karena seringkali tidak menghalangi
persalinan. Goplerud dan Eastman menyajikan 50 kasus yang tak diikuti oleh
prolaps tali pusat ; pada hamper separuh kasus, persalinan normal dapat
terlaksana dengan hanya terjadi satu kasus kematian bayi. Jika lengan menumbung
di samping kepala, maka keadaan tersebut harus diawasi secara ketat untuk
meyakinkan apakah lengan keluar bersama dengan penurunan bagian terbawah janin.
Jika gagal mengikuti penurunan tersebut atau bila tampaknya menghalangi
penurunan kepala, lengan yang menumbung tersebut secara perlahan-lahan harus
didorong ke atas dan bersamaan dengan itu, kepala akan turun karena tekanan
fundus uteri.
d.
Letak
Lintang
Keadaan ini
terjadi bila sumbu panjang janin kira-kira tegak lurus dengan sumbu panjang
tubuh ibu. Bila sumbu panjang tersebut membentuk sudut lancip, hasilnya adalah
letak lintang oblik. Letak lintang oblik biasanya hanya terjadi sementara
karena kemudian akan berubah menjadi posisi longitudinal atau letak lintang
saat persalinan. Oleh karena itu, di Inggris letak lintang oblik dinyatakan
sebagai letak lintang yang tidak stabil.
Pada letak
lintang, biasanya bahu berada di atas panggul sedangkan kepala terletak di
salah satu fossa iliaka dan bokong pada fossa iliaka yang lain. Pada keadaan
yang disebut presentasi bahu ini, arah akromion yang menghadap sisi tubuh ibu
menentukan jenis letaknya yaitu letak akromion kiri atau kanan. Lebih lanjut,
karena pada kedua posisi tersebut, punggung dapat mengarah ke anterior atau
posterior, ke superior atau ke inferior, biasanya jenis letak lintang ini dapat
dibedakan lagi menjadi letak lintang
dorsoanterior dan dorsoposterior.
Ø Insiden
Letak
lintang terjadi pada satu dari 322 kelahiran tunggal (0,3 persen) baik di Mayo Clinic maupun di University of Iowa Hospital (Cruikshank
dan White, 1973; Johnson, 1964). Di Parkland
Hospital, dijumpai letak lintang pada 1 dari 335 janin tunggal yang lahir
selama lebih dari 4 tahun.
Ø Etiologi
Penyebab
utama letak lintang adalah :
1. Relaksasi
berlebihan dinding abdomen akibat multiparitas yang tinggi
2. Janin
prematur
3. Plasenta
previa
4. Uterus
abnormal
5. Cairan
amnion berlebih
6. Panggul
sempit
Ø Diagnosis
Diagnosis
letak lintang biasanya mudah ditegakkan, bahkan sering hanya denga inspeksi
saja. Abdomen biasanya melebar dan fundus uteri membentang hingga sedikit di
atas umbilicus. Tidak ditemukan bagian bayi di fundus, dan balotemen kepala
teraba di salah satu fossa iliaka dan bokong pada fossa iliaka yang lain. Pada
saat yang sama, posisi punggung mudah diketahui. Bila punggung terletak di
anterior, suatu dataran yang keras
membentang di bagian depan perut ibu; bila punggungnya di posterior, teraba
nodulasi ireguler yang menggambarkan bagian-bagian kecil janin dapat ditemukan
pada tempat yang sama.
Pada
pemeriksaan dalam, pada tahap awal persalinan, bagian dada bayi, jika dapat
diraba, dapat dikenali dengan adanya rasa bergerigi dari tulang rusuk. Bila
dilatasi bertambah, scapula dan klavikula pada pada sisi toraks yang lain akan
dapat dibedakan. Posisi aksila menunjukkan sisi tubuh ibu tempat bahu bayi
menghadap. Pada tahap lanjut persalinan, bahu akan terjepit erat di rongga
panggul dan salah satu tangan atau lengan sering mengalami prolaps ke vagina
dan melewati vulva.
Ø Proses
persalinan
Kelahiran
spontan bayi normal yang sudah berkembang sempurna jelas tidak mungkin trjadi
pada letak lintang persisten. Setelah ketuban pecah, jika persalinan berlanjut,
bahu janin akan dipaksa masuk ke dalam panggul dan tanga ang sesuai sering
menumbung. Setelah terjadi sedikit penurunan, bahu tertahan oleh tepi pintu
atas panggul, dengan kepala di salah satu fossa iliaka dan bokong di fossa
iliaka yang lain. Bila proses persalinan berlanjut, bahu akan terjepit kuat di
bagian atas panggul. Uterus kemudian berkontraksi dengan kuat dalam upayanya
yang sia-sia untuk mengatasi halangan tersebut. Setelah beberapa saat, akan
terbentuk cincin retraksi yang semakin lama semakin tinggi dan semakin nyata.
Keadaan ini disebut sebagai letak lintang kasep. Jika tidak cepat ditangani
dengan benar, uterus kemudian dapat mengalami ruptur dan baik ibu maupun janin
akan meninggal.
Bila
janin amat kecil (biasanya kurang dari 800 g) dan panggul sangat lebar,
persalinan spontan dapat terjadi meskipun kelainan letak tersebut menetap.
Janin akan tertekan dengan kepala terdorong ke abdomen. Bagian dinding dada di
bawah bahu kemudian menjadi bagian yang paling bergantung dan tampak di vulva.
Kepala dan dada kemudian melewati rongga panggul secara bersamaan, dan bayi
dapat dikeluarkan dalam keadaan terlipat (conduplicatio
corpore).
Ø Prognosis
Persalinan dengan presentasi bahu
meningkatkan risiko maternal dan sangat menambah ancaman kematian pada bayi.
Kebanyakan kematian ibu akibat komplikasi kasus kasep terjadi karena rupture
uteri spontan atau traumatic akibat tindakan versi serta ekstraksi yang keliru
dan terlambat. Meski dengan penanganan sebaik mungkin, morbiditas tetap
meningkat karean seringnya disertai plasenta previa, peningkatan kemungkinan
terjadinya prolaps tali pusat, dan keharusan untuk melakukan tindakan operasi
besar.
II.2 Kelainan Cairan Amnion
Pada keadaan normal, volume cairan
amnion meningkat menjadi sekitar 1 liter atau lebih sedikit pada gestasi 36
minggu, tetapi kemudian berkurang. Posttrem, jumlah yang tersisa mungkin hanya
100 sampai 200 ml atau kurang. Berkurangnya volume cairan disebut oligohidramnion. Secara kasar, cairan
amnion yang lebih dari 2000 ml dianggap berlebihan dan disebut hidramnion dan kadang-kadang disebut polihidramnion. Pada kasus-kasus yang
jarang, uterus mengandung cairan dalam jumlah sangat besar, dan pernah
dilaporkan mencapai 15 liter. Pada sebagian besar kasus, yang terjadi adalah
hidramnion kronik, yaitu peningkatan cairan berlebihan secara bertahap. Pada
hidramnion akut, uterus mungkin mengalami peregangan mencolok dalam beberapa
hari.
Volume Cairan Amnion yang Lazim
Minggu Gestasi
|
Janin (g)
|
Plasenta (g)
|
Cairan Amnion (ml)
|
Persen Cairan
|
16
|
100
|
100
|
200
|
50
|
28
|
1000
|
200
|
1000
|
45
|
36
|
2500
|
400
|
900
|
24
|
40
|
3300
|
500
|
800
|
17
|
1.
Hidramnion
Hidramnion
derajat ringan sampai sedang yaitu 2 sampai 3 liter, relative sering dijumpai.
Karena cairan sulit dikumpulkan dan diukur secara lengkap, diagnosis biasanya
ditegakkan secara klinis dan dikonvirmasi dengan perkiraan sonografik.
Frekuensi deagnosis cukup bervariasi dengan pemeriksa yang berbeda.
Insidensi
Dalam
suatu penelitian terdahulu oleh Hill dkk, (1987) dari Mayo Clinic, lebih dari 9000 pasien pranatal manjalani evaluasi
ultrasonografi rutin menjelang awal trimester ketiga. Insidensi hidramnion
adalah 0,9 persen. Hidramnion ringan didefinisikan sebagai kantung-kantung yang
berukuran vertikal 8 sampai 11 cm terdapat pada 80% kasus dengan cairan berlebihan. Hidramnion
sedang didefinisikan sebagai kantung-kantung yang hanya mengandung
bagian-bagian kecil dan berukuran kedalaman 12 sampai 15 cm dijumpai pada 15%.
Hanya 5% mengalami hidramnion berat, yang didefinisikan sebagai adanya janin
mengambang bebas dalam kantung cairan yang berukuran 16 cm atau lebih.
Kausa
Hidramnion
Derajat hidramnion serta prognosisnya
berkaitan dengan penyebabnya. Banyak laporan yang mengalami bias signifikan
karena berasal dari pengamatan terhadap wanita-wanita yang dirujuk untuk
menjalani evaluasi ultrasonografi terarah. Penelitian-penelitian lainnya
berbasis populasi, tetapi mungkin masih belum mencerminkan insidensi yang
sebenarnya kecuali apabila dilakukan penapisan ultrasonografi secara universal.
Bagaimanapun hidramnion yang jelas adalah patologis yang sering berkaitan
dengan malformasi janin, sebagai contoh, hidramnion terdapat pada sekitar
separuh kasus anensefalus dan atresia esophagus. Secara spesifik, pada hampir
separuh kasus hidramnion sedang dan berat, ditemukan adanya anomaly janin. Satu
temuan yang cukup menarik adalah bahwa sebagian besar gangguan perinatal
terjadi pada wanita nondiabetik yang mengalami hidarmnion.
Patogenesis
Pada awal kehamilan, rongga amnion terisi oleh cairan
yang komposisinya sangat mirip dengan cairan ekstrasel. Selama paruh pertama
kehamilan, pemindahan air dan molekul kecil lainnya berlangsung tidak saja
melalui amnion tetapi juga menembus kulit janin. Selama trimester kedua, janin
mulai berkemih, menelan, dan menghirup cairan amnion. Proses-proses ini hampir
pasti secara bermakna mengatur pengendalian volume cairan. Walaupun pada kasus
hidramnion epitel amnion sering dianggap sebagai sumber utama cairan amnion
belum pernah ditemukan adanya perubahan histologik pada amnion atau perubahan
kimiawi pada cairan amnion.
Dalam keadaan normal janin menelan cairan amnion,
diperkirakan bahwa mekanisme ini adalah salah satu pengaturan volume cairan
ketuban. Teori ini dibenarkan dengan kenyataan bahwa hidramnion hampir selalu
terjadi apabila janin tidak dapat menelan, seperti pada kasus atresia esofagus.
Pada
kasus anensefalus dan spina bifida, faktor etiologinya mungkin adalah
meningkatnya transudasi cairan dari meningen
yang terpajan ke dalam rongga amnion.
Penjelasan lain yang mungkin pada anensefalus, apabila tidak terjadi
gangguan menelan, adalah peningkatan
berkemih akibat stimulasi pusat-pusat
di serebrospinal yang tidak terlindung atau berkurangnya efek antidiuretik
akibat gangguan sekresi arginin
vasopresin. Hal yang sebalik-nya telah jelas dibuktikan bahwa kelainan janin yang menyebabkan anuria hampir selalu menyebabkan oligohidramnion.
Gejala
Gejala
utama yang menyertai hidramnion terjadi semata-mata akibat faktor mekanis dan terutama disebabkan oleh tekanan di dalam dan di sekitar uterus yang mengalami overdistensi terhadap
organ-organ di dekatnya. Apabila peregangannya berlebihan, ibu dapat mengalami
dispnea dan pada kasus ekstrim, mungkin
hanya dapat bernapas apabila dalam
posisi tegak. Sering terjadi edema akibat
penekanan sistem vena besar oleh uterus yang sangat besar, terutama di ekstremitas bawah, vulva, dan dinding
abdomen. Walaupun jarang, dapat terjadi
oligouria berat akibat obstruksi ureter oleh uterus yang sangat besar.
Pada hidramnion kronik, penimbunan cairan berlangsung secara bertahap dan wanita yang bersangkutan mungkin mentoleransi distensi
abdomen yang berlebihan tanpa banyak mengalami rasa
tidak nyaman. Namun, pada hidramnion akut, distensi dapat menyebabkan gangguan yang cukup serius dan mengancam. Hidramnion akut cenderung muncul pada kehamilan dini dibandingkan dengan bentuk kronik sering sedini minggu
ke-16 sampai 20 dan dapat dengan cepat memperbesar uterus yang
hipertonik sehingga ukurannya menjadi sangat besar. Biasanya
hidramnion akut menyebabkan persalinan sebelum usia gestasi 28 minggu,
atau gejala
dapat menjadi sedemikian parah sehingga harus dilakukan intervensi.
Pada sebagian besar kasus hidramnion kronik, berbeda dengan
hidramnion akut, tekanan air
ketuban tidak terlalu tinggi dibandingkan
dengan pada kehamilan normal.
Diagnosis
Gambaran klinis utama pada hidramnion adalah pembesaran uterus disertai kesulitan dalam meraba bagian-bagian kecil janin dan
dalam mendengar bunyi jantung janin. Pada kasus berat, dinding uterus dapat sedemikian tegang sehingga bagian-bagian janin tidak mungkin diraba.
Pembedaan antara
hidramnion, asites, atau kista ovarium yang
besar biasanya mudah dilakukan dengan evaluasi ultrasonografi. Cairan amnion
dalam jumlah besar hampir selalu
mudah diketahui sebagai ruang bebas-ecto
yang sangat besar diantara janin dan dinding
uterus atau plasenta. Kadang-kadang mungkin dijumpai kelainan janin misalnya anensefalus atau defek tabung
saraf lain, atau anomali saluran cerna.
Penatalaksanaan
Hidramnion
derajat ringan jarang
memerlukan terapi. Bahkan yang derajat sedang dengan sedikit gangguan biasanya dapat ditangani tanpa intervensi sampai terjadi persalinan atau sampai selaput ketuban pecah spontan. Apabila
terjadi dispnea atau nyeri abdomen,
atau apabila rawat jalan sulit,
pasien perlu dirawat inap. Tirah baring
jarang berpengaruh, dan pemberian diure-tika serta pembatasan air dan garam juga biasanya kurang
efektif. Baru-baru ini dilakukan terapi indometasin
untuk hidramnion simtomatik.
1.
Amniosintesis
Tujuan utama amniosentesis adalah untuk meredakan penderitaan ibu, dan untuk maksud itu tindakan
ini berhasil sementara. Cairan
amnion juga dapat diperiksa untuk memperkirakan kematangan paru janin. Piazze dkk. (1998) memperlihatkan bahwa pengenceran dapat menyebabkan hasil negatif palsu. Amniosentesis terapeutik kadang-kadang tampaknya memicu persalinan walaupun hanya
sebagian kecil cairan yang dikeluarkan. Elliott dkk. (1994) melaporkan hasil-hasil dari 200 amniosentesis terapeutik pada 94 wanita dengan hidramnion. Kausa umum adalah transfusi antar kembar (38 persen), idiopatik (26 persen), anomali janin
atau kromosom (17
persen), dan diabetes (12 persen). Mereka
mengeluarkan rata-rata 1650 ml cairan setiap kali tindakan dan mencapai durasi rata-rata 7 minggu sampai pelahiran. Hanya tiga tindakan yang mengalami penyulit, satu wanita mengalami ketuban pecah, satu mengalami korioamnionitis, dan yang lain mengalami solusio plasenta setelah pengeluaran cairan 10 liter.
Teknik
Untuk mengeluarkan cairan amnion, masukkan sebuah kateter plastik yang secara erat
menutupi sebuah jarum ukuran 18 melalui dinding abdomen yang telah dianestesi lokal ke dalam kantung amnion,
jarum ditarik, dan set infus intravena
disambungkan ke kateter. Ujung selang yang
berlawanan diturunkan ke dalam sebuah
silinder berskala yang diletakkan setinggi lantai, dan kecepatan aliran
air ketuban dikendalikan dengan klem putar
sehingga dikeluarkan sekitar 500
ml/jam. Setelah sekitar 1500 sampai 2000 ml dikeluarkan, ukuran uterus
biasanya telah cukup berkurang sehingga
kateter dapat dikeluarkan dari kantung
amnion. Pada saat yang sama, ibu mengalami kelegaan yang dramatik dan
bahaya terlepasnya plasenta akibat dekompresi sangat kecil. Dengan menggunakan teknik aseptik ketat, tindakan ini dapat diulang sesuai kebutuhan agar wanita yang bersangkutan
merasa nyaman. Elliott dkk. (1994) menggunakan
pengisap di dinding dan mengeluarkan 1000 ml dalam 20 menit (50 ml/mnt).
2. Amniotomi
Kerugian dari pemecahan selaput ketuban melalui serviks adalah kemungkinan
prolaps tali pusat dan terutama solusio plasenta.
Pengeluaran cairan secara perlahan melalui amniosentesis membantu mencegah bahaya-bahaya ini.
3. Terapi Indometasin
Dalam ulasan terhadap beberapa penelitian, Kramer dkk. (1994)
menyimpulkan bahwa indometasin mengganggu produksi cairan paru atau meningkatkan penyerapannya, mengurangi produksi urin janin, dan
meningkatkan perpindahan cairan
melalui selaput janin. Dosis yang
digunakan oleh sebagian besar peneliti berkisar dari 1,5 sampai 3 mg/kg/hari.
Cabrol dkk. (1987)
mengobati delapan wanita dengan hidramnion
idiopatik sejak usia gestasi 24 sampai
35 minggu dengan indometasin selama 2 sampai
11 minggu. Hidramnion, yang didefinisikan sebagai minimal satu kantung cairan berukuran 8 cm, membaik pada semua kasus. Tidak terjadi efek samping
serius dan hasil pada semua kasus baik. Kirshon
dkk. (1990) mengobati delapan wanita (tiga set kembar) dengan hidramnion dari minggu ke-21 sampai 35. Pada
seluruh wanita ini, dilakukan dua amniosentesis
terapeutik sebelum indometasin diberikan.
Dari 11 janin, tiga kasus lahir mati berkaitan dengan sindrom transfusi antar kembar dan satu neonatus meninggal pada usia 3 bulan. Tujuh bayi sisanya normal. Mamopoulos dkk. (1990) mengobati 15 wanita, 11 mengidap diabetes yang
mengalami
hidramnion pada gestasi 25 sampai 32 minggu. Mereka diberi indometasin dan volume cairan amnion pada semua wanita ini berkurang, dari rata-rata 10,7 cm pada gestasi 27 minggu menjadi
5,9 cm setelah terapi. Hasil akhir
pada seluruh neonatus (15) baik.
Kekhawatiran
utama pada penggunaan indometasin
adalah kemungkinan penutupan duktus arteriosus janin . Moise dkk. (1988) melaporkan bahwa 50 persen dari 14 janin yang ibu-nya mendapat indometasin mengalami konstriksi
duktus seperti dideteksi oleh ultrasonografi Doppler. Studi-studi yang
dijelaskan sebelumnya tidak menemukan
adanya konstriksi menetap, dan penyulit ini juga belum pernah dijelaskan dalam
studi-studi yang memberikan indometasin untuk
tokolisis (Kramer dkk. 1994).
2. Oligohidramnion
Pada kasus-kasus yang jarang, volume air ketuban dapat turun di bawah batas normal dan kadang-kadang menyusut
hingga hanya beberapa mililiter cairan kental.
Penyebab keadaan ini
belum sepenuhnya dipahami. Secara umum, oligohidramnion
yang timbul pada awal kehamilan jarang
dijumpai dan sering memiliki prognosis buruk. Marks dan Divon (1992)
menemukan oligohidramnion
yang didefinisikan sebagai indeks cairan amnion sebesar 5 cm atau kurang. Pada 12
persen dari 511 kehamilan berusia 41 minggu atau lebih. Pada 121 wanita yang diteliti secara longitudinal, terjadi penurunan rata-rata indeks cairan amnion sebesar 25 persen per minggu setelah 41 minggu. Akibat berkurangnya cairan, risiko kompresi
tali pusat, dan pada gilirannya gawat janin, meningkat
pada semua persalinan, tetapi terutama pada kehamilan postterm (Grubb
dan Paul, 1992; Leveno dkk. 1984).
a. Oligohidramnion
Awitan Dini
Oligohidramnion hampir selalu nyata apabila
terjadi obstruksi saluran kemih janin atau
agenesis ginjal. Oleh karenanya, anuria hampir pasti merupakan etiologi pada kasus-kasus seperti itu. Kebocoran kronik suatu defek di
selaput ketuban dapat mengurangi
volume cairan dalam jumlah bermakna,
tetapi seringkali kemudian segera terjadi persalinan. Sebanyak
15 sampai 25 persen kasus berkaitan dengan anomali janin. Pryde dkk. (2000) mampu memvisualisasikan struktur-struktur janin pada hanya separuh dari wanita yang dirujuk untuk evaluasi ultrasonografi terhadap
oligohidramnion midtrimester. Mereka melakukan amnioinfusi dan kemudian
mampu melihat 77
persen dari struktur-struktur
yang dicitrakan secara rutin. Identifikasi anomali terkait meningkat dari 12 menjadi 31 persen.
Prognosis
Hasil janin
pada oligohidramnion awitan dini buruk. Shenker dkk. (1991) melaporkan 80 kehamilan semacam itu dan hanya separuh dari janin-janin ini yang selamat. Mercer dan Brown (1986) melaporkan 34 kehamilan midtrimester yang mengalami penyulit oligohidramnion dan didiagnosis
secara ultrasonografis berdasarkan tidak adanya kantung cairan amnion yang besarnya lebih dari 1 cm di semua bidang vertikal. Sembilan (26
persen) dari janin-janin ini mengalami anomali, dan 10 dari 25 yang
secara fenotipe normal mengalami abortus spontan
atau lahir mati karena hipertensi ibu yang parah, hambatan pertumbuhan janin, atau solusio plasenta. Dari 14
bayi lahir hidup, delapan lahir preterm dan
tujuh meninggal. Enam bayi yang lahir aterm tumbuh normal. Garmel dkk.
(1997) mengamati bahwa oligohidramnion
sebelum minggu ke-37 pada janin yang
tumbuh sesuai masa kehamilanmya
memperlihatkan peningkatan angka kelahiran
preterm sebesar tiga kali lipat, tetapi tidak untuk hambatan pertumbuhan atau kematian janin.
Newbould
dkk. (1994) melaporkan temuan otopsi pada 89 bayi dengan sekuensi oligohidramnion. Hanya 3 persen yang memiliki saluran ginjal normal, 34 persen menderita agenesis ginjal
bilateral, 34 persen displasia kistik bilateral, 9 persen agenesis
unilateral dengan displasia, dan 10 persen kelainan saluran kemih minor.
Bayi
yang tadinya normal dapat mengalami akibat dari oligohidramnion awitan dini yang parah. Perlekatan antara amnion dan bagian-bagian
janin dapat menyebabkan kecacatan serius termasuk amputasi. Selain itu, akibat tekanan dari
semua sisi, penampakan janin menjadi aneh, dan
kelainan otot rangka, misalnya kaki gada (clubfoot)
sering terjadi.
b. Oligohidramnion
pada Kehamilan Tahap Lanjut
Volume air ketuban secara normal berkurang setelah usia gestasi 35
minggu. Dengan menggunakan indeks cairan
amnion kurang dari 5 cm, Casey dkk.
(2000) mendapatkan insidensi oligohidramnion
pada 2,3 persen dari 6400 kehamilan lebih
yang menjalani sonografi setelah minggu ke-34 di Parkland Hospital. Mereka memastikan pengamatan-pengamatan
sebelumnya bahwa hal ini berkaitan dengan
peningkatan risiko hasil perinatal yang
merugikan. Magann dkk. (1999) tidak
mendapatkan bahwa oligohidramnion (indeks cairan
amnion kurang dari 5 cm) meningkatkan risiko penyulit intrapartum seperti
mekonium kental, deselerasi variabel frekuensi denyut jantung, seksio sesarea atas indikasi gawat janin, atau asidemia
neonatus.
Kompresi tali pusat selama persalinan sering
terjadi pada oligohidramnion. Sarno dkk. (1989,
1990) melaporkan bahwa indeks 5 cm atau kurang menyebabkan peningkatan angka seksio sesarea
sebesar lima kali lipat. Baron dkk. (1995) melaporkan
peningkatan deselerasi variabel selama
persalinan sebesar 50 persen dan peningkatan tujuh kali lipat angka seksio sesarea pada para wanita ini.
Sebaliknya, Casey dkk. (1999) memperlihatkan peningkatan 25 persen dalam pola frekuensi denyut
jantung janin yang mengkhawatirkan saat wanita dengan oligohidramnion dibandingkan dengan kontrol
normal. Namun, angka seksio untuk hal ini hanya meningkat dari 3 menjadi 5 persen.
Divon dkk. (1995) meneliti 638 kehamilan
post-term in partu dan mengamati bahwa hanya
wanita yang indeks cairan amnionnya 5 cm atau kurang yang mengalami deselerasi frekuensi denyut
jantung janin dan mekonium.
Amnioinfusi
Infus kristaloid untuk menggantikan cairan amnion yang berkurang secara patologis paling sering digunakan selama persalinan untuk mencegah kompresi tali pusat. Hasil-hasil amnioinfusi intrapartum untuk mencegah
morbiditas janin akibat air ketuban tercemar mekonium sering
berkaitan dengan oligohidramnion masih
simpang siur. Pierce
dkk. (2000)
melakukan metaanalisis terhadap
13 penelitian dengan 1924 wanita yang dibagi
secara acak untuk mendapat amnioinfus atau
tanpa terapi. Mereka mendapatkan penurunan bermakna hasil yang me-rugikan, mekonium di bawah tali pusat (odds
ratio, OR 0,18), sindrom aspirasi mekonium (OR 0,30), asidemia neonatus (OR 0,42), dan angka seksio sesarea (0,74). Wenstrom dkk. (1995) mensurvei departemen-departemen
obstetri di fakultas kedokteran dan
melaporkan bahwa amnioinfusi digunakan secara luas dengan penyulit yatig
relatif sedikit.
II.3 Presentasi Bokong dan Persalinannya
Presentasi bokong (breech presentation) terjadi ketika bokong janin lebih dahulu
memasuki rongga panggul. Istilah breech
(bokong) mungkin berasa dari kata yang sama dengan britches, yang menggambarkan kain untuk menutupi selangkangan dan
paha. Untuk alas an tertentu, presentasi
bokong umumnya terjadi jauh sebelum aterm. Namun yang paling sering terjadi,
sebelum proses persalinan dimulai, janin berputar spontan sehingga
presentasinya menjadi presentasi kepala. Oleh karena itu, presentasi bokong
hanya terjadi pada sekitar 3 sampai 4 persen kelahiran bayi tunggal.
a.
Etiologi
Menjelang kehamilan aterm, kavum uteri
telah mempersiapkan janin pada letak longitudinal dengan presentasi punvak
kepala. Faktor-faktor predisposisi untuk presentasi bokong diluar usia gestasi
adalah relaksasi uterus yang disebabkan oleh multiparitas, janin mulitpel,
hidramnion, olighodramnion, hidrosefalus, anensefalus, riwayat presentasi
bokong, anomaly uterus dan berbagai tumoe dalam panggul.
Fianu dan Vaclavinkova (1978)
menunjukkan hasil USG yang menyatakan bahwa terdapat prevalensi presentasi
bokong yang jauh lebih tinggi pada implantasi pada plasenta di daerai kornu
fundus uteri (73 persen) dibandingkan dengan presentasi bokong juga meningkat
pada plasenya previa, meskipun hanya sedikit kasus presentasi bokong yang
berhubungan dengan plasenta previa. Tidak terdapat korelasi kuat antara
presentasi bokong dengan panggul sempit.
Janin yang hidup tidak menjamin
terjadinya perubahan presentasi secara spontan. Sebagai contoh, seorang wanita
dirawat di Parkland Hospital dengan kehamilan aterm dan janin yang
diketahui telah mati, berdasarkan pemeriksaan USG saat itu. Pada waktu pertama
kali dilakukan induksi dengan oksitoksin, presentasinya adalah presentasi
kepala. Tiga hari kemudian, pada waktu dilakukan percobaan induksi persalinan
yang kedua, presentasi janin berubah menajdi presentasi bokong. Tiga hari
berikutnya ketika dilakukan induksi yang ketiga dan berhasil, ternyata janin
sudah berada pada presentasi kepala lagi.
b.
Penyulit
Pada presentasi bokong persisten,
peningkatan frekuensi penyulit berikut ini dapat diperkirakan:
1.
Morbiditas dan
mortalitas perinatal akibat pelahiran yang sulit.
2.
Berat lahir
rendah pada pelahiran preterm, pertumbuhan terhambat, atau keduanya.
3.
Prolaps tali
pusat
4.
Plasenta previa
5.
Anomali janin,
neonates dan bayi
6.
Anomali dan
tumor uterus
7.
Janin multiple
8.
Intervensi
operatif, terutama seksio sesarea.
c.
Diagnosis
Hubungan yang bervariasi antara
ekstremitas bawah dan bokong pada bayi dengan presentasi bokong membentuk kategori
presentasi bokong murni, sempurna dan tak sempurna. Chasen dan D’angelo (2000) melaporkan nilai prediktif positif sebesar 80 persen dan
nilai prediktif negatif sebesar 98,5 persen dari pemeriksaan abdominal dan
vaginal touché untuk mendiagnosis presentasi
bokong pada minggu ke-35 hingga 37. Pada presentasi bokong murni, tampak
ekstremitas bawah mengalami fleksi pada sendi panggul dan ekstensi pada sendi
lutut sehingga kaki terletak berdekatan dengan kepala. Presentasi bokong
sempurna dibedakan dari presentasi bokong murni satu atau kedua lutut dalam
keadaan fleksi. Pada presentasi bokong tak sempurna, satu atau kedua sendi
panggul tidak berada dalam keadaan fleksi dan satu atau kedua kaki atau lutut
terletak dibawah bokong sehingga kaki atau lutut bayi terletak paling bawah
pada jalan lahir. Presentasi bokong murni paling banyak dijumpai ketika
diagnosis ditegakkan melalui pemeriksaan radiologis pada saat menjelang aterm.
Pemeriksaan Abdominal
Biasanya, dengan perasat Leopold I,
kepala janin yang keras, bulat dan dapat diraba dengan balotemen sudah
menempati bagian fundus uteri. Perasat Leopold II menunjukkan punggung sudah
berada pada satu sisi abdomen dan bagian-bagia kecil berada pada sisi yang
lain. Pada perasat Leopold III bila engagement
belum terjadi diameter intertrokanterika panggul janin belum melewati pintu
atas panggul bokong janin masih dapat digerakkan di atas pintu atas panggul.
Setelah terjadi engagement, perasat
Leopold IV menunjukkan posisi bokong yang mapan di bawah simfisis. Suara jantung
janin biasanya terdengar paling keras pada daerah sedikit diatas umbilicus,
sedangkan bila telah terjadi engagement kepala janin, suara jantung terdengar
paling keras di bawah umbilikus.
Pemeriksaan Dalam (Vaginal Touche)
Pada presentasi bokong murni, kedua
tuberositas iskiadika, sacrum maupun anus biasanya teraba, dan setelah terjadi
penurunan lebih lanjut, genitalia eksterna dapat dikenali. Terutama pada partus
lama, bokong dapat sangat membengkak sehingga menyebabkan kesulitan
membandingkan muka dengan bokong; anus bisa dikira mulut dan tuberositas
iskiadika dapat disangka tulang pipi. Namun, dengan pemeriksaan yang cermat,
kesalahan tersebut dapat dihindari karena jari tangan pemeriksa akan mengalami
tahanan otot pada anus, sedangkan rahang yang lebih keras dan lebih kenyal
ketika diraba akan terasa pada mulut. Selanjutnya, ketika jari tangan
dikeluarkan dari anus, kadang-kadang jari tersebut berlumuran mekonium. Mulut
dan kedua tonjolan tulang pipi akan membentuk bangunan segitiga, sedangkan tuberositas
iskiadika dan anus akan membentuk satu garis lurus. Akan tetapi, petunjuk yang
lebih tepat diperoleh berdasarkan lokasi sacrum dan prosesus spinosus, yang
dapat menegakkan diagnosis tentang posisi dan macamnya.
Pada presentasi bokong sempurna, kaki
dapat diraba disamping bokong, sedangkan pada presentasi kaki, letak salah satu
atau kedua kaki lebih rendah dari pada bokong. Pada presentasi kaki, kaki kiri
atau kanan dapat ditentukan berdasarkan hubungannya dengan ibu jari kaki.
Ketika bokong turun lebih jauh ke dalam rongga panggul, genitalia dapat diraba.
Teknik Pencitraan
USG idealnya digunakkan untuk memastikan
perkiraan klinis presentasi bokong dan bila mungkin, untuk mengidentifikasi
anomali janin. Bruck and Sherer (1997) menggunakan USG intrapartum untuk
mendeteksi leiomioma besar pada segmen bawah uterus. Apabila persalinan
direncanakan dengan seksio sesarea, pemeriksaan sinar x tidak diindikasikan.
Namun bila dipertimbangkan untuk melahirkan pervaginam, tipe presentasi bokkong merupakan hal yang penting
diperhatikan. Paparan radiasi bisa sangat dikurangi dengan menggunakan
pelvimetri CT Scan (Kopelman dkk.,
1986). Teknik pencitraan ini dapat digunakan untuk memberikan informasi tentang
tipe presentasi bokong, ada tidaknya fleksi kepala bayi, dan pengukuran panggul
secara akurat.
d.
Prognosis
Baik ibu maupun janin akan menghadapi
resiko yanglebih besar pada presentasi bokong daripada presentasi kepala meski
tidak sama derajatnya.
Morbiditas Maternal
Karena frekuensi pelahiran dengan
tindakan lebih tinggi termasuk didalamnya seksio sesarea, terdapat morbiditas
maternal yang lebih tinggi dan mortalitas yang sedikit lebih tinggi pada
kehamilan yang dipersulit dengan presentasi bokong persisten (Collea dkk.,
1980). Risiko ini juga cenderung meningkat lebih tinggi lagi bila dilakukan
seksio sesarea darurat dan bukan seksio sesarea selektif (Bingham dan Lilford,
1987). Biasanya persalinan tidak berlangusng lama; Hall dan Kohl (1956)
melaporkan median lama persalinan sebesar 9,2 jam untuk nullipaara dan 6,1 jam
untuk multipara.
Morbiditas dan
Mortalitas Janin dan Bayi
Prognosis bayi pada presentasi bokong
jauh lebih buruk daripada presentasi puncak kepala. Faktor utama penyebab
kematian perinatal ini adalah pelahiran premature, kelainan kongenital, serta
trauma lahir.
Pada sebuah penelitian, Tank dkk (1971)
mengkaji hasil akhir pelahiran pervaginam yang traumatik. Saat autopsy, organ
tubuh yang paling sering mengalami perlukaan berdasarkan urutan frekuensinya
adalah otak, medulla spinalis, hati, kelennjar adrenal dan limpa. Yangmenarik
adalah bahwa dalam analisis retrospektif terhadap kasus-kasus kaslsifikasi
adrenal yang “idiopatik”, sangat penting ditemukan riwayat pelahiran sungsang.
Perlukaan lain akibat pelahiran pervaginam adalah cedera pleksus brakialis;
jejas faring, dalam bentuk robekan atau pseudodivertikel akibat jari tangan
pemeriksa yang dimasukkan ke mulut bayi sebagaimana dilakukan pada perasat
Mauriceau; dan kandung kemih yang dapat mengalami ruptur bila terdistensi.
Tindakan traksi dapat mencederai muskulus. sternokleidomastoideus dan bila
tidak ditangani secara tepat akan menyebabkan tortikollis.
e.
Penyulit
Pada Pelahiran Pervaginam
Pelahiran bokong akan menarik umbilikus
dan tali pusat masuk ke dalam panggul, yang akan menekan tali pusat. Oleh
karenanya, begitu bokong melewati introitus vagina, perut, dada, lengan dan
kepala harus segera dilahirkan. Hal ini meliputi pelahiran bagian-bagian yang
semakin padat secara berturut-turut. Pada janin aterm, moulage kepala hingga derajat tertentu bolehh jadi sangat penting
agar kepala berhasil melewati jalan lahir. Pada situasi yang tidak
menguntungkan ini,alternatif yang ada pada pelahiran pervaginam tidak
memuaskan:
1.
Pelahiran dapat
tertunda beberapa menit sementara aftercoming head mennyesuaikan dengan panggul
ibu, namun hipoksia dan asidosis akan bertambah berat;
2.
Pelahiran dapat
dipacu dan akan menyebabkan trauma akibat kompresi, traksi atau keduanya.
Pada janin preterm, perbedaan ukuran
antara kepala dan bokong sering lebih besar daripada janiin aterm.
Kadang-kadang bokong dan ekstremitas bawah janin preterm dapat melewati serviks
uteri dan dilahirkan, padahal serviks belum membuka secara adekuat untuk
dilewati bayi tanpa trauma (Bodmer dkk., 1986). Pada keadaan semacam ini, dapat
dilakukan insisi Duhrssen pada
serviks. Meski demikian, dapat terjadi trauma yang cukup berat pada janin
maupun ibu, dan hiposia bayi terbukti berbahaya. Robertson dkk (1995, 1996)
mengamati tidak terdapat perbedaan insidensi kemacetan kepala yang bermakna
daripada cara pelahiran bayi dengan presentasi bokong pada usia kehamilan 28
sampai 36 minggu atau dari 24 sampai 27 minggu. Mereka juga tidak menemukan
adanya hasil akhir neonates yang buruk setelah mengalami kemacetan kepala.
Masalah mekanis lain pada pelahiran sungsang adalah terperangkapnya lengan
janin dibelakang leher. Lengan menjungkit merupakan penyulit hingga 6 persen
pelahiran sungsang pervaginam dan menyebabkan peningkatan mortalitas neonates
(Cheng dan Hannah, 1993).
Panggul yang Kurang
Memadai
Karena tidak ada waktu untuk mengadakan moulage pad aftercoming head, panggul sempit sedang yang sebelumnya tidak
menimbulkan masalah pada pelahiran janin presentasi kepala berukuran normal
ternyata merupakan kadaan yang berbahaya bagi bayi dengan presentasi bokong.
Rovinsky dkk (1977) menegaskan tidak hanya pengukuran panggul yang harus
akurat, tetapi evaluasi yang tepat bentuk rongga panggul. Panggul ginekoid
(bulat) dan anthropoid (lonjong) adalah bentuk panggul yang memadai, sedangkan
panggul platipeloid (mendatar anteroposterior) dan android (bentuk jantung)
adalah panggul yang kurang memadai.
Hiperekstensi Kepala
Janin
Pada sekitar 5 persen atau kurang kasus
presentasi bokong aterm, kepala janin dapat berada pada posisi hiperekstensi
ektrem. Presentasi ini disebut sebagai “janin menatap bintang”, dan di Inggris
disebut “janin terbang”. Pada hiperekstensi ini, pelahiran pervaginam akan
menyebabkan kerusakan medulla spinalis servikalis. Pad umumnya, hiperekstensi
nyata yang baru diketahui setelah persalinan dimulai merupakan indikasi seksio
sesaria.
Presentasi Kaki
Kemungkinan tertekannya tali pusat yang
menumbung atau kemungkinan terlilitnya tali pusat di sekitar ekstremitas ketika
bokong mengisi rongga panggul merupakan anvaman bagi bayi.
f.
Rekomendasi
Untuk Pelahiran
Pemeriksaan yang cermat terhadap setiap
komplikasi lain, baik yang sudah dipastikan maupun yang beru diperkirakan, yang
dapat membenarkan tindakan seksio sesarea telah menjadi salah satu filosofi
dalam mengelola pelahiran sungsang. Seksio sesarea biasanya, namun tidak secara
eksklusif, dilakukan pada keadaan-keadaan berikut ini:
1. Janin
besar
2. Panggul
sempit dalam derajat apapun serta bentuk panggul yang tidak memadai
3. Kepala
hiperekstensi
4. Belum
in partum, tetapi ada indikasi maternal maupun fetal untuk pelahiran, misalnya
hipertensi dalam kehamilan atau pecah ketuban sudah 12 jam atau lebih.
5. Disfungsi
uterus
6. Presentasi
kaki.
7. Janin
yang tampak sehat tetapi peterm dengan usia gestasi 25 sampai 26 minggu atau
lebih, dan ibu sudah dalam fase persalinan aktif atau bayi harus segera
dilahirkan
8. Pertumbuhan
bayi terhambat berat
9. Riwayat
kematian perinatal atau anak sebelumnya mengalami trauma lahir
10. Permintaan
sterilisasi
g.
Teknik
Pelahiran Sungsang
Persalinan dan
Pelahiran Spontan
Ada perbedaan mendasar antara proses persalinan
presentasi kepala dan presentasi bokong. Pada presentasi kepala, setelah kepala
dilahirkan, biasanya dengan sendirinya akan diikuti seluruh badan tanpa
kesulitan. Sedangkan pada presentasi bokong secara berturut-turut bagian-bagian
bayi yang semakin besar dan semakin padat akan dilahirkan.
Peristiwa engagement dan penurunan
bokong bayi sebagai respon terhadap persalinan biasanya terjadi dengan diameter
bitrokanterika bokong janin berada di dalam salah satu diameter oblik rongga
panggul. Pangkal paha depan biasanya turun lebih cepat daripada yang belakang,
dan ketika bagian ini terhalang oleh dasar panggul, biasanya teerjadi putaran
paksi dalam sehingga pangkal paha depan berputar kea rah arkus pubis dan
memungkinkan diameter bitrokanterika janin menempati diameter anteroposterior
pintu bawah panggul. Rotasi biasnya berlangsung melalui lintasan busur sebesar
45 derajat. Akan tetapi jika ekstremitas belakang sudah terlebih dahulu menumbung, bagian ini
akan selalu mengadakan rotasi ke arah simfisis pubis, biasanya melalui lintasan
busur sebesar 135 derajat, tetapi kadang-kadang melakukan rotasi dengan arah
sebaliknya, yaitu melewati os sacrum serta belahan panggul yang kontralateral
melalui lintasan busur sebesar 225 derajat.
Setelah rotasi, proses penurunan akan
berlanjut sampai perineum meregang oleh dorongan bokong bayi, sementara pangkal
paha depan tampak pada vulva. Melalui gerakan fleksi lateral badan bayi,
pangkal paha belakang kemudian didorong lewat margo anterior perineum yang akan
melakukan retraksi melewati bagian gluteus bayi tersebut menjadi lurus kembali
ketika pangkal paha depan dilahirkan. Tungkai serta kaki akan mengikuti
kelahiran bokong dan dapat dilahirkan secara spontan atau dengan bantuan.
Setelah proses kelahiran bokong, terjadi
sedikit putarn paksi dalam, dengan punggung berputar kea rah depan sementara
bahu berada pada salah satu diameter oblik rongga panggul. Bahu kemudian turun
dengan cepat dan mengalami putaran paksi dalam, dengan diameter biakromialis
menempati diameter antaroposterior pinti bawah panggul. Segera setelah
kelahiran bahu, kepala janin yang biasanya dalam keadaan sangat fleksi pada
dada, akan memaasuki rongga panggul pada salah satu diameter obliknya kemudian
melakukan rotasi dengan cara sedemikian rupa sehingga bagian posterior leher berada di bawah simfisis pubis. Kepala
bayi lalu dilahirkan dalam keadaan fleksi.
Biasnya bagian bokong akan mengalami
engagement dalam diameter transversal rongga panggul, dengan sacrum mengarah ke
depan atau ke belakang. Mekanisme persalinan dalam posisi melintang ini hanya
berbeda dalam hal putarn paksi dalam yang terjadi melalui suatu lintasan busut
sebesar 90 derajat.
Adakalanya, rotasi berlangsung dengan
cara sedemikian rupa sehingga punggung bayi bukan mengarah ke perut ibu melainkan
ke kolumna vertebra. Rotasi semacam ini sedapat mungkin harus dicegah. Meskipun
kepala dapat dilahirkan dengan membiarkan dagu dan muka lewat dibawah simfisis,
tarikan yang paling ringan pada badan pun dapat menimbulkan ekstensi kepala,
yang akan memperbesar diameter kepala yang harus melalui ringga panggul.
h.
Metode
Pelahiran Pervaginam
Terdapat
tiga metode yagn lazim digaunakan untuk pelahiran sungsang lewat vagina:
·
Pelahiran
sungsang spontan. Kelahiran bayi sepenuhnya terjadi secara spontan tanpa tarikan
atau pun manipulasi selain untuk menyangga bayi.
·
Ekstrasi
sungsang parsial. Bayi dilahirkan secar spontan sampai umbilikus, tetapi bagian
tubuh lainnya diekstraksi/dilahirkan dengan traksi oleh penolong dan
perasat-perasat untuk membantu dengan atau tanpa gaya dorong ibu.
·
Ekstraksi
sungsang total. Seluruh tubuh bayi diekstraksi oleh dokter kebidanan.
Perasat Mauricae
Perasat ini pertama kali dipraktekkan
oleh Mauriceau tahun 1721, namun karena alas an tertentu tidak begitu disukai.
Jauh setelahnya, Smellie (1876) mengemukakan prosedur yang serupa. Veit (1907)
kembali mengarahkan perhatian ke perasat Mauriceau, dan di Jerman prosedur ini
sering disebut persat Viet. Namun istilah yang paling tepat adalah perasat
Mauriceau-Smellie-Veit.
Jari teunjuk dan jari tengah salah satu
tangan penolong diletakkan pada maksila janin untuk memfleksikan kepala,
semantar badan janin disandarkan pada telapak tangan dan lengan bawah penolong.
Lengan bawah penolong ditunggangi oleh kedua tungkai janin. Penolong kemudian mengait
leher bayi dengan dua jari tangan yang lain, dan dengan memegang kedua bahu,
dilakukan traksi ke bawah sampai bagian suboksipitalis terlihati di bawah
simfisis. Penekanan suprapubis ringan oleh asisten akan membantu kepala janin
tetap dalam keadaan fleksi. Badan janin kemudian diangkat kea rah abdomen ibu,
dan secara berturut-turut mulut, hidung, dahi,serta akhirnya oksiput akan
tampak di perineum. Perlu ditekankan bahwa pada perasat ini penolong
menggunakan kedua tangannya secara bersamaan dalam posisi tandem untuk
menghasillkan traski ringan kontinu ke aarah bawah secara bilateralpada leher
dan maksila janin. Pada saat yang sama, tekanan suprapubik yang diberikan denga
tepat oleh asisten akan sangat membantu pelahiran kepala.
Perasat Prague
Sangat jarang terjadi, punggung janinn
berputar ke depan. Bila hal ini terjadi , rotasi punggung ke depan dapat
dilakukan dengan melakukan tarikan kuat pada tungkai janin atau bagian tulang
panggulnya. Jika punggung masih tetap menghadap ke belakang, ekstraksi dapat
dilakukan dengan perasat Mauriceau dan melahirkan janin dengan punggung
menghadap ke bawah. Jika hal ini tidak mungkin dilakukan, janin masih dapat
dilahirkan dengan perasat Prague termodifikasi. Perasat ini direkomendasikan
oleh Kiwisch (1846), yang berpraktik di Praha. Perasat termodifikasi yang
dipraksitkkan sekarang dilakukan dengan dua jari untuk memegang bahu janin
dari bawah, sementara tangan yang lain
menarik kaki kea rah abdomen ibu.
Perasat Bracht
Pada perasat ini, bokong dapat
dilahirkan spontan sampai sebatas umbilikus. Kemudian badan janin dipegang,
tapi jangan ditekan dide[an simfisis ibu. Gaya ini dianggap setara dengan gaya
gravitasi (Bracht, 1936). Memegang janin pada posisi ini, disertai pengaruh
kontraksi ibu dan penekanan sedang pada suprapubik oleh asisten seringkali
dapat menghasilkan pelahiran spontan. Meski popular di Eropa, tidak terbukti
bahwa penggunaan perasat ini dihubungkan dengan hasil akhir neurologis jangka
panjang yang lebih baik.
Forseps Pada Aftercoming Head
Forseps khusus dapat digunakan untuk
melahirkan aftercomming head pada janin dengan presentasi bokong. Forseps
Piper, atau forseps Laufe divergen dapat digunakan secara elektif atau bila
perasat Mauriceau tidak bisa dikerjakan dengan mudah. Kedua daun forceps tidak
boleh dipasang pada aftercomming head sebelum bagian kepala ini masuk kedalam
panggul dengan traksi ringan disertai penekanan suprapubik, dan telah cakap
(engagement). Menyangga badan janin dengan handuk juga dapat mencegah lengan
menghalangi jalan lahir.
II.4 Kelainan Plasenta
1.
Kelainan Bentuk
a.
Plasenta Multipel Dengan Satu Janin
Kadang-kadang plasenta terpisah-pisah menjadi
beberapa lobus. Apabila pemisahan tersebut
tidak sempurna dan pembuluh-pembuluh yang
berasal dari janin berjalan dari
satu lobus ke lobus lain sebelum menyatu untuk membentuk tali pusat,
maka keadaannya disebut plasenta bipartita atau bilobata. Insidensinya dilaporkan sangat bervariasi, dan Fox (1978) menyebut sekitar 1 dari 350 pelahiran. Apabila dua lobus terpisah sama sekali dan
pembuluh-pembuluhnya juga tersendiri maka keadaannya disebut plasenta dupleks. Kadang-kadang dijumpai plasenta
tripleks, dengan tiga lobus tersendiri.
b.
Plasenta Suksenturiata
Variasi
ini terjadi apabila
terbentuk satu lobus aksesorius kecil atau lebih di membran pada jarak tertentu dari
bagian tepi
plasenta utama tempal lobus kecil tersebut memiliki hubungan vaskular yang berasal dari
janin. Ini adalah
variasi plasenta bilobata
yang lebih kecil dan insidensinya sekitar 5 persen (Benirschke dan Kaufinann, 2000).
Lobus aksesorius kadang-kadang tertinggal di
dalam uterus setelah plasenta utama keluar,
dan kemudian dapat menyebabkan perdarahan serius. Apabila pada pemeriksaan plasenta dijumpai defek di membran
dekat dengan tepi plasenta, perlu dicurigai terjadinya retensi lobus
suksenturiata. Kecurigaan dipastikan apabila
terdapat pembuluh-pembuluh yang berjalan dari plasenta ke tepi robekan.
c.
Plasenta Berbentuk Cincin
Ini adalah anomali jarang yang ditemukan pada kurang dari 1 per 6000
pelahiran. Plasenta berbentuk anulus
dan kadang-kadang dijumpai jaringan
plasenta berbentuk cincin lengkap, tetapi karena sebagian jaringan dari cincin mengalami atrofi, yang lebih sering dijumpai
adalah bentuk tapal kuda.
Kelainan-kelainan ini tampaknya berkaitan dengan peningkatan kemungkinan perdarahan antepartum dan pascapartum serta hambatan
pertumbuhan janin. Anomali ini mungkin merupakan
varian dari plasenta membranaseosa (Fox,
1978)
d.
Plasenta
Membranaseosa
Pada
keadaan-keadaan
yang jarang, seluruh selaput janin dilapisi oleh vilus fungsional, dan plasenta berkembang sebagai suatu struktur membranosa tipis yang menempati seluruh tepi korion. Plasenta membranasea juga disebut sebagai plasenta difusa. Keadaan
ini kadang-kadang menyebabkan perdarahan serius karena plasenta previa yang mungkin ditimbulkannya, dan diagnosis sering dapat ditegakkan dengan sonografi. Setelah pelahiran, plasenta mungkin
tidak terlepas secara sempurna.
Perdarahan mirip dengan yang dijumpai
pada plasenta previa sentralis, dan
mungkin perlu dilakukan histerektomi untuk
mengendalikan perdarahan dari daerah implantasi yang luas.
e.
Plasenta Fenestrata
Ini
adalah suatu anomali jarang
berupa suatu plasenta diskoid yang kehilangan bagian tengahnya. Pada beberapa kasus, terbentuk sebuah lubang sejati di plasenta,
tetapi yang
lebih sering dijumpai adalah defek hanya pada jaringan vilosa sedangkan lempeng korion
utuh. Makna klinis
anomali ini adalah bahwa kelainan ini dapat disalahartikan sebagai bagian plasenta yang hilang dan tertinggal di dalam uterus.
f.
Plasenta
Ekstrakorialis
Ini
adalah varian yang
sering dijumpai, dan Benirschke dan Kaufmann
(2000) menemukannya pada 5,3 persen dari
lebih 13.500 plasenta. Varian ini terbentuk apabila lempeng korionik yang terletak di sisi janin
dari plasenta, lebih kecil daripada lempeng basal
yang terletak di sisi ibu. Apabila permukaan sisi janin dari plasenta
semacam ini mengalami pencekungan di bagian tengah yang dikelilingi oleh suatu cincin putih keabuan yang menebal, varian yang terbentuk disebut plasenta sirkumvalata. Apabila cincin bertepatan dengan tepi plasenta,
keadaan ini kadang-kadang disebut
sebagai plasenta sirkummarginata. Di dalam cincin, permukaan bagian janin tampak biasa, membentuk perlekatan dengan tali pusat, dan memperlihatkan
pembuluh-pembuluh besar seperti biasanya, yang berakhir mendadak di tepi cincin. Pada plasenta sirkumvalata, cincin terdiri dari sebuah lipatan ganda amnion
dan korion, dengan fibrin dan desidua yang telah
mengalami degenerasi terletak di antaranya. Pada plasenta marginata, korion dan amnion meninggi di bagian tepi akibat adanya desidua dan fibrin, tanpa terjadi pelipatan membran.
Kausa plasenta sirkumvalata dan sirkummarginata
belum sepenuhnya dipahami. Perdarahan antepartum baik akibat solusio
plasenta maupun perdarahan janin, pelahiran
preterm, kematian perinatal, dan malformasi janin dilaporkan meningkat pada plasenta sirkumvalata (Benirschke, 1974;
Lademacher dkk. 1981).
2.
Gangguan Sirkulasi
Infark Plasenta
Kelainan
plasenta yang tersering, walaupun
penyebabnya beragam, secara kolektif disebut
sebagai infark plasenta. Fox (1978) mendapatkan
bahwa sekitar seperempat plasenta dari kehamilan aterm tanpa penyulit
mengalami infark, sedangkan kehamilan
dengan penyulit hipertensi berat
mengalami infark pada dua
pertiga kasus. Infark ini terjadi akibat sumbatan pasokan vaskular
ibu, yaitu, sirkulasi antarvilus (Benirschke dan
Kaufmann, 2000). Gambaran histopatologis utama adalah degenerasi
fibrinoid trofoblas, kalsifikasi, dan infark iskemik akibat oklusi
arteri spiralis. Klasifikasi yang berlebihan terhadap
berbagai
infark ini menimbulkan kebingungan yang sebenarnya tidak perlu. Di hampir semua plasenta
aterm dijumpai fokus-fokus degenerasi subkorionik dan
marginal yang kecil. Secara sederhana, lesi-lesi degeneratif pada plasenta memiliki dua faktor etiologi yang sama:
1.
Perubahan
yang berkaitan dengan penuaan trofoblas.
2.
Gangguan
sirkulasi uteroplasenta yang menyebabkan
infark.
Walaupun plasenta aterm bukanlah suatu organ yang sedang 'sekarat', secara morfologis dijumpai tanda-tanda
penuaan. Selama paruh terakhir kehamilan, mulai
terjadi degenerasi sinsitium dan terbentuk
simpul sinsitium (syncytial knots). Sinsitium kemudian terurai, sehingga jaringan ikat terpajan langsung
ke darah ibu. Akibatnya terjadi pembekuan
darah, dan bertambah banyaknya bekuan dapat menyebabkan vilus-vilus lain menyatu. Secara makroskopis, fokus semacam ini hampir mirip dengan bekuan darah biasa, tetapi apabila tidak terlihat sampai benar-benar terbentuk sempurna, pada
pemotongan akan tampak pulau jaringan yang putih
dan padat.
Di sekitar tepi dari hampir semua plasenta aterm terdapat cincin fibrosa putih-kekuningan
padat yang mencerminkan daerah degenerasi dan nekrosis, dan biasanya disebut infark
marginal. Di bawah lempeng
korionik, hampir selalu terdapat lesi-lesi serupa, paling sering berbentuk piramid, dengan diameter basal sekitar 2 sampai 3 cm, dan
meluas ke bawah dengan bagian
apeks di ruang antarvilus (infark
subkorionik). Lesi-lesi
serupa mungkin dijumpai di
sekitar septum antarkotiledon. Kadang-kadang lesi-lesi ini bertemu dan
membentuk sebuah kolumna
mirip tulang rawan yang berjalan dari permukaan sisi ibu ke permukaan sisi janin. Lebih jarang lagi pulau-pulau
jaringan serupa yang berbentuk bundar atau oval menempati bagian tengah plasenta.
II.5 Kelainan Tali Pusat (Funis)
Panjang
tali pusat cukup bervariasi, dengan rata-rata panjang saat aterm sekitar 55 sampai 60 cm. Panjang tali pusat yang ekstrim abnormal
berkisar dari tidak tampaknya tali pusat (akordia) sampai panjang melebihi 300 cm. Diameternya antara 1-2,5 cm dengan
rata- rata panjang 55cm (Williams, 1991, hal. 130)
Fungsi tali pusat sebagai sirkulasi darah
janin sebelum lahir. Darah arteri dari plasenta mengalir ke janin melalui vena
umbilikalis dan dengan cepat mengalir ke hati kemudian masuk ke vena
kava inferior. Darah mengalir ke foramen ovale dan masuk ke atrium
kiri, tidak lama kemudian, darah muncul di aorta dan arteri di
daerah kepala. Sebagian darah mengalir melalui jalan pintas di hati dan menuju
ke duktus venosus. Sebagian besar darah vena dari tungkai bawah dan
kepala masuk ke atrium kanan, ventrikel kanan, dan kemudian menuju arteri
pulmoner desenden dan duktus arteriosus. Dengan demikian, foramen
ovale dan duktus arteriosus berfungsi sebagai bypass, yang
memungkinkan sejumlah besar darah campuran yang di keluarkan jantung kembali ke
plasenta tanpa melalui paru- paru. Kira-kira 55% darah campuran, yang
keluar dari ventrikel, mengalir menuju plasenta, 35% darah
mengalir ke jaringan tubuh, dan 10% sisanya mengalir ke paru- paru. Setelah
lahir foramen ovale menutup, duktus arteriosus menutup dan
menjadi sebuah ligamen, duktus venosum menutup dan menjadi ligamen,
arteri dan vena umbilikalis menutup dan menjadi ligamen
(Bobak, et al. 1996, hal.363)
Masalah-masalah tali
pusat meliputi:
1. Insersi tali pusat
Insersi tali
pusat normal yaitu bagian tengah Abnormal :
o
Insersi
dipinggir
o
Insersi lapisan
amnion/korion (pembungkus ketuban) yaitu insersi velamentosa
o
Pembuluh-pembuluh
darah berjalan melalui pembukaan serviks uteri pada persalinan saat vasa
previa.
2. Kelainan apabila panjang tali pusat
mencapai 300 cm. Normalnya panjang tali pusat 50-55 cm,
3. Tali pusat pendek yaitu tali pusat yang
sangat pendek membuat abdomen janin berhubungan dengan plasenta, keadaan ini
selalu diikuti dengan hernia umbilikalis,
4. Tali pusat menumbung dan terkemuka yaitu
terjadi apabila tali pusat teraba di samping atau lebih rendah dari pada bagian
depan, sedangkan ketuban sudah pecah,
5. Prolapsus tali pusat yaitu ketika tali
pusat keluar dari uterus mendahului bagian presentasi,
6. Torsi tali pusat yaitu terjadi akibat
gerakan janin, sehingga tali pusat terpilin,
7. Striktur tali pusat yaitu terjadi pada
tali pusat yang secara fokal sangat kekurangan jelly wharton,
8. Hematoma tali pusat yaitu terjadi akibat
pecahnya satu variks, biasanya berasal dari vena umbilikalis, dengan efusi
darah ke dalam tali pusat,
9. Kista tali pusat yaitu terjadi pada tali
pusat dan di sebut murni atau palsu, bergantung pada asalnya. Kista murni
sangat kecil dan berasal dari sisa –sisa gelembung umbilikal atau dari allantois,
10. Edema tali pusat terjadi pada bayi yang
mengalami maserasi.
11. Omfalitis yaitu infeksi pada tali pusat
adalah tali pusat basah atau lengket yang disertai bau tidak sedap.
12. Tetanus neonatorum adalah tetanus yang
terjadi pada bayi berusia kurang satu bulan yang disebabkan oleh clostridium
tetani yang masuk melalui tali pusat bayi. (Sodikin, et al. 2009, hal. 78).
REFERENSI
Cunningham, F Gary. 2005. Obstetri William Edisi 21 Vol 1. Jakarta.
EGC.
Cunningham, F Gary. 2005. Obstetri William Edisi 21 Vol 2.
Jakarta. EGC.
Wiknjosastro, hanifa. 2007. Ilmu Kandungan
Edisi Kedua. Jakarta. Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo.