PENDAHULUAN
I.1.
LATAR
BELAKANG
Hemostasis
adalah mekanisme tubuh untuk menghentikan perdarahan secara spontan. Ada
beberapa system yang berperan dalam hemostasis aitu sitem vaskuker, trombosit
dan pembekuan darah. Peran system vaskuler dalam mencegah perdarahan meliputi
proses kontraksi pembuluh darah (vasokonstriksi) serta aktivasi trombosit dan
pembekuan darah. (Setiabudy, 2009)
Apabila
pembuluh darah mengalami luka, maka akan terjadi vesokonstriksi yang mula-mula
secara reflektoris dan kemudian akan dipertahankan oleh faktor local seperti
5-hidroksitriptamin (5-HT, serotonin), dan epinefrin. Vasokonstriksi ini akan
menyebabkan pengurangan aliran darah pada daerah yang luka. Pada pembuluh darah
kecil hal ini mungkin dapat menghentikan perdarahan, sedangkan pada pembuluh
darah besar masih diperlukan system lain seperti trombosit dan pembekuan darah.
(Setiabudy,
2009)
Seperti
kita ketahui, pembuluh darah dilapisi oleh sel endotel. Apabil laisan endotel
rusak maka jaringan ikatdi bawah endotel seperti serat kolagen, serat elastin
dan membrana basalis terbuka sehingga tejadi aktivasi trombosit yang
menyababkan adhesi trombosit dan pembentukan sumbat trombosit. (Setiabudy,
2009)
I.2.
TUJUAN
1.
Tujuan Umum
Mengetahui dan memahami tentang kelainan hemostasis
dan koagulasi.
2.
Tujuan Khusus
Mempelajari lebih dalam mengenai fisiologi
hemostasis dan koagulasi beserta kelainan-kelainannya.
I.3.
MANFAAT
1.
Untuk bahan pustaka bagi
institusi.
2.
Untuk menambahan wawasan keilmuan
tentang hemostasis dan koagulasi
disorders bagi penulis.
3. Sebagai sumber bacaan bagi pembaca untuk membuat karya tulis
serupa.
BAB
II
TINJAUAN
PUSTAKA
II.1. Hemostasis
dan Koagualasi
Hemostasis adalah istilah kolektif untuk semua
mekanisme faal yang digunakan oleh tubuh untuk melindungi diri dari kehilangan
darah. Hemostasis adalah proses tubuh yang secara simultan menghentikan
perdarahan dari tempat yang cedera, sekaligus mempertahankan darah dalam
keadaan cair di dalam kompartemen vaskular. Hemostasis melibatkan kerja sama
terpadu antara beberapa sistem fisiologik yang saling berkaitan. (Sacher, 2004)
Kegagalan hemostatis menimbulkan
perdarahan; kegagalan mempertahankan darah dalam keadaan cair menyebabkan
thrombosis. Baik perdarahan maupun thrombosis sangat sering terjadi dan
merupakan masalah klinis yang berbahaya. Menentukan gangguan/defek yang
menyebabkan perdarahan, saat ini, lebih mudah daripada menentukan
keadaan-keadaan yang memudahkan terjadinya thrombosis. (Sacher, 2004)
Mekanisme hemostatik normal terdiri dari
empat sistem utama: (1) sistem pembuluh darah (vascular), (2) trombosit, (3)
sistem pembekuan, dan (4) sistem fibrinolitik. (Sacher, 2004)
A. Sistem
Pembuluh Darah (Vascular)
Pembentukan
sumbat hemostatik dimulai dengan kerusakan pembuluh darah, kerusakan darah,
atau keduannya, yang menyebabkan terjadinya suatu proses yang berantai. Cedera
vascular biasanya berkaitan dengan kontraksi pembuluh darah (vasokontriksi),
aktivasi kontak trombosit diikuti oleh agregasi trombosit, dan pengaktifan
jenjang koagulasi. Pada keadaan normal, lapisan endotel pembuluh darah bersifat
halus/mulus dan tidak terputus. Kerusakan terhadap lapisan endotel ini
menyebabkan kolagen di bawahnya terpajan, tempat trombosit dalam sirkulas
melekat (adhesi trombosit). Hal ini, pada gilirannya, memicu rekrutmen lebih
banyak trombosit untuk “menyumbat” pembuluh yang cedera (agregasi trombosit).
Dinding pembuluh juga merupakan sumber faktor von Willebrand dan zat
antiagregasi trombosit prostasiklin. (Sacher, 2004)
B. Trombosit
Trombosit bukan merupakan sel, tetapi merupakan
fragmen-fragmen sel granular, berbentuk cakram, tidak berinti; trombosit ini
merupakan unsur selular sumsum tulang terkecil dan penting untuk homeostasis
dan koagulasi. Trombosit berasal dari sel induk pluripoten yang tidak terikat (noncommitted pluripotent stem cell), yang
jika ada permintaan dan dalam keadaan adanya factor perangsang trombosit
(MK-CSF [factor perangsang koloni megakariosit]), interleukin dan TPO (factor
pertumbuhan dan perkembangan megakariosit), berdiferensiasi menjadi kelompok
sel induk yang terikat (commited stem
cell pool) untuk membentuk megakarioblas. Sel ini, melalui serangkaian
proses maturasi, menjadi megakariosit raksasa. Tidak seperti unsure sel
lainnya, megakariosit mengalami endomitosis, terjadi pembelahan inti di dalam
sel tetapi sel itu sendiri tidak membelah. Sel dapat membesar karena sintesis
DNA yang meningkat. Sitoplasma sel akhirnya memisahkan diri menjadi
trombosit-trombosit. (Sacher, 2004)
Trombosit berdiameter
1 sampai 4 µm dan memiliki siklus hidup kira-kira 10 hari. Kira-kira sepertiga
berada di dalam lien sebagai sumber cadangan, dan sisanya berada dalam
sirkulasi, berjumlah antara 150.000 dan 400.000/mm3. Jika apusan
darah perifer menggunakan pewarnaan Wright, maka sel-sel ini terlihat biru muda
denga granula berwarna merah-ungu. Yang diabsorpsi oleh membrane trombosit
adalah faktor V, VIII, dan IX, protein kontraktil aktomiosin, atau
trombostenin, dan berbagai protein serta enzim lain. Granula mengandung
serotonin vasokontriktor yang kuat, faktor agregasi adenosin difosfat (ADP),
fibrinogen, faktor von Willebrand, faktor-faktor 3 dan 4 trombosit (faktor
penetralisir-heparin), dan kalsium serta enzim-enzim. Semua faktor ini
dilepaskan dan diaktifkan akibat respons terhadap cedera. (Sacher, 2004)
C. Sistem
Pembekuan (Koagulasi)
Pembekuan darah
(Koagulasi) adalah suatu proses kimiawi yang protein-protein plasmanya
berinteraksi untuk mengubah molekul protein plasma besar yang larut, yaitu
fibrinogen menjadi gel stabil yang tidak larut yang disebut fibrin. (Sacher,
2004)
Adapun
faktor-faktor yang berperan dalam proses pembekuan darah, antara lain:
Faktor-faktor pembekuan, kecuali faktor III
(tromboplastin jaringan) dan faktor IV (ion kalsium), merupakan protein plasma
yang berada dalam sirkulasi darah sebagai molekul inaktif. Tabel 1 menunjukkan
faktor-faktor koagulasi dengan menggunakan angka Romawi yang baku dan diterima
secara internasional, memberikan sinonimnya, dan meringkas fungsi-fungsinya.
Prakalikrein dan kininogen dengan berat-molekul-tinggi (HMWK), bersama faktor
XII dan XI, disebut faktor-faktor kontak
dan diaktivasi pada saat cedera dengan berkontak dengan permukaan jaringan;
faktor-faktor tersebut berperan dalam pemecahan bekuan-bekuan pada saat
terbentuk. (Price, 2006)
Aktivasi faktor-faktor koagulasi diyakini terjadi
karena enzim-enzim memecahkan fragmen bentuk precursor yang tidak aktif, oleh
karena itu disebut prokoagulan. Tiap
faktor yang diaktivasi, kecuali faktor V, VIII, XIII, dan I (fibrinogen),
merupakan enzim pemecah-protein (protease serin), yang mengaktivasi
prokuagulasi berikutnya. (Price, 2006)
Tabel 1. Faktor-Faktor Pembekuan
Darah (Price, 2006)
Hati merupakan
tempat sintesis semua faktor koagulasi kecuali faktor VIII dan mungkin faktor
XI dan XIII. Vitamin K penting untuk sintesis faktor-faktor protrombim II, VII,
IX, dan X. Bukti-bukti yang ada memberi kesan bahwa faktor VIII benar-benar
merupakan molekul kompleks yang terdiri atas tiga subunit yang berbeda: (1) bagian
prokoagulan, yang mengandung faktor antihemofilia, VIIIAHG, yang
tidak dijumpai pada pasien-pasien hemophilia klasik; (2) subunit lain yang
mengandung tempat antigenik; dan (3) faktor von Willebrand, VIIIVWF,
yang diperlukan untuk adhesi trombosit pada dinding pembuluh darah. (Price,
2006)
Fase-Fase Koagulasi
Koagulasi diawali dalam
keadaan homeostasis dengan adanya cedera vaskular. Vasokontriksi merupakan
respons segera terhadap cedera, yang diikuti dengan adhesi trombosit pada
kolagen pada dinding pembuluh yang terpajan dengan cedera. ADP dilepas oleh
trombosit, menyebabkan agregasi trombosit. Sejumlah kecil trombin juga
merangsang agregasi trombosit, dari membran trombosit, juga mempercepat
pembekuan plasma. Dengan cara ini, terbentuklah sumbatan trombosit, kemudian
segera diperkuat oleh protein filamentosa yang dikenal sebagai fibrin. (Price, 2006)
Produksi
fibrin dimulai dengan perubahan faktor X menjadi Xa, seiring dengan
terbentuknya bentuk aktif suatu faktor. Faktor X dapat diaktivasi melalui dua rangkaian
reaksi. Rangkaian pertama memerlukan faktor jaringan, atau tromboplastin
jaringan, yang dilepaskan oleh endotel pembuluh darah pada saat cedera. Karena
faktor jaringan tidak terdapat di dalam darah, maka faktor ini merupakan faktor
ekstrinsik koagulasi, dengan demikian disebut jalur ekstrinsik untuk rangkaian ini. (Price, 2006)
Rangkaian
lainnya yang menyebabkan aktivasi faktor X adalah jalur intrinsik, disebut demikian karena rangkaian ini menggunakan
faktor-faktor yang terdapat di dalam sistem vaskular plasma. Dalam rangkaian
ini, terjadi reaksi “kaskade”, aktivasi satu prokoagulan menyebabkan aktivasi
bentuk pengganti. Jalur intrinsik diawali dengan plasma yang keluar terpajan
dengan kulit atau kolagen di dalam pembuluh darah yang rusak. Faktor jaringan
tidak diperlukan, tetapi trombosit yang melekat pada kolagen, sekali lagi
berperan. Faktor-faktor XII, XI, dan IX harus diaktivasi secara berurutan, dan
faktor VIII harus dilibatkan sebelum faktor X dapat diaktivasi. Zat-zat
prakalikrein dan HMWK juga turut berpartisipasi, dan diperlukan ion kalsium.
(Price, 2006)
Dari hal ini,
koagulasi terjadi di sepanjang apa yang dinamakan jalur bersama. Seperti yang diperlihatkan oleh gambar, aktivasi
faktor X terjadi sebagai akibat reaksi jalur ekstrinsik dan intrinsik.
Pengalaman klinis menunjukkan bahwa kedua jalur tersebut berperan dalam
hemostasis. (Price, 2006)
Langkah
berikutnya pada pembentukan fibrin berlangsung jika faktor Xa, dibantu oleh
fosfolipid dari trombosit yang diaktivasi, memecah protombin, membentuk
thrombin. Selanjutnya trombin memecahkan fibrinogen membentuk fibrin. Sejumlah
kecil trombin tampaknya dicadangkan untuk memperkuat agregasi trombosit. Fibrin
ini, awalnya merupakan jeli yang dapat larut, distabilkan oleh faktor XIIIa dan
mengalami polimerasi menjadi jalinan fibrin yang kuat, trombosit, dan
memerangkap sel-sel darah. Untaian fibrin kemudian memendek (retraksi bekuan),
mendekatkan tepi-tepi dinding pembuluh darah yang cedera dan menutup daerah
tersebut. (Price, 2006)

Gambar 1. Fase Koagulasi (Price, 2006)
Faktor penghambat koagulasi
Faktor
penghambat koagulasi ini menghambat kaskade koagulasi dan memastikan bahwa
kerja trombin terbatas di tempat cedera:
· Antitrombin
menginaktivasi protease serin, terutama faktor Xa dan trombin. Heparin
mengaktivasi antitrombin.
· Makroglobulin
α2, antiplasmin α2, antitripsin α2, dan
kofaktor II heparin juga menghambat protease serin dalam sirkulasi.
· Protein
C dan S adalah protein tergantung vitamin k yang dibuat dalam hati. Protein C
diaktivasi melalui kompleks trombintrombomodulin dan , seperti protein protein
S, menghambat koagulasi dengan menginaktivasi faktor Va dan VIIIa, protein
Cjuga meningkatkan fibrinolisis dengan menginaktivasi inhibitor aktivator
plasmogen jaringan.
· Inhibitor
jalur faktor jaringan menghambat jalur koagulasi in vivo utama dengan menghambat faktor VIIa dan Xa.
D. Sistem
Fibrinolitik
Sistem
fibrinolitik merupakan rangkaian yang fibrinnya dipecahkan oleh plasmin
(disebut juga fibrinolisin) menjadi
produk-produk degradasi fibrin, menyebabkan hancurnya bekuan. Diperlukan
beberapa interaksi untuk mengubah protein plasma spesifik inaktif di dalam
sirkulasi menjadi enzim fibrinolitik plasmin aktif. Protein dalam bersirkulasi,
yang dikenal sebagai proaktivator
plasminogen, dengan adanya (enzim-enzim) kinase seperti streptokinase,
stafilokinase, kinase jaringan jaringan, serta faktor XIIa, dikatalisasi
menjadi activator plasminogen. Dengan adanya enzim-enzim tambahan seperti
urokinase, maka aktivator-aktivator mengubah plasminogen, suatu protein plasma
yang sudah bergabung dalam bekuan fibrin, menjadi plasmin. Kemudian plasmin
memecahkan fibrin dan fibrinogen menjadi fragmen-fragmen (produk degradasi
fibrin-fibrinogen), yang mengganggu aktivitas trombin, fungsi trombosit, dan
polimerisasi fibrin, menyebabkan hancurnya bekuan. Makrofag dan neutrofil juga
berperan dalam fibrinolisis melalui aktivitas fagositiknya. (Price, 2006)
Gambar
2. Sistem Fibrinolitik (Price, 2006)
II.2. Pendekatan
diagnosisi klinik kelainan hemostasis
Dalam keadaan normal daraha berada dalam pembuluh
darah dan berbentuk cair. Keadaan ini dapat dipertahankan bila hemostasis dalam
batas normal. Tapi perlu diketahui hemostasis yang adekuat adalah relatif,
karena meskipun pembuluh darah, trombosit dan faktor pembekuan dalam keadaan
normal dapat terjadi perdarahan, akibat proses patologis setempat. Semua
perdarahan spontan merupakan suatu keadaan patologis, kecuali perdarahan yang
terjadi selama menstruasi. (Rahajuningsih, 2009)
Perdarahan
yang terjadi akibat kerusakan pembuluh darah dan trombosit disebut kelainan
hemostasis primer, sedang bila gangguan pada faktor koagulasi disebut kelainan
hemostasis sekunder. Gejala klinik yang terlihat pada umumnya berbeda akibat
kelainan hemostasis primer dan sekunder. Untuk menentukan letak kelainan
hemostasis ini diperlukan anamnesis yang baik dan teliti, pemeriksaan dan
evaluasi manifestasi klinik perdarahan yang cermat serta pemeriksaan
laboratorium yang tepat. (Rahajuningsih, 2009)
Anamnesis
yang baik sering dapat memberi petunjuk yang berharga dalam menentukan sebab
perdarahan. Perdarahan yang terjadi sejak anak-anak akan mengingatkan
kemungkinan karena bawaan seperti hemofilia. Riwayat perdarahan yang tidak
normal pada keluarga sering menyokong kearah kelainan hemostasis kongenital. Bahkan
keterangan terperinci apakah ada masalah perdarahan pada waktu ada luka atau
operasi pada masa lalu perlu ditanyakan. (Rahajuningsih, 2009)
Orangtua penderita juga perlu ditanyakan apakah
waktu tali pusat dipotong terjadi perdarahan yang menimbulkan permasalahan.
Bila ini terjadi maka kemungkinan faktor XII, afibrinogenemia atau defisiensi
faktor VII perlu dipikirkan. Pada penderita penyakit jantung atau yang pernah
trombosis perlu ditanyakan apakah mendapat obat antikoagulan. Selain untuk menentukan
kelainan hemostasis bawaan atau tidak juga dapat memberikan petunjuk kelainan
hemostasis primer atau sekunder. (Rahajuningsih, 2009)
Gejala dan evaluasi klinis
Manifestasi kelainan hemostasis bisa berupa
perdarahan ke dalam kulit atau jaringan dan juga dapat dengan gejala darah
keluar dari tubuh. Perdarahan ke dalam kulit atau jaringan, dapat terliaht
sebagai ptekia, ekimosis, purpura, hematoma dan hemartrosis. Sedang perdarahan
yang disertai keluarnya darah dari tubuh bisa berupa epistaksi, perdarahan
gusi, hemoptisi, hematemesis, melena, hematuria, metroragia. (Rahajuningsih,
2009)
Ada kalanya kelainan hemostasis primer maupun
sekunder tidak memperlihatkan gejala klinis perdarahan, sehingga sering seorang
penderita baru diketahui mengidap kelainan hemostasis setelah tubuh komplikasi
perdarahan akibat trauma atau suatu tindakan atau setelah suatu pemeriksaan
penyaring hemostasis. Pada umumnya gejala klinik, perdarahan erat hubungannya
dengan jenis dan derajat kelainan uji biologik hemostasis. Misalnya ptekie
terjadi karena kelainan trombosit atau pembuluh darah, sedang hematoma terjadi
karena faktor koagualasi. (Rahajuningsih, 2009)
Evaluasi
klinik perdarahan sangat penting dan jangan terlalu perdarahan tapi sebaliknya
jangan terlalu dilebihkan, bila evaluasi dilakukan dengan sangat teliti sering
dapat mendapat memberi petunjuk yang berharga dalam menentukan kelainan
terletak pada trombosit. Pembuluh darah atau faktor pembekuan. Pada ekstaksi
gigi pada bisa terjadi perdarahan berhenti sempurna tapi seteleh beberapa waktu
timbul perdarahan kembali, ini disebut perdarahan yang terlambat (delayed bleeding). Hal ini dapat
diterangkan pada permulaan gumpalan trombosit dapat menghentikan perdarahan
tetapi karena koagulasi tidak efektif perdarahan timbul kembali. Sebaliknya
pada trombositiopenia, bila terjadi
trauma atau operasi maka perdarahan akan terjadi segera. (Rahajuningsih, 2009)
Bila pada pemeriksaan fisik ditemukan lesi yang
karaktersistik pada kulit hal ini akan dapat menerangkan masalah perdarahan sebelumnya,
misalnya perdarahan telangeiktasi herediter. Dan bila anamnesa, pemeriksaan
fisik dan evaluasi klini dilakukan dengan cermat maka seharusnya sudah dapat
memberikan laboratorium hanya menjadi tambahan dan ini menguntungkan dari segi
waktu dan biaya. Seperti sudah dikatakan terlebih dahulu gejala klinik
perdarahan ini sering dapat membedakan apakah kelainan hemostasis primer atau
sekunder. Petekia misalnya adalah perdarahan spontan ke dalam kulit, “merupakan
ciri” khas kelainan trombosit atau pembuluh darah, dan tidak ditemukan pada
kelainan faktor koagulasi. “Petekia” berwarna merah dengan ukuran seberar jarum
pentul. Permukaannya datar dan tidak hilang kalau ditekan. Pada scurvy atau
defisiensi vitamin C petekia dapat tersebar di sekitar folikel rambut pada
daerah paha, bokong dan tempat duduk. Beberapa petekie dapat bergabung dan
mermbentuk perdarahan dengan ukuran yang lebih besar yang disebut purpura.
Biasanya purpura disertai ekimosis yaitu perdarahan kedalam jaringan
superfisial dan jarang menyebar ke njaringan yang lebih dalam. Bila ekimosis
besar, soliter dan menyebar sampai jaringan yang lebih dalam sehingga bengkak
seperti tumor disebut hematoma. Biasanya bukan karena kelainan hemostrasis
primer tetapi karena kelainan hem ostasis sekunder. Perdarahan pada sendi atau
ruang sinovium disebut hemartrosis, biasanya disebabkan kelainan faktor
koagulasi herediter yang berat. Hemartrosis sendi lutu khas pada hemofilia
sering dikacaukan dengan embengkakan sendi lutut karena demam rematik. (Rahajuningsih,
2009)
Epistaksis juga bisa terjadi oleh karena sejumlah
penyaki perdarahan terutama bisa disertai trombositopenia, perdaahan
telangietasi herediter, penyakit von Wilerand. Pada penyakit von Willbrand
bukan tidak jarang didapat riwayat epitaksis yang berat, berulang pada
anak-anak dan menjadi lebih baik pada masa puberits. Epistaksis bisa timbul
kembali sesudah menopause. Epistaksis juga bisa terjadi pada orang normal
terutama pada anak-anak pada musim dingin bila udara kering. Bila perdarahan
hanya pada satu sisi maka kelainan lokal harus dicurigai. (Rahajuningsih, 2009)
Perdarahan gusi biasanya terlihat ada
trombositopenia, uremia, deisiensi vit C dan disproteinemia. Hematuria bisa
terjadi pada trombositopenia, hemofilia dan pemakaian obat antiokoagulan oral.
Apapun kelainan hemostasis yang didapat pada pasien dengan hematuria harus
selalu dicari kemungkinan suatu lesi yang mendasari seperti neoplasma, batu
dalam saliran kemih, atau tuberkulosis ginjal. Pada pasien dengqan hemofilia
bisa terjadi episode hematuria yang berulang tapi tidak perlu untuk mengul;angi
kembali pemeriksaan hemostasis. (Rahajuningsih, 2009)
Hematemesis atau melena biasaanya karena pada
saluran cerna bisa karena kelainan lokal atau karena trombositopenia,
perdarahan telangiektasi herediter, obat antikoagulan, pseudoxanthoma
elasticum, penyakit von Willbrand dan uremia. Hal yang bertentangan yaitu pada
trombositopenia esensial, sering terjadi perdarahan pada saluran cerna sehingga
dalam situasi seperti ini sulit menduga kelainan hemostasis karena trombosis
meningkat. Hal yang dapat menolong yaitu bila disertai dengan spleenomegali ini
merupakan petunjuk karena sering ditemukan pada trombositemia esensial. Harus
diingat penderita dengan perdarahan saluran cerna perlu dicari kelainan lokal
misalnya dengan endoskopi. (Rahajuningsih, 2009)
Metroragia
bisa merupakan gejala trombositopenia, penyakit von Willbrand atau
defisiensi faktor koagulasi. Perdarahan yang lebih dari 80 ml per hari pada
masa menstruasi dianggap tidak normal. Darah yang keluar dapat diohitung dari
beapa kali harus gantu pembalut satu hari. Satu pembalut bviasanya dapat
menyeratp 50 mL atau lebih darah. (Rahajuningsih, 2009)
Evaluasi klinik ini selain penting untuk menetukan
asal dan luasnya perdarahan juga dapat mengantisipasi perdarahan yang dihadapi,
karena pada beberpa pada kondisi tertentu juga disertai kelainan hemostasis
tertentu pula. Misalnya pada penyakit hati kelainan hemostasis kompleks karena
merupakan kombinasi dari \berbagai gangguan seperti sintsis faktror koagulasi
berkurang, trombositopenia, difibrinogenemia, DIC, dan fibrinolisis. (Rahajuningsih,
2009)
Pada penderita gagal ginjal fungisi trombosit
terganggu (trombopati) sedang penderita dengan sistemik lupus eritematosis
sering disertai dengan circulating
antikoagulant. Perdarahan pada kematian janin dalam kandungan umumnya
karena DIC, sedang perdarahan pada tumor atau operasi prostat, biasanya karena
fibrinolisi primer. Pasien dengan obstruksi biliaris atau yang mendapat
antibiotik broad sprectrum biasanya
mengalami defisiensi vitamin K. (Rahajuningsih, 2009)
Pemeriksaan laboratorium seharusanya akan menyokong
kesimpulan yang didasarkan atas
anamnesis, pemeriksaan fisik, dan evaluasi klinik. Sehingga pemeriksaan
hemostasis yang akan dilakukan didasarkan atas kesimpulan klinik. Seperti telah
disinggung sebelumnya manifestasi klinik erat hubungannya dengan kelainan
hemostasis. (Rahajuningsih, 2009)
Pemeriksaan hemostasis ini dibagi 2 golongan yaitu
pemeriksaan penyaring dan pemeriksaan khusus. Pilihan tergantung dari tujuan
pemeriksaan hemostasis yang diinginkan sesuai dengan kondisi dan tindakan yang
akan deilakukan pada pasien. Pemeriksaan penyaring biasanya dilakukan pada
pasien yang akan menjalani operasi, sedang bila sudah ada perdarahan maka permintaan
pemeriksaan hemostasis didasarkan atas diagnosa klinis. (Rahajuningsih, 2009)
Tabel
3.Hubungan gejala klinik dengan kelainnan hemostasis (Rahajuningsih, 2009)
Gejala
klinik
|
Hemostasis
primer pembuluh darah/trombosit
|
Hemostasis
sekunder faktor koagulasi
|
Petekia
|
Ciri khas
|
-
|
Hematoma
|
Jarang
|
Ciri khas
|
Ekimosis
superfisial
|
Ciri khas,
kecil dan banyak
|
Biasanya
besar dan soliter
|
Hemartrosis
|
Jarang
|
Ciri khas
|
Perdarahan
terlambat
|
Jarang
|
Umumnya ada
|
Perdarahan
luka superfisial atau garukan
|
Persisten, sering
profus
|
Sedikit
|
II.3. Pemeriksaan
Penyaringan Pada Kelainan Hemostasis
Pemeriksaan
hemostasis pemeriksaan penyaringan terdiri dari:
1. Percobaan
pembendungan (Rumpel Leede)
Percobaan
ini bermaksud menguji ketahanan dinding kapiler darah dengan cara mengenakan
pembendungan kepala vena, sehinnga tekanan darah didalam kapiler meningkat.
Dinding kapiler yang kurang kuat akan menyebabkan darah keluar dan merembes ke
dalam jaringan sekitarnya sehingga tampak titik merah kecil pada permukaan
kulit, titik itu disebut petekia. (Rahajuningsih, 2009)
Untuk
melakukan percobaan ini mula-mula dilakukan pembendungan pada lengan atas
dengan memasang tensimeter pada pertengahan antara tekanan sistolik dan tekanan
diastolik. Tekanan itu dipertahankan selam 10 menit. Jika percobaan ini
dilakukan sebagai lanjutan masa perdarahan, cukup dipertahankan selama 5 menit.
Setelah waktunya tercapai bendungan dilepaskan dan ditunggu sampai tanda-tanda
stasis darah lenyap. Kemudian diperiksa adanya petekia di kulit lengan bawah bagian
voler, pada daerah dengan garis tengah 5 cm kira-kira 4 cm dari lipat siku.
(Rahajuningsih, 2009)
Pada orang normal, tidak atau sedikit
sekali didapatkan petekia. Hasil positif bila terdapat lebih dari 10 petekia.
Seandainya di daerah tersebut tidak ada petekia tetapi jauh di distal ada,
hasil percobaan ini positif juga. Jika pada waktu dilakukan pemeriksaan masa
perdarahan sudah terjadi petekia, berarti percobaan pembendungan sudah positif
hasilnya dan tidak perlu dilakukan tersendiri. Pada penderita yang telah
mempunyai purpura secara spontan, percobaan ini juga tidak perlu dilakukan. Walaupun
percobaan pembendungan ini dimaksudkan untuk mengukur ketahanan kapiler, hasil
tes ini ikut dipengaruhi juga oleh jumlah dan fungsi trombosit. Trombositopenia
sendiri dapat menyebabkan percobaan ini berhasil positif. (Rahajuningsih, 2009)
2.
Masa perdarahan
Pemeriksaan
ini bertujuan untuk menilai kemampuan vaskular dan trombosit untuk menghentikan
pendarahan. Prinsip pemeriksaan ini adalah menentukan lamanya perdarahan pada
luka yang mengenai kapiler. Terdapat 2 macam cara yaitu cara Ivy dan Duke.
(Rahajuningsih, 2009)
Pada
cara Ivy, mula-mula dipasang tensimeter denga tekanan 40 mmHg pada lengan atas.
Setelah dilakukan tindakan antisepsis dengan kapas alkohol , kulit lengan bawah bagian voler diregangkan
lalu dilakukan tususkan dengan lanset sedalam 3 mm. Stopwatch dijalankan waktu
drah keluar. Setiap 30 detik darah dihisap dengan kertas saring. Setelah darah
tidak keluar lagi, stopwatch dihentikan. Nilai normal berkisar antara 1-6
menit. (Rahajuningsih, 2009)
Pada
cara Duke, mula-mula dilakukan tindakan antisepsis pada anak daun telinga.
Dengan lanset, dilakukan tusukan pada tepi anak daun telinga. Stopwatch
dijalankan waktu darah keluar. Setiap 30 detik, darah dihisap dengan kertas
saring. Setelah darah tidak keluar lagi, stopwatch dihentikan. Nilai normal
berkisar antara 1-3 menit. Cara Duke sebaiknya hanya dipakai untuk bayi dan
anak kecil dimana sukar atau tidak mungkin dilakukan pembendungan.
(Rahajuningsih, 2009)
Pemeriksaan
masa perdarahan merupakan suatu tes yangkuarng memuaskan karena tidak dapat
dilakukan standardisasi tusukan baik mengenai dalamnya, panjangnya,
lokalisasinya maupun arahnya sehingga korelasi antara tesini dan keadaan klinik
tidak begitu baik. Perbedaan suhu kulit juga dapat mempengaruhi hasil tes ini. Pada
pemerikssan ini tusukan harus cukup dalam, sehingga salah satu bercak darah
pada kertas saring mempunyai diameter 5 mmatau lebih. Masa perdarahan yang
kurang dari 1 menit juga disebabkan tusukan yang kurang dalam. Dalam hal
seperti ini, percobaan dianggap batl dan perlu di ulang. (Rahajuningsih, 2009)
Hasil
pemeriksaan menurut cara Ivy lebih dapat dipercaya dari pada cara Duke, karena
pada cara Duke tidak diadakan pembendungan sehingga mekanisme hemostasis kurang
dapat dinilai. Apabila pada cara Ivy perdarah berlangsung lebih dari 10 menit
dan hal ini diduga karena tertusuknya vena, perlu dilakukan pemeriksaan ulang
pada lengan yang lain. Kalau hasilnya tetap lebih dari 10 menit, hal ini membuktikan
adanya suatu kelainan dalam mekanisme hemostasis. Tindakan selanjutnya adalah
mencari letak kelainan hemostasis dengan mengerjakan pemeriksaan –pemeriksaan
lain. (Rahajuningsih, 2009)
3.
Hitung trombosit
Hitung
trombosit dapat dilakukan dengan cara langsung dan tidak langsung. Cara
langsung dapat dilakukan dengan cara manual, semi otomatik dan otomatik. Pada
cara manual, mula-mula darah diencerkan dengan larutan pengencer lalu diisikan
ke dalam kamar hitung dan jumlah trombosit dihitung di bawah mikroskop. Untuk
larutan pengencer dapat dipakai larutan Rees Ecker atau larutan amonium oksalat
1%. Cara manual mempunyai ketelitian dan ketetapan yang kurang baik, karena
trombosit kecil sekali sehingga sukar dibedakan dari kotoran kecil. Lagi pula
trombosit mudah pecah dan cenderung saling melekat membentuk gumpalan serta
mudah melekat pada permukaan asing. Oleh karena itu alat-alat yang dipakai
harus betul-betul bersih dan larutan pengencer harus disaring lebih dahulu.
Sebagai bahan pemeriksaan dipakai darah dengan antikoagulan sodium ethylendiamine yang masih dalam
batas waktu yang diijinkan artinya tidak lebih dari 3 jam setelah pengambilan
darah. (Rahajuningsih, 2009)
Pada
cara tidak langsung, jumlah trombosit pada sediaan hapus dibandingkan dengan
jumlah eritrosit kemudian jumlah mutlaknya dapat diperhitungkan dari jumlah
mutlak eritrosit. Karena sukarnya dihitung, penilaian semi kuantitatif tentang
jumlah trombosit dalam sediaan hapus darah sangat besar artinya sebagai
pemeriksaan penyaring. Pada sediaan hapus darah tepi, selain dapat dilakukan
penilaian semi kuantitatif, juga dapat diperiksa morfologi trombosit serta
kelainan hematologi lain. Bila sediaan hapus dibuat langsung dari darah tanpa
antikoagulan, maka trombosit cenderung membentuk gumpalan. Jika tidak membentuk
gumpalan berarti terdapat gangguan fungsi trombosit. (Rahajuningsih, 2009)
Dalam keadaan normal jumlah trombosit sangat
dipengaruhi oleh cara menghitungnya dan berkisar antara 150.000 – 400.000 per
µl darah. Pada umumnya, jika morfologi dan fungsi trombosit normal, perdarahan
tidak terjadi jika jumlah trombosit lebih dari 100.000/µl. Jika fungsi
trombosit normal, pasien dengan jumlah trombosit di atas 50.000/µl tidak
mengalami perdarahan kecuali terjadi trauma atau operasi. Jumlah trombosit
kurang dari 50.000/µl digolongkan trombositpenia berat dan perdarahan spontan
akan terjadi jika jumlah trombosit kurang dari 20.000/µl. (Rahajuningsih, 2009)
Masa Protrombin Plasma (prothrombin time PT)
Pemeriksaan ini digunakan untuk menguji pembekuan darah
melalui jalur ekstrinsik dan jalur bersama faktor pembekuan VII, X, V,
protrombin dan fibrinogen. Selain itu juga dapat dipakai untuk memantau efek
antikoagulan oral karena golongan obat tertentu menghambat pembentukan faktor
pembekuan protrombin, VII, IX, dan X. (Rahajuningsih, 2009)
Prinsip pemeriksaan ini dalah mengukur lamanya
terbentuk bekuan bila ke dalam plasma yang diinkubasi pada suhu 37°C,
ditambahkan reagens tromboplastin jaringan dan ion kalsium. Hasil pemeriksaan
ini dipengaruhi oleh kepekaan tromboplastin yang dipakai dan oleh teknik
pemeriksaan. Karena itu pemeriksaan ini selalu harus dilakukan duplo dan
disertai kontrol dengan plasma normal. (Rahajuningsih, 2009)
Nilai normal tergantung dari reagens, cara
pemeriksaan dan alat yang digunakan. Sebaiknya tiap laboratorium mempunyai
nilai normal yang ditetapkan sendiri dan berlaku untuk laboratorium tersebut.
Jika hasil PT memanjang maka penyebabnya mungkin kekurangan faktor-faktor
pembekuan di jalur ekstrinsik dan bersama atau adanya inhibitor. Untuk
membedakan hal ini, pemeriksaan diulang sekali lagi dengan menggunakan campuran
plasma penderita dan plasma kontrol dengan perbandingan 1 : 1. Bila ada
inhibitor, masa protrombin plasma tetap memanjang. (Rahajuningsih, 2009)
Selain dilaporkan dalam detik, hasil PT juga dapat
dilaporkan dalam rasio, aktivitas protrombin dan indeks. Rasio yaitu
perbandingan antara PT penderita dengan PT kontrol. Aktivitas protrombin dapat
ditentukan dengan menggunakan kurva standard dan dinyatakan dalam %. Indeks yaitu
perbandingan antara PT kontrol dengan PT penderita dan dinyatakan dalam %.
(Rahajuningsih, 2009)
Pemeriksaan PT juga sering dipakai untuk memantau
efek pemberian antikoagulan ora. Perbedaan kepekaan reagens tromboplastin yang
dipakai dan perbedaan cara pelaporan menimbulkan kesulitan bila pemantauan
dikerjakan di laboratorium yang berbeda-beda. Untuk mengatasi masalah tersebut
ICTH (International Committee on
Thrombosis and Haemostasis) dan ICSH (International
Committee for Standardization in Haematology) menganjurkan agar
tromboplastin jaringan yang akan digunakan harus dikalibrasi terlebih dahulu
terhadap tromboplastin rujukan untuk mendapatkan ISI (International Sensitivity Ratio). Juga dianjurkan agar hasil
pemeriksaan PT dilaporkan secara seragam dengan menggunakan INR (International Normalized Ratio), yaitu
rasio yang dipangkatkan dengan ISI dari reagens tromboplastin yang digunakan.
(Rahajuningsih, 2009)
Masa Tromboplastin Parsial
Teraktivasi (activated parsial thromboplastin time APTT)
Pemeriksaan ini digunakan untuk menguji pembekuan
darah melalui jalur intrinsik dan jalur bersama yaitu faktor pembekuan XII,
prekalikren, kininogen, XI, IX, VIII, V, protrombin dan fibrinogen. Prinsip
pemeriksaan ini adalah menguur lamanya terbentuk bekuan bila ke dalam plasma
ditambahkan reagens tromboplastin parsial dan aktivator serta ion kalsium pada
suhu 37°C. Reagens tromboplastin parsial adalah fosfolipid sebagai pengganti Platelet factor 3. (Rahajuningsih, 2009)
Nilai normal tergantung dari reagens, cara pemeriksaan
dan alat yang dipakai. Juga dianjurkan agar tiap laboratorium menentukan nilai
normalnya sendiri. Hasilnya memanjang bila terdapat kekurangan faktor
pemberkuan di jalur intrinsik dan bersama atau bila terdapat inhibitor. Sama
seperti PT, untuk membedakan hal ini dilakukan pemeriksaan ulang terhadap
campuran plasma penderita dan plasma kontrol dengan perbandingan 1 : 1. Bila
hasilnya tetap memanjang, berarti ada inhibitor. Pada hemofilia A maupun
hemofilia B, APTT akan memanjang, tetapi pemeriksaan ini tidak dapat membedakan
kedua kelainan tersebut. Pemeriksaan ini juga dipakai untuk memantau pemberian
heparin. Dosis heparin diatur sampai APTT mencapai 1,5 – 2,5 kali nilai
kontrol. (Rahajuningsih, 2009)
Masa Trombin (thrombin time TT)
Pemeriksaan ini digunakan untuk menguji perubahan
fibrinogen menjadi fibrin. Prinsip pemeriksaan ini adalah mengukur lamanya
terbentuk bekuan pada suhu 37°C bila ke dalam plasma ditambahkan reagens
trombin. (Rahajuningsih, 2009)
Nilai normal tergantung dari kadar trombin yang
dipakai. Hasil TT dipengaruhi oleh kadar dan fungsi fibrinogen serta ada
tidaknya inhibitor. Hasilnya memanjang bila kadar fibrinogen kurang dari 100
mg/dl atau fungsi fibrinogen abnormal atau bila terdapat inhibitor trombin
seperti heparin atau FDP (Fibrinogen
degradation product). (Rahajuningsih, 2009)
Bila TT memanjang, pemeriksaan diulangi sekali lagi
dengan menggunakan campuran plasma penderita dan plasma kontrol dengan
perbandingan 1 : 1 untuk mengetahui ada tidaknya inhibitor. (Rahajuningsih, 2009)
Untuk membedakan apakah TT yang memanjang karena
adanya heparin, fibrinogen abnormal atau FDP, dilakukan pemeriksaan masa
reptilase. Reptilase berasal dari bisa ular Ancistrodon
Rhodostoma. Apabila TT yang memanjang disebabkan oleh heparin maka asa reptilase
akan memberikan hasil normal, sedangkan fibrinogen abnormal atau FDP akan
menyebabkan masa reptilase memanjang. (Rahajuningsih, 2009)
Pemeriksaan Penyaring Untuk Faktor
XIII
Pemeriksaan ini dimasukkan dalam pemeriksaan
penyaring, karena baik PT, APTT, maupun TT tidak menguji faktor XIII, sehingga
adanya defisiensi F XIII tidak dapat dideteksi dengan PT, APTT, maupun TT.
Pemeriksaan ini digunakan untuk menilai kemampuan faktor XIII dalam
menstabilkan fibrin. (Rahajuningsih, 2009)
Prinsipnya F XIIIa mengubah fibrin soluble menjadi
fibrin stabil karena terbentuknya ikatan cross
link. Bila tidak ada F XIII, ikatan dalam molekul fibrin akan dihancurkan
oleh urea 5 M atau monokhlorasetat 1 %. Cara pemeriksaannya adalah dengan
memasukkan bekuan fibrin ke dalama larutan urea 5M atau asam monokhloroasetat
1%. Kemudian setelah 24 jam stabilitas bekuan dinilai. Bila faktor XIII cukup,
setelah 24 jam bekuan fibrin tetap stabil dalam larutan urea 5M. Jika terdapat
defisiensi faktor XIII bekuan akan larut kembali dalam waktu 2 -3 jam.
(Rahajuningsih, 2009)
Hal-hal
yang Perlu Diperhatikan Pada Pemeriksaan Hemostasis
1.
Antikoagulan
Untuk pemeriksaan koagulasi
antikoagulan yang dipakai adalah natrium sitrat 0,109 M dengan perbandingan 9
bagian darah dan 1 bagian natrium sitrat. Untuk trombosit antikoagulan yang
dipakai adalah Na2EDTA. Jika dipakai darah kapiler, maka tetes darah pertama
harus dibuang. (Rahajuningsih, 2009)
2.
Penampung
Untuk mencegah terjadinya aktivasi
faktor pembekuan, dianjurkan memakai penampung dari plastik atau gelas yang
telah dilapisi silikon. (Rahajuningsih, 2009)
3.
Semprit atau
Jarum
Dianjurkan memakai semprit plastik
dan jarum yang cukup besar, paling kecil nomor 20. (Rahajuningsih, 2009)
4.
Cara Pengambilan
Darah
Pada waktu pengambolan darah, harus
dihindarkan masuknya tromboplastin jaringan. Yang dianjurkan adalah pengambilan
darah dengan memakai 2 semprit. Setelah darah dihisap dengan semprit pertama,
tanpa mencabut jarum, semprit pertama dilepas lalu dipasang semprit kedua.
Darah semprit pertama tidak dipakai untuk pemeriksaan koagulasi, sebab
dikhawatirkan sudah tercemar oleh tromboplastin jaringan. (Rahajuningsih, 2009)
Tabel 3. Pemeriksaan Laboratorium
Sementara Untuk Membedakan Penyebab Perdarahan (FKUI, 2005)
Gangguan
|
Masa Perdarahan
|
Masa Pembekuan
|
Rumpel Leede
|
Retraksi Bekuan
|
Vaskulus
|
Normal
|
Normal
|
Positif
|
Normal
|
Trombosit
|
Memanjang
|
Normal
|
Positif
|
Abnormal
|
Pembekuan
|
Normal
|
Memanjang
|
Negativ
|
Normal
|
II.4. Gangguan
Perdarahan (Diatesis Hemoragik)
Ganguan ini secara klinis ditandai dengan perdarahan
abnormal, yang mungkin spontan atau terjadi setelah suatu kejadian pemicu
(missal, trauma atau pembedahan). Perdarahan abnormal dapat disebabkan oleh (1)
kelainan di dinding pembuluh darah, (2) defisiensi atau disfungsi trombosit,
atau (3) gangguan faktor pembekuan. Seperti akan tampak pathogenesis bagian
penyakit yang menyebabkan peningkatan
perdarahan ini melibatkan pengaktifan sistemik dan konsumsi trombosit dan/atau
faktor pembekuan. Pada koagulopati konsumtif ini, perdarahan abnormal mungkin
disertai kelainan pembekuan darah. Berbagai tes yang digunakan dalam evaluasi
awal pasien dengan gangguan perdarahan adalah sebagai berikut : (Aster jon,
2007)
1.
Waktu perdarahan
(bleeding time). Ini mencerminkan waktu yang diperlukan pada pungsi kulit (yang
telah di standarisasi) untuk menghenikan perdarahan. Prosedur ini, diukur dalam
menit, merupakan perkiraan in vivo respon trombosit terhadap cedera vascular
terbatas. Rentang acuan bergantung pada metode yang digunakan dan bervariasi
dari 2 sampai 9 menit. Uji ini abnormal bila terdapat defek pada jumlah atau
fungsi trombosit.
2.
Hitung
trombosit. Ini diperoleh dengan memeriksa darah yang telah diberi antikoagulan
menggunakan penghitung partikel electron. Rentang acuan adalah 150 sampai 450x
/mm3. Jumlah
diluar kisaran ini harus diknfirmasi dengan persepsi visual apusan darah tepi.
3.
Waktu protrombin
(protrombin time, PT). prosedur ini, yang diukur dalam detik, menguji
keadekuatan ekstrinsik dan umum. Uji ini mencerminkan waktu yang dibutuhkan
oleh plasma untuk membeku apabila diberi tromboplastin jaringan (misal, ekstrak
otak) dan ion Ca++ dari luar. PT yang memanjang terjadi pada
defisiensi faktor V, VII, atau X; protrombin; atau fibrinogen.
4.
Waktu tromboplastin
parsial (partial tromboplastin time, PTT). Uji ini dirancang untuk menilai
integritas jalur pembekuan intrinsic dan umum. Pada uji ini, waktu (dalam
detik) yang dibutuhkan plasma untuk membeku dengan keberadan kaolin, sefalin,
dan kalsium diukur. Kaolin berfungsi mengaktifkan faktor XII dependen-kontak,
dan sefalin menggantikan fosfolipid trombosit. Memanjangnya PTT dapat terjadi
akibat defisiensi faktor V, VIII, IX, X, XI, atau XI, atau protrombin atau
fibrinogen atau inhibitor didapat (biasanya suatu antibody) yang mengganggu
jalur intrinsic. (Aster jon, 2007)
Kelainan
pembuluh darah dapat menyebabka perdarahan melalui beberapa cara. Meningkatnya
fragilitas pembuluh disebabkan oleh
defisiensi vitamin C, amiloidosis
sistemik, pemakaian glukortikoid jangka-panjang, penyakit herediter yang
jarang mengenai jaringan ikat, dan sejumlah besar vaskulitis hipersensitivitas
dan infeksiosa. Yang infektif, penyakit riketsia, tifoid, dan purpura
Henochshonlein. Diatesis hemoragik yang murni disebabkan oleh fragilitas vaskulaer
ditandai dengan (1) ptekie dan ekimosis yang tampaknya muncul spontan di kulit
dan selaput lendir (mungkin akibat trauma ringan), (2) hitung trombosit dan uji
koagulasi (PT, PTT) yang normal, dan (3) waktu perdarahan yang biasanya normal.
Selain itu, seperti akan terlihatm koagulopati konsumtif kadang-kadang berakar
pada penyakit sistemik yang menyebabkan permukaan sel endotel memudahkan
terjadinya trombosis. (Aster jon, 2007)
Defisiensi
trombosis (trombositopenia) merupakan penyebab penting perdarahan. Defisiensi
trombosit dapat terjadi pada berbagai kondisi klinis. Terdapat gangguan dengan
fungsi trombosit terganggu walaupun jumlahnya normal. Cacat kualitatif tersebut
mungkin didapat, seperti pada uremia, setelah ingestif aspirin, atau diwarisi,
seperti pada penyakit von Willebrand dan penyakit kongenital jarang lainnya.
Trombositopenia dan disfungsi trombosit serupa dengan peningkatan fragilitas
vaskular, yaitu terdapat ptekie dan ekimosis, serta mudah memar, mimisan,
perdarahan berlebihan akibat trauma ringan, dan menoragia. Demikian juga PT,
dan PTT normal, tetapi berbeda dengan gangguan vaskular, waktu perdarahan
selalu memanjang. (Aster jon, 2007)
Diatesis
perdarahan yang semata-mata disebabkan oleh gangguan pembekuan darah berbeda
dalam beberapa aspek yang disebab oleh kelainan dinding di pembuluh atau
trombosit. PT, PTT, atau keduanya memanjang, sedangkan waktu perdarahan normal.
Ptekie dan tanda lain perdarahan akibat trauma ringan biasanya tidak ditemukan.
Namun, dapat terjadi perdarahan masif setelah prosedur operatif atau gigi atau
trauma berat. Selain itu, yang khas adalah perdarahan ke bagian tubuh yang
terkena trauma, seperti sendi ekstremitas bawah. Sekelompok gangguan koagulasi
kongenital masuk dalam kategori tersebut. (Aster jon, 2007)
Salah
satu diatesis perdarahan yang paling kompleks, koagulasi intravaskular
diseminata (DIC), terjadi akibat terpakainya trombosit dan faktor pembekuan
sehingga memberikan gambaran klinis dan laboratorium trombositopenia dan
gangguan pembekuan darah. Penyakit von willedrand juga melibatkan gangguan
kedua modalitas tersebut. (Aster jon,
2007)
A.
Kelainan Di
Dinding Pembuluh Darah
Perdarahan
abnormal yang tidak disebabkan oleh kelainan trombosit dan kelainan mekanisme
pembekuan darah digolongkan ke dalam perdarhan karena gangguan vaskulus. (FKUI,
2005)
Faktor
yang dapat menimbulkan kelemahan vaskulus umumnya dapat dibagi menjadi:
1.
Faktor
Kongenital
a. Telangiektasia
hemoragik herediter (Osler-Weber-Rendu)
Gambaran
yang tersering tampak ialah epistaksis. Dapat pula terjadi perdarahan usus yang
menahun dan kadang-kadang terjadi eksaserbasi mendadak. Perdarahan ini biasanya
diatasi dengan penekanan, es, atau obat topical dan bila perlu untuk anemia
yang menahun diberikan preparat besi atau transfuse darah pada keadaan
mendadak. (FKUI, 2005)
b. Hiperelastika
kutis (Ehler-Danlos)
Pada
keadaan ini luka yang kecil sukar senbuh dan dapat terbuka kembali. Perdarahan
yang cukup hebat dapat terjadi karena suatu kecelakaan atau tindakan operasi.
Keadaan ini umumnya diatasi dengan operasi yang berhati-hati dan dalam masa
penyembuhan luka yang telah ditutup dijaga dengan baik. Transfuse diberikan
beli perlu. (FKUI, 2005)
2.
Faktor Didapat
a. Skorbut
Merupakan
penyakit akibat kekurangan vitamin C. pengobatannya ialah dengan memberikan vitamin
C 200 mg/hari selama 1 minggu kemudian dikurangi perlahan-lahan sampai 1 bulan.
(FKUI, 2005)
b. Panvaskulitis
Misalnya
oleh karena sepsis seperti meningokoksemia, endokarditis bakterialis subakuta
atau dapat disebabkan penyakit autoimun. Pengobatan ditujukkan terhadap
penyakit primernya. (FKUI, 2005)
c. Purpura
anafilaktoid (purpura Henoch-Schönlein)
Kelainan
ini timbul atas dasar alergi (hipersensitifitas). Umumnya terjadi karena alergi
terhadap makanan (coklat, susu, telur, kacang-kacangan), obat (beladona,
atropin, fenasetin, salisilat, penisilin), gigitan serangga atau setelah suatu
penyakit infeksi (rubella, rubeola, dan lain-lain), kadang-kadang dapat terjadi
setelah pencacaran. Pengobatan dilakukan dengan pemberian kortikosteroid,
antibiotik (untuk infeksi) dan bila perlu hemostatika. Disamping itu
menghindarkan diri dari bahan penyebab allergen. (FKUI, 2005)
d. Lain-lain,
misalnya uremia
Pengobatan ditujukkan pada penyakit
primernya. (FKUI, 2005)
Perlu
ditekankan dalam hal ini bahwa diagnosis kelainan/gangguan pembuluh darah murni
baru dapat ditegakkan bila telah dibuktikan bahwa mekanisme pembekuan dan
jumlah serta fungsi trombosit dalam keadaan baik. (FKUI, 2005)
B.
Defisiensi atau
Disfungsi Trombosit
1. Trombositopenia
a)
Purpura
Trombositopenik Imun (Purpura Trombosit Idiopatik/ITP)
Etilogi dan Patogenesis
Purpura trombositopenik idiopatik merupakan gangguan
yang lazim terjadi pada masa anak-anak, dengan antibody terhadap glikoprotein
trombosit yang lazim, terkait pada membrane trombosit, sehingga menyebabkan sel
dibuang melalui reseptor Fc pada makrofag jaringan di limpa. Kadang-kadang hati
juga merupakan tempat pembuatan trombosit, terutama pada kasus berat dan
setelah splenektomi. ITP biasanya terjadi setelah penyakit virus yang umum pada
masa kanak-kanak, termasuk varicela, rubella, rubeola, dan infeksi saluran
nafas. Konsentrasi IgM atau IgG yang meningkat dapat dideteksi pada membrane
trombosit dengan menggunakan teknik imunofluoresen. Kadar imnuglobulin terkait
trombosit yang meningkat ringan sampai sedang tidak spesifik untuk suatu
etiologi autoimundan juga ditemukan pada setiap keadaan yang berkaitan dengan
meningkatnya destruksi trombosit. Terdapatnya peningkatan konsentrasi IgM atau
IgG pengikat trombosit di dalam serum lebih spesifik untuk ITP. ITP pada masa
kanak-minggu dan 90 % kasus pulih dalam 6 bulan. Meskipun demikian,
trombositopenia bisa menetap selama berbulan-bulan dan bertahun-tahun, sehingga
membatasi aktivasi dan memperlama risiko perdarahan. Sampai saat ini, golongan
Ig (M atau G) atau glikoprotein trombosit target (GPIIb, GPIIa, atau GPIb)
Memprediksikan gangguan ini. Kelainan imunologik ringan terutama
hipoglobulinemia dan disgamaglobulinemia ditemukan pada anggota keluarga pada
10% dari anak dengan ITP, sedangkan pada mayoritas anak tidak ditemukan bukti
adanya disfungsi imun. (Rudolph, 2007)
Manisfestasi
klinis
ITP mengenai anak laki-laki dan perempuan dengan
rata. Meskipun gangguan ini dapat timbul pada 2 bulan setelah lahir dan sampai
dewasa, rata-rata usia timbulnya awitan adalah 6 tahun. Tampilan gangguan ini
biasanya akut, dengan perdarahan ke dalam kulit baik spontan atau setelah
trauma ringan. Lesi berkisar dari peteki pin-point
sampai ekimosis yang besar. Distribusi lesi dapat acak, tetapi sering
meningkat pada titik-titik tekanan, seperti sekitar leher dan tenggorokan
ketika batuk, pada wajah ketika menangis, atau di bawah ikat pinggang elastik.
Perdarahan hidung dan perdarahan dari selaput lendir tidak jarang terjadi dan
sering mengakibatkan kehilangan darah yang berat. Perdarahan sistem saraf pusat
terjadi pada 0,5% kasus dan menyebabkan sebagian besar kematian pada penyakit
ini. Perdarahan intrakranial dapat terjadi kapan pun selama perjalanan penyakit
dan dikaitkan dengan hitung trombosit kurang dari 10.000/mm3. Pada
anamnesis riwayat penyakit sering mendukung adanya insfeksi virus selama 4
minggu sebelum tampilan klinis dan dapat menampakan meningkatnya memar dan
perdarahan. Anamnesis yang teliti harus dilakukan untuk mendapatkan bukti
adanya gangguan autoimun lain pada anak atau pada pada anggota keluarga yang
lain, termasuk anemia hemolitik autoimun atau neutropenia, antikoagulan lupus
dengan atau tanpa trombosis, lupus eritematosus sistemik, atau artritis
reumatoid. (Rudolph, 2007)
Pemeriksaan fisik
normal selain tanda perdarahan. Secara spesifik, anak dengan ITP tidak
menunjukan bukti adanya splenomegali, hepatomegali, limfadenopati, massa, ruam
(selain ekimosis), atau pembengkakan sendi. (Rudolph, 2007)
Temuan
Laboratorium
Trombositopenia, dengan hitung trombosit biasanya di
bawah 50.000/mm3, merupakan temuan yang paling bermakna biasanya
berkaitan dengan hitung trombosit kurang dari 20.000/mm3. Hitung
darah lengkap normal kecuali anemia dan leukositosis timbul setelah perdarahan
yang bermakna. Apusan darah tepi memastikan adanya penurunan jumlah trombosit,
morfologi, jumlah eritrosit serta sel darah putih normal, dan dapat menunjukan
populasi trombosit besar. Uji penapisan koagulasi termasuk APTT, PT, TT,
fibrinogen, dan FSP normal dan menyingkirkan keadaan komsumtif yang difus.
Pemeriksaan sumsum tulang biasanya menunjukan jumlah dan morfologi megakriosit
yang normal saat itu, dengan kompensasi yang timbul kemudian berupa
meningkatnya jumlah megakariosit dan megakariosit yang lebih imatur, ditemukan
populasi progenitor sel darah putih dan eritrosit normal. Imun globulin yang
terkait trombosit biasanya meningkat. Hanya anamnesis, pemeriksaan fisik,
hitung darah lengkap, dan uji penapisan koagulasi yang penting untuk
mendiagnosis penyebab lazim ITP. (Rudolph, 2007)
Perjalanan
penyakit dan prognosis
ITP
merupakan gangguan akut yang swasirna pada 90% anak dengan gangguan ini.
Kekambuhan dapat terjadi selama beberapa bulan pertama sampai beberapa tahun
pertama setelah diagnosis, dan sering dikaitkan dengan infeksi akut. Pada 10 %
anak, ITP merupakan gangguan kronis yang menetap hingga di atas 6 bulan. Bahkan
pada ITP kronis, remisi spontan dapat terjadi setelah berminggu-minggu atau
bertahun-tahun, sehingga membenarkan penatalaksanaan konservatif yang beralasan.
(Rudolph, 2007)
Terapi
ITP
Karena
angka pemulihan spontan yang tinggi, observatif tanpa terapi yang spesifik
diindikasikan pada mayoritas anak. Orang tua harus diperingatkan untuk
menghindari obat penghambat trombosit, terutama aspirin. Ketika hitung trombosit
kurang dari 50.000/mm3, orang tua harus cermat mendorong penggunaan seatbelt dan helm sepeda, dan
penghindaran sport kontak serta ketinggian. Aktivitas yang meningkatkan risiko
cedera kepala, seperti ice skate,
rollerblade, ski, menyelam, harus dilarang. Karena sangat rendahnya angka
perdarahan fatal yang menjadi komplikasi ITP, pembuktian menurunnya kematian
dengan terapi menjadi sangat sulit. Terdapat dua pendekatan utama, tidak ada
satu pun terbukti menurunkan lama penyakit, tetapi keduanya dapat memperpendek
lamanya trombositopenia berat. Kedua pendekatan ini biasanya dicadangkan untuk
anak dengan trombositopenia persisten yang kurang dari 20.000/mm3,
terutama pada anak dengan perdarahan hidung dan selaput lendir yang bermakna.
(Rudolph, 2007)
Gama
globulin intravena (IVIG) diberikan dengan dosis 1 g/kg selama dua hari
berturut-turut atau 400 mg/kg/hari selama 5 hari. Peningkatan hitung trombosit
lebih besar dari 30.000 biasanya didapatkan dalam 48 jam. Infus dapat diulang
per bulan. Pembatas utama adalah biaya, kebutuhan jalur vena untuk pemberian
terapi, dan risiko minimal kontaminasi virus pada produk. Mekanisme kerja yang
utama dianggap blokade retikuloendotel pada reseptor Fc di limpa, dengan
peranan minor diberikan antibodi anti-idiotipik pada IVIG dan modulasi langsung
respons imun yang menghasilkan antibodi antitrombosit. (Rudolph, 2007)
Alternatif lain,
prednison dengan dosis 2 mg/kg/hari sela 2 sampai 4 minggu diikuti dengan dosis
yang diturunkan bertahap akan menghasilkan peningkatan hitung trombosit dalam
seminggu sampai 10 hari. Prednison lebih murah dari pada IVIG dan umumnya dapat
ditoleransi dengan baik untuk pemberian singkat. Meskipun demikian, prednison
dapat menyembunyikan leukemia yang samar dan penurunan bertahap prognosis
terapi leukemia. Dengan demikian, terapi prednison tidak boleh diberikan untuk
ITP tanpa pemeriksaan sumsum tulang sebelumnya. (Rudolph, 2007)
Episode perdarahan akut
pada anak dengan ITP ditangani dengan transfusi transfusi packed red cell¸jika diindikasikan secara klinis.
Perdarahan yang mengancam nyawa, termasuk perdarahan intrakranial, dapat
ditangani dengan IVIG dan splenektomi darurat. Transfusi trombosit jarang
diindikasikan, karena diperkirakan memiliki ketahannan hidup yang memendek
secara radikal. (Rudolph, 2007)
Splenektomi efektif pada
hampir 70% anak dengan ITP kronis. Hitung trombosit biasanya meningkat segara
setelah pembedahan, tetapi kemudian dapat menurunkan hitung trombosit baik
ringan sampai berat. Splenektomi bekerja dengan mengeksisi tempat pembuangan
trombosit yang diselubungi-Ig. Setelah splenektom, trombosit akan tetap
mengandung Ig permukaan yang meningkat tetapi akan menunjukan ketahanan hidup
plasma yang lebih lama dan hemostasis klinis yang membaik. Splenektomi biasanya
dipertimbangkan pada anak yang menderita pembatasan besar dalam aktivitas
akibat trombositopenia berat. Sebelum splenektomi, anak dengan ITP kronis harus
dievaluasi untuk bukti penyakit autoimun lain dengan panel laboratorium
mencakup hitung darah lengkap, evaluasi untuk antikoagulan lupus. Uji Coomb,
antibodi antikardiolipin, profil ANA, dan antibodi tiroid. Laki-laki harus
dievaluasi untuk bukti adanya sindrom Wiskott-Aldrich, trombositopenia
kongenital harus disingkirkan dengan hati-hati, terutama pada anak yang datang
dengan trombositopenia selama 2 tahun pertama setelah kelahiran. (Rudolph,
2007)
Terdapat resiko yang
bermakna bahwa splenektomi akan tidak efektif pada anak yang tidak menunjukan
peningkatan trombosit dengan IVIG atau
prednison. Kadang-kadang hati akan memainkan peranan yang dominan di dalam
pembuangan trombosit pasca splenektomi,sehingga menyebabkan kegagalan
terapeutik. Setelah splenektomi, sejumlah anak dengan ITP refraktif akan
berespon terhadap IVIG, atau obat yang mencakup vinkristin, dan vinblastin.
(Rudolph, 2007)
b) Purpura
Obat Imunologik
Berbagai
obat dapat menyentisisasi individu tertentu sehingga pemajanan selanjutnya
terhadap obat dapat menyebabkan trombositopenia akut. Antibodi yang dibentuk
dapat bereaksi dengan spesifik, dan absorbsi selanjutnya kompleks antigen
antibodi ini pada permukaan trombosit dapat menyebabkan kehancurannya, lisisn
trombosit dapat ditunjukan in vitro dan memerlukan obat spesifik, serum dari
penderita sensitif obat , trombosit dari semua donor, dan komplemen. Obat yang
dapat merangsang terjadinya respons ini pada individu yang rentan adalah
kuinidin, kuinin, digitoksin, derivat klorotiazid, klorpropamid, meprobamit,
fenilbutazon, sulfonamid, dan antihistamin. Trombositopenia yang diinduksi
heparin dapat muncul dengan trombositopenia berat dan trombosis paradoksikal,
khususnya arteri. Trombositopenia akibat dari proses ini biasanya sembuh secara
spontan bila obat yang mengganggu dilenyapkan. Penderita dewasa akhirnya
menyusun semua kasus yang telah dilaporkan. (Rudolph, 2007)
C. Infeksi Akut dan Gangguan lain
Trombositopenia ringan
sampai berat dapat muncul dengan sepsis bakteri akibat penyebab apa pun.
Trombositopenia telah dihubungkan dengan tuberkulosis, demam tifoid, campak,
rubela, varisela, demam skarlet, endokarditis, mononukleosus infeksiosa, dan
penyakit infeksi lain. Trombositopenia juga merupakan manifestasi lazim lupus
eritematosus. Kadang-kadang, penurunan trombosit ditemukan pada hipotiroidisme.
Bila trombositopenia menyertai anemia hemolitik autoimun didapat, disebut
sebagai sindrom evan. (Rudolph, 2007)
D. Sindrom Uremik-Hemolitik dan Purpura
Trombositopenik Trombik
Gangguan yang sangat
terkait dan tumpang tindih ini merupakan dua ekspresi utama penyakit
mikroangiopati. Gangguan ini ditandai dengan anemia hemolitik dan
trombositopenia, agaknya karena pengaruh koagulasi ekstra vaskuler yang
berlokasi pada kapiler dan arteriola yang berdekatan. Sindrom uremik hemolitik
(HUS,hemolytic uremic syndrome)
terutama mengenai bayi dan anak kecil. Purpura trombositopenik trombotik (TTP, trombotic trombositopenic purpura)
terutama merupakan ganggua pada orang dewasa. HUS biasanya merupakan penyakit
akut dan swasirna, sedangkan TTP bersifat kronis dan sering kambuh. Pada
sebagian pasien TTP, diantara episodenya terdeteksi multimer vWF yang besar
secara abnormal dan ditemukan pola vWF tipe II didapat selama eksaserbasi. Pola
multimer vWF tipe II yang serupa telah terdeteksi pada sejumlah anak dengan
HUS. Pada kedua gangguan tersebut, ketahanan hidup trombosit sangat berkurang,
sedangkan kecepatan degradasi fibrinogen biasanya normal. Morfologi eritrosit
memiliki cirri mikrosefarosit dan bentuk-bentuk aneh yang terfragmentasi
(disebut sel helm) yang menjadi dasar penegakkan diagnosis. (Rudolph, 2007)
Istilah
sindrom uremik hemolitik biasanya dipakai pada keadaan bayi dan anak kecil yang
secara khas mengikuti episode diare berdarah dan dengan manifestasi ginjal,
hematuria, oliguria, atau gagal ginjal akut, dan uremia yang menonjol. Trombositopeni dan anemia hemolitik
sering timbul setelah beberapa hari diare dan setelah awitan gagal fungsi
ginjal. Manifestasi neurologi mencakup iritabilitas dan menurunnya kesiagaan
lazim terjadi tetapi biasanya bukan akibat thrombosis. Sebagian besar penderita
sembuh sempurna dengan penatalaksanaan gagal ginjal akut yang sangat cermat.
Hasil biposi ginjal deposisi fibrin saat fase akut penyakit menimbulkan ujin
coba heparin, fibrinolitik, dan inhibitor trombosit; dari semua terapi ini
tidak ada yang tampaknya mengubah hasil HUS. Penggunaan inhibitor thrombosis
dikaitkan dengan lebih tingginya hitung trombosit dan mungkin lebih sedikitnya
transfusi trombosit. Anak dengan HUS sangant mudah mengalami hiperkoagulasi
saat fase akut penyakit. Terjadi thrombosis yang terkait kateter vaskular;
infark jemari, sistem saraf pusat, atau hati
yang kadang terjadi, juga telah dilaporkan. Sekuele jangka panjang
mencakup 5-10% insiden perburukan sampai stadium akhir gagal ginjal. Yang
jarang adalah timbulnya episode berulang. Ketika seorang anak menunjukkan
episode multiple HUS dengan awitan masa bayi, defak metaboliisme vaskuler yang
mendasari, seperti metabolisme prostasiklin, harus dicurigai. (Rudolph, 2007)
TTP biasanya
muncul pada orang dewasa dan otak serta hati sebagai target utama penyakit
mikroangiopati lokalisata. TTP cenderung menjadi kronis dan kambuh dengan angka
morbiditas serta mortalitas yang lebih tinggi. Kejang dan koma lazim terjadi.
Plasmeferesis dan infuse plasma telah dikaitkan dengan perbaikan gejala dan
penurunan mortalitas. Terapi lain yang mungkin membantu termasuk
kortikosteroid, splenektomi, aspirin dosis rendah, dan dipiridamol. (Rudolph,
2007)
E. Hemangioma Raksasa dan Tumor Vaskular
Jinak Lain
Sekuestrasi
trombosit, menyebabkan trombositopeni berat dan perdarahan, dapat terjadi
akibat hemangioma raksasa pada bayi. Kelainan ini biasanya dikenal sebagai
sindrom Kasabach-Merritt. Peningkatan konsumsi faktor koagualasi terjadi pada
beberapa penderita. Ukuran hemangioma sering meningkat dengan cepat setelah
lahir dan mulai regresi secara spontan sekitar usia 1 tahun. Bayi dapat
memperlihatkan gagal jantung kongestif. Defisiensi berat zat besi dapat timbul
akibat kehilangan darah GI. Penyembuhan terjadi setelah eksisi secara bedah
atau regresi spontan. Beberapa lesi akan regresi setelah terapi dengan
kortikosteroid atau inhibitor fibrinolitik. Lesi dengan hemangioma kapiler yang
menonjol dapat berespons dengan infus interveron alfa-2a. (Rudolph, 2007)
F. Penyakit Jantung Kongenital Sianonik
Trombositopeni
dapat terjadi dengan anak dengan polisitemia berat yang disertai dengan
penyakit jantung sianotik. Derajat defisiensi trombosit sebanding dengan
keparahan hipoksia. Penilitian ketahanan hidup trombosit menunjukkan detruksi
perifer. (Rudolph, 2007)
G. Purpura Trombositopenik Neonatus
Dua penyebab
trombositopenia imun pada neonatus adalah trombositopenia aloimun neonatus
(NAIT, neonatal allimmune
trombocitopenia) dan trombositopenia autoimun maternal. (Rudolph, 2007)
NAIT terjadi pada 1 dalam 2000 sampai 1 dalam 5000
kelahiran dan disebabkan oleh imunisasi aktif pada sistem imun ibu oleh antigen
trombosit janin yang bersala dari ayah. Antibodi maternal terhadap PL-Al
homozigot dan memiliki risiko sensitisasi. Penyebab NAIT lain yang lebih jarang
mencakup antigen trombosit Pen (yuk) dan Bak (lek). NAIT mengenai bayi pertama
dalam 50% kasus. Insiden perdarahan intrakranial janin atau neonatus kira-kira
sekitar 20%. Pada saat ini, uji prenatal rutin untuk menentukan ibu yang
berisiko, belum dilakukakan, karena keterbatasan biaya. Diagnosisnya sulit
dilakukan sebelum lahir, tetapi harus dipertimbangkan pada setiap janin dengan
perdarahan intrakranial atau pada setipa saudara kandung bayi sebelumnya yang
menderita NAIT. Tampilan klinis yang biasanya adalah petekie difus dan purpura
saat lahir atau sesaat setelah lahir. IgG ibu yang dapat mengikat trombosit
serum meningkat tetapi IgG yang terkait trombosit langsung, normal. Penentuan
tipe trombosit orangtua memastikan inkopatibilitas. Pada saudara kandung
berikutnya dapat dilakukan penapisan untuk trombositopenia dengan menggunakan
sample darah dari umbilikus. Trombositopenia janin berespon terhadapa terapi
maternal dengan IVIG atau korikosteroid. Hitung trombosit janin berespon infus
trombosit maternal yang telah dicuci, IVIG, atau kortikosteroid. Janin-janin
yang diketahui menderita NAIT harus dilahirkan dengan bedah sesar. (Rudolph,
2007)
ITP maternal
dapat mengakibatkan transfer pasif autoantibodi yang menimbulkan
trombositopenia janin atau neonatus. Hitung trombosit ering menurun 1 sampai 2
hari setelah lahir. Walaupun bayi dari ibu dengan ITP cenderung mengalami
trombositopenia yang lebih ringan daripada bayi dengan NAIT, hitung trombosit
janin tidak dapat diperiksa dengan hitung trombosit maternal. Walaupun secara
teknik menantang, pengambilan sample kulit kepala janin yang berasal dapat
membantu memandu jalur optimal persalinan. Terapi maternal dengan
kostikosteroid selama 10 -14 hari sebelum persalinan dapat menghasilkan hitung
trombosit maternal yang lebih tinggi. Bayi dapat diterapi dengan IVIG,
kortikosteroid atau transfudi tukar yang diikuti dengan trombosit dengan donor
acak. (Rudolph, 2007)
Trombositopenia
pada periode neonatus dapat juga akibat penyakit sistemik, termasuk
eritroblastosis fetalis berat, sepsis, penyakit inklusi sitomegalik,
toksoplasmosis, rubela, dan leukemia. (Rudolph,
2007)
Tipe
trombositopenia kongenital yang jarang disertai dengan tidak adanya radius
bilateral (sindrom TAR). Megakariosit menurun pada sumsum tulang dan gambaran
darah leukemoid sementara dapat menunjukkan leukemia kongenital. Walaupun ada
trombositopenia menetap bayi-bayi ini cenderung menjadi baik jika mereka
mengatasi perdarahan mematikan selama masa neonatus. (Rudolph, 2007)
H.
Purpura trmobositopenia sekunder (PTS)
Trombositopenia yang terjadi akibat pengaruh imun,
yang menybebabkan umur trombosit memendek dan kelainnan ini mempunyai hubungan
dengan jumlah megakarosit normal atau meningkat maupun megakarosit kurang
sampai tidak ada dalam sumsum tulang. (IDAI, 2005)
Purpura tanpa kelainan koagulasi dapat dibagi ke
dalam tiga kategori:
1. Purpura
trombositopenia dengan jumlah trombosit < 150 x
/L
2. Purpura
dengan jumlah trombosit normal, termasuk kelainan kualitas trombosit dan
kelainan pembuluh darah
3. Purpura
dengan trombositosis (jumlah trombosit < 150 x
/L
Penyebab purpura trmobositopenia sekunder akibat
pengaruh imun :
1. Dipicu
proses infeksi, misalnya :
a.
Infeksi virus (HIV,
CMV, EBV, Varicella, Rubella, Rubeola, Mumps, Parvovirus
)
b.
Infeksi bakteri
(Tuberkulosis, Tifoid)
2. Dipicu
obat-obatan
3. Purpura
pasca transfuse
4. Anemia
hemolitik autoimun (sindrom Evan)
5. Lupus
eritematosus sistemik
6. Hipertiroidism
7. Kelainan
limfoproliperatif
8. Alergi,
anafilaksis
Purpura trmobositopenia berhubungan
dengan infeksi
Trombositopenia akibat infeksi pada beberapa keadaan
mempunyai hubungan dengan produksi berkurang dan meningkatnya penghancuran
trmobosit. Trombositopenia yang terjadi akibat peningkatan penghancuran
trombosit pada penyakit infeksi, secara keseluruhan tergantung penyebabnya dan
diketahui akibat pengaruh imun dengan mekanisme hyang belum jelas tetapi
kemungkinan mekanisme imun sangat berperan karena adanya peningkatan jumlah
platelet-sdherent IgG pada infeksi bakteri dan virus. (IDAI, 2005)
a) Trombositopenia
– HIV
Trombositopenia relative sering ditemukan akibat
komplikasi nfeksi HIV-1. Merupakan kelainan imun yang secara klinis tidak dapat
dibedakan dari PTI akut atau kronis, terjadi pada individu yang terinfeksi
dengan virus HIV. (IDAI, 2005)
Pada awal fase infeksi HIV, trombositopenia hanya
merupakan manifestasi infeksi HIV dan imunologik (HIV-PTI). Pasien yang
terinfeksi HIV stadium lanjut (AIDS) umumnya terdapat kelainan hematologis
lainnya seperti anemia, leucopenia, trombositopenia disebabkan penekanan sumsum
tulang sehingga trombosit berkurang. (IDAI, 2005)
Pengobatan trombositopenia pada infeksi HIV terdiri
dari bermacam-macam terapi. Pengobatan antiviral dipilih jika jumlah
> 0,4-0,5 x
/L. Dikatakan AZT dapat
meningkatkan jumlah trombisit. Pasien yang tidak respon dengan terapi
antiviral, akan bermanfaat dengan pemberian komponen immunoglobulin iv (IVIG)
yang dapay menyabkan kenaikan trombosit secara cepat tapi bersifat sementara,
dan kelihatan kurang efektif bagi PTI klasik pada anak. (IDAI,
2005)
b) Rubella
Trombositopenia
akut yang terjadi dapat sembuh sendiri, dengan gejala klinis yang jelas atau
tersamar. Pernah dilaporkan menyebabkan keadaan yang fatal. Insidenya tidak
diketahui tetapi jarang ditemukan. (IDAI, 2005)
c) Varicela
Infeksi
varisela lebiih sering dihubungkan dengan PTI akut seperti trombositopenia
akibat imun. Masalah umumnya muncul pada masa viremia atau masa penyembuhan.
Pengobatan steroid selama masa viremis secara teori berbahaya dan tidak
berguna. Pada banyak kasus akan sembuh dalam waktu 2 minggu. Pemberian steroid
harus hati-hati untuk kondisi PTI akut. (IDAI, 2005)
d) Infeksi
TORCH congenital
Infeksi
TORCH (toksoplasmosis, rubella, sitomegalovirus, herpes simpleks) merupakan
kelompok infeksi congenital (termasuk sifilis congenital) yang mempunyai
gambaran klinis yang umum dan salah satunya trombositopenia. Neonatus yang
menderita infeksi TORCH akan tampak sakit berat, kuning, pucat, purpura, hepatosplenimegali.
Pada pemeriksaan laboratorium ditemukan tanda-tanda hemolitik, jumlah trombosit
rendah, bersama dengan disfungsi hati dan kelainan koagulasi. Mekanisme
trombositopenia terjadi secara kompleks dan kemungkinan mekanisme imun sebagai
penyebab umur trombosit pendek. (IDAI, 2005)
e) Malaria
Trombositopenia
sering merupakan akibat infeksi malaria (di luar DIC pada penyakit fulminant
akibat plasmodium falciparum), hal ini terjadi akibat trombosit berikatan
dengan antigen malaria yang mengikat antibody anti malaria. (IDAI, 2005)
Purpura
trombositopenia yang dipicu obat-obatan
Obat-obatan
dapat menyebabkan trombositopenia melalui dua mekanisme berbeda, yaitu:
1. Penekanan
sumsum tulang
Obat-oabatn yang digolongkan
mengakibatkan depresi sumsum tulang seperti obaat sitostatika (6-merkaptopurin,
metotreksat, siklofosfamid) dan mempunyai efek idiosinkrasi seperti
kloramfenikol. (IDAI, 2005)
2. Penigkatan
penghancuran trombosit
Hal ini terjadi melalui mekanisme
imun (drug hapten disease). Obat dengan berat molekul 500-1000 tidak dapat
memulai proses imunitas kecuali berikatan dengan protein yang disebut hapten.
Protein tersebut merupakan komponen trombosit dan antibody yang spesifik
terhadpa komponen trobosit untuk membentuk hapten. Terdapat beberapa obat yang
dapat menyebabkan trombositopenia melalui mekanisme proses imun. (IDAI, 2005)
Melalui
imun penghancuran trombosit secara dini oleh obat-obatan dapat melalui3 (tiga)
jalan, yaitu:
1.
Membentuk
kompleks imun-antibodi-obat yang larut dan melekat secara longgar pada
permukaan trombosit, melekat kuat pada komplemen dan merusak (detruksi) sel.
2.
Melekat pada
permukaan sel dan bekerja sebagai hapten.
3.
Dengan
merangsang proses produksi antibody yang akan bereaksi silang dengan antibody
permukaan sel yang menimbulkan trombositopenia autoimun,
Obat-obatan yangs sering digunakan
pada anak dan menyebabkan trombositopenia akibat imun lain, adalah sodium
valproat, fenitoin, karbamazepin, kotrimoksazol, rifampisin, asetazolamid,
simetidin, aspirin, dan heparin trombositopenia akibat penggunaan obat-obatan,
dapat bersifat sementara di mana jumlah rombosit kembali normal jika obat
tersebut dihentikan penggunaannya. Pemeriksaan sumsum tulang dapat membedakan
anatara trombositopenia yang disebabkan penenkanan-toksisk jika megakarosit
sedikit atau tidak ada dan trombositopenia akibat penghancuran di perifer
dengan jumlah megakarosit normal atau meningkat. (IDAI, 2005)
Purpura trombositopeia
pasca transfusi
Merupakan sindrom yang sangat
jarang dengan jumlah trombosit kurang dari 10.000/mL dengan manifestasi
perdarahan dan terjadi kira-kira 1 minggu setelah pemberian transfuse yang
rutin dengan reaksi silang yang cocok. Pathogenesis kompleks kerusakan trmobost
autologus diduga akibat dari:
1.
Kompleks
destruksi trmobosit imun
2.
Konversi antigen
trombosit negatf dengan transfer PIA-1 antigen yang larut
3.
Produksi
alloantibody
4.
Produksi
autoantibody trombosit yang temporer.
Kondisi ini mirip
dengan trombositopenia neonatal alloimun dan dapat diobati dengan gamma
globulin intravena (GGIV) dan tranfusi tukar. (IDAI, 2005)
b) Trombositopenia
neonatal
Trombositopenia neonatal terjadi bila jumlah
trombosit < 100.000 / ml, umumnya ditemukan pada distress neonatal pada bayi
prematur yang sakit atau menderita penyakit seperti bakteriemia dan koagulasi
intravaskular diseminata (DIC). Keadaan ini ditemukan pada 20 – 40 % neonatus
yang dirawat di unit rawat intensif. (IDAI, 2005)
Insidens trombositopenia neonatal yang dilaporkan
umumnya di bawah perkiraan yang sebenarnya karena sering terlambat diketahui maupun
gambaran klinisnya tidak jelas. Insidens diperkirakan 0,12% bila jumlah
trombosit dari tali pusat < 50.000 / ml, sedangkan insidens trombositopenia
neonatal berat adalah 0.04% bila jumlah trombosit < 20.000 / ml. Perdarahan
intrakranial maupun kematian dapat ditemukan pada trombositopenia neonatal yang
berat. (IDAI, 2005)
Faktor penyebab yang mempengaruhi timbulnya
trombositopenia sangat banyak. Sebagian besar akibat penyakit primer pada
sistem hematopoitik maupun akibat transfer faktor abnormal dari si ibu. (IDAI,
2005)
Patogenesis
Trombositopenia dapat disebabkan akibat: (a)
penurunan produksi trombosit, (b) peningkatan penghancuran trombosit, trombosit
terperangkap dalam limpa, atau (c) kombinasi antara penghancuran dan produksi
atau gabungan dengan patogenesis yang tidak diketahui. (IDAI, 2005)
Trombositopenia neonatal merupakan penyakit yang
didapat atau diturunkan dan kemungkinan primer akibat peningkatan penghancuran
trombosit dan gangguan produksi. Hal ini penting diketahui karena dengan timbulnya
risiko perdarahan dan penatalaksanaan. (IDAI, 2005)
a. Penurunan
produksi trombosit
Trombositopenia
neonatal yang disebabkan penurunan produksi diperkirakan terdapat pada < 5 %
dari seluruh kasusu trombositopenia neonatal. Yang termasuk dalam golongan ini
adalah kelainan pada sumsum tulang seperti leukemia kongenital, reaksi
leukemoid kongenital pada bayi dengan sindrom down, neuroblastoma, histiosit,
infeksi virus terutama sitomegalovirus dan osteoporosis. Apabila sumsum tulang
termasuk sindrom TAR (trombositopenia dengan tidak adanya radius) dan
amegakariositik trombositopenia. (IDAI, 2005)
b. Peningkatan
penghancuran trombosit
Trombositopenia
yang timbul akibat peningkatan penghancuran trombosit dapat dibagi 2 golongan
yaitu dipengaruhi faktor imun dan faktor non-imun. Trombositopenia yang
dipengaruihi faktor imun mempunyai hubungan Platelet
associated IgG (PAIgG) ataupun komplemen. (IDAI, 2005)
Lebih kurang 50%
neonatus dengan jumlah trombosit < 100.000 / ml menunjukkan adanya
peningkatan kadar IgG dan penyebab peningkatan tersebut tidak diketahui.
Peningkatan kadar PAIgG juga dapat ditemukan pada sepsis neonatus dan bayi yang
lahir dari ibu pre-eklampsi. (IDAI, 2005)
Penyebab
trombositopenia neonatal non-imun paling sering ditemukan pada koagulasi
intravaskular diseminita (KID) dan terjadi sekunder akibat transfusi tukar.
(IDAI, 2005)
Penyakit yang dihubungkan dengan
pemakaian trombosit
Trombositopenia
yang ditemukan umumnya lebih berat dengan jumlah trombosit kurang dari 50.000 /
ml. Mekanisme timbulnya trombositopenia dapat ditemukan antara lain pada sepsis
neonatal karena bakteri, sekunder akibat KID, kerusakan endotel karena bakteri
atau produk bakteri yang menyebabkan adhesi trombosit, agrergasi trombosit
akibat imun dan penurunan produksi akibat infeksi pada sumsum tulang.
Trombositopenia neonatal dapat ditemukan dan mempunyai hubungan dengan kondisi
penyakit. (IDAI, 2005)
Penyebab
Penyebab
trombositopenia yang umumnya dijumpai adalah faktor imunologis, infeksi
termasuk sepsis, tindakan pengobatan (foto terapi, transfusi tukar) KID dengan
segala faktor penyebab. Ada beberapa faktor penyebab trombositopenia neonatal
yang dihubungkan produksi trombosit. (IDAI, 2005)
Gambaran
klinis dan laboratorium
Gambaran klinis
trombositopenia neonatal bervariasi tergantung apakah bayi lahir sehat atau
sakit. Riwayat kelahiran yang mempunyai seperti hipoksia, infeksi, penyakit ibu
perlu diketahui, karena sebagian besar trombositopenia yang terjadi adalah
sekunder dari suatu proses. Selain hal di atas riwayat keluarga perlu perhatian
bila ditemukan trombositopenia maternal, obat yang dikonsumsi ibu, sitopenia,
kelainan tulang, trombositopenia pada neonatus sebelumnya. (IDAI, 2005)
Pemeriksaan
fisik yang diteliti perlu dilakukan untuk menemukan kelainan pada tungkai atas
dan bawah, mikrosefali, hepatosplenomegali, hemangioma dan tanda klinis
neonatus dengan sangkaan infeksi kongenital. (IDAI, 2005)
Pemeriksaan
laboratorium antara lain pemeriksaan darah lengkap, volumer trombosit rata-rata
(mean platelet volume = MPV),
pemeriksaan darah tepi dengan menemukan trombosit besar dan inklusi leukosit (leucocyte inclusion), jumlah trombosit
dan test koagulasi. (IDAI, 2005)
Jika ditemukan
trombositopenia berat pada neonatus perlu dilakukan pemeriksaan trombosit
spesifik (specific platelet typing)
dari bayi, ibu dan bapak untuk menentukan tipe HPA (Human Platelet Antigen) trombosit dan menentukan antibodi anti trombosit
spesifik dalam sirkulasi yang mempunyai hubungan dengan immune mediated thrombocytopenia. (IDAI, 2005)
Perdarahan lebih
banyak terjadi bila keadaan trombositopenia disertai gangguan fungsi trombosit.
Penentuan jumlah trombosit merupakan pendekatan diagnosa yang paling sederhana
untuk menetapkan pedoman terapi. (IDAI, 2005)
Jika jumlah
trombositik < 30.000 – 50.000 / ml pada bayi lahir yang cukup bulan dan
sehat akan mempunyai risiko perdarahan serius seperti perdarahan intrakranial,
sedangkan bila jumlah trombosit > 50.000 / mL bayi cukup bulan yang sehat,
risiko perdarahan sangat kecil. (IDAI, 2005)
Yang penting
diperhatikan pada trombositopenia sedang yaitu bila jumlah trombosit 50.000 –
10.000 / mL terjadi bayi prematur yang sakit, risiko perdarahan tidak dapt
dipastikan, tapi mempunyai hubungan dengan komplikasi perdarahan. (IDAI, 2005)
Waktu perdarahan
(Bleeding time) menggambarkan jumlah
dan fungsi trombositopenia sedang. Waktu perdarahan akan memendek jika jumlah
trombosit meningkat > 100.000 / mL dan setelah transfusi trombosit. (IDAI,
2005)
Penatalaksanaan
Karena sebagian
besar trombositopenia neonatal sekunder akibat penyakit yang mendasarinya, maka
kontrol terhadapa faktor penyebab merupakan langkah utama. Pengobatan diberi
berdasarkan jumlah trombosit yang rendah dengan risiko perdarahan.
Beberapa peneliti menganjurkan
segera melakukan intervensi langsung bila jumlah trombosit > 30.000 . mL
pada 48 jam pertama kehidupan atau jika akan dilakukan pembedahan perlu
diberikan transfusi trombosit dan pemberian intravenus immunoglobulin (IVIgG)
dan obat-obatan. (IDAI, 2005)
2. Trombositosis
Trombosit
yang melekat pada kolagen yang terpajan pada pembuluh yang cedera, mengerut dan
melepaskan ADP serta faktor 3 trombosit, penting untuk mengawali system pembekuan.
Kelainan jumlah atau fungsi trombosit (atau keduanya) dapat mengganggu
koagulasi darah. Trombosit yang terlalu banyak atau terlalu sedikit menganggu
koagulasi darah. Keadaan yang ditandai dengan trombosit berlebihan dinamakan
trombositosis atau trombositemia. Trombositosis
umumnya didefinisikan sebagai peningkatan jumlah trombosit lebih dari
400.000/mm3 dan dapat primer atau sekunder. Trombositosis primer
timbul dalam bentuk trombositemia primer, yang terjadi proliferasi abnormal
megakariosit, bersama dengan jenis sel-sel lain, di dalam sumsum tulang. Untuk
menyingkirkan gangguan-gangguan ini diperlukan pemeriksaan sitogenik. Dapat
terjadi perdarahan dan thrombosis. Patofisiologinya masih belum jelas tetapi
diyakini berkaitan dengan kelainan kualitatif intrinsic fungsi trombosit, serta
akibat peningkatan massa trombosit. Waktu perdarahan biasanya memanjang.
(Price, 2006)
Jika
jumlah trombosit melebihi 1 juta atau pasien simtomatik, pengobatan dimulai dan
ditujukan untuk mengurangi aktivitas sumsum tulang melalui penggunaan agen-agen
sitotoksik seperti hidroksiurea, yang secara dramatis menurunkan jumlah semua
jenis sel. Anogrelid hidroklorida (Agrylin) ditambahkan untuk spesifitasnya
dalam mengurangi produksi trombosit. Dalam keadaan terjadinya perdarahan atau
thrombosis akut, tromboferesis sementara waktu dapat menyembuhkan. Agen-agen
antitrombosit seperti aspirin dan antikoagulan juga digunakan. (Price, 2006)
Trombositosis
sekunder terjadi sebagai akibat adanya penyebab-penyebab lain, baik secara
sementara setelah stres atau olahraga dengan pelepasan trombosit dari sumber
cadangan (dari lien), atau dapat menyertai keadaan meningkatnya permintaan
sumsum tulang seperti pada perdarahan, anemia hemolitik, atau anemia defisiensi
besi. Peningkatan tajam jumlah trombosit terjadi pada pasien-pasien yang
liennya sudah dibuang secara pembedahan. Karena lien merupakan tempat primer
penyimpanan dan penghancuran trombosit, maka pengangkatan (splenektomi) tanpa
disertai pengurangan produksi di dalam sumsum tulang akan mengakibatkan
trombositosis, yang sering melebihi 1 juta/mm3. Pengobatan
trombositosis sekunder atau reaktif umumnya tidak diindikasikan (Price, 2006)
C.
Gangguan Faktor
Pembekuan
1. Hemofilia
Hemofilia adalah
sindrom klinis yang ditandai dengan perdarahan yang berlebihan dan sering,
disebabkan oleh defisiensi genetic atau disfungsi salah satu protein koagulasi.
Hemofilia yang paling lazim adalah hemofilia A, yang disebabkan oleh defisiensi
faktor VII. Sedangkan hemofilia B disebabkan oleh defisiensi faktor IX dan
kira-kira jumlahnya seperempat dari penderita hemofilia A. (Rudolph, 2007)
Hemofilia (A dan
B) diturunkan secara sex(X)-linked
recessive dan gen untuk faktor VIII dan IX terletak pada ujung lengan
panjang (q) kromosom X. oleh karena itu, perempuan biasanya sebagai pembawa
sifat sedangkan laki-laki sebagai penderita. Perempuan pembawa sifat hemofilia
yang menikah dengan laki-laki normal dapat menurunkan satu atau lebih anak
lelaki penderita hemofilia atau satu atau lebih anak perempuan pembawa sifat.
Sedangkan anak laki-laki penderita hemofilia yang menikah dengan perempuan
normal akan menurunkan anak lelaki yang normal atau anak perempuan pembawa
sifat. (IDAI, 2005)
Hemofilia
diklasifikasikan sebagai (1) berat, dengan kadar aktivitas faktor kurang dari
1%, (2) sedang, dengan kadar aktivitas di antara 1% dan 5%, serta (3) ringan,
jika 5% atau lebih. Perdarahan spontan dapat terjadi jika kadar aktivitas
faktor kurang dari 1%. Akan tetapi, pada kadar 5% atau lebih, perdarahan
umumnya tejadi berkaitan dengan trauma atau prosedur pembedahan. (Price, 2006)
Epidemiologi
Penyakit ini bermanifestasi klinik pada laki-laki. Angka
kejadian hemofilia A sekitar 1: 10.000 orang dan hemofilia B sekitar 1 : 25.000
– 30.000 orang. Belum ada data mengenai angka kekerapan di Indonesia, namun
diperkirakan sekitar 20.000 kasus dari
200 juta penduduk Indonesia saat ini. Kasus hemofilia A lebih sering dijumpai
dibandingkan hemofilia B, yaitu berturut-turut mencapai 80-85% dan 10-15% tanpa
memandang ras, geografi dan keadaan sosial ekonomi. Mutasi gen secara spontan
diperkirakan mencapai 20-30 % yang terjadi pada pasien tanpa riwayat. (Sudoyo A
W, 2009)
a) Hemofilia
A (Kekurangan Faktor VIII)
Kejadian hemofilia A di seluruh dunia adalah sekitar
1 kasus per 5000 individu laki-laki dengan sekitar sepertiga dari individu yang
terkena tidak memiliki riwayat keluarga. Prevalensi hemofilia A bervariasi
dengan negara pelapor, dengan kisaran 5,4-14,5 kasus per 100.000 orang
laki-laki. Di Amerika Serikat, prevalensi hemofilia A adalah 20,6 kasus per
100.000 orang laki-laki, dengan 60% dari mereka memiliki penyakit yang berat.
Diperkirakan 17.000 orang terkena dengan
hemofilia A di Amerika Serikat pada tahun 2003. Hemofilia A terjadi pada semua
ras dan kelompok etnis. Secara umum, demografi hemofilia mengikuti distribusi
rasial dalam populasi tertentu, misalnya, tingkat hemofilia di antara kulit
putih, dan Afrika Amerika di AS serupa. (Zaiden, 2012)
Wanita mungkin mengalami perdarahan klinis karena
hemofilia jika 1 dari 3 kondisi ini ditemukan: (1) lyonization ekstrim (yaitu,
inaktivasi alel FVIII yang normal di salah satu kromosom X), (2) homozigositas
untuk gen hemofilia (yaitu, ayah hemofilia dan ibu yang merupakan pembawa),
atau (3) sindrom Turner (XO) terkait dengan gen hemofilia yang terkena.
(Zaiden, 2012)
Dahulu hemofilia A sering dikacaukan dengan penyakit
von Willebrand, karena pada keduanya ditemukan kekurangan faktor VII, tetapi
pada penyakit von Willebrand didapatkan pula kekurangan faktor von Willebrand
yaitu faktor yang dibutuhkan untuk agregasi trombosit. (IDAI, 2005)
Manifestasi Klinis
Perdarahan
merupakan gejala dan tanda klinis khas yang sering dijumpai pada kasus
hemofilia. Perdarahan dapat timbul spontan autau akibat trauma ringan sampai
sedang serta dapat timbul saat bayi mulai belajar merangkak. Manifestasi klinis
tersebut tergantung pada beratnya hemofilia (aktivatas faktor pembekuan). Tanda
perdarahan yang sering dijumpai yaitu berupa hemartrosis, hematom
subkutan/intramuskular, perdarahan mukosa mulut, perdarahan intrakranial,
episktaksis dan hematuria. Sering pula dijumpai perdarahan yang berkelanjutan
pascaoperasi kecil (sirkumsisi, ekstraksi gigi). (Sudoyo A W, 2009)
Karena faktor VIII tidak menembus plasenta,
kecenderungan berdarah mungkin tampak nyata pada periode neonates. Hematoma
setelah suntikan dan perdarahan dari sirkumsisi adalah lazim, tetapi bayi yang
terkena tidak menunjukkan abnormalitas klinis. Sewaktu mulai rawat jalan,
kemudahan berdarah terjadi. Hematom intramuscular timbul karena trauma kecil.
Trauma luka robek yang relative kecil, seperti pada lidah atau bibir, yang
berdarah terus-menerus selama berjam-jam atau berhari-hari, merupakan kejadian
yang sering menuntun ke diagnosis. Dari penderita dengan tingkat penyakit yang
parah, 90% telah menunjukkan bukti klinis nyata peningkatan perdarahan pada
umur 1 tahun. (Nelson, 2000)
Ciri khas hemofilia adalah hemartosis. Perdarahan ke
dalam sendi siku, lutut, dan pergelangan kaki menyebabkan rasa nyeri dan
pembengkakan dan pembatasan gerak sendi; ini mungkin diimbas oleh trauma yang
relative kecil tetapi tampak seperti pedarahan spontan. Perdarahan berulang
dapat menyebabkan perdarahan degenerative, dengan osteoporosis, atrofi otot dan
akhirnya sendi tidak dapat digunakan, tidak dapat digerakkan. Hematuria spontan
sangat mengganggu biasanya bukan merupakan komplikasi yang serius. Perdarahan
intracranial dan perdarahan ke dalam leher merupakan gawat darurat yang
mengancam-nyawa. (Nelson, 2000)
Penderita dengan aktivitas faktor VIII lebih dari 6%
(6 unit/dL) tidak mempunyai gejala spontan. Penderita ini, dengan “hemofilia
ringan”, mungkin hanya mengalami perdarahan yang memanjang setelah ekstraksi
atau manipulasi gigi, pembedahan, atau luka. (Nelson, 2000)
Temuan Laboratorium
Pasien yang dicurigai menderita hemofilia harus
menjalani uji skrinning untuk hemostasis, mencakup jumlah trombosit, waktu
perdarahan, PT, dan PTT. Biasanya pasien memperlihatkan pemanjangan PTT dengan
semua uji lain menunjukkan nilai normal. Karena defisiensi faktor VIII secara
klinis mirip dengan defisiensi IX, maka setiap laki-laki yang memiliki riwayat
perdarahan dan pemanjangan PTT harus menjalani pemeriksaan spesifik untuk
faktor VIII dan IX. (Harrison, 2000)
Terapi
Terapi untuk hemophilia berat adalah penggantian
faktor pembekuan yang defisien. Dosis dan frekuensi dosis ditentukan oleh
konsentrasi faktor yang dibutuhkan untuk hemostasis, volume distribusi faktor
pembekuan yang dibutuhkan dan waktu menghilangnya plasma. Faktor VIII memiliki
volume distribusi yang sama dengan volume vascular. Satu unit faktor koagulasi
didefinisikan sebagai jumlah yang terdapat di dalam 1 mL plasma normal yang
dikumpulkan. Dengan demikian, 1 U/kg faktor VIII akan meningkatkan konsentrasi
plasma sebesar 2%. Waktu-paruh plasma kira-kira 12 jam.
(Rudolph, 2006)
Perdarahan sendi berulang telah dicegah pada anak
dengan hemophilia A berat dengan memulai infuse penggantian rutin faktor VIII
pada sekitar usia 2 tahun, atau pada saat perdarahan sendi yang pertama. Dosis
awal minimal faktor VIII untuk profilaksis primer perdarahan sendi adalah 25
U/kg tiap selang sehari. Sebagian anak kecil membutuhkan pemasangan jalur
inravena, yang dapat meningkatkan risiko infeksi. Kepatuhan terhadap regimen
profilaktik cukup sulit, karena biaya terapi ini mahal, dan stress yang
ditimbulkan akibat seringnya pemasangan jalur intravena.
(Rudolph, 2006)
Penggantian faktor VIII sampai minimum 50%
konsentrasi plasma (25 U/kg) diperlukan untuk semua perdarahan sendi pada anak.
Karena bersihan faktor VIII yang diinfuskan terjadi sedikit lebih cepat pada
anak-anak, infuse berulang pada hari 1,3, dan 5 setelah infuse awal dikaitkan
dengan meningkatnya pemulihan. Terapi ajuvan mencakup istirahat, kompres es,
penekanan, dan meninggikan bagian tubuh yang terlibat, dan juga sangat penting
untuk memfasilitasi penyembuhan setelah hemartosis. Terapi fisik mungkin
diperlukan jika kelainan dalam cara berjalan, fungsi, atau kekuatan terjadi
setelah perbaikan perdarahan akut. Prednison dengan dosis 1 sampai 2 mg/kg/hari
selama 3 sampai 5 hari tampak membantu pada hemartosis yang sulit, terutama
jika terdapat bukti peradangan atau sinovitis setelah episode perdarahan awal
telah membaik. (Rudolph, 2006)
Perdarahan jaringan lunak dapat ditangani dengan
penggantian 40% faktor VIII (20 U/kg). penggantian delapan puluh sampai 100%
diperlukan untuk bedah mayor juga untuk perdarahan intracranial,
gastrointestinal, atau retroperitoneal. Berdasarkan waktu pelenyapan-separuhnya
di dalam plasma yaitu 12 jam, penggantian faktor VIII harus diberikan setiap
12-24 jam untuk perdarahan berat, dan setiap 24-48 jam untuk mencegah
perdarahan kembali menjadi perdarahan yang terkendali. Untuk pembedahan atau
perdarahan berat, kadar faktor VIII harus dipertahankan di dekat kisaran normal
selama 7-14 hari. Faktor VIII dapat diberikan dengan tetesan intravena; metoda
ini sering membantu melestarikan faktor yang dinginkan. Individu dengan
laserasi yang membutuhkan penjahitan akan membutukan infuse faktor VIII pada
saat pengangkatan jahitan. Walaupun pengendalian perdarahan pada pemebedahan
akan tampak adekuat, luka akan pecah pada 50% kasus kecuali jika infuse
diberikan pada kedua prosedur tersebut,. Anak dengan fraktur akan membutuhkan
penggantian faktor pada saat reduksi dan
pemasangan gips pada fraktur. Selain itu, dukungan eksternal akan
mendukung kuat untuk mencegah perdarahan. Meskipun demikian, saat gips
diangkat, ekstremitas yang atrofi secara khas tidak mampu menahan perdarahan
akibat trauma yang tidak bermakna. Infuse faktor pembekuan saat pengangkatan
gips bersama dengan terapi fisik akan mencegah perdarahan setelah pengangkatan
gips.
(Rudolph, 2006)
Produk faktor VIII yang paling tepat adalah yang
telah terbukti aman dari virus hepatitis A, B, dan C, serta HIV dan virus lain
yang diketahui menular lewat darah. Saat ini, faktor VIII yang diproduksi
dengan teknologi rekombinan, secara teoritis merupakan yang paling kecil
kemungkinannya untuk menularkan virus yang patogenik pada manusia. Konsetrat
faktor VIII yang berasal dari manusia dan sangat dimurnikan yang telah
dipisahkan menjadi >100 unit/mg protein dengan antibody monoclonal atau
teknik kromatografi lain dan selanjutnya dilakukan penginaktifan virus, secara
klinis dianggap aman dari virus. Banyak konsetrat faktor VIII yang berasal dari
plasma dengan kemurnian intermediate, telah mengalami metode penginaktifan
virus yang melenyapkan HIV, hepatitis B, dan hepatitis C; meskipun demikian,
produk-produk ini membawa kerugian berupa besarnya muatan protein yang berasal
dari luar yang dapat mengubah system tubuh resipien. Produk donor-tunggal,
termasuk plasma beku segar dan kriopresipitat yang belum mengalami prosedur
penginaktifan virus, tidak lagi memenuhi standar penanganan untuk orang yang
membutuhkan pajanan terhadap sejumlah besar produk penggantian darah.
(Rudolph, 2006)
Desmopresin asetat (DDAVP) adalah vasopressin
arginin sintetik yang melepas simpanan faktor VIII dan faktor von Willebrand
dari sel endotel. Secara khas, konsentrasi faktor VIII akan meningkat tiga kali
lipat setelah DDAVP, individu dengan nilai konsentrasi dasar faktor VIII sampai
20% dapat sering menggunakan DDAVP direkomendasikan sebelum penggunaan produk
ini saja di dalam lingkup bedah. Individu dengan devisiensi ringan faktor VIII
mungkin bisa menggunakan DDAVP dan faktor VIII secara bergantian setelah bedah
mayor untuk mengurangi pajanan terhadap produk darah. Preparat standar DDAVP
diberikan dengan dosis 0,3 µg/kg secara intravena dalam 30 mL salin isotonic
selama 30 menit. Formulasi baru semprot hidung DDAVP dosis tinggi akan
mempermudah terapi di rumah; meskipun demikian, penting untuk memastikan
efektivitas klinisnya dengan assay faktor VIII sebelum memulai penggunaan di
rumah.
(Rudolph, 2006)
Inhibitor fibrinolitik, asam aminokaproat dan asam
traneksamat, berguna sebagai terapi adjuvant untuk perdarahan selaput lender
yang meliputi gigi, lidah, dan gusi. Koagulan topical, termasuk konsentrat
thrombin dan gel fibrin, berguna untuk
mengendalikan permukaan yang menetes secara difus. Penggantian vitamin K
tambahan pada anak yang sehat tanpa faktor resiko defisiensi vitamin K tidak
membantu. (Rudolph, 2006)
Penderita hemophilia, keluargannya, dan penyedia
kesehaan berharap bahwa ”penyembuhan” dengan rekonstitusi genetic dapat
tersedia di masa mendatang yang dapat diduga. (Rudolph, 2006)
·
Inhibitor Faktor
VIII
Antibody penetral yang bersirkulasi terhadap faktor
VIII terdapat pada sekitar 25% orang dengan defisiensi genetic faktor VIII.
Sebagaan besar inhibitor yang timbul pada anak-anak dengan defisiensi berat
faktor VIII, adalah subtype
, dan membutuhkan
pajanan terhadap faktor VIII dahulu sebelumnya. Inhibitor diukur melalui
kemampuannya untuk menghancurkan faktor VIII dalam pengenceran serial plasma
standar yang dikumpulkan. Klasifikasi standar untuk inhibitor di Amerika
Serikat adalah dengan assay Bethesda. Inhibitor diklasifikasikan sebagai titer
tinggi (>10 Bethesda unit/mL) versus titer rendah (<2 data-blogger-escaped-2006="" data-blogger-escaped-bethesda="" data-blogger-escaped-dan="" data-blogger-escaped-dengan="" data-blogger-escaped-faktor="" data-blogger-escaped-inhibitor="" data-blogger-escaped-ml="" data-blogger-escaped-nyata="" data-blogger-escaped-pada="" data-blogger-escaped-pemajanan-ulang="" data-blogger-escaped-peningkatan="" data-blogger-escaped-respons-rendah="" data-blogger-escaped-respons-tinggi="" data-blogger-escaped-sedikit="" data-blogger-escaped-setelah="" data-blogger-escaped-span="" data-blogger-escaped-titer="" data-blogger-escaped-udolph="" data-blogger-escaped-unit="" data-blogger-escaped-versus="" data-blogger-escaped-viii="">
Sebagian besar bayi dan anak kecil dengan inhibitor awitan baru
berespon terhadap pemajanan kontinu faktor VIII dengan titer inhibitor yang
berkurang. Proses iniduksi imunotoleran dapat dilakukan pada kebanyakan anak
kecil dengan menggunakan faktor VIII 50 U/kg jika perlu pada perdarahan akut untuk
inhibitor titer rendah respons-rendah, dan dosis 50-100 U/kg/hari untuk titer
tinggi respons-tinggi. Dengan pemajanan faktor VIII yang kontonue, titer
Bethesda negative harus didapatkan rata-rata dalam 5 bulan. Peramal terbaik
induksi toleransi imun yang berhadil adalah titer inhibitor rendah dan interval
waktu yang singkat antara awitan inhibitor da inisiasi induksi toleransi imun.
Inhibitor titer tinggi respons-tinggi dengan durasi lebih dari 5 tahun sulit
untuk dilenyapkan. Regimen industry toleransi imun yang lebih agresif
menggabungkan absorpsi imun atau plasmaferesis. Sitoksan, dan imun globulin
intravena, tampak berguna di dalam penatalaksanaan banyak inhibitor refrakter.
(Rudolph, 2006)
·
Komplikasi terapi
infuse
Sebelum tahun 1985, individu dengan pajanan tinggi terhadap
produk yang berasal dari darah mendapatkan HIV, hepatitis B, dan hepatitis C
dari konsentrat faktor. Saat ini, banyak terapi yang disetujui dan bersifat
investigasi, untuk infeksi-infeksi ini, tetapi bukan penyembuhan. Pencegahan infeksi
yang ditularkan melalui darah merupakan hal yang paling penting. Pajanan pada
prosuk darah harusdilakukan hanya dengan indikasi yang benar dan setiap terapi
alternative yang beralasan untuk penginfusan faktor , harus dipertimbangkan.
Produk yang berasal dari darah, jika digunakan harus harus dipilih berdasar
pada keamanan-virusnya. Walaupun prosedur penginaktifan HIV, hepatitis B, dan
hepatitis C yang adekuat digunakan secara umum, laporan hepatitis A atau
parvovirus yang ditularkan melalui infuse berfungsi sebagai pengingat bahwa
ancaman infeksi baru pada pasokan darah pernah ada dan tidak dapat
diprediksikan. Riset untuk menghasilkan protein pembekuan yang direkayasa
secara genetic dan untuk menydiakan terapi gen harus dilakukan secepat mungkin.
(Rudolph, 2006)
·
Perawatan umum untuk
anak dengan hemophilia berat
Setelah membuat diagnose hemophilia, keluarga harus ditawarkan
konseling segera dan sedang berlangsung untuk menyesuaikan diagnosis dan mulai
membentuk pandangan yang sehat dan realistis mengenai kesejahteraan anak
mereka. Semua bayi yang terkena harus memulai vaksinasi untuk hepatitis B
sebelum pemajanan terhadap produk darah. Imunisasi rutin harus diberikan, baik
dengan injeksi subkutan atau, jika intramuscular dengan menggunakan jarumdengan
diameter terkecil yang tersedia. Perawatan gigi profilaktik sangat penting
untuk menghindari bedah mulut reparasi. Latihan fisik harus ditekankan secara
dini untuk menimbulkan kekuatan musculoskeletal yang optimal. Aktivitas
prasekolah yang utuh dapat ditoleransi oleh sebgian besar anak dengan
hemophilia berat. Pada tahun-tahun sekolah awal, edukasi mengenai fisik secara
umum merupakan suatu kewajiban, dengan menghindari sama sekali olahraga-kontak.
Berenang, bersepeda, dan berjalan-jalan disarankan pada anak. Baseball, tenis,
dan basket dapat ditoleransi oleh sebagian besar anak kecil. Infuse profilaktik
mungkin diperlukan untuk pemain sepakbola, pemain ski menurun bukit, dan
olahraga serupa. Rugby, hoki es, dan lacrosse harus dihindari oleh semua anak
penderita hemophilia. (Rudolph, 2006)
Infuse dirumah,
dengan atau tanpa jalur intravena yang ditinggalkan, menyingkirkan banyak
trauma berulang yang dihadapi di ruang gawat darurat dan membantu memungkinkan
anak agar mengalami hemofiliasebagai gangguan yang dapat ditatalaksana. Meskipun
demikian, penting untuk mempertahankan keamanan di dalam terapi di rumah.
Transmisi rumah tangga virus yang ditularkan melalui darah selalu merupakan
ancaman karena risiko penggunaan dan pembuangan produk darah serta pasokan yang
tidak baik dalam lingkungan rumah. Orang tua membutuhkan edukasi awal yang
mendasar dan membutuhkan dukungan serta edukasi yang kontinu untuk
mempertahankan terapi infuse di rumah secara adekuat. (Rudolph, 2006)
b) Hemofilia
B (Kekurangan Faktor IX)
Insiden hemofilia B diperkirakan sekitar 1 kasus per
25,000-30,000 kelahiran laki-laki. Prevalensi hemofilia B adalah 5,3 kasus per
100.000 orang laki-laki, dengan 44% dari mereka yang memiliki penyakit parah.
Dari semua kasus hemofilia, 80-85% adalah hemofilia A, 14% adalah hemofilia B,
dan sisanya adalah berbagai kelainan pembekuan lainnya. (Zaiden, 2012)
Manifestasi Klinis
Penyakit ini klinis tidak dapat dibedakan dengan
defisiensi faktor VIII (hemofilia A); perdarahan sendi dan otot adalah khas. Ia
diwariskan sebagai ciri resesif terikat-X, dan tingkat keparahannya adalah
terkait dengan kadar faktor aktivitas koagulan dalam plasma.
Temuan Laboratorium
Waktu tromboplastin parsial (PTT) biasanya abnormal
memanjang. Waktu perdarahan dan PPT normal. Pengukuran faktor IX spesifik perlu
untuk membedakan dengan hemofilia A dan untuk menentukan tingkat keparahan
defek ini. (Nelson, 2000)
Terapi
Volume distribusi faktor IX kira-kira dua kali
volume plasma. Dengan demikian, 1 U/kg konsentrasi faktor IX akan meningkatkan
konsentrasi plasma hanya sebesar 1%. Perdarahan rutin ditangani dengan 30-40
U/kg. Sejumlah anak dengan defisiensi faktor IX tampaknya berespon secara
klinis untuk dosis penggantian yang lebih rendah. Fase beta, atau eliminasi
pada pelepasan faktor IX plasma adalah sekitar 30 jam. Infus faktor IX dapat
diberikan sekali sehari untuk pembedahan dan 2-3 kali seminggu untuk
penggantian atau profilaksis. (Rudolph, 2007)
Saat
ini tidak ada produk rekombinan faktor IX yang tersedia, meskipun demikian,
terdapat beberapa konsentrat yang mengalami penginaktifan virus dan sangat
dimurnikan. Kemurnian intermedial konsentrat faktor IX mengandung faktor II,
VII, IX, dan X yang bergantung vitamin K. Sejumlah kecil faktor VII dan IX yang
diaktifkan mungkin dimasukkan sebagai kontaminan dan menyebabkan potensi
trombotik dari produk ini, terutama jika diberikan dengan dosis tinggi untuk
waktu yang lama. Hanya konsentrat faktor IX yang sangat dimurnikan, tepat untuk
pembedahan atau terapi perdarahan intrakranial dan perdarahan berat lain.
(Rudolph, 2007)
c) Hemofilia
C (Kekurangan Faktor XI)
Defisiensi faktor XI diturunkan sebagai ciri bawaan
autosom paling sering dilaporkan pada
individu yang memiliki leluhur Yahudi. Defisiensi homozigot yang berkaitan
dengan perdarahan spontan dan yang disebabkan trauma yang umumnya lebih ringan
daripada yang ditemukan pada defisiensi faktor VIII atau IX. Heterozigot
memiliki kemungkinan perdarahan sekitar 50%, terutama pada pembedahan dan
trauma yang bermakna. Saat ini, tersedia konsentrat faktor IX dari Inggris
untuk penggunaan jika perlu. Penggantian faktor IX dengan plasma beku segar
akan meningkatkan plasma sebesar 1% untuk setiap 1mL/kg. (Rudolph, 2007)
2. Penyakit
von Willebrand
Penyakit von Willebrand adalah kelainan perdarahan
herediter yang disebabkan oleh defisiensi faktor von Willebrand. Faktor von
Willebrand membantu trombosit melekat pada dinding pembuluh darah dan antara
sesamanya, yang diperlukan untuk pembekuan darah yang normal. (Sudoyo, 2009)
Penyakit ini ditemukan oleh seorang alih
pediatric bernama Erik von Willebrand dari Finlandia di sebuah Kepulauan
bernama Aland. (Mannuci, 2004)
Penyakit ini
tidak sesering hemofilia A tetapi mungkin lebih sering dari hemofilia B.
penyakit von Willebrand terjadi pada kedua jenis kelamin dan diwariskan sebagai
trait autosom dominan. Beberapa keluarga dengan penyakit berat telah
dideskripsikan dimana pewarisnya adalah autosom resesif. Penyakit itu
disebabkan oleh kurangnya produksi protein von Willebrand, atau pada beberapa keluarga,
oleh karena sintesis protein yang disfungsi. (Nelson, 2000)
Klasifikasi
·
Kelainan
kuantitatif FVW
Tipe
1 dan 3 ditandai dengan kelainan kuantitatif faktor von Willebrand.
Identifikasi kelainan gen adalah sulit pada tipe 1 dan 3 penyakit von Willebrand.
Tipe 1 merupakan kelainan yang ringan, den menjadi kasus terbanyak. Pada
penyakit von Willebrand tipe 1, 40% anggota keluarga kelompok ini membawa allele penyakit von Willebrand namun
dengan kadar faktor von Willebrand normal. Tipe 3 adalah bentuk yang berat.
Bentuk ini jarang terjadi. (Sudoyo, 2009)
· Kelainan
kualitatif FVW
Tipe
2 yang terdiri dari subtype 2A, 2B, 2M dan 2N, meliputi pasien dengan kelainan
kualitatif faktor von Willebrand. Tipe 2 meliputi kelainan yang ringan sampai
sedang, ditandai dengan penurunan fungsi faktor von Willebrand yang terkait
trombosit dan termasuk subtipe IIA dan IIC. Tipe 2B, ditetapkan dengan
meningkatnya afinitas faktor von Willebrand terhadap GP 1b trombosit. Tipe 2N,
ditandai oleh kelainan ikatan faktor von Willebrand pada faktor VIII. (Sudoyo,
2009)
Manifestasi Klinis
Penyakit ini meliputi perdarahan hidung, gusi,
menoragia, perdarahan luka merembes lama, dan perdarahan yang meningkat setelah
trauma atau bedah. Hemartrosis spontan sangat jarang. (Nelson, 2000)
Temuan Laboratorium
Pemeriksaan diagnostic untuk penyakit von Willebrand
meliputi asai untuk faktor von Willebrand, menunjukkan kadar yang subabnormal.
Waktu perdarahan yang memanjang dalam keadaan adanya defisiensi faktor VIII dan
kelainan agregasi trombosit jika diberikan ristotesin (suatu antibiotik yang
menyebabkan agregasi trombosit) bersifat diagnostic untuk penyakit von
Willebrand. (Price, 2006)
Pengobatan
Pengobatan penyakit von Willebrand bervariasi
bergantung pada tipe dan derajat perdarahan. Pilihan pengobatan meliputi
kriopresipitat, konsentrat faktor VIII, desmopresin (DDAVP), plama beku segar,
dan estrogen. Tujuan pengobatan adalah untuk meningkatkan ketersediaan faktor
von Willebrand. Jika digunakan kriopresipitat, sebaiknya diperoleh dari donor
yang telah diseleksi secara seksama dan diperiksa secara berulang menurut Medical and Scientific Council of America. (Price,
2006)
DDAVP
digunakan dalam pengobatan penyakit von Willebrand tipe I dan IIA. Pada
sebagian besar kasus, DDAVP dapat digunakan untuk mengontrol perdarahan ringan,
secara profilaktik digunakan sebelum prosedur pembedahan. Sekarang tersedia
dalam bentuk semprot hidung, DDAVP berperan dalam pelepasan faktor von
Willebrand dari tempat penyimpanan cadangan. Untuk penggantian faktor von
Willebrand digunakan generasi yang lebih baru yaitu faktor VIIIs
yang diinaktifkan virus, yang diketahui mengandung faktor von Willebrand.
Pasien-pasien yang dijadwalkan untuk menjalani prosedur pembedahan harus
dievaluasi dan dipersiapkan oleh ahli hematologi selama dan setelah menjalani
prosedur pembedahan. (Price, 2006)
3. Koagulasi
Intravaskular Diseminata
Koagulasi intravascular diseminata (DIC) adalah
suatu sindrom kompleks yang terdiri atas banyak segi, yang sistem homeostatic
dan fisiologik normalnya mempertahankan darah tetap cair berubah menjadi suatu
sistem patologik yang menyebabkan terbentuknya trombi fibrin difus, yang
menyumbat mikrovaskular tubuh. Sistem fibrinolitik diaktivasi oleh thrombin di
dalam sirkulasi, yang mencegah fibrinogen menjadi monomer fibrin. Sistem
fibrinolitik diaktivasi oleh trombin di dalam sirkulasi, yang memecah
fibrinogen menjadi monomer fibrin. Trombin juga merangsang agregasi trombosit,
mengaktivasi faktor V dan VIII, serta melepas aktivator plasminogen, yang membentuk
produk-produk degradasi-fibrin, dan selanjutnya menginaktivasi faktor V dan
VIII. Aktivitas thrombin yang berlebihan mengakibatkan berkurangnya fibrinogen,
trombositopenia, faktor-faktor koagulasi, dan fibrinolisis, yang mengakibatkan
perdarahan difus. DIC bukan merupakan penyakit, tetapi akibat proses penyakit
yang mendasarinya. Perubahan pada segala komponen sistem vaskular, yaitu,
dinding pembuluh darah, protein plasma, dan trombosit, dapat menyebabkan suatu
gangguan konsumtif.masuknya zat atau aktivitas prokoagulan ke dalam sirkulasi
darah mengawali sindrom tersebut dan dapat terjadi pada segala kondisi yang
tromboplastin jaringannya dibebaskan akibat destruksi jaringan, dengan inisiasi
jalur pembekuan ekstrinsik. Karena plasenta merupakan sumber yang kaya akan
tromboplastin jaringan, maka salah satu penyebab tersering DIC adalah solusio
plasenta (solusio plasenta, plasenta lepas secara dini). Keadaan ini
menyebabkan retensi produk-produk konsepsi (plasenta, janin) yang menyebabkan
nekrosis dan kerusakan jaringan lebih lanjut. Produk-produk tumor, luka bakar,
cedera remuk menyebabkan pelepasan tromboplastin. Pada leukemia promielositik,
promielosit granular mengeluarkan aktivitas seperti tromboplastin yang sering
pada saat dimulainya kemoterapi dan dilepasnya granula. Selama proses
koagulasi, trombosit beragregasi, dan bersama dengan faktor-faktor koagulasi,
akan digunakan dan jumlahnya berkurang. Hasil thrombus fibrin dapat atau tidak
menyumbat mikrovaskular. Bersamaan dengan ini, sistem fibrinolitik diaktivasi
untuk pemecahan trombi fibrin, menghasilkan banyak fibrin dan produk degradasi
fibrinogen yang mengganggu polimerisasi fibrin dan fungsi trombosit. Aksi ini
menyebabkan perdarahan difus yang khas pada DIC. (Price, 2006)
Koagulasi intravaskular diseminata ditandai dengan
aktivasi koagulasi luas, yang menghasilkan pembentukan fibrin intravaskular dan oklusi trombotik koagulasi dari pembuluh darah. Koagulasi intravaskular diseminata dapat
mengganggu
suplai darah ke organ dan
memicu gangguan hemodinamik dan metabolik, sehingga dapat menyebabkan kegagalan
beberapa organ. (Levi, 1999)
Manifestasi Klinis
Gambaran klinis bervariasi sesuai stadium dan
keparahan sindroma. Sebagian besar pasien mengalami perdarahan kulit dan
membrana mukosa yang luas dan perdarahan dari berbagai tempat, biasanya dari
insisi bedah atau tempat masuknya selang infus. Manifestasi yang lebih jarang
adalah akrosianosis perifer, trombosis, dan perubhan pragangrenosa di jari,
genitalia, dan hidung, tepat aliran darah sangat melambat akibat vasospasme dan
mikrotrombus. Beberapa pasien, terutama dengan KID kronik akibat keganasan,
memperlihatkan kelainan laboratorium tanpa bukti trombosis atau perdarahan.`
(Harrison, 2000)
Temuan Laboratorium
Manifestasi laboratorium mencakup trombositopenia
dan adanya skistosit atau sel darah merah berfragmen yang berasal dari sel yang
terperangkap dan rusak di dalam trombus fibrin, pemanjangan PT dan PTT serta
waktu trombin, dan penurunan kadar fibrinogen akibat deplesi protein pembekuan,
peningkatan produk pecahan fibrin (fibrin degradation products, FDP) akibat
fibrinolisis sekunder yang intensif. Manifestasi utama KID, yang berkaitan
paling erat dengan perdarahan adalah kadar fibrinogen plasma. (Harrison, 2000)
Pengobatan
Penanganan ditujukan pada perbaikan mekanisme yang
mendasarinya, yang mungkin memerlukan penggunaan antibiotik, agen-agen
kemoterapeutik, dukungan kardiovaskular, serta pada keadaan retensio plasenta,
isi uterus dikeluarkan. Penggantian faktor-faktor plasma dengan plasma dan
kriopresipitat, serta transfusi trombosit dan sel darah merah, mungkin
diperlukan. Bila terjadi perdarahan yang hebat, peran heparin, yang merupakan
suatu antikoagulan antitrombin yang kuat, masih sangat kontroversial. Heparin
menetralkan aktivitas thrombin, dan dengan demikian menghambat penggunaan
faktor-faktor pembekuan dan pengendapan fibrin. Meningkatkan konsentrasi
faktor-faktor pembekuan dan trombosit dengan memberikan infus plasma dan
trombsit seharusnya menghambat diatesis perdarahan. Heparin diindikasi kapan
pun jika terjadi kegagalan terapi penggantian untuk meningkatkan faktor-faktor
koagulasi dan perdarahan tetap ada. Heparin juga diindikasikan pada keadaan
adanya pengendapan fibrin yang menyebabkan nekrosis dermal. Heparin dosis
rendah telah berhasil digunakan bersama dengan agen kemoterapeutik pada
pengobatan leukemia promielositik, untuk mencegah DIC akibat pelepasan
tromboplastin oleh granula leukosit. (Price, 2006)
4. Gangguan
Pembekuan Pada Penyakit Hati
Karena hati
berperan penting dalam pembentukan dan metabolisme protein pembekuan, maka
disfungsi hati sering disertai oleh gangguan hemostasis. Perlu diketahui bahwa
perdarahan biasanya disebabkan oleh lesi anatomik, yang kemudian dapat kambuh
akibat gangguan hemostatik. Sebagian besar pasein mengalami perdarahan akibat
komplikasi hipertensi portal seperti varises esofagus atau akibat gastritis dan
tukak peptik saluran makanan. Hipertensi portal juga menimbulkan splenomegali,
disertai sekuestrasi trombosit dan trombositopenia, yang berperan menambah
gangguan hemostatik. (Harrison, 2000)
Pasien penyakit
hati hepatoseluler tidak dapat menyimpan vitamin K secara optimal dan mungkin
sedikit banyak menderita defisiensi vitamin K. Kolestasiss yang sering terjadi pada penyakit hati, mengganggu
penyerapan vitamin K dan semakin menurunkan simpanan vitamin K di hati.
Kelainan pada karboksilasi gama protein kompleks protrombin yang independen
vitamin K dan pembentukan protein abnormal juga pernah dilaporkan. Pasien juga mungkin
mengalami penurunan pembentukan protein pembekuan lain, termasuk fibrinogen dan
faktor V. Hati juga menghasilkan inhibitor pembekuan misalnya antitrombin II
dan protein C dan S dan merupakan tempat pembersihan untuk faktor pembekuan
aktif dan enzim fibrinolitik. Dengan demikian, pasien yang berpenyakit hati
juga mengalami hiperkoagulasi dan berpredisposisi mengalami KID atau
fibrinolisis sistemik. Karena itu, gangguan pembekuan pada penyakit hati
stadium lanjut sering sulit dibedakan dengan gangguan pembekuan pada KID.
(Harrison, 2000)
Setiap pasien
dengan perdarahan dan penyakit hati harus menjalani pemeriksaan PT, PTT, jumlah
trombosit, dan fibrinogen, namun dari satu rangkaian hasil pemeriksaan
laboratorium tidak selalu dapat ditentukan kelainan hemostatik yang paling
berperan. Pada pasien penyakit kronik yang
mengalami komplikasi akut, data laboratorium sebelumnya sangat membantu.
Terdapat kolerasi erat antara derajat pemanjangan PT dan risiko perdarahan. Sebagian
besar pasien memperlihatkan pemanjangan sedang PT dan PTT, trombositopenia
ringan, dan kadar fibrinogen yang normal. Namun, mereka juga mungkin mengalami
gangguan yang lebih kompleks berupa gabungan gangguan sintesis, kelainan
pembersihan, dan komsumtif aktif protein pembekuan. Karena defisiensi vitamin K
sangat sering terjadi, maka dianjurkan pemberian vitamin K parenteral, sekali
dosis, setelah pemeriksaan laboratorium pertama dilakukan, walau hal ini
mungkin hanya memperbaiki kelainan laboratorium secara parsial. Adanya
trombositopenia berat atau kadar fibrinogen yang rendah mengisyaratkan
komplikasi KID dan mungkin memerlukan pemeriksaan dan terapi lebih lanjut.
(Harrison, 2000)
Terapi
penggantian yang paling aman untuk pasien penyakit hati adalah plasma beku
segar, karena mengandung semua faktor pembekuan yang diketahui. Namun, terapi
bentuk ini pun memiliki kelemahan, karena plasma dalam jumlah besar dapat
mencetuskan enselopati hepatika dan memberikan beban cairan dan natrium.
Konsentrat kompleks protrombin harus dihindari karena hanya mengganti faktor
yang tergantung vitamin K, mungkin tercemar oleh virus hepatitis dan AIDS, dan
mengandung sejumlah kecil protein pembkuan aktif. Demikian pula, konsentrat
fibrinogen (atau kriopresipitat) yang kaya akan faktor VIII dan fibrinogen jangan
digunakan tanpa tambahan plasma beku segar. Antikoagulan hearin pernah
dianjurkan untuk mengontrol KID, tetapi terapi ini berbahaya dan tidak
dianjurkan untuk sirosis karena heparin dimetabolisasi secara tidakk teratur
dan mungkin dapat menyebabkan perdarahan hebat. (Harrison, 2000)
5. Gangguan
Fibrinolitik
Perdarahan juga
dapat terjadi akibat gangguan pada sistem fibrinolitik. Pasien dengan
defisiensi ih\nhibitor plamin alfa2 atau inhibitor aktivator plasminogen (PAI-1) cepat
mengalami fibrinolisis setelah pengendapan fibrin pada pembedahan atau trauma
sehingga dapat mengalami perdarahan berulang. Demikian juga, pasien sirosis
mengalami gangguan klirens aktivator plasminogen jaringan dan fibrinolisis
sistemik yang mungkin ikut berperan menimbulkan gangguan perdarahan. Walaupun
jarang, pasien tumor seperti karsinoma prostat metastatik dapat mengalami
perdarahan difus akibat fibrinolisis primer dan bukan akibat KID. Petunjuk
diagnosis adalah kadar fibrinogen yang terlalu rendah dengan PT dan PTT yang
relatif normal serta hitung trombosit yang normal atau hampir normal. Walaupun
terdapat beberapa pengecualian, pasien fibrinolisis primer akan memperlihatkan
peningkatan produk pecahan fibrin (FDP) tetapi kadar dimer D normal. Namun,
kadang-kadang fibrinolisis primer sulit atau tidak mungkin dibedakan dengan
fibrinolisis sekunder yang menyertai KID. Pasien dengan finolisis primer yang
telah berkembang penuh jangan diberi heparin, pasien memang memerlukan terapi
plasma dan kadang-kadang inhibitor fibrinolitik misalnya EACA. Namun, EACA
jangan diberikan kepada pasien yang dicurigai menderita KID kecuali jika mereka
juga mendapat heparin, karena EACA dapat menyebabkan trombosis masif, yang
sering faal, pada pasien KID. (Harrison,
2000)
BAB III
SIMPULAN DAN SARAN
III.1 Simpulan
Hemostasis adalah
istilah kolektif untuk semua mekanisme faal yang digunakan oleh tubuh untuk
melindungi diri dari kehilangan darah, yang terdiri dari empat sistem utama
yaitu sistem pembuluh darah (vascular),
trombosit, sistem pembekuan, dan sistem fibrinolitik dimana mekanisme tersebut
ditunjang dengan adanya faktor-faktor pembekuan darah.
Kegagalan hemostatis
menimbulkan perdarahan; kegagalan mempertahankan darah dalam keadaan cair
menyebabkan thrombosis. Baik perdarahan maupun thrombosis sangat sering terjadi
dan merupakan masalah klinis yang berbahaya. Dan untuk menentukan letak
kelainan hemostasis ini diperlukan anamnesis yang baik dan teliti, pemeriksaan
dan evaluasi manifestasi klinik perdarahan yang cermat serta pemeriksaan
laboratorium yang tepat.Tes yang digunakan dalam evaluasi awal pasien dengan
gangguan perdarahan meliputi waktu perdarahan (bleeding time), hitung trombosit,
waktu
protrombin (protrombin time, PT), waktu tromboplastin parsial (partial
tromboplastin time, PTT).
Ganguan perdarahan secara klinis
ditandai dengan perdarahan abnormal, yang mungkin spontan atau terjadi setelah
suatu kejadian pemicu (missal, trauma atau pembedahan). Perdarahan abnormal
dapat disebabkan oleh (1) kelainan di dinding pembuluh darah, (2) defisiensi
atau disfungsi trombosit, atau (3) gangguan faktor pembekuan.
III.2
Saran
Agar
dapat lebih memahami tentang mekanisme hemostasis dan kelainannya, seorang
dokter disarankan banyak membaca dari berbagai sumber.
REFERENSI
Hassan, Rusepno.
Dkk. 2005. Buku Kuliah Ilmu Kesehatan Anak Jilid 1. Jakarta: Bagian Ilmu
Kesehatan Anak FKUI.
IDAI. 2005. Buku Ajar
Hematologi-Onkologi Anak. Balai Penerbit IDAI:Jakarta.
Isselbacher.
Kurt J.2000. Harrison Prinsip-prinsip
Ilmu Penyakit Dalam Volume 3. Jakarta:EGC.
Kumar, Vinary.
dkk. 2007. Buku Ajar Patologis Ed 7.
Jakarta. EGC.
Nelson
W E, dkk. 2000. Ilmu Kesehatan Anak edisi
15 volume 2. Jakarta: EGC.
Pollak,
S E. 2012. von Willebrand disease. Online at http://emedicine.medscape.com/article/206996-overview diakses 5 oktober 2012.
Price, Sylvia.
dkk. 2005. Patofisiologi Volume 2 Edisi 6.
Jakarta: EGC.
Rudolph, Abraham M. dkk. 2006. Buku Ajar Pediatri RUDOLPH Volume 2 Edisi 20. Jakarta:EGC.
Sacher, Ronald A. dkk. 2004. Tinjauan Klinis Hasil Pemeriksaan Laboratorium Edisi 11.
Jakarta:EGC.
Setiabudy, Rahajuningsih D. 2009. Hemostasis dan Trombosis Edisi Keempat. Jakarta:Balai Penerbit
FKUI.
Sudoyo
A.W. dkk. 2009. Buku Ajar Ilmu Penyakit
dalam edisi V jilid III. Jakarta: FKUI.
Zaiden,
R A. 2012. Haemophilia B Treatment & Management. Online at http://emedicine.medscape.com/article/779434-treatment
diakses 5 oktober 2012.
Zaiden,
R A. 2012. Haemophlia A Treatment & Management. Online at http://emedicine.medscape.com/article/779322-treatment
diakses 5 oktober 2012.