A.
Hubungan Ilmu Tasawuf Dengan Ilmu Kalam
Ilmu kalam merupakan disiplin ilmu
keislaman yang banyak mengedepankan pembicaraan tentang persoalan-persoalan
kalam tuhan. Ilmu kalam disebut juga ilmu “ilmu tauhid” karena banyak membahas
keesaan Allah, sifat-sifat dan tindakan-tindakannya (A’mal)’ disebut juga “ilmu
ushuluddin” karena didalamnya membahas “ajaran-ajaran pokok agama islam”
seperti ketuhanan, keimanan, kenabian, kitab-kitab suci, taqdir, qadha’, hari
kiamat, persoalan alam ghaib, dsb; disebut juga ilmu teologi islam.
Pembicaraan materi-materi yang
mencakup dalam ilmu kalam terkesan tidak menyentuh dzauq (rasa
rohaniah). Sebagai contoh, ilmu tauhid menerangkan bahwa Allah bersifat sama’
(mendengar), bashar (melihat), kalam (berbicara), iradah
(berkemauan), qudrah (kuasa), hayat (hidup), dan sebagainya.
Namun ilmu kalam atau ilmu tauhid tidak menjelaskan bagaimanakah seorang hamba
dapat merasakan langsung bahwa Allah mendengar dan melihat.
Ilmu tasawuf berfungsi sebagai
pemberi wawasan spiritual dalam pemahaman kalam (pemahaman soal-soal
ketuhanan). Penghayatan yang mendalam melalui hati/rasa (dzauq dan wijdan)
terhadap ilmu tauhid atau ilmu kalam menjadikan ilmu tasawuf lebih terhayati
serta teraplikasi dalam perilaku. Ilmu kalam pun berfungsi sebagai “pengendali”
ilmu tasawuf. Karena itu, jika timbul satu aliran atau kecenderungan tasawuf
yang bertentangan dengan akidah, atau lahir satu kepercayaan baru yang
bertentangan denagan Al-Qur’an maupun sunnah, maka hal itu termasuk penyimpangan
doktrial yang harus ditolak. Ilmu tasawuf juga memiliki fungsi sebagai “emberi
kesadaran ruhaniah” dalam perdebatan kalam.
B.
Hubungan Ilmu Tasawuf Dengan Filasafat
Ilmu tasawuf yang berkembang didunia
islam tidak dapat dinafisikan sebagai sumbangan pemikiran kefilsafatan. Hal ini
dapat dilihat, misalnya, dalam kajian tasawuf yang berbicara tentang jiwa.
Harus kita akui bahwa terminologi jiwa dan roh banyak dikaji dalam
pemikiran-pemikiran filsafat. Sederetan intelektual muslim ternama juga banyak
mengkaji tentang jiwa dan roh, diantaranya adalah Al-Kindi, Al-Farabi, Ibnu
Sina, dan Al-Ghazali.
Kajian-kajian mereka tentang jiwa
dalam pendekatan kefilsafatan ternyata telah banyak memberikan sumbangan yang
sangat berharga bagi kesempurnaan kajian tasawuf dalam dunia islam. Pemahaman
tentang jiwa dan roh itu pun menjadi hal yang esensial dalam tasawuf.
Kajian-kajian kefilsafatan tentang jiwa dan roh kemudian banyak dikembangkan
dalam tasawuf. Namun, perlu juga dicatat bahwa istilah yang lebih banyak
dikembangkan dalam tasawuf adalah istilah Qalb (hati). Istilah qalb ini memang
lebih spesifik dikembangkan dalam tasawuf. Namun, tidak berarti bahwa istilah
qalb tidak berpengaruh terhadap roh dan jiwa.
Menurut sebagian ahli tasawuf,
an-nafs (jiwa) adalah roh setelah bersatu dengan jasad. Penyatuan roh dan jasad
melahirkan pengaruh yang ditimbulkan oleh jasad terhadap roh. Pengaruh-pengaruh
ini akhirnya memunculkan kebutuhan-kebutuhan jasad yang dibangun roh. Jika
jasad tidak memiliki tuntutan-tuntutan yang tidak sehat dan disitu tidak
terdapat kerja pengekangan nafsu, sedangkan kalbu (qalb atau hati) tetap sehat,
tuntutan-tuntutan jiwa terus berkembang, sedangkan jasad menjadi binasa karena
melayani jiwa.
C.
Hubungan Ilmu Tasawuf Dengan Ilmu Jiwa
Mengingat adanya hubungan dan
reverensi yang sangat erat antara spiritual (tasawuf) dan ilmu jiwa, terutama ilmu
kesehatan mental, kajian tasawuf tidak dapat lepas dari kajian tentang kejiwaan
manusia itu sendiri.
Dalam pandangan kaum sufi, akhlak
dan sifat seseorang bergantung pada jenis jiwa yang berkuasa atas dirinya.
Jikayang berkuasa dalam tubuhnya adalah nafsu-nafsu hewani atau nabati, yang
akan tampil dalam perilakunya adalah perilaku hewani atau nabati pula.
Sebaliknya, jika yang berkuasa adalah nafsu insani, yang akan tampil dalam
perilakunya adalah perilaku insani.
Bagi para ahli di bidang perawatan jiwa,
terutama dinegara-negara yang telah maju, masalah mental ini telah menarik
perhatian mereka sampai jauh sekali, sehingga dapat melakukan dan keadaan
mental. Orang yang sehat mentalnya adalah orang yang mampu merasakan
kebahagiaan dalam hidup karena orang-orang inilah yang dapat merasakan bahwa
dirinya berguna, berharga, dan mampu menggunakan segala potensi dan bakatnya
semaksimal mungkin dengan cara membawanya pada kebahagiaan dirinya dan orang lain.
Pada perilaku orang sehat mental
akan tampak sikap yang tidak ambisius, tidak sombong, rendah hati, dan apatis,
tetapi tetap wajar, menghargai orang lain, merasa percaya diri, dan selalu
gesit.
Sementara cakupan golongan yang
kurang sehat sangatlah luas, dari yang paling ringan hingga yang paling berat,
dari orang yang merasa terganggu ketentraman hatinya hingga orang yang sakit
jiwa. Gejala umum yang tergolong pada orang yang kurang sehat dapat dilihat
dalam beberapa segi antara lain,
1.
Perasaan
2.
Pikiran
3.
Kelakuan
4.
Kesehatan
Harus diakui memang jiwa manusia
sering kali sakit. Ia tidak akan sehat sempurna tanpa melakukan perjalanan
menuju Allah dengan benar. Jika manusia juga membutuhkan perilsku (moral) yang
luhur sebab kebahagiaan tidak akan dapat diraih tanpa akhlak yang luhur, juga
tidak dapat menjadi milik tanpa melakukan perjalanan menuju Allah.
BAB III
PENUTUP
Kesimpulan
Bagi orang yang dekat dengan
tuhannya, yang akan tampak dalam kepribadiaanya adalah ketenangan. Perilakunya
juga akan menampakan perilaku atau akhlak-akhlak yang terpuji. Semua ini
tergantung pada kedekatan manusi dengan tuhannya. Pola kedekatan manusia dengan
tuhannya inilah yang menjadi garapan
dalam tasawuf. Jika manusia selalu mendekatan diri kepadanya, kita bisa menjaga
itu semua dengan baik.
DAFTAR PUSTAKA
Anwar, Rosihun. Akhlak Tasawuf. 2009. Bandung : Pustaka
Setia.
Mahfud. Ilmu Tasawuf. 2009. Cirebon : IAIN Syekh Nurjati