SUMBANGAN KEILMUAN MASA BANI UMAYAH II DI SEPAYOL


PEMBAHASAN
SUMBANGAN KEILMUAN
A.    Perkembangan Ilmu Bahasa dan Sastra
            Salah satu ciri dinasti Umayyah adalah Arabisasi (Arabize atau pengaraban). Ahmad Syalabi diantaranya menginformasikan bahwa bahasa resmi di Spanyol adalah Arab.[1] Oleh kareana itu pada abad IX M, seorang pendeta dari Sevilla menerjemahkan Taurat ke dalam bahasa Arab. Karena hanya bahasa Arab yang dapat dimengerti oleh murid-muridnya, dan diantara mereka hampir tidak ada yang mampu membaca kitab suci mereka yang ditulis dalam bahasa Latin.
            Al-Siba’i menjelaskan bahwa sebagian penduduk setempat yang beragama Kristen lebih fasih berbahasa Arab daripada orang Arab sendiri.[2] Mereka itu adalah ibn sayyidih, ibn malik pengarang alfiyah, ibn khuruf, ibn al-hajj, abu ali al-isybili, abu al-hasan ibn usfur, dan abu hayyan al-gharnathi.[3] Pada zaman Umayyah, di Cordova tercatat sejumlah ulama yang melahirkan karya-karya besar diantaranya:
1.      Al-Zabidi (guru Ibn Quthiyah), diantara karyanya Mukhtsahar al-‘Ayn, dan Akhbar al-Nahwiyin.
2.      Ali al-Qali (tinggal di Cordova atas undangan al-Nashir pada tahun 330 H/941 M), diantara karyanya adalah al-‘Amali dan al-Nawadir.
3.      Ibn al-Quthiyah Abubakar Muhammad Ibn Umar (w. 367 H/977 M), diantara karyanya adalah al-Af’al dan Fa’alta wa Af’alat.
Perkembangan sastra dan sya’ir mendorong juga pertumbuhan ilmu musik dan seni suara di Andalusia pada zaman Abdl al-Rahman II al-Awsath, Hasan Ibn Nafi’ (dikenal pula dengan nama Ziryab) tiba di Cordova. Kaahliannya dibidang musik masih membekas hingga sekarang dan bahkan ia dianggap sebagai peletak dasar musik Spanyol modern atau “Bapak Musik Moderen”.
Dalam bidang kesusastraan Abd Rahman, orang yang mencintai sya’ir-sya’ir Arab sangat mendorong berkembangnya bidang kesusastraan sehingga bermunculan ahli-ahli sastra Arab di dunia Islam bagian Timur, seperti tokoh penyair istana Abu al-Makhsyi, tokoh sastrawan diantanya Abu Umar Ahmad bin Muhammad (bin Abd Rabih) yang menuliskan karya sastra al-Iqd al-Farid dan Muhammad bin Hani al-Andalussi yang digelari “ Mutanabbi dari Barat”.[4] Pada akhir masa Umayyah ahli sastra Andalusia berhasil menciptakan bentuk sastra yang disebut Zajal dan Muwashshah.
Sigrid Hunke dan Abd Al-Mun’im Maguid menginformasikan bahwa ulama Arablah yang memperkenalkan not lagu: do-re-mi-fa-sol-la-si, not itu diambil dari bahasa Arab.[5]
Not
Asal Huruf
Do
د
Re
ر
Mi
م
Fa
ف
So
ص
La
ل
Si
س



B.      Perkembangan Pendidikan dan Intelektual
            Masyarakat Spanyol islam terdiri dari komunitas-komunitas Arab (Utara dan Selatan), al-Muwalladun, Barbar, al-Shaqalibah, Yahudi, Kristen Muzareb yang berbudaya Arab, dan Kristen yang masih menentang islam. Mereka, kecuali yang terakhir, memberikan saham intelektual terhadap terbentuknya lingkungan budaya Andalus yang melahirkan kebangkitan ilmiah, sastra, dan pembangunan fisik di Spanyol.
Perkembangan pendidikan pada saat ini sangat diperhatikan oleh para penguasa. Secara umum pendidikan pada masa ini terbagi menjadi tiga tingkatan yaitu rendah, menengah, dan tinggi.[6] Pendidikan rendah dilaksanakan di masjid-masjid, pada tingkat ini diajarkan cara menulis, membaca al-Qur’an, serta tata bahasa Arab. Pada tingkat menengah dilakukan secara perorangan sesuai dengan kemampuan pelajar. Karena itu pada umumnya mata pelajarannya adalah tata bahasa Arab, sastra, sejarah, hadits, fikih, matematika. Pendidikan tingkat tinggi mulai diadakan pada zaman al-Hakam II. Institusinya dijalankan secara informal dikendalikan oleh sekelompok profesor. Pendidikan tinggi ini berpusat di Cordova dan Toledo. Kedua institusi ini menarik pelajar-pelajar Eropa untuk belajar di sana.
            Abd Rahman III dan anaknya al-Hakam II juga sangat mencintai buku. Mereka berdua membangun perpustakaan besar di Cordova sehingga menjadi perpustakaan terbesar di Eropa pada waktu itu. Hakam II mencari dan membeli buku yang menarik dan sulit diperoleh. Ia sendiri menulis surat kepada setiap penulis kenamaan untuk memperoleh naskah dari karya-karya tersebut dan membayarnya dengan jumlah yang mahal. Kalau tidak mendapatkannya, ia mengirimkan utusan untuk melakukan penaskahan. Dengan jalan ini ia mengumpulkan perpustakaan yang sangat luas sehingga katalognya mencapai jumlah 44 jilid.[7] Bidang ilmu keislaman yang berkembang saat itu antara lain fikih, hadits, tafsir, ilmu kalam, ilmu sejarah, tata bahasa Arab, dan filsafat.         
Madzhab fikih yang berkembang di Cordova adalah Maliki. Madzhab ini diperkenalkan oleh Ziyad Ibn Abd al-Rahman Ibn Ziyad al-Lahmi pada zaman Hisyam  I Abd al-Rahman al-Dakhil, beliau adalah murid langsung dari Imam Maliki Ibn Anas di Madinah. Jejaknya kemudian diikuti oleh Yahya Ibn Yahya al-Laitsi, disamping sebagai murid Ziyad Ibn al-Rahman Ibn Ziyad al-Lahmi, ia juga berguru langsung kepada Imam Maliki, ia juga dikenal sebagai mufti dinasti Umayyah.
            Ulama besar dibidang fikih yang hidup pada zaman Umayyah di Spanyol adalah Abu Muhammad Ali Ibn Hazm (w. 455 H/1063 M). Pada awalnya beliau adalah pengikut Imam Syafi’i, kemudian ia pindah ke madzhab al-Zahiri. Disamping iti juga beliau yang memperkenalkan ajaran Asy’ariyah di Eropa. Dalam bidang fikih, Ibn Hazm menulis kitab al-Muhalla, dalam bidang ilmu ushul al-fikih , beliau menulis kitab al-Fashl fi al-Milalwa Ahwa fi al-Nihal. Menurut catatan sejarah beliau menulis sekitar 400 buku tentang teologi, fikih, hadits, dan puisi.[8]
C.      Perkembangan Filsafat dan Tasawuf
            Pada abad ke IV H/X M, para pelajar Andalusia banyak yang pergi ke Baghdad untuk belajar filsafat. Diantara mereka adalah Abu al-Qasim Maslamah Ibn Ahmad al-Majriti (w. 397 H/1007 M). Ia mempelajari manuskrip-manuskrip Arab dan Yunani, kemudian mengembangkan ilmu yang diperolehnya di Andalusia. Ia berjasa dalam bidang ilmu matematika, astronomi, kedokteran, kimia, dan ia merupakan ulama pertama yang memperkenalkan ajaran Rasail Ikhwan al-Shafa di Eropa. Tokoh utama pertama dalam sejarah filsafat Arab-Spanyol adalah Ibn Bajjah, al-Farabi dan Ibn Sina. Magnum opusnya Tadbir al-Mutawahhid. Tokoh utama kedua adalah Abu Bakr Ibn Thufail, ia banyak menulis masalah kedokteran, astronomi, dan filsafat. Dan pada akhir abad ke 12 M muncul seorang pengikut Aristoteles yang terbesar di gelanggang filsafat dalam islam, yaitu Ibn Rusyd dari Cordova.[9]
            Perkembangan filsafat mendorong berkembangnya ilmu eksakta, antara lain matematika. Ilmu pasti yang dikembangkan oleh orang Arab berpangkal dari buku India yaitu Sinbad, yang diterjemahkan kedalam bahasa Arab oleh Ibrahim al-Fazari pada tahun 154 H/771 M. Dengan perantara penerjemahan buku ini, kemudian Nasawi  (pakar matematika) memperkenalkan angka-angka India (0, 1, 2, hingga 9), sehingga angka-angka India di Eropa lebih dikenal dengan angka Arab (Arabic Number). Disanping itu, ulama Arab telah menciptakan ilmu tumbuh-tumbuhan untuk kepentingan pengobatan, sehingga melahirkan ilmu apotek dan farmasi.
Di Eropa, Abbas Ibn Farnas termasyhur dalam ilmu kimia dan astronomi, dialah orang pertama yang menemukan pembuatan kaca dari batu. Ibrahim Ibn Yahya al-Naqqash terkenal dalam ilmu astronomi. Ia dapat menentukan waktu terjadinya gerhana matahari serta berapa lama terjadinya. Selain itu membuat teropong modern yang dapat menetukan jarak antara tata surya dan bintang-bintang. Ibn Ibas dari Cordova ahli dalam bidang obat-obatan. Umm al-Hasan Ibn Ibas dari Cordova ahli dalam bidang obat-obatan. Umm al-Hasan binti Abi Ja’far dan al-Hafidz ahli kedokteran dari kalangan wanita. Ibn Jubair dari Valencia menulis tentang negeri-negeri muslim Mediterania dan Sicilia dan Ibn Batuthah dari Tangier mencapai Samudra Pasai dan Cina. Ibn al-Khatib menyusun riwayat Granada, sedangkan Ibn Khaldun dari Tunis adalah perumus filsafat sejarah.
A.    Ilmuwan-ilmuwan dan Sumbangannya
Di antara pemikir-pemikir Islam yang lahir yang telah berjasa menyumbangkan ilmunya,[10] yaitu:
1.      AL-FARABI (257-339H/870-950M)
Nama asal ialah Abu Nasr Muhammad bin Muhammad Tarkhan Al-Uzdag dan dilahirkan di wilayah Transosiana, Tukestan. Beliau dikenali dengan ilmu falsafah mantiknya dan mendefinisikan ilmu yang menyelidiki hakikat sebenarnya di dunia ini. Beliau juga cenderung kepada falsafah sufinisme, logik dan metafizik.
2.      IBN SINA (wafat 1036 M)
Dikalangan masyarakat Barat lebih dikenali sebagai Avicenna yang merupakan ahli falsafah dan perobatan paling berpengaruh dalam kebudayaan Eropa. Beliau dilahirkan di Bukarah (Uzbekistan) dan nama asalnya ialah Abu Ali Hussain Ibni Abdullah Ibn Sina. Himpunan ilmu perobatan hasil karya beliau mengandungi 14 jilid iaitu Kitab al-Qanun Fi al-Tibb yang digunakan sehingga abad ke 18 dan beliau dikenali sebagai Father of Doctors.
3.      IBN KHALDUN (732-808H/1331-1400M)
Nama lengkap beliau ialah Abdurrahman Abu Zaid Waliuddin bin Khaldun. Dilahirkan di Tunis Hadramaut dan kemudian berpindah ke Spanyol. Beliau menuntut ilmu-imu agama dalam bidang fikih, tafsir, hadis dan ilmu aqli. Contoh karya ialah Kitab Muqadimah yang turut diperakui oleh Sarjana Barat.








BAB III
PENUTUP
KESIMPULAN
Berdasarkan pemaparan yang telah dituliskan dapat diambil kesimpulan bahwa selepas mengukuhkan kedudukannya di Andalusia, kerajaan Bani Umayyah telah berjaya memperlihatkan sumbangan peradabannya terutama di bidang keilmuan. Bertitik tolak dari kesedaran para ilmuan atau sarjana dan sumbangan yang diberikan mereka secara tidak langsung ia mengukuhkan lagi kedudukan kerajaan-kerajaan Bani Umayyah di Spanyol. Sebagai contoh Ibn Khaldun, Ibn Sina dan Ibn Rusyd; masing–masing telah memperlihatkan zaman kegemilangan mereka walaupun selepas kerajaan Bani Umaiyyah, namun nama–nama ini telah menjadi suatu yang sinonim kepada para sarjana Barat yang mengagung–agungkan ilmu yang mereka miliki.
Kesimpulannya, sumbangan yang diberikan orang Islam kepada orang Eropa adalah sangat berharga. Kemajuan yang dicapai oleh masyarakat Eropa pada hari ini adalah sumbangan daripada orang Islam. Orang Eropa banyak berhutang budi kepada orang Islam. Tetapi akibat perpecahan umat lslam dan masalah-masalah yang dihadapi oleh kerajaan lslam, tamadun ini tidak dapat dikekalkan malah digantikan dengan kebangkitan Eropa ataupun dikenali sebagai Zaman Renaissance. Zaman kegemilangan dan keunggulan umat lslam hanya ada di Andalusia suatu masa dahulu.




[1] Jaih Mubarok, Sejarah Peradaban Islam, (Bandung: Pustaka Bani Quraisy, 2004), hlm. 71.
[2] Jaih Mubarok, Sejarah Peradaban Islam, (Bandung: Pustaka Bani Quraisy, 2005), cet. II, hlm. 112.
[3] Badri Yatim, Sejarah Peradaban Islam, (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 1996), hlm. 103.
[4] Musyrifah Sunanto, Sejarah Islam Klasik, (Jakarta: Kencana Prenada Media Group, 2007),  cet. III, hlm. 124.
[5] Jaih Mubarok, Op.Cit., hlm. 113.
[7] Ibid., hlm. 126.
[8] Jaih Mubarok, Op.Cit., hlm. 73.
[9] Badri yatim, Op.Cit., hlm. 101.

Related Posts

Subscribe Our Newsletter