Konsep Syariat dan Hakikat

Syariat adalah cara formal untuk melaksanakan peribadatan kepada Allah, yang dirujuk oleh al-Qur'an sebagai tujuan utama penciptaan manusia (Q.S. 51:56). Sedangkan hakikat, yakni tasawuf seperti yang di isyaratkan dalam definisi Ihsan: "Engkau beribadah seakan-akan rnelihat tuhan, dan seandainya engkau tidak melihat-Nya, niscaya Dia melihatmu", merupakan pelengkap dari ibadah tersebut. Oleh karena itu, antara syariar dan hakikat atau tarekat seharusnya tidak boleh dipisahkan tanpa menirnbulkan masalah. Syariat yang dilakukan tanpa rnemerhatikan unsur hakikat adalah seperti sebuah bangunan kosong dan belum dihias. Sedangkan hakikat tanpa syariat akan seperti perhiasan tanpa yang clihias, sehingga hanya akan menjacii turnpukan barang yang acak. Oleh karena itu, sepatutnyalah kedua aspek penting dari agama kita itu tidak dihayati secara terpisah, tetapi dilaksanakan sebagai dua hal yang saling melengkapi, dan harus diperlakukan secara seimbang. Penekanan yang berat sebelah pada salah satu aspek dari keduanya hanya akan melahirkan ahli-ahli eksoterik fotmal (ahl al-zhhhir), yang tidak bisa mengapresiasi dimensi spiritual dari ibadah formal mereka, atau kalau tidak, ahli esoterik yang sama sekali meninggalkan ibadah-ibadah formal yang merupakan kewajiban bagi setiap individu Muslim.

Sebenarnya, kalau kita perhatikan tokoh-tokoh utama tasawuf, seperti Syekh Junayd al-Bagdadi dan Imam al-Ghazali, dalam karya-karya utamanya, mereka selalu berusaha untuk menyelaraskan kedua aspek penting agama kita. Dalam ihya ulum al-Din, misalnya, al-Ghazali bukan hanya membicarakan keutamaan-keutamaan spiritualitas Islam dan nilainilainya yang luhur, tetapi bahkan dalam bab-bab pertamanya, ia membicarakan aspek-aspek formal ibadah, seperti yang dilakukan para fukaha dalam kitab-kitab fikih mereka, yakni thahirah (bersuci), salat, zakat, puasa dan pergi haji ke Mekkah' Hanya saja kepada setiap macam ibadah formal ini, ditambahkan makna batin atau spiritual dengan segala macam keutamaannya. Hal yang serupa juga dilakukan oleh al-Hujwiri dalam kitabnya Kasyf al-Mafiitb (Menyingkap Tirai), di mana digambarkan pemahaman sufistik tentang berbagai ragam ritual keagamaan. Maka ia menafsirkan haji, misalnya, sebagai perjalanan ke lubuk hati kita yang terdalam dari dunia indra. Ia tidak menghilangkan praktik lahiriah ibadah tersebut, tetapi menambahkan makna yang tersembunyi dari ibadahibadah yang umumnya dilakukan secara fisik saja.



Memakai baju ihram di mikat pada waktu memulai ibadah haji, misalnya, bagi para sufi bukan hanya mengganti pakaian biasa dengan baju ihram, rang memang harus kita lakukan, tetapi juga ada makna spiritual di balik itu. Fencampakan baju yang biasa kita pakai, bermakna mencampakkan yang biasa menghiasi baju kita sehari-hari, seperti perhiasan yang menunjukkan status ekonomi tertentu, atau pangkat dan lencana vang menunjukkan status atau kedudukan orang yang menunjukan status atau kedudukan orang yang menyandangnya. Dengan menanggalkan baju "biasa" itu maka diharapkan pengaruh harta dan kedudukan pada saat itu terhadap diri kita akan terhapus. Demikian juga dengan mengenakan baju ihram yang purih dan sederhana, kita diingatkan akan fitrah kita yang suci dan pandangan Tirhan yang tidak membeda-bedakan manusia karena harta, keturunan atau kedudukannya, tetapi pada kesucian hati dan ketakwaannya.

Demikian juga dengan sai (lari-lari kecil) dari bukit Shafa ke Marwah dan sebaliknya sebanyak tujuh kali, punya makna agar kita, setelah kembali ke negeri kita masing-masing terbiasa bertolak dari kesucian (shafa) menuju kebajikan (marwah)' dan sebaliknya dari kebajikan menuju kesucian' Dan kalau kita berhasil melaksanakannya, maka akan besarlah pengaruh dan manfaat yang kita peroleh dari ibadah tersebut. Dengan begitu, haji kita, insya Allah' menjadi haji yang mabrur.

Tentu saja selain tentang ibadah haji' al-Hujwiri dan sufi-sufi lainnya membahas tentang makna spiritual dari ibadah-ibadah yang lainnya' seperti puasa' salat dan sebagainya. Tetapi tanpa harus mengupasnya satu per satu di sini, saya hanya ingin menyimpulkan bahwa tasawuf bukanlah sesuatu yang harus dipandang bid'ah dalam kaitannya dengan ibadah' melainkan sebagai pelengkap dan sekaligus hiasan bagi ibadahibadah formal kita sehari-hari, yang sering kita rasakan telah kehilangan makna spiritualnya.

Related Posts

Subscribe Our Newsletter