Ontologi terdiri dari dua suku
kata, yakni oiitos dan logos. Ontos berarti sesuatu yang berwujud dan logos
berarti ilmu. Jadi ontologi dapat diartikan sebagai ilmu atau teori tentang
wujud hakikat yang ada. Menyoal tentang wujud hakiki objek ilmu dan keilmuan
(setiap bidang ilmu dalam jurusan dan program studi) itu apa? Objek ilmu atau
keilmuan itu adalah dunia empirik, dunia yang dapat dijangkau pancaindra. jadi
objek ilmu adalah pengalaman indrawi. Dengan kata lain, ontologi adalah ilmu yang
mempelajari tentang hakikat sesuatu yang berwujud (yang ada) dengan berdasarkan
pada logika semata.
Ontologi sebagai cabang filsafat
yang membicarakan tentang hakikat benda bertugas untuk memberikan jawaban atas
pertanyaan “apa sebenarnya realitas benda itu? apakah sesuai dengan wujud
penampakannya atau tidak?” “Apakah kedudukan ilmu dalam ruang yang ada ini?”
“Benarkah ilmu itu ada?” “Apakah konsep ilmu sebagai kajian tentang kausalitas
itu bermakna di tengah ruang yang ada yang tidak terbatas itu?” “Kausalitas
(ilmiah) yang terlalu terbatas!” IPTEK baru mampu mengeksplorasi alam semesta
ini sekitar 1% saja, dan 99% alam semesta ini masih misteri (Feyerebend).
Dari teori hakikat (ontologi) ini
kemudian muncullah beberapa aliran dalam filsafat, antara lain: (i) Filsafat
Materialisme; (ii) Filsafat Idealisme; (iii) Filsafat Dualisme; (iv) Filsafat
Skeptisisme; dan (v) Filsafat Agnostisisme.
Jujun S. Suriasumantri menyatakan
bahwa pokok permasalahan yang menjadi objek kajian filsafat mencakup tiga segi,
yakni (a) logika (benar-salah), (b) etika (baik-buruk), dan (c) estetika
(indah-jelek). Ketiga cabang utama filsafat ini lanjut Suriasumantri, kemudian
bertambah lagi yakni, pertama, teori tentang ada: tentang hakikat keberadaan
zat, hakikat pikiran serta kaitan antara zat dan pikiran yang semuanya
terangkum dalam metafisika; kedua, kajian mengenai organisasi
sosial/pemerintahan yang ideal, terangkum dalam politik. Kelima cabang filsafat
ini logika, etika, estetika, metafisika dan politik-menurut Suriasumantri,
kemudian berkembang lagi menjadi cabang-cabang filsafat yang mempunyai bidang
kajian lebih spesifik lagi yang disebut filsafat ilmu.
Argumen ontologis ini pertama
kali dilontarkan oleh Plato (428-348 SM) dengan teori ideanya. Menurut Plato,
tiap-tiap yang ada di alam nyata ini mesti ada ideanya. Idea yang dimaksud oleh
Plato adalah definisi atau konsep universal dari tiap sesuatu. Plato
mencontohkan pada seekor kuda, bahwa kuda mempunyai idea atau konsep universal
yang berlaku untuk tiap-tiap kuda yang ada di alam nyata ini, baik itu kuda
yang berwarna hitam, putih ataupun belang, baik yang hidup ataupun yang sudah
mati. Idea kuda itu adalah paham, gambaran atau konsep universal yang berlaku
untuk seluruh kuda yang berada di benua mana pun di dunia ini.
Demikian pula manusia punya idea.
Idea manusia menurut Plato adalah badan hidup yang kita kenal dan dapat
berpikir. Dengan kata lain, idea manusia adalah “binatang berpikir”. Konsep
binatang berpikir ini bersifat universal, berlaku untuk seluruh manusia besar-kecil,
tua-muda, lelaki-perempuan, manusia Eropa, Asia, India, Cina, dan sebagainya.
Tiap-tiap sesuatu di alam ini mempunyai idea. Idea inilah yang merupakan
hakikat sesuatu dan menjadi dasar wujud sesuatu itu. Idea-idea itu berada di
balik yang nyata dan idea itulah yang abadi. Benda-benda yang kita lihat atau
yang dapat ditangkap dengan pancaindra senantiasa berubah. Karena itu, ia
bukanlah hakikat, tetapi hanya bayangan, kopi atau gambaran dari idea-ideanya.
Dengan kata lain, benda-benda yang dapat ditangkap dengan panca-indra ini
hanyalah khayal dan ilusi belaka.
Argumen ontologis kedua dimajukan
oleh St. Augustine (354-430 M). Menurut Augustine, manusia mengetahui dari
pengalaman hidupnya bahwa dalam alim ini ada kebenaran. Namun, akal manusia terkadang
merasa bahwa ia mengetahui apa yang benar, tetapi terkadang pula merasa
ragu-ragu bahwa apa yang diketahuinya itu adalah suatu kebenaran. Menurutnya,
akal manusia mengetahui bahwa di atasnya masih ada suatu kebenaran tetap
(kebenaran yang tidak berubah-ubah), dan itulah yang menjadi sumber dan cahaya
bagi akal dalam usahanya mengetahui apa yang benar. Kebenaran tetap dan kekal
itulah kebenaran yang mutlak. Kebenaran mutlak inilah oleh Augustine disebut
Tuhan.
Ontologi merupakan salah satu
kajian kefilsafatan yang paling kuno dan berasal dari Yunani. Studi tersebut
membahas keberadaan sesuatu yang bersifat konkret. Tokoh Yunani yang memiliki
pandangan yang bersifat ontologis dikenal seperti Thales, Plato, dan
Aristoteles. Pada masanya, kebanyakan orang belum membedakan antara penampakan
(apreance) dengan kenyataan (reali(y). Thales terkenal sebagai filsuf yang
pernah sampai pada kesimpulan bahwa air merupakan substansi terdalam yang
merupakan asal mula segala sesuatu. Namun yang lebih penting ialah pendiriannya
bahwa mungkin sekali segala sesuatu au berasal dari satu substansi belaka
(sehingga sesuatu itu tidak dapat dianggap ada berdiri sendiri).
Hakikat kenyataan atau realitas
memang dapat didekati ontologi dengan dua macam sudut pandang: (i) kuantitatif,
yaitu dengan mempertanyakan apakah kenyataan itu tunggal atau jamak? (ii)
Kualitatif, yaitu dengan mempertanyakan apakah kenyataan (realitas) tersebut
memiliki kualitas tertentu, seperti misalnya daun yang memiliki warna
kehijauan, bunga mawar yang beraroma harum.
Ontologi, secara sederhana dapat
dirumuskan sebagai ilmu yang mempelajari realitas atau kenyataan konkret secara
kritis. Aspek ontologi dari ilmu pengetahuan tertentu hendaknya diuraikan
antara lain secara: (a) Metodis; menggunakan cara ilmiah; (b) Sistematis;
saling berkaitan satu sama lain secara teratur dalam suatu keseluruhan; (c)
Koheren; unsur-unsurnya tidak boleh mengandung uraian yang bertentangan; (d)
Rasional; harus berdasar pada kaidah berpikir yang benar (logis); (e)
Komprehensif; melihat objek tidak hanya dari satu sisi/sudut pandang, melainkan
secara multidimensional atau secara keseluruhan (holistik); (f) Radikal;
diuraikan sampai akar persoalannya, atau esensinya; (g) Universal; muatan
kebenarannya sampai tingkat umum yang berlaku di mana saja.
Beberapa aliran dalam ontologi,
yakni realisme, naturalisme, dan empirisme. Istilah-istilah terpenting yang,
terkait dengan ontologi adalah: (i) yang-ada (being,); (ii) kenyataan/ realitas (reality); (iii) eksistensi (existence);
(IV) esensi (essence); (v) substansi
(substance); (vi) perubahan (change); (vii) tunggal (singular, one); dan (viii); jamak (plural/many).
Adapun karakteristik (ontologi)
ilmu pengetahuan antara lain adalah: (i) ilmu berasal dari riset (penelitian);
(ii) tidak ada konsep wahyu; (iii) adanya konsep pengetahuan empiris; (iv)
pengetahuan rasional, bukan keyakinan; (v) pengetahuan objektif; (vi)
pengetahuan sistematik; (vii) pengetahuan metodologis; (viii) pengetahuan
observatif (observable); (ix) menghargai asas verifikasi (pembuktian); (x)
menghargai asas eksplanatif (penjelasan); (xi) menghargai asas keterbukaan dan
dapat diulang kembali; (xii) menghargai asas skeptikisme yang radikal; (xiii)
melakukan pembuktian bentuk kausalitas (causality); (xiv) mengakui pengetahuan
dan konsep yang relatif (bukan absolut); (xv) mengakui adanya logika-logika
ilmiah; (xvi) memiliki berbagai hipotesis dan teori-teori ilmiah; (xvii)
memiliki konsep tentang hukum-hukum alam yang telah dibuktikan; (xviii)
pengetahuan bersifat netral atau tidak memihak; (xix) menghargai berbagai
metode eksperimen, dan (-\x) melakukan terapan ilmu menjadi teknologi.
Ontologi ilmu, layak dipelajari
bagi orang yang ingin memahami secara menyeluruh tentang dunia ini dan berguna
bagi studi ilmu-ilmu empiris (misalnya antropologi, sosiologi, ilmu
kedokteran, ilmu budaya, fisika, ilmu teknik dan sebagainya).