FILOLOGI DI KAWASAN ASIA: INDIA

Sejak beberapa abad sebelum tarikh Masehi, benua Asia  merupakan kawasan yang memiliki peradaban yang tinggi, terbentang dari negara Cina dan Jepang di sebelah timur, sampai negara India di sebelah barat dan Nusantara di sebelah selatan.[1]
Penduduk India telah mengembangkan  aksara sejak abad ke-8 SM (Buhler, dalam Suryani, 2006: 32), dan pada awal abad Masehi pengaruhnya sudah meluas ke wilayah Kepulauan Nusantara.[2]
Semenjak bangsa-bangsa di kawasan tersebut mengenal huruf, sebagian besar dari kebudayaan mereka ditulis dalam bentuk naskah, suatu jenis dokumen yang memberi banyak informasi mengenai kehidupan mereka pada masa lampau.
Studi filologi terhadap naskah-naskah tersebut telah berhasil membuka khazanah kebudayaan Asia serta telah menyajikan isi naskah-naskah tersebut untuk kepentingan studi humaniora di Asia pada umumnya. Hasil studi ini telah memperjelas sejarah bangsa Asia serta kebudayaannya, demikian pula dapat membuka hubungannya di luar kawasan Asia, hingga dapat diketahui arus kebudayaan yang pernah berhadapan dengan kebudayaan Asia.[3]
Sejak abad ke-1 mulai terjadi kontak langsung antara bangsa India dengan Cina. Pada abad itu sekelompok pendeta Budha mengadakan perjalanan dakwah ke Cina[4], bahkan agama Budha dijadikan agama resmi kerajaan karena pahamnya sejalan dengan ajaran Confuciusme[5], dan sebaliknya sesudah itu beberapa musafir Cina mengadakan perjalanan ziarah ke tempat-tempat suci agama Budha di India. Di antara mereka ada tiga orang yang dicatat dalam sejarah India, ialah Fa-hian berkunjung ke India pada tahun 399, Hiuen-tsing pada tahun 630-465, dan I-tsing pada tahun 671-695. Mereka telah menerjemahkan naskah-naskah India dalam bahasa Cina, bahkan I-tsing pernah menulis ringkasan delapan bab ilmu kedokteran India dalam bahasa Cina.[6]
Pada abad ke-6 terjadi kontak langsung antara bangsa India dengan bangsa Persia. Hal ini didasarkan atas hasil studi filologi, yakni pada saat itu sastra-sastra India banyak disalin dan diterjemahkan ke dalam bahasa Persia.[7] Akan tetapi dokumen yang otentik mengenai awal hubungan itu belum memberi informasi yang mantap. Dokumen sastra yang merupakan data adanya kontak langsung itu antara lain karya sastra India Pancatantra dalam kesastraan Persi. Pancatantra yang digubah pada abad ke-3 di India oleh seorang Waisynawa, atas perintah Kaisar Anusyirwan dari Dinasti Sasaniah (531-579) di Persi diterjemahkan ke dalam bahasa Persi. Kaisar ini mengirimkan seorang dokter pribadinya bernama Burzue ke India untuk menerjemahkan naskah Pancatantra. Selanjutnya versi Pancatantra dalam bahasa Persi ini berkali-kali disalin dalam bahasa Persi Tengahan dan persi Baru. Oleh Abdullah ibn Muqaffa versi Pancatantra bahasa Persi ini diterjemahkan ke dalam bahasa Arab dikena dengan judul Kalila Wa Dimna. Di samping itu, naskah yang dipandang paling tua di India adalah kitab sastra Weda yang diperkirakan disusun pada abad ke-6 SM, yang isinya bersifat keagamaan (Hindu), juga termasuk kitab Upanisad. Setelah itu menyusul karya-karya berupa wiracarita, yaitu Mahabarata dan Ramayana. Pengaruh bentuk-bentuk karya tersebut sangat kuat dan tersebar ke wilayah Nusantara, yang menurut hasil telaah filologi proses penyalinannnya telah berlangsung sejak awal abad Masehi (Ikram, dalam Suryani, 2006: 36)[8]
Sekitar tahun 1030, seorang musafir berkebangsaan Arab-Persi yang bernama Alberuni pernah mengunjungi India, dan mencatat beberapa aspek kebudayaan India, seperti filsafat, sastra, tatabahasa, dan ilmu kedokteran (Macdonell, dalam Suryani, 2006: 39). Pada abad pertengahan ini, mungkin Alberunilah yang pertama-tama mempelajari naskah-naskah India dalam rangka memahami tentang kebudayaan India.
Kegiatan filologi pada abad ke-18, yang terjadi di kawasan Asia, pada dasarnya, masih merupakan rentetan kegiatan dari kawasan Eropa. Naskah-naskah India yang berisi berbagai aspek kebudayaan, baru mulai ditelaah semenjak kedatangan bangsa Barat di kawasan itu, yakni setelah ditemukan jalan laut ke India oleh Vasto da Gama  tahun 1498. Mereka menemukan kebudayaan India dan menghasil telaah-telaahnya terhadap naskah-naskah di situ. Pada mulanya, mereka mengetahui adanya bahasa-bahasa daerah, seperti bahasa Gujarat, dan Benggali pada abad ke-18. Tatabahasa Sanskerta mula-mula ditulis oleh Hanleden, seorang pendeta berkebangsaan Jerman, dalam bahasa Latin yang diterbitkan di Roma pada tahun 1790 berkat usaha seorang penginjil berbangsa Austria bernama Paolo Bartolomeo yang pernah tinggal di Malabar antara tahun 1776-1789.
Kegiatan filologi pada abad ke-18 di India dipelopori oleh bangsa Inggris atas perintah Gubernur Jenderal Warren Hastings. Pada saat itu, dikumpulkan naskah-naskah lama India yang kemudian ditelaah teksnya untuk dimanfaatkan sebagai bahan studi ilmu hukum, dan salah satu hasilnya terbit pada tahun 1776 di London (Macdonell, dalam Suryani, 2006: 48). Pada tahun 1784 terbentuk sebuah perhimpunan kegiatan filologi yang bernama The Asiatic Society di Benggal oleh para orientalis Inggris yang pada saat itu sedang bekerja di India. Diantara mereka muncul tiga nama yang cukup berperan di bidang filologi, yaitu: Sir Charles Wilkins, Sir Williams Jones, dan Henry Thomas Colebrooke. Wilkins yang menguasai bahasa Sanskerta berhasil menerjemahkan Bhagawatgita dengan judul baru Song of The Adorable One pada tahun 1785, Hitopadesa (1787), serta menyusun Tatabahasa Sanskerta (1808).
The Asiatic Society didirikan pula di Calcuta dalam tahun 1794. Williams Jones yang berpendidikan formal di Universitas Oxford adalah orang pertama yang menemukan bahwa bahasa Sanskerta itu serumpun dengan bahasa Persia, bahasa-bahasa Germania, dan bahasa Keltis. Sedangkan Celebrooke dianggap sebagai orang yang meletakkan dasar-dasar filologi India. Diapun menulis masalah hukum, filsafat, agama, dan lain-lain atas dasar teks-teks naskah hasil garapan filologi.
Pada abad ke-19 dikenal bernama Alexander Hamilton (Inggris) dan Friendrich Schiegel (Jerman) yang dipandang sebagai ahli yang memajukan studi naskah-naskah Sanskerta di kawasan Eropa. Pada tahun 1808, Friedrich menulis One the Language and Wisdom of the Indian  dan mendirikan Lembaga filologi India di Jerman, dengan dukungan kuat dari kakaknya, August Wilhem von Schiegel yang mengajar bahasa Sanskerta di Bonn.
Hingga pertengahan abad ke-19, telah banyak dilakukan telaah terhadap sastra klasik India, antara lain Kitab Upanisad diterjemahkan ke dalam bahasa Latin tahun 1802 oleh Auquelli Dupperron menjadi Oupllekliat (Macdonel, dalam Suryani, 2006: 52). Telaah filologi yang sebenarnya dilakukan oleh murid-muridnya, seperti Rudolf Bolt dan F.Max Mullen. Setelah melakukan studi terhadap Weda dan kitab-kitab agama Budha, maka pada abad ke-19, dari segi materinya, perkembangan filologi di India telah dipandang lengkap. Sejak tahun 1850, banyak dilakukan penggarapan teks naskah klasik India yang telah disunting ke arah penyusunan Kamus Besar Bahasa Sanskerta oleh Bothlink dan Roth, dua ahli filologi Jerman, sedangkan Albrecht Weber menulis History of Indian Literature tahun 1876.



[1] Siti Baroroh Baried, dkk., Pengantar Teori Filologi, Yogyakarta: BPPF, 1994, hal. 40.
[2] Elis Suryani NS, Filologi, Bogor: Ghalia Indonesia, 2012, hal. 27.
[3] Op.cit.
[4] Ibid.
[5] Op.cit.
[6] Op.cit.
[7] Op.cit.
[8] Op.cit.

Related Posts

Subscribe Our Newsletter