BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang
Pendidikan
di sekolah tidak hanya ditentukan oleh usaha murid secara individual atau
berkat interaksi murid dan guru dalam proses belajar mengajar, melainkan oleh
interaksi murid dengan lingkungan social dan budaya masyarakatnya dalam
berbagai situasi social yang dihadapinya baik didalam maupun diluar sekolah.
Oleh karena itu,kelompok kami akan sedikit mempresentasikan tentang makna
Antropologi, pengertian Antropologi dan ilmu-ilmu bagian dari Antropologi.
B.
Rumusan Masalah
1. Apa
makna Antropologi ?
2. Model
dan Pendekatan Sosiologi ?
3. Ilmu-ilmu
bagian dari Antropologi ?
C.
Tujuan Perumusan
Untuk mengetahui dan memahami apa itu
makna Antropologi, model dan pendekatan Sosiologi, dan ilmu-ilmu bagian dari
Antropologi.
BAB
II
PEMBAHASAN
A. Makna
Antropologi
Antropologi berusaha memahami perilaku manusia
(anthropos ) sesuai latar belakang kepercayaan dan kebudayaannya secara
manusiawi (humaniora). Sosiologi –Antropologi saling menunjang dari segi
teori,konsep maupun metodologinya. Namun konsentrasi Sosiologi lebih kepada
masyarakatnya sedangkan konsentrasi
antropologi pada kebudayaannya. Antara keduanya jelas tidak bias
dipisahkan, karena masyarakat dalam kelompok kecil sekali pun, pasti mempunyai
kebudayaan tersendiri, dan kebudayaan hanya dimiliki oleh kelompok manusia
dalam kehidupan bermasyarakat.
Antropologi berusaha memahami masyarakat melaluui kebudayaan; semua
unsur kebudayaan adalah bagian penting dalam kehidupan bermasyarakat.
Masyarakat adalah kelompok manusia sebagai satu-satunya jenis makhluk yang
memiliki potensi budaya, agama, mempunyai keyakinan dan pengetahuan untuk bias
menerima dakwah.
Menurut sejarahnya, kajian antropologi bermula dari
kumpulan berbagai macam keterangan mengenai manusia, masyarakat dan kebudayaan
dari bangsa –bangsa yang berbeda diluar Eropa barat. Perkembangannya menjadi suatu bidang ilmu
pengetahuan karena telah meminjam kerangka teori Evolusi yang pada waktu itu
menguasai dunia pemikiran filsafat, serta dikembangkan dalam bidang-bidang
ilmu-ilmu ilmiah. Teori evolusi sebenarnya sudah dikemukakan oleh August
Comte yang dikenal sebagai bapak sosiologi.
August
Comte menggambarkan bahwa proses manusia dalam
menafsirkan dunia dengan segala isinya berkembang secara Evolusi, melalui
tahapan religious, metafisika dan positivism. Dari konsep ini terwujudlah
perubahan social masyarakat baru, berdasarkan kenyataan empiris hasil pemikiran
rasional, dan pada akhirnya akan mencapai tingkat integrasi yang lebih besar.
Pada awal perkembangannya akal budi manusia menggunakan gagasa-gagasanyag
bersumber dari agama untuk menerangkan semua gejala dan kejadian alam. Faham
animise misalnya menganggap alam semesta terdiri dari makhluk-makhluk yang
berkuasa, mempunyai perasaan, kemauan serta mampu bertindak seperti manusia
lain pada umumnya. Alam semesta dianggap berjiwa dan memiliki kekuatan. Dunia
dihayati sebagai kediaman roh-roh halus yang bias memberikan berkah dan bala.
Karena itu melalui berbagai upacara kecil, semacam sesajen, selaamatan, serta
menggunakan perantara seorang dukun, orang berusaha mendapatkan bantuan dari
roh-roh halus yang dianggap memiliki kekuatan itu.(Veeger, 1986: 20-21)
B.
Model
dan pendekatan Sosiologi
Model pendekatan adalah seperangkat asumsi ilmiah
sebagai kerangka kerja yang dalam ilmu-ilmu social biasa disebut sebagai suatu
“perspektif” atau “paradigma”. Paradigma
dari asal kata Yunani “para deigma” berarti model, pola, contoh. Thomas S. Kuhn
(sejarahwan Ilmiah) dalam The Structure of Scientific Revolusion menjelaskan
bahwa paradigm ilmiah ialah contoh-contoh praktik ilmiah yang aktual dan dapat
diterima (Arthur Barker, 1999: 38)
Metode ilmiah dari Antropologi Sosial dan Sosiologi.
Antropologi mempunyai pengalaman yang laama dalam hal meneliti kebudayaan-kebudayaan
suku-suku bangsa penduduk pribumi di Amerika, Asia Afrika da Oseania. Suku-suku
bangsa itu biasanya hidup dalam masyarakat-masyarakat pedesaan yang kecil, yang
dapat diteliti dalam keseluruhannya sebagai kebulatan. Sebaliknya, ilmu sosiologi
selalu memusatkan perhatian kepada unsur-unsur atau gejala khusus dalam
masyarakat manusia, dengan menganalisa
kelompok-kelompok sosial yang khusus,hubungan antara kelompok-kelompok atau
individu-individu atau proses-proses yang terdapat dalam kehidupan suatu
masyarakat. Dengan demikian apabila misalnya ada dua orang ahli ilmu sosial,
yang satu seorang ahli antropologi social dan yang seorang lagi ahli sosiologi,
harus meneliti masyarakat kota kecil seperti misalnya Mojokerto di Indonesia,
atau Middletown di Amerika Serikat, maka kedua ahli tadi akan mengadakan
pendekatan yang berbeda. Ahli antropologi social akan mencoba meneliti semua
unsur dalam kehidupan kota-kota itu sebagai kebulatan. Juga apabila ia hanya
mengkhusus kepada suatu unsur tertentu saja dalam kehidupan masyarakat kota,
seperti misalnya aktivitas kehidupan keagamaan atau aktivitas kehidupan
kekeluargaan, tentu ia akan menghubungkan unsur-unsur tadi dengan seluruh
struktur kehidupan masyarakat kota. Sebaliknya, seorang ahli sosiologi akan
meneliti gejala-gejala atau proses-proses khusus dengan tidak perlu memandang
dahulu struktur dari keseluruhannya, seperti misalnya suatu perkumpulan,
gereja, hubungan pemerintah dengn penduduk, gerakan – gerakan buruh dalam kota,
masalah besar kecilnya suatu kejahatan dan sebagainya.
Pengalaman dalam hal meneliti masyarakat kecil telah
memberi kesempatan kepada ahli antropologi untuk mengembangkan berbagai metode
penelitian yang bersifat penelitian intensif dan mendalam seperti misalnya
berbagai metode wawancara. Sebaliknya, para ahli sosiologi yang biasanya
meneliti masyarakat kompleks, lebih banyak mempergunakan metode penelitian yang
bersifat penelitian meluas seperti misalnya berbagai metode angket.
Dunia antropologi mempunyai pengalaman yang lama
dalam hal menghadapi aneka warna (diversitas) yang besar atara beribu-ribu
kebudayaan dalam masyarakat kecil yang tersebar di seluruh muka bumi, dan ini
menyebabkan berkembangnya berbagai metode mengumpulkan bahan yang mengkhusus
kedalam, yang kualitatif; serta berbagai metode pengolahan dan analisa yang
bersifat membandingkan yang komparatif.
Sosiologi lebih banyak pengalaman dalam hal meneliti
gejala masyarakat kekotaan yang kompleks dan kurang memperhatikan sifat
anekawarna dari hidup masyarakat dan kebudayaan manusia yang menjangkau seluruh
dunia. Hal ini menyebabka berkembangnya berbagai metode mengumpulkan bahan yang lebih bersifat
meluas merata, dan berbagai metode pengolahan bahan dan analisa yang
berdasarkan perhitungan –perhitungan jumlah besar. Metode-metode ini dapat
disebut kuantitatif, seperti misalnya metode statistik.
Disamping adanya dua kompleks metode yang mempunyai
dasar-dasar yag berbeda, sebenarnya banyak metode penelitian lain yang sekarang
sudah dipakai oleh kedua ilmu itu bersama-sama, karena pada hakekatnya tujuan
dari kedua ilmu itu sama. Memang, antropologi social dan sosiologi adalah dua ilmu yang mempunyai dua kompleks metode yang saling dapat isi mengisi
dalam proyek-proyek penelitian masyarakat yang sama.
C. Ilmu-ilmu bagian
dari Antropologi
Lima
ilmu bagian. Di universitas-universitas di Amerika Serikat, dimana antropologi
telah mencapai suatu perkembangan yang paling luas, ruang lingkup dan batas
lapangan perhatianya yang luas itu menyebabka adanya paling sedikit lima
masalah penelitian khusus, yaitu;
1)
Masalah sejarah
asal dan perkembangan manusia (evolusinya) secara biologi;
2)
Masalah sejarah
terjadinya anekawarna makhluk manusia, dipandang dari sudut cirri-ciri
tubuhnya;
3)
Masalah sejarah
asal, perkembangan, dan penyebaran anekawarna bahasa yang diucapkan manusia
diseluruh dunia;
4)
Masalah
perkembangan, penyebaran, dan terjadinya anekawarna kebudayaan manusia
diseluruh dunia;
5)
Masalah mengenai
asas-asas dari kebudayaan manusia dalam kehidupan masyarakat dari semua suku
bangsa yang tersebar diseluruh muka bumi;
Kelima
lapangan penelitian yang bertujuan untuk memecahkan kelima masalah tersebut
adalah sedemikian luasnya, sehingga masing-masing merupakan ilmu-ilmu bagian
antropologi yang membutuhkan ahli-ahli
dengan kejurua-kejuruan yang khusus. Berhubungan dengan pengkhususan kedalam
lima lapanga tersebut, ilmu antropologi mengenal juga ilmu-ilmu bagian, yaitu;
Antropologi
fisik dalam arti luas :
1) Paleo-Antropologi,
adalah ilmu bagian yang meneliti soal asal-usul atau soal terjadinya dan
evolusi makhluk manusia dengan mempergunakan sebagai bahan penelitian sisa-sisa
tubuh yang telah membatu,atau fosil-fosil manusia dari zaman dahulu yang
tersimpan dalam lapisan-lapisan bumi.
2) Antropologi
fisik, dalam arti khusus adalah bagian dari ilmu
antropologi yang mencoba mencapai suatu pengertian tentang sejarah terjadinya
anekawarna makhluk manusia dipandang dari sudut cirri-ciri tubuhnya. Baik yang
lahir (fenotipik) Misalnya, warna kulit, warna dan bentuk rambut, indeks
tengkorak,bentuk muka, warna mata, dan
bentuk hidung. Maupun yang dalam (genotipik), seperti frekuensi golongan darah.
Antropologi
budaya :
1)
Etnolinguistik,
adalah suatu ilmu bagian yang pada asal mulanya bersangkutan erat dengan ilmu
antropologi. Bahkan penelitiannya yang berupa daftar-daftar kata-kata,
pelukisan tentang cirri dan tata bahasa dari berates-ratus bahasa suku bangsa
yang tersebar diberbagai tempat dimuka bumi ini, terkumpul bersama-sama dengan
bahan kebudayaan suku bangsa.
2)
Prehistori,
adalah ilmu yang mempelajari sejarah dan perkembangan penebaran semua
kebudayaan manusia dibumi dalam zaman sebelum manusia mengenalhuruf
3)
Etnologi,
adalah ilmu bagian yang mencoba mencapai pengertian mengenai asas-asas manusia,
denga mempelajari kebudayaan-kebudayaan dalam kehidupan mayarakat dari sebanyak
mungkin suku bangsa yang tersebar di seluruh muka bumi.
BAB
III
PENUTUP
A.
Kesimpulan
Membahas
tentang makna antropologi tidak akan
terlepas dari makna sosiologi, karena keduanya memiliki keterkaitan satu sama
lain sehingga keduanya tidak bias dipisahkan. Aka tetapi kedua makna tersebut
tidak akan bisa di implementasikan jika tidak adanya masyarakat yang terlibat
langsung. Karena sosiologi dan antropologi tidak akan terlepas dari
keterlibatan masyarakat didalamnya. Hanya sedikit perbedaan sosiologi dan
atropologi. Sosiologi berusaha lebih memahami hakikat masyarakat dalam
kehidupan kelompok, baik struktur, dinamika, institusi atau interaksinya.
Sedangkan antropologi berusaha lebih memahami perilaku manusia sesuai latar
belakang kepercayaan dan kebudayaannya secara manusiawi.
B. Kritik
dan Saran
Demi
terciptanya kesempurnaan makalah yang kami buat diharaapkan rekan –rekan dapat
memberikan kritik dan sarannya kepada kami terkait dengan makalah ini yang
bertema Makna antropologi.
DAFTAR
PUSTAKA
Ø Ali
Abdullah, 2007. Sosiologi Pendidikan dan
Dakwah, Cirebon: STAIN PRESS
Ø Koentjaraningrat,
1986. Pengantar Ilmu Antropologi,
Jakarta: AKSARA BARU