BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang
Kewajiban bagi
setiap muslimin dan muslimat untuk mengetahui tiga hal pokok dalam agama, yaitu
mengetahui Rabbnya, mengetahui agamanya dan mengetahui Nabinya.
Pengetahuan
tehadap ketiga hal pokok tersebut bukan hanya sekedar pengetahuan saja tapi
haus dibenarkan dengan hati, diucapkan dengan lisan dan diamalkan dengan
perbuatan dalam kehidupan sehari-hari, dan itulah yang dimaksud dengan iman.
Dan keimanan yang ada pada seseorang harus senantiasa dan berkembang serta harus
benar-benar dijaga kemurniaanya. Tidaklah dibenarkan jika keimanan itu
dicampuradukan dengan berbagai kegiatan yang bertabur khurafat dan takhayul.
Dan jika hal itu terjadi bukan lagi keimanan namanya melainkan kemusyrikan.
Keimanan yang manusia miliki hendaklah berlandaskan Al-Qur’an nur karim yang
dimana di dalamnya sangat berguna bagi seorang muslim untuk meningkatkan
keimanannya. .
B.
Rumusan Masalah
1)
Bagaiman pengertian pendidikan dan iman dalam
al-qur’an?
2)
Bagaimana pendidikan keimanan dalam al-Qur’an
itu sendiri?
3)
Apa sajakah Hal-hal yang merusak keimanan di
dalam al-Qur’an?
4)
Bagaimana nilai pendidikan keimanan dalam
Al-quran ?
5)
Bagaimana meningkatkan kiat-kiat kadar
keimanan?
C.
Tujuan
Penulisan
1)
Mengetahui pengertian pendidikan dan iman dalam
al-Qur’an
2)
Mengetahui pendidikan keimanan dalam Al-qur’an
3)
Mengetahui hal-hal yang dapat merusak keimanan
4)
Mengetahui nilai pendidikan keimanan dalam
Al-Qur’an
5)
Mengetahui cara meningkatkan kiat-kiat kadar
keimanan
BAB II
PEMBAHASAN
A.
Pengertian
pendidikan dan iman dalam al-Qur’an
Sebelum
kita membahas bagaimana pendidikan keimanan dalam al-quran. Alangkah lebih
baiknya jika kita mengetahui dulu pengertian dari pendidikan dan iman dalam
al-Qur’an.
Pendidikan dalam al-Qur’an di sebut dengan istilah ‘at-Tarbiyah’, ‘at-Ta’lim’, dan ‘at-Tadhib’, tetapi
lebih banyak kita temukan dengan ungkapan kata ‘rabbi’, kata at-Tarbiyah adalah
bentuk masdar dari fi’il madhi rabba , yang mempunyai pengertian yang sama
dengan kata ‘rabb’ yang berarti nama Allah. Dalam al-Qur’an tidak ditemukan
kata ‘at-Tarbiyah’, tetapi ada istilah yang senada dengan itu yaitu; ar-rabb,
rabbayani, murabbi, rabbiyun, rabbani. Sebaiknya dalam hadis digunakan istilah
rabbani. Semua fonem tersebut mempunyai konotasi makna yang berbeda-beda. Para
ahlipun memberikan pendapatnya mengenai pendidikan yaitu :
1) Menurut al-Qurtubi, bahwa; arti ‘ar-rabb adalah pemilik, tua,
Maha memperbaiki, Yang Maha pengatur, Yang Maha mengubah, dan Yang Maha
menunaikan
2) Menurut louis al-Ma’luf, ar-rabb berarti tuan, pemilik,
memperbaiki, perawatan, tambah dan mengumpulkan .
3) Menurut Fahrur Razi, ar-rabb merupakan fonem yang seakar dengan
al-Tarbiyah, yang mempunyai arti at-Tanwiyah (pertumbuhan dan perkembangan) .
4) Al-Jauhari memberi arti at-Tarbiyah, rabban dan rabba dengan
memberi makan, memelihara dan mengasuh.
Sedangkan Arti iman dalam Al-Qur’an maksudnya membenarkan dengan
penuh Keyakinan bahwa Allah SWT. mempunyai kitab-kitab yang diturunkan kepada
hamba-hambaNya dengan kebenaran yang nyata dan petunjuk yang jelas. Dan
bahwaNya Al-Qur’an adalah kalam Allah yang Ia firmankan dengan sebenarnya.
Arti Iman dalam Hadits maksudnya iman yang merupakan pembenaran
batin. Rasullallah menyebutkan hal-hal lain sebagai iman, seperti akhlak yang
baik, bermurah hati, sabar, cinta Rasul, cinta sahabat, rasa malu dan
sebagainya.
Menurut bahasa iman berarti
pembenaran hati. Sedangkan menurut istilah iman adalah “Membenarkan dengan
hati, mengikrarkan dengan lisan dan mengamalkan dengan anggota badan”
B.
Pendidikan keimanan dalam al-Quran
Pendidikan keimanan dalam al-quran
senantiasa mengajarkan atau memerintahkan kita untuk senantiasa berada di jalan
allah. Seperti yang allah katakana dalam Al-Qur’an yaitu : 2:177. Bukanlah menghadapkan wajahmu ke arah
timur dan barat itu suatu kebajikan, akan tetapi sesungguhnya kebajikan itu
ialah beriman kepada Allah, hari kemudian, malaikat-malaikat, kitab-kitab,
nabi-nabi dan memberikan harta yang dicintainya kepada kerabatnya,
anak-anak yatim, orang-orang miskin, musafir (yang memerlukan pertolongan) dan
orang-orang yang meminta-minta; dan (memerdekakan) hamba sahaya, mendirikan
shalat, dan menunaikan zakat; dan orang-orang yang menepati janjinya apabila ia
berjanji, dan orang-orang yang sabar dalam kesempitan, penderitaan dan dalam
peperangan. Mereka itulah orang-orang yang benar (imannya); dan mereka itulah
orang-orang yang bertakwa.
Dalam hal ini
artinya kita harus mengimani allah. Kita harus salu meningkatkan iman kita
padanya. Keimanan manusialah yang akan allah lihat bukan kekuasaan atau
kekayaan dari manusia itu sendiri.
Kita
bisa bertanya kepada orang yang mengatakan bahwa kita harus beriman kepada
penulis kitab hadis. Apakah Allah memerintahkan manusia agar beriman kepada
penulis kitab hadis? Tidak! Allah memerintahkan manusia agar beriman kepada
Rasul Allah. Lalu, mengapa orang tersebut beriman kepada penulis kitab hadis?
Jawabannya adalah karena ada tuhan selain Allah yang memerintahkan orang
tersebut agar beriman kepada penulis kitab hadis.
Kita
juga bisa bertanya kepada orang yang mengatakan bahwa kita harus beriman kepada
kitab hadis. Apakah Allah memerintahkan manusia agar beriman kepada kitab
hadis? Tidak! Allah memerintahkan manusia agar beriman kepada kitab Allah.
Lalu, mengapa orang tersebut beriman kepada kitab hadis? Jawabannya adalah
karena ada tuhan selain Allah yang memerintahkan orang tersebut agar beriman
kepada kitab hadis.
Apakah
ada orang yang mengatakan bahwa ada rukun iman yang belum disebutkan dalam Al
Qur’an? Jika ada, orang tersebut tidak beriman kepada Allah. Orang tersebut
tidak percaya bahwa Allah mengetahui segala sesuatu. Orang tersebut tidak
percaya bahwa Allah mengetahui semua yang dilakukan-Nya. Jika Allah menyebutkan
6 rukun iman, itu berarti bahwa rukun iman memang hanya 6.
Al-Quran memberikan
penjelasan tentang bagaimana agar kita slalu beriman kepada allah. Rukun iman
dalam islam sudah sangat jelas bahwasanya itulah yang benar-benar kita imani.
Keimanan terhadap apa yang ada dalam al-quran sudah barang tentu membuat hidup
kita damai dan tentunya slalu dekat dengan allah. Al-quran memberikan kita
solusi hidup yang luar biasa dikala kita mendapatkan kebimbangan-kebimbangan
dalam hidup. Pendidikan yang ada dalam al-quran untuk umat manusia sudah barang
tentu sangat terjamin keberhasilannya.
C.
Hal-hal yang
dapat merusak keimanan menurut al-quran
Secara garis besar, hal-hal yang dapat merusak
keimanan seseorang ada dua hal yaitu :
1. Syirik
Syirik adalah menyamakan selain Allah dengan
Allah pada perkara yang merupakan hak istimewa-Nya. Hak
Istimewa Allah seperti : Ibadah, mencipta, mengatur, member manfaat dan
mudharat, membuat hokum dan syari’at dan lain-lain.
Syirik terbagi ke dalam berbagai macam
tergantung dikelompokkan pada kelompok yang mana. Diantaranya adalah :
a. Syirik Yang
terkait dengan Kekhususan Allah
1) Syirik di dalam rububiyah
Yaitu meyakini bahwa selain Allah mampu
menciptakan, memberi rezeki, menghidupkan atau mematikan dan lainnya dari
sifat-sifat rububiyyah.
2) Syirik di dalam uluhiyah
Yaitu meyakini bahwa selain Allah bisa
memberikan madharat atau manfaat, memberikan syafaat tanpa izin Allah, dan
lainnya yang termasuk sifat-sifat uluhiyyah.
3) Syirik di dalam asma wa shifat
Yaitu seorang meyakini bahwa sebagian makhluk
Allah memiliki sifat-sifat khusus yang Allah ta’alla miliki, seperti mengetahui
perkara gaib, dan sifat-sifat lainnya yang merupakan kekhususan Rabb kita yang
Maha suci.
b. Syirik
Menurut Kadarnya
Menurut kadarnya syirik terbagi ke dalam tiga
bagian yaitu :
1) Syirik Akbar
Hakikat syirik akbar adalah memalingkan salah
satu jenis ibadah kepada selain Allah, seperti memohon kepada selain Allah,
menyembelih hewan diperuntukan sebagai tumbal, memohon perlindungan kepada
orang yang sudah mati dan lain-lain.
Syirik ini adalah syirik yang bisa menyebabkan
pelakunya keluar dari ajaran Islam. Dalil yang menunjukan tidak bolehnya
melakukan syirik akbar terdapat dalam Al Qur’an surat Annisa ayat 116, yang
berbunyi :
إِنَّ اللهَ
لاَيَغْفِرُ أَن يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَادُونَ ذَلِكَ لِمَن يَشَآءُ وَمَن
يُشْرِكْ بِاللهِ فَقَدْ ضَلَّ ضَلاَلاً بَعِيدًا
Sesungguhnya Allah tidak mengampuni dosa
mempersekutukan (sesuatu) dengan Dia, dan Dia mengampuni dosa yang selain
syirik bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barangsiapa yang mempersekutukan
(sesuatu) dengan Allah, Maka Sesungguhnya ia telah tersesat sejauh-jauhnya.
Ada empat macam perbuatan syirik yang termasuk
syirik akbar, yaitu :
a) Syirik dalam berdo’a
Yaitu meminta kepada selain Allah, disamping
meminta kepada-Nya. Dalil yang menunjukan adanya syirik dalam berdoa ini
terdapat dalam Al Qur’an surat Al Ankabut ayat 65 yang berbunyi :
فَإِذَا
رَكِبُوا فِي الْفُلْكِ دَعَوُا اللهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ فَلَمَّا
نَجَّاهُمْ إِلَى الْبَرِّ إِذَا هُمْ يُشْرِكُونَ
Maka apabila mereka naik kapal mereka mendoa
kepada Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya; Maka tatkala Allah
menyelamatkan mereka sampai ke darat, tiba-tiba merek (kembali) mempersekutukan
(Allah)
b) Syirik dalam niat, kehendak, dan maksud.
Syirik jenis ini terjadi manakala melakukan
ibadah semata-mata ingin dilihat orang atau hanya untuk kepentingan dunia.
Dalilnya terdapat dalam Q.S. Hud ayat 15-16
yang berbunyi :
مَن كَانَ
يُرِيدُ الْحَيَاةَ الدُّنْيَا وَزِينَتَهَا نُوَفِّ إِلَيْهِمْ أَعْمَالَهُمْ
فِيهَا وَهُمْ فِيهَا لاَيُبْخَسُونَ أُوْلَئِكَ الَّذِينَ لَيْسَ لَهُمْ فِي
اْلأَخِرَةِ إِلاَّ النَّارَ وَحَبِطَ مَاصَنَعُوا فِيهَا وَبَاطِلٌ مَّاكَانُوا
يَعْمَلُونَ
Barangsiapa yang menghendaki kehidupan dunia
dan perhiasannya, niscaya Kami berikan kepada mereka Balasan pekerjaan mereka
di dunia dengan sempurna dan mereka di dunia itu tidak akan dirugikan.
16. Itulah orang-orang yang tidak memperoleh di
akhirat, kecuali neraka dan lenyaplah di akhirat itu apa yang telah mereka
usahakan di dunia dan sia-sialah apa yang telah mereka kerjakan
c) Syirik dalam ketaatan
Yaitu menjadikan sesuatu sebagai pembuat
syari’at selain Allah swt yang senantiasa ditaati atau menjadikan sesuatu
sebagai sekutu bagi Allah dalam menjalankan syari’at dan ridho atas hokum
tersebut.
Dalil yang menunjukan musyrik jenis ini adalah
Q.S. At Taubah ayat 31 yang berbunyi :
اِتَّخَذُوْا
أَحْبَارَهُمْ وَرُهْبَانَهُمْ أَرْبَابًا مِنْ دُوْنِ اللهِ وَالْمَسِيْحَ ابْنَ
مَرْيَمَ وَمَآأُمِرُوْا إِلاَّ لِيَعْبُدُوْا إِلَهًا وَاحِدًا لآإِلَهَ إِلاَّ
هُوَ سُبْحَانَهُ عَمَّا يُشْرِكُوْنَ
Mereka menjadikan orang-orang alimnya dan rahib-rahib
mereka sebagai Tuhan selain Allah dan (juga mereka mempertuhankan) Al masih
putera Maryam, Padahal mereka hanya disuruh menyembah Tuhan yang Esa, tidak ada
Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia. Maha suci Allah dari apa yang mereka
persekutukan.
d) Syirik dalam kecintaan
Yaitu mencintai seseorang, baik wali atau
lainnya sebagaimana mencintai Allah atau menyetarakan cintanya kepada makhluq
dengan cintanya kepada Allah.
Dalil yang menunjukan syirik jenis ini terdapat
dalam Q.S. Al Baqarah ayat 165, yang berbunyi :
وَمِنَ النَّاسِ
مَن يَتَّخِذُ مِن دُونِ اللهِ أَندَادًا يُحِبُّونَهُمْ كَحُبِّ اللهِ
وَالَّذِينَ ءَامَنُوا أَشَدُّ حُبًّا للهِ وَلَوْ يَرَى الَّذِينَ ظَلَمُوا إِذْ
يَرَوْنَ الْعَذَابَ أَنَّ الْقُوَّةَ للهِ جَمِيعًا وَأَنَّ اللهَ شَدِيدُ الْعَذَابِ
Dan diantara manusia ada orang-orang yang
menyembah tandingan-tandingan selain Allah; mereka mencintainya sebagaimana
mereka mencintai Allah. Adapun orang-orang yang beriman Amat sangat cintanya
kepada Allah. dan jika seandainya orang-orang yang berbuat zalim itu mengetahui ketika mereka melihat siksa (pada
hari kiamat), bahwa kekuatan itu kepunyaan Allah semuanya, dan bahwa Allah Amat
berat siksaan-Nya (niscaya mereka menyesal).
2) Syirik Asghar
Syirik asghar adalah syirik kecil, hal ini
tidak mengeluarkan pelakunya dari agama Islam hanya mengurangi nilai ketauhidan
yang dimilikinya, akan tetapi pelakunya wajib bertaubat.
Syrik Asghar bisa terjadi dalam bentuk ucapan
maupun dalam bentuk perbuatan. Yang dalam bentuk ucapan seperti ketika sesorang
yang bersumpah dengan atas nama selain Allah dalam ucapannya : “Masyaa Allah wa
syita…” (atas kehendak Allah dan kehendakmu) dan lain-lain. Seperti dalam
Hadits Nabi : “Barang siapa yang bersumpah dengan selain nama Allah, maka ia
telah berbuat syirik. (H.R. Ahmad).
Yang dalam bentuk perbuatan seperti memakai
gelang, benang, dan sejenisnya sebagai pengusir atau penangkal bahaya. Jika ia
meyakini bahwa benda-benda tersebut memiliki atsar untuk menolak atau menangkal
bala maka terjadilah kemusyrikan, dan jika tidak insya Allah tidak termasuk
syirik.
Dalil yang menujukan hal ini terdapat dalam
Q.S. Al Kahfi ayat 110 yang berbunyi :
قُلْ إِنَّمَآ
أَنَا بَشَرٌ مِّثْلَكُمْ يُوحَى إِلَىَّ أَنَّمَآ إِلاَهُكُمْ إِلَهٌ وَاحِدٌ
فَمَنْ كَانَ يَرْجُوا لِقَآءَ رَبِّهِ فَلْيَعْمَلْ عَمَلاً صَالِحًا
وَلاَيُشْرِكُ بِعِبَادَةِ رَبِّهِ أَحَدًا
Katakanlah: Sesungguhnya aku ini manusia biasa
seperti kamu, yang diwahyukan kepadaku: “Bahwa Sesungguhnya Tuhan kamu itu
adalah Tuhan yang Esa”. Barangsiapa mengharap perjumpaan dengan Tuhannya, Maka
hendaklah ia mengerjakan amal yang saleh dan janganlah ia mempersekutukan
seorangpun dalam beribadat kepada Tuhannya”.
3) Syirik Khafi
Syirik khafi atau syirik yang tersembunyi
adalah seseorang yang beramal dikarenakan keberadaan orang lain, atau bahkan
ketika seseorang meninggalkan perbuatan karena keberadaan orang lain. Seperti
riya, sum’ah dan lain-lain.
Dalil yang menunjukan terhadpa syirik khafi
selain seperti yang telah disebutkan dalam dalil syirik asghhar (Q.S. Al Kahfi
: 110), juga hadits nabi yang berbunyi :
c. Syirik
Menurut Letak Terjadinya
Dilihat dari letak atau tempat terjadinya,
syirik terbagi tiga yaitu :
1) Syirik ‘Itiqadi, yaitu berupa keyakinan
seperti seseorang yang meyakini bahwa Allah swt yang telah menciptakan kita dan
member rezeki kepad kita namun di sisi lain juga percaya bahwa dukun bisa
mengubah taqdir yang telah digariskan kepada kita.
2) Syirik Amali, yaitu setiap amalan fisik yang
dinilai oleh syariat sebagai kemusyrikan, seperti menyembelih untuk selain
Allah.
3) Syrik Lafdzi, yaitu setiap lafadz yang
dihukumi syariat sebagai kemusyrikan seperti bersumpah dengan selain nama
Allah, atau seperti perkataan seseorang : “Kalau bukan karena Allah dan si
fulan tentu hal ini tidak akan bengini dan begitu”.
2. Riddah
Riddah artinya keluar dari ajaran Islam,
pelakunya disebut murtad. Bagi setiap muslim wajib menjaga keislamannya dan
memeliharanya dari hal-hal yang merusak, membatalkan, dan memutuskan
keislamanya.
Riddah ada tiga macam, yaitu :
1. Riddah
I’tiqodi,
yaitu murtad yang dilakukan oleh hati.
Contoh : meragukan adanya Allah, surga, neraka,
dan lain-lain yang harus diyakini dan imani oleh setiap muslim. Contoh lainnya
: Mengakui adanya Nabi setelah Nabi Muhammad, Menghalalkan segala sesuatu yang
telah diharamkan syariat atau sebaliknya, menganggap tidak ada salah satu huruf
dari Alquran padahal para ulama telah sepakat tentang keberadaan hurup
tersebut, dan lain-lain.
2. Riddah Fi’li, yaitu murtad
karena perbuatan yang bertentangan dengan ajaran Islam.
Contoh : bersujud kepada patung (walaupun
bergurau), melakukan peraktek ibadah agama lain dan sebagainya. Bahkan
memerankan tokoh kafir dengan melakukan adegan ritual dalam sebuah film walau
hanya sekedar tuntutan skenario.
3. Riddah Qouli, yaitu murtad
yang disebabkan oleh ucapan (walaupun hanya sekedar bercanda dan tidak masuk
hati).
Yang termasuk contoh murtad ucapan sangat
banyak oleh karena itu kita harus hati-hati jangan sampai mengucapkan kata-kata
yang menyebabkan kita keluar dari Islam . Diantaranya adalah :
v Menghina
sesuatu yang dimulyakan Allah, seperti : malaikat, Nabi, dsb
v Mempermainkan
ajaran Islam walaupun tidak sampai ke hati.Seperti seseorang sambil bergurau
berkata : “ buat apa shalat, shalat itu hanya menghambur-hambur waktu saja”.
Atau berkata : “ Mengapa kita harus mempercayai Al Quran, bukankah Al Qur’an
itu omongan bohong Muhammad ?. Dsb.
v Mencemoohkan
atau berolok-olok mempergunakan ayat-ayat Al Qur’an walaupun tidak sampai ke
hati. Seperti : Ketika Khotib berkata “Ya Ayyuhan Nas “ kemudian kita
berkata : “Aya Iyuh Aya Panas”. Contoh Lain, Ketika ada seseorang yang kentut
dengan suara yang nyaring kemudian kita berkata : “ Wah..! kentutnya segede
‘alaihim”. Atau ketika kita melihat orang yang menimbang kemudian kita berkata
dengan maksud berolok-olok : “waidza kaaluhum au wazaanuhum yukhsiruun. Dan
Masih banyak lagi contoh yang lainnya.
Kata-kata contoh di atas memang ringan
diucapkannya tapi kata-kata tersebut bisa menyebabkan kita keluar dari ajaran
Islam (murtad), walaupun mengucapkannya tidak sampai ke hati.
D.
Nilai
Pendidikan Keimanan dalam Al-Qur’an
lidah Iman adalah kepercayaan yang terhujam
kedalam hati dengan
penuh keyakinan, tak ada perasaan syak (ragu-ragu) serta mempengaruhi
orientasi kehidupan, sikap dan aktivitas keseharian.
penuh keyakinan, tak ada perasaan syak (ragu-ragu) serta mempengaruhi
orientasi kehidupan, sikap dan aktivitas keseharian.
Al Ghazali mengatakan iman adalah
megucapkan dengan lidah, mengakui benarnya dengan hati dan mengamalkan dengan
anggota badan.
Pendidikan keimanan termasuk aspek pendidikan yang patut mendapat perhatian yang pertama dan utama dari orang tua. Memberikan
pendidikan ini pada anak merupakan sebuah keharusan yang tidak boleh
ditinggalkan. Pasalnya iman merupakan pilar yang mendasari keislamanseseorang.
Pembentukan iman harus diberikan pada anak sejak kecil, sejalandengan pertumbuhan kepribadiannya. Nilai-nilai keimanan harus mulaidiperkenalkan ada anak dengan cara :
Pendidikan keimanan termasuk aspek pendidikan yang patut mendapat perhatian yang pertama dan utama dari orang tua. Memberikan
pendidikan ini pada anak merupakan sebuah keharusan yang tidak boleh
ditinggalkan. Pasalnya iman merupakan pilar yang mendasari keislamanseseorang.
Pembentukan iman harus diberikan pada anak sejak kecil, sejalandengan pertumbuhan kepribadiannya. Nilai-nilai keimanan harus mulaidiperkenalkan ada anak dengan cara :
a)
memperkenalkan nama Allah SWT dan Rasul-Nya
b)
memberikan gambaran tentang siapa pencipta alam
raya ini melalui
kisah-kisah teladan
kisah-kisah teladan
c)
memperkenalkan ke-Maha-Agungan Allah SWT .
Rasulullah SAW.
adalah orang yang menjadi suri tauladan
(Uswatun Hasanah) bagi umatnya, baik sebagai pemimpin maupun orang
tua. Beliau mengajarkan pada umatnya bagaimana menanamkan nilai-nilai
keimanan pada anak-anaknya. Ada lima pola dasar pembinaan iman
(Aqidah) yang harus diberikan pada anak, yaitu membacakan kalimat
tauhid pada anak, menanamkan kecintaan kepada Allah SWT dan Rasul-
Nya, mengajarkan Al-Qur'an dan menanamkan nilai-nilai perjuangan dan
pengorbanan. Orang tua memiliki tanggung jawab mengajarkan Al-Qur'an pada anak-anaknya sejak kecil. Pengajaran Al-Qur'an mempunyai pengaruh
yang besar dalam menanamkan iman (aqidah) yang kuat bagi anak. Pada
saat pelajaran Al-Qur'an berlangsung secara bertahap mereka mulai
dikenalkan pada satu keyakinan bahwa Allah adalah Tuhan mereka dan
Al-Qur'an adalah firman-firman-Nya yang diturunkan pada Nabi
Muhammad SAW.
(Uswatun Hasanah) bagi umatnya, baik sebagai pemimpin maupun orang
tua. Beliau mengajarkan pada umatnya bagaimana menanamkan nilai-nilai
keimanan pada anak-anaknya. Ada lima pola dasar pembinaan iman
(Aqidah) yang harus diberikan pada anak, yaitu membacakan kalimat
tauhid pada anak, menanamkan kecintaan kepada Allah SWT dan Rasul-
Nya, mengajarkan Al-Qur'an dan menanamkan nilai-nilai perjuangan dan
pengorbanan. Orang tua memiliki tanggung jawab mengajarkan Al-Qur'an pada anak-anaknya sejak kecil. Pengajaran Al-Qur'an mempunyai pengaruh
yang besar dalam menanamkan iman (aqidah) yang kuat bagi anak. Pada
saat pelajaran Al-Qur'an berlangsung secara bertahap mereka mulai
dikenalkan pada satu keyakinan bahwa Allah adalah Tuhan mereka dan
Al-Qur'an adalah firman-firman-Nya yang diturunkan pada Nabi
Muhammad SAW.
Berkata
Al Hafidz As-Suyuthi, “pengajaran Al-Qur'an pada anak
merupakan dasar pendidikan Islam terutama yang harus diajarkan.
Ketika anak masih berjalan pada fitrahnya selaku manusia suci
tanpa dosa, merupakan lahan yang paling terbuka untuk mendapatkan cahaya hikmah yang terpendam dalam Al-Qur'an. sebelum hawa nafsu yang ada dalam diri anak mulai mempengaruhinya. Iman (aqidah) yang kuat dan tertanam dalam jiwa seseorang merupakan hal yang penting dalam perkembangan pendidikan anak. Salah satu yang bisa menguatkan aqidah adalah anak memiliki nilai pengorbanan dalam dirinya demi membela aqidah yang diyakini
kebenarannya. Semakin kuat nilai pengorbanannnya akan semakin kokoh
aqidah yang ia miliki.
merupakan dasar pendidikan Islam terutama yang harus diajarkan.
Ketika anak masih berjalan pada fitrahnya selaku manusia suci
tanpa dosa, merupakan lahan yang paling terbuka untuk mendapatkan cahaya hikmah yang terpendam dalam Al-Qur'an. sebelum hawa nafsu yang ada dalam diri anak mulai mempengaruhinya. Iman (aqidah) yang kuat dan tertanam dalam jiwa seseorang merupakan hal yang penting dalam perkembangan pendidikan anak. Salah satu yang bisa menguatkan aqidah adalah anak memiliki nilai pengorbanan dalam dirinya demi membela aqidah yang diyakini
kebenarannya. Semakin kuat nilai pengorbanannnya akan semakin kokoh
aqidah yang ia miliki.
Nilai
pendidikan keimanan pada anak merupakan landasan pokok
bagi kehidupan yang sesuai fitrahnya, karena manusia mempunyai sifat
dan kecenderungan untuk mengalami dan mempercayai adanya Tuhan.
Oleh karena itu penanaman keimanan pada anak harus diperhatikan dan
tidak boleh dilupakan bagi orang tua sebagai pendidik. Sebagaiman firman
Allah SWT dalam surat Ar Rum :
bagi kehidupan yang sesuai fitrahnya, karena manusia mempunyai sifat
dan kecenderungan untuk mengalami dan mempercayai adanya Tuhan.
Oleh karena itu penanaman keimanan pada anak harus diperhatikan dan
tidak boleh dilupakan bagi orang tua sebagai pendidik. Sebagaiman firman
Allah SWT dalam surat Ar Rum :
فاقم وجهك للدين حنيفا,
فطرة الله التي فطر الناس عليها, لا تبد يل لخلق
( الله ذالك الدين القيم ولكن اكثر الناس لا يعلمون (الروم : 30
“Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama
(Allah); (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan
manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan atas fitrah
Allah. (fitrah) agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia
tidak mengetahui” (QS. Ar-Rum : 30). Dengan fitrah manusia yang telah ditetapkan oleh Allah SWT sebagaimana dalam ayat diatas maka orang tua mempunyai kewajiban untuk memelihara fitrah dan mengembangkannya. Hal ini telah ditegaskan dalam sabda Nabi Muhammad SAW sebagai berikut :
Dari Abu Hurairah r.a. berkata : bahwasanya Rasulullah SAW
bersabda : “Tidaklah seseorang yang dilahirkan kecuali dalam
keadaan fitrah (suci dari kesalahan dan dosa), maka orang
tuanyalah yang menjadikannya Yahudi, Nasrani, dan Majusi.
(HR. Muslim).
( الله ذالك الدين القيم ولكن اكثر الناس لا يعلمون (الروم : 30
“Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama
(Allah); (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan
manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan atas fitrah
Allah. (fitrah) agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia
tidak mengetahui” (QS. Ar-Rum : 30). Dengan fitrah manusia yang telah ditetapkan oleh Allah SWT sebagaimana dalam ayat diatas maka orang tua mempunyai kewajiban untuk memelihara fitrah dan mengembangkannya. Hal ini telah ditegaskan dalam sabda Nabi Muhammad SAW sebagai berikut :
Dari Abu Hurairah r.a. berkata : bahwasanya Rasulullah SAW
bersabda : “Tidaklah seseorang yang dilahirkan kecuali dalam
keadaan fitrah (suci dari kesalahan dan dosa), maka orang
tuanyalah yang menjadikannya Yahudi, Nasrani, dan Majusi.
(HR. Muslim).
Melihat
ayat dan hadis diatas dapat diambil suatu pengertian
bahwa anak dilahirkan dalam keadaan fitrah dan perkembangan
selanjutnya tergantung pada orang tua dan pendidiknya, maka orang tua
wajib mengarahkan anaknya agar sesuai dengan fitrahnya. Nilai pendidikan keimanan termasuk aspek-aspek pendidikan yang patut mendapatkan perhatian pertama dan utama dari orang tua.
bahwa anak dilahirkan dalam keadaan fitrah dan perkembangan
selanjutnya tergantung pada orang tua dan pendidiknya, maka orang tua
wajib mengarahkan anaknya agar sesuai dengan fitrahnya. Nilai pendidikan keimanan termasuk aspek-aspek pendidikan yang patut mendapatkan perhatian pertama dan utama dari orang tua.
Memberikan
pendidikan ini kepada anak merupakan sebuah keharusan
yang tidak boleh ditinggalkan oleh orang tua dengan penuh kesungguhan.
Pasalnya iman merupakan pilar yang mendasari keIslaman seseorang.
Pembentukkan iman seharusnya diberikan kepada anak sejak
dalam kandungan, sejalan dengan pertumbuhan kepribadiannya. Berbagai
hasil pengamatan pakar kejiwaan menunjukkan bahwa janin di dalam
kandungan telah mendapat pengaruh dari keadaan sikap dan emosi ibu
yang mengandungya. Nilai-nilai keimanan yang diberikan sejak anak masih kecil, dapat mengenalkannya pada Tuhannya, bagaimana ia bersikap pada Tuhannya dan apa yang mesti diperbuat di dunia ini. Sebagaimana dikisahkan dalam al Qur’an tentang Luqmanul Hakim adalah orang yang diangkat Allah
sebagai contoh orang tua dalam mendidik anak, ia telah dibekali Allah
dengan keimanan dan sifat-sifat terpuji. Orang tua sekarang perlu
mencontoh Luqman dalam mendidik anaknya, karena ia sebagai contoh
baik bagi anak-anaknya. perbuatan yang baik akan ditiru oleh anakanaknya
begitu juga sebaliknya.
yang tidak boleh ditinggalkan oleh orang tua dengan penuh kesungguhan.
Pasalnya iman merupakan pilar yang mendasari keIslaman seseorang.
Pembentukkan iman seharusnya diberikan kepada anak sejak
dalam kandungan, sejalan dengan pertumbuhan kepribadiannya. Berbagai
hasil pengamatan pakar kejiwaan menunjukkan bahwa janin di dalam
kandungan telah mendapat pengaruh dari keadaan sikap dan emosi ibu
yang mengandungya. Nilai-nilai keimanan yang diberikan sejak anak masih kecil, dapat mengenalkannya pada Tuhannya, bagaimana ia bersikap pada Tuhannya dan apa yang mesti diperbuat di dunia ini. Sebagaimana dikisahkan dalam al Qur’an tentang Luqmanul Hakim adalah orang yang diangkat Allah
sebagai contoh orang tua dalam mendidik anak, ia telah dibekali Allah
dengan keimanan dan sifat-sifat terpuji. Orang tua sekarang perlu
mencontoh Luqman dalam mendidik anaknya, karena ia sebagai contoh
baik bagi anak-anaknya. perbuatan yang baik akan ditiru oleh anakanaknya
begitu juga sebaliknya.
Oleh
karena itu, pendidikan keimanan, harus dijadikan sebagai
salah satu pokok dari pendidikan kesalehan anak. Dengannya dapat
diharapkan bahwa kelak ia akan tumbuh dewasa menjadi insan yang
beriman kepada Allah SWT., melaksanakan segala perintah-Nya dan
menjauhi segala larangan-Nya. Dengan keimanan yang sejati bisa
membentengi dirinya dari berbuat dan berkebiasaan buruk.
salah satu pokok dari pendidikan kesalehan anak. Dengannya dapat
diharapkan bahwa kelak ia akan tumbuh dewasa menjadi insan yang
beriman kepada Allah SWT., melaksanakan segala perintah-Nya dan
menjauhi segala larangan-Nya. Dengan keimanan yang sejati bisa
membentengi dirinya dari berbuat dan berkebiasaan buruk.
E.
Kiat-Kiat
Meningkatkan Kadar Keimanan
Disamping keharusan melaksanakan ibadah wajib
dan memperbanyak ibadah sunnah, berikut adalah kiat2 untuk menaikkan kadar
keimanan :
1)
Pelajarilah Berbagai Ilmu Agama Islam Yang
Bersumber Pada Al-Quran Dan Hadits
a)
Perbanyaklah membaca Al-Qur'an dan renungkan
maknanya
Ayat-ayat
Al-Qur'an memiliki target yang luas dan spesifik sesuai kebutuhan masing-masing
orang yang sedang mencari atau memuliakan Tuhannya. Sebagian ayat Al-Qur'an
mampu menggetarkan kulit seseorang yang sedang mencari kemuliaan Allah, dilain
pihak Al-Qur'an mampu membuat menangis seorang pendosa, atau membuat tenang
seorang pencari ketenangan.
"Ini
adalah sebuah kitab yang Kami turunkan kepadamu penuh dengan berkah supaya
mereka memperhatikan ayat-ayatnya dan supaya mendapat pelajaran orang-orang
yang mempunyai pikiran." (QS, Shaad 38:29)
"Dan Kami
turunkan dari Al Qur'an suatu yang menjadi penawar dan rahmat bagi orang-orang
yang beriman dan Al Qur'an itu tidaklah menambah kepada orang-orang yang lalim
selain kerugian." (QS, al-Israa' 17:82)
b)
Pelajarilah ilmu mengenai Asma'ul Husna,
Sifat-sifat Yang Maha Agung.
Bila seseorang
memahami sifat Allah yang Maha Mendengar, Maha Melihat dan Maha Mengetahui,
maka ia akan menahan lidahnya, anggota tubuhnya dan gerakan hatinya dari apapun
yang tidak disukai Allah.
Bila seseorang
memahami sifat Allah yang Maha Indah, Maha Agung dan Maha Perkasa, maka semakin
besarlah keinginannya untuk bertemu Allah di hari akhirat sehingga iapun secara
cermat memenuhi berbagai persyaratan yang diminta Allah untuk bisa bertemu
dengan-Nya (yaitu dengan memperbanyak amal ibadah).
Bila seseorang
memahami sifat Allah yang Maha Santun, Maha Halus dan Maha Penyabar, maka iapun
merasa malu ketika ia marah, dan hidupnya merasa tenang karena tahu bahwa ia
dijaga oleh Tuhannya secara lembut dan sabar.
c)
Pelajari dengan cermat sejarah (Siroh)
kehidupan Rasulullah SAW.
Dengan memahami
perilaku, keagungan dan perjuangan Rasulullah, akan menumbuhkan rasa cinta kita
terhadapnya, kemudian berkembang menjadi keinginan untuk mencontoh semua
perilaku beliau dan mematuhi pesan-pesan beliau selaku utusan Allah.
Seorang sahabat
r.a. mendatangi Rasulullah saw dan bertanya, "Wahai Rasul Allah, kapan
tibanya hari akhirat?". Rasulullah saw balik bertanya : "Apakah yang
telah engkau persiapkan untuk menghadapi hari akhirat?". Si sahabat
menjawab , "Wahai Rasulullah, aku telah sholat, puasa dan bersedekah
selama ini, tetap saja rasanya semua itu belum cukup. Namun di dalam hati, aku
sangat mencintai dirimu, ya Rasulullah". Rasulullah saw menjawab,
"Insya Allah, di akhirat kelak engkau akan bersama orang yang engkau
cintai". (HR Muslim) RYI
Inilah hadits
yang sangat disukai para sahabat Rasulullah SAW. Jelaslah bahwa mencintai
Rasulullah adalah salah satu jalan menuju surga, dan membaca riwayat hidupnya
(siroh) adalah cara terpenting untuk lebih mudah memahami dan mencintai
Rasulullah SAW.
d)
Mempelajari Jasa-jasa dan Kualitas Agama Islam
Perenungan
terhadap syariat Islam, hukum-hukumnya, akhlak yang diajarkannya, perintah dan
larangannya, akan menimbulkan kekaguman terhadap kesempurnaan ajaran agama
Islam ini. Tidak ada agama lain yang memiliki aturan dan etiket yang sedemikian
rincinya seperti Islam, dimana untuk makan dan ke WC pun ada adabnya, untuk
aspek hukum dan ekonomi ada aturannya, bahkan untuk berhubungan suami -istripun
ada aturannya.
e)
Mempelajari Kehidupan Orang-orang Sholeh
(generasi Shalafus Sholihin, para sahabat Rasulullah SAW, murid-murid para
sahabat, tabi'in dan tabi'it tabi'in)
Mereka adalah
generasi-generasi terbaik dari Islam. Mereka adalah orang-orang yang kadar
keimanannya diibaratkan sebesar gunung Uhud sementara manusia zaman kini
diibaratkan kadar keimananya tak lebih dari sebutir debu dari gunung Uhud. Umar
r.a. pernah memuntahkan makanan yang sudah masuk ke perutnya ketika tahu bahwa
makanan yang diberikan padanya kurang halal sumbernya. Sejarah lain
menceritakan tentang lumrahnya seorang tabi'in meng-khatamkan Qur'an dalam satu
kali sholatnya. Atau cerita tentang seorang sholeh yang lebih dari 40 tahun hidupnya
berturut-turut tidak pernah sholat wajib sendiri kecuali berjamaah di mesjid.
Atau seorang sholeh yang menangis karena lupa mengucap doa ketika masuk mesjid.
Inilah cerita-cerita teladan yang mampu menggetarkan hati seorang yang sedang
meningkatkan keimanannnya.
2)
Renungkanlah Tanda-Tanda Kebesaran Allah Yang
Ada Di Alam (Ma'rifatullah)
Singkirkan dulu
kesombongan akal kita, renungkan secara tulus bagaimana alam ini diciptakan.
Sungguh pasti ada kekuatan luar biasa yang mampu menciptakan alam yang sempurna
ini, sebuah struktur dan sistem kehidupan yang rapi, mulai dari tata surya,
galaksi hingga struktur pohon dan sel-sel atom.
Renungkan pula
rahasia dan mukjizat Qur'an. Salah satu keajaiban Al Qur'an adalah struktur
matematis Al Qur'an. Walau wahyu Allah diturunkan bertahap namun ketika seluruh
wahyu lengkap maka ditemukan bahwa kata tunggal "hari" disebut
sebanyak 365 kali, sebanyak jumlah hari pada satu tahun syamsiyyah (masehi).
Kata jamak hari disebut sebanyak 30 kali, sama dengan jumlah hari dalam satu
bulan. Sedang kata Syahrun (bulan) dalam Al Quran disebut sebanyak 12 kali sama
dengan jumlah bulan dalam satu tahun. Kata Saa'ah (jam) disebutkan sebanyak 24
kali sama dengan jumlah jam sehari semalam. Dan semua kata-kata itu tersebar di
114 surat dan 6666 ayat dan ratusan ribu kata yang tersusun indah. Dan masih
banyak lagi keajaiban dan mukjizat Al Quran dari sisi pandang lainnya yang
membuktikan bahwa itu bukan karya manusia. Masih banyak pula mukjizat lainnya
di alam ini yang membuktikan bahwa alam ini memiliki struktur yang sangat
sempurna dan tidak mungkin tercipta dengan sendirinya. Adalah lumrah, bahwa
sesuatu yang tidak mungkin diciptakan manusia, pastilah diciptakan sesuatu yang
Maha Kuasa, Maha Besar. Inilah yang menambah kecilnya diri kita dan menambah
kekaguman dan cinta serta iman kita kepada Sang Pencipta alam semesta ini.
3)
Carilah Lingkungan / Teman Yang Baik
Seperti yang
telah disampaikan sebelumnya, bahwa kita harus menjauhi lingkungan/teman yang
membawa pengaruh buruk. Karena lingkungan sangat berperan dalam membangun
karakter manusia.
Dan (ingatlah)
hari (ketika itu) orang yang zalim menggigit dua tangannya (karena menyesal),
seraya berkata: "Aduhai kiranya (dulu) aku mengambil jalan bersama-sama
Rasul. Kecelakaan besarlah bagiku; kiranya aku (dulu) tidak menjadikan si fulan
[*] itu teman akrab(ku). Sesungguhnya dia telah menyesatkan aku dari Al Quran
ketika Al Quran itu telah datang kepadaku. Dan adalah syaitan itu tidak mau
menolong manusia. "
(Qs. Al-Furqan
25: 27-29)
[*] Yang
dimaksud dengan si Fulan, ialah syaitan atau orang yang telah menyesatkannya di
dunia.
Oleh karena
itu, carilah teman dan bergabunglah dengan lingkungan yang baik.
“Dan
bersabarlah kamu bersama-sama dengan orang-orang yang menyeru Tuhannya di pagi
dan senja hari dengan mengharap keridhaan-Nya; dan janganlah kedua matamu
berpaling dari mereka (karena) mengharapkan perhiasan dunia ini; dan janganlah
kamu mengikuti orang yang hatinya telah Kami lalaikan dari mengingati Kami,
serta menuruti hawa nafsunya dan adalah keadaannya itu melewati batas”. (Qs.
Al-Kahfi 18:28)
Seorang teman
yang sholeh selalu memperhatikan perintah dan larangan Allah, karenanya ia
selalu mengajak siapa saja orang disekitarnya untuk menuju kepada kebaikan dan
mengingatkan mereka bila mendekati kemungkaran. Teman dan sahabat yang sholeh
sangat penting kita miliki di zaman kini dimana pergaulan manusia sudah sangat
bebas dan tidak lagi memperhatikan nilai-nilai agama Islam. Berada diantara
teman-teman yang sholeh akan membuat seorang wanita tidak merasa asing bila
mengenakan jilbab. Demikian pula seorang pria bisa merasa bersalah bila ia
membicarakan aurat wanita diantara orang-orang sholeh.
4)
Berusaha Keras Melakukan Amal Perbuatan Yang
Baik Secara Ikhlas
Amal perbuatan
perlu digerakkan. Dimulai dari hati, kemudian terungkap melalui lidah kita dan
kemudian anggota tubuh kita. Selain ikhlas, diperlukan usaha dan keseriusan
untuk melakukan amalan-amalan ini.
a. Amalan Hati
Dilakukan
melalui pembersihan hati kita dari sifat-sifat buruk, selalu menjaga kesucian
hati. Ciptakan sifat-sifat sabar dan tawakal, penuh takut dan harap akan Allah.
Jauhi sifat tamak, kikir, prasangka buruk dan sebagainya.
b. Amalan Lidah
Perbanyak
membaca Al-Qur'an, zikir, bertasbih, tahlil, takbir, istighfar, mengirim salam
dan sholawat kepada Rasulullah dan mengajak orang lain kepada kebaikan,
melarang kemungkaran.
c. Amalan
Anggota Tubuh
Dilakukan
melalui kepatuhan dalam sholat, pengorbanan untuk bersedekah, perjuangan untuk
berhaji hingga disiplin untuk sholat berjamaah di mesjid (khususnya bagi pria).
Menaikkan kadar
iman bukanlah suatu pekerjaan mudah, karena begitu banyak usaha (menuntut ilmu,
amalan-amalan) yang harus kita lakukan disamping godaan (syaitan, duniawi) yang
akan kita hadapi. Paling tidak kita termasuk orang-orang yang lebih beruntung
dibanding orang lain yang belum sempat mengetahui "sebab-sebab
naik-turunnya iman" dalam tulisan ini. Mari kita ingatkan teman-teman kita
dengan menyebarkan tulisan ini.
BAB III
PENUTUP
A.
Kesimpulan
Dari pembahasan
di atas dapat disimpulkan bahwa Keimanan yang ada pada kita harus senantiasa
dipupuk dan dijaga dari segala hal yang dapat merusak kemurnian keimanan kita.
Setidaknya ada dua hal yang harus kita waspadai sebagai perusak kemurnian
keimanan kita yaitu syirik dan riddah, Walaupun perpindahan agama sebagai salah
satu contoh perbuatan riddah adalah bagian dari hak asasi manusia tetapi dalam
Islam hal itu termasuk ke dalam kejahatan besar yang hukuman maksimalnya adalah
diperangi (dibunuh).
Kembali kepada
Al Qura’an dan sunnah adalah salah satu upaya yang harus kita lakukan dalam
rangka menangkal terjadinya perbuatan syirik dan riddah pada kita. Sehingga
jika kemurnian keimanan kita telah terjaga dengan baik maka insya Allah para
pemilik kemurnian keimanan ini akan masuk surge tanpa perhitungan terlebih
dahulu.