ASAL USUL TASAWUF


Banyak kalangan memprediksikan bahwa manusia modern akan selalu kesulitan untuk keluar dari banyak masalah yang menghimpitnya. Dalam terapi alternative, meski banyak pula ahli kedokteran mengatakan satu-satunya cara untuk mengatasi hal tersebut adalah dengan mengembalikan semuanya pada agama. Tentunya hal tersebut bisa dipertanggung jawabkan secara medis. Karna selalu dalam tiap konseling seorang psikiater akan menyarankan seorang pasien untuk menyerahkan semuanya pada agama, Tuhan dalam hal ini.

Dalam kaitannya dengan agama, anjuran untuk selalu memasrahkan diri kepada Allah, meninggalkan segala sesuatu yang berhubungan dengan hiruk pikuk dunia serta berupaya menjadi “insan kamil”  menjadi bahasan utama dalam bidang tasawuf.
            Apa itu tasawuf, apa hubungannya dengan agama, dan kenapa ia menjadi sedemikian pentingnya untuk dipahami bahkan diamalkan setiap ajarannya dalam kehidupan manusia sehari-hari. Pemakalah mencoba mendiskripsikannya dalam sebuah tulisan kecil.
Pengertian
Ditemukan banyak akar kata yang menjadi pijakan para ahli dalam upaya mendevinisikan kata tasawuf. Secara bahasa akar kata tersebut sebagian dirincikan sebagai berikut : pertama tasawuf berasal dari kata shofatu al-masjid, yang berarti serambi masjid, kata ini dihubungkan dengan kehidupan para sahabat nabi yang pada zamannya selalu menempati serambi masjid, sepanjang akhir hidupnya kelompok yang dikenal dengan ahl ash shuffah menghabiskan waktu diserambi masjid dan beribadat kepada Allah SWT, berdakwah dan berjuang dijalanNya[1]. Yang kedua kata tasawuf diambil dari  kata Ashshofa’ yang berarti bersih dan murni. Yang ketiga ia berasal dari kata Shuf  yang berrti kain wol yang kasar, hal demikian kemudiaan mengidentikkan bahwa seorang ahli tasawuf (biasa disebut sufi) adalah mereka yang hidup dalam kesederhanaan dan memakai pola hidup yang jauh dari kesan mewah dan mengejar keduniawian.[2] Kelompok lain ada yang mengartikan dengan mengaitkan kata shaff yang berarti barisan. Ini mempunyai arti bahwa  ahli sufi yaitu mereka yang selalu berada dalam barisan terdepan dalam mencari keridhoan allah SWT. Sedangkan yang terakhir mengaitkan bahasa tasawuf dengan kata sophos  yang dalam bahasa Yunani berarti hikmah atau keutamaan. Yang mempunyai pengertian bahwa para ahli sufi adalah mereka kelompok orang yang selalu mencari hikmah dan keutamaan.
Dari banyaknya kata diatas yang dikaitkan dengan kata tasawuf, tentunya agak sukar pula mencari kata yang tepat untuk kemudian menjadi sebuah definisi dari kata tasawuf. sekelompok ahli berupaya mendefinisikan bahwa tasawuf adalah pengalaman spiritual seseorang yang ada hubungannya dengan agama, ia bersifat intuitif subjektif yang berarti seseorang bisa saja berbeda dengan yang lainnya dalam masalah pengalaman ini.
Banyak tokoh yang berupaya mengartikan sendiri makna yang berkenaan dengan tasawuf, namun yang paling bijak mungkin kita akan mendefinisikannya sebagai berikut : Tasawuf adalah memilih jalan hidup secara zuhud, menjauhkan diri dari perhiasan hidup dalam segala bentuknya. Ia berarti terus beribadat kepada Allah, melemahkan jasmani dengan maksud menguatkan ruhani dan kepekaan terhadap Allah SWT. Dengan mempunyai cita-cita tertinggi yaitu hakikat.
Definisi diatas tidaklah kemudian mencakup seluruh maksud kata tasawuf. Sedemikian rumitnya bahasa tasawuf dikarenakan banyaknya bahasan berupa amalan dan ajaran dalam tasawuf.

Asal-usul
            Tasawuf pada dasarnya berdasarkan kepada ajaran nabi Muhammad SAW serta perilaku beliau yang kemudian diikuti oleh para sahabat dalam kehidupan sehari-hari mereka. Namun tasawuf menjadi sedemikian terkonsep rapi dengan bermacam-macam ajaran didalamnya di identifikasikan semenjak abad kedua Hijriah dengan para tokoh didalamnya.
            Pada zaman sebelum Islam sendiri, di tanah Arab sudah banyak tradisi berupa upaya menjauhkan kehidupan yang selalu menuruti keinginan syahwat/hawa nafsu kepada kehidupan yang tenang dan jauh dari keramaian. Dengan bahasa lain mengasingkan diri atau khalwat. Ini terbukti dengan khalwat Muhammad sebelum beliau diangkat sebagai nabi.
            Unsur lain yang menyebabkan adanya tasawuf Islam adalah, filsafat Yunani, yaitu pada akhir dari daulah Umayah dan awal daulah Abbasiyah dalam pemerintahan Islam. Seolah-olah ada semacam sinkretisme ajaran yang berawal dari satu hal yang sama yaitu pencarian terhadap kebenaran dan kebijaksanaan. Sebuah upaya dari filsafat dan tasawuf.
Meski banyak spekulasi tentang unsur lain seperti pengaruh dari Persia, kesamaan ajaran Zarathusta dan sebagainya. Namun tetap diyakini bahwa asal-usul dari tasawuf adalah agama Islam sendiri dengan ajaran Al-Qur’an dan as-Sunnah.

Perkembangan
Term tasawuf dikenal secara luas dikawasan Islam sejak pengujung abad kedua Hijriah, sebagai perkembangan lanjutan dari kesalehan asketis atau para zahid yang mengelompok diserambi Masjid Madinah, diatas kita sebut ahlu ash shuffah. Kelompok ini menjadi awal pertumbuhan tasawuf, dikenal dengan fase asketisme, fase pertama bagi pertumbuhan tasawuf yang kemudian berkembang dengan pesatnya. Fase ini bertahan sampai abad kedua hijriah, yang kemudian dilanjutkan dengan fase kedua tepatnya pada awal abad ketiga hijriah yaitu fase sufisme, kalau pada fase pertama sebutan bagi para ahli tasawuf adalah zahid karena keidentikannya dengan kezuhudan, maka pada fase kedua ini beralih dari sebutan zahid kepada sebutan sufi. Pada fase kedua ini, seorang sufi sudah memikirkan tentang persoalan-persoalan jiwa, moral dan bagaimana metode pembinaannya serta banyak lagi masalah teoritis lainnya.[3] Dibincangkan juga masalah al-maqomat atau jenjang yang harus ditempuh sufi, serta al-hal yaitu keadaan-keadaan seorang sufi.
Mereka para sufi yang termasuk dalam fase abad pertama dan kedua ini adalah :
1.      Hasan al-Bashri (21-110 H)
Beliau adalah tabi’in yang kehidupannya persis seperti para sahabat. Mempunyai konsep zuhud, khauf- raja. Kepribadian yang selalu mengajarkan hudzun dan al-baqa.
2.      Rabi’ah al-Adawiah (96-185 H)
Lahir di Bashrah pada tahun 95 H konsep yang dimilikinya adalah Hubb (cinta) kepada Allah.
3.      Sofyan Tsauri (97-161 H)
Seorang ahli hadis yang pernah berguru kepada Hasan Bashri.
Ketiga orang ini seolah-olah sudah mewakili beberapa banyak para tabi’in lain dari golongan sufi. Sebagian yang lain itu seperti : Rabi’ bin Haitam, Jabir bin hayyan, Kulaib Ash-Shidawi, Mansur bin ‘Ammar, Abduk semua ini berpusat dikota Kuffah. Kemudian Malik bin Dinar, Al Fadl al- ragasysyi, saleh bin Basyr al-Murni yang kesemuanya di Bashrah. Disamping hal tadi, lahir pula kelompok yang dimotori oleh Dzun nun almishri(w. 245 H) dengan konsep lain mengenai metodologi spiritual menuju Tuhan al-Maqomat yang secara parallel berjalan bersama teori al-hal yang bersifat psiko-gnostik. Yazid al-Busthami (w. 260 H) melangkah lebih maju dengan doktrin al-ittihad melalui al-fana, yakni beralihnya sifat kemanusiaan seseorang kedalam sifat ke-ilahian sehingga terjadi penyatuan manusia dengan Tuhan.
Sejak munculnya doktrin fana dan ittihad, terjadilah pergeseran tujuan akhir dari tasawuf. Yang tadinya hanya untuk mencintai dan dekat denganNya maka ketika masa ini sudah naik ketingkat penyatuan diri dengan Tuhan.
Jika dilihat dari sisi ilmu pengetahuan, periode ini dimana sudah terjadi konflik antara pemikiran yang berbasis teologi fikih dengan pemikiran tasawuf seperti diatas, maka  fase ini adalah fase ketiga yang ditandai dengan mulainya unsur-unsur dilluar Islam berakulturasi dengan tasawuf. Terlihat agak rumit memang karena perpaduan ini mulai muncul pula ketegangan kaum orthodox dengan kaum sufi berpaham ittihad dipihak lain.
Ditengah perbenturan tersebut lahirlah konsep yang ditawarkan al-Karraj (w. 277 H) bersama al-Junaid (w. 297 H) menawarkan konsep-konsep tasawuf yang kompromistis antara sufisme dan ortodoksi. Yang bertujuan untuk menjebatani antara ketegangan tadi. Berlanjut terus dengan banyaknya sambutan melalui tulisan-tulisan seperti al-Qusyairi dengan ar-risalah. Setelah ini maka tampil Ibnu Massaroh (w.381 H) dengan memadukan konsep tasawuf dengan neo-platonisme. Al-ghazali tokoh ortodhox yang monumental pada abad kelima hijriah yang menghujat habis kehidupan para sufi. Lahir pula Suhrawardi al-maqtul dengan konsep Hikmatul Isyraqiyah sebagai lanjutan dari konsep Ibnu Massaroh.
Pada puncaknya abad keenam Hijriah lahir konsep Wihdatul Wujud yang dibawa oleh Ibnu Arabi( w. 638 H), konsepnya sama persis dengan filsafat. Penyatuan diri dengan Tuhan ia menjelaskan hiubungan fenomena alam semesta yang pluralistic dengan Tuhan sebagai prinsip keesaan yang melandasinya. Meski banyak sekali hujatan bahkan pengkafiran terhadap dirinya, namun konsepnya terus berkembang, pada abad ketujuh Hijriah, lewat penyair Mesir Ibn al-faridh, Ibn Saba’in di Andalusia serta penyair Persia Jalaluddin Rumi.

Perkembangan di Indonesia
Di Indonesia sendiri berbicara tasawuf sama perrsis dengan kedatangan Islam sendiri di nusantara ini. Namun untuk memastikan, bahwa para tokoh tasawuf nusantara adalah :
1.      Hamzah Fansuri
Lahir di Barus, ia hidup pada masa kekuasaan Sulthan Alaudin Ri’ayat Syah di Aceh pada penghujung abad ke XVI (th. 1588-1604 M). dan ia juga sering disebut sezaman dengan Syamsuddin (w.1630 M). kita mengenalnya dari literatur Barat yang banyak mengatakan bahwa dia adalah seorang penulis Aceh yang mysticism yang erotis dari syair-syair Persia, pengaruh Ibn Arabi, al-Jilli dan pemikiran Yazid al-Busthami.
2.      Abdur rauf Singkel
Beliau lahir di Fansur pada tahun 1620 M dan meninggal di Kuala pada tahun 1693 M. beliau adalah ulama besar bermadzhab Syafi’I serta pendiri thariqat.
3.      Syamsuddin Pasai
4.      Syekh Burhanuddin
5.      Nuruddin Arraniri
6.      Walisongo.
Di Indonesia sendiri sebenarnya paham tasawuf ini beralih pada ajaran thariqat yang diajarkan para Mursyid. Ia mengajarkan amalan-amalan yang sama persis ditemukan pada konsep-konsep tasawuf dari ulama-ulama terdahulu yang sebelumnya kita bahas.
Demikian pembahasan singkat mengenai tasawuf dan sesuatu yang mengelilinginya. Wallahu a’lam.





[1] Pengantar Ilmu tasawuf, proyek pembinaan perguruan tinggi agama Islam IAIN, Jakarta 1982
[2] Rivay siregar, Tasawuf, Dari Sufisme Klasik ke Neo Sufisme, raja Grafindo, Jakarta 2002
[3] Ibid, h. 37

Related Posts

Subscribe Our Newsletter