SESAK NAFAS DAN GATAL PADA KULIT
Seorang
wanita 26 th, dating ke UGD RS tempat anda bekerja. Mengeluhkan sesak nafas. 1
jam sebelumnya pasien makan siang dengan lauk seafood. Setelah makan siang
pasien merasakan rasa panas pada kulit, gatal-gatal, sesak nafas, merasakan ada
pembengkakan pada tenggorokan. Pada saat pemeriksaan pasien terlihat
disorientasi dan keluar keringat dingin, tanda vital : RR = 32x/m, Nadi
=108x/m, Tensi = 100/80 mmHg, Pada pemeriksaan fisik ditemukan lesi urtikaria
pada, terdapat stridot inspirasi, pemeriksaan lainya dalam batas normal. Pasien
akhirnya diberikan obat untuk mengatasi keluhanya. Setelah kondisi pasien
membaik akhirnya diijinkan pulang dan diberi sran cara mencegah terjadinya
alergi.
Step I KLASIFIKASI
ISTILAH
1.
Lesi Urtikaria
Lesi
Urtikaria ialah reaksi vaskular di kulit akibat bermacam-macam sebab, biasanya
ditandai dengan edema setempat yang cepat timbul dan menghilang perlahan-lahan,
berwarna pucat dan kemerahan, meninggi di permukaan kulit, Keluhan subyektif biasanya
gatal, rasa tersengat atau tertusuk.
2.
Stridor Inspirasi
adalah
kelainan kongenital yang terjadi akibat kurang berkembangnya kartilago yang
menyokong struktur supraglotis. Kelainan kongenital laring pada laringomalasia
kemungkinan merupakan akibat kelainan genetik atau kelainan embrionik.
3.
Alergi
Alergi
merujuk pada reaksi berlebihan oleh sistim imun kita sebagai tanggapan pada
kontak badan dengan bahan-bahan asing tertentu. Berlebihan karena bahan-bahan
asing ini umumnya dipandang oleh tubuh sebagai sessuatu yang tidak membahayakan
dan tidak terjadi tanggapan pada orang-orang yang tidak alergi.
Step II PERUMUSAN MASALAH
1. Mengeluhkan
sesak nafas, gatal, dan panas, disorientasi dan keringat dingin, pada kulit,
pembengkakan tenggorokan, setelah makan seafood.
a. Pengertian
alergi
b. Mekanisme
alergi
c. Tipe-tipe
alergi
2. RR
32x/m, Nadi 108x/m, Tensi 100/80 mmHg.
3. Obat
Alergi
4. Cara
pencegahan alergi
Step III ANALISIS
MASALAH
1. a.
Pengertian Alergi
Adalah reaksi tak diinginkan
(kerusakan, ketidaknyamanan dan kadang-kadang fatal) akibat sistem imun normal. Antigen yang memicu
reaksi alergi dinamakan alergen.
Reaksi alergi digolongkan menjadi 4 macam yaitu
tipe I, tipe II, tipe II dan tipe IV .
didasarkan pada mekanisme dan waktu terjadinya
reaksi
b. Mekanisme Alergi (SB)
c. Tipe-tipe Alergi
n
hipersensitif segera = anafilaktik.
nMelibatkan
kulit (urtikaria dan eksema), mata
(konjungtivitis), nasofaring (rhinore, rhinitis), jaringan bronkhopulmoner (asthma) dan
saluran pencernaan (gastroenteritis).
nmenyebabkan
gejala minor sampai dengan kematian.
nmemerlukan
15-30 menit setelah terpapar antigen kadang lambat (10-12 jam).
ndiperantarai
oleh IgE.
nSel
primer yang terlibat adalah mast cell atau basofil.
nReaksi
dilipatgandakan oleh platelet, netrofil dan eosinofil.
nIkatan
IgE dengan mast cell dan basofil Ã
memicu pelepasan mediator farmakologik oleh sel.
nPengobatan
untuk alergi tipe I adalah dengan pemberian antihistamin.
Hipersensitifitas tipe II
n =
hipersensitifitas sitotoksik.
n melibatkan
berbagai organ dan jaringan.
n Antigen
biasanya endogen meskipun juga ada eksogen
n Contoh:
anemia hemolitik akibat obat-obatan, granulositopenia dan trombositopenia.
n Reaksi
terjadi dalam beberapa menit - beberapa jam.
n melibatkan
IgM atau IgG, komplemen, fagosit dan sel K.
n Lesi
mengandung antibodi, komplemen dan netrofil.
n Pengobatan:
anti inflamasi & imunosupresif.
Hipersensitifitas tipe III
n =
hipersensitifitas kompleks imun.
n Reaksi
biasanya sistemik atau melibatkan berbagai organ antara lain kulit (contoh: SLE/systemic lupus erythematosus), ginjal (contoh: lupus
nefritis), paru (aspergillosis), pembuluh darah (poliarteritis), sendi
(rheumatoid arthritis) serta organ lainnya.
n Reaksi
ini mungkin mekanisme patogenik penyakit akibat mikroorganisme.
n Reaksi
alergi terjadi 3-10 jam setelah terpapar oleh antigen.
n diperantarai
oleh kompleks imun yang larut.
n Mediator
terbanyak adalah IgG, meskipun IgM juga dapat terlibat.
n Antigen
dapat eksogen (infeksi kronik virus, bakteri atau parasit) dapat pula endogen
(autoimunitas spesifik non-organ misalnya SLE).
n Antigen
adalah larut dan tak terikat dengan organ yang terlibat.
n Komponen
utama adalah kompleks imun yang larut dan komplemen.
n Kerusakan
diakibatkan oleh platelet dan netrofil. Lesi mengandung netrofil dan endapan
kompleks imun dan komplemen. Infiltrasi makrofag pada tahap berikutnya mungkin
terlibat dalam proses penyembuhan.
n Pengobatan
alergi tipe III menggunakananti inflamasi.
2. Obat-Obat Alergi
(SB)
3. Cara pencegahan
(SB)
Step IV MAIN PROBLEM
Penatalaksanaan Alergi
Hipersensifitas
![]() |
Antibodi Syok Anafilaktik
Step V SASARAN BELAJAR
1.
Mekanisme Alergi
2.
Obat-Obatan Alergi
3. Cara
Pencegahan
Step VI BELAJAR MANDIRI
Step VII HASIL DISKUSI
1.
Mekanisme Alergi
Dalam sistem kekebalan yang berfungsi
dengan benar, sel-sel limfosit B dan limfosit T bertanggung jawab untuk
mendeteksi penyerang dan menghasilkan antibodi untuk melawannya. saat sel B
bertemu dengan sesuatu yang dianggapnya asing bagi tubuh-seperti bakteri,
virus, dll-sel tersebut berubah menjadi sel plasma dan menghasilkan antibodi
dalam jumlah besar. antibodi bersifat spesifik terhadap antigen tersebut dan
menetralkan agen asing atau menghancurkannya. sel-sel pembantu-T (T-helper
cell) terlibat dalam respon ini. sel pembantu TH-1 meningkatkan kemampuan
sistem kekebalan dalam respon infeksi atau luka. sel pembantu TH-2 meningkatkan
produksi antibodi dengan melepas faktor pertumbuhan yang meningkatkan produksi
antibodi. saat sel-sel pembantu-T ini bereaksi terlalu berlebihan, mereka
menghasilkan sistem kekebalan yang serupa dengan “serangan teman”. mereka tidak
lagi dapat membedakan antara lawan atau kawan sehingga malah menghancurkan
sel-sel yang merupakan dirinya sendiri.
reaksi alergi berkaitan dengan respon
yang berlebihan atau hiperaktif ini. sistem kekebalan dari orang yang mengalami
alergi bereaksi secara defensif saat alergen tertentu hadir, menghasilkan suatu
kelas khusus antibodi yang disebut imunoglobulin E (IgE) dalam jumlah banyak.
beberapa antibodi IgE yang berbeda dihasilkan bagi setiap jenis alergen, entah
itu berupa lateks, bulu hewan peliharaan, dan serbuk sari pohon.
molekul-molekul IgE bersifat spesifik terhadap alergen awal dan dapat langsung
berikatan dengan alergen yang menyebabkan dihasilkannya IgE.
molekul-molekul IgE yang bereaksi
hanya dengan alergen tertentu ini berkelana di dalam darah dan menempel pada
reseptor atau “lokasi penerima” di permukaan mast cell-sel yang ditemukan pada
banyak jaringan tubuh, yang membentuk dan melepaskan histamin, yakni suatu zat
kimia yang menyebabkan gejala klasik dari mata berair, bersin-bersin,
bentol-bentol, atau biduran. setelah menempel pada permukaan sel mast, IgE
dapat bertahan selama berminggu-minggu atau bahkan berbulan-bulan dan selalu
siap menempel pada alergen awal yang memicu pembentukkannya. saat alergen
tersebut masuk kembali ke dalam tubuh pada kesempatan berikutnya, jalur alergi
pun dimulai dan berakibat pada pelepasan kembali histamin dari sel mast.
gejala-gejala alergi dapat terjadi dalam waktu beberapa menit saja atau sampau
waktu jam dari saat terkena alergen.
2.
Obat-obatan Alergi
Obat-obatan
Antihistamin dapat dipakai Chlortrimetan 2 – 4 mg/ hari atau antihistamin lain, obat-obatan golongan adrenergik/ epinephrin 1/1000 0,3 cc/subkutan : bila timbul reaksi anafilaktik. Dapat diberi Kortikosteroid, Prednison 5 mg 3 x 1 – 2 tablet/hari, kemudian dosis diturunkan.
Antihistamin dapat dipakai Chlortrimetan 2 – 4 mg/ hari atau antihistamin lain, obat-obatan golongan adrenergik/ epinephrin 1/1000 0,3 cc/subkutan : bila timbul reaksi anafilaktik. Dapat diberi Kortikosteroid, Prednison 5 mg 3 x 1 – 2 tablet/hari, kemudian dosis diturunkan.
3. Cara
Pencegahan
·
Hindari pemicu
seperti makanan atau obat-obatan yang dapat menimbulkan reaksi alergi walaupun
obat atau makanan tersebut hanya menyebabkan reaksi ringan
·
Bila anda memiliki
anak dengan alergi terhadap makanan tertentu, perkenalkan makanan yang baru
satu persatu agar bisa diketahui mana yang menyebabkan alergi.
·
Bila anda pernah
memiliki riwayat reaksi alergi yang serius, bawa obat-obatan darurat (seperti
difenhidramin dan suntikan epinefrin atau obat sengatan lebah) sesuai dengan
anjuran dari dokter
