Peyakit Radang Pinggul Faktor dan Gejalanya

                                           
Pelvic Inflamatory Disease (Penyakit Radang Panggul)
a.       Definisi,
Pelvic Inflamatory Disease (PID) atau Penyakit Radang Panggul adalah istilah umum yang digunakan untuk gangguan peradangan pada saluran genitalia atas perempuan. Secara lebih tepat, PID mencakup semua kombinasi dari endometritis, salpingitis, abses tubo-ovarium dan peritonitis panggul. PID sering dijumpai pada wanita muda dengan insiden paling tinggi pada umur 15-24 tahun.
b.      Etiologi dan Faktor Risiko
Etiologi PID pada umumnya adalah organisme yang ditularkan melalui hubungan seksual, seperti gonokokus dan Klamidia, dan organisme lain yang merupakan bagian dari flora normal vagina seperti streptokokus, enterobakteri dan bakteroides. Faktor risiko secara klasik:
1.        Wanita dengan risiko tertinggi adalah remaja yang sedang mengalami menstruasi dan memiliki banyak pasangan seksual, tidak menggunakan kontrasepsi, dan tinggal didaerah dengan prevalensi penyakit menular seksual (PMS) yang tinggi.
2.        Insidensi menurun sesuai dengan bertambahnya usia: 75% pasien berusia <25 data-blogger-escaped-o:p="" data-blogger-escaped-tahun.="">
3.        Memiliki banyak pasangan meningkatkan risiko sebanyak 5 kali lipat.
4.        Pembilasan vagina yang sering meningkatkan risiko sebanyak 3 kali lipat.
5.        Wanita premenarke, hamil, atau sudah menopause jarang terkena Penyakit Radang Panggul.
6.        Wanita yang menggunakan IUD memiliki risiko yang lebih tinggi tetapi metode pelindung (kondom, diafragma) serta kontrasepsi oral akan menurunkan risiko.
7.        Riwayat PID atau Penyakit Radang Panggul sebelumnya merupakan faktor risiko untuk episode selanjutnya di masa yang akan datang : 25% dari pasien akan terkena infeksi lain.
8.        Faktor lain adalah memiliki banyak pasangan seksual, koitus sewaktu haid, merokok, dan memakai AKDR.
Menjalarnya kuman penyebab ke bagian saluran genitalia atas paling mudah terjadi sewaktu haid.

c.       Patogenesis
Seperti endometritis, PID disebabkan oleh infeksi yang menyebar melalui serviks. Salah satu teori patofisiologi aalah organisme menular seksual seperti gonorrhoeae atau C.trachomatis mengawali sebuah proses inflamasi akut yang dapat menyebabkan kerusakan jaringan dan dengan cara demikian memberikan akses untuk organisme lainnya darri vagina atau serviks ke traktus genitalia atas. Organisme ini yang mengawali timbulnya suatu infeksi klinis. Perdarahan menstrual dapat memudahkan terjadinya infeksi pada traktus bagian atas karena hilangnya lapisan mukosa servikal sehingga menyebabkan hilangnya bbatasan endometrial sebagai suatu efek proteksi dan juga menyediakan sebuah media kultur yang baik (darah menstrual) untuk bakteri.
Berikut penyebaran mikroorganisme pada infeksi panggul adalah :
1.         Penyebaran limfatik : postpartum, post-abortal dan beberapa infeksi yang berhubungan dengan IUD, mengakibatkan selulitis parametrial ekstraperitoneal.
2.         Penyebaran endometrial-endosalpingeal peritoneal (bentuk biasa dari nonpuerperal PID), dimana bakteri patogen meningkatkan akses ke tuba uterina dengan mengakibatkan inflamasi purulen dan pus melalui tuba ostia ke rongga peritoneal. Infeksi ini digambarkan dengan endometritis, infeksi adneksal dan peritonitis.
3.         Penyebaran hematogen, contoh yang jarang terjadi pada penyakit tertentu seperti Tuberkulosis akan meningkatkan akses ke struktur panggul.
Terdapat beberapa pertahanan natural untuk naiknya organisme patgen dari vagina ke tuba fallopi seperti : adanya sekresi vagina yang bersifat asam yang dapat mencegah tumbuhnya bakteri, kanal servikal yang berlumen relatif kecil dan secara normal terisi dengan mukus yang bersifat basa, pergerakan silia dari garis endomterial pada uterus dan kanal servikal adalah langsung menuju ke bawah dan mengecilkan penyebaran ke atas dari organisme non-motil ke kavitas uterus. Mekanisme proteksi alamiah ini terganggu selama menstruasi, setelah abortus dan persalinan, karena kanal servikal menjadi lebar, epitel endometrium yang protektif terlepas dan permukaan lecet tampak pada kavitas uterus serta pH vaginal meningkat, semua hal ini dapat menyebabkan traktus genital mudah diserang infeksi. Jika pada saat seorang anak perawan menunjukan PID maka biasanya kemungkinan menderita penyakit TBC.
Manipulasi intrauterin seperti kuretase untuk pengosongan pada aborsi dn pembersihan plasenta secara manual dapat mengakibatkan masuk dan menyebar oorganisme patogen. Adapun kontrasepsi uterin juga merupakan sumber infeksi, terutama pada saat tidak dimasukan dalam kondisi aseptik. Operasi sterilisasi mencegah PID dengan memblokade tuba. Westrom (1975) melaporkan bahwa wanita sebelumnya dengan sekali serangan dapi PID adalah predisposisi serangan lain 12% dua kali serangan PID meningkatkan risiko 35% dan tiga kali serangan sebanyak 75%. Adanya kontak seksual yang berulang dengan banyak pasangan merupakan predisposisi yang mengakibatkan re-infeksi dan superinfeksi, menyebarkan penyakit ke seluruh sistem reproduksi dan mengakibatkan steril serta peningkatan risiko untuk terjadi kehamilan tuba.
Stadium awal salpingitis menuunjukan inflamasi mukosa dengan pembengkakan, kemerahan dimana sel polimorfiknuklear menyerang submukosa, diikuti oleh sel mononuklear dan sel plasma. Eksudatif inflamasi meluas ke permukaan serosa dan pus dilepaskan dari fimbria ke ovarium dan adneksa. Pada laparoskopi, tuba membengkak dan merah pada kasus ringan. Pada kasus yang lebih berat, tuba terikat pada struktur yang berdekatan oleh eksudat fibrin dan perlekatan. Dengan peritonitis pelvis maka semua organ menjadi padat dengan perlekatan multipel menghasilkan masa inflamasi. Omentum biasanya membatasi infeksi pelvis. Ineksi menyebabkan kerusakan jaringan dan akan berkembang menjadi abses tuba atau tubo-ovarian.
            Salpigitis akut dimana terjadi tuba fallopi membengkak, edema dan hiperemik dengan pelebaran pembuluh darah yang tampak pada permukaan peritoneal. Beberapa derajat eksudasi serum terlihat di sekitar tuba fallopi. Tanda pasti dari salpingitis adalah discharge cairan seropurulen dari fimbria ujung dari tuba, tanpa ini diagnosis tidak dapat ditegakan pada saat laparotomi, saat permukaan peritoneal mungkin terkena ingflamasi pada peritonitis pelvis akibat dari penyebab lainnya. Membran mukosa terjadi edema, infiltrasi dengan leukosit dan sel plasma. Pada infeksi ascending seperti pada gonorrhoea, yang pertama kali terpengaruhi adalah membran mukosa. Eksudat inflamasi dikeluarkan kedalam lumen tuba yang sekarang menggelembung, terutama pada ujung ampula. Ulserasi dari membran mukosa yang diikuti dengan perlekatan dan blokade tuba atau penyempitan dari lumen tuba yang berikutnya menjadi penyebab kehamilan ektopik. Awalnya pada saat ujung fimbria tidak tertutup oleh perlekatan, pus masuk kedalam rongga pelvis menyebabkan abses pelvis. Akhirnya dengan tertutupnya ujung fimbria oleh perlekatan fibronous, pus terkumpul di lumen tuba. Ovarium terlibat dan berakibat abses tubo-ovarian atau massa tubo-ovarian, keduanya terlihat pada perlekatan. Bagian ampula dari tuba melebar melebihi bagian isthmik, mengakibatkan pisosalping bentuk labu. Piosalping akut dikelilingi oleh perlekatan yang mengikatnya pada belakang ligamen yang luas, ovarian, kolon sigmoid, mendekatkan intestine dan permukaan posterior uterus. Dinding tuba tebal dan tuba meregang dengan penahanan cairan. Kadang-kadang terjadi, infeksi akan menyebar ke atas yang menyebabkan peritonitis generalisata, ileus paralitik dan bahkan abses subdiaphragmatik. Trombophlebitis septik, bakteremia dan abses metatastik jarang terjadi saat ini, karena terapi dengan antibiotik yang cepat dan efektif.
Pada PID yang terjadi akibat post-abortus dan infeksi uerperal,  patogenesisnya berbeda. Infeksi menyebar melalui serviks via limfatik ke aringan selular pada ligamen yang luas, mengakibatkan selulitis. Tuba fallopi dipengaruhi dari luar dan mukosa terakhir dari semuanya. Dinding tuba sangat menebal dengan hampir tidak ada pelebaran lumen. Akhirnya melibatkan mukosa yang menimbulkan blokade tuba fallopi dengan perlekatan multipel. PID subakut diakibatkan oleh penanganan yang tidak adekuat atau reinfeksi dari pasangannya yang terinfeksi, jika terdapat penularan seksual. Tuberkulosis juga bermanifestasi dalam bentuk infeksi pelvis rekurens akibat dari infeksi sekunder, PID kronik. Kegagalan infeksi pelvis akut diputuskan sebagai akibat dari massa tubo-ovarian kronik. Massa ini anifestasi dalam bentuk; hidrosalping, pisosalping kronik, salpingitis interstisial kronik, kista tubo-ovarian dan bentuk tuberculous.
            Dapat pula terjadi hidrosalping, jika abses piosalping atau tubo-ovarian respon terhadap antibiotik, pus yang dikandungnya menjadi steril dalam 6 minggu pada serangan awal tetapi kerusakan dari tuba bersisa sebagai piosalping kronik atau hidrosalping. Hidrosalping merupakan akibat akhir dari salpingitis akut sebelumnya dan seringkali bilateral. Berbentuk labu karena dilatasi hebat dari bagian ampulla terisi dengan cairan jernih dan dapat membesar 15 cm. Ujung fimbria dari tuba fallopi tertutup, permukaan luar dari hidrosalping adalah licin dan bulat. Interstisial akhir dari tuba cukup paten, bahannya masih dapat dilihat dalam lumen dengan pemeriksaan histero-salpingogram. Dinding hidrosalping adalah tipis dan tembus cahaya. Pada saat itu hidrosalping dapat bergerak dan dapat berpilin. Seringkali, walaupun, permukaan luar dilapisi dengan perlekatan yang mengikat hiidrosalping ke bagian belakang dari ligament yang luas dan kantong Douglas. Pada piosalping kronik dinding menjadi tebal dan dikelilingi oleh perlekatan padat dan diisi oleh pus. Dinding bagian dalam diganti oleh jaringan granulasi. Piosalping seringkali terikat pada kantong Douglas, permukaan posterior ligamen yang luas dan uterus dengan perlekatan padat. Pada salpingitis interstisial kronik, dinding dari tuba fallopi menebal dan fibrotik, tetapi tidak terdapat akumulasi pus di lumen. Keterlibatan ovarium pada perlekatan berakibat salpingo-oophoritis kronik. Pada kista-tubo-ovarian dan piosalping berhubungan dengan kista folikuler dari ovarium, pada saat abses tubo-ovarian dan piosalping berhubungan dengan abses ovarian. Akan sulit untuk mengidentifikasi jaringan ovarium normal pada kondisi patologk ini.
Infeksi Chlamidya lebih merusak mukosa dan dinding tuba daripada gonorrhoea, mengarah ke fibrosis dan penyumbatan tuba. Jika proses infeksi berlanjut, perlekatan akan menjadi lebih berat dan bentuk jaringan hilang. Akan menjadi sulit untuk mengidentifikasikan tuba dan ovarium pada masa radang. Juga melibatkan omentum dan intestinal. Yang selanjutnya akan menyebabkan nekrosis jaringan dengan formasi abses. Penahanan aksudat purulan di bawah tekanan pasti tidak mungkin pada tempatnya dan pus akan mengalir ke dalam kavitas peritoneal. Hal ini biasanya terjadi pada tempat perlekatan yang dekat dengan organ dan titik ruptur seringkali dapat diidentfikasikan saat operasi.

d.      Manifestasi Klinis
Gambaran klasik dari PID adalah sindroma akut dari nyeri abdomen bawah dan nyeri tekan adneksa. Gambaran bahaya adalah infeksi ascending uterus yang tidak menimbulkan gejala, atau hanya sedikit gejala dan tanda seperti menstruasi abnormal atau nyeri tekan uterus tanpa nyeri tekan adneksa.
Klasifikasi umum menurut DeCherney dari infeksi panggul berdasarkan frekuensi kejadian adalah :

1.         Penyakit Radang Panggul (Pelvic Inflammatory Disease = PID)
a.       Salpingitis akut
I.         Gonokokal
II.      Non-gonokokal
b.      IUD- berhubngan dengan selulitis panggul
c.       Abses tubo-ovarium
d.      Abses panggul
2.      Infeksi Puerperal
a.       Seksio Cesarean (common)
b.      Persalinan vaginal (uncommon)
3.      Post operasi bedah ginekologi
a.       Selulitis cuff dan parametritis
b.      Abses vaginal cuff
c.       Abses tubo-ovarian
4.      Abortus yang bersama dengan infeksi
a.       Selulitis post-abortal
b.      Abortus septik incomplete
5.      Infeksi sekunder lain seperti appendisitis, divertikulitis dan tuberkulosis.
Tanda dan gejala berupa nyeri abdomen bawah, nyeri pelvis dan nyeri tekan (100%), otot menegang atau nyeiri lepas, pada kedua kuadran abdomen bawah, nyeri biasanya dengan onset subakut, lambat, tumpul, bilateral dan kadang-kadang unilateral, bising usus akan hipoaktif atau tidak ada; terdapatnya demam (39,50C, 40%) atau normal, pada 60-80% dari pasien, demam yang terjadi pada setengah (52%) dari penderita PID akibat gonorrhea tetapi hanya sekitar 22% pada PID akibat Chlamydia; adanya Coated tongue dan dehidrasi; peningkatan sel darah putih; perdarahan peragina yang tidak biasa atau discharge, perdarahan abnormal sebagai manifestasi dari endometritis; takikardi, nausea dan vomitus dengan adanya nausea dengan atau tanpa vomitus kemungkinan terjadi masalah yang lebih serius (seperti appendisitis akut); juga dapat terjadi sakit kepala dan lesu; discharge purulen servikal seringkali ditujukan (harus pewarnaan gram dan kultur); dysuria pada seperlima pasien, agaknya berhubungan dengan infeksi urethra oleh Chlamydia atau Gonococci dan adanya dyspareunia sering terjadi.
Tergantung beratnya kerusakan tuba, Gaineville menggambarkan 5 tingkatan PID sebagai berikut :
Tingkat I            : salpingitis akut tanpa peritonitis
Tingkat II          : salpingitis akut dengan peritonitis
Tingkat III         : salpingitis akut dengan super gangguan oklusi tuba atau kompleks tubo-ovarian
Tingkat IV         : ruptur abses tubo-ovarian
Tingkat V          : salpingitis tuberkular.

e.    Diagnosis
Kriteria Minimal (Semua harus ada)
-          Nyeri tekan abdomen bawah
-          Nyeri tekan adneksa
-          Nyeri goyang serviks
Kriteria Penunjang
-          Demam > 101o F (38,30C)
-          Discharge abnormal servikal dan vaginal
-          Menungkatnya Laju Endap Darah
-          Meningkatnnya Protein reaktif-C (CRP)
-          Bukti Laboratorium infeksi serviks oleh N.gonorrhoeae atau C. Trachomatis
Kriteria Definitif/ Khusus
-          Bukti terhadap hepatologik endometritis pada biopsi endometrium
-          Pemeriksaan yang memperlihatkan tuba yang berisi cairan kental atau abses tubo-ovarium (atau keduanya)
-          Kelainan laparoskopi yang konsisten dengan PID

Penemuan patologik : radang dari tuba fallopi, ovarium dan permukaan sekitar peritoneal. Pewarnaan gram servikal : jika gram negatif intraseluler diplococci muncul, gonorrhea adalah giagnosisnya. Walaupun pewarnaan gram sendiri terlemat ½ dari kasus gonorrhea. Sedangkan untuk serum human chronic gonadotropin. Ujia kehamilan yang sensitif adalah penting dalam diagnosis banding dari nyeri pelvis untuk menyingkirkan kemungkinan dari kehamilan ektopik. Pada masa lalu, sekitar 3-4% wanita dengan diagnosis PID memiliki kehamilan ektopik pewarnaan Gram servikal : Gram negatif intraseluler diplococci muncul, gonorrhea adalah perkiraan diagnosis. Walaupun pewarnaan Gram sendiri terlewat ½ dari kasus gonorrhea. Ultrasonografi akan membantu mendeteksi adanya massa adneksal dan intrauterin atau kehamilan ektopik, terutama bila ada nyeri tekan abdomen dan tidak dapat dilakukannya pemeriksaan pelvis yang adekuat. Hasil terapi dapat diukur secara objektif dengan mengecilnya masa pelvis dan berkurangnya indurasi pewarnaan Gram Servikal: jika Gram negatif intraseluler diplococci muncul, gonorrhea adalah perkiraan diagnosis. Walaupun pewarnaan Gram sendiri terlewat ½ dari kasus gonorrhea.   
Ultrasonografi akan memperlihatkan cairan bebas pada cul-de-sac posterior (suportif, tetapi bukan diagnostik). Laparoskopi, jika proses penyakit belum jelas, teknik ini merupakan cara terakhir untuk menentukan diagnosis. Konfirmasi dengan laparoskopi harus dipertimbangkan untuk setiap pasien yang tidak mempunyai respon  dalam beberapa waktu. Pada 35% pasien tidak ditemukan infeksi. Laparoskopi dapat mengkonfirmasikan 65-90% nilai perkiraan positif untuk penyakit tuba diantara pasien dengan diagnosis perkiraan PID. Pemeriksaan darah yang meliputi leukosit dengan gambaran leukositosis bukan indikator yang dapat dipercaya dari PID akut. Kurang dari 50% wanita dengan PID akut mempunyai sel darah putih lebih dari 10.000 sel/ml. Sedangkan peningkatan Laju Endap Darah adalah temuan yang nonspesifik, tetapi nilai sedimentasi meningkat pada sekitar 75%  wanita yang dengan laparoskopi dikonfirmasi dengan PID.

f.       Komplikasi
Penyakit radang panggul dapat menyebabkan berbagai kelainan di dalam kandungan seperti nyeri berkepanjangan, infertilitas dan kehamilan abnormal. Penyakit ini dapat menyebabkan parut pada rahim dan saluran tuba. Parut ini mengakibatkan kerusakan dan menghalangi saluran tuba sehingga menyebabkan infertilitas. Parut juga dapat menyebabkan sel telur tidak dapat melalui jalan normalnya ke rahim sehingga dapat terjadi kehamilan ektopik.

g.    Penatalaksanaan

Pengobatan PID berbeda menurut beratnya infeksi. Selain pemberian antibiotik yang tepat dan harus dimulai dengan segera, selain itu juga pengobatan harus mencakup pengobatan untuk pasangan seksual penderita dan pendidikan untuk pencegahan infeksi ulang. Antibiotik dapat diberikan oral umumnya selama 10 hari. Penderita dengan sakit berat, yaitu penderita yang mual-muntah berat atau demam, yang harus dicurigai menderita abses dan yang gagal diatasi dengan antibiotik yang diberikan rawat jalan, dianjurkan untuk menjalani rawat inap.  Jika terdapat abses tubo-ovarium (ATO) harus segera didrainase. Sedang untuk terapi bedah diindikasikan untuk pasien dengan ruptur ATO atau ATO yang tidak berespon terhadap konservatif. Setiap upaya harus dilakukan untuk mempertahankan organ reproduksi jika kesuburan diharapkan. Meskipun demikian, salpingo-ooforektomi bilateral dengan histerektomi mungkin harus dilakukan.

Related Posts

Subscribe Our Newsletter