HAKIKAT PERKEMBANGAN ANAK DIDIK

HAKIKAT PERKEMBANGAN ANAK DIDIK

PENDAHULUAN
Oleh: Andri Nazarudin M

A.    Latar Belakang
Perkembangna selalu berarti diferensiasi atau perubahan. Artinya, pada setiap perkembangan anak didik, dimulai dari diferensiasi baru pada anak itu baik jasmani ataupun rohani. Hal ini nampak jelas bila kita memperhaitkan gerak anak. Mulu-mula anak kecil menerima sesuatu dengan kedua tangannya, tetapi dalam perkembangannya anak tersebut dapat menerima sesuati dengan satu tangan dan selanjutnya dapat menerima dengan beberapa jari tangan saja.
Tiap fase atau tahap yang dialami anak merupakan masa peralihan atau masa persiapan bagi masa selanjutnya. Tiap fase antara anak yang satu dengan anak yang lain tidaklah sama waktunya. Inilah sebabnya mengapa sering dikatakan bahwa setiap anak mempunyai masa perkembangannya sendiri-sendiri. Mereka mempunyai sifat, kepribadian, temperamen, tingakah laku yang benbeda-beda dan mungkin seorang anak mengalami perubahan pada wktu yang berlainan. Dikarenakan adanya perkembangan dari anak tersebut dan merupakan hal yang wajar terjadi pada anak-anak baik fisik maupun psikisnya yang belum stabil.
Sejalan dengan perubahan yang terjadi pada pekembangan anak maka seyogyanya memahi dengan baik.
B.     Rumusan Masalah
Dari latar belakang diatas dapat diambil rumusan masalah sebagai berikut:
1.      Apaka definisi perkembangan dan pertumbuhan?
2.      Bagaimana cakupan perkembangan anak?
3.      Apa teori dan hukum perkembangann?
4.      Apa yagn dikaksud kematangan dan pengalaman anak?
C.     Tujuan
Berdasarkan rumusan diatas, maka tujuannya adalah:
1.      Memahami definisi perkembangan dan pertumbuhan.
2.      Mengetahui cakupan-cakupan perkembangan anak.
3.      Mengetahui teori-teori dan hukum perkembangan.
4.      Memahami kematangan dan pengalaman anak.

PEMBAHASAN

A.                Definisi Perkembangan dan Pertumbuhan
Pertumbuhan diartikan sebagai perubahan alamiah secara kuantitatif pada segi jasmaniah atau fisik dan atau menunjukkan kepada suatu fungsi tertentu yang baru (yang tadinya belum tampak) dari organisme atau individu. Konsep pertumbuhan mempunyai makna luas, mencangkup segi-segi kuantitatif dan kualitatif serta aspek-aspek fisik-psikis seperti yang terkandung dalam istilah-istilah pertumbuhan, kematangan dan belajar atau pendidikan dan latihan. Belajar atau pendidikan menunjukkan kepada perubahan pola-pola sambutan atau perilaku dan aspek-aspek kepribadian tertentu sebagai hasil usaha individu atau organisme yang bersangkutan dalam batas-batas waktu setelah tiba masa pekanya.
Dengan demikian, dapat dibedakan bahwa perubahan-perubahan perilaku dan pribadi sebagai hasil belajar itu berlangsung secara intensional atau dengan sengaja diusahakan oleh individu yang bersangkutan, sedangkan perubahan dalam arti pertumbuhan dan kematangan berlangsung secara alamiah menurut jalannya pertambahan waktu atau usia yang ditempuh oleh yang bersangkutan. Pertumbuhan terbatas pada perubahan-perubahan yang bersifat evolusi (menuju ke arah yang lebih sempurna). Perubahan-perubahan aspek fisik dapat diidentifikasikan relative lebih mudah manifestasinya karena dapat dilakukan pengamatan langsung seperti tinggi dan berat badan, tanggal dan tumbuhnya gigi dan sebagainya. Lain halnya dengan segi-segi psikis yang relative sulit diidentifikasi karena kita hanya mengamati dan sampai batas tertentu.
Perkembangan diartikan sebagai perubahan-perubahan yang dialami oleh individu atau organisme menuju tingkat kedewasaannya yang berlangsung secara sistematis, progresif dan berkesinambungan baik fisik maupun psikis.
Perkembangan juga bertalian dengan beberapa konsep pertumbuhan (growth), kematangan (maturation), dan belajar (learning) serta latihan (training)..
Perkembangan individu dapat ditujukan dengan munculnya atau hilangnya, bertambah atau berkurangnya bagian-bagian, fungsi-fungsi atau sifat-sifat psikofisis, baik secara kuantitatif maupun kualitatif, yang sampai batas tertentu dapat diamati dan diukur dengan mempergunakan teknik dan instrument yang sesuai. Contoh perkembangan proses berpikir, kemampuan berbahasa dan lain-lain.
Tidak semua perubahan dapat disebut perkembangan. Suatu perubahan disebut sebagai perkembangan jika terjadi secara teratur, berlangsung dalam waktu yang lama serta mengarah kedalam hal yang lebih baik, lebih teratur, lebih efektif atau lebbih kompleks.
Prinsip-prinsip umum perkembangan yang diakui para ahli adalah:
1.        Manusia berkembagnn dengan kecepatan yang berbeda-beda.
2.        Perkembangna berlangsung secara relatif teratur.
3.        Perkembangna terjadi secara berangsur-angsur.

B.                 Cakupan Perkembangan Anak
Pola perkembangan seseorang pada umumnya melalui tiga fase, yaitu:
1.             Refleks
Gerakan refleks adalah suatu gerakan yang ditunjukan seseorang ketika bereaksi secara tiba-tiba. Gerakan tersebut terjadi secara spontan atau tidak disengaja. Contoh, bayi yang sedang tidur dengan lelap tiba-tiba mendenganr suara yang mengagetkan dirinya sehingga secara refleks bayi tersebut akan menangis.
2.             Naluri atau nafsu
Naluri atau nafsu merupakan dorongan hati pengawasan untuk berbuat sesuatu. Contoh, seorang ibu yang melihat bayinya menagis, secara naluri memberikan ASI kepada anaknya.
3.             Perbuatan-perbuatan atas dasar kemauan
Perbuatan yang didasari dorongan yang kuat dari dalam diri dimana dorongan itu susah dilawan atau dikendalikan. Contoh, seorang anak yagn berkeinginan menjadi juara kelas maka akan berusaha bekajar tiap mata pelajaran dengan sungguh-sungguh sehingga berhasil.
Perkembangan itu sendiri dibagi menjadi berikut ini:
1.        Perkembangan biologis
Perkembangan biologis secara secara langsung atau tidak langsung akan mempengaruhi perilaku anak sehari-hari. Secara langsung perkembangan biologi anak akan menentukan ketrampilan anak dalam bergerak. Misalnya, anak 8 tahun yang perkembangan tubuhnya sesuai dengan usia tersebut akan melakukan tugas-tugas perkembangan yang dimiliki anak usia 8 tahun dengan lancar tanpa hambatan pada tubuhnya. Akan tetapi, apabila anak mempunyai hambatan, misalnya cacat tubuh maka anak tersebut tidak dapat menyelesaikan semua tugas-tugas yang dialami masa usia 8 tahun. Sedangkan secara tidak langsung perkembangan biologis anak akan mempengaruhi psikis anak, seperti apabila anak memiliki badan yagn terlalu gemuk tentu akan menghambat pergaulannya.
Hal-hal tersebut dalam perkembangannya dapat dipengaruhi ole lingkungan. Dari segi fisik seseorang ada yagn tidak dapat dipengaruhi oleh lingkungan, misalnya badan, mata dan hidung.
2.             Perkembangan sosial
Merupakan perubahan yang terjadi dalam interaksi sosial. Sifat sosial yagn dimiliki anak merupakan bawaan sejak lahir. Dalam mengembangakan sifat sosialnya, anak hanya berada dan terbatas dalam keluarga, semakin lama keinginannya mencari orang-orang diluar lingkungan keluarganya. Anak mulai mencari teman sebaya untuk temanya bermain.pada saat bersamaan sifat sosialnya bertambah ketika memasuki jenjang sekolah.
3.             Perkembangan psikis
Perkembangan psikis seseorang tidak lepas dari pekembangan biologis. Perkembangan psikis seseorang tidak tampak seperti biologis  tetapi mempengaruhi yang satu dengan yang lainya. Seperti halnya pada anak yang belajar bejalan karena anak tersebut pernah jatuh maka anak tersebut menjadi jera untuk belajar berjalan.
C.                Teori dan Hukum Perkembangan Anak
Asumsi mengenai perkembangan anak
1.                  Teori Perkembangan Anak
a.       Perkembangan dianggap sebagai satu totalitas atau keseluruhan
Asumsi ini mengatakan bawha pekembangan terjadi secara totalitas atau keseluruhan. Asumsi tersebut dikenal sebagai teori gestalt dengan pelopornya Wilhelm Wundt. Perkembangan berlangsung dari sesuatu yang bersifat global. Contoh, anak bermain puzzle anak akan melihat keseluruhan gambar tersebut, tetapi kalau gambarnya tidak utuh anak tidak akan tertarik lagi memainkannya.
a.       Perkembangna sebagai proses sosialisasi
Perkembangan sebagai proses sosialisasi yaitu merupakan bentuk imitasi yang berlangsung dengan adaptasi dan seleksi berlangsung atas dasar hukum efek (law of effect). Adaptasi merupakan penyesuaian terhadadap lingkungan dan orang lain. Oleh efeknya sendiri tingkah laku itu di pertahankan, selanjutnya dapat ditingkatkan prestasi yang mengandung daya kreasi sehingga mampu menghasilkan daya peniruan sesuai dengan kebutuhannya sendiri.
b.      Perkembangan sebagai proses asosiasi
Teori ini mengatakan bahwa terjadinya perkembangan karena adanya unsur-unsur yang berasosiasi sehingga sesuatu yang bersifat simple semakin lama semakin banyak atau kompleks. Teori ini dipopulerkan oleh J.F. herbart berpendapat bahwa manusia lahir dalam keadaan jiwanya yang masih bersih. Sejak alat indranya sudah dapat menangkap sesuatu yang datang dari luar maka alat indra itu akan mengirimkan gambar atau tanggapan dalam jiwanya. Makin banyak orang yagn ditangkap maka makin banyak pula tanggapan yang diterima.
c.       Perkembangan sebagai keterkaitan antara 4asas
Asas biologis, ketidak berdayaan, keamanan dan eksplorasi yang di kemukakan oleh Langevaeld.
Mula-mula perkembangna yang dialami manusia adalah perkembangan biologis, yaitu dari telur kejanin, kemudian kemudian menjadi bayi dan seterusnya, selanjutnya secara psikis. Perkembangan psikis manusia bermula dari sifatnya yang tidak berdaya, tetapi karena ketidak berdayaannya inilah justru memungkinkan terjadinya perkembangan, bila berada di pergaulan manusia untuk itu memerlukan rasa aman, dilindungi sehingga memungkinkan adanya kesempatan untuk berimitasi, adaptasi maupun identifikasi (Agus Sujanto, 1996,237).
Dari teori diatas bisa diterapkan di kehidupan sehari-hari dan dapat dijumpai dalam kegiatan pendidikan.
d.                  Fase-fase Perkembangan Anak
Aspek mengenai perkembangan anak yang digolongkan berdasarkan aspek biologis, didaktis dan psikologis yaitu:
a.                   Fase perkembangan berdasarkan aspek biologis
Yang dimaksud dengan pembagian berdasarkan biologis, yaitu pembagian yang mendasarkan pada kondisi atau proses pertumbuhan biologis anak.  Bahwa pertumbuhan biologis itu berpengaruh terhadap perkembangan kejiwaan anak.
1.                  Kretshmer, membagi perkembangan anak menjadi empat fase, yaitu:
a.                   Fullungs periode I(umur 0,0-3,0)
Pada masa ini fisik anak terlihat pendek, gemuk, bersifat terbuka, mudah bergaul, dan mudah didekati
b.                  Streucungs periode I (umur 3,0-7,0)
Bentuk fisik anak tampak langsing, biasanya sikap anak tertutup, sukar bergaul dan didekati.
c.                   Fullungs periode II (7,0-13,0)
Keadaan fisik anak kembali gemuk.
d.                  Streucungs periode II(umur 13,0-20,0)
Keadaan isik anak kembali langsing.
2.                  Aristoteles, membagi perkembangan anak menjadi tiga fase, yaitu:
a.                   Fase I (umur 0,0-7,0)
Disebut massa anak kecil kegiatan anak hanya bermain.
b.                  Fase II (umur 7,0-14,0)
Masa sekolah anak mulai masuk SD.
c.                   Fase III (umur 14,0-18,0)
Masa remaja atau pubertas. Masa ini masa peralihan dari anak menjadi dewasa.
3.                  Sigmund Freud, membagi perkembangan anak menjadi 6 fase, yaitu:
a.                   Fase oral (umur 0,0-0,1)
Pada fase ini mulut merupakan pusat pokok keaktifan yang dinamis.
b.                  Fase anal (umur 1-3)
Dorongan dan tahanan berpusat pada pembuatan kotoran.
c.                   Fase falis (umur 3-5) alat-alat kelamin merupakan organ yang paling perasa.
d.                  Fase laten (umur 5-13) impuls-impuls cenderung untuk berada pada kondisi tertekan.
e.                   Fase pubertas (umur 13-20) dorongan kembali menonjol.
f.                   Fase genital (umur 20-keatas) seseorang telah sampai pada saat dewasa.
b.                  Fase perkembangan berdasarkan aspek didaktis
Fase ini didasarkan pada pemikiran tentang metode yang paling efektif untuk diterapkan didalam mengajar atau mendidik anak pada masa tertentu. Para ahli yang termasuk dalam kelompok ini adalah sebagai berikut:
1.                  J.A.Comenius, membagi perkembangan anak menjadi berikut ini.
a.                   Sekolah ibu (umur 0-6)
Pada masa ini aktivitas atau kegiatan ibu sangant menentukan kelancaran proses pertumbuhan dan perkembangan anak.
b.                  Sekolah bahasa ibu (umur6-12)
Mampu menghayati setiap pengalaman dengan pengertian bahasa sendiri (bahasa ibu).
c.                   Sekolah bahasa latin (umur 12-18)
Mau mempelajari bahasa kebudayaan.
d.                  Universitas (umur 18-24)
Mempelajari berbagai macam ilmu.
2.                  J.J Rousseau, membagi perkembangan anak menjadi berikut.
a.                   Masa asuhan (umur 0-2)
Pada masa ini anak masih membutuhkan bimbingan dan bantuan.
b.                  Masa pendidikan jasmani dan alat-alat indra (umur 2-12)
Tumbuh dan berkembangnya tubuh dan alat-alat indra.
c.                   Masa perkembangan pikiran (umur 12-15)
Anak mempelajari pengetahuan yang diperoleh dan diolah dalam pikiran.
d.                  Masa pentingnya pendidikan serta penbentuk watak (umur 15-20) pada masa ini tingkah laku anak terbentuk.
c.                   Fase perkembangan berdasarkan aspek psikologis
Fase ini membahas perkembangan jiwa anak, berorientasi dari sudut pandang psikologis dan tidak lagi mendasarkan pada sudut biologis dan didaktis lagi. Menurut para ahli sebagai berikut:
1.                  Oswald Kroh mengatakan bahwa proses perkembangan jiwa anak pada waktu tertentu mengalami keguncangan yang disebut dengan trotz periode. Tiap anak akan mengalaminya sebanyak dua kali, yakni trotz I pada usia 3 atau 4 tahun, sedangkan trotz II pada usia 12 tahun untuk putri dan 13 tahun untuk putra.
Pembagian tersebut dapat digambarkan sebagai berikut.
a.                   Masa anak-anak awal (umur 0-4) disinilah timbulnya masa menentang I.
b.                  Masa keserasian bersekolah (umur 4-13) masa menentang pertama ssampai pada masa menentang ke dua.
c.                   Masa kemenentangan (umur 13-21)
d.                  Masa menentang kedua sampai akhir masa muda. Disebut juga akhir masa remaja pengetahuan.
2.                  Charlotte Buhler, membagi perkembangan anak menjadi berikut.
a.                   Fase I (umur 0-1)
Masa menghayati objek-objek diluar dirinya juga masa melatih fungsi-fungsi motorik.
b.                  Fase II (umur 1-4)
Bada masa ini pada diri anak mulai ada pengenalan akunya. Anak biasanya memindahkan batinnya kepada benda diluar dirinya.
c.                   Fase III (umur 4-8)
Masa sosialisasi anak. Anak mulai belajar mengenal dinia luar secara objektif. Anak mulai mengenal juga arti pekejaan, tugas dan kewajiban.
d.                  Fase IV (umur 8-13)
Masa sekolah rendah. Anak mulai memisahkan diri dari orang lain dan munculnya rasa ingin tahu yang lebih besar.
e.                   Fase V (umur 13-19)
Anak bersifat secara subjektif dan ini dilakukan secara sadar.
Setelah mengetahui fase-fase perkembangan yang telah diuraikan diatas, kita dapat menggolongkannya menjadi berikut.
a.                   Fase I, umur 0-7 disebut masa anak kecil dan bermain.
b.                  Fase II, umur 7-14 masa anak dan masa sekolah.
c.                   Fase III, umur 14-21 disebut masa pubertas atau menjelang dewasa.
3.                  Hukum Perkembangan Anak
a.                   Hukum tempo perkembangan anak setiap anakmempunyai tempo, waktu atau saat sendiri untuk sampai pada fase tertentu. Perkembangan mereka ada yang lambat, ada pula yang cepat. Contoh, pada ana usia 7 tahun sudah seharusnya didalam perkembangannya anak sudah dapat membaca terutama sekali pada tidak mempunyai keinginan untuk belajar mengenai sesuatu yang baru. Karena setiap anak memiliki tempo perkembangan sendiri-sendiri dan tidak selalu sama.
b.                  Hukum irama perkembangan anak
Hukum ini mengungkapkan bukan lagi cepat atau lambatnya anak, akan tetapi irama perkembangan. Perkembangan anak mengalami gelombang pasang surut mulai lahir hingga dewasa dan kadang pula anak mengalami kemunduran dalam bidang tertentu.
Pada setiap fase perkembangan sifat dan tingkah laku anak berlainan sejalan dengna bertmabahnya usia sifat dan tingkah laku yang berkembang.
c.                   Hukum konvergensi perkembangan anak
Peerkembangan yang dialami anak merupakan pengaruh dari unsur lingkungan dan pembawaannya.
d.                  Hukum kesatuan organ tubuh anak
Manusia terdiri dari organ-organ tubuh yang merupakan satu kesatuan fungsi yang terdapat didalamnya (pikiran,perasaan dan panca indra) berkembang. Dengan bertambahnya usia dimana perkembangan seluruh motorik tubuh seperti tubuh yang semakin tinggi, kaki yang membesar dan berkembangnya anggota tubuh yang lainya maka diiringi pula perkkembangan pikiran yang lambat laun dapat menerima hal yang bersifat pengetahuan, berkembangnya perasaan dan panca indra.
e.                   Hukum hierarki perkembangan anak
Perkembangan anak tidak akan mungkin mencapai fase tertentu dengan car spontan, akan tetapi harus melalui tahapan-tahapan tertentu yang telah tersusun sedemikian rupa. Perkembangan berfikir anak harus didahului dengan perkembangan pengenalan dan pengamatan. Contoh, seorang anak sebelum lancar membaca harus mengenal huruf demi huruf kemudian kata demi kata, kalimat demi kalimat dan akhirnya anak dapat memahami dang mengerti pengertian dari kalimat tersebut.
f.                   Hukum masa peka anak
Masa peka ialah masa yang paling tepat untuk berkembangnya suatu fungsi kejiwaan atau fisik anak. Masa peka setiap anak tidaklah sama. Contoh, ada seorang siswa yang sukanya bermain dari pada mendengarkan guru karena dalam anak tersebut belum timbul masa peka dalam hal menerima pengetahuan, beda dengan siswa lainnya yang antusias memdenganrkan guru.
g.                  Hukum mempertahankan diri
Mempertahankan diri merupakan dorongan dan hasrat yang dipunyai setiap orang. Misalnya dorongan untuk makan dan menjaga keselamatan diri sendiri. Pada anak kecil menyatakan perasaan lapar, haus, sakit dalam bentuk tangisan. Ia mempertahankan dirinya dengan menangis. Contoh, anak mempunyai rasa ingin tahu yang amat besar yang bisa diperoleh dengan bertanya mengenai yang diinginkan hingga merasa dirinya puas. Pada akhirnya anak akan senang apabila dunianya diisi dengan pengalaman dan pengetahauan. Jadi jangna biarkan anak dalam kebingungan tetapi berilah anak
h.                  Hukum rekapitulasi
Perkembangan yang dialami seorang anak merupakan ulangan (secara cepat).
D.                Kemaatangan dan Pengalaman Perkembangan Anak
1.                  Pengertian penglaman dan kematangan
Kematangan atau masa peka menunjukkan kepada suatu masa tertentu yang merupakan titik kulminasi dari suatu fase pertumbuhan sebagai titik tolak kesiapan (readiness) dari suatu fungsi (psikofisis) untuk menjalankan fungsinya.Pengalaman adalah peristiwa-peristiwa yang dialami individu dalam interaksi dengan lingkungan. Kematangan ditentukan oleh beberapa faktor antara lain pengalaman, pola asuh dan kesempatan yang diberikan. Secara usia anak yang berusia 7tahun harusnya memiliki pengalaman yang lebih banyak dibandingkan usia 6tahun. Namun pengalaman menjadi berbeda ketika pola asuh yan diberikan berbeda
2.                  Perkembangan merupakan hasil proses kematangan
Perkembangan fisik dan mental, yaitu setiap manusia berbeda-beda yang mempunyai ciri dimana sebagian berasal dari proses kematangan intrinsik dan sebagaian lagi berasal dari latihan dan usaha individu. Proses kematang intinsik adalah terbukanya karakteristik atau ciri-ciri yang secara potensial ada pada individu yang berasal dari warisan genetik atau keturunan.
Bayi yang baru lahir dengan bertambahnya usia dan waktu lambat laun bisa merangkak, berdiri, duduk dan berjalan. Proses tersebut dinamakan fungsi filogenik, yaitu fungsi umum perkembangan yang berasal dari proses kematangan. Lingkungan anak sangat berpengaruh agar perkembangan berjalan secara normal sedangkan jika lingkungan tidak mendukung dapat mengurangi kesempatan berlatih yang dapat mengahalngi perkembangan.
Lain halnya dengan perkembangan yang berasal dari latihan dan usaha individu yang disebut fungsi ontogenetik yang berarti fungsi khas untuk individu. Anak tidak dapat berenang, mengendarai sepeda dan membaca atau menulis tanpa melalui latihan terlebih dahulu. Mereka harus melalui proses yang disebut “belajar”, anak tidak memiliki ketrampilan tersebut, sedangkan melalui belajar anak memperoleh kemampuan menggunakan sumber yang tersedia. Contoh, seorang anak yang mempunyai bakat besar bermain musik jika tidaj ada kesempatan berlatih dan bimbingan dari orang lain yang mendalami bidang tersebut maka anak tidak akan berkembang potensinya.
ada tiga kriteria yang mudah diterapkan untuk menunjukan keadaan siapnya seorang anak, yaitu:
a.                   Minat belajar
Anak-anak menunjukan minat belajar dengan keinginan untuk diajar atau belajar sendiri.
b.                  Minat yang bertahan
Ketika anak telah siap untuk belajar, minat mereka tetap walaupun mereka menghadapi hambatan dan kesulitan.
c.                   Kemajuan
Dengan berlatih, anak yang siap belajar akan menunjukan kemajuan walaupun sedikit dan berangsur-angsur. (Elixabeth Hurlock, 1978,30)
3.                  Prinsip perkembangan anak
Tugas perkembangan dimiliki oleh setiap manusia sesuai dengan fase-fase perkembangan manusia, masa anak-anak, sekolah, dewasa dan usia lanjut. Jadi setiap manusia mempunyai banyak tugas perkembangan dari awal hingga akgir kehidupan.
Tugas-tugas perkembangan tersebut berkaitan dengan kematangan atau masa peka dimana kematangan itu dipunyai pada setiap tugas perkembangan dan harus dimanfaatkan sebaik-biknya. Bila kematangan itu tidak dimanfaatkan atau tidak dilatih maka akan timbul banyak kesulitan dalam proses perkembangan. Ada beberapa prinsip dari perkembangan sebagai berikut:
a.                   Perkembangan mengikuti pole tertentu
Semua anak mengikuti perkembangan yang sama dari satu tahap ke tahap berikutnya. Contoh, sebelum dapat berjalan bayi terlebih dahulu belajar berdiri.
Selanjutnya, pola umum tidak berubah sekalipun terdapat variasi individu kedalam kecepatan perkembangan. Anak-anak yang lahir prematur mungkin akan tertinggal setahun tetapi setelah itu akan mungkin mengejar ketinggalannya dan mengikuti pola perkembangan mereka pada kecepatan yang kira-kira sama. Demikian juga dengan anak pandai atau bodoh akan mengikuti perkembanganyang sama seperti anak yang memiliki kecerdasan rata-rata. Tetapi anak yang pandai berkembang dengan kecepatan tinggi dari pada yang rat-rata dan yang bodoh berkembang lebih lambat.
b.                  Perkembangan bergerak dari tanggapan yang umum menuju khusus
Dalam semua fase perkembangan baik motorik maupun mental, tanggapan anak pada mulanya bersifat umum dan kemudian khusus.
Contoh, bayi melambaikan tangannya secara umum membuat gerakan acak sebelum mereka mampu memberi tanggapan khusus, seperti menggapai benda didepannya. Terjadi juga pada emosi bayi dimana mereka mulu-mula bereaksi pada benda asing yang tidak dikenal dengan rasa takut yang umum. Selanjutnya, rasa takut mereka lebih khusus dan diperhatikan melalui berbagai jenis tingkahlaku, misal menangis.
c.                   Perkembangan berlangsung secara berkesinambungan
Perkembangan berlangsung secara berkesinambungan sejak saat pembuahan hingga kematian, tetapi terjadi dalam berbagai kecepatan kadang-kadang cepat dan lambat. Pechowski berpendapat bahwa perkembangan tidak terjadi dengan kecepatan yang sama. Terjadi periode dengan intensitas tinggi dan ketidakseimbangan, dimana pada akhirnya perkembangan mencapai pada setiap tingkat.
Para ahli percaya bahwa perkembangan kecerdasan dan sosial anak secara bertahap dengna tidakberkeseimbangan seperti halnya fase berjalan secara kulitatif berbeda dengan fase merangkak. Perubahan dari merangkak ke berjalan menunjukan hal penting dalam perkembangan.
d.                  Perkembangan dapat diramalkan
Manusia dapat meramalkan kapan anak dapat mencapai kematangan. Hal ini disebabkan karena tempo perkembangan setiap anak relatif tetap/konstan. Contoh, jika kematangan pada anak tiba dan pada saat itu anak menyukai hal-hal yang bersifat seni maka hendaknya menyarankan atau membimbing anak itu masuk ke sekolah yang khusus mengenai bidang seni yang berupa kegiatan diluar sekolah.
4.                  Pengalaman dalam perkembangan anak
Pengalaman merupakan pelajaran berbuat lebih baik dari sebelumnya. Pengalaman yang diperoleh dapat berupa pengalaman positif atau negatif.
a.                   Pengalman positif
Pengalaman ini dapat mengembangkan pribadi anak. Dengan pengalaman positif anak menjadi matang dan penghayatan hidupnya akan menjadi luas, misalnya seorang anak kesulitan menjawab soal matematika. Suatu saat nanti anak itu menemukan cara sehingga bisa menyelesaikan soal matematikanya.
b.                  Pengalaman negatif
Pengalaman negatif yang dialami anak dapat menghambat atau melumpuhkan perkembangan anak. Contoh, anak tidak pernah menjawab pertanyaan dari gurunya kare sebelumnya menjawab dengan jawaban yang salah yang menjadi bhaan gunjingan temannya . jadi anak tersebut enggan menjawab pertanyaan gurunya karena takut salah.
5.                  Implikasi bagi guru
Masa peka atau kematangan anak berbeda antara anak satu dan lainya. Apabila masa peka anak timbul maka sebagai pendidik harus mengetahui dan segera mungkin mengambil langkah yang dirasa perlu untuk mengembangkan dan kemajuan anak. Masa tersebut merupakan masa yang tepat untuk dilatih dan diajar. Apabila pendidik kehilangan kesempatan maka sia-sialah pengajaran yang selama ini diajarkan.
Dalam mendidik hendaklah pendidik jangan sungkan untuk memberi perhatian lebih, dalam arti memuji dan apabila memungkinkan memberikan penghargaan terhadap perbuatab anak yang pantas mendapatkannya. Janganlah membentak, memarahi apalagi mencemooh anak didepan teman-temannya.  Keadaan ini dapat menghambat perkembangan anak biarkanlah anak berkembang dengan tigas perkembangan yang dimilikinya. Sebagai pendidik janganlah memaksakan kehendak anak untuk melakukan keinginan pendidik.
Pengalaman yang pendidik peroleh baik negatif atau positif hendaklah dijadikan pelajaran yang berharga untuk melangkah lebih lanjut. Apabila memungkinkan pengalaman yang guru peroleh dan mempunyai kaitannya dengan proses pendidikan dapat berbagi dengan siswa. Pengalaman positif atau negatif dapat membuka wawasan baru didalam memperbaiki program pelajaran yang telah dilakukan.

PENUTUP
A.                Kesimpulan
Pertumbuhan diartikan sebagai perubahan alamiah secara kuantitatif pada segi jasmaniah atau fisik dan atau menunjukkan kepada suatu fungsi tertentu yang baru (yang tadinya belum tampak) dari organisme atau individu. Konsep pertumbuhan mempunyai makna luas, mencangkup segi-segi kuantitatif dan kualitatif serta aspek-aspek fisik-psikis seperti yang terkandung dalam istilah-istilah pertumbuhan, kematangan dan belajar atau pendidikan dan latihan. Belajar atau pendidikan menunjukkan kepada perubahan pola-pola sambutan atau perilaku dan aspek-aspek kepribadian tertentu sebagai hasil usaha individu atau organisme yang bersangkutan dalam batas-batas waktu setelah tiba masa pekanya. Dengan demikian, dapat dibedakan bahwa perubahan-perubahan perilaku dan pribadi sebagai hasil belajar itu berlangsung secara intensional atau dengan sengaja diusahakan oleh individu yang bersangkutan, sedangkan perubahan dalam arti pertumbuhan dan kematangan berlangsung secara alamiah menurut jalannya pertambahan waktu atau usia yang ditempuh oleh yang bersangkutan. Pertumbuhan terbatas pada perubahan-perubahan yang bersifat evolusi (menuju ke arah yang lebih sempurna). Perubahan-perubahan aspek fisik dapat diidentifikasikan relative lebih mudah manifestasinya karena dapat dilakukan pengamatan langsung seperti tinggi dan berat badan, tanggal dan tumbuhnya gigi dan sebagainya. Lain halnya dengan segi-segi psikis yang relative sulit diidentifikasi karena kita hanya mengamati dan sampai batas tertentu.
Perkembangan diartikan sebagai perubahan-perubahan yang dialami oleh individu atau organisme menuju tingkat kedewasaannya yang berlangsung secara sistematis, progresif dan berkesinambungan baik fisik maupun psikis.
Perkembangan biologis, sosial dan perkembangan psikis merupakan tiga hal penting dalam perkembangan manusia. Pola perkembangan manusia dipengaruhi oleh tiga fase yaitu: refleks, naluri dan perbuatan atas dasar kemauan.
Sedangkan perkembangan itu sendiri mencakup perkembangan biologis, sosial dan psikis. Perkembangan psikis seseorang tidak begitu tampak seperti pada perkembangan fisik dan pada dasarnya antara perkembangan biologis seseorang tak lepas dari perkembangan fisik.
Suatu perkembangan selalu melalui proses. Asumsi mengenai peroses perkembangan yaitu :
1.                  Perkembangan dianggap sebagai satu totalitas
2.                  Perkembangan sebagai proses sosialisasi
3.                  Perkembangan merupakan proses asosiasi.
4.                  Perkembangan merupakan keterkaitan antara asas biologis, ketidak berdayaan, keamanan dan eksplorasi.
Penggolongan dari fase-fase perkembangan peserta para ahlinya adalah:
1.                  Berdasarkan aspek biologis dengan ahlinya Aristoteles, Sigmund Freud, dll.
2.                  Derdasarkan aspek didaktis dengan ahlinya J.J. rousseau dan J.A Comenius.
3.                  Berdasarkan aspek biologis dengan ahlinya Oswald Kroh dan Charlotte Buhler.
Hukum-hukum perkembangan manusia diantaranya:
1.                  Hukum tempo perkembangan anak.
2.                  Hukum irama perkembangan anak.
3.                  Hukum konvergensi perkembangan anak.
4.                  Hukum kesatuan organ tubuh anak.
5.                  Hukum herarki perkembangan anak.
6.                  Hukum masa peka anak.
7.                  Hukum mempertahankan diri.
8.                  Hukum rekapitulasi.
Apabila anak sudah siap atau matang untuk menerima tugas tertentu maka pada saat itulah merupakan saat yang tepat untuk diajar. Pengajaran menjadi sia-sia bila diberikan pada waktu yang tidak tepat atau dipaksakan, sebaliknya akan membuahkan hasil bila dilakukan pada waktu yang tepat.
Proses kematangan adalah saat dimana suatu kekuatan dari dalam diri anak yang mendorong berkembangnya suatu fungsi. Kematangan mempengaruhi kualitas hasil usaha bekajar anak.
Beberapa ciri dari tugas perkembangan diantaranya mengkuti pola tertentu, perkenbangan bergerak dari tanggapan yang umum ke yang khusus berlangsung secara berkesinambungan dan perkembangan dapat diramalkan.
Setiap manusia mempunyai pengalaman, dengan bekal pengalaman positif dan negatif anak tumbuh dan berkembang.

REFERENSI
Ahmad, Abu. (1991). Psikologi perkembangan. Jakarta: Rineke Cipta.
Hulock, Elizabeth. (1978). Child Development. Singapore: Mc.Graw-Hill Book Co.

Surya, H.M,dkk. Kapitaselekta Kependidikan SD. Universitas Terbuka. 

Related Posts

Subscribe Our Newsletter