BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Keberhasilan proses pembelajaran di sekolah antara
lain ditentukan oleh ketepatan pemahaman guru terhadap perkembangan murid.
Pemahaman terhadap perkembangan murid tersebut, dapat menjadi dasar bagi
pengembangan strategi dan proses pembelajaran yang membantu murid mengembangkan
perilaku-perilakunya yang baru. Kenyataan menunjukkan bahwa pada setiap murid
memiliki karakteristik pribadi atau perilaku yang relatif berbeda dengan murid
lainnya. Keragaman perilaku ini mengandung implikasi akan perlunya data dan
pemahaman yang memadai terhadap setiap murid.
Menurut Piaget
(1896-1980). Anak adalah seorang yang aktif, membentuk atau menyusun
pengetahuan mereka sendiri pada saat mereka mengeksplorasi lingkungan dan
kemudian tumbuh secara kognitif terhadap pemikiran-pemikiran yang logis. Setiap
murid khususnya di sekolah dasar memiliki perbedaan antara satu dan lainnya,
disamping persamaannya perbedaan menyangkut kapasitas intelektual,
keterampilan, motivasi, persepsi, sikap, kemampuan minat, latar belakang
kehidupan dalam keluarga, dan lain-lain. Perbedaan ini cenderung akan
mengakibatkan adanya perbedaan dalam belajar setiap murid, baik dalam kecepatan
belajarnya maupun keberhasilan yang dicapai murid itu sendiri.
Perkembangan dan
karakteristik anak pada usia sekolah dasar berbeda-beda. Antara anak yang satu
dengan anak yang lainnya, karakteristik anak pada masa kelas rendah, berbeda
pada masa kelas tinggi. Hal ini dapat dilihat dalam proses pembelajaran anak
usia sekolah dasar utamanya yang ada di kelas rendah belum dapat mengembangkan
keterampilan kognitifnya secara penuh, akan tetapi anak di kelas tinggi sudah
bisa mengembangkan keterampilan kognitif, dan sudah dapat berfikir, berkreasi
secara luas.
Murid datang ke
sekolah dengan harapan agar bisa mengikuti pendidikan dengan baik. Tetapi tidak
selamanya demikian. Berbagai masalah yang mereka hadapi, bersumber dari
ketegangan karena ketidakmampuan mengerjakan tugas, keinginan untuk bekerja
sebaik-baiknya tetapi tidak mampu, persaingan dengan teman, kemampuan dasar
intelektual kurang, motivasi belajar yang lemah, kurangnya dukungan orang tua,
guru yang kurang ramah dan lain-lain. Masalah tersebut tidak selalu dapat
diselesaikan dalam situasi belajar mengajar di kelas, melainkan memerlukan
pelayanan secara khusus oleh guru di luar situasi proses pembelajaran.
Gejala-gejala
munculnya kesulitan belajar dapat diamati dalam berbagi bentuk. Ia dapat muncul
dalam bentuk perubahan perilaku yang menyimpang atau dalam menurunnya hasil
belajar perilaku yang menyimpang. Juga muncul dalam berbagai bentuk seperti:
suka mengganggu teman, merusak alat-alat pelajaran, sukar memusatkan perhatian,
sering termenung, menangis atau sering bolos. Meskipun perilaku yang menyimpang
dapat merupakan indikasi (petunjuk) adanya kesulitan belajar, namun tidak semua
perilaku yang menyimpang dapat disamakan munculnya kesulitan belajar. Untuk
membedakannya pengalaman guru dalam menangani hal ini sangat diperlukan.
Faktor utama
yang melandasi kebutuhan akan layanan bimbingan di SD ialah faktor
karakteristik dan masalah perkembangan siswa. Pendekatan perkembangan dalam
bimbingan merupakan pendekatan yang tepat digunakan di SD dalam mengatasi
masalah belajar, karena pendekatan ini lebih berorientasi kepada penciptaan
lingkungan perkembangan bagi murid, dan berdasar kepada suatu program layanan
yang terstruktur dan sistematis. Peran dan fungsi serta tanggung jawab guru di
SD selain mengajar juga perlu memperhatikan keragaman karakteristik perilaku
murid sebagai dasar penentuan jenis bantuan dan layanan dalam bimbingan belajar
baik secara individual maupun kelompok.
B. Rumusan Masalah
Dari
latar belakang di atas dapat diambil suatu rumusan masalah sebagaimana berikut:
1.
Seperti apakah masalah yang dihadapi siswa sekolah
dasar?
2.
Seperti apakah jenis-jenis masalah siswa sekolah
dasar?
3.
Apakah faktor-faktor yang mempengaruhi timbulnya
masalah?
4.
Apa yang menyebabkan masalah anak lamban ?
5.
Apa yang menyebabkan masalah anak sangat cerdas?
6.
Bagaimanakah tekhnik untuk mengumpulkan data-data murid?
PEMBAHASAN
A. PENGERTIAN MASALAH
Masalah adalah ketidaksamaan antara harapan dengan
kenyataan, ada yang melihatnya sebagai tidak terpenuhinya harapan sesuatu
kebutuhan seseorang, ada pula yang mengartikan sebagai sesuatu yang tidak
mengenakan. Prayitno (1985), memberikan batasan tentang masalah sebagai sesuatu
yang : (1) tidak disukai adanya, (2) menimbulakan kesulitan bagi diri dan orang
lain, dan (3) dan adanya keinginan untuk menghilangkannya. Untuk merefleksikan
pengertian tersebut, dapat dilihat dari kita sendiri. Apabila dalam diri ada
sesuatu yang tidak dikehendaki, tidak disukai atau berkenaan pada sendiri dapat
menimbulkan kesulitan bagi atau bagi orang lain. Jika ada maka dapat dikatakan
dalam diri kita ada masalah, masalah dapat dialami oleh siapa pu, termasuk
siswa sekolah dasar. Untuk itu perlu kita diupayakan penanggulannya.
B. JENIS-JENIS MASALAH SISWA SEKOLAH DASAR
Masalah yang dialami siswa sekolah dasar dapat
bermacam-macam menurut corak dan ragamnya. Keragaman tersebut itu dapat pula
dilihat dari intensitas dan kuantitasnya. Secara intensitas, masalah siswa
sekolah dasar dapat bergerak dari masalah yang bersifat temporer (masalah
ringan), sampai pada tingkat yang sedang yang berupa neurosis, dan berat yang
berupa psikosis. Prayitno (1985) menyusun klasifikasi masalah yang dihadapi
siswa sekolah dasar menjadi enam klasifikasi sebagai berikut:
1.
Masalah perkembangan jasmani dan kesehatan.
2.
Masalah keluarga dan rumah tangga.
3.
Masalah-masalah psikologis.
4.
Masalah-masalah sosial.
5.
Masalah kesulitan dalam belajar.
6.
Masalah motivasi dan pendidikan pada umumnya.
Ahli lain, Stouffer (1968), mengadakan penelitian
tentang tingkah laku bermasalah pada murid SD, dengan responden 481 guru SD di
Amerika Serikat. Hasilnya menemukan 50 jenis masalah tingkah laku pada murid
sekolah dasar. Kelima puluh tingkah laku tersebut adalah sebagai berikut:
1.
Pencurian
2.
Kekejaman
3.
Aktivitas heteroseksual
4.
Sering bolos
5.
Tidak sopan
6.
Merusak barang sekolah
7.
Tidak berpendirian
8.
Suka berbohong
9.
Tidak patuh
10.
Tertekan
11.
Membenci orang lain
12.
Mudah marah
13.
Suka mengasingkan diri
14.
Bicara/menulis cabul
|
15.
Suka bertengkar
16.
Menguasai orang lain
17.
Tidak minat bekerja
18.
Lancang
19.
Mudah meremehkan orang
20.
Mudah dipengaruhi orang
21.
Penakut
22.
Egois
23.
Menyontek
24.
Sering mengompol
25.
Mastrubasi
26.
Malas
27.
Tidak ada perhatian
28.
Tidak rapi di kelas
29.
Suka cemberut
30.
Pengecut
31.
Suka mengkritik
32.
Mudah tersinggung
33.
Sering murung
|
34.
Tidak hati-hati
35.
Pemalu
36.
Curiga
37.
Suka merokok
38.
Keras kepala
39.
Tidak praktis
40.
Mengucapkan kata-kata kotor
41.
Suka menarik perhatian orang
42.
Suka jorok
43.
Tegang
44.
Lamban
45.
Berfikir tidak karuan
46.
Suka mengadu
47.
Suka menyelidiki orang lain
48.
Suka menggangu orang lain
49.
Pengkhayal
50.
Berbisik-bisik
|
Kelima puluh ini diklasifikasikan menjadi lima
kelompok masalah, yaitu sebagai berikut:
1.
Masalah-masalah penyesuaian tingkah laku, misalnya
pencurian, kekejaman, dan suka mengganggu.
2.
Masalah-masalah emosional, misalnya depresi, mudah
marah, cemberut, dan pengecut
3.
Masalah-masalah moral, misalnya mastrubasi, bicara
porno, dan tidak sopan.
4.
Masalah belajar, misalnya bolos, menyontek dan
lamban.
5.
Masalah-masalah sosial kejiwaan, misalnya membenci
orang, dan menekan orang lain.
Ahli lain, Rice (Shertzer dan Stone, 1974)
menggolongkan masalah-masalah yang
dialami siswa sekolah dasar dalam enam kategori sebagai berikut:
1.
Masalah-masalah emosional, yaitu gelisah, aktivitas
berlebihan, tidak matang, impulsif dan murung.
2.
Kelemahan intelektual, misalnya tidak dapat
memusatkan perhatian, kemampuan rendah, lemah ingatan,syaraf penerimaan tidak
berfungsi dengan baik, kebiasaan buruk dalam belajar dan hasil belajar rendah.
3.
Kurang motivasi, termasuk kurang semangat, sikap
tidak baik, frustrasi dan kurang minat belajar.
4.
Kerusan moral, seperti pendusta, bicara porno,
sembrono, mencuri, nilai-nilai belum berkembang.
5.
Sakit jasmani, seperti sakit kronis, dan kesehatan
kronis.
6.
Kesalahsuaian sosial, seperti tingkah laku anti
sosial, agresif, konflik, keterasingan, dan tingkah laku kasar.
Dari berbagai ahli tersebut, dapat kita nuat
klasifikasi masalah yang berkaitan dengan perkembangan muris sekolah dasar
sebagai berikut:
1.
Masalah yang berkaitan dengan perkembangan fisik dan
kesehatan, di antaranya kecacatan, gangguan otot gerak, penyakit yang diderita,
status kesehatan, dan gangguan indra.
2.
Masalah yang berkaitan dengan belajar, diantaranya
lamban belajar, lemah belajar, kurang motivasi belajar dan prestasi belajar
rendah.
3.
Masalah-masalah emosional. Di antaranya takut, mudah
marah, depresi, khawatir dan pengecut.
4.
Masalah-masalah moral, di antaranya bicara porno,
menyontek, berbohong, mencuri, menipu dan lari dari tanggung jawab.
5.
Masalah penyesuaian, di antaranya kejam, suka
mengganggu dan tidak mau bekerja sama.
6.
Masalah-masalah kelompoknya.
7.
Masalah yang berkaitan dengan keluarga dan rumah
tangga.
8.
Masalah kepribadian.
C. FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI TIMBULNYA MASALAH
Masalah yang dihadapi oleh siswa sekolah dasar tidak
timbul begitu saja, tetapi ada berbagai faktor yang menyebabkan timbulnya
masalah tersebut. Apabila guru mampu mengidentifikasi penyebab timbulnya
masalah yang dialami oleh siswa maka ia
akan mampu memberikan penanganan atau pencegahan sedini mungkin. Secara mudah,
apabila dikaitkan dengan penguasaan tugas perkembangan yang seharusnya dicapai
tidak tercapai. Keadaan ini dilihat dari prilaku murid sehari-hari melalui
aktivitasnya di sekolah saat ia mengikuti pelajaran atau saat ia sedang
bermain.
Secara garis besar, faktor-faktor yang mempengaruhi
timbulnya masalah yang dihadapi siswa dapat dikelompokkan menjadi dua, yaitu
faktor yang berasal dari dalam diri siswa (internal)
dan faktor yang berasal dari luar diri siswa (eksternal).
1.
Faktor Internal
a.
Keadaan fisik
Ada tiga kelompok penyebab timbulnya masalah yang
berkaitan dengan keadaan fisik, yaitu sebagai berikut:
1)
Keadaan indra persepsinya
Keberadaan indra merupakan penyebab langsung
permasalahan pada siswa, misalnya siswa yang mengalami gangguan pada indra
penglihatan, akan muncul berbagai masalah yang berkaitan dengan persepsi mata,
pada gilirannya akan mengalami masalah dalam pembentukan konsep melalui mata.
Demikian pula halnya yang mengalami gangguan persepsi lewat telinga persepsi
lewat kulit (peraba, persepsi lewat pengecap, dan persepsi lewat alvaktorik (hidung). Selain itu, mereka
yang mengalami gangguan persepsi, sering mengalami gangguan syaraf sensori dan syaraf motoriknya.
2)
Perkembangan fisik
Perkembangan fisik merupakan sumber permasalahan
bagi siswa, misalnya anak yang terlalu kecil karena perkembangan fisiknya
terganggu, akan mengalami gangguan penyesuaian, demikian pula halnya mereka
yang terlalu besar. Kejadian ini sering menjadi sumber masalah karena
lingkungan anak sekitarnya yang mengejek kehadirannya.
3)
Kesehatan siswa
Kesehatan siswa merupakan penyebab permasalahan.
Siswa yang kesehatannya terganggu (sakit-sakitan) cenderung akan mempunyai
banyak masalah dibanding dengan siswa yang sehat. Anak yang sehat selalu akan
segera ikut ambil bagian dalam kegiatan bermain, sedangkan mereka yang
sakit-sakitan cenderung pasif. Keadaan ini juga berakibat pada keterlibatan
anak dalam kegiatan belajar-mengajar.
b.
Keadaan psikologis
Banyak sumber permasalahan yang disebabkan oleh
keadaan psikologis anak, di antaranya sebagai berikut:
1)
Kurangnya kemampuan dasar (intelegensi)
2)
Kurangnya pengalaman berfantasi
3)
Kurangnya perhatian, konsentrasi terhadap kegiatan
yang terjadi di sekolah maupun di lingkungan anak.
4)
Bakat yang tidak sesuai dengan lingkungan anak.
5)
Tidak adanya minat dalam diri anak.
6)
Sikap yang tidak sesuai dengan hati nuraninya.
7)
Tidak adanya kemauan dalam diri anak.
c.
Pemenuhan gizi
(nutrisi)
Banyak permasalahan yang timbul karena keadaan
nutrisi/gizi anak tidak baik. Pengaruh langsung dari malnutrisi adalah tidak
tercapainya derajat kesehatan anak. Hal ini akan menimbulkan berbagai gangguan,
misalnya mudah lelah, mudah sakit, dan tidak ada konsentrasi. Kekurangan
protein dapat berakibat langsung terhadap kecerdasan anak, avitaminosis dapat
berakibat kebutaan, dan vitaminosis yang lain akan muncul berbagai gangguan
dalam kesehatan anak.
2.
Faktor Eksternal
Faktor eksternal yang mengakibatkan timbulnya
permasalahan bagi anak adalah lingkungan tempat anak berada. Secara garis besar
ada tiga macam lingkungan anak, yaitu sebagai berikut:
a.
Lingkungan keluarga
Lingkungan keluarga merupakan lingkungan pertama
yang sering menyebabkan masalah. Masalah yang sering timbul dari lingkungan
ini, di antaranya adalah:
1)
Keadaan status ekonomi keluarga
Dalam keluarga miskin cenderung timbul berbagai
masalah yang berkaitan dengan pembiayaan hidup anak. Keadaan ini cenderung akan
menuntut anak untuk membantu dalam memnuhi kebutuhan ekonomi keluarga sehingga
merasa terbebani kegiatan ekonomi ini, yang pada gilirannya terganggu kegiatan
belajarnya.
2)
Perhatian orang tua
Kurangnya perhatian orang tua cenderung akan
menimbulkan berbagai masalah anak. Makin besar anak sebenarnya perhatian orang
tua makin diperlukan, hanya variasinya makin banyak, dan caranya berbeda.
Kenakalan anak salah satu penyebabnya adalah kurangnya perhatian orang tua.
3)
Harapan orang tua
Harapan orang tua sering menimbulkan masalah bagi
anak orang tua yang mempunyai harapan yang terlalu tinggi terhadap anak,
apabila tidak sesuai dengan kemampuan anak justru menimbulakan masalah yang
cukup serius bagi anak. Hal ini karena terjadi tuntutan yang lebih dari orang
tua, sementara anak tidak mampu memenuhinya, akhirnya terjadi kompensasi pada
diri anak, demikian pula halnya, bila orang tua harapannya terlalu rendah juga
berakibat tidak adanya motivasi berprestasi bagi anak itu sendiri.
4)
Hubungan keluarga yang tidak harmonis
Hubungan antar keluarga yang tidak harmonis dapat
berupa perceraian orang tua, hubungan antar anggota keluarga yang tidak saling perduli,
dan sebagainya. Keadaan ini dapat berakibat anak menjadi tidak betah berada di
rumah, apabila ini berkelanjutan, dapat merupakan faktor penyebab permasalahan
yang serius.
b.
Lingkungan sekolah
Lingkungan sekolah sering merupakan sumber penyebab
masalah, di antaranya adalah sebagai berikut:
1)
Kondisi kurikulum
Keadaan kurikulum yang sering berubah akan timbulnya
masalah cukup serius bagi siswa. Seyogyanya perubahan kurikulum diterapkan
dengan cukup hati-hati dengan memperhatikan aspek kesiapan siswa sebagai subyek
belajar. Selain itu, isi kurikulum sendiri hendaknya benar-benar sesuai dengan
perkembangannya.
2)
Hubungan guru dengan siswa
Jauhnya perbedaan antar guru dan siswa dari sisi
usia sering menjadi masalah tersendiri bagi siswa. Untuk itu hubungan antar
guru dengan siswa terjalin hubungan akrab seperti halnya hubungan antar bapak
dan anak di rumah. Guru hendaknya memahami perbedaan antar individu siswa.
3)
Hubungan antar siswa
Keadaan latar belakang siswa yang berbeda sering
menjadi penyebab hubungan antar siswa kurang harmonis. Untuk itu, guru
hendaknya cukup peka walaupun di sekolah diciptakan kompetensi siswa, hendaknya
guru lebih giat dalam membantu siswa untuk saling menyesuaikan diri.
4)
Iklim sekolah
Iklim sekolah yang kurang sehat akan menimbulkan
masalah tersendiri bagi siswa. Adanya persaingan antar siswa yang tidak sehat
mendorong guru untuk selalu membantu dalam membina kepribadian dan penyesuaian
dirinya. Penekanan yang terus menerus untuk berhasil akan berakibat munculnya
sifat bohong, masa bodoh, kepatuhan pasif, hilangnya inisiatif dan pengkhayal.
c.
Lingkungan masyarakat
Selain lingkungan sekolah, lingkungan masyarakat
juga dapat menjadi sumber timbulnya masalah. Lingkungan masyarakat yang baik,
selalu mendukung kehadiran sekolah di masyarakatnya sehingga sekolah dapat
berkembang dengan baik. Namun, masyarakat yang tidak mendukung terhadap
kehadiran sekolah akan mengacau, pada gilirannya akan menolak kehadiran sekolah
tersebut. Masyarakat lingkungan sekolah yang sehat dapat menjadi sumber belajar
yang cukup baik.
D. MASALAH NAK LAMBAN (SLOW LEARNER)
Slow
learner merupakan
sebutan bagi sekelompok anak yang mengalami masalah belajar. Mereka mempunyai
prestasi belajar di bawah rata-rata karena intelegensinya setingkat lebih
rendah dari intelegensi anak normal. Rata-rata IQ mereka menurut klasifikasi
berkisar antara 70-90. Anak lamban dapat mengikuti pendidikan pada kelas-kelas
biasa tanpa membutuhkan peralatan khusus, kecuali pengadaptasian program
belajar dengan kemampuan yang ia miliki serta waktu belajar yang agak panjang.
Berdsarkan keadaan tersebut, masalah yang sering
timbul pada anak lamban, di antaranya adalah berikut ini:
1.
Masalah yang berhubungan dengan kemampuan pikir
Kemampuan pikir anak lamban agak rendah sehingga
mereka lambat dalam memecahkan masalah-masalah sederhana. Hal ini menyebabkan
mereka kalah bersaing dengan teman-teman yang normal. Keadaan ini disebabkan
oleh kemampuan dasar (intelegensinya)
yang rendah.
2.
Masalah yang berkaitan dengan ingatan
Ingatan anak lamban agak lemah dan tidak tahan lama.
Mereka lekas lupa dan biasanya tidak mampu mengingat-ingat suatu peristiwa yang
terjadi 3 tahun yang lalu. Dalam proses belajar mengajar di sekolah apa yang
dijelaskan oleh guru hari ini, biasanya beberapa hari kemudian sudah
terlupakan. Lebih-lebih apabila ia mengingat isi pelajaran yang ia pelajari
sendiri. Dalam menangkap kesan juga lambat sehingga ia sering ketinggalan
dengan teman-teman yang normal.
3.
Anak lamban sering terancam putus sekolah
Walaupun demikian, apabila guru memahami lebih awal
sebenarnya mereka dengan proses bantuan yang sistematis dapat menyelesaikan
studi dengan cukup.
4.
Masalah yang berkaitan dengan emosi
Emosi anak lamban rata-rata kurang terkendali,
mereka lebih suka mementingkan diri sendiri, bahkan terjadi kompensasi yang
berlebihan. Apabila badannya besar, mereka cenderung lebih nakal dan bermusuhan
dengan temannya. Perasaanya mudah terpengaruh oleh teman lain atau lingkungan.
Mereka tidak tidak memiliki pendirian yang kuat.
E. MASALAH ANAK SANGAT CERDAS
Anak yang sangat cerdas sering juga disebut sebagai anak berbakat. Anak berbakat adalah anak
yang memiliki kemampuan intelektual atau taraf intelegensi yang tinggi. Menurut
skala intelegensi Wechsler, mereka memiliki taraf intelegensi lebih dari 130,
yang dibedakan menjadi kelompok yang sangat cerdas dan luar biasa cerdas (genius). Dengan keunggulan intelegensi
tersebut mereka peluang besar untuk mencapai prestasi yang paling tinggi
sehingga mereka lebih berhasil dalam kariernya. Untuk itu mereka memerlukan
program khusus yang terencana, selain program umum di sekolahnya.
Beberapa
ciri dari mereka adalah berikut ini:
1.
Memiliki kemampuan yang tinggi dalam penaran,
berfikir abstrak, pengambilan dari fakta-fakta, memahami pengertian, dan
melihat hubungan.
2.
Memiliki rasa ingin tahu yang besar.
3.
Cepat dan mudah menerima pelajaran.
4.
Memiliki ruang lingkup perhatian yang lebih luas,
memungkinkan mereka dapat memiliki objek perhatian yang sesuai dan tekun dalam memecahkan
masalah.
5.
Memiliki perbendaharaan kata yang lebih banyak dan
lebih dalam pengguanaan bahasa dibanding dengan teman sebayanya.
6.
Mempunyai kemampuan kerja mandiri yang efektif.
7.
Memiliki pengamatan yang lebih tajam dan teliti.
8.
Menunjukan orisinalitas dalam kerja intelektual dan
inisiatif.
9.
Menunjukan ketajaman perhatian dan memberikan
tanggapan yang cepat terhadap gagasan-gagasan secara cepat.
10.
Dapat mengingat secara cepat.
11.
Memilki perhatian besar terhadap sifat-sifat dasar
manusia dan alam semesta (asal-usul, dan nasib)
12.
Memilki daya imajinasi yang luar biasa.
13.
Mudah memahami petunjuk dan arahan yang kompleks.
14.
Memiliki macam-macam hobi dan memiliki minat baca
yang besar.
15.
Memiliki kemampuan yang tinggi dalam matematika,
terutama dalam pemecahan masalah.
Berdasarkan ciri-ciri di atas, sebenarnya mereka
tidak bermasalah apabila dilihat dari kemampuan dasar yang mereka miliki.
Namun, kemungkinan masalah yang timbul akibat berpengaruh kemampuannya dengan
mereka yang miliki dan perlakuan guru yang tidak sesuai dengan keadaan dirinya.
Banyak pula di antara mereka yang menjadi pemalas, tidak sabar, pendiam,
gelisah dan kurang memperhatikan pelajaran di sekolah. Mereka sering menjadi
biang keladi di kelas, kesal, dan bosan mendengarkan penjelasan dari guru.
Sehubungan dengan itu, masalah yang mungkin mereka hadapi oleh siswa yang
sangat cerdas, antara lain sebagai berikut:
a.
Masalah pendidikan dan pengajaran
Dalam bidang pendidikan dan pengajaran murid sangat
cerdas dapat menyelesaikan pelajaran lebih cepat daripada murid yang lain.
Dengan demikian, mereka mereka melakukan tugas-tugas tambahan yang terintegrasi
dan terencana. Salain itu, mereka lebih memerlukan pendekatan yang lebih
individual.
b.
Masalah psikologis
Mereka cenderung memikirkan diri sendiri sehingga
perkembangan pribadinya tidak seimbangan, senang menyendiri, sibuk melakukan
tindakan yang melampaui batas.
c.
Masalah sosial psikologis
Dalam bidang bidang ini mereka tidak mudah bergaul,
tidak mudah menerima pendapat orang lain, dan suka menyesuaikan diri dengan temannya.
F. SEGI-SEGI YANG PERLU DIPAHAMI
Pada dasarnya segi-segi individu yang harus dipahami
dalam rangka bimbingan adalah meliputi keseluruhan pribadi siswa beserta latar
belakang yang berkaitan. Secara lebih terperinci, segi-segi tersebut adalah
sebagai berikut ini:
1.
Identitas Diri
Berbagai aspek yang secara langsung menjadi ciri
utama keunikan pertama, misalnya nama,jenis kelamin, umur, agama, tinggi dan
berat badan, warna kulit serta ciri tubuh. Di samping itu, uang tergolong
identitas diri ini, antara lain tempat tinggal, orang tua, dan pendidikan.
2.
Kondisi Jasmaniah dan Kesehatan
Kondisi jasmaniah yang perlu dipahami adalah
kesempurnaan panca indra, penglihatan, pendengaran, kelengkapan anggota badan,
kesempurnaan alat-alat bicara, kelainan dan cacar jasmani yang diderita serta
kehidupan hormon terutama kelamin.
3.
Kapasitas dan Kecakapan
Kapasitas merupakan kemampuan yang masih bersifat
potensial atau terkandung, termasuk ke dalam kapasitas ini adalah kapasitas
yang bersifat umum disebut intelegensi
atau kecerdasan dan kapasitas khusus disebut bakat.
Kecakapan atau
archievement merupakan kemampuan nyata yang telah dikuasai oleh seseorang
pada suatu saat. Kecakapan berkembang dari kapasitas, baik yang bersifat umum
maupun khusus.
4.
Sikap dan Minat
Sikap atau attitude
merupakan kecenderungan untuk merespons atau bertindak terhadap orang,
objek atau situasi tertentu.sedangkan minat atau Intertest merupakan satu kekuatan motivasi yang menyebabkan
seseorang memusatkan perhatian terhadap seseorang, suatu benda ataupun kegiatan
tertentu.
5.
Watak dan Tempramen
Ada orang-orang tertentu yang sering mengartikan
kepribadian sama dengan watak atau temperamental.
Atau memandang watak dan temperamen sebagai unsur yang paling utama dan
pertana. Sesungguhnya watak dan tempramenhanyalah salah satu unsur kepribadian,
sama dengan unsur-unsur atau atribut kepribadian yang lain.
6.
Aspirasi Sekolah dan Pekerjaan
Aspirasi merupakan jangkauan harapan dan kemauan
untuk mencapainya. Aspirasi seseorang siswa sangat dipengaruhi oleh aspirasi
serta matoviasi dari orang tuanya, kondisi ekonomi orang tuanya, kemajuan saat
sekarang serta faktor-faktor lingkungan dan kesempatan yang tersedia.
7.
Aktivitas Sosial
Perkembangan seseorang siswa bukan saja dapat
dilihat dari aktivitas dan prestasi belajarnya di sekolah, tetapi juga dapat
dilihat dari aktivitas dan prestasi sosial sosial di luar sekolah. Untuk
memahami hal itu perlu dikumpulkan data tentang aktivitas sosial tersebut.
8.
Hobi dan Pengisian Waktu Senggang
Jika aktivitas sosial merupakan aktivitas yang dapat
memberikan sumbangan kepada orang lain, masyarakat maka hobi dan pengisian
waktu senggang lebih menunjukan aktivitas untuk kepentingan bagi diri siswa
sendiri. Baik hobi maupun aktivitas sosial keduanya mempunyai peranan yang sama karena dapat merupakan alat bagi pengembangan dan
penyaluran bakat dan minat.
9.
Keluarbiasaan dan Kelainan-kelainan yang Dimiliki
Siswa
Unsurlain yang perlu dipahami dalam bimbingan adalah
keluarbiasaan dan kelainan-kelainan yang dimiliki siswa. Keluarbiasaan siswa
biasanya dapat dilihat dari kemampuan dan prestasi yang sangat menonjol dari
siswa, umpamanya dalam bidang seni, permainan, olahraga, matematika, dan
kemampuan indra.
10.
Latar Belakang Keluarga Siswa
Unsur-unsur di atas mungkin berkembang dalam kondisi
atau dilatar belakangi oleh faktor-faktor dalam keluarga tertentu. Seorang
pembimbing atau guru bukan hanya memahami unsur tersebut, tetapi faktor penting
dalam keluarga yang biasa melatar belakangi perkembangan siswa, seperti berikut
ini:
a.
Keadaan sosial ekonomi keluarga.
b.
Latar belakang pendidikan ayah dan ibu.
c.
Status sosial ayah dalam masyarakat dan dalam
pekerjaan.
d.
Hubungan sosial-psikologis antarorang tua dan antar
orang tua dengan anak.
e.
Aspirasi orang tua tenyang pendidikan anak, serta
perhatiannya terhadap kegiatan belajar anak.
f.
Besarnya keluarga serta orang-orang yang turut
berperan dalam keluarga tersebut.
g.
Lingkungan tempat tinggal keluarga.
h.
Segi-segi etis, religius, dan lain-lain daripada
keluarga.
G.
TEKNIK UNTUK
MENGUMPILKAN DATA-DATA MURID
Salah satu hal
yang penting dalam memberikan suatu bimbingan pada peserta didik adalah melihat
masalah secara keseluruhan baik masalah pribadinya maupun masalah latar
belakang pribadinya.
Tekhnik-tekhnik
untuk mengumpulkan data murid tersebut pada dasarnya dapat dikelompokkan dalam
dua kategori besar yaitu:
1.
Teknik Tes
Teknik
tes atau sering disebut sistem testing merupakan usaha pemahaman murid dengan
menggunakan alat-alat yang bersifat mengukur atau mentes. Peters dan Shertzer (1974: 349) mengartikan
tes sebagai suatu prosedur yang sistematis untuk mengobservasi (mengamati)
tingkah laku indivdu, dan menggambarkan (Mendeskripsikan) tingkah laku itu
melalui sekala angka atau sistem kategori.
Penggunaan
teknik dan tes (Khusunya tes prestasi belajar) bagi guru disekolah bertujuan
untuk :
a.
Menilai
kemampuan belajar murid.
b.
Memberikan
bimbingan belajar kepada murid.
c.
Mengecek
kemajuan belajar.
d.
Memahami
kesulitan-kesulitan belajar.
e.
Memperbaiki
teknik mengajar.
f.
Menilai
efektifitas (keberhasilan) mengajar (Shertzer & Stone, 1971: 235).
Keseluruhan
macam tes untuk keperluan bimbingan, biasanya dikelompokan ke dalam empat
kelompok tes yaitu : tes kecerdasan, tes bakat, tes kepribadian, dan tes hasil
belajar.
1)
Tes
kecerdasan.
Kecerdasan
dapat diartikan sebagai kemampuan berfikir yang bersifat abstrak. Tes
kecerdasan itu tidak lain adalah prosedur yang sistematis dengan menggunakan
instrrumen untuk mengetahui kemampuan umum individu terutama menyangkut
kemampuan berfikirnya.
Lebih
jelasnya gambaran tingkat kecerdasan (IQ) dengan klasifikasinya dapat dilihat
dibawah ini
Kelas Interval Klasifikasi
Skor IQ
140–keatas genius (Luar biasa)
120- 139 Very superior ( sangat cerdas)
110-119 Superior (Cerdas)
90-109 Normal (average)
80-89 Dull (bodoh)
70-79 Border line (Batas normal)
50-60 Marrons (Debiel)
30-49 Embicile (embiciel)
Dibawah -30 Idiot
Untuk
mengetahui kecenderungan tingkat kecerdasan murid, diantaranya digunakan Tes benet- Simon (Verbal tes), yang
dipersiapkan untuk anak berusia mulai 3(Tiga) tahun sampai dengan 15(lima
belas) tahun.
2)
Tes
benet-Simon
Memperhitungkan dua hal
berikut:
Pertama,
umur kronologis (“cronological age” disingkat C.A.); yaitu umur saseorang
sebagai mana yang ditunjukan dengan hari kelahiranya atau lamanya ia hidup
sejak tanggal lahirnya.
Kedua,
umur mental (“mental age” disingkat
M.A.); yaitu umur kecerdasan sebagai mana yang ditunjukan oleh hasil tes
kemampuan akademik.
Dengan
demikian tingka intelegensi ditunjukan dengan perbandingan kecerdasan atau
disebut dengan istilah “Intelliegence
Quotient” yang biasa disingkat I.Q
Perbandingan
kecerdasan itu = umur mental dibandingkan dengan umur kronologis, sehingga diperoleh rumus sebagai berikut.
I.Q.= M.A. : C.A . atau dituliskan :
I.Q
= M.A.
C.A.
Selain teknik test di atas, masih terdapat test kecerdasan
lainnya seperti test progressive Metrices, yaitu alat yang mengukur test
inteligenci secara non-verbal yang diberikan kepada anak yang berusia diantara
9-15 tahun. (Rich & Anderson, dalan Anne Anastasi, 1988)
3)
Test Prestasi Belajar (Achievement test)
Cara mengukur prestasi belajar yang selama
ini digunakan adalah dengan mengukur tes-tes, yang biasa disebut dengan
ulangan. Tes dibagi menjadi dua yaitu: tes formatif dan tes sumatif. Tes
formatif adalah tes yang diadakan sebelum atau selama pelajaran berlangsung,
sedangkan tes sumatif adalah tes yang diselenggarakan pada saat keseluruhan
kegiatan belajar mengajar, tes sumatif merupakan ujian akkhir semester.
Test
prestasi belajar ini disusun untuk mengukur hasil pembelajaran atau kemajuan
belajar murid. Test ini meliputi;
(a) Tes diagnostik, yang dirancang agar guru
dapat menentukan letak kesulitan murid, terutama dalam mata pelajaran
berhitung, dan membaca.
(b) Tes prestasi belajar kelompok yang baku,
dan
(c) Tes prestasi belajar yang disusun para
guru.
4)
Tes
Bakat
Bakat
merupakan kemampuan khusus individu yang dapat berkembang melalui belajar atau
latihan. Untuk mengetahui bakat individu telah dikembangkan beberapa macam tes,
seperti:
(a) Reconic.
Tes ini mengukur fungsi motorik, persepsi, dan berfikir mekanis.
(b) Tes
bakat musik. Tes ini mengukur kemampuan individu
dalam aspek-aspek suara, nada, ritme, warna bunyi, dan memori.
(c) Tes
bakat artistik. Tes ini mengukur kemampuan
menggambar, melukis, dan merupa (mematung).
(d) Tes
bakat klerical (perkantoran). Tes ini mengukur
kemampuan “kecepatan dan kelitian”.
(e) Tes
bakat yang mutifaktor. Tes bakat mengukur
berbagai kemampuan khusus, yang telah lama digunakan adalah DATE (differential artitude test).
Tes ini mengukur
delapan kemampuan khusus, yaitu :
a.
Berfikir
verbal, yang mengungkap kemampuan nalar yang dinyatakan secara verbal;
b.
Kemampuan
bilangan, yang mengungkap kemampuan berfikir dengan menggunakan angka-angka;
c.
Berfikir
abstrak, yang mengungkap kemampuan nalar yang dinyatakan dengan menggunakan
berbagai bentuk diagaram, yang bersifat non-verbal atau tanpa angka-angka;
d.
Hubungan
ruang, visualisasi dan persepsi, yang mengungkap kemapuan untuk membayangkan,
dan membentuk gambar-gambar dari objek-objek dengan hanya melihat gambar diatas
kertas yang rata;
e.
Kecepatan
dan ketelitian, yang mengungkapkan kemampuan ketelitian dan pecepoatan
seseorang dalam memperhatikan dan membandingkan daftar tertulis, seperti nama –
nama, dan angka – angka;
f.
Berfikir
mekanik, yang menguingkapkan kemampuan serta pemahaman mengenai hukum hukum
yang mendasari alat – alat, mesin – mesin dan gerakanny;
g.
Penggunaan
bahasa pengucapan, yang mengungkapkan kemampuan mengeja kata – kata umum;
h.
Penggunaan
bahasa – menyusun kalimat, yang mengungkap kemampuan pemakaian kata – kata
dalam kalimat seperti tanda baca dan tata bahasa.
2.
Teknik Non-tes
Tekhnik
non-tes merupakan prosedur pengumpulan data yang dirancang untuk memahami
kepribadian murid, yang padaumumnya bersifat kualitatif. Tekhnik ini terdiri
dari beberapa macam jenisnya yaitu :
1.
Observasi
Observasi
atau pengamatan yaitu teknik atau cara untuk mengamati suatu keadaan atau suatu
kegiatan ( jtingkah laku ). Karena sifatnya mengamati maka alat yang paling
pokok dalam teknik ini adalah panca indera, terutama indera penglihatan dan
memiliki ciri – ciri sebagai berikut :
a)
Dilakukan
sesuai dengan tujuan yang dirumuskan terlebih dahulu
b)
Direncanakan
secara sistematis
c)
Hasilnya
dicatat dan diolah sesuai dengan tujuan
d) Perlu diperiksa ketelitiannya
Teknik observasi ini dapat dikelompokkan
kedalam beberapa jenis yaitu :
1.
Observasi
sehari – hari, yaitu yang tidak direncanakan dengan seksama, karena pengamatan
ini di kerjakan sambil mengerjakan tugas rutin, juga memiliki pedoman, dan
dilaksanakannya secara insedal terhadap tingkah laku murid yang menonjol atau
menyimpang.
2.
Observasi
sistematis, yaitu yaitu direncanakan dengan seksama serta memiliki pedomannya
yang berisi tujuan, tempat, waktu dan item – item yang menggaambarkan tingkah
laku observan ( murid yang diobservasi )
3.
Observasi
partisipasif, observasi dimana observer berada dalam situasi yang sedang
diamati.
Contoh : guru mengamati
perilaku siswa pada saat proses belajar – mengajar berlangsung
4.
Observasi
non partisipatif, dalam observasi ini obsever tidak turut atau berada dalam
situasi kegiatan siswa.
Contoh : guru mengamati
tingkah laku siswa yang sedang belajar dengan guru lain.
Kelebihan dan kelemahan observasi :
1.
Kelebihan observasi :
a.
Observasi
merupakan teknik yang langsung dapat dipergunakan untuk memperhatikan berbagai
tingkah laku murid.
b.
Observasi
memungkinkan pencatatan yang serempak dengan kejadian yang penting :
1)
Observasi
baik sekali untuk digunakansebagai teknik untuk melengkapi data yang diperoleh
dengan teknil lain
2)
Dalam
observasi pengumpulan data tidak perlu mempergunakan bahasa untuk berkomunikasi
Dalam observasi pengumpulan data tidak perlu mempergunakan bahasa untuk
berkomunikasi dengan objek yang ditelaah.
2.
Kelemahan observasi :
a.
Banyak
hal – hal yang tidak dapat dicapai dengan observasi langsung
b.
Apabila
objek obsevasi mengetahui bahwa ia sedang diamati cenderung melakukan
kegiatannya dibuat – buat
c.
Timbulnya
suatu kejadian yang hendak diobservasi tidak selalu dapat diramalkan sebelumnya
sehingga pengamat sukar untuk menentukan waktu yang tepat untuk melakukan
observasi
d.
Observasi
banyak tergantung kepada afaktor – faktor yang tidak dapat dikontrol.
Peran guru
disekolah dapat menggunakan teknik observasi ini dengan berbagai tujuan,
seperti untuk mengetahui :
Pertama
, aktivitas yang
dilakukian para murid pada saat proses belajar – mengajar berlangsung
Kedua, perhatian murid terhadap pelajaran yang
diberikan.
Contoh daftar cek untuk mengobserrvasi
kegiatan murid pada saat proses belajar – mengajar berlangsung.
LEMBAR OBSERVASI TERHADAP KEGIATAN MURID
SISWA KELAS 5PADA SAAT PROSES BELAJAR – MENGAJAR BERLANGSUNG
No
|
MURID
|
KEGIATAN
|
|||
MENCATAT
|
BERTANYA
|
MENJAWAB
|
MENGANTUK
|
||
PELAJARAN
|
PERTANYAAN
|
||||
1
|
SALIM
|
√
|
√
|
−
|
−
|
2
|
SOLEH
|
√
|
√
|
√
|
−
|
3
|
MARIAM
|
√
|
−
|
−
|
−
|
4
|
NANDANG
|
√
|
−
|
−
|
−
|
5
|
DOYOT
|
−
|
−
|
−
|
√
|
Hari / tanggalk observasi :
.........................................
Berdasarkan observasi diatas guru akan mengetahui
murid yang aktif dan yang pasif dalam belajar.
2.
Catatan anekdot
Catatan anekdot yaitu catatan otentik
hasil observasi yang menggambarkan tingkah laku siswa atau kejadian atau
peristiwa dalam situasi yang khusus. Catatan anekdot ini bisa menyangkut
tingkah laku seorang murid atau kelompok.
Dengan menggunakan
catatan anekdot guru dapat :
a.
Memperoleh
pemahaman yang tepat tentang perkembangan murid.
b.
Mengetahui
tentang sebab-sebab dari gejala tingkah laku murid.
c.
Memudahkan
dalam menyesuaikan diri dengan kebutuhan murid.
Syarat-syarat catatan anekdot meliputi :
1.
Objektif
Untuk memperhatikan objektifitas dapat dilakukan hal-hal sebagai
berikut:
a)
Catatan
dibuat sendirioleh guru.
b)
Pencatatan
dilakukan segera setelah peristiwa terjadi.
c)
Deskripsi
suatu peristiwa dipisahkan dari tafsiran pencatatan sendiri.
2.
Deskriptif
Catatan mengenai suatu peristiwa mengenai murid hendaknya lengkap
disertai dengan latarbelakang, percakapan dilaksanakan secara langsung, dan
kejadian-kejadian dicatat dengan tersusun sesuai dengan kejadiannya.
3.
Selektif
Situasi yang dicatat adalah situasi yang relevan dengan tujuan dan
masalah yang sedang menjadi perhatian guru sesuai dengan situasi dan keadaan
murid.
3.
Wawancara
Metode wawancara adalah suatu cara untuk mendapatkan
data dengan mengadakan hubungan secara langsung dengan informasi (siswa,
keluarga atau guru kelas). Adapun wawancara yang digunakan ada dua cara, yaitu:
1.
Wawancara secara langsung, yaitu informasi dan
data digali dengan mewawancarai siswa secara langsung.
2.
Wawancara tidak langsung, yaitu informasi dan data
digali dengan mewawancarai orang-orang yang tahu persis tentang siswa. Dalam
hal ini yang dilakukan adalah dengan guru kelas dan keluarga.
Contoh penggunaan wawancara ini, seperti guru ingin mengetahui
informasi dari murid yang sering membolos dari sekolah. Disini guru dapat
mengajukan pertanyaan tentang identitas orang tua, jarak tempat tinggal,
perhatian orang tua murid terhadap belajar murid, kegiatan sehari-hari yang
sering dilakukan murid dan menanyakan alasannya mengapa sering membolos.
Kelebihan dan kelemahan
metode wawancara
Kelebihan :
1.
Wawancara
merupakan tekhnik paling tepat untuk mengungkapakan kepribadian murid.
2.
Dapat
dilakukan terhadap tingkatan umur.
3.
Dapat
diselenggarakan secara serempak dengan observasi.
4.
Digunakan
untuk pelengkap data yang dikumpulkan dengan tekhnik lain.
Kelemahan:
1.
Tidak efisien
dikarenakan tidak menghemat waktu secara singkat.
2.
Sangat
tergantung dengan ketersediaan keduabelah pihak.
3.
Menuntut
penguasaan bahasa dari pihak pewawancara.
4.
Metode angket
Metode angket adalah sebuah cara untuk
mengumpulkan data dengan cara angket yang berisi pertanyaan-pertanyaan. Dalam
metode ini angket yang yang diberikan kepada siswa dapat dianalisis untuk
menentukan penyebab dari masalah yang dialaminya dalam usaha mencari jalan keluarnya.
Beberapa petunjuk menyusun angket :
a.
Gunakan
kata-kata yang tidak mempunyai arti lengkap.
b.
Susun kalimat
sederhana tapi jelas.
c.
Hindarkan
pemakaian kata-kata yang sulit dipahami.
d.
Hindarkan
pertanyaan-pertanyaan yang tidak perlu.
e.
Pertanyaan
jangan bersifat memaksa untuk dijawab.
f.
Hidarkan
kata-kata yang bersifat negatir dan menyinggung responden.
5.
Auto Biografi
Autobiografi mengandung unsur intrinsik (Skandal, kejayaan, penderitaan
masa lalu, dan hal-hal pribadi yang tak tersentuh oleh publik) adalah syarat
yang diperlukan oleh sebuah autobiografi. Dan semua itu bisa bersifat fakta
atau pun fiksi, jika dalam suatu cerita yang digunakan adalah fiksi, tapi bisa
bercampur fakta yang diambil dalam kehidupan seseorang tertentu. dan dalam
biografi, misalnya pengarang cerita; tentunya yang digunakan adalah fakta.
Autobiografi adalah tulisan tentang biodata data diri kita sendiri yang di buat
agar orang lain tahu siapa kita contoh para penulis novel.
Karangan pribadi ini merupakan ungkapan pribadi murid tentang
pengalaman kehidupannya. Penggunaan auto biografi oleh guru bertujuan untuk
mengetahui tentang keadaan murid yang berubungan dengan minat atau cita-cita
dan sikapnya terhadap keluarga, guruatau sekolah serta dalam pengalaman
kehidupannya.
Karangan
pribadi ini terbagi dalam 2 jenis yaitu:
1.
Terstruktur
Karangan pribadi yang sudah ditentukan tema atau judulnya terlebih
dahulu, seperti:
-
Cita-citaku
-
Keluargaku
-
Teman-temanku
-
Masa kecilku
,dsb.
2.
Yang tidak
terstruktur
Di sini murid ditugaskan membuat karangan pribadi secara bebas tanpa
ditentukan kerangka karangan sebelumnya.
6.
Sosiometri
Tekhnik ini bertujuan untuk memperoleh informasi dengan hubungan atau interaksi
sosial diantara murid, melalui tekhnik ini guru dapat mengetahui tentang:
a.
Murid yang
populer.
b.
Murid yang
terisolir.
c.
Kelompok
kecil murid.
Sosiometri digunakan guru untuk meneliti struktur sosial dari suatu
kelompok individu dengan dasar penelahan terhadap relasi sosial dari
masing-masing anggota kelompok yang bersangkutan. Selain itu metode ini berguna
untuk:
a.
Memperbaiki
hubungan insani diantara anggota kelompok-anggota kelompok tertentu.
b.
Menentukan
kelompok kerja.
c.
Meneliti
kemampuan memimpin seorang individu dalam kelompok tertentu untuk suatu
kegiatan tertentu.
7.
Studi Kasus
Kamus Psikologi (Kartono dan Gulo, 2000) menyebutkan 2 (dua) pengertian
tentang Studi kasus (Case Study) pertama Studi kasus merupakan suatu penelitian (penyelidikan) intensif,
mencakup semua informasi relevan terhadap seorang atau beberapa orang biasanya berkenaan
dengan satu gejala psikologis tunggal. Kedua studi kasus merupakan informasi-informasi historis atau biografis
tentang seorang individu, seringkali mencakup pengalamannya dalam terapi.
Terdapat istilah yang berkaitan dengan case
study yaitu case history atau disebut riwayat
kasus, sejarah kasus. Case history merupakan data yang terimpun yang merekonstruksikan masa lampau
seorang individu, dengan tujuan agar orang dapat memahami
kesulitan-kesulitannya yang sekarang . serta menolongnya dalam usaha penyesuaian
diri (adjustment) (Kartini dan Gulo, 2000).
Berikut ini definisi studi kasus dari beberapa pakar dalam Psikologi
dan Bimbingan Konseling, yaitu ;
Studi kasus adalah suatu teknik mempelajari seorang individu secara
mendalam untuk membantu memperoleh penyesuaian diri yang lebih baik.
(I.Djumhur, 1985).
Studi kasus adalah suatu metode untuk mempelajari keadaan dan
perkembangan seorang murid secara mendalam dengan tujuan membantu murid untuk
mencapai penyesuaian yang lebih baik (WS. Winkel, 1995).
Studi kasus adalah metode pengumpulan data yang bersifat integrative
dan komprehensif. Integrative artinya menggunakan berbagai teknik pendekatan
dan bersifat komprehensif yaitu data yang dikumpulkan meliputi seluruh aspek
pribadi individu secara lengkap (Dewa Ketut Sukardi, 1983).
Studi kasus merupakan teknik yang paling tepat digunakan dalam
pelayanan bimbingan dan konseling karena sifatnya yang komprehensif dan
menyeluruh. Studi kasus menggunakan hasil dari bermacam-macam teknik dan alat
untuk mengenal siswa sebaik mungkin, merakit dan mengkoordinasikan data yang
bermanfaat yang dikumpulkan melalui berbagai alat. Data itu meliputi studi yang
hati-hati dan interpretasi data yang berhubungan dan bertalian dengan
perkembangan dan problema serta rekomendasi yang tepat.
Jadi berdasarkan pembahasan di atas dapat dikatakan bahwa studi kasus
adalah suatu studi atau analisa komprehensif dengan menggunakan berbagai
teknik. Bahan dan alat mengenai gejala atau ciri-ciri/karakteristik berbagai
jenis masalah atau tingkah laku menyimpang, baik individu maupun kelompok.
Analisa itu mencakup aspek-aspek kasus seperti jenis, keluasan dan kedalaman
permasalahannya, latar belakang masalah (diagnosis) dan latar depan
(prognosis), lingkungan dan kondisi individu/kelompok dan upaya memotivasi
terungkapnya masalah kepada guru pembimbing (konselor) sebagai orang yang
mengkaji kasus. Data yang telah didapatkan oleh konselor kemudian dinvertaris
dan diolah sedemikian rupa hingga mudah untuk diinterpretasi masalah dan
hambatan individu dalam penyesuaiannya.
Tujuan Studi Kasus
Studi Kasus diadakan untuk memahami siswa sebagai individu dalam
keunikannya dan dalam keseluruhannya. Kemudian dari pemahaman dari siswa yang
mendalam, konselor dapat membantu siswa untuk mencapai penyesuaian yang lebih
baik. Dengan penyesuian pada diri sendiri serta lingkungannya, sehingga siswa
dapat menghadapi permasalahan dan hambatan hidupnya, dan tercipta keselarasan
dan kebahagiaan bagi siswa tersebut.
Sasaran Studi kasus
Sasaran studi kasus adalah individu yang menunjukan gejala atau masalah
yang serius, sehingga memerlukan bantuan yang serius pula. Yang biasanya
dipilih menjadi sasaran bagi suatu studi kasus adalah murid yang menjadi suatu
problem (problem case); jadi seorang murid membutuhkan bantuan untuk menyesuaikan diri
dengan lebih baik, asal murid itu dalam keadaan sehat rohani/ tidak mengalami
gangguan mental.
Langkah-langkah studi kasus:
1.
Menemukan
murid yang bermasalah
Murid yang bermasalah seperti prestasi belajarnya sangat rendah, sering
menyimpang,bertengkar dan membolos. dalam pemilihan kasus hendaknya dilakukan
secara bertujuan(purposive) dan bukan secara rambang. Kasus dapat dipilih oleh
peneliti dengan menjadikan objek orang, lingkungan, program, proses, dan
masvarakat atau unit sosial. Ukuran dan kompleksitas objek studi kasus haruslah
masuk akal, sehingga dapat diselesaikan dengan batas waktu dan sumbersumber
yang tersedia;
2.
Memperoleh
data
Guru melakukan
pengumpulan informasi atau data mengenai pribadi murid,informasi ini dapat
diperoleh melalui
1)
Studi
dokumentasi yaitu memperoleh data dari dokumen yang telah ada seperti hasil tes
kecerdasan,angket dan observasi.
2)
Pengumpulan
data apabila data yang diperoleh belum memadai dapat ditempuh melalui:
a)
Wawancara
dengan guru lain,untuk melacak pendapaty mereka tentang pribadi murid tersebut
b)
Home
visit,yaitu kunjungan kerumah orang tua untuk memperoleh informasi tentang
kondisi atau keadaan keluarga ,dan pendapat mereka tentang pribadi anaknya.
c)
Wawancara
langsung dengan murid
3. Menganalisis data
Setelah data
terkumpul guru dapat mulai mengagregasi, mengorganisasi, dan mengklasifikasi
data menjadi unit-unit yang dapat dikelola. Agregasi merupakan proses
mengabstraksi hal-hal khusus menjadi hal-hal umum guna menemukan pola umum
data. Data dapat diorganisasi secara kronologis, kategori atau dimasukkan ke
dalam tipologi. Analisis data dilakukan sejak guru di lapangan, sewaktu
pengumpulan data dan setelah semua data terkumpul atau setelah selesai.
Kemudian guru
melakukan analisis terhadap semua data yang diperoleh.langkah ini ditunjukan
untuk menemukan faktor-faktor yang diduga menjadi penyebab rendahnya prestasi
belajar siswa.kemungkinan faktor penyebabnya
1)
Kondisi
keluarga yang tidak harmonis.
2)
Tingkat
kecerdasan rendah
3)
Motifasi
belajarnya rendah
4)
Sering
sakit-sakitan
5)
Kurang
mengetahui pengetahuan atau konsep-konsep dasar dalam mata pelajaran tertentu
4.
Memberikan
layanan bantuan
Apabila
berdasarkan analisis ternyata faktor penyebabnya kurang menguasai konsep-konsep
dasar dalam mata pelajaran tertentu maka layanan bantuan yang diberikan adalah
remidial teaching yaitu pembelajaran penyembuhan dengan cara mengajarkan
kembali kepada murid.
Studi kasus
merupakan teknik memahami perkembangan seorang murid secara menyeluruh dan
mendalam serta mengungkap seluruh aspek pribadi murid yang datanya diperoleh
dari berbagai pihak,seperti dari setiap guru,orang tua,dokter atau pihak yang
berwenang.Penggunaan teknik ini bertujuan untuk memahami pribadi murid yang
lebih baik dan membantunya agar murid dapat mengembangkan dirinya secara
optimal.
Dalam era kemajuan informasi dan teknologi, siswa semakin tertekan dan
terintimidasi oleh perkembangan dunia akan tetapi belum tentu dimbangi dengan
perkembangan karakter dan mental yang mantap.Seorang Guru Bimbingan dan
Konseling atau Konselor mempunyai tugas yaitu membantu siswa untuk mengatasi
permasalahan dan hambatan dan dalam perkembangan siswa.
Setiap siswa sebenarnya mempunyai masalah dan sangat variatif. Permasalahan
yang dihadapi siswa dapat bersifat pribadi, sosial, belajar, atau karier. Oleh
karena keterbatasan kematangan siswa dalam mengenali dan memahami hambatan dan
permasalahan yang dihadapi siswa, maka konselor – pihak yang berkompeten –
perlu memberikan intervensi. Apabila siswa tidak mendapatkan intervensi, siswa
mendapatkan permasalahan yang cukup berat untuk dipecahkan. Konselor sekolah
senantiasa diharapkan untuk mengetahui keadaan dan kondisi siswanya secara
mendalam.
Untuk mengetahui kondisi dan keadaan siswa banyak metode dan pendekatan
yang dapat digunakan, salah satu metode yang dapat digunakan yaitu studi kasus
(Case Study).
Dalam perkembangannya, oleh karena kompleksitas permasalahan yang dihadapi
siswa dan semakin majunya pengembangan teknik-teknik pendukung – seperti hanya
teknik pengumpulan data, teknik identifikasi masalah, analisis, interpretasi,
dan treatment – metode studi kasus terus diperbarui.
Studi kasus akan mempermudah konselor sekolah untuk membantu memahami
kondisi siswa seobyektif mungkin dan sangat mendalam.
Membedah permasalahan dan hambatan yang dialami siswa sampai ke akar
permasalahan, dan akhirnya konselor dapat menentukan skala prioritas penanganan
dan pemecahan masalah bagi siswa tersebut.