A.
Perkembangan
Pada Masa Prenatal
1.
Sebelum
Masa Prenatal
Perkembangan pada masa ini diawali dengan sebuah ikatan
yang sebenarnya sangat saklar bagi umat manusia, karena pada hakikinya seluruh
manusia (normal) di dunia ini mempunyai tujuan hidup yang sama ialah menikah.
Sebab dari setiap individu manusia sangat membutuhkan pasangan hidupnya dalam
menjalani kehidupannya, apabila kita lihat dari faktor biologis itu sangat
jelas dan tidak bisa dipungkiri bahwa baik laki-laki maupun wanita dewasa
sangat membutuhkan sekali pasangan hidup.
Setelah masing-masing individu merasa mantap dan cocok terhadap calon
pasangan hidupnya, mereka pun sepakat untuk hidup bersama dan membangun sebuah
mahligai rumah tangga. Maka kemudian mereka pun melakukan pernikahan agar
ikatan mereka diakui secara resmi dan sah berdasarkan hukum tertulis di hadapan
petugas administrasi pemerintah atau negara. Sebagai pasangan yang sah menurut
hukum dan undang-undang perkawinan, maka mereka diperbolehkan melakukan
hubungan seksual dengan pasangannya. Dan konsekuensi logis dari hubungan ini
adalah terjadinya kehamilan yang selanjutnya akan memperoleh keturunan setelah
janin dilahirkan.
Kelahiran dan kehadiran anak akan menjadi perekat bagi
pasangan suami-istri untuk mempertahankan keutuhan keluarganya. Oleh karena
itu, kehadiran anak dalam suatu pernikahan merupakan anugrah yang harus
disyukuri.
2. Tahapan Masa Prenatal
والله أخرجكم من
بطون أمهاتكم لا تعلمون شيئا وجعل لكم السمع والأبصار والأفئدة لعلكم تشكرون
“Dan Allah mengeluarkan kamu dari
perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatu pun, dan Dia memberi kamu
pendengaran, penglihatan dan hati, agar kamu bersyukur.” (An-nahl:78)
ولقد خلقنا
الإنسان من سلالة من طي
“Dan sesungguhnya Kami telah
menciptakan manusia dari suatu saripati (berasal) dari tanah.”
(Al-mu’minun:12).
ثم جعلناه
نطفة في قرار مكين
“Kemudian Kami jadikan saripati itu
air mani (yang disimpan) dalam tempat yang kokoh (rahim).” (Al-mu’minun:13).
Hal
ini dijadikan sebagai pengetahuan dasar bagi fakultas kedokteran dalam
pelajaran embriologi. Misalnya, dalam buku Basic Human Embryology, sebuah buku
referensi utama dalam bidang embriologi, fakta ini diuraikan sebagai berikut:
"Kehidupan
dalam rahim memiliki tiga tahapan: pre-embrionik; dua setengah minggu pertama,
embrionik; sampai akhir minggu ke delapan, dan janin; dari minggu ke delapan
sampai kelahiran." (Williams P., Basic Human Embryology, 3. edition, 1984,
s. 64. Dikutip dari buku karya Harun Yahya, hlm:108)
-
Tahap Pre-embrionik: zigot tumbuh membesar melalui pembelahan
sel, dan terbentuklah segumpalan sel yang kemudian membenamkan diri pada
dinding rahim. Seiring pertumbuhan zigot yang semakin membesar, sel-sel
penyusunnya pun mengatur diri mereka sendiri guna membentuk tiga lapisan.
-
Tahap Embrionik: Tahap kedua ini berlangsung selama lima
setengah minggu. Pada masa ini bayi disebut sebagai "embrio". Pada
tahap ini, organ dan sistem tubuh bayi mulai terbentuk dari lapisan- lapisan
sel tersebut.
-
Tahap fetus: Dimulai dari tahap ini dan seterusnya,
bayi disebut sebagai "fetus". Tahap ini dimulai sejak kehamilan bulan
kedelapan dan berakhir hingga masa kelahiran. Ciri khusus tahapan ini adalah
terlihatnya fetus menyerupai manusia, dengan wajah, kedua tangan dan kakinya.
Meskipun pada awalnya memiliki panjang 3 cm, kesemua organnya telah nampak.
Tahap ini berlangsung selama kurang lebih 30 minggu, dan perkembangan berlanjut
hingga minggu kelahiran. (Harun Yahya, hlm:108)
ثم خلقنا النطفة علقة فخلقنا العلقة مضغة فخلقنا المضغة
عظاما فكسونا العظام لحما ثم أنشأناه خلقا آخر فتبارك الله أحسن الخالقين
“Kemudian air mani itu
Kami jadikan segumpal darah, lalu segumpal darah itu Kami jadikan segumpal
daging, dan segumpal daging itu Kami jadikan tulang belulang, lalu tulang
belulang itu Kami bungkus dengan daging. Kemudian Kami jadikan dia makhluk yang
(berbentuk) lain. Maka Maha Sucilah Allah, Pencipta Yang Paling Baik.”(Q. S. Al-mu’minun:14).
Para ahli embriologi beranggapan bahwa tulang dan
otot dalam embrio terbentuk secara bersamaan. Pertama, jaringan tulang rawan
embrio mulai mengeras. Semula menganggap bahwa ayat tersebut bertentangan
dengan penelitian mereka tetapi penelitian di tingkat mikroskopis akhirnya
membuktikan kebenaran ayat tersebut. Pertama, jaringan tulang rawan embrio
mulai mengeras. Kemudian sel-sel otot yang terpilih dari jaringan di sekitar
tulang-tulang bergabung dan membungkus tulang-tulang ini. Dalam minggu ketujuh,
rangka mulai tersebar ke seluruh tubuh dan tulang-tulang mencapai bentuknya
yang kita kenal. Pada akhir minggu ketujuh dan selama minggu kedelapan,
otot-otot menempati posisinya di sekeliling bentukan tulang. (Harun Yahya, hlm:
103)
اقرأ باسم
ربك الذي خلق
خلق الإنسان
من علق
اقرأ وربك
الأكرم
الذي علم بالقلم
علم الإنسان
ما لم يعلم
“Bacalah dengan
(menyebut) nama Tuhanmu Yang menciptakan, Dia telah menciptakan manusia dari
segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Maha Pemurah, Yang mengajar
(manusia) dengan perantaraan kalam. Dia mengajarkan kepada manusia apa yang tidak
diketahuinya.”(Q.
S. Al-Alaq: 1-5).
Namun, zigot tersebut tidak melewatkan tahap
pertumbuhannya begitu saja. Ia melekat pada dinding rahim seperti akar yang
kokoh menancap di bumi dengan carangnya. Melalui hubungan semacam ini, zigot
mampu mendapatkan zat-zat penting dari tubuh sang ibu bagi pertumbuhannya.
(Moore, Keith L., E. Marshall Johnson, T. V. N. Persaud, Gerald C. Goeringer,
Abdul-Majeed A. Zindani, and Mustafa A. Ahmed, 1992, Human Development as
Described in the Qur'an and Sunnah, Makkah, Commission on Scientific Signs of
the Qur'an and Sunnah, s. 36. Dikutip dalam Buku karya Harun Yahya, hlm: 106).
3.
Pada
Masa Prenatal
Menurut Papalia, Olds, dan Feldman (1998; 2004) membagi perkembangan
manusia menjadi Sembilan tahap, yakni: masa prenatal, bayi dibawah tiga tahun (toddler),
anak-anak awal (early childhood), anak-anak tengah (middle
childhood), anak-anak akhir (late childhood), remaja (adolescence),
dewasa muda (young adulthood), dewasa tengah (middle adulthood),
dan dewasa akhir (late adulthood).
Pada masa prenatal menurut Rohmah Nikmatur (Pendidikan Prenatal: 2009)
bahwa pada masa ini disebut juga periode prenata. Artinya pada masa ini ialah
periode persiapan menjadi orang tua, baik secara fisik maupun psikologis.
Menjadi orang tua adalah salah satu krisis maturasi dalam kehidupan sekaligus
merupakan masa perkembangan tanggung jawab dan perhatian terhadap orang lain.
Proses ini merupakan masa belajar yang intensif bagi orang tua, karena
merupakan masa belajar yang panjang (40 minggu), dan ibu memerlukan informasi
tentang banyak hal, terutama adaptasi maternal, pertumbuhan janin, dan
persiapan menjadi orang tua. Dengan kata lain pada periode ini dikhususkan pada
wanita yang baru hamil (calon ibu), karena wanita yang baru hamil perlu banyak
belajar.
Masa prenatal dimulai pada saat terjadinya proses konsepsi, yakni
pertemuan antara sperma dan ovum hingga berakhir pada saat bayi dilahirkan.
Masa ini berlangsung antara 180 sampai 344 hari lamanya. Setelah masa ini,
seorang ibu akan melahirkan bayinya. Namun, ada kalanya usia kelahiran dapat
terjadi secara mendadak dan terjadi sebelum usia enam bulan. Karena kondisi
fisik janin yang belum genap berusia tujuh bulan sangat lemah, belum mampu
bernafas secara mandiri, dan metabolisme tubuh belum berfungsi sempurna,
akibatnya janin tersebut cenderung meninggal dunia karena belum mampu
menyesuaikan dengan lingkungan di luar rahim ibunya.
B.
Perkembangan Pada Masa Kelahiran
Setelah melalui proses yang cukup lama yakni kurang lebih sembilan bulan
mengandung (masa prenatal) masa ini adalah masa yang sangat ditunggu-tunggu
oleh semua wanita yang sedang mengandung cabang bayi, baik yang baru hamil atau
yang sebelumnya sudah pernah mengalaminya. Walaupun nyawa adalah taruhannya
akan tetapi masa ini merupakan tantangan dan kewajiban yang harus dialami,
sebab melahirkan bayi merupakan bagian yang harus dilalui oleh seorang wanita
normal dalam kehidupan pernikahannya dan masa prenatalnya. Dari sekian banyak
episode dalam kehidupan seorang wanita yang paling agung adalah menjadi seorang
ibu, dengan melahirkan, seorang wanita benar-benar akan merasakan dan menyadari
kodrat kewanitaannya. Walaupun harus menahan rasa sakit.
Pada masa ini
pun menurut para psikolog memiliki tiga tahap yakni:
a) Tahap
pertama, terjadi kontraksi peranakan yang berlangsung 15 hingga 20 menit pada
permulaan dan berakhir hingga satu menit. Kontraksi ini menyebabkan leher rahim
terentang dan terbuka. Saat tahap pertama berlangsung, kontraksi semakin
sering, dan terjadi setiap 2 hingga 5 menit. Intensitasnya juga meningkat. Pada
akhir tahap pertama kelahiran, kontraksi memperlebar leher rahim hingga terbuka
sekitar 4 inchi sehingga bayi dapat keluar dari saluran peranakan ke saluran
kelahiran.
b) Tahap kedua, dimulai ketika kepala bayi
bergerak melalui leher rahim dan saluran kelahiran. Tahap ini berakhir ketika
bayi benar-benar keluar dari tubuh ibu. Tahap ini berlangsung kira-kira 1,5
jam.
c) Tahap
ketiga setelah bayi lahir. Pada waktu ini, ari-ari, tali pusar, dan selaput
lain dilepaskan dan dibuang. Tahap akhir inilah yang paling pendek, yang
berlangsung hanya beberapa menit saja.
Perlu diingat ketiga tahap di atas hanyalah teori
maksudnya pada proses persalinan tidak terlepas pada kehendak Allah SWT yang
maha segala-galanya. Karena pada kenyataannya, pada kelahiran terdapat lima
jenis kelahiran.
(1)
kelahiran normal atau spontan.
(2)
kalahiran dengan peralatan.
(3)
kelahiran sunsang.
(4)
kelahiran melintang, dan
(5)
kelahiran melalui pembedahan caesar.
Bayi yang lahir secara spontan biasanya lebih cepat
dan berhasil menyesuaikan diri dengan lingkungan barunya dibanding bayi yang
mengalami proses kelahiran yang lama dan sulit, serta menggunakan alat
pembedahan.
C.
Faktor-faktor
Perkembangan Prenatal
Para ahli psikologi perkembangan yang membahas mengenai perkembangan
manusia selalu mengkaitkan istilah nature dan nurture. Dimana setiap
perkembangan manusia dipengaruhi oleh interaksi dari kedua hal tersebut.
Konsep nature muncul dipengaruhi oleh aliran filsafat barat yang
dikemukakan oleh Jean Jacquess Rousseau (dalam Stumpf, 1999, dalam http://yuudho.blogspot.com/2010/01/masa-prenatal.html).
Ia menyatakan bahwa faktor-faktor alamiah mempengaruhi perkembangan kehidupan
manusia. Istilah nature mengandung pengertian faktor-faktor alamiah yang
berhubungan dengan aspek bio-fisiologis terutama keturunan, genetis dan
herediter. Perkembangan manusia sangat dipengaruhi oleh faktor keturunan.
Sifat-sifat, maupun kepribadian yang dimiliki oleh orang tua akan diturunkan
melalui unsur gen kepada anak-anaknya. Bukan hanya yang bersifat fisiologis
seperti berat badan, tinggi badan, warna kulit, rambut, jenis penyakit, akan
tetapi juga karakteritik psikologis yang menyangkut tipe, kepribadian,
kecerdasan, bakat, kreativitas, dan lain-lain.
Sedangkan konsep nurture dipengaruhi oleh aliran filsafat empirisme yang
dikemukakan oleh Jhon Locke. Melalui teori tabula rasa, Locke mengatakan bahwa
manusia dilahirkan dalam keadaan suci, bagaikan kertas putih yang masih bersih,
ia percaya bahwa baik dan buruknya perkembangan hidup manusia tidak
dilepaskan dari pengaruh lingkungannya. Konsep nurture merupakan faktor-faktor
yang berhubungan dengan lingkungan eksternal, seperti pola asuh, pendidikan,
sosial budaya, media masa, status sosial ekonomi, agama, dan sebagainya.
Seorang individu akan berkembang menjadi orang dewasa yang baik, mandiri,
cerdas, dan bertanggung jawab, apabila ia berada dalam lingkungan hidup yang
mendukung perkembangan tersebut. Lingkungan hidup yang buruk akan menyebabkan
individu berkembang menjadi seorang pribadi yang tidak baik, bodoh, jahat, dan
sebagainya.
Dari beberapa pendapat di atas, masa hamil merupakan masa penting yang
harus diperhatikan secara serius. Keteledoran dalam perawatan terhadap bayi
dalam kandungan akan membawa dampak buruk bagi pertumbuhan dan perkembangannya
di kemudian hari. Setiap kondisi yang tidak baik selama periode kehamilan akan
mempengaruhi perkembangan anggota-anggota tubuh dan seluruh pola perkembangan
janin. Adapun faktor-faktor yang mempengaruhi masa prenatal ialah:
a)
Asupan Nutrisi
dan Gizi
Pemenuhan kebutuhan makanan sehat yang mengandung nutrisi, gizi, vitamin,
protein, dan mineral selama kehamilan adalah mutlak dan tak dapat ditunda-tunda
lagi. Bayi-bayi yang dilahirkan dari orang tua yang memperhatikan masalah ini
ternyata membawa pengaruh positif. Ia menjadi bayi yang sehat, cerdas, lincah,
dan mudah bergaul. Sebaliknya ibu yang selama hamiltak mau dan tak mampu
memenuhi kebutuhan nutrisi, ternyata menyebabkan bayi lahir premature, berat
kurang dari 2500 gram, mengalami gangguan pernapasan, sulit bergaul dan taraf
intelegensinya rendah.
b)
Prilaku Hidup
Sehat
Semasa hamil, seorang wanita hendaknya tak terlibat dalam penggunaan
obat-obatan, kecuali dalam keadaan sakit yang memerlukan pengawasan medis dari
dokter. Kelalaian dalam memperhatikan kondisi kehamilan yang disebabkan oleh
penggunaan narkoba (narkotik dan obat-obat terlarang lainnya) akan membawa
dampak negatif bagi bayi yang dilahirkan. Calon ayah juga diharapkan tidak
mengkonsumsi alkohol, obat-obatan terlarang atau merokok agar tidak
mempengaruhi kehamilan istrinya. Orang tua yang kecanduan narkoba akan
menyebabkan kelahiran bayi prematur, keguguran, kematian bayi, intelegensi
rendah, bahkan mengalami retandasi mental.
c)
Konseling Pra
Pernikahan
Konseling ini bertujuan untuk memepersiapkan calon pasangan suami-istri
yang akan menghadapi berbagai masalah perkawinan, memelihara dan merawat anak,
memenuhi kebutuhan ekonomi, dan melakukan komunikasi efektif antara suami
istri. Agar memperoleh keturunan yang sehat dan normal, maka kegiatan atau
konseling menjadi sangat penting untuk diperhatikan dan dilakukan oleh setiap
calon pasangan suami istri yang akan menikah
d)
Konseling
Genetik
Konseling genetik yaitu suatu konseling yang dilakukan agar mendapatkan
kelahiran anak-anak yang sehat dan normal, serta menghindari kelahiran cacat
fisik maupun cacat mental. Konseling sudah dilakukan di negara-negara maju
seperti Jepang, Jerman, Kanada, Australia, dan sebagainya. Cara ini mencakup
telaah yang luas dan terinci mengenai riwayat kesehatan suami maupun istri
untuk menentukan apakah ada, kapan, dan dalam bentuk apa abnormalitas fisik
atau mental yang terdapat dalam keluarga mereka. Kalau penelitian riwayat
kesehatan menunjukkan atau menyimpulkan bahwa terdapat beberapa abnormalitas
genetik dalam keluarga suami atau keluarga istri, atau kalau salah satu anak
dalam keluarga mempunyai kondisi yang berasal dari keturunan dan dari
pengalaman lingkungan, orang tua diberitahu tentang kemungkinan mempunyai anak
cacat dan disarankan untuk menggunakan teknik-teknik keluarga berencana untuk
mencegah kehamilan. Kalau kehamilan sudah terjadi, mereka disarankan untuk
mempertimbangkan aborsi.
D.
Faktor-faktor
Yang Mempengaruhi Ukuran Kelahiran Bayi
Para ahli kedokteran, gizi, maupun psikologi berpendapat bahwa ada enam
faktor yang mempengaruhi ukuran kelahiran bayi yaitu.
1.
Waktu Masa Kehamilan
Janin yang matang selama masa prenatal akan tumbuh berkembang menjadi
bayi yang memiliki berat badan, tinggi badan, maupun warna kulit yang normal.
Waktu masa kehamilan janin dalam kandungan seorang ibu kurang lebih selama 9
bulan 10 hari. Oleh karena itu bayi-bayi yang lahir dalam keadaan sehat dan
normal biasanya memiliki usia yang cukup ketika masih berada dalam kandungan
ibunya. Sebaliknya bayi-bayi premature yang memiliki ukuran berat badan rendah
(low birth), ukuran badan kecil dan mungkin warna kulit yang agak pucat
cenderung berada dalam kandungan kurang dari 9 bulan.
2.
Perilaku Diet
Ibu Selama Masa Hamil
Banyak bayi yang cenderung kurus, berat badan rendah, maupun ukuran
panjang bayi disebabkan oleh kurangnya memperoleh gizi yang cukup selama masa
kehamilan. Para ibu yang melakukan diet selama masa hamil berpengaruh secara
signifikan terhadap kurangnya penyerapan konsumsi gizi, protein maupun zat-zat
mineral lainnya yang dibutuhkan oleh janin. Akibatnya janin tidak dapat
mengalami pertumbuhan dan perkembangan secara normal.
3. Status
Sosial Ekonomi Keluarga
Status ekonomi keluarga berpengaruh secara nyata terhadap pemenuhan
kebutuhan gizi bagi seluruh anggota keluarga tersebut. Orangtua yang memiliki
status social ekonomi menengah ke atas (middle-high family economic status)
cenderung akan dapat mencukupi kebutuhan makanan bergizi yang baik. Hal ini
berpengaruh pula terhadap para calon ibu untuk memenuhi kebutuhan gizi yang
diperlukandalam proses pertumbuhan dan perkembangan oleh janin dalam
kandungannya. Dengan demikian bayi-bayi terlahir pun akan memiliki berat badan,
tinggi badan maupun taraf kesehatan yang baik. Sebaliknya para ibu yang berasal
dari keluarga yang memiliki status social ekonimi rendah (low family economic
status) cenderung kurang dapat mencukupi kebutuhan gizi yang baik untuk janin
yang dikandungnya. Akibatnya bayi yang lahir akan memiliki berat badan rendah,
dan panjang badan yang pendek. Dalam studi kasus ditemukan bayi-bayi yang lahir
dari keluarga miskin cenderung mengalami gizi buruk (poor nutrition) akibatnya
menderita gangguan busung lapar.
4. Urutan
Kelahiran
Dalam studi ditemukan bahwa bayi-bayi yang lahir sebagai anak pertama
(firstborn infant) cenderung memiliki ukuran tubuh yang lebih kecil, pendek dan
lebih ringan dibandingkan bayi yang lahir sebagai anak kedua atau ketiga dalam
suatu keluarga yang sama.
5. Jarak
Kelahiran Bayi dalam Keluarga
6.
Aktivitas Janin
Masa Prenatal
Janin yang aktif bergerak selama masa prenatal merupakan cirri calon bayi
yang sehat dan normal karena energi tubuhnya dapat tersalurkan dengan baik.
Dengan gerakan yang aktif akan meningkatkan kekuatan kerja fungsi detak jantung
yang baik, kelenturan dan kekuatan otot-otot badan, meningkatkan daya
intelektual dan menambah berat badannya. Sebaliknya janin yang malas bergerak,
pasif dan banyak tidur cenderung tumbuh berkembang menjadi bayi yang obesitas
(gemuk). Dalam pertumbuhan berikutnya, bayi-bayi yang malas bergerak akan menjadi
anak yang juga malas bergerak, pasif dan obesitas (gemuk).
REFERENSI
Yusuf,
Syamsu dan M. Sugandhi, Nani. 2011. Perkembangan peserta didik. Jakarta: PT.
Raja Grafindo Persada
Poerwati,
Endang. 2002. Memahami perkembangan peserta didik. Malang: Umm Press
Http://yuudho.blogspot.com/2010/01/masa-prenatal.html
(20 Maret 2012. Pukul 13.00 WIB)
Sunarto
dan Hartono B. Agung. 2006. Perkembangan peserta didik. Jakarta: Rineka Cipta
Fatimah,
Enung. 2006. Psikologi perkembangan. Bandung: CV. Pustaka Setia
Yahya Harun. 2002. Al-Qur’an dan Sains.
Bandung: Buku-buku Sains Islam Dzikra.