PENDAHULUAN
A. Latar
Belakang
Perkembangan anak manusia merupakan
sesuatu yang kompleks. Artinya banyak faktor yang turut berpengaruh dan saling
terjalin dalam berlangsungnya proses perkembangan anak. Baik unsure-unsur
bawaan maupun unsure-unsur pengalaman yang diperoleh dalam berinteraksi dengan
lingkungan sama-sama memberikan kontribusi tertentu terhadap arah dan laju
perkembangan ank tersebut.
Guru terutama guru SD diharapkan
mempunyai pemahaman konseptual tentang perkembangan dan cara belajar anak di
SD. Pemahaman konseptual tersebut meliputi gambaran tentang siapa anak SD dan
bagaiamana mereka berkembang, yang mencakup tentang karakteristik perkembangan
anak usia SD dalam berbagai aspek fisik biologis, kognitif, bahasa, dan
psikososial. Selain itu diperlukan adanya pemahaman tentang prinsip-prinsip
belajar anak, proses-proses psikologis yang terjadi dalam belajar anak serta
peran motivasi dalam belajar anak.
Dengan
bekal pemahaman konstektual tersebut, guru diharapkan dapat mengaplikasikan
pemahaman tersebut dalam menyelenggarakan proses pembelajaran yang berorientasi
pada perkembangan anak SD.
B.
Rumusan Masalah
Dalam
penyusunan makalah ini, terdapat beberapa rumusan masalah adalah sebagai
berikut:
1.
Apa yang dimaksud proses belajar?
2.
Bagaimanakah perkembangan
anak sekolah dasar
3.
Bagaimana cara
belajar anak sekolah dasar ?
4.
Bagimana tahap
belajar anak sekolah dasar?
C. Tujuan Masalah
Dari rumasan masalah di atas, maka terdapat beberapa
tujuan antara lain untuk:
1.
Mengetahui yang dimaksud proses belajar.
2.
Mengetahui perkembangan
anak sekolah dasar.
3.
Mengetahui cara
belajar anak sekolah dasar.
4.
Mengetahui tahap
belajar anak sekolah dasar.
PEMBAHASAN
A.
Pengertian Proses Belajar
Belajar adalah perubahan pengetahuan-perilaku-pribadi,prmanen
dan pengalaman. Untuk dapat menampakkan keberadaan belajar sebagai proses
terpadu, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan, yang pertama, belajar
sebagai proses terpadu, yang kedua, belajar sebagai aktivitas pemerolehan
pengalaman, yang ketiga, belajar dalam hal ini lebih menuntut kepada
terciptanya suatu aktivitas yang melibatkan siswa secara aktif dan intensif.
Kebutuha Pengembangan anak yang tidak hanya dibatasi oleh
pencapaian prestasi akademik saja, tetapi aspek sosial dan emosional, mendorong
guru untuk menjadikan belajar sebagaiproses interaktif. Ada beberapa model
pembelajaran yang dapat dipilih untuk mengembangkan kegiatan pembelajaran,
apakah itu model behavioral, model kognitif, ataupun model pemrosesa
informasi,pada dasarnya tidak ada model yang sangat efektif yang dapat dipilih
untuk semua jenis pembelajaran, sebab pada prakteknya, model yang dipilih bersifat
kontekstual.
Jadi proses belajar adalah suatu proses adanya perubahan
tingkah laku siswa kearah yang lebih baik.
B. Perkembangan Anak Sekolah Dasar
- Perkembangan Secara Fisik
Perkembangan fisik peserta didik usia SD/MI meliputi
pertumbuhan tinggi dan berat badan. Perubahan proporsi atau perbandingan antar
bagian tubuh yang membentuk postur tubuh, pertumbuhan tulang, gigi, otot, dan
lemak. Pertumbuhan dan perkembangan fisik anak menentukan ketrampilan anak
bergerak. Pertumbuhan dan perkembangan mempengaruhi cara memandang dirinya
sendiri dan orang lain, yang berdampak dalam melakukan penyesuaian dengan
dirinya dan orang lain.
a.
Pertumbuhan Tinggi
Pertumbuhan tinggi badan setiap anak berbeda-beda,
tapi mengikuti pola yang sama.
1) Anak usia 5
tahun : tinggi tubuh 2x dari tinggi/panjang tubuh saat lahir.
Setelah itu melambat 7 cm setiap tahun.
2) Anak usia 12/13 thn : tinggi anak 150
cm, masih bertambah sampai usia
18 tahun ketika mengakhiri masa remaja.
Pada akhir usia SD dan anak masuk masa puber,
pertumbuhan anak laki-laki lebih lambat dari anak perempuan. Namun setelah itu,
pertumbuhan laki-laki lebih cepat.
b.
Perkembangan Berat
Tubuh Peserta Didik.
1) Anak usia 5
tahun : berat 5x setelah
dilahirkan.
2) Anak masa
anak : berat 35-40
kg.
c.
Pertumbuhan Tulang, Gigi, Otot dan Lemak.
1) Pertumbuhan
tulang (jumlah dan komposis) pada peserta didik usia SD/MI cenderung lambat
dibandingkan anak awal dan remaja.
2) Pengerasan
tulang dan tulang rawan menjadi tulang keras berlangsung terus sampai akhir
masa remaja.
3) Pertumbuhan
tulang terjadi tidak serempak dan kecepatannya berbeda, tergantung pada
hormone, gizi dan zat mineral yang dikonsumsi.
4) Pada dua
tahun terakhir masa anak akhir dimana terjadi periode lemak, terjadi
pembengkokkan tulang karena tulang belum/tidak cukup keras menompang berat
badan.
5) Pergantian
gigi susu menjadi gigi tetap terjadi pada peserta didik usia SD/MI menjadi
peristiwa penting karena dapat mempengaruhi perilaku anak.
6) Perkembangan
susunan syaraf pada otak dan tulang belakang mempengaruhi perkembangan indra
dan berpikir anak yang berdampak pada kemampuan anak dalam belajar.
7) Sebagian
peserta usia SD/MI juga berbeda pada masa awal remaja/puber.
2. Faktor
yang mempengaruhi perkembangan fisik
Pertumbuhan fisik peserta didik usia SD/MI lebih
lambat dibandingkan dengan tingkat pertumbuhan masa sebelumnya (masa bayi dan
TK awal) dan sesudahnya (masa puber dan remaja). Jadwal waktu pertumbuhan fisik
tiap anak tidak sama, ada yang berlangsung cepat, sedang atau lambat. Banyak
faktor yang mempengaruhi perkembangan fisik anak a.n:
a. Pengaruh keluarga
1)
Faktor keturunan
Membuat anak menjadi gemuk dari pada anak lainnya.
Perbedaan ras suku bangsa (orang Amerika,Eropa, dan Australia cenderung
lebih tinggi dari pada orang Asia).
2)
Faktor lingkungan
Akan membantu menentukan tercapai tidaknya perwujudan
potensi keturunan anak tersebut. Lingkungan lebih banyak pengaruhnya terhadap
berat tubuh daripada tinggi tubuh.
b. Jenis Kelamin
Anak laki-laki cenderung lebih tinggi dan lebih berat
dibandingkan dengan anak perempuan, kecuali pada usia 12-15 tahun.
c. Gizi dan kesehatan
1)
Anak yang memperoleh gizi cukup biasanya lebih
tinggitubuhnya dan relatif lebih cepat mencapai masa puber dibandingkan dengan
anak yang bergizi kurang.
2)
Anak yang sehat dan jarang sakit biasanya mempunyai
tubuh sehat dan lebih berat dibanding dengan anak yang sering sakit.
d. Status sosial dan ekonomi
1)
Fisik anak dari kelompok ekonomi rendah cenderung
lebih kecil dibandingkan dengan keluarga ekonomi cukup atau tinggi.
2)
Keadaan status ekonomi mempengaruhi peran keluarga
dalam memberi makan, gizi dan pemeliharan kesehatan serta kegiatan pekerjaan
yang dilakukan anak.
e. Gangguan Emosional
Anak yang sering mengalami gangguan emosional akan
menyebabkan terbentuknya steroid adrenalin yang berlebihan. Hal ini menyebabkan
berkurangnya hormon pertumbuhan pada kelenjar pituitary, akibatnya anak
mengalami keterlambatan perkembangan memasuki masa puber.
Bagi anak usia SD atau MI, reaksi yang diperlihatkan
orang lain terutama oleh teman-teman sebayanya terhadap ukuran dan proporsi
tubuhnya mempunyai makna penting. Apabila ukuran-ukuran dan proporsi tubuh anak
berbeda jauh dengan teman sebayanya anak akan merasa kelainan, tidak mampu dan
rendah diri.
3. Perkembangan Intelek
Pengertian kognitif meliputi aspek struktur intelek
yang dipergunakan untuk mengetahui sesuatu, dan dalamnya terdapat aspek:
persepsi, ingatan, pikiran, simbol, penalaran, dan pemecahan persoalan.
Perkembangan kognitif merupakan proses dan hasil individu dengan lingkungannya.
Selain itu, struktur pengetahuan juga menjelaskan
tentang tingkat kecerdasan peserta didik pada usia SD. Dengan adanya beberapa
kecerdasan tiap individu, maka memungkinkan terjadinya kecerdasan ganda
(multiple intelligence), sehingga perlu diadakannya semacam tes untuk
mengetahui tingkat intelegensi tiap individu yang biasa disebut dengan IQ
(Intelligence Quotient). IQ merupakan hasil bagi usia mental dengan usia
kronologis atau kalender dikalikan seratus. Dengan berpegang pada satuan ukuran
IQ, maka kecerdasan dikategorikan dalam tabel berikut (Sukmadinata, 2003):
IQ
|
Kategori
|
140-……
|
Genius
|
130-139
|
Sangat
cerdas
|
120-129
|
Cerdas
|
110-119
|
Di atas
normal
|
90-109
|
Normal
|
80-89
|
Di bawah
normal
|
70-79
|
Bodoh
|
50-69
|
Debil
|
25-49
|
Imbecil
|
……..-25
|
Idiot
|
Ada beberapa faktor yang mempengaruhi perkembangan
intelek peserta didik usia SD atau MI, antara lain:
- Kondisi
organ penginderaan sebagai saluran yang dilalui pesan indera dalam
perjalanannya ke otak (kesadaran).
- Intelegensi
mempengaruhi kemampuan anak untuk mengerti dan memahami sesuatu.
- Kesempatan
belajar yang diperoleh anak.
- Tipe
pengalaman yang didapat anak secara langsung akan berbeda jika anak
mendapat pengalaman seara tidak langsung dari orang lain atau inform
C. Cara Belajar Anak Sekolah Dasar
Memahami cara belajar anak adalah kunci pokok untuk
menunjang keberhasilan anak. Sebaliknya, jika cara belajar anak tidak dipahami,
maka hasilnya akan kurang maksimal. Secara umum, cara belajar adalah bagaimana
seseorang menangkap, mengerti, memproses, mengungkapkan, dan mengingat suatu
informasi.
Cara belajar anak SD dibanding orang dewasa mempunyai
perbedaan yang besar. Menurut Piaget (1950), setiap anak memiliki cara
tersendiri dalam menginterpretasikan dan beradaptasi dengan lingkungannya.
Menurutnya, setiap anak memiliki struktur kognitif yang disebut schemata.
Schemata adalah sistem konsep yang merupakan hasil pemahaman anak atas
objek yang berada di sekitar anak. Pemahaman tentang objek tersebut berlangsung
melalui proses asimilasi dan akomodasi. Asimilasi yaitu menghubungkan objek
baru dengan konsep yang sudah ada dalam pikiran, sedangkan akomodasi adalah
proses memanfaatkan konsep-konsep yang sudah ada dalam pikiran untuk
menafsirkan objek baru.
Kedua proses tersebut akan berlangsung secara terus
menerus sehingga membuat pengetahuan lama dan pengetahuan baru menjadi
seimbang. Dengan demikian anak akan dapat membangun pengetahuan melalui
interaksi secara langsung dengan lingkungannya. Berdasarkan hal tersebut, maka
perilaku belajar anak sangat dipengaruhi oleh aspek-aspek dari dalam dirinya
dan lingkungannya. Kedua hal tersebut tidak mungkin dipisahkan karena memang
proses belajar terjadi dalam konteks interaksi diri anak dengan lingkungannya.
Demikianlah “Cara Belajar Anak Sekolah Dasar”.
D. Tahap Belajar Anak Sekolah Dasar
Anak usia sekolah dasar berada pada tahapan operasi
konkret. Pada rentang usia sekolah dasar tersebut, anak mulai menunjukkan
perilaku belajar sebagai berikut:
1) Mulai
memandang dunia secara objektif, bergeser dari satu aspek situasi ke aspek lain
secara reflektif dan memandang unsur-unsur secara serentak.
2) Mulai
berpikir secara operasional.
3) Mempergunakan
cara berpikir operasional untuk mengklasifikasikan benda-benda.
4) Membentuk
dan mempergunakan keterhubungan aturan-aturan, prinsip ilmiah sederhana, dan
mempergunakan hubungan sebab akibat.
5) Memahami
konsep substansi, volume zat cair, panjang, lebar, luas, dan berat.
Memperhatikan tahapan perkembangan berpikir tersebut,
kecenderungan belajar anak usia sekolah dasar memiliki tiga ciri, yaitu:
1) Konkret.
Konkret mengandung makna proses belajar beranjak dari
hal-hal yang konkret yakni yang dapat dilihat, didengar, dibaui, diraba, dan
diotak atik, dengan titik penekanan pada pemanfaatan lingkungan sebagai sumber
belajar. Pemanfaatan lingkungan akan menghasilkan proses dan hasil belajar yang
lebih bermakna dan bernilai, sebab siswa dihadapkan dengan peristiwa dan
keadaan yang sebenarnya, keadaan yang alami, sehingga lebih nyata, lebih
faktual, lebih bermakna, dan kebenarannya lebih dapat dipertanggungjawabkan.
2) Integratif
Pada tahap usia sekolah dasar, anak memandang sesuatu
yang dipelajari sebagai suatu keutuhan, mereka belum mampu memilah-milah konsep
dari berbagai disiplin ilmu, hal ini melukiskan cara berpikir anak yang
deduktif yakni dari hal umum ke bagian demi bagian.
3) Hierarkis
Pada tahapan usia sekolah dasar, cara anak belajar
berkembang secara bertahap mulai dari hal-hal yang sederhana ke hal-hal yang
lebih kompleks. Sehubungan dengan hal tersebut, maka perlu diperhatikan
mengenai urutan logis, keterkaitan antar materi, dan cakupan keluasan serta
kedalaman materi.
PENUTUP
A.
Kesimpulan
Proses belajar adalah
suatu proses adanya perubahan tingkah laku siswa kearah yang lebih baik.
Perkembangan anak terbagi menjadi perkembangan fisik dan perkembangan intelek. Cara belajar anak SD dibanding orang
dewasa mempunyai perbedaan yang besar. Menurut Piaget (1950), setiap anak
memiliki cara tersendiri dalam menginterpretasikan dan beradaptasi dengan
lingkungannya. Menurutnya, setiap anak memiliki struktur kognitif yang disebut schemata.
Schemata adalah sistem konsep yang merupakan hasil pemahaman anak atas
objek yang berada di sekitar anak. Pemahaman tentang objek tersebut berlangsung
melalui proses asimilasi dan akomodasi. Asimilasi yaitu menghubungkan objek
baru dengan konsep yang sudah ada dalam pikiran, sedangkan akomodasi adalah
proses memanfaatkan konsep-konsep yang sudah ada dalam pikiran untuk
menafsirkan objek baru. Anak usia sekolah dasar berada pada tahapan operasi
konkret. Pada rentang usia sekolah dasar tersebut, anak mulai menunjukkan
perilaku belajar sebagai berikut:
1) Mulai
memandang dunia secara objektif, bergeser dari satu aspek situasi ke aspek lain
secara reflektif dan memandang unsur-unsur secara serentak.
2) Mulai
berpikir secara operasional.
3) Mempergunakan
cara berpikir operasional untuk mengklasifikasikan benda-benda.
4) Membentuk
dan mempergunakan keterhubungan aturan-aturan, prinsip ilmiah sederhana, dan
mempergunakan hubungan sebab akibat.
Memahami konsep substansi, volume zat cair, panjang,
lebar, luas, dan berat.
REFERENSI
Agustin,
Mubiar. 2009. Inovasi Pembelajaran.
Jakarta : Riefka Aditama.
Surya,
dkk. 2004. Kapita Selekta. Jakarta :
Universitas Terbuka.
Taber,
Ben Zion. 2010. Kapita Selekta. Jakarta
: EGC