Sejarah Kerajaan Hindu Budha


Sejarah Kerajaan-kerajaan Hindu
     Kata “Hindu” berasal dari bahasa Persia yang berarti “sungai”, sejak ribuan tahun sebelum Masehi, orang Persia menjuluki penduduk kota-kota di Lembah Sungai Indus sebagai bangsa Hindu. Kata Hindu dalam bahasa Sansekerta adalah Sindhu.[2] Sebelum Hindu muncul, di Lembah Sungai Indus telah berkembang peradaban yang mengagumkan. Peradaban ini berlangsung antara 3000 – 2000 SM, peradaban ini ditandai oleh pendirian kota-kota yang teratur antara lain Harappa dan Mohenjodaro. Penduduk Lembah Indus berasal dari bangsa Dravida. Penyebaran agama Hindu dan Buddha dari India ke Indonesia berkaitan erat dengan kegiatan perdagangan yang berlangsung pada awal Masehi. Pada awalnya hubungan dagang terjadi antara India, Indonesia, dan Cina. Hubungan dagang melalui jalur laut dilakukan melewati perairan Indonesia, melalui hubungan dagang itu berkembang kebudayaan yang dibawa oleh para pedagang di Indonesia. Namun dalam perkembangannya, hanya kebudayaan India yang lebih dominan berkembang di Indonesia dan dapat memengaruhi tata kehidupan masyarakat Indonesia dalam segala bidang.
Pusat-pusat agama Hindu terdapat di sekitar daerah Jawa, Bali, dan Kalimantan. Sedangkan pusat agama Buddha terdapat di Sumatra. Batas penyebaran agama Hindu dan Buddha dapat dibedakan secara politis dan budaya, batas penyebaran politis ditentukan berdasarkan pusat-pusat kerajaan yang muncul pada masa perkembangan agama Hindu-Buddha di Indonesia. Sedangkan batas perkembangan budaya ditentukan berdasarkan penyebaran terjauh berbagai peninggalan bercorak Hindu-Buddha. Adapun dalam hal politik, batas paling timur mulai dari bagian utara Kalimantan, melintas ke Selat Makkasar lalu ke selatan melintas ke Selat Sape (antara Pulau Sumbawa dan Pulau Flores). Dalam hal budaya, batas paling timur melintasi perairan antara Maluku dan Papua.
Bukti-bukti yang menunjukkan adanya pengaruh agama dan kebudayaan India di Indonesia adalah sebagai berikut:
  1. Banyak penduduk yang memeluk agama Hindu setelah para pendatang dari India memperkenalkan agama Hindu.
  2. Masyarakat Indonesia dahulu tidak mengenal sistem kerajaan. Sistem pemerintahan yang ada pada waktu itua dalah pemerintahan desa yang dipimpin oleh kepala suku. Kedudukan sebagai kepala suku tidak di-wariskan secara turun-temurun. Karena pengaruh agama Hindu, sistem pemerintahan desa diganti kerajaan.
  3. Adanya hasil kebudayaan khas India seperti bangunan candi, seni pahatan patung, seni relief, dan seni sastra. Dalam bidang sastra kebudayaan India memperkenalkan budaya baca tulis dalam huruf Pallawa dan bahasa Sansekerta.

Pengaruh agama dan kebudayaan India di Indonesia yang lain adalah munculnya kerajaan-kerajaan Hindu, seperti Kerajaan Kutai, Tarumanegara, Kediri, Singasari, dan Majapahit.

Agama Hindu berasal dari India, kemudian berkembang ke berbagai negara di Asia termasuk Indonesia. Berikut beberapa kerajaan bercorak Hindu di Indonesia:[3]
1.      Kerajaan Kutai
Kutai adalah kerajaan Hindu tertua di Indonesia. Kerajaan Kutai didirikan sekitar abad ke-4 (400 M). Letaknya di tepi Sungai Mahakam sekarang bernama Tenggarong di Provinsi Kalimantan Timur. Raja pertamanya bernama Kudungga, lalu digantikan oleh Aswawarman, kemudian raja Aswawarman digantikan oleh putranya yang bernama Mulawarman. Raja yang terkenal adalah Mulawarman.
 Prasasti Yupa ini ditemukan di Muara Kaman, dan prasasti ini menggunakan huruf Pallawa dan bahasa Sansekerta. Yupa merupakan tiang batu yang biasa digunakan untuk mengikat hewan, dalam Yupa tersebut diceritakan bahwa Raja Mulawarman telah memberikan banyak sedekah kepada rakyat dan para Brahmana berupa emas, lampu, dan sapi sebanyak 20.000 ekor. Peninggalan lainnya adalah kalung china yang terbuat dari emas, satu arca bulus, dan dua belas arca batu. Dikerajaan inipun dilakukan ritual upacara Asmawedha atau upacara pelepasan kuda yang bertujuan untuk menentukan batas-batas wilayah kerajaan. Upacara inipun pernah dilakukan di India pada masa pemerintahan Raja Samudragupta ketika ingin memperluas wilayahnya
Kehidupan ekonomi masyarakat Kutai tidak banyak diketahui dari prasasti-prasasti Kutai. Namun melihat letaknya Kutai sangat strategis, yaitu terletak pada jalur aktivitas  pelayaran dan perdagangan antara dunia barat dan dunia timur. Perdagangan dijadikan sebagai mata pencaharian utama.

2.      Kerajaan Tarumanegara
Berdasarkan penemuan beberapa prasasti tentang Kerajaan Tarumanegara, bahwa letak kerajaan itu di sekitar Jawa Barat yang berpusat di daerah Bogor. Wilayah kekuasaan Tarumanegara meliputi daerah Banten, Jakarta, sampai perbatasan Cirebon, sehingga dapat disimpulkan bahwa pada masa pemerintahan Raja Purnawarman wilayah kekuasaan kerajaan Tarumanegara hampir menguasai seluruh wilayah Jawa Barat. Nama kerajaan kemungkinan diambil dari nama “tarum” yang berarti jenis tumbuhan yang daunnya dapat dibuat nila dan ada hubungannya dengan nama sungai terpanjang di Jawa Barat yaitu sungai Citarum. Di bawah ini peta kerajaan Tarumanegara;[4]


Kerajaan ini berdiri sekitar abad ke-5 M. Prasasti-prasasti yang menerangkan keberadaan Kerajaan Tarumanegara antara lain: Prasasti Ciaruteun (Ciampea, Bogor), Prasasti Kebon Kopi (Bogor), Prasasti Jambu (Bogor), Prasasti Muara Cianten (Bogor), Prasasti Tugu (Jakarta Utara), Prasasti Pasir Awi 

(Leuwiliang), Prasasti Munjul (Banten). Prasasti-prasasti tersebut menggunakan huruf Pallawa dan bahasa Sansekerta yang diperkirakan ditulis pada abad ke-5 M. Peninggalan Kerajaan Tarumanegara antara lain, Arca Rajasi, Arca Wisnu Cibuaya I, Arca Wisnu Cibuaya II, Irigasi sungai Ganati, dan tujuh buah prasasti yang telah disebutkan di atas.
Berdasarkan tulisan-tulisan yang terdapat pada prasati diketahui bahwa raja yang pernah memerintah hanyalah Raja Purnawarman. Hal ini dibuktikan dari prasasti Tugu yang menyatakan Purnawarman berhasil membuat saluran air untuk mengairi lahan pertanian rakyat dan mencegah banjir.
Penyebab runtuhnya kerajaan Tarumanegara tidak diketahui jelas, namun diperkirakan berkaitan dengan kemunculan Kerajaan Sriwijaya di Pulau Sumatra.

3.      Kerajaan Holing
Letak Kerajaan Holing hingga kini belum dapat diketahui dengan pasti. Hal ini disebabkan tidak adanya penemuan-penemuan berupa prasasti. Namun ada beberapa pendapat yang menyatakan letak dari Kerajaan Holing.
Menurut Berita Cina, berasal dari Dinasti T’ang menyebutkan bahwa letak Kerajaan Holing berbatasan dengan laut sebelah selatan, Kamboja di sebelah utara, Bali sebelah Timur, To-Po teng di sebelah barat. Nama lain dari Holing adalah Cho-po (Jawa), sehingga berdasarkan berita tersebut dapat disimpulkan bahwa Kerajaan Holing terletak di Pulau Jawa, khususnya Jawa Tengah. Berita ini datang dari pendeta I-tsing yang menyebutkan bahwa seorang temannya yang bernama Hui-Ning dengan pembantunya bernama Yunki pergi ke Holing tahun 664/665 M untuk mempelajari agama Buddha. Disamping itu, diberitakan  bahwa Kerajaan Holing telah beberapa kali mengirim utusan ke Cina. Dikatakan bahwa Kerajaan Holing telah menjalin hubungan yang sangat luas, walaupun secara politis kedudukannya tidak tinggi. Dan menurut J.L Moens terdapat di selat malaka.[5]
Berdasarkan berita Cina disebutkan bahwa Kerajaan Holing diperintah oleh seorang Raja putri yang bernama Ratu Sima. Pemerintahan Ratu Sima sangat keras tetapi adil dan bijaksana, rakyat tunduk dan taat dengan segala perintah Ratu Sima dan kehidupan sosial masyarakat Holing sudah teratur rapi.
Kehidupan masyarakat Holing berkembang pesat, masyarakat Kerajaan Holing telah mengenal hubungan dagang. Mereka menjalin hubungan perdagangan pada suatu tempat yang disebut dengan pasar, pada pasar itu mereka mengadakan hubungan dagang dengan teratur.

4.      Kerajaan Melayu
Kerajaan Melayu merupakan salah satu kerajaan terkemuka di Sumatra bagian selatan waktu itu, Kerajaan Melayu diperkirakan berpusat di daerah Jambi yaitu ditepi kanan-kiri sungai Batanghari. Di sungai ini ditemukan peninggalan purba berupa candi-candi, arca, dan yang lainnya.
Sumber sejarah yang dapat digunakan untuk menyelidiki Kerajaan Melayu hanyalah berasal dari sumber Cina, sedangkan berita dari prasasti sama sekali tidak ada. Seorang musafir Cina bernama I-Tsing (671-695 M) menyebutkan di dalam bukunya, bahwa di abad ke-7 M secara politik kerajaan Melayu dimasukkan ke dalam Kerajaan Sriwijaya.

5.      Kerajaan Kediri
Pada akhir pemerintahan Raja Airlangga, wilayah kekuasaanya dibagi dua, untuk menghindari terjadinya perang saudara. Maka muncullah Kerajjan Kediri dengan ibukota Daha, diperintah oleh Jayawarsa dan Kerajaan Jenggala dengan ibukota Kahuripan, yang dierintah oleh Jayengrana. Tetapi dalam perkembangan selanjutnya Kerajaan Kendiri mecapai kemajuan lebih pesat dari Kerajaan Jenggala. Kerajaan Kediri terletak di sekitar Kali Berantas, Jawa Timur. Berdiri sekitar tahun 1042 M, Kerajaan Kediri berjaya pada pemerintahan Raja Kameswara yang bergelar Sri Maharaja Sirikan Kameswara. Kameswara meninggal pada tahun 1130. Penggantinya adalah Jayabaya. Jayabaya adalah raja terbesar Kediri. Ia begitu terkenal karena ramalannya yang disebut Jangka Jayabaya. Raja Kediri yang terakhir adalah Kertajaya yang meninggal tahun 1222. Pada tahun itu Kertajaya dikalahkan oleh Ken Arok di Desa Ganter, Malang. Pada awalnya, wilayah kekuasaan Kerajaan Kediri meliputi Madiun, dan daerah bagian barat Kerajaan Medang Kamulan. Melalui pelabuhan Canggu, aktivitas perekonomian rakyat sangat lancar sehingga mendatangkan kemakmuran. Wilayah pengaruh Kerajaan Kediri kemudian berkembang mencakup wilayah Indonesia Timur, wilayah pemerintahan ini sama seperti pada masa Raja Dharmawangsa. Terdapat beberapa raja yang memerintah diantaranya sebagai berikut:
·         Raja Sri Bameswara (117-1130 M).
·         Raja Jayabaya (1135-1157 M).
·         Raja Sri Sareswara (1159-1161 M).
·         Raja Sri Aryswara (1162-1168 M).
·         Raja Sri Gandra (1169-1171 M).
·         Raja Kameswara.
·         Raja Kertajaya.

Dalam bidang kebudayaan dan sastra meninggalkan beberapa kitab yaitu Smaradahana, Bharatayuda, Hariwangsa, Gatotkacasatya, dan Sumanasakanta. Sumber sejarah Kerajaan Kediri berasal dari beberapa prasasti, sebagai berikut:
·         Prasasti Sirah Keting (1104 M), yang memuat tentang pemberian hadiah tanah kepada rakyat desa oleh Raja Jayawarsa.
·         Prasasti Ngantang (1135 M), yang menyebutkan tentang Raja Jayabaya yang memberikan hadiah kepada rakyat desa Ngantang sebidang tanah yang bebas dari pajak.
·         Prasasti Jaring (1181 M), dari Raja Gandra yang memuat tentang sejumlah nama-nama hewan seperti kebo waruga dn tikus jinada.
·         Prasasti Kamulan (1194 M), yang menyatakan bahwa pada masa pemerintahan Raja Kertajaya, Kerajaan Kediri telah berhasil mengalahkan musuh yang telah memusuhi istana di Katang-katang.
·         Prasasti Panumbangan.
·         Prasasti Palah.
·         Prasasti Hantang.
·         Prasasti Talan.
·         Prasasti Jepun.
·         Prasasti Kahyunan.
·         Prasasti Semanding.
·         Candi Panataran, di bawah ini merupakan gugusan candi panataran;


Kerajaan kediri mengalami kemunduran pada masa pemerintahan Kertajaya, karena kertajaya kurang bijaksana dan sering berselisih dengan para Brahmana sehingga tidak disukai.


6.      Kerajaan Singasari
Kerajaan Singasari terletak di Singasari, Jawa Timur. Luasnya meliputi wilayah Malang sekarang. Berdiri sekitar abad ke-12, Kerajaan Singasari didirikan oleh Ken Arok. Beliau memerintah tahun 1222-1247 M. Para penggantinya adalah Anusapati (1227-1248), Panji Tohjaya (1248), Ranggawuni (1248-1268), Kertanegara (1268 - 1292). Beberapa peninggalan masa kebesaran Singasari antara lain: Candi Jago/Jajaghu, sebagai ma-kam Wisnuwardhana, Candi Singasari dan Candi Jawi, sebagai makam Kertanegara, Candi Kidal, sebagai makam Anusapati, dan Patung Prajnaparamita, sebagai perwujudan Ken Dedes. Kerajaan Singasari mencapai puncak kejayaannya pada masa pemerintahan Kertanegara.
Pada masa akhir Kerajaan Kediri daerah Tumapel yang terletak di sebelah timur Gunung Kawi, merupakan sebuah daerah yang dikepalai seorang akuwu bernama Tunggul Ametung.[6] Cita-cita Kertanegara adalah  ingin menyatukan nusantara yang  meliputi Bali, Pahang, Sunda, Kalimantan Barat, dan Maluku. Namun cita-citanya tersebut tidak tercapai karena tahun 1292 M Singasari diserang oleh Jayakatwang (kerajaan bawahannya).
Beberapa peninggalan Singasari adalah Candi Jago/Jajahu sebagai makam Wishnu Wardhana, Candi Singasari dan Candi Jawa sebagai makam Kertanegara, Candi Kidal sebagai makam Anusapati, Patung Pragnaparamita sebagai perwujudan Ken Dedes.
Kehidupan ekonomi kerajaan Singasari tidak diketahui secara jelas, tetapi mengingat Kerajaan Singasari berpusat di tepi Sungai Brantas (Jawa Timur), yaitu secara langsung maupun tidak langsung rakyatnya ikut ambil bagian dalam dunia pelayaran. Keadaan ini juga didukung oleh hasil-hasil bumi yang sangat besar dari rakyat Jawa Timur. Raja Kertanegara berusaha untuk menguasai jalur perdagangan di Selat Malaka, penguasaan jalur pelayaran perdagangan atas Selat Malaka itu bertujuan untuk membangun dan mengembangkan aktivitas perekonomian kerajaannya. Dengan kata lain, Raja Kertanegara berusaha menarik perhatian para pedagang untuk melakukan kegiatannya di wilayah Kerajaan Singasari.

7.      Kerajaan Bali
Kerajaan Bali terletak di sebuah pulau kcil yang tidak jauh dari Jawa Timur yaitu di sekitar daerah Tampak Siring dan  Pejeng (berdasarkan keterangan dari prasasti dan Lontar Bali). Kerajaan Bali didirikan oleh dinasti Warmadewa. Dalam perkembangan sejarahnya, Bali mempunyai hubungan erat dengan Pulau Jawa karena letak kedua pulau ini berdekatan, bahkan ketika Kerajaan Majapahit runtuh banyak rakyat Majapahit yang melarikan diri dan menetap di sana. Sampai sekarang ada Kepercayaan bahwa sebagian dari masyarakat Bali dianggap pewaris tradisi Majapahit.
Peninggalan dari kerajaan Bali di antaranya:
·                Prasasti Berangka (882 M) dan Tugu Sanur Berangka (914 M).
·                Prasasti Sanur (917 M), Prasasti ini menunjukkan adanya kekuasaan raja-raja dari Wangsa atau Dinasti Warmadewa.
·                Prasasti Calcuta (1042 M), Dalam prasasti ini disebutkan tentang asal-usul Raja Airlangga yaitu dari keturunan raja-raja Bali, Dinasti Warmadewa. Raja Airlangga terlahir dari pernikahan Raja Udayana (Kerajaan Bali) dengan Mahendradata (putri Kerajaan Medang Kamulan, adik Raja Dharmawangsa).
·                Bangunan Candi, Kompleks Candi Gunung Kawi (Tampak Siring) merupakan makam dari raja-raja Bali yang dibangun pada saat pemerintahan Raja Anak Wungsu.

Sistem dan pemerintahan raja-raja Bali Kuno tidak dapat diketahui secara jelas. Raja-raja Bali kuno yang pernah berkuasa di antaranya:
a.       Raja Sri Kesari Warmadewa.
b.      Raja Urgasena.
c.       Raja Tabanendra Warmadewa.
d.      Raja Jayasingha Warmadewa.
e.       Raja Jayasadhu Warmadewa.
f.       Sri Maharaja Sri Wijaya Mahadewi.
g.      Dharma Udayana Warmadewa.
h.      Raja Marakata.
i.        Raja Anak Wungsu.
j.        Raja Jaya Sakti.
k.      Raja Bedahulu, Raja Bali kuno yang terakhir memerintah tahun 1343 M adalah Sri Astasura Ratna Bhumi Banten ditaklukan oleh Gajah Mada dari Majapahit (1430 M). Dalam  menjalankan pemerintahannya, Raja Bedahulu dibantu oleh dua orang patihnya yang bernama Kebo Iwa dan Pasunggiris

Kehidupan ekonomi masyarakat Bali bersumber dari hasil pertanian, jenis-jenis tanaman yang dapat diperdagangkan antara lain padi, hano (enau), talas, nyuh (kelapa), pinang, biyu (pisang), kapas dan sarwa bija (padi-padian). Selain bercocok tanam rakyat juga memelihara binatang ternak seperti sapi, kambing, babi, anjing, ayam, kuda, dan kerbau.


8.      Kerajaan Pajajaran
Kerajaan Pajajaran terletak di wilayah Jawa Barat, namun hingga kini pusat pemerintahannya tidak pernah diketahui secara jelas. Awalnya di Pakuan, Bogor, kemudian dipindahkan ke daerah Kawali, Ciamis. Berdiri sekitar tahun 1333 M.
Sumber sejarah Kerajaan Pajajaran dapat diketahui melalui sumber-sumber prasasti maupun kitab-kitab seperti:
§  Prasasti Rakryan Juru Pangambat (923 M) ditemukan di Bogor dengan menggunakan Bahasa Jawa Kuno bercampur dengan Bahasa Melayu. Prasasti ini memuat pengembalian kekuasaan Raja Pajajaran.
§  Prasasti Horen (berasal dari Kerajaan Majapahit).
§  Prasasti Citasih (1030 M).
§  Prasasti Astanagede di Kawali, Ciamis.
§  Kitab cerita Kidung Sundayana, menceritakan kekalahan pasukan Pajajaran dalam pertempurannya di Bubat (Majapahit) dan tewasnya Raja Sri Baduga beserta putrinya.
§  Kitab cerita Parahyangan, kitab ini menceritakan bahwa pengganti Raja Sri Baduga setelah Perang Bubat bernama Hyang Wuni Sora.

Raja-raja yang diketahui pernah memerintah di Kerajaan Pajajaran, di antaranya :
§  Maharaja Jayabhupati.
§  Rahyang Niskala Wastu Kencana.
§  Rahyang Dewa Niskala.
§  Sri Baduga Maharaja.
§  Hyang Wuni Sora.
§  Ratu Samian.
§  Prabu Ratu Dewata.

Dalam perkembangan kehidupan sosial dari masyarakat Pajajaran dapat digolongkan menjadi, golongan seniman, golongan petani, golongan pedagang, golongan yang dianggap jahat yaitu tukang copet, tukang rampas, begal, maling, dan sebagainya.
Kehidupan Ekonominya melalui dua jalur yaitu Perdagangan laut, kerajaan ini memiliki enam pelabuhan penting yakni pelabuhan Banten, Pontang, Cigede, Tamgara, Sunda Kelapa atau Jakarta sekarang, dan Cimanuk. Setiap pelabuhan dikepalai oleh seorang Syahbandar yang bertanggung jawab kepada raja dan bertindak sebagai wakil raja di bandar-bandar yang dikuasai. Kemudian perdagangan darat, jalan darat berpusat di Pakuan, Pajajaran yaitu ibukota kerajaan.
Sejak zaman Kerajaan Tarumanegara, kehidupan kebudayaan rakyat Jawa Barat (Rakyat Sunda) dipengaruhi budaya Hindu. Pengaruh agama Hindu di antaranya:
·         Arca-arca Wisnu di daerah Cibuaya dan arca-arca Rajasi.
·         Kitab Parahyangan dan Kitab Sanghyang Siksakanda.
·         Cerita-cerita dalam sastra Sunda kuno bercorak Hindu.


9.      Kerajaan Majapahit
Dalam sejarah Indonesia, Kerajaan Majapahit merupakan kerajaan yang besar dan disegani oleh bangsa asing. Kerajaan ini terletak di sekitar Sungai Brantas sebelah selatan Surabaya, berdiri sekitar tahun 1293 M. Sumber informasi mengenai berdiri dan berkembangnya Kerajaan Majapahit berasal dari beberapa sumber yakni.
·         Prasasti Butak (1294 M), prasasti ini dikeluarkan oleh Raden Wijaya setelah ia naik tahta. Prasasti ini memuat peristiwa-peristiwa keruntuhan Kerajaan Singasari dan perjuangan Raden Wijaya untuk mendirikan Kerajaan.
·         Cerita kitab, Kidung Haraswijaya dan Kidung Panji Wijayakrama. Kedua kidung ini menceritakan Raden Wijaya ketika menghadapi musuh dari Kediri dan tahun-tahun awal perkembangan Majapahit.

Raja yang memerintah Kerajaan Majapahit adalah sebagai berikut:
a)      Raden Wijaya.
b)      Kalagemet atau Jayanegara (1309).
c)      Tribhuana Tungga Dewi (1328).
d)     Hayam Wuruk bergelar “Sri Rajasanegara” (1350-1389).
e)      Kusumawhardani (1389-1429).
f)       Suhita (1429-1447).
g)      Dyah Kertawijaya (1447-1451).
h)      Rajasawhardana (1451-1453).
i)        Purwawisesa (1456-1466).
j)        Dyah Suprabawa (1466-1468).
k)      Bhre Kertabumi (1468-1478).
l)        Brawijaya V, merupakan raja terakhir Kerajaan Majapahit.

Kerajaan Majapahit sangat terkenal, karena hal-hal sebagai berikut:
1)      Wilayah kekuasaan yang meliputi Nusantara, sampai Wilayah Malaysia, Singapura, dan Filipina.
2)      Merupakan kerajaan Maritim karena wilayahnya meliputi daratan dan lautan yang luas.
3)      Merupakan kerajaan agraris, terbukti dengan dibangun tanggul-tanggul untuk menampung air. Hasil pertaniannya meliputi beras, lada, cengkih, dan pala,
4)      Bidang perdagangan, karena sering mengadakan hubungan dagang dengan negara Cina dan India.
5)      Bidang agama, rakyat diberikan kebebasan untuk memeluk agamanya.

Dalam dunia perdagangan, Kerajaan Majapahit memegang dua peranan penting:
·         Sebagai kerajaan produsen, Kerajaan Majapahit  mempunyai wilayah yang sangat luas dan kondisi tanah yang subur.
·         Sebagai kerajaan perantara, Kerajaan Majapahit juga bertindak sebagai pedagang perantara. Artinya, membawa hasil bumi dari daerah yang satu ke daerah yang lainnya.

Perkembangan kebudayaan di Kerajaan Majapahit dapat diketahui dari peninggalan-peninggalan, Candi peninggalan Kerajaan Majapahit antara lain Candi Panataran (Blitar), Candi Tegal-Wangi dan Surawana (Pare, Kediri), Candi Sawentar (Blitar), Candi Sumberjati (Blitar), Candi Tikus (Trowulan), dan bangunan-bangunan purba lainnya terutama yang terdapat di daerah Trowulan.
Kerajaan Majapahit hancur karena adanya perang saudara antara Wikramawardhana (menantu Hayam Wuruk) dan Bhre Wirabhumi (putra Hayam Wuruk dari istri selir) yang terkenal dengan perang paregreg (1401-1406). Selain itu, kuatnya agama Islam di pesisir Jawa (Demak) ikut memengaruhi keruntuhan kerajaan Majapahit.

B.     Sejarah Kerajaan-kerajaan Buddha
Penyebaran agama Buddha di Indonesia lebih awal dari agama Hindu dikarenakan sifat agama Buddha yang terbuka bagi semua orang dan adanya misi penyiaran agama yang disebut dharmadhuta. Diperkirakan sejak abad ke-2 ajaran agama Buddha mulai ada di Indonesia, hal ini dibuktikan dengan penemuan arca di daerah Sempaga (Sulawesi Selatan) dan di daerah Jember ditemukan arca Buddha perunggu. Di samping itu, ditemukan pula arca Buddha dari batu di daerah Palembang.
Ajaran Buddha pertama kali disampaikan oleh Sidharta Gautama dari India. Pengaruh Buddha masuk ke Indonesia seiring masuknya pengaruh Hindu, sehingga muncullah kerajaan-kerajan bercorak Buddha di Indonesia tidak sebanyak kerajaan Hindu. Kerajaan Buddha yang terkenal di Indonesia adalah Kerajaan Sriwijaya.


1.      Kerajaan Sriwijaya
Kerajaan Sriwijaya terletak di daerah Palembang, Sumatera Selatan. Berdiri sekitar abad ke-7 (680 M). Kerajaan Sriwijaya terkenal karena beberapa hal yaitu sebagai berikut :
v  Kerajaan maritim karena wilayah kekuasaannya sebagian besar berupa perairan dan memiliki armada laut yang tangguh dengan wilayah kekuasaannya meliputi seluruh Pulau Sumatera, Kalimantan Barat, Jawa Barat, dan Selat Sunda. Sehingga sering disebut dengan Kerajaan Nusantara yang pertama.
v  Pusat perdagangan di Asia Tenggara.
v  Pusat pendidikan dan penyebaran agama Buddha, dibuktikan dengan didirikannya perguruan tinggi agama Buddha dan ditemukannya Candi Muara Takus, Biara Dahal yang merupakan tempat suci agama Buddha. Guru besar agama Buddha Kerajaan Sriwijaya adalah Satyakirti dan Dharmapala.

Raja Kerajaan Sriwijaya adalah dari Wangsa Syailendra yang beragama Buddha. Raja-raja yang pernah memerintah di Kerajaan Sriwijaya di antaranya sebagai berikut :
v  Sri Jayanegara (680 M).
v  Balaputradewa (850), dimana Kerajaan Sriwijaya mencpai puncak Kejayaannya.

Peninggalan Kerajaan Sriwijaya adalah ditemukannya Candi Muara Takus dan dari prasasti-prasasti yang ditulis dengan huruf Pallawa dari bahasa Melayu. Seperti, Prasasti Kedukan Bukit (684 M), Prasasti Kota Kapur (686 M), Prasasti Talang Tuo (684 M), Prasasti Telaga Batu (683 M), Prasasti Karang Berahi (686 M), dan Prasasti Ligor (775 M).
Kerajaan Sriwijaya mengalami kemunduran pada pertengahan abad ke-11, penyebanya nyaitu sebagai berikut:
1)      Serangan Kerajaan Colamandala dari India yang dipimpin oleh Raja Rendra pada tahun 1025.
2)      Serangan pasukan Kertanegara dari Singasari pada tahun 1275 yang terkenal dengan sebutan Ekspedisi Pamalayu yang bertujuan menghadang ekspansi Kerajaan Mongol di bawah pimpinan Kubhilai Khan yang berambisi menguasai nusantara.
3)      Serangan armada laut Kerajaan Majapahit pada tahun 1377.
4)      Perluasan kekuasaan kerajaan Kediri (Jawa Timur).

2.      Kerajaan Kalingga
Kerajaan Kalingga terletak di Kabupaten Jepara, Jawa Tengah. Berdiri sekitar abad ke-6 M, di pimpin oleh Ratu Sima. Informasi tentang Kerajaan Kalingga diperoleh dari kronik dinasti T’ang yang mengatakan bahwa rakyat Ho-Ling tidak menggunakan sendok atau sumpit ketika makan tetapi dengan jari-jari tangannya. Peninggalan kerajaan ini adalah Prasasti Tuk Mas (Grobogan, Jawa Timur). Ratu Sima terkenal sangat bijaksana dan tegas. Ia membuat aturan potong tangan bagi pencuri.

C.      Struktur Pemerintahan dan Startifikasi Sosial

a.       Masa Kerajaan-kerajaan Hindu
Masuk dan berkembangnya agama Hindu di Indonesia memengaruhi seluruh sektor kehidupan masyarakat Indonesia, termasuk sistem dan struktur sosial masyarakatnya. Pengaruh ini dapat dilihat melalui diterapkannya sistem pembagian kasta pada masyarakat Indonesia.
Kasta merupakan sistem pengelompokkan masyarakat melalui tingkatan-tingkatan kehidupan masyarakatnya dan berlaku secara turun-temurun. Akan tetapi penggunaan kasta dalam masyarakat Hindu Indonesia dengan masyarakat Hindu India memiliki perbedaan-perbedaan yang sangat mendasar. Kasta dalam masyarakat Hindu India digunakan untuk membedakan status sosial antara bangsa Aria dan bangsa Dravida. Sedangkan kasta dalam masyarakat Hindu Indonesia digunakan untuk menunjukkan status sosial dalam masyarakatnya karena kasta dalam masyarakat Indonesia hanya dipergunakan oleh bangsa Indonesia sendiri.

b.      Masa-masa Kerajaan Buddha
Sistem dan struktur sosial masyarakat Indonesia yang mendapat pengaruh Buddha tidak sama dengan masyarakat yang dipengaruhi Hindu. Pada masyarakat yang mendapat pengaruh Buddha tidak diperoleh melalui berbagai usaha. Namun, pada masyarakat yang mendapat pengaruh Buddha dikenal adanya kelompok-kelompok dalam masyarakat, seperti:
v    Kelompok masyarakat Bhiksu dan Bhiksuni, kelompok masyarakat ini mengenal di dalam wihara dan telah berhasil meninggalkan hal-hal yang bersifat keduniawian. Setiap umat Buddha dapat menjadi bhiksu maupun bhiksuni.

v    Kelompok masyarakat umum, merupakan kelompok yang masih terpengaruh oleh unsur-unsur kehidupan duniawi. Mereka masih diliputi oleh hawa nafsu dan keserakahan untuk memiliki sesuatu yang dipandang dapat membuat kehidupannya lebih layak di mata orang lain. Namun, dari kelompok masyarakat umum ini juga dapat menjadi bhiksu dan bhiksuni ketika muncul kesadaran untuk mendekatkan diri kepada sang pencipta serta meninggalkan hal-hal yang bersifat duniawi.

Sistem dan struktur masyarakat Indonesia yang mendapat pengaruh Buddha, berkembang pada masa kerajaan-kerajaan Hindu-Buddha seperti Kerajaan Holing dan Sriwijaya.

BAB III
PENUTUP

Kesimpulan
Kata “Hindu” berasal dari bahasa Persia yang berarti “sungai”, sejak ribuan tahun sebelum Masehi, orang Persia menjuluki penduduk kota-kota di Lembah Sungai Indus sebagai bangsa Hindu. Kata Hindu dalam bahasa Sansekerta adalah Sindhu.
Sebelum Hindu muncul, di Lembah Sungai Indus telah berkembang peradaban yang mengagumkan. Peradaban ini berlangsung antara 3000 – 2000 SM, peradaban ini ditandai oleh pendirian kota-kota yang teratur antara lain Harappa dan Mohenjodaro. Penduduk Lembah Indus berasal dari bangsa Dravida. Penyebaran agama Hindu dan Buddha dari India ke Indonesia berkaitan erat dengan kegiatan perdagangan yang berlangsung pada awal Masehi. Pada awalnya hubungan dagang terjadi antara India, Indonesia, dan Cina. Hubungan dagang melalui jalur laut dilakukan melewati perairan Indonesia, melalui hubungan dagang itu berkembang kebudayaan yang dibawa oleh para pedagang di Indonesia. Namun dalam perkembangannya, hanya kebudayaan India yang lebih dominan berkembang di Indonesia dan dapat memengaruhi tata kehidupan masyarakat Indonesia dalam segala bidang.
Pusat-pusat agama Hindu terdapat di sekitar daerah Jawa, Bali, dan Kalimantan. Sedangkan pusat agama Buddha terdapat di Sumatra. Batas penyebaran agama Hindu dan Buddha dapat dibedakan secara politis dan budaya, batas penyebaran politis ditentukan berdasarkan pusat-pusat kerajaan yang muncul pada masa perkembangan agama Hindu-Buddha di Indonesia. Sedangkan batas perkembangan budaya ditentukan berdasarkan penyebaran terjauh berbagai peninggalan bercorak Hindu-Buddha. Berikut beberapa kerajaan bercorak Hindu di Indonesia:
1.      Kerajaan Kutai.
2.      Kerajaan Tarumanegara.
3.      Kerajaan Holing.
4.      Kerajaan Melayu.
5.      Kerajaan Kediri.
6.      Kerajaan Singasari.
7.      Kerajaan Bali.
8.      Kerajaan Pajajaran.
9.      Kerajaan Majapahit.

Peninggalan bercorak Hindu.
ü  Prasasti
Prasasti adalah benda peninggalan sejarah yang berisi tulisan dari masa lampau. Berikut prasasti bercorak hindu:
·         Prasasti Ciaruteun.
·         Prasasti Pasir Jambu.
·         Prasasti Kebon Kopi.
·         Prasasti Pasir Awi.
·         Prasasti Cidanghiang.
·         Prasasti Muara Cianten.
·         Prasasti Tugu.
·         Prasasti Yupa.
·         Prasasti Kalasan.
·         Prasasti Canggal.
·         Prasasti Dinoyo.
·         Prasasti Kedu.
·         Prasasti Sanur.

ü  Candi
Candi merupakan bangunan suci umat Hindu untuk memuja para Dewa. Pada candi biasanya terdiri dari 3 bagian yaitu kaki, tubuh, dan atap. Terdapat tiga Dewa (Trimurti) yang dipuja dalam agama Hindu, yaitu sebagai berikut, Dewa Brahma (pencipta alam semesta), Dewa Wisnu (pemelihara alam semesta), Dewa Syiwa (perusak dan pemusnah alam semesta). Salah satu candi yang bercorak Hindu adalah Candi Prambanan.

Ajaran Buddha pertama kali disampaikan oleh Sidharta Gautama dari India. Pengaruh Buddha masuk ke Indonesia seiring masuknya pengaruh Hindu, sehingga muncullah kerajaan-kerajan bercorak Buddha di Indonesia tidak sebanyak kerajaan Hindu. Kerajaan Buddha yang terkenal di Indonesia adalah Kerajaan Sriwijaya. Kerajaan bercorak Buddha, di antaranya:
1.      Kerajaan Sriwijaya.
2.      Kerajaan Kalingga.

Peninggalan bercorak Buddha adalah sebagai berikut:
ü  Prasasti
·           Prasasti Kedukan Bukit.
·           Prasasti Talang Tuo.
·           Prasasti Kota Kapur.
·           Prasasti Telaga Batu.
·           Prasasti Karang Berahi.
·           Prasasti Palas Pasemah.

ü  Candi
·           Candi Muara Takus (Kab. Kampar, Riau).
·           Candi Borobudur (Magelang, Jawa Tengah).
·           Candi Mendut (Magelang, Jawa Tengah).
·           Candi Kidal (dekat Magelang, Jawa Timur).








[1] Matroji, Sejarah Indonesia, (Jakarta: Bumi Aksara, 2008), hlm. 3.
[2] Ibid.
[3] Drs. I Wayan Badrika, M.Si, Sejarah, (Jakarta: Gelora Aksara Pratama, 2006), hlm. 12.
[4] http://jamarisonline.blogspot.com/2011/08/sejarah-kerajaan-hindu-di-indonesia.html.
[5] http://nefid.wordpress.com/2011/08/23/sejarah-kerajaan-hindu-budha-di-indonesia.
[6] Notosusanto Nugroho, Sejarah Nasional Indonesia II, (Jakarta: Balai Pustaka, 1993), hlm. 397.

Related Posts

Subscribe Our Newsletter