PENDAHULUAN
Oleh: Andri Nazarudin M
A. Latar
Belakang
Masalah
Belajar
Bahasa Arab (asing) berbeda dengan belajar bahasa ibu, oleh karena itu prinsip
dasar pengajarannya harus berbeda, baik menyangkut metode (model pengajaran),
materi maupun proses pelaksanaan pengajarannya. Bidang keterampilan pada
penguasaan Bahasa Arab meliputi kemampuan menyimak (listening
competence/mahaarah al – Istima’), kemampuan berbicara (speaking
competence/mahaarah al-takallum), kemampuan membaca (reading
competence/mahaarah al-qira’ah), dan kemampuan menulis (writing competence / mahaarah
al – Kitaabah).
Setiap
anak manusia pada dasarnya mempunyai kemampuan untuk menguasai setiap bahasa,
walaupun dalam kadar dan dorongan yang berbeda. Adapun diantara
perbedaan-perbedaan tersebut adalah tujuan-tujuan pengajaran yang ingin
dicapai, kemampuan dasar yang dimiliki, motivasi yang ada di dalam diri dan
minat serta ketekunannya.
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan
latar belakang masalah di atas maka penulis akan merumuskan masalah yang akan
dibahas dalam makalah ini yaitu sebagai berikut:
a. Apa unsur-unsur
metode?
b. Bagaimana
tarik menarik metode?
c. Bagaimana
metode pembelajaran kosa kata?
d. Bagaimana
metode pembelajaran gramatika (nahwu-sharaf)?
C. Tujuan Penulisan
Bertolak
dari rumusan masalah di atas, maka tujuan penulisan makalah ini adalah:
a. Untuk
mengetahui apa unsur-unsur metode!
b. Untuk
mengetahui bagaimana tarik menarik metode!
c. Untuk
mengetahui bagaimana metode pembelajaran kosa kata!
d. Untuk
mengetahui bagaimana metode pembelajaran gramatika (nahwu-sharaf)!
BAB
II
PEMBAHASAN
A. Unsur-unsur Metode
Semua
pengajaran mengandung sesuatu tentang pilihan (seleksi), sesuatu tentang
tahapan (gradasi), sesuatu tentang penyajian (presentasi), dan sesuatu tentang
pengulangan (repetisi). Semua yang termasuk dalam pengajaran, apakah itu
pengajaran matemati-ka, sejarah, geografi, bahasa dan lain-lain, merupakan
unsur-unsur yang dapat dimasukkan dalam metoda (Umar Asasuddin Sokah: 1982, 6).
Dengan demikian dapat diketahui bahwa setiap metode tertentu akan senantiasa
berkaitan dengan ketentuan-ketentuan tentang pilihan materi atau seleksi,
gradasi, presentasi, dan repetisi atau latian-latihan dengan pengulangan materi
dalam proses pembelajaran. Jadi metode itu merupakan sebuah sistem dari
berbagai komponen yang berkaitan.
Seleksi
materi dalam proses belajar mengajar diperlukan karena tidak mungkin
mengajarkan semua cabang ilmu, harus dipilih bagian yang akan diajarkan.
Gradasi itu penting sebab sesuatu yang telah diseleksi tak akan dapat diajarkan
seluruhnya sekaligus, harus didahulukan sesuatu yang lebih mudah sebelum
berpindah kepada yang agak sukar dan lebih sukar. Presentasi juga penting sebab
tidak mungkin mengajarkan sesuatu kepada seseorang tanpa berkomunikasi kepada
orang tersebut. Repetisi juga sangat peting sebab tidak mudah mengajarkan suatu
keterampilan hanya dengan menerangkan sekali saja, atau memberikan contoh
sekali saja. Jadi semua metode, apakah itu metode terjemah, gramatika, langsung
dan lain-lain untuk mengajarkan bahasa atau metode ceramah untuk mengajarkan
tafsir, hadis dan lain-lain, sadar atau tidak sadar pasti memerlukan seleksi,
gradasi, presentasi dan repetisi (Umar Asasuddin Sokah: 1982, 6).
Metode
itu sendiri khususnya metode pengajaran bahasa ialah bagaimana cara mengajar
dengan materi bahasa. Para pendidik akan memakai materi-materi itu, tetapi
mereka tidak menjadi budak dari materi tersebut. Pendidik akan mengadakan
perubahan di sana-sini untuk menyesuaikan dengan situasi kelasnya seperti
mengada-kan latihan-latihan percakapan (Umar Asasuddin Sokah: 1982, 71).
Sebelum
seleksi, gradasi, presentasi dan repetisi dilakukan, perlu diketahui terlebih
dulu materi apa yang akan diajarkan, sebab materi bisa mempengaruhi seleksi,
gradasi, presentasi dan repetisi (Willian Francis Mackey: 1974, 155-157). Dalam
hal ini materi yang dimaksud adalah bahasa Arab. Oleh karena itu perlu
diketahui sifat-sifat bahasa Arab, agar dengan demikian dapat ditentukan metode
yang baik, mulai dari penentuan seleksi, penentuan gradasi, penentuan
presentasi serta penentuan repetisi materi agar diperoleh keterampilan
berbahasa.
Pada
tahap tertentu akan diperlukan metode khusus untuk materi khusus, misalnya
metode mengajarkan tata bahasanya atau metode mengajarkan kosa katanya. Pada
tataran ini mesti diperhatikan beberapa ilmu yang diperlukan untuk pendukung ke
arah keterampilan berbahasa Arab. Meskipun pada dasarnya yang dipelajari dalam
bahasa Arab itu hanya dua, yakni kosa kata dan aturan penggunaannya, tetapi
pada kenyataannya banyak ilmu yang berkaitan dengan dua hal tersebut, misalnya
ilmu al-aswat yang berkaitan dengan bunyi kosa kata, atau ilmu sharaf yang
berkaitan dengan perubahan bentuk kosa kata sampai dengan penyusunan kosa kata-kosa
kata menjadi suatu kalimat yang komplek. Dalam pembelajaran bahasa akan terasa
bahwa unsur repetisi sangat dominan untuk menumbuhkan keterampilan berbahasa.
Adapun unsur lainnya merupakan prasyarat yang mengantarkan agar pembelajarannya
berlangsung efektif dan efisien.
B. Tarik Menarik Metode
Sudah
berkali-kali diadakan seminar dan diskusi mengenai metode pengajaran bahasa
Arab, baik oleh badan-badan swasta, lembaga-lembaga pendidikan Islam swasta
maupun pemerintah, dalam hal ini Departemen Agama RI dan IAIN (Muljanto Sumardi
et. al.: 1973, 13)., namun kegiatan serupa masih saja sering digelar sampai
dewasa ini. Ini menunjukkan bahwa metode-metode yang sudah pernah dikemukakan
belum bisa memberikan jawaban memuasakan mengenai cara bagaimana agar bahasa
Arab itu menjadi mudah dikuasai oleh subyek didik.
Semula
metode terjemah dinilai paling cocok untuk kemampuan membaca secara efektif dan
memahami isi (Muljanto Sumardi et.al: 1975, 36). Kemudian muncul direct method
sebagai reaksi meskipun pada dasarnya sudah ada sejak zaman Romawi (Sri Utari
Subyakto Nababan: 1993, 14-5). Kemudian muncul the aural-oral approach yang sempat
dinilai paling efektif karena berdasarkan prinsip-prinsip linguistik (Muljanto
Sumardi et. al.: 1973, 15). Belakangan dianjurkan memakai metode campuran yang
dikenal dengan metode eklektik. Yang terakhir ini dianjurkan karena berbagai
alasan yang positif, antara lain bahwa agar pengajar merasa bebas untuk memakai
metode-metode yang cocok bagi pelajaran, sehingga dimungkinkan pengajar memilih
dari masing-masing metode supaya sesuai dengan kebutuhan para pelajarnya dan
yang cocok bagi dirinya sendir. (Muhammad Ali al-Khulli: 1982,.25-6).
Ada tiga
metode yang dianggap inovatif yang muncul setelah metode Audio-Lingual
hampir habis masa jayanya, yaitu metode Suggestopedia, Counseling-Learning dan
The Silent Way (Azhar Arsyad: 2003, 22)
Gambaran
berbagai metode yang telah dikaji dalam buku-buku literatur kiranya sudah cukup
lengkap, namun penentuan tentang metode yang tepat sering diperdebatkan.
Permasalahannya adalah metode yang mana yang bisa menghasilan dua kemahiran
bersamaan, yakni lancar membaca kitab kuning dan lancar berkomunikasi secara
lisan. Permasalahan ini bermula dari anggapan adanya dua kemahiran yang berbeda
dan bahkan berlawanan, yaitu: (1) Kalau mahir membaca kitab kuning maka lemah
berkomunikasi secara lisan, dan (2) Kalau mahir berkomunikasi secara lisan maka
lemah dalam membaca kitab kuning.
Sampai
sejauh ini usaha menemukan metode untuk dua kemahiran yang “berbeda” tersebut
menyebabkan tarik-menarik metode yang bergantian diterapkan di lembaga-lembaga
pengajaran bahasa Arab. Sekali waktu para alumninya biasanya dianggap sudah
ahli membaca kitab kuning tetapi tidak cakap berbicara dalam bahasa Arab, dan
pada waktu yang lain para alumninya dianggap sudah mahir berbicara tetapi lemah
dalam membaca kitab kuning. Berganti-ganti dominasi “keterampilan” yang
diharapkan sesuai dengan wawasan para pengelola lembaga-lembaga pengajaran
bahasa Arab. Begitu juga metode yang diterapkannya berganti-ganti, sesuai
dengan kemahiran yang diinginkan untuk para alumninya.
Manakala
yang diinginkan adalah agar para alumninya itu memiliki keterampilan membaca
kitab kuning, menterjemah, dan memahami isinya dengan tujuan agar langsung
bermanfaat untuk menunjang kepentingan membaca literatur berbahasa Arab, maka
proses pengajaran ditetapkan agar memakai metode untuk memperoleh keterampilan
membaca kitab kuning.
Penetapan
metode demikian ini sering kali berdasarkan asumsi bahwa ketidakmampuan
berbicara dalam bahasa Arab (muhadatsah) bukan sebagai masalah karena yang
dipentingkan adalah bisa membaca kitab dari pada mementingkan muhadatsah yang
sering kali tidak dipergunakan, lagi pula praktek demikian biasanya dise-babkan
adanya pandangan yang menganggap penerapan all in one system itu seperti
kekanak-kanakan dalam belajar bahasa, khususnya di tingkat perguruan tinggi.
Sebaliknya kalau yang diinginkan adalah para alumninya agar memiliki
keterampilan berbicara maka metode yang diterapkan adalah metode untuk
memperoleh keterampilan berbicara.
Dalam
masalah tarik-menarik metode tersebut di atas, maka yang dimaksud dengan metode
untuk memperoleh keterampilan membaca sering kali dengan cara memberikan teks
kitab gundul sebagai latihan. Praktek yang berlangsung adalah menekankan pemahaman
pelajaran gramatika yakni ilmu nahwu dan sharaf. Ada yang menganggap sudah
tepat dengan menggunakan metode “Gramatika Terjemah” kalau yang dituju adalah
kemampuan membaca (Chatibul Umam: 1980, 43).
Adapun
yang dimaksud dengan metode untuk memperoleh keterampilan berbicara adalah
metode langsung (direct method) yang menekankan pengucapan langsung menghindari
penjelasan teoretis ilmu nahwu dan sharaf.
Masing-masing
pemakai metode tersebut menonjolkan keung-gulannya sendiri serta menunjukkan
kelemahan yang lain. Pada ta-taran ini diperlukan kesadaran kembali tentang
keterampilan berbahasa. Sampai sejauh ini banyak yang beranggapan bahwa
kemahiran membaca (kitab kuning) itu termasuk dalam keterampilan berbahasa.
Demikian itu bisa jadi disebabkan beredarnya buku-buku teori pengajaran bahasa
yang menerangkan bahwa ada empat keterampilan berbahasa, yaitu menyimak (مهارة
الاستماع), berbicara (مهارة
الكلام), membaca (مهارة
القراءة), dan menulis (مهارة
الكتابة) (Anonim: 1998, 6)
Padahal empat macam keterampilan berbahasa tersebut muncul karena adanya
tinjauan aspek reseptif-produktif secara terpisah dari kesatuan kemampuan
berbahasa yang meliputi:
a. Aspek
lisan reseptif, yaitu kemampuan memahami dan menghayati gagasan yang
disampaikan secara lisan;
b. Aspek
lisan produktif, yaitu kemampuan mencetuskan gagasan secara lisan;
c. Aspek
tulis reseptif, yaitu kemampuan memehami dan menghayati gagasan yang
disampaikan secara tertulis;
d. Aspek tulis produktif, yaitu kemampuan
mencetuskan gagasan secara tertulis (Suyitno: 1986, 15).
Perlu
dipahami bahwa teori-teori itu boleh jadi masih merupakan sebuah hipotesis yang
perlu diuji kebenarannya. Hal ini mengingat bahwa keterampilan berbahasa Arab
itu hanya dua, yakni mendengar dan berbicara, sebagaimana telah dikemukakan
pada bagian keterampilan berbahasa Arab. Di samping itu perlu disadari benar
bahwa kasus tarik-menarik metode tersebut pada dasarnya muncul karena
keberadaan tulisan bahasa Arab yang belum sempurna. Sederhana saja alasannya,
bahwa tidak akan mungkin muncul kebutuhan untuk bisa mahir membaca tulisan
bahasa Arab bila tulisannya sudah diberi syakal dengan lengkap. Begitu mudahnya
membaca tulisan bahasa Arab yang sempurna sehingga tidak akan membutuhkan
metode khusus.
Dalam
kaitannya dengan anggapan bilamana metode “Gramati-ka Terjemah” itu sudah tepat
untuk kemahiran membaca kitab kuning, maka anggapan itu akan gugur dengan
sendirinya bila sudah diketahui fakta yang menunjukkan bahwa “Gramatika” bahasa
Arab itu bukan alat untuk membaca tulisan.
C. Metode Pembelajaran Kosa Kata
Perbaikan
sistem pengajaran bahasa Arab di lembaga-lembaga pendidikan formal diawali
dengan Kurikulum Tahun 1976. Kurikulum tersebut mengembangkan sistem pengajaran
bahasa Arab yang dikenal dengan all in one system. All in one system ini waktu
itu merupakan gagasan Menteri Agama R I, Prof. Dr. HA. Mukti Ali. Metode yang
digunakan adalah aural-oral approach, sesuai dengan perluasan tujuan pengajaran
bahasa Arab, untuk mencapai semua kemahiran berbahasa (Abd. Rahman Shaleh:
1988, 8).
Dengan
all in one system maka pengajaran didasarkan pada satu kesatuan materi dan
bukan pada cabang-cabang materi bahasa Arab yang bermacam-macam. Dengan
demikian materi pelajarannya meliputi materi membaca, mengungkapkan, menghafal,
menulis, latihan nahwu sharaf, dan sebagainya yang kesemuanya saling berkaitan
(Abd al-’Alim Ibrahim: tt., 34).
Kelihatan
bahwa metode yang digunakan selalu terkait dengan tujuan pembelajaran bahasa
yang masih mengarah pada pencapaian kemahiran atau keterampilan. Dewasa ini
dengan berbagai kajian kritis dapat diketahui bahwa pembelajaran bahasa Arab
tidak bertujuan untuk empat keterampilan. Keterampilan berbahasa, khususnya
bahasa Arab, hanya dua yaitu ketarampilan menyimak atau mendengar dan
mengucapkan atau berbicara. Dalam kajian metode pembelajaran bahasa Arab disini
dikhususkan untuk pembelajaran kosa kata. Tentu saja metode-metode pembelajaran
bahasa Arab secara umum tidak dapat digunakan dengan efektif dan efisien.
Materi
pembelajaran bahasa Arab secara garis besar ada dua macam yaitu kosa kata dan
aturan pemakaian atau gramatikanya. Untuk menguasai kedua materi tersebut
berbeda caranya karena berbeda jenisnya. Jenis pertama, yakni kosa kata berupa
ucapan yang harus dihafal tanpa harus dipikirkan atau dirasionalisasikan,
sedangkan jenis kedua, yakni gramatika merupakan materi pemba-hasan yang tidak
cukup hanya dihafal saja tetapi memerlukan pe-mikiran serta aktivitas analogi.
Ini semua hanya tinjauan dari masyarakat non-Arab, karena bagi bangsa Arab
sendiri materi pembelajaran bahasa Arab tidak perlu dipilah-pilah. Mereka sudah
hafal kosa kata, dan cara memakainya juga sudah secara otomatis gramatically.
Mereka tidak akan salah seperti kita mengucapkan bahasa kita sendiri sebagai
bahasa ibu.
Terhadap
jenis materi bahasa Arab yang pertama, yakni kosa kata, maka cara mepelajarinya
cukup dengan menghafal saja. Menghafal suatu kata tentunya dengan cara mengerti
maksudnya. Masalahnya berada dalam cara menghafal dengan mudah dan dapat
mempergunakannya dengan mudah pula. Disebutkan bahwa metode yang baik adalah
yang menggunakan banyak latihan atau drill, karena bahasa adalah kemampuan (Malakah)
yang tidak bisa dicapai hanya dengan kaedah, tetapi dengan latihan dan
pengulangan (Chatibul Umam: 1980 43). Kalau semua metode itu mementingkan
pengulangan maka semuanya bisa dipakai karena hanya dengan pengulangan maka
kosa kata dapat dihafal dan dikuasai untuk dipergunakan baik dalam percakapan
maupun dalam tulisan.
Namun
demikian perlu diperhatikan bahwa penghafalan kosa kata itu tidak harus
menghabiskan waktu, misalnya dengan pengulangan lebih dulu dalam kalimat tanpa
memahami makudnya, ke-mudian setelah itu diterangkan maksudnya, baik dengan
isyarat atau dengan alat peraga atau dengan keterangan berbahasa Arab langsung
tanpa terjemahannya. Praktek demikian menghabiskan waktu dan sama sekali tidak
cocok bagi orang atau mahasiswa yang sudah dewasa yang tidak memerlukan lagi
pengulangan seperti itu. Karena itu metode langsug tidak mesti baik. Bahkan
boleh jadi dengan cara menterjemahkan langsung justru bisa dipahami dan dihafal
dengan cepat.
Terdapat
metode yang mendahulukan bercakap-cakap dan membaca. Metode ini amat disukai
sebab bahasa yang dipelajari itu sudah boleh digunakan untuk bercakap-cakap
dengan sesamanya. Metode demikian sesuai dengan prinsip belajar bahasa, bahwa
belajar bahasa hendaknya tidak disibukkan dengan berbagai aturan tata bahasa
tetapi cukup ditiru, dipahami dan dipakai dalam percakapan. Metode belajar
bahasa secara langsung tanpa terjemahannya disebut sebagai metode langsung atau
The Direct Method atau Natural Method atau Oral Method atau Modern Method atau
Berlitz Method (Mahmud Junus: 1979, 23). Akan tetapi bagaimana bisa langsung
bercakap-cakap kalau tidak memiliki kosa kata sama sekali? Karena itu perlu
lebih dulu menghafal kosa kata.
Kalau dipergunakan
metode langsung maka akan memakan waktu lama hanya untuk memahami satu atau dua
kata saja. Apa salahnya bila diberikan kosa kata dengan terjemahannya langsung?
Kemudian kata yang sudah dihafal itu digabung dengan kata yang lain yang juga
sudah dipahami, selanjutnya dipergunakan dengan berulang-ulang dalam
percakapan. Dalam memberikan makna atau arti kata tidak harus mempersulit diri,
misalnya dengan keterangan langsung tanpa terjemah. Jadi perlu diperhatikan
bahwa menerangkan dengan bahasa asalnya yang asing (Arab) itu hanya sekedar
untuk motivasi agar murid atau mahasiswa tidak menggunakan bahasa sendiri,
sehinga bersungguh-sungguh dalam mempergunakan bahasa Arab. Ini bisa disiasati
cukup dengan menunjukkan artinya, kemudiuan tidak mengucapkannya kecuali dengan
bahasa Arab.
Dari
telaah terhadap berbagai metode, ada beberapa metode yang patut diperhatikan
dalam menguasai kosa kata dengan efisien dan efektif. Pertama, Mimmem Method
(Mimicry and Memorization Method). Metode ini untuk menghafal. Meskipun metode
ini sering diterapkan dengan penyampaian kalimat utuh lebih dulu tetapi akan
lebih baik bila diterapkan dengan penyampaian unsur paling kecil dalam kalimat,
yakni kata. Dalam mempraktekkan Mimmem Method ini perlu digabung dengan metode
kedua, yakni Language Control Method sehingga
perolehan kosa katanya terkontrol mulai dari yang paling mudah dan sederhana
sampai dengan yang paling sukar (Juwairiyah Dahlan, 1992, 116). Penggunaan
metode ini akan menjadi benar-benar terkontrol bila diikuti dengan pemanfaatan
metode ketiga, yaitu Phonetic Method, di mana metode ini
lebih membiasakan pendengaran terhadap kata-kata terpendek dan selanjutnya pada
kalimat yang panjang (Juwairiyah Dahlan: 1992, 112).
Penggunaan
alat-alat peraga itu bisa disiasati dengan langsung saja diterangkan tanpa
harus menghabiskan waktu dan beaya. Sebenarnya sederhana sekali belajar kosa
kata dan cara menghafalnya, yakni dengan digabung dengan kata-kata yang lain
agar cepat bisa menggunakan dan teringat terus. Kalau ini dikatakan sebagai
metode eklektik maka sebutan itu perlu dibatasi dengan cara mengambil yang
efektif dan efisien saja, sehingga tidak mempersulit diri seperti ketika
memakai metode langsung dengan mempersiapkan alat peraga yang biasanya terlalu
mahal yang ternyata hanya untuk memahami satu kosa kata saja. Adapun
metode-metode lainnya itu hanya sekedar untuk mengusir kebosanan.
Dalam
hal teori mengajarkan bahasa Arab, maka dikenal ada dua, yakni teori kesatuan (Nadhoriyat
al-Wihdah) dan teori bagian-bagian (Nadhoriyat al-Furu’). Untuk yang
pertama sesuai de-ngan teori gestalt yakni memahami secara keseluruhan lebih
dulu selanjutnya memahami bagian-bagian terkecil yang perlu dipahami (Mahmud
Junus: 1979, 26). Dalam kenyataannya dua teori tersebut akan dipakai pada kebutuhan
tertentu, tidak bisa dipisahkan dalam arti tidak diperlu-kan salah satunya
dalam praktek pembelajaran bahasa Arab. Hal ini mengingat bahwa pada kasus
tertentu diperlukan penelaahan untuk bagian-bagian terkecil. Oleh karena itu
kedua terori tersebut akan diperlukan pada waktu yang berbeda. Tidak perlu
diperdebatkan keunggulan dan kelemahannya karena setiap teori memiliki
kelemahan dan juga keunggulan.
Adapun
gambaran konkret untuk bahan ajar materi kosa kata kiranya dapat dipergunakan
buku Durus al-Lughah al-’Arabiyah ‘Ala al-Thoriqoh al-Haditsah (Imam Zarkasyi
dan Imam Syubani: t.t.) yang mana setiap awal bahasannya dimulai dengan
pengenalan kosa kata lebih dulu. Penggunaan buku tersebut tidak harus dengan
metode langsung yang bisa memakan waktu lama tetapi cukup sederhana dengan
efektif dan efisien dalam memberikan penjelasan arti untuk masing-masing kosa
kata. Modifikasi metode ‘eklektik’ sebagaimana dikemukakan di atas dapat
dipergunakan untuk menguasai kosa kata dengan mudah.
D. Metode Pembelajaran Gramatika (Nahwu-Sharaf)
Disebutkan
bahwa mengajarkan gramatika pada mulanya, tidak dipentingkan, melainkan dengan
diselipkan pada waktu pelajaran bercakap-cakap dan membaca. Dipandang salah
bila mengajarkan buku ilmu nahwu “Ajrumiyah” pada permulaan,
sementara subyek didik belum mengetahui bahasa Arab sedikitpun. Subyek didik
tidak akan dapat belajar kaedah suatu bahasa bila belum mengetahui kata-kata
bahasa itu (Mahmud Junus: 1979, 24). Mengajarkan nahwu dan sharaf atau
ta’rif-ta’rifnya hendaknya setelah pandai bercakap-cakap dan membaca dalam
bahasa Arab (Mahmud Junus: 1979, 26).
Menurut
sistim lama, nahwu sharaf adalah pelajaran yang mula-mula dalam pelajaran
bahasa Arab. Menurut sistim yang baru di Mesir bahwa nahwu sharaf itu belum
diajarkan di kelas 1, 2, 3, dan 4 sekolah Ibtidaiyah. Hanya di kelas 5 dan 6
baru diajarkan sedikit demi sedikit, yaitu sekedar dua jam pelajaran dalam
seminggu. Di Sekolah Menengah Pertama baru diajarkan nahwu sharaf dengan
teratur (Mahmud Junus: 1979, 81). Jadi pembelajaran ilmu nahwu baru dimulai
setelah mu-rid-murid sudah memiliki kosa kata dan bisa bercakap-cakap dalam
bahasa Arab.
Dari
uraian tersebut di atas dapat dipahami bahwa ilmu nahwu dan sharaf itu
merupakan ilmu tata kata. Ilmu tersebut baru bisa dipergunakan dengan
semestinya setelah ada kata-kata yang akan di-tata (diatur). Oleh karena itu
pembelajaran ilmu nahwu dianjurkan dimulai lebih dulu dengan pengenalan kosa
kata yang akan ditata atau dengan menunjukkan lebih dulu kosa kata yang sudah
tertata dengan sempurna dalam sebuah kalimat dengan pengertian yang utuh.
Pengenalan kosa kata itu melalui pelajaran muhadatsah, muthola’ah, dan mahfudhat
atau hafalan kalimat-kalimat yang mudah dan pendek (Mahmud Junus: 1979, 81-2).
Dalam
pembelajaran gramatika dianjurkan untuk dipergunakan metode istimbath, yaitu
mulai dengan beberapa misal kemudian sampai mendapatkan kaedah (ta’rif).
Misal-misal tersebut hendak-nya dalam kalimat sempurna, Misal-misal itu diambil
dari kisah pendek atau dari sepotong bacaan, bukan dari misal yang tidak ada
hubungan antara satu dengan yang lainnya. Kaedah-kaedah itupun tidak perlu
dipaksakan untuk dihafal secara tekstual, agar tidak mematikan otak untuk
berfikir. Misal-misal itu diberikan sebanyak mungkin serta menarik dan mempunyai
pengertian yang benar. Contoh-contoh yang telah lama (sudah tidak relevan)
dihindari. Kemudian subyek didik berlatih membuat dan memberi contoh sendiri,
supaya mereka aktif dalam pelajaran. Latihan demikian ini perlu sesering
mungkin (Mahmud Junus: 1979, 81-2).
Dalam
pembelajaran gramatika tidak perlu dijelaskan lebih dulu hal-hal yang syadz
(jarang dipakai, aneh-aneh atau pengecualian), karena akan menyulitkan ingatan
atau menyebabkan kebingungan. Perlu diperbanyak uslub-uslub yang berlaku saja, tidak
perlu diberikan contoh yang keliru sebagai latihan untuk dibetulkan, karena
metode demikian ini menyusahkan dan bertentangan dengan metode-metode
pendidikan yang baik, tetapi hendaknya lebih diperbanyak contoh-contoh yang
betul saja agar tertanam yang benar itu dalam pikiran. Selanjutnya untuk
latihan dan bimbingan maka diberikan latihan penerapan kaedah-kaedah nahwiyah
dengan bimbingan terus-menerus melalui koreksi catatan yang dibuat (Abubakar
Muhammad: 1981, 85-6).
Dari
gambaran anjuran di atas, yang tentunya berdasarkan pengalaman yang lalu, maka
akan sangat efektif dan efisien bila pembelajaran nahwu-sharaf mengikuti
langkah-langkah berikut:
a. Penyiapan
bacaan ringan yang mengandung kalimat atau ungkapan untuk contoh yang akan
dijadikan pembahasan berkaitan dengan suatu topik gramatika.
b. Pemahaman
terhadap bacaan ringan dengan berbahasa Arab sederhana.
c. Pembahasan
kalimat atau ungkapan contoh dari segi gramatikanya.
d. Penyimpulan
dan penyusunan kaedah gramatika untuk contoh yang telah dipersiapkan.
e. Pelatihan
sebagai repetisi dengan membuat contoh lain sesuai kaedah yang dihasilkan.
Lima
langkah tersebut disusun demikian ringkas untuk memudahkan ingatan.
Masing-masing langkah berdasarkan pada prinsip-prinsip pembelajaran bahasa.
Pada langkah pertama maka contoh yang dipersiapkan bukan kalimat lepas, tetapi
kalimat yang berkaitan dengan pemahaman lainnya sehingga mudah untuk diingat,
seperti dalam sebuah cerita. Langkah kedua merupakan kegiatan me-mahami dan
atau menguraikan maksud contoh dengan bahasa Arab sederhana, bisa juga memakai
bahasa harian yang ‘Amiyah sekedar untuk membantu kalau belum bisa menggunakan
bahasa dengan baik.
Langkah
ketiga mendiskusikan bentuk kata dari segala seginya sampai dengan i’rabnya.
Langkah keempat berusaha membuat kaedah tata bahasa bersama-sama dan
selanjutnya disempurnakan sesuai dengan kaedah yang sudah ada. Langkah terakhir
adalah upaya agar diperoleh keterampilan berbahasa dengan cara mene-rapkan
kaedah tersebut pada percakapan tertentu atau dengan menunjukkan kalimat yang
sepadan dalam teks-teks bahasa Arab.
Demikian
pembelajaran gramatika diselipkan pada pemahaman terhadap bacaan, yang berarti
pembelajaran gramatika itu sudah didahului dengan belajar kosa kata dan setelah
bisa bercakap-cakap meskipun dengan sederhana.
Adapun
buku-buku gramatika bahasa Arab yang hanya berisi contoh-contoh kalimat lepas
yang ada selama ini, maka peman-faatannya bisa sekedar untuk bahan rujukan dan
untuk menambah ingatan serta pendalaman lebih lanjut bagi para senior. Dengan
demikian maka pembelajaran ilmu nahwu-sharaf menjadi mudah karena sudah
didahului dengan pemahaman terhadap contoh yang ditampilkan. Masalahnya akan
muncul pertanyaan: “Kalau sudah dapat memahami percakapan berbahasa Arab maka
untuk apa mempelajari ilmu nahwu sharaf?”
Memang,
ilmu nahwu-sharaf dipakai agar dapat memahami maksud ungkapan atau kalimat
bahasa Arab dalam segala bentuknya. Dengan ilmu nahwu-sharaf itu pula subyek
didik dapat mengungkapkan bahasa Arabnya secara lisan dengan betul sesuai
dengan tradisi bahasa Arab standar sehingga dapat dipahami oleh pihak yang
mendengar atau oleh pihak yang membaca bila ungkapan itu dituliskan.
Dari
kajian tersebut di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa pembelajaran ilmu
nahwu-sharaf itu erat kaitannya dengan pem-belajaran bahasa Arab fusha
(standar). Pada tataran percakapan sederhana yang mudah dipahami maka ilmu
nahwu-sharaf tidak begi-tu diperlukan. Oleh karena itu pembelajaran ilmu
nahwu-sharaf tidak begitu menarik perhatian kecuali bagi pihak-pihak yang
berkecimpung dalam pemakaian bahasa Arab fusha. Dari sini dapat dipahami bahwa
yang dimaksud dengan “mampu berbicara bahasa Arab” yang dianjurkan sebelum
mempelajari ilmu nahwu-sharaf itu adalah mampu berbicara sederhana atau dengan
bahasa ‘Amiyah, tanpa terikat aturan bahasa Arab Fusha. Jadi belajar ilmu
nahwu-sharaf tersebut adalah dalam rangka membetulkan ungkapan-ungkapan bila
terdapat kekeliruan yang menyebabkan tidak dapat dipahami.
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Dari
penjelasan di atas bisa diambil kesimpulan bahwa:
1. Semua
pengajaran mengandung sesuatu tentang pilihan (seleksi), sesuatu tentang
tahapan (gradasi), sesuatu tentang penyajian (presentasi), dan sesuatu tentang
pengulangan (repetisi). Semua yang termasuk dalam pengajaran, apakah itu
pengajaran matemati-ka, sejarah, geografi, bahasa dan lain-lain, merupakan
unsur-unsur yang dapat dimasukkan dalam metoda. Dengan demikian dapat diketahui
bahwa setiap metode tertentu akan senantiasa berkaitan dengan
ketentuan-ketentuan tentang pilihan materi atau seleksi, gradasi, presentasi,
dan repetisi atau latian-latihan dengan pengulangan materi dalam proses
pembelajaran. Jadi metode itu merupakan sebuah sistem dari berbagai komponen
yang berkaitan.
2. Dalam
masalah tarik-menarik metode tersebut di atas, maka yang dimaksud dengan metode
untuk memperoleh keterampilan membaca sering kali dengan cara memberikan teks
kitab gundul sebagai latihan. Praktek yang berlangsung adalah menekankan
pemahaman pelajaran gramatika yakni ilmu nahwu dan sharaf. Ada yang menganggap
sudah tepat dengan menggunakan metode “Gramatika Terjemah” kalau yang dituju
adalah kemampuan membaca.
Adapun
yang dimaksud dengan metode untuk memperoleh keterampilan berbicara adalah
metode langsung (direct method) yang menekankan pengucapan langsung menghindari
penjelasan teoretis ilmu nahwu dan sharaf.
3. Dari
telaah terhadap berbagai metode, ada beberapa metode yang patut diperhatikan
dalam menguasai kosa kata dengan efisien dan efektif. Pertama, Mimmem Method
(Mimicry and Memorization Method). Metode ini untuk menghafal. Meskipun metode
ini sering diterapkan dengan penyampaian kalimat utuh lebih dulu tetapi akan
lebih baik bila diterapkan dengan penyampaian unsur paling kecil dalam kalimat,
yakni kata. Dalam mempraktekkan Mimmem Method ini perlu digabung dengan metode
kedua, yakni Language Control Method sehingga
perolehan kosa katanya terkontrol mulai dari yang paling mudah dan sederhana
sampai dengan yang paling sukar. Penggunaan metode ini akan menjadi benar-benar
terkontrol bila diikuti dengan pemanfaatan metode ketiga, yaitu Phonetic
Method, di mana metode ini lebih membiasakan pendengaran terhadap
kata-kata terpendek dan selanjutnya pada kalimat yang panjang.
4. Dalam
pembelajaran gramatika dianjurkan untuk dipergunakan metode istimbath, yaitu
mulai dengan beberapa misal kemudian sampai mendapatkan kaedah (ta’rif).
Misal-misal tersebut hendak-nya dalam kalimat sempurna, Misal-misal itu diambil
dari kisah pendek atau dari sepotong bacaan, bukan dari misal yang tidak ada
hubungan antara satu dengan yang lainnya. Kaedah-kaedah itupun tidak perlu
dipaksakan untuk dihafal secara tekstual, agar tidak mematikan otak untuk
berfikir. Misal-misal itu diberikan sebanyak mungkin serta menarik dan
mempunyai pengertian yang benar. Contoh-contoh yang telah lama (sudah tidak
relevan) dihindari. Kemudian subyek didik berlatih membuat dan memberi contoh
sendiri, supaya mereka aktif dalam pelajaran. Latihan demikian ini perlu
sesering mungkin (Mahmud Junus: 1979, 81-2).
B. Saran
Penulis
menyadari sepenuhnya bahwa dalam penyusunan makalah ini masih jauh dari
sempurna, oleh karena itu penulis terbuka sepenuhnya akan kritik dan saran yang dapat membangun dan
memperbaiki untuk kesempurnaan makalah ini.
Dan
akhirnya semoga makalah ini bermanpaat untuk penulis khususnya dan teman-teman
umumnya
DAFTAR
PUSTAKA
Abubakar
Muhammad, Methode
Khusus Pengajaran Bahasa Arab (Surabaya: Usaha Nasional, 1981).
Azhar
Arsyad, Bahasa
Arab dan Metode Pengajarannya (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2003).
Juwairiyah Dahlan, Metode Belajar Mengajar Bahasa Arab
(Surabaya: Al Ikhlas, 1992).
Muhammad Ali al-Khulli, Asalib Tadris al-Lughah al-’Arabiyah
(Riyadh, Al-mamlakah al-’Arabiyah as-Sa’ufiyah, 1982).
Muljanto
Sumardi et.al., Pengajaran Bahasa Asing: Sebuah Tinjauan dari
Segi Metodologi (Jakarta: Bulan Bintang, 1975).
Sri
Utari Subyakto Nababan, MetodologiPengajaran Bahasa
(Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama, 1993).
Abubakar
Muhammad, Methode
Khusus Pengajaran Bahasa Arab (Surabaya: Usaha Nasional, 1981),
85-6.