PENDAHULUAN
Oleh: Andri Nazarudin M
A.
Latar Belakang
Keterampilan berbicara sangat diperlukan untuk
berkomunikasi lisan. Akan tetapi, apabila kegiatan berkomunikasi teerjadi tanpa
diawali keterampilan berbicara dengan baik, biasannya kegiatan komunikasi
tersebut akan mengalami hambatan dan gangguan. Berbicara merupakan aktivitas
sehari-hari yang sangat vital bagi kesuksesan setiap orang. Sangat vital karena
dengan berbicara, kita dapat memotovasi orang lain, menyampaikan ide, mendapat
banyak pernghargaan dari orang lain, bahkan dapat melejitkan kariri. Kegiatan
berkomunikasi dapat mencakup kegiatan bertanya, bercerita, berdiskusi,
berpidato, dan wawancara. Kegiatan-kegiatan tersebut sangat perli untuk
dipelajari agar kegiatan berkomunikasi dapat tercapai dengan baik.
Terdapat empat keterampilan
berbahasa yang dimiliki manusia, yaitu keterampilan menyimak, berbicara,
membaca, dan menulis. Keempat keterampilan ini merupakan catur tunggal yang
saling berkaitan dan akan saling mengisi. Tarigan berpendapat, bahwa setiap
keterampilan berbahasa itu erat sekali berhubungan dengan ketiga keterampilan
yang lainnya dengan cara yang beranekaragam. Keempat keterampilan itu pada
dasarnya mertupakan satu kesatuaan.
B.
Tujuan Masalah
- Mengetahui keterampilan bicara sebagai alat
komunikasi
- Bisa menggunakannya dalam kehidupan sehari-hari
- Mengetahui strategi pengajarannya kepada
peserta didik
BAB II
PEMBAHASAN
A.
Pengertian Keterampilan Berbicara (Kalam)
Berbica mengenai (kalam) adalah
mengucapkan suara-suara yang tersusun dalam bentuk bahasa Arab. Keterampilan
ini bisa terwujud setelah pembelajaran istima’
dan mengulangi kata-kata yang
telah didengar. Oleh karena itu, pembelajaran keterampilan berbicara tidak
terlepas dari setelah pembelajaran keterampilan mendengar.
Berbicara adalah keterampilan
menyampaikan pesan melalui bahasa lisan kepada orang lain. Berbicara identik dengan penggunaan bahasa
secara lisan. Pengggunaan
bahasa secara lisan dapat dipengaruhi oleh berbagai faktor. Faktor-faktor yang mempengaruhi berbicara
secara langsung adalah:
a) Pelafalan,
b) Intonasi,
c) Pilihan kata,
d) Struktur kata dan
kalimat,
e) Sistematika
pembicaraan,
f) Isi pembicaraan,
g) Cara memulai dan
mengakhiri pembicaraan, serta
h) Penampilan
(gerak-gerik, penguasaan diri, dll)
Berbicara adalah salah satu
keterampilan bahasa. Aspek-aspek keterampilan berbahasa lainnya adalah
menyimak, membaca, dan menulis. Pada hakikatnya kemahiran berbicara merupakan
kemahiran menggunakan bahasa yang paling rumit, yang dimaksud dengan kemahiran
berbicara adalah kemahiran mengutarakan buah pikiran dan perasaan dengan
kata-kata dan kalimat yang benar, ditinjau dari sistem gramatikal dan tata
bunyi.
Dari uraian diatas menunjukan bahwa
keterampilan berbicara mutlak sangat diperlukan. Begitu pula keterampilan
menyimak dan berbicara saling berkaitan. Dalam menyimak seorang mendapat
informasi, sedangkan dalam berbicara seseorang menyampaikan pikiran dan
perasaan melalui alat ucap.
Untuk itulah teknik berbicara atau
keterampilan berbicara perlu dibina dan dikembangkan serta banyak latihan
sehingga menumbuhkan minat siswa dalam berbicara (kalam).
Keterampilan berbicara menunjang
keterampilan bahasa lainnya. Pembicara yang baik mampu memberikan contoh agar
dapat ditiru oleh penyimak yang baik.pembicara yang baik mampuh memudahkan
penyimak untuk menangkap pembicaraan yang disampaikan.
Berbicara dan menyimak merupakan
kegiatan berbahasa lisan, dua-duanya berkaitan dengan bunyi bahasa. Dalam
berbicara seseorang menyampaikan informasi melalui suara atau bunyi bahasa,
sedangkan dalam menyimak seseorang mendapat informasi melalui ucapan atau
suara.
Berbicara dan menyimak merupakan dua
kegiatan yang tidak dapat dipisahkan,
kegiatan berbicara selalu disertai kegiatan menyimak, demikian pula kegiatan
menyimak akan didahului kegiatan berbicara. Kedua-duanya sama-sama penting
dalam komunikasi.
Ada beberapa cara yang sesuai dengan
metode pengajaran bahasa arab dalam kereampilan ini. Diantaranya ;
1. Berdiskusi
Berdiskusi Adalah suatu cara bertukar pendapat antara dua
orang atau lebih untuk memperoleh kesepakatan atau keputusan bersama. Yang
termasuk dalam kegiatan berdiskusi adalah diskusi kelompok, diskusi panel, workshop/lokakarya,
rapat kerja, seminar, konferensi, dan debat.
2. Berpidato
Berpidato adalah penyampaian uraian secara lisan tentang suatu hal di depan
umum Langkah-langkah persiapan berpidato adalah :
1) Menentukan topik
2) Menentukan
maksud/tujuan
3) Menganalisis
situasi dan pendengar
4) Memilih dan
merumuskan topic ke dalam ide-ide yang lebih terperinci
5) Mengumpulkan bahan
6) Memahami dan
menghayati materi
7) Latihan berpidato
3. Wawancara
Adalah suatu cara mengumpulkan data dengan mengajukan pertanyaan langsung kepada
seseorang (nara sumber). Pertanyaan-pertanyaan yang
diajukan harus
disiapkan terlebih dahulu, disesuaikan dengan tujuan yang
diharapkan.
4. Memberikan
tanggapan
Adalah kegiatan menyampaikan pendapat
tentang sesuatu yang merupakan tanggapan, persetujuan, ketidaksetujuan, kritik,
atau dukungan terhadap sesuatu.
5. Menyampaikan
informasi
Adalah kegiatan memberikan informasi,
berita tentang sesuatu kepada orang lain. Ada tiga hal penting dalam
penyampaian informasi, yaitu keakuratan, kelengkapan, dan kejelasan.
6. Menceritakan
suatu peristiwa
Adalah kegiatan berbicara yang
dilakukan untuk menceritakan kesan pembicara tentang sesuatu atau suatu
peristiwa.
7. Berbicara
saastra
Yang
dimaksud dengan berbicara sastra adalah kegiatan berbicara yang berkaitan
dengan karya sastra Pengembangan kemampuan berbicara sastra meliputi berbalas
pantun, musikalisasi puisi, mendongeng, dramatisasi/bermain peran berdasarkan
naskah, menceritakan kembali isi cerpen, dan menanggapi secara lisan pementasan
karya sastra.
B.
Tujuan Pembelajaran Keterampilan Berbicara (Kalam)
Program pengajaran keterampilan
berbicara harus mampu memberikan kesempatan kepada setiap individu mencapai
tujuan yang di cita-citanya. Tujuan keterampilan berbicara akan mencakup
pencapaian hal-hal berikut.
a)
Kemudahan Berbicara
Peserta didik harus mendapat kesempatan yang besar untuk
berlatih berbicara sampai mereka mengembangkan keterampilan ini secara wajar,
lancar, dan menyenangkan, baik di dalam kelompok kecil maupun dihadapan
pendengar umum yang lebih besar jumlahnya. Para peserta didik perlu
mengembangkan kepercayaan yang tumbuh melalui latihan.
b)
Kejelasan
Dalam hal ini peserta didik berbicara dengan
tepat dan jelas, baik artikulasi maupun diksi kalimat-kalimatnya.
Gagasan yang di ucapkan harus tersusun dengan baik. Dengan latihan berdiskusi
yang mengatur cara berpikir yang logis dan jelas, kejelasan berbicara tersebut
dapat dicapai.
c)
Bertanggung jawab
Latihan berbicara yang bagus menekankan pembicara untuk
bertanggung jawab agar berbicara secara tepat, dan dipikirkan dengan
sungguh-sungguh mengenai apa yang menjadi topik pembicaraan, tujuan
pembicaraan, siapa yang diajak berbicara, dan menghindarkan peserta didik dari berbicara
yang tidak bertanggung jawab atau bersilat lidah yang melabui kebenaran.
d)
Membentuk Pendengaran Yang Kritis
Latihan berbicara yang baik sekaligus mengembangkan
keterampilan menyimak secara tepat dan kritis juga menjadi tujuan utama program
ini. Di sini peserta didik perlu belajar untuk dapat mengevaluasi kata-kata,
niat, dan tujuan pembicara yang secara
emplisit mengajukan pertanyaan.
e)
Membentuk Kebiasaan
Belajar bahasa menurut prinsip ini adalah membentuk
kebiasaan baru bagi para siswa. Sementara siswa sendiri telah memiliki
kebiasaan dalam memakai bahasa pertama (ibu). Kebiasaan lama dalam bahasa ibu
ada yang berguna bagi siswa dalam mengemabangkan kebiasaan yang baru itu. Maka
menurut prinsip ini, studi konstrastif antara bahasa pertama dengan bahasa
kedua sangat penting sehingga dapat ditentukan pola-pola sebagai kebiasaan.
Hendaknya latihan pola-pola kalimat dilakukan untuk membentuk kebiasaan melalui
praktek pola atau تدريبات الأنماط Misalnya, siswa
dibiasakan latihan tarkib.
C. Media
Pembelejaran Keterampilan berbicara (Kalam)
Berbicara merupakan kegiatan berbahasa
yanng aktif dari seorang pemakai bahasa yang menuntut prakarsa yang nyatadalam
penggunaan bahasa untuk mengungkapkan diri secara lisan. Dalam pengertian ini
berbicara merupakan bagian dari kemampuan berbahasa yang aktif produktif.
Sebagian dari kemampuan berbahasa yang aktif produktif kemampuan berbicara
menuntut penguasaan terhadap beberapa aspek dan kaidah penggunaan bahasa.
Secara kebahasaan, pesan lisan yang
disampaikan dengan berbicara merupakan penggunaan kata-kata yang dipilih sesuai
dengan makasud yang perlu diungkapkan. Kata-kata itu dirangkai dalam susunan
tertentu menurut kaidah bahasa, dan dilafalkan
sesuai dengan kaidah pelafalan yang sesuai pula. Semua itu merupakan
aspek kebahasaan bagian dari kegiatan berbicara sebagai bentuk penggunaan bahasa
liosan yang harus diperhatikan dalam mengupayakan pesan yang disampaikan dapat
diterima dan dimengerti seperti yang dimaksudkan oleh pembicara.
Dalam pembelejaran keterampilan
bebicara mementingkan isis dan makna dalam penyampaian pesan secara lisan,
berbagai bentuk dan cara dapat digunakan. Sesuai dengan yingkat penguasaan
kemampuan berbahasa yang telah dimiliki oleh siswa bentuk pembellajaran
berbicara dapat meliputi kegiatan penggunaan bahasa lisan dengan tingkat
kesulitan yang beragam (1996:127-128). Oleh karenanya, media pembelajaran yang
dapat dimanpaatkan untuk pembelajaran keterampilan ini antara lain papan tulis,
papan display, papan magnetis, dan kesemuanya itu bisa dimanfaatkan untu;k
mendisplay kartu mufrodat dan kartu-kartu yang lain.
Adapun media selain papan tersebut yang
dapat dimanfaatkan seperti:
Ø Jam dinding (Qorshus
Sa’ah)
Jam dinding merupakan media yang paling sukses dalam
melatih siswa dalam keterampilan berbicara. Media ini mudah dibuat dan
didapatkan oleh seorang guru, biasanya terdiri dari angka 1-12, jarum jam,
jarum sedang, dan jarum pendek. Namun sebelum menggunakan media jam dindingk
ini harus dipastikan bahwa siswa sudah mengenal itungan satu sampai enam puluh.
Langkah berikutnya adalah guru memutar jarum jam sebagaimana biasanya, setelah
dipastikan jarum jam menunjukan angka tertentu, maka guru melontarkan beberapa
pertanyaan sebagaimana contoh berikut :
كم الساعة تستيقظ من النوم ؟
متـى تستيقظ من النوم ؟
متـى ينتهـى اليوم المدرسـى ؟
Ø Film
Film dengan berbagai macam bentuknya dapat digunakan sebagai media
pembelajaran bahasa arab, baik film yang tidak bergerak atau yang bergerak,
hitam putih atau yang berwana, berdurasi pendek atau panjang kesemuanya dapat
digunakan untuk mengajarkan keterampilan berbahasa. Adapun langkah-langkahnya
yang harus dilakukan oleh seorang guru jika menggunakan film sebagai media pembelajaran berbicara adalah memutar film
terlebih dahulu pada siswa kmudian menanyakan secara lisan; apa judulnya, siapa
pelakunya, bagaimana alur ceritanya, dimana klimaksnya, dan bagaimana akhir
ceritanya. Atau dengan langkah lain siswa diminta untuk mengungkapkan
ungkapan-ungkapan yang menarik menurutnya, atau diminta untuk bercerita kembali
secara singkat.
Ø Mengungkapkan
tema secara lisan
Mengungkapkan tema secara lisan yang
dimaksud disini adalah mengungkapkan tema-tema tertentu yang dibantu dengan
beberapa gambar baik berupa cerita, percakapan, atau deskrifsi. Biasanya
dibawah gambarnya ada beberapa pertanyaan yang dapat membantu siswa untuk
mengungkapkantema tersebut.
Ø Karya wisata
(ar-rikhlah)
Karya wisata dapat dijadikan sebagai salah satu media untuk melatih
keterampilan berbicara. Karena dengan belajar keluar dai kelas siswa akan
mendapatkan sesuatu yang banyak yang ia lihat, setelah itu siswa diminta
untukmenceritakan apa yang telah dilihatnya secara lisan. Tentunya penggunaan
media ini harus mempertimbangkan seperti tempat yang indah, dana, jauh dan
dekat.
D.
Strategi pembelajaran keterampilan berbicara (KALAM)
Maharotul kalam sering juga disebut dngan istilah ta’bir. Namun
demikian kedua memiliki penekanan, dimana kalam lebih menekankan kepada
kemampuan lisan, sedangkan ta’bir disamping secara lisan juga dapat
diwujudkan dengan tulisan. Meski demikian keduanya memiliki kesamaan yang
mendasar yaitu bersipat aktif produktif untuk menyatakan apa yang ada dalam
pikiran sseorang. Diantara strategi pembelajaran maharotul kalam adalah :
1. Strategi 1 (ta’bir
min ash-shuwar)
Strategi ini bertujuan untuk melatih
siswa menceritakan apa yang telah dilihat dalam bahasa arab baik secara lisan
atau tulisan. Media yang digunakan dapat berupa gambar yang diproyeksikan
maupun yang tidak diproyeksikan. Langkah-langkahnya adalah:
a)
Pilihlah sebuah gambar yang sesuai dengan tema yang
diinginkan.
b)
Tunjukan gambar tersebut kepada siswa, misalnya dengan
ditempel di papan tulis.
c)
Mintalah siswa untuk menyebutkan nama-nama benda atau
bagian yang ada dalam gambar tersebut dalam bahasa arab.
d) Mintalah
masing-masing siswa untuk menyusun kalimat dari gambar tersebut secara lisan.
e)
Mintalah masing-masing siswa untuk membacakan hasilnya (presentasi)
f)
Berikan klarifikasi terhadap hasil pekerjaan para siswa
tersebut.
2. Strategi 2 (jigsaw/café-café)
Strategi ini biasanya digunakan dengan
tujuan untuk memahami isi sebuah bacaan secara utuh dengan cara membagi-baginya
menjadi beberapa bagian kecil. Masing-masing siswa memiliki tugas untuk
memahami sebagian isi bacaan tersebut, kemudian digabungkan menjadi satu.
Dengan cara demikian diharapkan isi bacaan yang cukup panjang dapat dipahami
secara cepat, disamping itu proses pemahaman akan semakin mendalam karena
diulang berkali-kali. Langkah-langkahnya adalah :
a) Buatlah beberapa
kelompok sesuai dengan jumlah topik bahasan atau jumlah paragraf dari bacaan
yang akan dipelajari.
b) Bagikan
naskah/bacaan pada kelompok-kelompok tersebut dengan masing-masing kelompok
satu buah topik atau paragraf.
c) Berilah waktu
untuk membaca, memahami dan mnta’birkan (mengungkapkan kembali) dalam kelompok
masing-masing secara bergiliran.
d) Setelah bekerja
kelompok ini selesai, buatlah kelompok kedua dengan jumlah kelompok sesuai
dengan jumlah anggota kelompok yang pertama. Misalnya, jumlah anggota pertama 5
orang, maka jumlah kelompok yang kedua juga 5 kelompok, sehingga masing-masing
anggota kelompok akan disebarkan dan bergabung dengan anggota dari kelompok
yang lain.
e) Mintalah
masing-masing siswa dalam setiap kelompok untuk menta’birkan apa yang sudah
dipahami dari kelompok yang pertama. Dengan demikian masing-masing kelompok
akan memiliki pemahaman dari 5 topik atau paragraf yang berbeda.
f) Mintalah
masing-masing kelompok untuk mempresentasikan hasilmya secara utuh. Pada saat
ini masing-masing siswa sudah memahami seluruh isi bacaan atau topik yang
ditetapkan.
g) Berikan
klarifikasi di akhir presentasi agar pemahaman terhadap isi bacaan atau
topik-topik tersebut tidak keliru.
3. Strategi 3 (small
grouf presentation)
Dalam strategi ini kelas kelas dibagi
menjadi beberapa kelompok kecil. Masing-masing kelompok akan melakukan tugas
yang diberikan pengajar, kemudian hasilnya dipresentasikan di kelas. Strategi
ini biasanya digunakan untuk lebih mengaktifkan semua siswa sehingga
masing-masing siswa akan merasakan pengalaman belajar yang sama. Dengan cara
inidiharapakn pengetahuan dan keterampilan siswa dapat merata. Sebagai contoh
dalam pembelajaran bahasa arab dengan materi ta’aruf akan membutuhkan waktu yang sangat panjang
jika praktik dilakukan satu-satu di kelas, tetapi jika menggunakan strategi ini
penggunaan waktu akan dapat diefesienkan. Langkah-langkahnya adalah:
a)
Tentukan topik yang akan dipelajari, misalnya ta’aruf
tentang identitas diri atau menjelaskan tentang hal tertentu.
b)
Ajaklah seluruh siswa untuk terlebih dahulu menentukan
dan menyepakati unsur-unsur apa saja yang harus disampaikan oleh siswa.
Misalnya dalam materi ta’aruf yang harus diungkapkan adalah umur, alamt, hobi,
cita-cita dan seterusnya.
c)
Bagilah siswa menjadi beberapa kelompok kecil, misalnya 2
sampai 5 orang.
d)
Mintalah masing-masing siswa untuk menyampaikan ta’aruf
dalam kelompoknya secara bergantian.
e)
Setelah proses dalam kelompok selesai, mintalah
masing-masing siswa yang mewakili kelompok tersebut untuk menyampaikan hasilnya
(berta’aruf) didepan kelas.
f)
Berikan klarifikasi terhadap hasil yang telah
dipresentasikan oleh masing-masing siswa.
4. Strategi 4 (galleri
session/poster session)
Penggunaan strategi ini diantaranya
ditunjukan untuk melatih kemampuan siswa dalam memahami isi sebuah bacaan
kemudian mampu untuk memvisualisasikan dalam bentuk gambar. Dari gambar tersebut
diharapkan semua siswa dapat menghafal isi bacaan secara mudah dan ingatan
siswa terhadap isi bacaan tersebut dapat bertahan lebih lama.
Langkah-langkahnya adalah:
a)
Tentukan topik-topik bahasan yang akan dipelajari.
b)
Bagilah siswa dalam beberapa kelompok kemudian
masing-masing kelompok diberi teks dengan topik yang berbeda.
c)
Mintalah seluruh siswa dalam masing-masing kelompok untuk
membaca teks tersebut bersama-sama.
d)
Mintalah masing-masing kelompok untuk menuangkan isi
bacaan dalam bentuk gambar. Dalam hal ini, bentuk yang ada dalam gambar
diharapkan dapat mewakili pokok-pokok pikiran yang ada dalam teks bacaan itu.
e)
Mintalah masing-masing kelompok untuk menunjuk seorang
penjaga pada galery. Tugas dari penjaga garely ini adalah memeberikan
penjelasan kepada para pengunjung yang memepetanyakan isi atau maksud dari
gambar yang dipamerkan.
f)
Mintalah semua siswa yang tidak bertugas menjaga garely
untuk berkeliling ke masing-masing garely dan bertanya kepada masing-masing
penjaga gambar yang ndipajang dengan bahasa arab.
g)
Setiap penjaga harus menjelaskan maksud maksud dari
gambar tersebut dalam bahasa arab.
h)
Setelah waktu yang telah ditentukan habis, mintalah semua
siswa untuk kembali ke kelas.
i)
Berikan komentar dan klarifikasi terhadap keseluruhan
proses yang telah dilaksanakan termasuk isi dari masing-nasing bacaan yang
telah dipelajari.
j)
Disamping strategi tersebut pembelajaran kalam juga dapat
dikembangkan secara kreatif dan lebih banyak mengaktifkan siswa dengan
menggunakan berbagai edia dan permainan bahasa.
E. Tingkatan
Dalam Pembelajaran Keterampilan Berbicara
Adapun langkah-langkah yang bisa dilakukan guru dalam
proses pembelajaran kalam adalah sebagai berikut :
A. pemula
1) Guru mulai melatih bicara
dengan memberi pertanyaan–pertanyaan yang harus dijawaboleh siswa.
2) Pada saat yang bersamaan
siswa diminta untuk belajar mengucapkan kata, menyusun kalimat dan mengungkapan
pikiran.
3) Guru mengurutkan
pertanyaan–pertanyaan yang dijawab oleh siswa sehingga berakhir membentuk
sebuah tema yang sempurna.
4) Guru bisa menyuruh siswa
menjawab latihan-latihan syafawiyah, menghafal percakapan, atau menjawab
pertanyaan yang berhubungan dengan isi teks yang telah siswa baca.
B. Lanjutan
1) Belajar berbicara dengan
bermain peran.
2) Berdiskusi tentang tema
tertentu.
3) Bercerita tentang
peristiwa yang terjadi pada siswa.
4) Bercerita tentang
informasi yang telah didengar dari televisi, radio, atau lain-lainnya.
C. Tingkat atas
1) Guru memilihkan tema
untuk berlatih kalam.
2) Tema yang dipilih
hendaknya menarik berhubungan dengan kehidupan siswa
3) Tema harus jelas dan
terbatas
4) Mempersilakan siswa
memilih dua tema atau lebih sampai akhirnya siswa bebas memilih tema yang
dibicarakan tentang apa yang mereka ketahui.
Beberapa
petunjuk umum berkenaan dengan pembelajaran kalam, yaitu sebagaimana berikut:
1) Belajar kalam yakni
berlatih berbicara
2) Hendaknya siswa
mengungkapkan tentang pengalaman mereka
3) Melatih memusatkan
perhatian
4) Tidak memutus percakapan
dan sering membenarkan
5) Bertahap
6) Kebermaknaan tema ,siswa
akan lebih termotivasi untuk berbicara jika temanya berhubungan dengan hal
yang bernilai dalam kehidupan mereka.
BAB III
KESIMPULAN
Kemahiran
berbicara merupakan salah satu jenis kemampuan berbahasa yang ingin dicapai
dalam pengajaran termasuk bahasa Arab. Berbicara merupakan sarana utama untuk
membina saling pengertian dan komunikasi timbal balik, dengan menggunakan
bahasa sebagi medianya. Kegiatan berbicara didalam kelas bahasa mempunyai aspek
komunikasi dua arah yakni antara pembicara dengan pendengarnya secara timbal
balik. Dengan demikian latihanberbicara harus terlebih dahulu didasari oleh
kemampuan mendengar, kemampuan mengucapkan, dan penguasaan kosa kata serta
ungkapan yang memungkinkan anak didik mengkomunikasikan maksud atau
fikiranya.
Fakto
lain yang penting dalam menghidupkan kegiatan berbicara ialah keberanian anak
didik dan perasaan tidak takut salah. Oleh karena itu, guru hendaknya
memberikan dorongan kepada anak didik agar berabi berbicara kendatipun dengan resiko salah.
Pada
tahap permulaan latihan berbicara dapat dikatakan serupa dengan menyimak akan
tetapi tujuan akhir keduanya berbeda. Latihan berbicara menekankan kemampuan
eskpresi atau mengungkapkan ide pikiran
pesan kepada orang lain. Sedangankan menyimak adalah kemampuan memahami apa
yang disimak. Keduanya merupakan syarat mutlak bagi sebuah komunikasi
lisan yang efektif secara timbal balik.
Daftar
Pustaka
Abu bakar Muhammad, Methode Khusus Pengajaran Bahasa Arab. Surabaya : Usaha Nasional, 1981.
Azhar
Arsyad, Bahasa Arab dan Metode
Pengajarannya. Yogyakarta : Pustaka
Pelajar,
2003).
Fachrurrozi Aziz, Mahyuddin Erta. Pembelajaran
Bahasa Asing Metode Tradisional &
Kontemporer . Jakarta : Bania Publishing, 2000.