A.1.
Latar Belakang Masalah
Tasawuf adalah nama lain dari “Mistisisme dalam Islam”. Di kalangan
orientalis Barat dikenal dengan sebutan “Sufisme”, tasawuf bertujuan untuk
memperoleh suatu hubungan khusus langsung dari Tuhan. Hubungan yang dimaksud
mempunyai makna dengan penuh kesadaran, bahwa manusia sedang berada di hadirat
Tuhan.
B.1.
Rumusan Masalah
1.
Apa
Tasawuf Akhlaqi?
2.
Perkembangan
Tasawuf Akhlaqi?
3.
Tokoh-tokoh
Tasawuf Akhlaqi?
C.1.
Tujuan Permasalahan
Dengan adanya pembelajaran Tasawuf kita berharap agar kita berusaha
untuk belajar mendekatkan diri pada Allah, sehingga merasa dan sadar berada di hadirat
Tuhan. Keberadaan di hadirat Tuhan itu sebagai kenikmatan yang hakiki.
BAB II
PEMBAHASAN
A.
Pengertian dan Ajaran Tasawuf Akhlaki
Tasawuf akhlaki jika ditinjau dari sudut bahasa, bentuk fase
atau dalam kaidah bahasa arab dikenal dengan sebutan jumlah idhofah.
Fase jumlah idhofah merupakan gabungan dari dua kata menjadi satu kesatuan
makna yang utuh dan menentukan realitas yang khusus, yaitu kata ’tasawuf’
dan ‘akhlak’. Kata Tasawuf menurut kaidah
ilmu shorof merupakan bentuk isim masdar yaitu tashowwufan (تصوف menjadi
تصوفا ), yang berasal dari fiil tsulatsi mazid
khumasi, yaitu (تصوف) yang memiliki fungsi untuk membentuk makna lil-mutowwa’ah
atau transitif (kata keja yang memiliki objek dalam kalimat) dan lil-musyarokah
atau membentuk kata saling sehingga arti dari kata ‘tasawuf’ dalam bahasa arab
adalah bisa membersihkan’ atau ‘saling membersihkan’. Kata ‘membersihkan’
merupakan kata kerja transitif yang membutuhkan objek. Objek tasawuf adalah
akhlak manusia.
Tasawuf akhlaqi ini sering di tunjukan dengan banyaknya istilah
seperti halnya tasawuf praktis, karena lebih berorientasikan pada praktek
akhlak atau perilaku shaleh, dan disebut juga tasawuf Sunni. Tasawuf Sunni
yaitu bentuk tasawuf yang memagari dirinya dengan Al-Qur’an dan Al-Hadits
secara ketat, serta mengaitkan ahwal (keadaan) dan maqomat (tingkatan rohaniah)
mereka kepada dua sumber tersebut.[1]
Dan tujuan terpenting dari tujuan tasawuf adalah memperoleh
hubungan langsung dengan Tuhan, sehingga merasa dan sadar berada di “hadirat”
Tuhan. Keberadaan di “hadirat” Tuhan itu dirasakan sebagai kenikmatan dan
kebahagiaan yang hakiki. Bagi kaum sufi, pengalaman Nabi Muhammad Saw dalam melaksanakan Isra’ Mi’raj dan Nabi
Musa As yang bisa membelah lautan menjadi dua, misalnya, merupakan sebuah
contoh puncak pengalaman rohani tertinggi yang hanya di punyai oleh seorang
Nabi.
Semua sufi berpendapat bahwa satu-satunya jalan yang dapat
menghantarkan seseorang ke hadirat Allah hanyalah dengan kesucian jiwa. Karena
jiwa manusia merupakan refleksi atau pancaran dari pada Dzat Allah Yang Maha
Suci, segala sesuatu itu harus sempurna (perfection) dan suci. Untuk mencapai
tingkat kesempurnaan dan kesucian, jiwa memerlukan pendidikan dan latihan
mental yang panjang.
Dan sejalan dengan tujuan hidup tasawuf, para sufi berkeyakinan
bahwa kebahagiaan yang paripurna dan langgeng bersifat spiritual. Berangkat
dari falsafah hidup itu, baik dan buruk sikap mental seseorang dinilai
berdasarkan pandangannya terhadap kehidupan duniawi. Kaum sufi juga berpendapat
bahwa kenikmatan hidup duniawi bukanlah tujuan, tetapi sekedar jembatan. Oleh
karena itu, untuk mencapai kesempurnaan dan kesucian yang pertama dan utama
dilakukan adalah menguasai hawa nafsu. Sebab, menurut Al-Ghazali, tak
terkontrolnya hawa nafsu yang ingin mengecap kenikmatan hidup duniawi adalh
sumber utama dari kerusakan akhlak.
Oleh karena itu, dalam rangka pendidikan mental-spiritual, metode
yang ditempuh para sufi adalah menanamkan rasa benci kepada kehidupan duniawi
untuk mencintai Tuhan. Esensi cinta kepada Tuhan adalah melawan hawa nafsu. Bagi
sufi, keunggulan seseorang bukanlah diukur dari tumpukan harta yang
dimilikinya, bukan pula dilihat dari pangkat yang dijabatnya. Nilai seseorang
tidak dilihat dari bentuk tubuh yang dimilikinya, tetapi terletak pada akhlak
pribadi yang diterapkannya.
Tasawuf akhlaki merupakan gabungan antara ilmu tasawuf dan ilmu
akhlak. Tasawuf akhlaki dapat terealissi secara utuh jika pengetahuan dan
ibadah kepada Allahdi buktikan dalam kehidupan social. Dalam tasawuf akhlaki
mempunyai tahap sistem pembinaan akhlak diantaranya: Takhalli, Tahalli dan Tajalli.
- Takhalli
Takhalli merupakan langkah pertama yang harus di lakukan
oleh seorang sufi. Takhalli adalah usaha membersihkan atau mengosongkan diri
dari perilaku dan akhlak tercela, baik maksiat batin yang telah disebutkan.
Maksiat-maksiat ini mesti dibersihkan, karena menurut para sufi semua itu
adalah najis maknawiyah yang menghalangi seseorang untuk dapat dekat dengan
tuhannya, sebagaiman najis zati yang menghalangi seseorang untuk melakukan
ibadah kepada-Nya.
Takhalli berarti melepaskan diri dari ketergantungan kepada
kelezatan hidup di dunia dengan melenyapkan doprongan hawa nafsu yang cenderung
kepada keburukan.
- Tahalli
Tahalli adalah upaya mengisi dan menghiasi diri dengan jalan
membiasakan diri dengan sikap, perilaku, dan akhlak terpuji. Tahapan tahalli
dilakukan kaum sufi setelah mengosongkan jiwa dari akhlak-akhlak tercela.
Dengan menjalankan ketentuan agama baik yang bersifat eksternal (luar) maupun
internal (dalam). Yang disebut aspek luar adalah kewajiban-kewajiban yang
bersifat formal seperti sholat, puasa, haji dll.
Dan adapun yang bersifat dalam adalah seperti keimanan, ketaatan
dan kecintaan kepada Tuhan. Apabila sifat-sifat buruk telah di buang, kemudian
sifat-sifat baik ditanamkan, maka akan lahirlah kebiasaan-kebiasaan baik,
akhlak yang mulia. Berbuat, bertingkah laku, bertindak dalam bimbingan
sifat-sifat yang mulia yang telah ditanamkan dalam diri.
- Tajalli
Untuk pemantapan dan pendalaman materi yang telah dilalui pada fase
tahalli, maka rangkaian pendidikan akhlak selanjutnya adalah fase
tajalli. Kata tajalli bermakna terungkapnya nur ghaib. Agar hasil
yang telah diperoleh jiwa dan organ-organ tubuh yang telah terisi dengan
butir-butir mutiara akhlak dan sudah terbiasa melakukan perbuatan-perbuatan
yang luhur tidak berkurang, maka rasa ketuhanan perlu dihayati lebih lanjut. Kebiasaan
yang dilakukan dengan kesadaran optimum dan rasa kecintaan yang mendalam dalam
dirinya akan menumbuhkan rasa rindu kepada-Nya.
Tingkat kesempurnaan kesuciaan jiwa dalam pandangan para sufi hanya
dapat diraih melalui rasa cinta kepada Allah. Keberadaan dekat dapat diraih
melalui rasa cinta kepada Allah. dekat dengan Allah hanya akan dapat diperoleh
dengan kebersihan jiwa. Jalan menuju kedekatan pada Allah menurut para sufi
dapat dilakukan dengan dua usaha yaitu dengan mulazamah dan mukhalafah. Dan
untuk memperdalam dan melenggangkan
rasa kedekatan pada Tuhan, para sufi mengajarkan hal-hal berikut: Munajat,
munasabah, muraqobah, katsrat ad-dzikr, dzikir al-maut, dan tafakur.
B.
Tokoh-tokoh Tasawuf Ahklaqi
1.
Hasan Al-Bashri
Nama lengkapnya Abu Sa’id Al-Hasan Bin Yasar. Beliau adalah seorang
zahid yang amat masyhur di kalangan tabiin. Dia lahir di Madinah pada tahun 21
H (624 M), dan meninggal di Basrahpada tahun 110 (726 M). ayahnya bernama Zaid
Bin Tsabit, seorang budak yang kemudian menjadi sekertaris Nabi Muhammad Saw, ibunya
adalah hamba dari istri Nabi yaitu Ummu Salamah.
Hasan Al-Basri yang mula-mula menyediakan
waktunya untuk memperbincangkan ilmu-ilmu kebatinan, kemurnian akhlak, dan
usaha menyucikan jiwa di Masjid Basrah. Ajaran-ajarannya
tentang kerohanian senantisa didasarkan pada sunnah Nabi. Para sahabat Nabi
yang masih hidup di zaman itu pun mengakui kebesarannya. Puncak keilmuannya beliau
peroleh di Basrah. Beliau sangat terkenal dengan keilmuannya yang sangat dalam.
Disamping sebagai zahid, Ia juga terkenal sebagai seorang yang wara’ dan berani
dalam memperjuangkan kebenaran.
Dan beliau adalah orang yang pertama kali memunculkan ajaran dengan
sikap mental dan rasa cemas (khaul) dan harap (raja’) sebagai cirri kehidupan
sufi. Menurut Al-Bashri, yang dimaksud dengan cemas atau takut adalah sesuatu perasaan
yang timbul karena banyak berbuat salah dan sering lalai kepada Allah. Rasa
takut akan mendorong seseorang untuk mempertinggi nilai dan kadar pengabdiannya
dengan harap (raja’), ampunan dan anugerah Allah.
Adapun ajaran-ajaran Hasan Al-Bashri dapat dilihat dari
ungkapan-ungkapannya seperti yang dikutip oleh Hamka sebagai berikut:
·
Perasaan
takut yang menyebabkan hatimu tentram lebih baik dari pada rasa tentram yang
menimbulkan perasaan takut.
·
Dunia
adalah negri tempat beramal. Barang siapa yang bertemu dunia dengan perasaan
benci dan zuhud, ia akan berbahagia dan memperoleh faedah darinya. Namun barang
siapa yang bertemu dunia dengan perasaan rindu dan hatinya tertambat pada
dunia, ia akan sengsara dan berhadapan dengan penderitaan yang tidak dapat
ditanggungnya.
·
Tafakur
membawa kita pada kebaiakan dan berusaha mengerjakannya. Menyesal atas
perbuatan jahat membuat kita tidak mengulanginya lagi. Sesuatu yang fana
bagaimanapun tidak akan menyamai yang baqa’ betapapun sedikitnya. Waspadalah terhadap negri yang cepat datang
dan pergi serta penuh tipuan.
·
Dunia
ini adalah seorang janda tua yang telah bungkuk dan beberapa kali ditinggalkan
suaminya.
·
Orang
yang beriman akan senantiasa berduka cita pada pagi dan sore hari karena berada
diantara perasaan takut, yaitu takut mengenang dosa yang telah lampau dan takut
memikirkan ajal yang masih tinggal dan bahaya yang akan mengancam.
·
Hendaklah
setiap orang sadar akan memikrkan kematian yang senntiasa mengancamnya dan
kiamat yang akan menagih janjinya.
·
Banyak
duka cita di dunia memperteguh semangat amal shaleh.
Berkaitan dengan ajaran Al-Bashri, Muhammad Musthafa seorang guru
besar filsafat islam menyatakan bahwa kemungkinan tasawuf Hasan Al-Bashri didasari oleh rasa takut
siksa Tuhan di dalam neraka. Setelah diteliti ternyata bukan perasaan takut
terhadap siksaan yang mendasari tasawufnya, tetapi kebesaran jiwanya akan
kekurangan dan kelalain dirinya yang mendasari tasawuf. Sebagaimana sabda Nabi:
“Orang beriman yang selalu mengingat dosa-dosa yang pernah dilakukannya adalah
laksana orang yang duduk di bawah gunung besar yang senantiasa merasa takut
gunung itu akan menimpa dirinya”.
2.
Al-Muhasibi
Nama lengkapnya Abu ‘Abdillah
Al-Harits bin Asad Al-Bashri Al-Baghdadi Al-Muhasibi. Beliau terkenal dengna
sebutan Al-Muhasibi, beliau lahir di Bashrah, Irak, pada tahun 165 H (781 M)
dan beliau meninggal pada tahun 243 H ( 857 M) di Baghdad Irak. Beliau adalah
seorang sufi dan ulama besar yang dikenal dan menguasai beberapa bidang ilmu
seperti: Hadits. dan Fiqih. Dan beliau juga merupakan figur sufi yang dikenal senantiasa
menjaga dan mawas diri terhadap perbuatan dosa. beliau juga sering kali
mengintropeksi diri menurut amal yang dilakukannya.[2]
Al-Muhasibi memandang bahwa jalan keselamatan hanya dapat
di tempuh melalui ketaqwaan kepada Allah. Hamka mengutip kata-kata dari
Al-Muhasibi” Barang siapa yang telah bersih hatinya karena senantiasa muroqobah dan
ikhlas, maka akan berhiaslah lahirnya dengan mujahadah (perjuangan) dan
mengikuti contoh yang ditinggalkan Rasulallah Saw”.
Al–Muhasibi juga berbicara teentang Ma’rifat. Menurutnya, Ma’rifat harus
ditempuh melalui jalan tasawuf yang mendasarkan pada Al-Qur’an dan Sunnah.
Untuk mencapai Ma’rifat, diperlukakan tahapan-tahapan yaitu yang pertama, taat.
Awal dari kecintaan kepada Allah adalah
taat. Yang kedua, Khauf (rasa takut) dan Raja’ (pengharapan). Menurutnya Khauf
dan Raja’ menempati posisi yang penting dalam perjalanan seseorang dalam
membersihkan jiwa.
3. Al-Qusyairi
Nama lengkapnya adalah ‘Abdul Karim bin Hawazim, lahir tahun 376 H di
Istiwa, kawasan Nishafur, salah satu pusat ilmu pengetahuan pada masanya. Beliau meninggal pada tahun 465 H. Beliau sangat mengecam keras
para sufi pada masanya karena kegemaran
mereka menggunakan pakaian orang-orang miskin, sementara tindakan mereka pada
saat yang sama bertentangan dengan pakian mereka. Dia menekankan bahwa
kesehatan batin, dengan berpegang teguh pada Al-Qur’an dan Sunnah, lebih
penting ketimbang pakaian lahiriah. Menurut Al-Qusyairi, upaya pengembalian
arah tasawuf harus dengan cara merujuknya pada doktrin ahlussunnah.
Al-Qusyairi mencoba mengadakan pembaharuan terhadap tasawuf. Ia
mengemukakan konsep-konsep mengkompromikan antara syariat dengan hakikat, antara yang dzahir dengan yang bathin dengan senantiasa berpegang teguh kepada Al-Qur’an dan Assunnah.
4. Al-Ghazali
Nama lengkapnya adalah Abu Hamid Muhammad bin Muhammad bin Muhammad bin
Ta’us Ath-Thusi Asy-Syafi’i Al-Ghazali.
Beliau dipanggil Al-Ghazali karena dilahirkan di kampung Ghazlah. Al-Ghazali lahir pada tahun 450 H/ 1057 M di kampung
Ghazlah sebuah kota di Khurasan, Iran.
Beliau meninggal di kota kelahirannya
pada tanggal 19 Desember tahun 505 H/
1111 M. Di masa hidupnya, bertepatan dengan masa pemerintahan Perdana
Menteri Nizamul Muluk dari Kerajaan Bani Saljuk. Dan Al-Ghazali
mendapat gelar “ hujjah al-islam”.
Al-Ghazali dikenal sebagai Fuqoha, Mutakallim, Filosof, Sufi, dan Ahli
Didik yang dikagumi oleh Ulama-ulama besar, karena sangat dalam dan luas
ilmunya. Al-Ghazali mempelajari ilmu fiqh
kepada Ahmad bin Muhammad Ar-Rizkani. Kemudian beliau melanjutkan ke Nizhamiyah
di Naisabur, dan disinilah beliau berguru kepada Imam Haramain (Al-Juwaini,
wafat 478 H/ 1086 M). Selama di Naisabur, beliau juga belajar teori-teori
Tasawuf kepada Yusuf An-Nasaj.
Al-Ghazali sering berpendapat bahwa
Mutakallimin sering melakukan kekeliruan, karena menjadikan Filsafat sebagai
dasar berpikir dalam menguraikan Ilmu Kalam. Oleh karena itu, kebenaran ilmunya
hanya sampai ke penghujung Filsafat, tidak bisa menggali sampai ke
akar-akarnya. Maka hasilnya, ilmu tersebut tidak akan dapat memperkuat
pendirian ketuhanan bahkan hanya menggoyahkan saja.
Al-Ghazali seperti halnya Al-Qusyairi yang mencoba mengembalikan tasawuf
dibawah bimbingan dan petunjuk Al-Qur’an dan Sunnah. Al-Ghazali berpendapat
bahwa sebelum mempelajari dan mengamalkan tasawuf orang harus menperdalam ilmu
tentang syariat dan aqidah terlebih dahulu dan menjalankannya secara tekun dan
sempurna. Menurut Al-Ghazali bahwa ma’rifah dan mahabbah adalah
setinggi-tingginya tingkat yang dicapai seorang sufi dan pengetahuan yang
diperoleh dengan akal.
Keberhasilan Al-Ghazali mengkompromikan syariat dan hakikat, dikatakan
bukan tidak memiliki kelemahan. Penempatan syariat dibawah tarekat dan hakikat
telah menimbulkan suatu efek dimana para sufi selalu merasa superior, merasa
menjadi golongan khawaj yang memiliki kelebihan atau keunggulan dari manusia
biasa.
Terlepas dari kekurangan–kekurangannya, Al-Ghazali adalah seorang sufi ulum
yang telah berhasil membangkitkan gairah keagamaan yang mulai redup pada waktu
itu dan mengembalikan penghayatan agama atau ajaran tasawuf kepada bingkai
ajaran Al-Qur’an dan As-Sunnah.
BAB III
PENUTUP
Kesimpulan
Tasawuf Akhlaqi merupakan gabungan antara ilmu
tasawuf dengan ilmu akhlaq. Akhlaq erat hubunganya dengan prilaku dan kegiatan
manusia dalam interaksi sosial pada lingkungan tempat tinggalnya. Tasawuf
Akhlaqi juga dikenal dengan tasawuf sunni, yaitu bentuk tasawuf yang memagari
dirinya dengan Al-Qur’an dan Al-Hadits secara ketat serta mengaitkan ahwal
(keadaan) dan maqomat(tingkatan rohaniah) mereka kepada dua sumber tersebut.
Tokoh sufi yang termasuk tasawuf akhlaqi
adalah Hasan Al-Bashri, Al-Muhasibi, Al-Qusyairi, dan Al-Ghazali.
BAB IV
DAFTAR PERPUSTAKAAN
Anwar, Rosihin. Akhlaq Tasawuf. Bandung. Pustaka Setia. 2009
Mahdi. Pengantar Akhlaq Tasawuf. Cirebon. CV. Pangger. 2008
M. Solihin, Tokoh-tokoh Sufi Lintas Zaman. Pustaka Setia. Bandung,
2003.
Amin Syukur, Rasionalisme dalam Tasawuf. IAIN Wali Songo.
Semarang, 1994.
Mustofa, Drs, H. A., Akhlak
Tasawuf. Bandung. Pustaka Setia. 2010, Cetakan Kelima
M. Solihin dan Rosihon Anwar,
Ilmu Tasawuf. Bandung. Pustaka Setia. 2008, Cetakan Pertama