Dalam berkomunikasi terdapat bayak berbagai hambatan ada beberapa hambatan dalam komunikasi, yaitu :
- Hambatan Teknis Keterbatasan fasilitas dan peralatan komunikasi. Dari sisi teknologi, semakin berkurang dengan adanya temuan baru dibidang kemajuan teknologi komunikasi dan informasi, sehingga saluran komunikasi dapat diandalkan dan efesien sebagai media komunikasi.Menurut dalam bukunya, 1976, Cruden dan Sherman Personel Management jenis hambatan teknis dari komunikasi : Tidak adanya rencana atau prosedur kerja yang jelas, kurangnya informasi atau penjelasan, kurangnya ketrampilan membaca, pemilihan media [saluran] yang kurang tepat.
- Hambatan Semantik Gangguan semantik menjadi hambatan dalam proses penyampaian pengertian atau secara secara efektif. Definisi semantik sebagai studi idea atas pengertian, yang diungkapkan lewat bahasa. Kata-kata membantu proses pertukaran timbal balik arti dan pengertian (komunikator dan komunikan), tetapi seringkali proses penafsirannya keliru. Tidak adanya hubungan antara Simbol (kata) dan apa yang disimbolkan (arti atau penafsiran), dapat mengakibatkan kata yang dipakai ditafsirkan sangat berbeda dari apa yang dimaksudkan sebenarnya. Untuk menghindari mis komunikasi semacam ini, seorang komunikator harus memilih kata-kata yang tepat sesuai dengan karakteristik komunikannya, dan melihat kemungkinan penafsiran terhadap kata-kata yang dipakainya.
- Hambatan Manusiawi Terjadi karena adanya faktor, emosi dan prasangka pribadi, persepsi, kecakapan atau ketidakcakapan, kemampuan atau ketidakmampuan alat-alat pancaindera seseorang, dll.
Mengatasi
kendala Komunikasi dalam Organisasi
Beberapa
solusi yang dapat ditawarkan dalam mengatasi kendala-kendalavyang muncul dalam
proses komunikasi organisasi antara lain :
1.
Hubungan
Antar Persona
Menciptakan
hubungan intim yang dimiliki dengan orang-orang lain dalam tingkat pribadi,
antar teman, sesama sebaya ataupun dengan atasan, biasanya disebut hubungan
antar persona. Suatu anailisis khusus tentang hubungan antar pesona menyatakan
bahwa kita akan berhasil menciptakan komunikasi dalam organisasi bila melakukan
hal-hal berikut ini,
- Menjaga kontak pribadi yang akrab tanpa menumbuhkan perasaan bermusuhan.
- Menetapkan dan menegaskan identitas kita dalam hubungan dengan orang lain tanpa membesar-besarkan ketidaksepakatan.
- Menyampaikan informasi kepada oranglain tanpa menimbulkan kebingunngan, kesalahpahaman, penyimpangan, atau perubahan lainnya yang disengaja.
- Terlibat dalam pemecahan masalah yang terbuka tanpa menimbulkan sikap mbertahan atau menghentikan proses.
- Membantu orang-orang lainnya untuk mengembangkan gaya hubungan persona dan antar pesona yang efektif.
- Ikut serta dalam interaksi social informal tanpa terlibat dalam muslihat.
Hubungan antar pesona cenderung
menjadi lebih baik bila kedua belah pihak melakukan hal-hal berikut yaitu
menyampaikan perasaan secara langsung dan dengan cara yang hangat dan
ekspresif, menyampaikan apa yang terjadi dalam lingkungan pribadi mereka
melalui penyingkapan diri, menyampaikan pemahaman yang positif, hangat kepada
satu sama lainnya dengan memberikan respons-respons yang relevan dan penuh
pengertian, bersikap tulus kepada satu sama lain dengan menunjukan sikap
menerima secara verbal maupun non verbal, selalu menyampaikan pandangan positif
tanpa syarat terhadap satu sama lainnya dalam perbincangan yang tidak
menghakimi dan ramah, berterus-terang mengapa menjadi sulit atau bahkan
mustahil untuk sepakat satu sama lainnya dalam perbincangan yang tidak
menghakimi, cermat, jujur, dan membangun.
2.
Hubungan
Posisional
Hubungan
posisional ditentukan dengan pendekatan struktur dan tugas-tugas fungsional
anggota organisasi. Menurut Koontz dan O’Donnel (1968) untuk mengatasi
kesalahan umum yang merintangi kinerja efektif dan efisien individu dalam
organisasi yang disebabkan ketidaklancaran proses komunikasi di organisasi
adalah:
a.
Merencanakan
penempatan / pengaturan jabatan secara benar
Sebagian
dari kegagalan untuk merencanakan dengan benar lebih banyak terletak pada
pengaturan orang-orang dari jabatan yang diberikan dari atasan sehingga pada
akhirnya terjadi kegagalan dalam komunikasi horizontal dan vertikal yang ada
dalam organisasi. Untuk dapat mencairkan kondisi tersebut ada baiknya melakukan
rencana penempatan orang-orang yang ada di organisasi dengan berdasarkan
kemampuan dan kesenioritasan yang diakui oleh individu-individu yang ada dalam
organisasi.
b.
Berusaha
menjernihkan hubungan
Kegagalan
untuk menjernihkan hubungan organisasi menimbulkan kecemburuan, percekcokan,
ketidakamanan, ketidakefisienan,dan pelepasan tanggung jawab lebih banyak dari
kesalahan lainnya dalam pengorganisasian. Untuk itu perlu adanya individu yang
dapat menjadi jembatan untuk mencairkan situasi kebekuan komunikasi horizontal
dan vertikal antar sesama rekan dan antara bawahan – atasan.
c.
Hubungan
berurutan
Informasi
disampaikan ke seluruh organisasi formal oleh suatu proses; dalam proses
ini orang dipuncak hierarki mengirimkan pesan ; kepada orang kedua
yang kemudian mengirimkannya lagi kepada orang ketiga. Reproduksi pesan
orang pertama menjadi pesan orang kedua, dan reproduksi pesan orang kedua
menjadi pesan orang ketiga. Tokoh kunci dalam sistem ini adalah pengulang
pesan (relayor).
