PERBEDAAN DAN ANTARA SURAT MAKIAH DAN MADANIAH

Perbedaan antara Makkiyah dan Madaniyah terbagi menjadi dua bagian ada Perbedaan Pada Konteks Kalimat dan Perbedaan Pada Materi Pembahasan
Perbedaan Pada Konteks Kalimat.
  1. Kebanyakan ayat-ayat Makiyyah memakai konteks kalimat tegas dan lugas karena kebanyakan obyek yang didakwahi menolak dan berpaling, maka hanya cocok mempergunakan konteks kalimat yang tegas. Baca surat Al-Muddatstsir dan surat Al-Qamar. Sedangkan ayat-ayat Madaniyah kebanyakan mempergunakan konteks kalimat yang lunak karena kebanyakan obyek yang didakwahi menerima dan taat. Baca surat Al-Maa’idah.
  2. Kebanyakan ayat-ayat Makkiyah adalah ayat-ayat pendek dan argumentatif, karena kebanyakan obyek yang didakwahi mengingkari, sehingga konteks ayatpun mengikuti kondisi yang berlaku. Baca surat Ath-Thuur.
Sedangkan ayat-ayat Madaniyah kebanyakan adalah ayat-ayat pendek, penjelasan tentang hukum-hukum dan tidak argumentatif, karena disesuaikan dengan kondisi obyek yang didakwahi. Baca ayat tentang hutang-piutang dalam surat Al-Baqarah.
b). Perbedaan Pada Materi Pembahasan
  1. Kebanyakan ayat-ayat Makkiyah berisikan penetapan tauhid dan aqidah yang benar, khususnya yang berkaitan dengan Tauhid Uluhiyah dan iman kepada hari kebangkitan ; karena kebanyakan obyek yang didakwahi mengingkari hal itu.
  2. Sedangkan ayat-ayat Madaniyah kebanyakan berisikan perincian masalah ibadah dan muamalah, karena obyek yang didakwahi sudah memiliki Tauhid dan aqidah yang benar sehingga mereka membutuhkan perincian ibadah dan muamalah. Penjelasan secara rinci tentang jihad berserta hukum-hukumnya dan kaum munafik beserta segala permasalahannya karena memang kondisinya menuntut demikian.[1]

Urgensi Pembagian Surat Makkiyah Dan Madaniyah
Madaniyah atau Makkiyah (penetapan aghlabiyah) dan penetapan berdasar pada surat apakah diawali dengan ayat yang turun di mekkah atau madinah sehingga ditentukan dengan berdasar pada muatan ayat awal pada surat,apakah Makkiyah atau Madaniyah (penetapan kontinuitas)Masih terkait dengan pengklasifikasian surat dalam A1-Qur’an. Ternyata,banyak manfaat  yang  didapatkan  dalam  menekuni  pengklasifikasiannya.diantaranya menurut al-Zarqani di dalam kitabnya yang berjudul Manahilul‘Irfan yaitu “kita dapat membedakan dan mengetahui ayat yang Manshuk danNasikh. Yakni, apabila terdapat dua ayat atau lebih mengenai suatu masalah,sedang  hukum  yang  terkandung  di  dalam  ayat-ayat  itu  bertentangan.Kemudian dapat diketahui, bahwa ayat yang satu Makkiyah, sedang yanglainnya Madaniyah; maka sudah tentu ayat yang Makiyah itulah yangdinasakh oleh ayat yang Madaniyah, karena ayat yang madaniyah adalah yangterakhir turun”

Urgensi mengetahui Makiyyah dan Madaniyyah sebagai berikut :
  1. Untuk dijadikan alat bantu dalam menafsirkan Al Qur`an. Sebab pengetahuan mengenai tempat turun ayat dapat membantu memahami ayat tersebut dan menafsirkannya dengan tafsiran yang benar. Sekalipun yang menjadi pegangan adalah pengertian umum lafadz, bukan sebab yang khusus. Berdasarkan hal itu seorang penafsir dapat membedakan antara ayat yang nasikh dengan yang mansukh, bila diantara kedua ayat terdapat makna yang kontradiktif. Yang datang kemudian tentu merupakan nasikh yang tedahulu.
  2. Meresapi gaya bahasa Al-Quran dan memanfaatkannya dalam metode dakwah menuju jalan Allah. Sebab setiap situasi mempunyai bahasa tersendiri. Memperhatikan apa yang dikehendaki oleh situasi merupakan arti paling khusus dalam retorika. Karakteristik gaya bahasa makkiyah dan madaniyah dalam Al-Quran pun memberikan kepada orang yang mempelajarinya sebuah metode dalam penyampaian dakwah ke jalan Allah yang sesuai dengan kejiwaan lawan berbicara dan menguasai pikiran dan perasaaannya serta menguasai apa yang ada dalam dirinya dengan penuh kebijaksanaan.
  3. Mengetahui sejarah hidup Nabi melalui ayat-ayat Qur`an. Sebab turunnya wahyu kepada Rasulullah SAW sejalan dengan sejarah dakwah dengan segala peristiwanya, baik dalam periode Mekkah maupun Madinah. Sejak permulaan turun wahyu hingga ayat terakhir diturunkan. Al-Qur`an adalah sumber pokok bagi peri hidup Rasulullah SAW, perihal hidup beliau yang diriwayatkan ahli sejarah harus sesuai dengan Al-Quran.
  4. Membantu dalam menafsirkan Al-Qur’an. Dengan mengetahui kronologis Al-Qur’an seorang mufassir dapatmemecahkan makna kontrakdiktif dalam dua ayat yang berbeda yaitudengan konsep Nasikh-Mansukh.
  5. Pedoman bagi langkah-langkah dakwah Ungkapan-ungkapan dan intonasi berbeda pada ayat Makiyyah dan Madaniyyah  memberikan  informasi  metodologi  bagi  cara-cara menyampaikan dakwah agar relevan dengan mustami’. Memberi informasi tentang Sirah KenabianAl-Qur’an adalah rujukan Otentik bagi perjalanan Dakwah Nabi yang tidak diragukan lagi. Perjalanan dakwah Nabi ini berjalan seiringdengan penahapan turunnya wahyu baik di Mekkah atau Madinah.
  6.  Dapat mengetahui dengan jelas sastra Al-Qur’an pada puncak keindahannya, yaitu ketika setiap kaum diajak berdialog yang sesuai dengan keadaan obyek yang didakwahi ; dari ketegasan, kelugasan, kelunakan dan kemudahan.
  7. Dapat mengetahui puncak tertinggi dari hikmah pensyariatan diturunkannya secara berangsur-angsur sesuai dengan prioritas terpenting kondisi obyek yang di dakwahi serta kesiapan mereka dalam menerima dan taat.
  8. Pendidikan dan pengajaran bagi para muballigh serta pengarahan mereka untuk mengikuti kandungan dan konteks Al-Qur’an dalam berdakwah, yaitu dengan mendahulukan yang terpenting di antara yang penting serta menggunakan ketegasan dan kelunakan pada tempatnya masing-masing
  9.  Dapat membedakan antara nasikh dan mansukh ketika terdapat dua buah ayat Makkiyah dan Madaniyah, maka lengkaplah syarat-syarat nasakh karena ayat Madaniyah adalah sebagai nasikh (penghapus) ayat Makkiyah disebabkan ayat Madaniyah turun setelah ayat Makkiyah.[2]
      Itulah salah satu diantaranya urgensi mengetahui Makiyyah dan Madaniyyah semoga artikel ini bermanfaat.







[1] Syaifullah, 2004. ‘Ulumul Qur’an. Ponorogo. Prodial Pratama Sejati Press.Hal 50
[2] Syaifullah.Loc.Cit.Hal 53

Related Posts

Subscribe Our Newsletter