Seberapa Besar Cinta Seberapa Itu Pula Benci

Pernah terjadi seorang gadis mencintai seorang laki-laki. Cinta sang gadis demikian dalam kepada laki-laki tersebut. Begitu pula dengan cinta sang laki-laki terhadap gadis itu. Saking dalamnya, sang gadis rela memberikan semuanya kepada laki-laki tersebut. Bahkan, dia rela memberikan tubuhnya untuk dinikmati oleh sang laki-laki. Suaru hari, sang gadis melihat laki-laki itu berjalan bersama gadis yang lain. Tidak hanya itu, sang gadis pun melihat betapa mesranya laki-laki yang dicintainya itu berjalan dengan gadis tersebut. Sang gadis menjerit, berteriak, memberontak. Cintanya yang dalam kepada laki-laki itu, berubah menjadi kebencian yang am t sangat terhadap laki-laki dan gadis tersebut.
Renungkanlah, sahabatku...
Bagaimana seandainya gadis tersebut adalah Anda? Anda mencintai seseorang laki-laki dengan cinta yang dalam. Karena cinta, Anda pun rela menyerahkan semuanya kepada laki-laki itu. Uang Anda berikan, harta anda belanjakan, dan tubuh pun Anda relakan. Anda lakukan semua ini "demi dan atas nama cinta Anda kepada laki-laki itu.
Maka, siapakah yang menanggung kenrgian tersebut? Bukankah dia adalah Anda? Katakan bahwa Anda memiliki uang seratus ribu, uang tersebut Anda berikan kepadanya, uang Anda habis. Akan tetapi, dengan bekerja lagi, Anda bisa mencari dan rnendapatkan uaag lagi, begitu pula apabila Anda memberikan harta yang Anda berikan kepadanya, harta Anda bisa habis. Akan tetapi, suatu saat harta bisa Anda cari dan dapatkan kembali.
Tetapi tubuh Ancia? Kehormatan Anda? Mahkota Anda sebagai seorang perempuan? Duh, betapa jahatnya orang yang tidak bisa meniagadiridan kehormatannya. Atas nama cinta, sesuatu yang tidak bisa pulih dan kembali terkadang direlakan untuk diberikan begiti saja. Atas nama cinta, sesuatu yang tidak boleh diberikan harus diberikan di saat yang beium seharusnya diberikan.
Dan yang tersisa kemudian hanyalah penyesalan. Penyesalan yang sudah terlambat. Anda mau menjerit, meronta-ronta, berreriak-teriak, atu menangis darah  sekalipun, kehormatan Anda yang sudah ternoda itu tidak akan kembali lagi. Tak ada doa dan munajat yang dapat mengembalikan keperawanan. Anda mau berteriak-teriak menangis kepada Allah Swt., Allah Swt tetap tidak akan mengembalikan sesuaru yang telah Anda korbankan atas nama cinta tersebut. Pada akhirnya, Anda sendirilah yang harus menanggung akibatnya. Rela atau tidak rela, ikhlas atau tidak ikhlas, Anda harus menerima kenyataannya!
Imam Ali bin Abi Thalib berkata, "Sikap menerima dan mau menanggung adalah kuburan bagi aib dan kekurangan."
Anda harus menanggung aib yang telah terjadi dan telah Anda perbuat sendiri. Hal ini lebih terhormat bagi Anda daripada berteriak, mencaci, memaki, dan tidak menerima kenyataan pahit yang telah terjadi.
Banyak dari Anda yang tidak menyadari betapa tipisnya hijab antara cinta dan kebencian itu. Cinta yang biasa-biasa sajah hanya memproduksi kebencian yang biasa-biasa pula. Sedangkan cinta yang melambung tinggi akan memproduksi kebencian yang dalam. Bila Anda mencintai sesuatu secara berlebih, sadarilah bahwa hal tersebut memiliki potensi kebencian yang berlebih pula. Belajarlah untuk mencintai secara biasa-biasa saja.
wajar-wajar saia, sebab demikianlah ajara nyang benar dari cara yang benar sebagai seorang muslim. Jangan menggadaikan hal-hal yang tidak sepanrasnya dan tidak seharusnya atas nama cinta. Ingat sekali lagi, penyesalan selalu bisa terlambat, yakni ketika kita telah terjatuh dan sulit untuk bangkit kembali. Ingat, ada hal-hal yang bisa kembali Anda miliki, tetapi ada pula hal yang tidak bisa kembali.

“Cintailah yang kamu sukai itu dengan sewajarnya saja barang kali suatu saat nanti yang kamu cinta itu akan menjadi benci, dan bencilah apa-apa yang kamu benci itu dengan sewajarlah maka suatu saat nanti yang kamu benci itu akan menjadi yang kamu cintai”

Related Posts

Subscribe Our Newsletter