Metode dan Corak Tafsir Al-Misbah



Metode Tafsir Al-Misbah
 
Dalam Tafsirnya Muhammad Quraish Shihab menggunakan metode tahlili dalam tafsir al misbah. Sebuah bentuk karya tafsir yang berusaha mengungkap suatu kandungan al-Qur'an dari berbagai aspeknya. Dari segi teknis tafsir Al-Misbah disusun berdasarkan urutan ayat-ayat di dalam al-Qur'an. Selanjutnya memberikan penjelasan-penjelasan tentang kosakata makna global ayat, dan korelasi Asbab al-Nuzūl serta hal-hal lain yang dianggap dapat membantu untuk memahami ayat-ayat dalam al-Qur'an.
Pemilihan metode tahlili yang digunakan dalam tafsir al-Misbah didasarkan pada kesadaran M. Quraish Shihab bahwa metode maudhu’i yang sering ia gunakan pada karyanya yang berjudul “Membumikan al-Qur'an” dan “Wawasan al-Qur'an” selain mempunyai keunggulan dalam memperkenalkan konsep al-Qur'an tentang tema-tema tertentu secara utuh. Sebab menurutnya al-Qur'an memuat tema yang tidak terbatas, Jadi dengan ditetapkan judul pembahasan yang akan dikaji hanya satu sudut dari permasalahan tersebut. Dengan demikian kendala untuk memahami al-Qur'an secara lebih komprehensip masih tetap ada.
Sebelum menulis Tafsir al-Misbah, M. Quraish Shihab sudah menghasilkan karya dengan metode tahlili (yakni ketika ia menulis Tafsīr al-Āmanah dan Tafsīr al-Qur'ān al-Karīm). Namun, baginya bahasa tafsir tersebut yang mengakomodasikan kajian kebahasaan (kosa kata) yang relatif lebih luas dan kaidah-kaidah tafsir, menjadikan karya tersebut lebih layak untuk dikonsumsi bagi orang-orang yang berkecimpung pada studi al- Qur'an.
2. Corak Tafsir Al-Misbah
Tafsir al-Misbah cenderung bercorak sastra budaya dan kemasyarakatan (adabi al-ijtimā’i) yaitu corak tafsir al-quran yang berusaha memahami nash-nash al-Qur'an dengan cara mengemukakan ungkapan-ungkapan al-Qur'an secara teliti. Kemudian menjelaskan makna-makna yang dimaksud al-Qur'an tersebut dengan bahasa yang indah dan menarik, dan seorang mufassir berusaha menghubungkan nash-nash al-Qur'an yang dikaji dengan kenyataan sosial dengan sistem budaya yang ada.
Corak penafsiran tafsir al-Misbah ini ditekankan bukan hanya ke dalam tafsir lughawi, tafsir fiqh, tafsir ilmi dan tafsir isy'ari akan tetapi arah penafsirannya ditekankan pada kebutuhan masyarakat dan sosial masyarakat yang kemudian disebut corak tafsir Adabi al-Ijtimā'i. Corak tafsir al-Misbah merupakan salah satu yang menarik pembaca dan menumbuhkan kecintaan kepada al-Qur'an serta memotivasi untuk menggali makna-makna dan rahasia-rahasia al-Qur'an.
Menurut Muhammad Husein al-Dzahabi, corak penafsiran al-Misbah terlepas dari kekurangan berusaha mengemukakan segi keindahan bahasa dan kemu’jizatan al-Qur’an, menjelaskan makna-makna dan sasaran-sasaran yang dituju oleh al-Qur’an, mengungkapkan hukum-hukum alam yang Agung dan tatanan kemasyarakatan yang di kandung, membantu memecahkan segala problem yang dihadapi umat Islam khususnya dan umat manusia pada umumnya, melalui petunjuk dan ajaran al-Qur’an untuk mendapatkan keselamatan di dunia dan akhirat serta berusaha mempertemukan antara al-Qur’an dengan teori-teori ilmiah yang benar. Di dalam al-Qur’an juga berusaha menjelaskan kepada umat manusia bahwa al- Qur’an adalah kitab suci yang kekal, yang mampu bertahan sepanjang perkembangan zaman dan kebudayaan manusia sampai akhir masa, yang berusaha melenyapkan kebohongan dan keraguan yang dilontarkan terhadap al-Qur’an dengan argumen yang kuat dan mampu menangkis segala kebatilan, sehingga jelas bagi mereka bahwa al-Qur’an itu benar.
Ada tiga karakter yang harus dimiliki oleh sebuah karya tafsir bercorak sastra budaya dan kemasyarkatan. Pertama, menjelaskan petunjuk ayat al-Qur'an yang berkaitan langsung dengan kehidupan masyarakat dan menjelaskan bahwa al-Qur'an itu kitab suci yang kekal sepanjang zaman. Kedua, penjelasan-penjelasnnya lebih tertuju pada penanggulangan penyakit dan masalah-masalah yang sedang mengemuka dalam masyarakat, dan ketiga, disajikan dalam bahasa yang mudah dipahami dan indah didengar.
Tafsir al-Misbah karya M. Quraish Shihab memenuhi ketiga persyaratan tersebut. Kaitannya dengan karakter yang pertama, tafsir ini selalu menghadirkan penjelasan akan petunjuk dengan menghubungkan kehidupan masyarakat dan menjelaskan bahwa al-Qur'an itu kitab suci yang kekal sepanjang zaman. Kemudian karakter kedua, Quraish Shihab selalu mengakomodasi hal-hal yang dianggap sebagai problem di dalam masyarakat. Kemudian yang ketiga dalam penyajiannya, tidak dapat diragukan, ia menggunakan bahasa yang membumi. M. Quraish Shihab menggunakan bahasa yang mudah dimengerti oleh kalangan umum khususnya masyarakat Indonesia. Sehingga jika dibandingkan dengan tulisan-tulisan cendekiawan muslim Indonesia lainnya. Karya-karya M. Quraish Shihab pada umumnya dan Tafsir al-Misbah pada khususnya, tampil sebagai karya tulis yang khas. Memang, setiap penulis memiliki gaya masing-masing. Dalam memilih gaya bahasa yang digunakan, M. Quraish Shihab lebih mengedepankan kemudahan konsumen/ pembaca yang tingkat intelektualitasnya relatif lebih beragam. Hal ini dapat dilihat dalam setiap bahasa yang sering digunakan M. Quraish Shihab dalam menulis karya-karyanya mudah dicerna dan dimengerti oleh semua lapisan khususnya di Indonesia.

Related Posts

Subscribe Our Newsletter