Pengertian Muhkam dan Mutasyabih
- Ayat-ayat muhkam adalah ayat yang maksudnya dapat diketahui dengan gamblang, baik melalui takwil (metatora) ataupun tidak. Adapun ayat-ayat mutasyabih adalah ayat yang maksudnya hanya dapat diketahui Allah.
- Ayat-ayat muhkam adalah ayat yang maknanya jelas, sedangkan ayat-ayat mutasyabih sebal iknya.
- Ayat-ayat muhkam adalah ayat yang tidak memunculkan kemungkinan sisi arti lain, sedangkan ayat-ayat mutasyabih mempunyai kemungkinan sisi arti banyak. Definisi ini dikemukakan lbn'Abbas.
- Ayat-ayat muhkam adalah ayat yang maknanya dapat dipahami akal, seperti bilangan rakaat shalat, kekhususan bulan Ramadhan untuk pelaksanaan puasa wajib, sedangkan ayat-ayat mutasyabih sebaliknya. Pendapat ini dikemukakan Al-Mawardi.
- Ayat-ayat muhkam adalah ayat yang dapat berdiri sendiri (dalam pemaknaan nya), sedangkan ayat-ayat mutasyabih bergantung pada ayat lain.
- Ayat-ayat muhkam adalah ayat yang maksudnya segera dapat diketahui tanpa penakwilan, sedangkan ayat-ayat mutasyabih memerlukan penakwilan untuk mengetahui maksudnya.
- Ayatayat muhkam adalah ayat yang lafazh-lafazhnya tidak berulangulang, sedangkan ayat-ayat mutasyabih sebaliknya. Ayat-ayat muhkam adalah ayat yang berbicara tentang kefarduan, ancaman, dan janji, sedangkan ayat-ayat mutasyabih berbicara tentang kisah-kisah dan perumpamaan-perumpamaan.
- lbn Abi Hatim mengeluarkan sebuah riwayat dari Ali bin Abi Thalib dari lbn Abbas yang mengatakan bahwa ayat-ayat muhkam adalah ayat yang menghapus (nasikh), berbicara tentang halal-haram, ketentuan-ketentuan (hudud), kefarduan, serta yang harus diimani dan diamalkan. Adapun ayat-ayat mutasyabih adalah ayat yang dihapus (mansukh), yang berbicara tentang perumpamaan-perumpamaan (amtsal), sumpah (aqsam), dan yang harus diimani, tetapitidak harus diamalkan.
Sikap Fara Ularna terhadap Ayat-Ayat
Muhkam dan Ayat-Ayat Mutasabihah
- Madzhab salaf, yaitu para ulama yang memercayai dan mengimani ayat-ayat mutasyabih dan menyerahkan sepenuhnya kepada, Allah sendiri (tafwidh ilallah).
- Madzhab khalaf, yaitu para ulama yang berpendapat perlunya menakwilkan ayat-ayat mutasyabih yang menyangkut sifat Allah sehingga melahirkan arti yang sesuai dengan keluhuran Allah
Fawatih As-Suwar
Bentuk redaksi fawatih as-suwar didaiam
Al-Quran
- Terdiri atas satu huruf .
- Terdiri atas dua huruf.
- Terdiri atas tiga huruf.
- Terdiri atas empat huruf.
- Terdiri atas lima huruf "
Hiknnah Keberadaan Ayat Mutasyabih dalam
Al-Quran
- Memperlihatkan kelemahana manusia
Akal sedang dicoba untuk meyakini keberadaan
ayat-ayat Mutasyabih sebagaimana Allah memberi cobaan pada badan untuk beribadah.
Seandainya akal yang merupakan anggota badan paling mulia itu tidak diuji,
tentunya seseorang yang berpengetahuan tinggi akan menyombongkan keilmuannya
sehingga enggan tunduk kepada naluri kehambaannya.
Ayat-ayat mutasyabih merupakan sarana
bagi penundukan akal terhadap Allah karena kesadarannya akan ketidakmampuan
akalnya untuk mengungkap ayat-ayat mutasyabih itu.
- Teguran bagi orang-orang yang mengotak-atik ayat mutasyabih.
Pada penghujung surat Ali 'lmran [3]
ayat 7, dijelaskan yang maksudnya sebagai cercaan terh adap orang-orang yang
mengotak-atik ayat-ayat mutasyabih. sebaliknya, mem berikan pujian pada orang-orang
yang mendalami ilmunya, yakni orang-orang yang tidak mengikuti hawa nafsunya
untuk mengotak-atik ayat-ayat mutasyabih sehingga mereka berkata rabbana la
tuzigh qulubana. Mereka menyadari keterbatasan akalnya dan mengharapkan
ilmu ladunni.
- Menrberikan pemahaman abstrak-ilahiah kepada manusia melalui pengaiaman indrawi yang biasa disaksikannya.
Sumber makalah
ini diambil dari buku Ulumul Quran karangan DR Rosihon Anwar