Kata Pengantar
Assalamu’aalikum. Wr. Wb
Puji
syukur kehadirat Tuhan yang Maha Esa, Pangasih dan Penyayang yang telah
melimpahkan rahmat dan karunia-Nya kepada penulis sehingga tugas makalah yang
berjudul Peradaban Sparta dan Athena dapat diselesaikan. Shalawat dan salam atas
junjungan nabi besar Muhammad SAW. sebagai Uswatun Khasanah yang menjadi
sosok model paling ideal bagi sekalian manusia untuk meraih kesuksesan dunia
dan akherat.
Dapat
terselesaikannya makalah ini tidak lepas dari dukungan, bantuan dan motivasi
yang sifatnya spiritual dan material dari banyak pihak. Untuk itu penulis
mengucapkan terimakasih yang sedalam-dalamnya
Demikian yang
bisa penulis sampaikan dengan harapan semoga Allah SWT. senantiasa membalas
segala kebaikan mereka dan makalah ini dapat memberi manfaat sebaik-baiknya. Amin
yaa robbal alamin.
Wassalamu’alaikum
Wr. Wb.
BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang
Bangsa Yunani diketahui terbentuk sejak 120.00 s/d
10.000 tahun SM. Namun, mereka baru membentuk kumpulan komunitas kota pada
sekita 3.000 SM (Zaman Tembaga-Bronze) sebagai awal pembentukan negara-negara
kota.
Karakteristik Polis Sparta dan Athena sangat
dipengaruhi oleh inkulturasi kebudayaan lokal dan pendatang, dimana Sparta
berasal dari suku bangsa Dorian, sedangkan Athena berasal dari suku bangsa
Ionian. Suku-suku bangsa ini adalah dua dari tiga suku bangsa yang menginvasi
Yunani dari utara antara abad ke-12 dan ke-11 SM yang berinkulturasi dengan
masyarakat lokal.
Yunani kuno tidak mengenal adanya pemerintahan
sentralistik, namun masing-masing negara kota (Polis) memiliki hak otonomi
untuk mengembangkan daerahnya. Sparta dan Athena adalah dua Polis yang terbesar
dan terkenal di Yunani, dimana luas Polis tersebut sekitar 2500 km persegi
dibandingkan dengan polis lain yang hanya rata-rata kurang dari 250 km persegi.[1]
Dalam makalah ini,
akan dibahas mengenai bentuk peradaban Sparta dan Athena, yang mana hal ini
tidak terlepas dari beberapa rutinitas warga di kota-kota tersebut. Akhirnya
semoga makalah ini bermanfaat bagi pembaca dan diri pemakalah sendiri utamanya.
A.
Rumusan Masalah
1.
Siapa nenek moyang Sparta dan Athena?
2.
Bagaimana sejarah Sparta dan Athena?
3.
Apa sistem
pemerintahan Sparta dan Athena?
4.
Bagaimana perang Persia dan Yunani?
5.
Bagaimana
perkembangan pendidikan Sparta dan Athena?
6.
Bagaimana kedudukan wanita Sparta dan Athena?
7.
Apa peninggalan Sparta dan Athena?
B.
Tujuan Pembahasan
1.
Untuk mengetahui nenek moyang Sparta dan Athena.
2.
Untuk mengetahui sejarah Sparta dan Athena.
3.
Untuk mengetahui sistem
pemerintahan Sparta dan Athena.
4.
Untuk mengetahui perang Persia dan Yunani.
5.
Untuk
mengetahui perkembangan pendidikan Sparta dan Athena.
6.
Untuk mengetahui kedudukan wanita Sparta dan Athena.
7.
Untuk mengetahui peninggalan Sparta dan Athena.
BAB II
PEMBAHASAN
Yunani adalah salah satu perdaban dunia yang termashur.
Karena pada zaman yunani kuno ini banyak lahir para pemikir yang hasil
pemikirannya sangat berpengaruh saat ini. Selain di sini pulalah diyakini dasar
dasar berdemokrasi diyakini berasal.
Yunani di kelilingi gunung-gunung, lembah-lembah,
dan teluk-teluk. Keadaan alam ini mempersulit hubungan satu kelompok dengan
kelompok lain. Pemukiman-pemukiman yang terpisah itu lambat laun berkembang
menjadi Negara kota yang merdeka dan berdiri sendiri. Negara kota yang merdeka
itu disebut polis (city states atau Negara kota). Di antara Negara-negara kota
tersebut ada dua Negara polis yang terkemuka, yaitu Polis Sparta dan Athena.
Kedua negara kota ini memiliki kesamaan, diantaranya: Sama-sama berbentuk
negara kota, Memiliki dewa yang sama (Dewa Zeus yaitu dewa langit; Dewi
Aprhodite yaitu dewi kecantikan; Dewa
Ares yaitu dewa perang; dst) dan Tulisan dan bahasa yang sama.[2]
A.
Nenek Moyang Sparta dan Athena
Wilayah Yunani memiliki keadaan alam yang cukup
unik, beragam dan kontras, antara daratan dengan lautan yang mengelilinginya,
pegunungan yang ganas dan dingin di satu sisi dengan lembah-lembah sungai yang
subur dan senantiasa disinari matahari di sisi lainnya. Kondisi alamnya dikenal
tidak mempunyai kekayaan yang melimpah. Keadaan alam inilah yang kemudian
diperkirakan membentuk masyarakat dengan perbedaan watak yang beragam dan
kontras pula.
Ada dua suku asli yang besar yang membentuk bangsa
Yunani yaitu, suku Dorians dan suku lonians. Suku lonians dikenal mempunyai
sifat yang lembut, sederhana dan terbuka, sementara Suku Dorians memiliki sifat
kekasaran, kekakuan dan kebanggaan yang berlebih terhadap dirinya.[3] Yang unik dari perbedaan
kedua watak kedua suku tersebut muncul dualisme sistem ketatanegaraan Yunani
yang terkenal itu : "Sparta dan Athena."
Begitupun mereka cenderung berpikiran moderat, yang
merupakan ciri masyarakat Yunani pada umumnya, dan dengan perbedaan yang
menyolok tersebut justru mereka dapat
menciptakan keseimbangan pada kemasyarakatan dan
ketatanegaraannya.
Sparta memiliki penduduk mayoritas orang/suku
Dorian. Dunia kehidupan mereka menunjukkan gambaran akan kegagahan, kekerasan,
dan kepraktisan, tetapi juga terdapat kelembutan yang terlihat dalam
karya-karya seni mereka yang kreatif dan artistik yang tidak terpengaruh oleh
sifat militeristik yang terdapat dalam kehidupan sehari-hari di Sparta ini.
Athena merupakan negara yang penduduknya kebanyakan
merupakan orang-orang Ionian yang datang dan menetap di Attica dan di sebelah
Selatan Euboes. Salah satu ciri khas dari penduduk Athena ini adalah keinginan
dan usaha mereka dalam menciptakan apa yang kemudian amat terkenal dengan
istilah "demokrasi".
Ada keterkaitan antara masalah kemiskinan yang
mereka alami dengan munculnya idealisme demokrasi yang mereka ciptakan
tersebut, dimana kemiskinan yang diakibatkan oleh keadaan alam mereka yang
kurang baik melahirkan ide demokrasi, berupa pemikiran-pemikiran yang mencoba
mencari jalan keluar dari kesulitan-kesulitan tersebut. Walaupun begitu,
orang-orang Athena menganggap bahwa kemiskinan yang ada adalah sesuatu yang
alamiah buat mereka (order of thing) dan ini memberikan mereka kewajaran dan kesederhanaan
dalam kehidupannya.
Segala sesuatu yang berlebihan menurut mereka hanya
pantas diperuntukkan untuk para dewa mereka, dan hal ini mereka lakukan dengan
penuh kesadaran. Kalau di daerah Sparta para budak-budak dapat dilihat dengan
jelas, maka di Athena hampir tidak dapat di bedakan antara mana yang budak
dengan yang bukan budak. Orang-orang Athena dikenal lebih suka hidup di luar
rumah,[4] di Gymnasium,[5] Agora[6] (tempat pertemuan) dan
di jalan-jalan dalam kota dari pada di dalam rumah yang hanya mereka lakukan
hanya untuk tidur dan beristirahat.[7]
B.
Sejarah Sparta dan Athena
1)
Sejarah Sparta
Sparta adalah sebuah kota di Yunani selatan. Kota ini
sudah ada sejak zaman perunggu akhir, dan muncul dalam naskah Odisseya karya
Homeros sebagai kerajaan yang dipimpin oleh raja Menelaos dan ratu Helene.
Selama zaman kegelapan, Sparta mengalami kemunduran seperti kota-kota Yunani
lainnya. Pada periode Arkaik awal, sekitar tahun 900 SM, Sparta mulai
berkembang kembali. Meskipun pada masa ini sebagian besar kota Yunani tak lagi
diperintah oleh raja, Sparta tetap mempertahankan jabatan raja, bahkan Sparta
dipimpin oleh dua orang raja secara bersamaan.
Sparta adalah kota pada zaman Yunani Kuno yang merupakan
ibukota Laconia dengan kota terpenting Peloponesus di tepi Sungai Eurotas.
Sparta didirikan oleh orang-orang Doria yang mengalahkan Laconia dan Messenia
yang pada perkembangannya menjadi sangat kuat dan berkuasa. Pada abad ke-7 SM,
Sparta merupakan pusat kesusastraan namun sesudah tahun 600 SM ilmu kemiliteran
yang lebih ditonjolkan.
Masa Prasejarah Sparta sulit untuk direkonstruksi, karena
tidak banyak bukti tulisan dari masa tersebut dan juga distorsi oleh tradisi
oral. Namun, bukti paling awal mengenai pemukiman manusia di wilayah Sparta
adalah dari tembikar yang berasal dari periode pertengahan Neolitikum,
ditemukan di sekitar Kouphovouno, sekitar dua kilometer selatan-barat daya
Sparta. Ini adalah jejak awal peradaban Sparta Mikene, seperti yang digambarkan
dalam Illiad karya Homer.
Menurut Herodotus dan Thucydides, antara abad ke-8 dan
ke-7 SM Sparta mengalami periode ketiadaan hukum dan perselisihan sipil.
Akibatnya, mereka melakukan serangkaian reformasi politik dan sosial di
masyarakat yang kemudian mereka kaitkan dengan pemberi hukum mereka, Lykourgos
Perubahan-perubahan ini menandai awal sejarah klasik Sparta.
Pada tahun 441 SM, Sparta merasa bahwa Athena sudah
terlalu mendominasi Yunani dan banyak bertindak semena-mena. Sparta lalu
membentuk persekutuan dengan negara-negara kota lainnya, salah satu sekutu
Sparta yang kuat adalah Korinthos, dan bersama-sama mereka menyerang Athena
untuk mendobrak dominasi Athena. Konflik ini disebut Perang Peloponnesos,
karena Sparta berada di wilayah Yunani yang disebut Peloponnesos.[8]
Pada awalnya, Sparta terus terdesak oleh Athena dalam
perang ini, namun kemudian Athena ditimpa wabah penyakit sehingga Sparta
akhirnya mulai memperoleh keunggulan. Sparta bahkan mengalami lebih banyak
kemenangan setelah dinasehati oleh seorang Athena bernama Alkibiades. Dia
menyarankan Sparta untuk membentuk angkatan laut. Pada akhirnya, Sparta
memenangkan Perang Peloponnesos. Pada tahun 404 SM, pasukan Sparta memasuki
Athena dan menghancurkan dinding pertahanan di sekeliling kota Athena.
Namun kejayaan Sparta tidak berlangsung terllau lama. Pada
tahun 369 SM, pasukan Thebes menyerbu Peloponnesos dan membantu membebaskan
orang Messenia dari perbudakan Sparta. Orang Messenia pun kembali memiliki
negara sendiri. Ini membuat para lelaki Sparta harus kembali bertani untuk
memenuhi kebutuhan pangan mereka. Akibatnya mereka tak lagi dapat berlatih
bertempur seperti dulu, sehingga pasukan Sparta tak lagi sehebat dan setangguh
dulu. Sparta pada masa ini hanyalah kota kecil dengan kekuasaan yang tak
terlalu besar.
Setelah itu Sparta tak mampu lagi mempertahankan
kemerdekaannya, mereka berturut-turut dikuasai oleh Liga Akhaia, Republik
Romawi, Kekaisaran Romawi, Kekaisaran Bizanitum, dan akhirnya pada tahun 1460
kota ini ditaklukan oleh Kesultanan Utsmaniyah.
2)
Sejarah
Athena
“Menurut mitologi Yunani kuno,
nama Athena diambil ketika Dewi Athena dan Poseidon berkompetisi untuk menjadi
pelindung kota. Mitos Yunani kuno mengatakan bahwa Poseidon memberikan mata air
dengan air laut, sementara Dewi Athena menawarkan pohon zaitun yang menyentuh
batu suci Acropolis,[9]
hingga akhirnya penduduk memilih Dewi Athena sebagai pelindung mereka.” Mitos
itu hanyalah simbol tetapi dua Dewa itu melambangkan kekuatan Athena sebagai
kota yang diberkati kekuatan laut. Pemukiman pertama Athena dimulai sejak tahun
3000 SM, awalnya berada di atas bebatuan Acropolis.
Mengutip artikel yang dimuat pada Athensguide; bahwa
dalam tradisi Yunani kuno, sejarah Athena didirikan ketika raja Theseus
menyatukan beberapa pemukiman Attica. Kodros, adalah raja terakhir Athena kuno
yang mengorbankan hidupnya untuk menyelamatkan negara. Kemudian para bangsawan
(kalangan atas yang memonopoli tanah) mulai berkuasa. Para bangsawan memerintah
Athena melalui Mahkamah Agung (Arios Pagos), dari konsul ini terpilih 9
penguasa Athena. Selama waktu tersebut dibentuk majelis (sidang) warga Athena (Ecclesia,
Demos) tetapi selama priode ini, Athena tidak memiliki kekuatan hingga
kemudian pada titik terendah Solon.
Setelah periode penjajahan dan ekspansi
perdagangan, banyak warga Athena menjadi kaya melalui perdagangan dan pelayaran
(transportasi laut). Mereka ingin berpartisipasi dalam administrasi negara
sedangkan di sisi lain, penduduk kelas bawah mengalami kemiskinan. Hal ini
mengakibatkan kerusuhan antara kaum miskin yang menginginkan tanah dan keadilan
sosial, dan bangsawan ingin mempertahankan kekuasaan serta otoritas mereka.
Kerusuhan itu semata-mata untuk mengeksploitasi
ambisi Kylon yang ingin menjadi tiran, tapi dia gagal. Gerakan itu
tertulis dalam sejarah Athena sebagai Kylonion
Agos. Setelah kerusuhan, para bangsawan menulis undang-undang baru dalam
menanggapi tuntutan masyarakat. Tapi hukum Dracon yang dianggap sebagai
Solon, terlalu keras dan membuat kecewa orang Atena. Solon mengembalikan hutang
para warga dan membebaskan hutang semua budak. Hukum itu mengeluarkan rakyat
Athena dari beban yang sangat berat dan disebut Seisachtheia.
Solon membagi Athena menjadi empat kelas yang
masing-masing bergantung pada pendapatan mereka. Archons (penguasa)
memiliki hak untuk menjadi orang kaya. Solon diperkuat secara politik dan
kalangan miskin, karena ia memberikan peranan besar bagi Ecclesia Demos.
Rancangan undang-undang dan suara hukum disusun oleh Dewan. Solon mendirikan
pengadilan besar yang disebut Iliaia, sebuah langkah pertama menuju demokrasi.
Walaupun hukum Solon meyakinkan berbagai kalangan
penduduk Atena. Masyarakat miskin menginginkan pertanian, dengan kata lain
pengembalian tanah. Selama periode ini, kaum bangsawan kehilangan banyak
kekuasaan hingga akhirnya Peisistratos berhasil mendapatkan dukungan
dari banyak orang dan menjadi tiran. Peisistratos mendukung petani dan berbagai
proyek di Athena. Putranya sekaligus penerusnya, Hippias dan Hipparchos,
sebuah kenyataan pahit dalam sejarah Athena, hingga membuat Hippias
melarikan diri ke Persia. Hippias meninggal di pengasingan dan Hipparchos
dibunuh oleh orang Athena.
Berakhirnya Tirani itu, orang Athena mulai mengatur
demokrasi. Kleisthenes adalah pendiri utama yang secara radikal
mereformasi konstitusi, dan membagi orang Athena dalam 10 ras (kasta).
Kleisthenes memberikan semua keputusan di Ecclesia Demos. Dari sidang (majelis)
yang memilih 10 jenderal sebagai pemimpin bukan hanya militer, tapi negara itu
sendiri. Parlemen Solon diganti dengan parlemen baru dengan 500 deputi. Para
anggota parlemen baru di mana 50 orang Athena dari setiap majelis dipilih
setiap tahun secara adil. Dengan sistem ini semua warga Athena kemungkinan
besar akan berkesempatan menjadi anggota parlemen. Tugas parlemen adalah
mempersiapkan topik yang akan dibahas dalam Ecclesia Demos.
Setiap warga negara bisa menulis nama seorang
politisi yang berbahaya bagi demokrasi di selembar vas rusak (kepingan).
Setelah itu mereka akan menghitung orang-orang yang memiliki 6 ribu keping vas
dengan nama mereka, dan mengirimkan ke pengasingan selama 10 tahun. Dengan
demikian lahirlah demokrasi di Athena, konstitusi yang memberikan semua warga
negara berhak dan wajib ikut serta dalam pemerintahan negara. Demokrasi ini
merupakan salah satu prestasi paling penting dalam sejarah Athena, Yunani kuno.
Kejayaan Athena dimulai abad ke 5 SM di bawah
kekuasaan Pericles. Selama periode ini disebut sebagai Golden Age of Athens
Parthenon. Seni, Filsafat, Drama, berkembang hingga pada tingkat tertinggi masa
itu. Tetapi, perang Peloponnesia antara
Athena dan Sparta mengakhiri masa kejayaan mereka.
Athena terus menjadi pusat kebudayaan dan
pentingnya intelektual bahkan selama zaman Romawi. Selama masa pemerintahan Kaisar Romawi Hadrian,
Athena menjadi kota tercinta. Hadrian membangun dan menghiasi Athena dengan
monumen megah seperti Perpustakaan Hadrian (Hadrian Library). Dia
menyebut sebelah selatan Acropolis sebagai Theseus Athena, dan di
sebelah utara Acropolis sebagai Hadrian Athena.
Kejatuhan Kekaisaran Romawi berdampak pada Athena.
Selama masa Bizantium, Athena adalah kota Kekaisaran Bizantium. Dalam masa ini
banyak gereja Bizantium dibangun di Athena. Tentara Salib menyerang kota Athena
di abad ke-13 hingga abad 15 ketika kota ini diduduki oleh Turki. Setelah
perang Kemerdekaan Yunani, Athena menjadi Ibukota Yunani pada tahun 1833.
C.
Sistem Pemerintahan
Sparta dan Athena
Yunani tidak
pernah memiliki sistem pemerintahan sentralisasi melainkan desentralisasikarena
tiap-tiap polis mengembangkan sistem pemerintahan masing-masing. Pada uraian berikut
ini Anda dapat mempelajari sistem pemerintahan dari dua polis yang terkemuka di
Yunani yaitu Sparta dan Athena dengan konstitusi yang berbeda.
1)
Sistem Pemerintahan
Sparta
Konstitusi Sparta
membagi masyarakat menjadi 3 golongan yaitu:
a.
Citizens atau
orang-orang Sparta yang jumlahnya antara 5-10% dari seluruh penduduk. Mereka
terdiri dari para penguasa dan tentara.
b.
Kaum Helot
merupakan sebagian besar dari penduduk yang bekerja sebagai buruh tani dan
pelayan dari orang-orang sparta.
c.
Peiroikoi yaitu yang tinggal
di pinggiran kota, hidup sebagai petani, pedagangdan bekerja di pertambangan
mereka menyukai kebebasan pribadi.
“Citizens” atau
orang-orang Sparta merupakan keturunan dari para penakluk (Sukubangsa Doria)
yang datang dari arah utara menuju Peloponesos. Mereka menduduki dataran rendah
Laconia yang paling subur serta mendesak penduduk aslinya menjadi kaum
Helot dan Perioikoi.
Untuk menjaga
kemungkinan timbulnya pemberontakan baik dari dalam maupundari luar, penguasa
pemerintahan Sparta selalu siaga dan meningkatkan ketangguhan militernya
terutama pada masa pemerintahan Lycurgus sekitar tahun 625 SM.
Sistem
pemerintahan Sparta yang militeristis tersebut mengutamakan latihan kemiliteran
dan disiplin yang keras bagi masyarakat. Anak yang baru lahir menjalani
pemeriksaan fisik di depan Ephor. Bayi yang cacat atau tidak sehat dibuang di
gua-gua atau di gunung-gunung dan dibiarkan mati atau agar di pungut oleh
orang-orang Helot. Orang tua membesarkan anak laki-lakinya sampai usia 7 tahun.
Sesudah itu mereka dimasukkan ke sekolah militer yang diselenggarakan oleh
negara. Mereka dididik sebagai tentara yang tangguh.
Pada usia 20 tahun
mereka diijinkan menikah namun harus menetap di barak/asmara tentara sampai
usia 30 tahun untuk mengabdikan sepenuh hidupnya sebagai tentara.Tugas sebagai
tentara baru berakhir sampai usia 60 tahun. Pada usia 30 tahun mereka menjadi
warga negara yang memiliki hak memilih.
Dengan langkah
tersebut Sparta menjadi polis terkuat di seluruh Yunani. Pemerintahan Sparta
dijalankan oleh 2 orang raja yang absolut dan turun temurun. Selain Raja, ada
jabatan ephor selaku penasehat yang berjumlah 5 orang. Lembaga yang lain
beranggotakan hanya 28 orang yang berusia 60 tahun atau lebih, disebut
Gereousia.
Gereousia
memiliki hak veto terhadap undang-undang yang diajukan oleh DPR. Anggota DPR
adalah semua laki-laki warga kota Sparta yang berusia 30 tahun atau lebih,
mereka bersidang setiap bulan purnama.
2)
Sistem Pemerintahan
Athena
Kehidupan di
Athena berbeda dengan di Sparta. Jika warga Sparta mempunyai kewajiban untuk
tugas-tugas pemerintahan dan pertahanan negara maka warga Athena dalam suasana
demokrasi memiliki kemerdekaan berpikir, berpendapat serta maju dalam bidang
politik, ekonomi, seni batik, seni pahat, seni bangunan maupun seni sastra.
Athena mengalami
evolusi pemerintahan yang sempurna semula golongan aristokrat (bangsawan)
mengesyahkan kekuasaan oligarkhi (pemerintahan di tangan sekelompok orang).
Kemudian beralih ke sistem pemerintahan tirany (pemegangkekuasaan di tangan
satu orang yang berkuasa penuh) kemudian berubah lagimenjadi sistem demokrasi.
Pemerintahan
demokrasi di Athena mencapai puncak kejayaan pada masa Perikles (462 – 429
SM). Beberapa negarawan dan pendekar hukum sebelum Perikles antaralain
Drako (621 SM), Solon (594 SM) , Kleistenes (508 SM).
Sistem
pemerintahan di Athena mengenal beberpa lembaga antara lain :
a.
Archon yaitu
pelaksana pemerintahan berjumlah 9 orang.
b.
Areopagos yaitu
dewan yang mengawasi pelaksanaan pemerintahan Archon,sekaligus merangkap
sebagai mahkamah agung. Anggotanya adalah mantanpara archon.
c.
Boule :semacam DPR (Dewan
Perwakilan Rakyat) yang memiliki tugas:
Ø Menetapkan archon
Ø Meminta pertanggungjawaban archon
Ø Menghukum archon.
d.
Dalam bidang pertahanan
dan keamanan dipegang oleh 10 orang ahli siasat perang yang menguasai angkatan
darat dan angkatan laut
Untuk menjaga
kehidupan yang demokratis maka ada kebiasaan untuk mengasingkan atau
mengucilkan seorang penguasa yang pada suatu tahap dalam pemerintahannya telah
dicurigai berusaha menjadi penguasa mutlak yang dapat membahayakan negara.
Tindakan pengucilan itu disebut ostrakisme . Istilah ostrakisme berasal
darikata ostrakon yaitu pecahan pot dari tanah liat.
Setiap penduduk
dapat menuliskan nama tokoh yang dianggap berbahaya pada Ostrakon. Jika
terdapat nama seseorang dalam jumlah tertentu tertulis dalamOstrakon maka ia
akan diasingkan. Hasil penggalian di Athena pernah ditemukan tidak kurang dari
1000 Ostrakon yang tertulis antara lain nama Perikles.
D.
Perang Persia dan Yunani
Keberadaan
polis-polis di Yunani mengakibatkan mereka saling bersaing dalam
memperebutkan hegemoni kekuasaan atas wilayah Yunani. Sehingga tidaklah
mengherankan apabila di Yunani selalu terjadi peperangan di antara sesama
polis-polis tersebut. Tetapi, datang tentara Persia yang akan menginvasi daerah
Yunani, maka polis-polis yang ada di Yunani terutama Spharta dan Athena,
bersatu untuk menghadapi Persia tersebut. Pertempuran antara Yunani dan
Persia terjadi beberapa kali.
a.
Perang Persia Yunani I (492 SM). Peperangan
antara Yunani dan Persia tidak terjadi karena armada tempur Persia
dihancurkan oleh badai dan terpaksa harus pulang kembali.
b.
Perang Persia Yunani II (490 SM). Pertempuran
terjadi di Maraton, pertempuran itu berhasil dimenangkan oleh bangsa
Yunani. Para prajurit Yunani harus lari sepanjang 42 km antara Marathon dan
Athena dalam rangka berkonsolidasi dan meminta bantuan.
c.
Perang Yunani dan Persia III. Bangsa Persia
datang kembali, dan pasukan Yunani menghadapinya di Termopile. Persia
dapat dipukul mundur, namun Raja Spartha terbunuh dalam pertempuran itu.[10]
Pada tahun 448
SM diadakan perdamaian antara Yunani dan Persia. Dengan menangnya Yunani
atas Persia, maka hal ini membuat kemajuan, seperti pada kesenian dan ilmu
pengetahuan serta adanya filosof – filosof. Hal ini membuat Sparta iri
sehingga terjadi perang Peloponessos yang membuat Athena kalah sehingga membuat
yunani terpecah – pecah. Dengan lemahnya Yunani membuat mudahnya Yunani
ditaklukkan oleh kerajaan Macedonia di bawah pimpinan Philipus pada 338 SM.
E.
Perkembangan
Pendidikan Sparta dan Athena
Pendidikan
adalah usaha manusia
untuk kepentingan manusia.
Jadi pada saat manusia itu ada dan masih ada,
pendidikan itu telah dan masih ada pula. Pada kenyataannya dapat kita
telaah bahwa praktek
pendidikan dari zaman
ke zaman mempunyai garis
persamaan. Garis persamaan atau benang merah pendidikan itu ialah:
1. Pendidikan adalah bagian dari kebudayaan yang tidak dapat
dipisahkan.
2. Pendidikan merupakan kegiatan yang bersifar universal.
3.
Praktek
pelaksanaan pendidikan memiliki segi-segi yang umum sekaligus memiliki keunikan (ke-khasan) berkaitan
dengan pandangan hidup masing-masing bangsa.
Yunani kuno terbagi
menjadi dua, Sparta
dan Athena. Penduduk
Sparta disebut bangsa Doria,
sedangkan penduduk Athena
disebut bangsa Lonia.
Kedua negara tersebut merupakan Polis atau negara kota.
Sparta dengan ahli negaranya Lycurgus, sedang Athena dengan ahli
negaranya Solon. Pada
kedua negara tersebut
terdapat perbedaan-perbedaan
dalam dasar, tujuan,
pelaksanaan pendidikan dan
pengajaran. Orang-orang Sparta mementingkan pembentukan jiwa patriotik
yang kuat dan gagah berani.
1)
Sparta
Sparta adalah
negara Aristokrasi-militeristis. Dasarnya Undang-undang Lycurgus (± 900 SM).
Ciri pendidikan: pendidikan diselenggarakan oleh negara dan hanya untuk warga
negara merdeka. Pendidikan di Sparta didasarkan atas dua asas:
a) anak adalah milik negara;
b) tujuan
pendidikan adalah membentuk
serdadu-serdadu pembela negara
serta warga negara.
Tujuan pendidikan
Sparta adalah membentuk
warga negara yang
siap membela negara (membentuk
tentara yang gagah berani). Ciri-ciri pendidikannya adalah :
a) Pendidikan diperuntukkan hanya bagi warga negara yang
merdeka (bukan budak).
b) Lebih mengutamakan pendidikan jasmani.
c) Anak-anak yang telah mencapai umur 7 tahun diasramakan.
Pelaksanaan pendidikan:
anak-anak dibiasakan menahan
lapar, tidur di
atas bantal rumput, dan
pada musim dingin
hanya memakai mantel
biasa saja. Sifat-sifat yang harus dimiliki tentara, seperti keberanian,
ketangkasan, kekuatan, cinta tanah air, dan tunduk pada disiplin selalu
mendapat perhatian. Sebaliknya,
pelajaran seperti kesenian dianggap tidak terlalu penting
dan diabaikan. Musik
dan nyanyian hanya dijadikan alat
untuk mempengaruhi jiwa dalam melaksanakan dinas ketentaraan .
2)
Athena
Athena adalah
negara demokrasi. Dasar yang dipakai adalah: Undang-undang Solon (± 594
SM). Berbeda dengan
Sparta, tujuan pendidikan
Athena adalah: membentuk warganegara dengan
jalan pembentukan jasmani
dan rohani yang
harmonis (selaras). Ciri-ciri pendidikan di Athena adalah:
a.
Pendidikan
diselenggarakan oleh keluarga dan sekolah;
b.
Sekolah
diperuntukkan bagi seluruh warga negara (bebas).
Materi atau bahan
pelajaran terbagi atas
dua bagian: gymnastis
dan muzis. Gymnastis untuk
pembentukan jasmani, sedangkan
muzis untuk pembentukan
rohani. Pendidikan jasmani diberikan
di Palestra, tempat
bergulat, lempar cakram,
melompat, lempar lembing (pentathlon
atau pancalomba).
Pembentukan muzis meliputi:
membaca, menulis, berhitung, nyanyian,
dan musik. Dalam
perkembangannya dalam pembentukanmuzis akan dipelajari artes
liberales atau “seni bebas”, yang terdiri dari:
a) Trivium (tiga
ajaran), yaitu: grammatica; rhetorica (pidato); dan dialektika yaitu ilmu mengenai cara berpikir secara
logis dan bertukar pikiran secara ilmiah;
1. Pendidikan Agama: tidak ada
2. Pendidikan intelek: hampir-hampir tidak ada
3. Pendidikan estetika: musik, bernyanyi
4. Pendidikan etika: kemauan; menahan hati patuh
5. Pendidikan sosial: pembentukan warganegara
b) Quadrivium (empat ajaran), yang terdiri dari: arithmetica
(berhitung); astronomia (ilmu bintang); geometria (ilmu bumi alam dan falak);
musica.
Dalam membaca,
diberikan dengan metode mengeja (sintetis murni); dan menulis dilakukan pada
batu tulis yang dibuat dari lilin.
Pendidikan
warganegara sangat diutamakan
di Yunani, terutama
di Sparta. Segala
kepentingan negara diletakkan
di atas kepentingan
individu (perseorangan). Dalam perkembangannya
muncul keinginan untuk mendapat kebebasan pribadi, terutama
dari kaum sofist.
Kaum sofist adalah kelompok orang yang tidak
mengakui kebenaran mutlak
dan berlaku umum.Mereka
berpendapat, bahwa manusia adalah ukuran
segala sesuatu (anthroposentris, anthropos: manusia; sentris: pusat).
Sesuatu dianggap benar kalau
itu menimbulkan keuntungan atau kemenangan.
Kebenaran bersifat relatif
(tergantung kapan dan siapa yang
melihat).
Akibat dari ajaran
sofisme tersebut adalah,
turunnya nilai-nilai kebudayaan, merosotnya nilai-nilai kejiwaan,
pembentukan harmonis antara jiwa dan raga dikesampingkan dan
sebagainya. Orang mencari pengetahuan
dengan tujuan untuk mencapai kebendaan
semata (intelektual materialistis). Kepentingan
negara harus tunduk kepada
kepentingan perseorangan. Pendidikan
kecerdasan lebih penting
daripada pendidikan agama dan kesusilaan.[11]
F.
Kedudukan Wanita Sparta dan Athena
Pemberian hak
pada wanita antara Sparta dan
Athena berbeda. Sparta jauh lebih maju dari jamannya. Athena dan Sparta,
keduanya kota negara (city-states) tapi berbeda dalam cara pengoperasiannya.
Sparta memberlakukan wanitanya jauh lebih maju dari Athena. Ini mungkin karena Sparta
adalah kaum militer. Entah para suami jarang dirumah karena sering pergi
berperang sehingga istri menjadi lebih bebas atau para wanita juga diberi
latihan sehinga menghasilkan wanita-wanita super.
Sparta adalah sebuah oligarki semetnara Athena, dikenal
sebagai kota filsuf dan pemikir adalah sebuah demokrasi. Sparta dikuasai oleh
dewan 5 lelaki yang juga dewan legislatif. Salah seorang bernama Lycurgus.
Lycurgus dikenal sebagai pelatih lelaki bagi perang dan juga sebagai pejuang
hak wanita karena wanita juga berperan sebagai pembela negara, maka Lycurgus
tahu benar nilai seorang wanita. Sementara Athena, sebuah demokrasi, bertindak
sesuai dengan suara rakyat lewat Senat dan Dewan Romawi.
1)
Sparta
Rakyat Sparta jauh lebih berpikiran terbuka. Mereka
sadar bahwa terlepas dari gender, semua orang Sparta memiliki kewajiban militer
membela Sparta. Oleh karena itu ini memberikan kemerdekaan finansial dan
kebebasan yang lebih besar bagi wanita Sparta. Wanita Sparta diwakili oleh dewi
Artemis, dewi pelindung hewan, wanita, anak-anak perempuan. Mereka adalah
wanita-wanita kuat yang diajarkan membaca, menulis untuk melindungi diri.
Mereka dilatih dalam atletik seperti lempar lembing, lomba lari dan berperang
agar mereka bisa memperkuat tubuh untuk melahirkan bayi.
Perkawinan tidak dilakukan dengan upacara. Pada usia
18, seorang gadis ditunjuk seorang suami yang lalu akan datang dan ''menculik''
sang gadis dari rumah keluarganya. Perkawinan di Sparta juga mementingkan aspek
produksi bayi sebanyak-banyaknya. Wanita tidak diwajibkan untuk setia sehidup
semati dan didesas-desuskan bahwa tingkat homosexualitas sangat tinggi. Wanita
Sparta diijinkan mengambil suami lain, jika suami pertama terlalu lama absen di
medan perang. Semua anak-anak dibesarkan oleh rakyat Sparta dan dibesarkan oleh
perawat dan bukan oleh ibu-ibu mereka. Sebagai ganti kebebasan ini, para wanita
Sparta diharapkan untuk menjadi prajurit dan menjaga harta benda kelaurga saat
suami di medan perang. Ini penting karena para budak dan para pekerja (pedagang,
artisan dan kuli kerja) sering berontak. Salah seorang wanita Sparta dalam
mitos Yunani adalah Helen, istri Menelaus, mengakibatkan Perang Troya. Wanita
Sparta bisa melakukan apa saja yang dapat dilakukan lelaki termasuk memiliki
tanah, budak dan meminjamkan uang. Mereka sering dibandingkan dengan para
wanita Amazon. Mereka memiliki kebebasan, mobilitas dan lebih dihormati
daripada wanita Athena.
2)
Athena
Wanita disini tidak lebih dari budak. Mereka tidak
diajarkan menulis atau membaca dan memang tidak diharapkan untuk dididik.
Mereka tidak diijinkan keluar rumah. Setelah abad 7 SM dan Hukum Pericle
tentang pengesahan pernikahan, hak-hak wanita semakin menurun. Mereka
diwajibkan mengurus rumah dan budak-budaknya dan menghasilkan banyak anak.
Wanita dibagi dalam tiga kelas: wanita budak, warga
bebas dan Hetera (wanita tuna susila yang diijinkan sekolah untuk mengunjungi
Agora atau pasar). Satu-satunya wanita yang memiliki hak di Athena adalah para
selir atau Hetera. Mereka bisa bergerak bebas dalam masyarakat, tapi mereka
juga dieksploitasi. Mereka bisa mengadakan hubungan dengan lelaki dan
melahirkan keturunan, tapi anak-anak mereka dianggap budak. Oleh karena
itu, tidak dianggap sebagai warga
Athena. Dikatakan bahwa ''istri dan para puteri warga Athena dilindungi tapi
hetera dihadapkan pada segala bentuk eksploitasi seksual dan dipelihara lelaki
atau bekerja di tempat-tempat prostitusi atau di jalan-jalan.”
Fungsi paling utama wanita Athena adalah sebagai
barang tawar menawar dalam perkawinan yang diatur pihak ayah. Ini karena uang
mahar yang besar yang diberikan oleh calon suami disimpan oleh kakak lelaki
sang ayah. Para ayah akan menikahi puteri-putri remaja mereka kepada
lelaki-lelaki berusia 30-an. Mereka tidak diijinkan menemui calon suami mereka sebelum
kontraknya disetujui. Sang pengantin juga tidak akan menjadi anggota penuh
keluarga barunya sebelum bayi pertama lahir. Kalau bayi lahir dengan selamat
(tingkat mortalitas bayi tinggi saat itu), sang suami akan menentukan apakah
bayi itu diterima. Kalau bayi itu tidak sehat, atau jenis kelaminnya tidak
disukai atau cacad badan, maka bayi itu akan diletakkan dalam sebuah pot diluar
rumah atau dipinggir jalan. Bayi perempuan sering dianggap rendah nilainya dari
bayi lelaki. Kalau suaminya meninggal, sang wanita akan menjadi budak keluarga
suaminya.
Karena ia tidak berhak memiliki harta benda dan
tidak punya tempat tinggal. Para istri tidak dapat menceraikan suami-suami
mereka tanpa alasan kuat, dan ini juga harus dilakukan di depan pejabat sipil.
Namun, suami dapat menceraikan istrinya kapan saja dan menyuruhnya kembali
kerumah ayahnya. Suami juga bisa melarang istri bekerja diluar rumah dan
memaksanya tinggal dirumah. Wanita yang bercerai akan kehilangan hak atas
anak-anakya. Wanita Athena tidak boleh menampakkan diri di luar rumahnya (tanpa
muhrim atau budak), tidak memiliki hak pilih dan tidak dapat mengambil bagian
dalam urusan negara. Mereka tidak boleh menonton atau berpartisipasi dalam
Pertandingan Olimpiade, karena pertandingan itu sering dilakukan dalam keadaan
telanjang. Wanita juga tidak boleh menghadap ke pengadilan bahkan jika mereka
dituduh dengan tindak pidana. Mereka harus diwakili oleh wali lelaki.[12]
G. Peninggalan Sparta dan Athena
Sparta tidak banyak meninggalkan kebudayaan karena dalam kehidupan
sehari-harinya disibukkan dengan hidup kemiliteran. Beberapa peninggalan bangsa
ini yang bias dilacak ialah: mata uang[13],
perabotan rumah tangga (cangkir, piring dll), dan monument-monumen (gedung teater).
Athena mengalami kemajuan-kemajuan lebih banyak daripada
Sparta, terutama di bidang seni dan ilmu pengetahuan. Di zamannya, terdapat
sebuah gedung teater yang memuat sekitar 30.000 orang. Pada gedung-gedung itu
dipertunjukkan karya-karya sandiwara dari Sophocles, Aeschylus, dan
Aristophanes. Terdapat juga bangunan Athena antara
lain kuil pemujaan. Di bukit Acropolis[14]
berdiri megah kuil Parthenon dan kuil Erechteum yang di dalamnya terdapat
patung dewi Palas Athena.
Athena banyak menghasilkan para filosof
yang pemikirannya sangat berpengaruh pada kehidupan manusia hingga
dewasa ini. Para Filosof itu antara lain sebagai berikut :
1.
Pytagoras: Dia terkenal sebagai ahli
matematika, dia percaya bahwa segala sesuatu itu pada aturannya menurut
bilangan tertentu. Sehubungan dengan hal itu, Pytagoras berpendapat bahwa
melalui pengetahuan tentang bilangan, kita akan memahami tentang
kenyataan.
2.
Heraclitus: Dia adalah seorang filosof
mengembangkan pemikiran tentangng logika.
3.
Hippocartus: Dia adalah seorang filosof
yang ahli dalam bidang kedokteran.
4.
Socrates: Filosof ini mengajarkan kepada
murid-muridnya bahwa manusia dan lingkungannya merupakan subjek untuk
mendapatkan pengetahuan tentang kebenaran.
5.
Plato: Filosof ini berpendapat bahwa
orang bisa berperilaku baik jika ia telah mempunyai persepsi perilaku apa
yang disebut baik dan jahat. Plato juga berpendapat bahwa sumber kekuasaan
adalah pengetahuan.
6.
Aristoteles: Filosof ini mengembangkan
ajaran tentang politik dan etika. Menurut Aritoteles, pada dasarnya setiap
manusia memiliki hak yang sama yang harus diakui. Kebahagian menurut
Aristoteles adalah terpenuhinya semua kebutuhan kita. Di bidang logika,
Aristoteles mengembangkan silogisme.
Lahirnya tradisi intelektual dari bangsa Yunani disebabkan
oleh faktorfaktor berikut ini:
Ø
Faktor geografis dari Yunani bergunung-gunung
dan tidak subur. Hal ini memacu para penduduknya untuk berpikir dan
berkreasi agar mampu bertahan hidup.
Ø
Orang Yunani membangun hubungan dengan
bangsa-bangsa lain seperti Mesir, Babylonia, dan yang lainnya, sehingga
terjadi tukar-menukar pengetahuan.
Ø
Penduduk Yunani memiliki hak otonomi
kemerdekaan dan kemakmuran di bidang ekonomi, sehingga mereka lebih
berkonsentrasi untuk menumbuhkembangkan pengetahuan.
Ø
Bangsa Yunani menghargai logika dan cara
berpikir yang rasional.
Ø
Bangsa Yunani selalu terlibat aktif
dalam urusan politik, ekonomi, dan sosial. Hal itu membuat mereka selalu
berusaha untuk mencari pemecahan dalam setiap masalah yang muncul.[15]
BAB III
PENUTUP
Kesimpulan
Karakteristik Polis Sparta dan Athena sangat dipengaruhi
oleh inkulturasi kebudayaan lokal dan pendatang, dimana Sparta berasal dari
suku bangsa Dorian, sedangkan Athena berasal dari suku bangsa Ionian. Suku-suku
bangsa ini adalah dua dari tiga suku bangsa yang menginvasi Yunani dari utara
antara abad ke-12 dan ke-11 SM yang berinkulturasi dengan masyarakat lokal.
Kota Sparta sudah ada sejak zaman perunggu akhir, dan muncul dalam naskah Odisseya karya Homeros. Sparta mengalami keemasannya pada masa raja Leonidas. Sedangkan pemukiman pertama Athena dimulai sejak tahun 3000 SM, awalnya berada di atas bebatuan Acropolis. Menurut mitologi Yunani kuno, nama Athena diambil ketika Dewi Athena dan Poseidon berkompetisi untuk menjadi pelindung kota. Kota yunani mengalami masa kejayaan pada tahun 450-404 SM ketika Athena telah berhasil mengusir tentara Persia. Keduanya berakhir ketika terjadinya Perang Peloponnesos.
Sistem pemerintahan Sparta ialah Oligarki yang dipimpin oleh dua orang raja. Sedangkan sistem pemerintahan Athena ialah Demokrasi.
Peperangan antara Persia dan Yunani sering terjadi pada masa ini. Tedapat tiga periode serangan Persia ke Yunani yang pada akhirnya di menangkan oleh bangsa Yunani. Pada tahun 448 SM dilaksanakan perdamaian antara Persia dan Yunani.
Ciri-ciri pendidikan warga Sparta adalah: pendidikan
diperuntukkan hanya bagi warga negara yang merdeka (bukan budak), lebih mengutamakan pendidikan
jasmani, dan Anak-anak yang telah mencapai umur 7 tahun diasramakan. Sedangkan
cirri pendidikan bagi warga Athena ialah: pendidikan diselenggarakan oleh
keluarga dan sekolah, dan sekolah diperuntukkan bagi seluruh warga negara
(bebas).
Kedudukan wanita Sparta sejajar dengan pria Sparta. Mereka
boleh ikut dalam berpolitik. Mereka juga dituntut untuk mengikuti militer.
Sedangkan bagi wanita Athena, mereka hanyalah wanita yang hidup di dalam rumah
saja. Mereka juga disejajarkan dengan budak.
Bangsa Sparta adalah bangsa yang hidup untuk mengabdi pada
Negara. Mereka diwajibkan bermiliter dari umur 7 tahun hingga umur 60 tahun.
Mereka lebih mementingkan keamanan Negara daripada apapun. Oleh karena itu,
mereka sedikit sekali meninggalkan kebudayaan, bahkan bisa dibilang tidak ada.
Bangsa Athena berbeda jauh dengan bangsa Sparta. Mereka
lebih mementingkan seni dan ilmu pengetahuan. Banyak filsuf-filsuf yang lahir
dari kota ini, diantaranya: Socrates, Plato, Aristoteles, dll.
Daftar Pustaka
Badrika, Wayan. 2003. Sejarah Nasional Indonesia dan Umum.
Jakarta: Erlangga.
Kumalasari, Dyahi. 2008. Diktat Pengantar Sejarah Pendidikan 1.
Yogyakarta: FISE UNY.
Rahman, Vinky.
2003. Menelusuri Jejak, Hubungan Dan Perbandingan
Dua Kebudayaan Klasik, Yunani Dan Romawi. Medan : USU
digital library.
Tonbe, Arnold. 2006. Sejarah Umat Manusia. Terj. Agung Prihantoro
dkk. Yogyakarta: Pustaka Belajar.
[1]
Lampiran 1.
[2]
Lampiran 2.
[3]
Lampiran 3.
[4]
Lampiran 4.
[5]
Lampiran 5.
[6]
Lampiran 6.
[7] Ir. N Vinky Rahman. 2003. Menelusuri Jejak, Hubungan Dan Perbandingan Dua
Kebudayaan Klasik, Yunani Dan Romawi. Medan : USU digital library. Hlm. 1-2.
[8]
Lampiran 7.
[9]
Arti dari Acropolis sendiri yakni kota di atas bukit, dengan penggalan arti
“Acro” yang artinya puncak bukit dan “Polis” yang artinya kota. Lampiran 9.
[10]
Wayan Badrika. 2003. Sejarah Nasional Indonesia dan Umum. Jakarta:
Erlangga. Hlm.98
[11]
Dyah Kumalasari. 2008. Diktat Pengantar Sejarah Pendidikan 1.
Yogyakarta: FISE UNY. Hlm 8-11.
[12]
Ibid.
[13]
Lampiran 8.
[14]
Lampiran 9.
[15]
Arnold Tonbe. 2006. Sejarah Umat Manusia. Terj. Agung Prihantoro dkk.
Yogyakarta: Pustaka Belajar. Hlm 102.