Epistemologi dalam Filsafat Ilmu



Epistemologi berasal dari kata episteme yang berarti pengetahuan dan log, os yang berarti ilmu. jadi epistemologi adalah ilmu yang membahas tentang pengetahuan dan cara memperolehnya. Epistemologi disebut juga teori pengetahuan, yakni cabang filsafat yang membicarakan tentang cara memperoleh pengetahuan, hakikat pengetahuan dan sumber pengetahuan. Dengan kata lain, epistemologi adalah suatu cabang filsafat yang menyoroti atau membahas tentang tata-cara, teknik, atau prosedur mendapatkan ilmu dan keilmuan. Tata cara, teknik, atau prosedur mendapat­kan ilmu dan keilmuan adalah dengan metode non-ilmiah, metode ilmiah dan metode problem solving. Pengetahuan yang diperoleh melalui pendekatan/metode non-ilmiah adalah pengetahuan yang diperoleh dengan cara penemuan secara kebetulan; untung-untungan (trial and error); akal sehat (common sense); prasangka; otoritas (kewibawaan); dan pengalaman biasa.
Metode ilmiah adalah cara memperoleh pengetahuan melalui pendekatan deduktif dan induktif. Sedangkan metode problem solving adalah memecahkan masalah dengan cara mengidentifikasi permasalahan; merumuskan hipotesis; mengumpulkan data; mengorganisasikan dan menganalisis data; menyimpulkan dan conclusion; melakukan verifikasi, yakni pengujian hipotesis. Tujuan utamanya adalah untuk menemukan teori-teori, prinsip-prinsip, generalisasi dan hukum-hukum. Temuan itu dapat dipakai sebagai basis, bingkai atau kerangka pemikiran untuk menerangkan, mendeskripsikan, mengontrol, mengantisipasi atau meramalkan sesuatu kejadian secara lebih tepat.
Epistemologi derivasinya dari bahasa Yunani yang berarti teori ilmu pengetahuan. Epistemologi merupakan gabungan dua kalimat episteme, pengetahuan; dan logos, teori. Epistemologi adalah cabang ilmu filsafat yang menjelaskan masalah-masalah filosofis yang mengitari teori ilmu pengetahuan.
Epistemologi bertalian dengan definisi dan konsep-konsep ilmu, ragam ilmu yang bersifat nisbi dan niscaya, dan relasi eksak antara ‘alim (subjek) dan ma’lum (objek). Dengan kata lain, epistemologi adalah bagian filsafat yang meneliti asal usul, asumsi dasar, sifat-sifat, dan bagaimana memperoleh pengetahuan menjadi penentu penting dalam menanyakan apa yang dapat kita ketahui sebelum men­4askannya. Pertanyakan dulu secara kritis, baru diyakini. Ragukan dulu bahwa sesuatu itu ada, kalau terbukti ada, baru dijelaskan. Berpikir dulu, baru yakini atau tidak. Ragukan dulu, baru yakini atau tidak.
Pertanyaan utama epistemologi jenis ini adalah, apa yang benar-benar sudah kita ketahui dan bagaimana cara kita mengetahuinya? Epistemologi ini tidak peduli apakah batu di depan mata kita adalah penampakan atau bukan. Yang ia urus adalah bahwa ada batu di depan mata kita dan kita teliti secara sainstifik, kemudian menentukan se­buah model filsafat. Dengan pengertian ini epistemologi tentu saja menentukan karakter pengetahuan, bahkan menentukan “kebenaran” macam yang dianggap patut diterima dan apa yang patut ditolak. Menurut Keith Lehrer secara historis terdapat tiga perspektif dalam epistemologi yang berkembang di Barat, yaitu: (i) dogmatic epistemology; (ii) critical epistemology; dan (iii) scientific epistemology.
Pertama, dogmatic epistemology adalah pendekatan tradisional terhadap epistemologi, terutama Plato. Dalam perspektif epistemologi dogmatik, metaphysics (ontologi) diasumsikan dulu ada, baru kemudian ditambahkan epis­temologi. Setelah realitas dasar diasumsikan ada, baru kemudian ditambahkan epistemologi untuk menjelaskan bagaimana kita mengetahui realitas tersebut. Pertanyaan utama epsitemologi jenis ini: Apa yang kita ketahui? Lalu bagaimana cara kita mengetahuinya? Singkatnya, epistemologi dogmatik menetapkan ontologi sebelum epistemologi.
Untuk melihat contoh cara kerja epistemologi jenis ini, silakan lihat karya Plato, Theaetetus, terutama ketika ia menganalisis pengetahuan sebagai opini yang benar, forms sebagai the ultimate reality yang bermuara pada definisi bahwa pengetahuan adalah sebagai kesadaran intuitif terhadap forms.
Kedua, critical epistemology. Revolusi dari epistemologi dogmatik ke epistemologi kritis diperkenalkan oleh Rene Descartes. Descartes membalik epistemologi dogmatik dengan menanyakan apa yang dapat kita ketahui sebelum menjelaskannya. Pertanyakan dulu secara kritis, baru diya­kini. Ragukan dulu bahwa sesuatu itu ada, kalau terbukti ada, baru dijelaskan. Berpikir dulu, baru yakini atau tidak. Ragukan dulu, baru yakini atau tidak. Descartes menganut the immediacy theses, bahwa apa yang kita ketahui adalah terbatas pada ide-ide yang adalah jiwa kita (our own minds). Metode Descartes disebut juga metode skeptis. Yakni, skeptis bahwa kita dapat mengetahui secara langsung objek di luar diri kita tanpa melalui jiwa kita. Tesis ini dikembangkan oleh David Hume dengan teori primary qutalities dan secondary qualities. Pertanyaan utama epistemologi jenis ini: Apa yang dapat kita ketahui? Dapatkah kita mengetahuinya? Mungkinkah kita dapat mengetahui sesuatu di luar diri kita? Singkatnya, epistemologi kritis menetapkan ontologi setelah epistemologi.
Reid menolak tesis ini dengan berargumen bahwa kita mempunyai pengetahuan langsung tentang dunia luar (the external world). Menurut Reid, kita tidak melihat penam­pakan objek, tapi objek itu sendiri.
Contoh karya Descartes, Meditations, dan karya Hume, Ifytairy Into the Human Understanding (terutama “The Sections on Perception and Scepticism”). Karya Reid, Inquiry and Essays (Selected Sections on Perception).
Ketiga, scientific epistemology. I argue that there is a Third approach to epistemology where theories about what we can know and theories about what is real are given equal status; that is, neither is assumed to be prior to the other. Consequently, a theory of knowledge should explain how we know those things Which We Most clearly do know and at the same time provide a critical standard of evaluation for knowledge claims. Pertanyaan utama epistemologi jenis ini adalah, apa yang benar-benar sudah kita ketahui dan bagaimana cara kita mengetahuinva? Epistemologi ini tidak peduli apakah batu di depan mata kita adalah penampakan atau bukan. Yang ia urus adalah bahwa ada batu di depan mata kita dan kita teliti secara sainstifik.
Epistemologi juga disebut teori pengetahuan atau kajian tentang justifikasi kebenaran pengetahuan atau kepercayaan. Untuk menemukan kebenaran dilakukan sebagai berikut (AR Lacey): (i) Menemukan kebenaran dari masalah; (ii) Pengamatan dan teori untuk menemukan kebenaran; (iii) Pengamatan dan eksperimen untuk mene­mukan kebenaran; (iv) Falsification atau operasionalism (experimental operation, operation research); (w) Konfirmasi kemungkinan untuk menemukan kebenaran; (vi) Metode hipotetico-deduktif (vii) Induksi dan presuposisi/teori untuk menemukan kebenaran fakta.

Related Posts

Subscribe Our Newsletter