Fakta tidak berbicara untuk diri
mereka sendiri. Dalam dunia yang ditelaah ilmu, sekelompok molekul atau sel
tidak meloncat-loncat, melambaikan tangan, bersuitsuit, dan mengatakan, “Hai,
lihat saya! Di sini! Saya adalah batu, atau pohon, atau kuda.” Apanya suatu
benda tergantung kepada merek yang diberikan manusia kepada benda tersebut.
Bagaimana suatu benda dapat dijelaskan tergantung kepada hubungan konseptual
yang dipakai menyorot benda tersebut. Kenyataan ini membawa kita kepada salah
satu segi yang paling sulit dari metodologi keilmuan yakni peranan dari
hipotesis.
Hipotesis adalah pernyataan
sementara tentang hubungan antar variabel. Hubungan hipotesis ini diajukan
dalam bentuk dugaan kerja, atau teori, yang merupakan dasar dalam menjelaskan
kemungkinan hubungan tersebut. Hipotesis diajukan secara khas dengan dasar coba-coba
(trial-and-error). Hipotesis hanya
merupakan dugaan yang beralasan, atau mungkin merupakan perluasan dari
hipotesis terdahulu yang telah teruji kebenarannya, yang kemudian diterapkan
pada data yang baru. Dalam kedua hal di atas, hipotesis berfungsi untuk
mengikat data sedemikian rupa, sehingga hubungan yang diduga dapat kita
gambarkan, dan penjelasan yang mungkin dapat kita ajukan. Sebuah hipotesis
biasanya diajukan dalam bentuk pernyataan “jika X, maka Y”. Jika kulit manusia
kekurangan pigmen, maka kulit itu mudah terbakar saat disinari matahari.
Hipotesis ini memberikan penjelasan sementara paling tidak tentang beberapa
hubungan antara pigmentasi dengan sinar matahari. Hipotesis ini juga
mengungkapkan kepada kita syarat mana yang harus dipenuhi dan pengamatan apa
yang diperlukan jika kita ingin menguji kebenaran dari dugaan kerja tersebut.
Oleh karena itu, maka sebelum
teruji kebenarannya secara empiris semua penjelasan rasional yang diajukan
statusnya hanyalah bersifat sementara. Sekiranya kita menghadapi suatu masalah
tersebut, kita dapat mengajukan hipotesis yang merupakan jawaban sementara
dari permasalahan tersebut. Secara teoretis maka sebenarnya kita dapat mengajukan
hipotesis sebanyak-banyaknya sesuai dengan hakikat rasionalisme yang bersifat
pluralistik. Hanya di sini dari sekian hipotesis yang diajukan itu hanya satu
yang diterima berdasarkan kriteria kebenaran korespondensi yakni hipotesis yang
didukung oleh fakta-fakta empiris.