Latar
Belakang
Islam
adalah agama yang dibawa oleh seluruh Nabi dan Rasul mulai dari Nabi Adam
hingga Nabi Muhammad shallaahu alaihi wasallam. Islam pula adalah
satu-satunya agama yang diridlai oleh Allah. Oleh kerena Islam adalah agama
yang Allah ridlai dan yang menjadi beban dan amanat yang para nabi dan rasul
harus sampaikan kepada ummatnya, sudah tentu Islam adalah agama yang syumuliyah
(mencakup segala aspek kehidupan ini).
Sebagaimana
Nabi Muhammad diutus untuk memperbaiki akhlak ummat, maka Islam mengajarkan
hal-hal yang berkaitan dengan akhlak manusia. Salah satu yang termasuk adalah
akhlak tasawuf.
Dalam
akhlak tasawuf dibahas beberapa maqamat dan ahwal untuk mencapai ma’rifat.
Diantaranya adalah fana dan baqa. Bagaimana fana dan baqa agar sejalan dengan
ajaran Rasul? Lalu apa yang dimaksud maqamat, ahwal, atau istilah lain dalam
akhlak tasawuf?
Maka,
dalam makalah ini penulis membahas fana dan baqa agar pembaca mengetahui konsep
dari beberapa konsep akhlak tasawuf. Lebih luasnya lagi, penulis berharap amal
dan perbuatan sesuai dengan ajaran Rasul.
Mudah-mudahan
dengan penbahasan sekilas mengenai fana dan baqa ini bisa menambah wawasan
penulis khususnya dan pembaca umumnya.
Rumusan
Masalah
Apa
yang dimaksud fana dan baqa?
Apa
tujuan dan kedudukan fana dan baqa?
Siapa
tokoh sufi pencetus fana dan baqa serta bagaimana tokoh itu mencapainya?
Bagaimana
fana dan baqa dalam pandangan Al Qur’an?
Tujuan
Pembahasan
Untuk
memahami pengertian dan maksud fana dan baqa.
Untuk
mengetahui tujuan dan kedudukan fana dan baqa.
Untuk
mengenal tokoh sufi pertama yang mengembangkan fana dan baqa.
Untuk
mengetahui pandangan Al Qur’an terhadap konsep fana daan baqa.
BAB II
PEMBAHASAN
A. Pengertian
Fana Dan Baqa.
Dari
segi bahasa al-fana berarti hilangnya wujud sesuatu. Fana berbeda dengan
al-fasad(rusak). Fana artinya tidak tampak sesuatu, sedangkan rusak adalah
berubahnya sesuatu kepada sesuatu yang lain. Dalam hubungan ini Ibn Sina ketika
membedakan antara benda-benda yang bersifat samawiyah dan benda –benda yang
bersifat alam, mengatakan bahwa keberadaan benda alam itu atas dasar permulaannya,
bukan atas dasar perubahan bentuk yang satu kepada bentuk yang lainnya, dan
hilangnya benda alam itu dengan cara fana, bukan cara rusak.
Adapun
artinya fana menurut kalangan sufi adalah hilangnya kesadaran pribadi dengan
dirinya sendiri atau dengan sesuatu yang lazim digunakan pada diri. Menurut
pendapat lain, fana berarti bergantinya sifat-sifat kemanusiaan dengan
sifat-sifat yang tercela.
Dalam
pada itu Mustafa Zahri mengatakan bahwa yang dimaksud fana adalah lenyapnya indrawi
atau kebasyariahan, yakni sifat sebagai manusia biasa yang suka pada syahwat
dan hawa nafsu. Orang yang telah diliputi hakikat ketuhanan, sehingga tiada
lagi melihat daripada alam baharu, alam rupa dan alam wujud ini, maka dikatakan
ia telah fana dari alam cipta atau dari alam makhluk. Selain itu fana juga
dapat berarti hilangnya sifat-sifat buruk (maksiat) lahir batin.
Sebagai
akibat dari fana adalah baqa. Secara harfiah baqa berarti kekal, sedang menurut
yang dimaksud para sufi, baqa adalah kekalnya sifat-sifat terpuji, dan
sifat-sifat Tuhan dalam diri manusia. Karena lenyapnya (fana) sifat-sifat
basyariah, maka yang kekal adalah sifat-sifat ilahiah. Dalam istilah tasawuf,
fana dan baqa datang beriringan, sebagai mana dinyatakan oleh para ahli tasawuf
:
“Apabila
tampaklah nur kebaqaan, maka fanalah yang tiada, dan baqa lah yang kekal”
Tasawuf
itu ialah mereka fana dari dirinya dan baqa dengan
tuhannya, karena kehadiran hati mereka bersama Allah.
Dengan
demikian, dapatlah dipahami bahwa yang dimaksud dengan fana adalah lenyapnya
sifat-sifat basyariah, akhlak yang tercela, kebodohan dan perbuatan maksiat
dari diri manusia. Sedangkan baqa adalah kekalnya sifat-sifat ketuhanan, akhlak
yang terpuji, ilmu pengetahuan dan kebersihan diri dari dosa dan maksiat. Untuk
mencapai baqa ini perlu dilakukan
usaha-usaha seperti bertaubat, berzikir, beribadah, dan menghiasi diri dengan
akhlak yang terpuji.
Selanjutnya
fana yang dicari oleh orang sufi adalah penghancuran diri (al-fana ‘an
al-nafs), yaitu hancurnya perasaan atau kesadaran tentang adanya tubuh kasar
manusia. Menurut al-Qusyairi, fana yang dimaksud adalah:
“Fana
seseorang dari dirinya dan dari makhluk lain terjadi dengan hilangnya kesadaran
tentang dirinya dan tentang makhluk lain itu, sebenarnya dirinya tetap ada dan
demikian pula makhluk lain ada, tetapi ia tak sadar lagi pada mereka dan pada
dirinya”.
Kalau seorang sufi
telah mencapai al-fana al-nafs, yaitu kalau wujud jasmaniah tak ada lagi (dalam
arti tak disadarinya lagi), maka yang akan tinggal ialah wujud rohaniah.
Menurut Harun Nasution, kelihatannya persatuan dengan Tuhan ini terjadilangsung
setelah tercapainnya al-fana al-nafs. Tak ubahnya dengan fana yang terjadi
ketika hilangnya kejahilan, maksiat dan kelakuan buruk diatas. Dengan hancurnya
hal-hal ini yang langsung tinggal (baqa) ialah pengetahuan, takwa dan kelakuan
baik.[1]
Dalam Al Risalatul Qusyairiyaha dinyatakan bahwa Fana
adalah menghilangkan sifat-sifat yang tercela dan Baqa artinya mendirikan
sifat-sifat yang terpuji. Barang siapa yang menghilangkan sifat tercela maka
timbullah sifat yang terpuji. Jika sifat tercela menguasai diri maka
tertutuplah sifat yang terpuji bagi seseorang.[2]
Pengertian
Fana dan Baqa menurut beberapa orang Tokoh
1. Al-Qusyairi
Fana adalah gugurnya sifat-sifat tercela, sedangkan
Baqa adalah berdirinya sifat-sifat terpuji.
2. Junaid al-Baghdadi
Tauhid bisa dicapai dengan membuat diri Fana dari
dirinya sendiri dan alam sekitarnya, sehingga keinginannya dikendalikan oleh
Allah.
3. Ibnu Al Farabi
Fana dalam pengertian mistik adalah hilangnya
ketidaktahuan dan Baqa pengetahuan yang pasti/ sejati yang diperoleh dengan
intuisi mengenai kesatuan esensial dari keseluruhan ini.
Fana dalam pengertian metafisika adalah hilangnya
bentuk-bentuk dunia fenomena dan berlanjutnya substansi universal yang tunggal.
Hal ini ia simpulkan dengan hilangnya sesuatu bentuk pada saat Tuhan
memanifestasikan (tajalli) diri-Nya dalam bentuk lain.
4. Abu
Bakar M. Kalabadzi
Fana adalah suatu keadaan yang di dalamnya seluruh
hasrat atau keinginan luruh dan hancur darinya, sehingga para Sufi tidak
mengalami perasaan apa-apa, dan kehilangan kemampuan membedakan. Dia telah
luruh dari segala sesuatu, dan sepenuhnya terserap pada suatu yang menyebabkan
dia luruh. Baqa mengandung arti bahwa para Sufi itu meluruh dari sesuatu yang
menjadi miliknya.
B. Faham antara Fana Seiring dengan Baqa.
Proses penghancuran diri (Fana) tidak dapat
dipisahkan dari Baqa (tetap, terus hidup), maksudnya adalah apabila proses
penghilangan suatu sifat (Maksiat) dari dalam sifat manusia , maka yang muncul
kemudian adalah sifat yang lainya (Taqwa) yang ada pada manusia.
C. Tujuan dan Kedudukan Fana dan Baqa.
Tujuan Fana dan Baqa adalah mencapai penyatuan secara
ruhaniyah dan bathiniyiah dengan Tuhan sehingga yang disadarinya hanya Tuhan
dalam dirinya.
Sedangkan kedudukan Fana dan Baqa merupakan hal, karena hal yang
demikian itu terjadi terus menerus dan juga karena dilimpahkan oleh Tuhan. Fana
merupakan keadaan dimana seseorang hanya menyadari kehadiran Tuhan dalam
dirinya, dan lebih merupakan alat, jembatan atau maqam menuju ittihad (penyatuan
Rohani dengan Tuhan). Tatkala Fana dan Baqa berjalan selaras dan sesuai dengan
fungsinya maka seorang Sufi merasa dirinya bersatu dengan Tuhan, suatu
tingkatan yang mencintai dan dicintai telah menjadi satu.
D.
Tokoh yang Mengembangkan
Fana dan Baqa.
Dalam sejarah tasawuf, Abu Yazid al-Bustami
disebut-sebut sebagai Sufi yang pertama kali memperkenalkan paham Fana dan
Baqa. Nama kecilnya adalah Thaifur. Nama beliau sangat istimewa dalam kalangan
kaum Sufi. Sebagai paham Abu Yazid yang dapat dianggap sebagai timbulnya
Fana dan Baqa adalah:
“Aku tahu pada Tuhan melalui diriku, hingga aku
hancur, kemudian aku tahu padanya melalui dirinya, maka aku pun hidup”.
Abu Yazid adalah salah satu tokoh sufi yang telah
melewati ma’rifah melalui Fana dan Baqa.
Ketika Abu Yazid telah fana dan mencapai baqa maka
dari mulutnya keluarlah kata-kata yang ganjil, yang jika tidak hati-hati
memahami akan menimbulkan kesan seolah-olah Abu Yazid mengaku dirinya sebagai
tuhan padahal sesungguhnya ia tetap manusia biasa, yaitu manusia
yang mengalami pengalaman bathin bersatu dengan tuhan. Diantara ucapan ganjilnya ialah: Tidak ada tuhan melainkan saya. Sembahlah saya, amat
sucilah saya, alangkah besarnya kuasaku”. Selanjutnya Abu Yazid mengatakan, “Tidak
ada tuhan selain aku, maka sembahlah aku, Maha Suci Aku, Maha Besar
Aku.”
Al Bustami pernah mengatakan bahwa pada saat dia naik
haji untuk pertama kali, yang ia lihat adalah bangunan Ka’bah dan dirinya,
kemudian ia naik haji lagi, maka selain melihat bangunan Ka’bah dan dirinya, ia
merasakan Tuhan Ka’bah. Pada haji ketiga ia tidak merasakan apa-apa lagi
kecuali kecuali Tuhan Ka’bah.
Tentang kefanaan Abu Yazid ini pernah diceritakan oleh
sahabatnya Zunnun Almishri mengutus untuk menemui Abu Yazid, ketika utusan itu
sampai, diketuklah pintu rumah Abu Yazid, terjadilah percakapan antara utusan
dan Abu Yazid:
Abu Yazid : “Siapa di luar?”
Utusan : “Kami hendak berjumpa
dengan Abu Yazid”
Ab Yazid : “Abu Yazid siapa?
Dimana dia? Sayapun mencari Abu Yazid.
Rombongan utusan itupun pulang
dan kemudian memberitahukan kepada Zunnun. Mendengar keterangan itu Zunnun
berkata, “Sahabatku Abu Yazid telah pergi kepada Allah dan dia sedang fana.”
Diceritakan bahwa: seseorang lewat rumah Abu Yazid dan mengetuk pintu. Abu Yazid bertanya: ”siapa yang engkau cari?” Jawabnya: ”Abu Yazid.” Lalu Abu Yazid mengatakan: “Pergilah”.
Dirumah ini tidak ada kecuali Allah Yang Maha Kuasa dan Maha Tinggi.”Ucapan
yang keluar dari mulut Abu Yazid itu, bukanlah kata-katanya sendiri tetapi
kata-kata itu diucapkannya melalui diri tuhan dalam Ittihad yang dicapainya
dengan tuhan. Dengan demikian sebenarnya Abu Yazid tidak mengaku dirinya
sebagai tuhan.[3]
E. Fana
dan Baqa dalam Pandangan
Al-Qur’an.
Fana dan
Baqa merupakan jalan menuju Tuhan, hal ini sejalan dengan firman Allah yang
berbunyi:
قُلْ إِنَّمَا أَنَا بَشَرٌ مِّثْلُكُمْ
يُوْحَى إِلَيَّ أَنَّمَا إِلهُكُمْ إِلهٌ وَّاحِدٌ فَمَنْ كَانَ يَرْجُوْا لِقَاءَ
رَبِّهِ فَلْيَعْمَلْ عَمَلًا صَالِحًا وَّلَا يُشْرِكْ بِعِبَادَةِ رَبِّهِ أَحَدًا.
Artinya:
“Katakanlah: Sesungguhnya aku ini manusia biasa seperti kamu, yang diwahyukan
kepadaku: "Bahwa sesungguhnya Tuhan kamu itu adalah Tuhan yang Esa."
Barangsiapa mengharap perjumpaan dengan Tuhannya, maka hendaklah ia mengerjakan
amal yang saleh dan janganlah ia mempersekutukan seorangpun dalam beribadat
kepada Tuhannya” (QS
Al-Kahfi :110)
Ayat tersebut memberi petunjuk bahwa Allah SWT. telah
memberi peluang kepada manusia untuk bersatu dengan Tuhan secara rohaniyah atau
bathiniyah, yang caranya antara lain dengan beramal shaleh, dan beribadat
semata-mata karena Allah, menghilangkan sifat-sifat dan akhlak buruk (Fana),
meninggalkan dosa dan maksiat, dan kemudian menghias diri dengan sifat-sifat
Allah, yang kemudian ini tercakup dalam konsep Fana dan Baqa, hal ini juga
dapat dipahami dari isyarat ayat di bawah ini:
كُلُّ مَنْ عَلَيْهَا فَانٍ . وَ يَبْقَى وَجْهُ رَبِّكَ
ذُو الْجَلَالِ وَ الْإِكْرَامِ .
Artinya:
“Semua yang ada di bumi itu akan binasa. Dan tetap kekal Dzat Tuhanmu yang mempunyai
kebesaran dan kemuliaan”. (Q. S.
Ar-Rahman: 26-27)
BAB III
PENUTUP
PENUTUP
Kesimpulan
Fana adalah proses menghancurkan diri bagi seorang
sufi agar dapat bersatu dengan Tuhan. Sedangkan Baqa adalah sifat yang
mengiringi dari proses fana dalam penghancuran diri untuk mencapai ma’rifat.
Secara singkat, Fana adalah gugurnya sifat-sifat tercela, sedangkan Baqa adalah
berdirinya sifat-sifat terpuji. Adapun tujuan Fana dan Baqa adalah mencapai
penyatuan secara ruhaniyah dan bathiniyiah dengan Tuhan sehingga yang
disadarinya hanya Tuhan dalam dirinya. Sedangkan kedudukan Fana dan Baqa
merupakan hal. Dalam sejarah tasawuf, Sufi yang pertama kali
memperkenalkan paham Fana dan Baqa adalah Abu Yazid al-Bustami.