Filsafat ilmu
Filsafat dan ilmu yang dikenal di
dunia Barat berasal dari zaman Yunani Kuno. Pada zaman itu keduanya termasuk
dalam pengertian episteme. Kata philosophia merupakan suatu kata padanan dari
episteme.
Istilah lain dari filsafat ilmu
adalah theory of science (teori
ilmu), meta science (adi-ilmu), science
of science (ilmu tentang ilmu).
The Liang Gie mendefinisikan
bahwa filsafat ilmu adalah segenap pemikiran reflektif terhadap persoalan-persoalan
mengenai segala hal yang menyangkut landasan ilmu maupun hubungan ilmu dengan
segala segi kehidupan manusia.
Filsafat ilmu dapat dibagi
menjadi dua, yaitu: (i) Filsafat ilmu dalam arti luas, yaitu menampung permasalahan
yang menyangkut berbagai hubungan luar dari kegiatan ilmiah; dan (ii) Filsafat
ilmu dalam arti sempit yaitu menampung permasalahan yang bersangkutan dengan
hubungan ke dalam yang terdapat dalam ilmu yaitu pengetahuan ilmiah dan
cara-cara mengusahakan serta mencapai pengetahuan ilmiah.
Sejarah Filsafat
Ilmu
Lahir pada abad ke-18 cabang
filsafat yang disebut sebagai filsafat pengetahuan di mana logika, filsafat
bahasa, matematika, metodologi, merupakan komponen-komponen pendukungnya.
Melalui cabang filsafat ini diterangkan sumber dan sarana serta tata cara untuk
menggunakan pengetahuan ilmiah. Diselidiki pula syarat-syarat yang harus
dipenuhi bagi apa yang disebut kebenaran ilmiah dan batas validitasnya.
Ruang Lingkup
Filsafat Ilmu
Filsafat ilmu sampai tahun
sembilan puluhan telah berkembang pesat sehingga menjadi bidang pengetahuan
yang amat luas dan sangat mendalam. Ruang lingkup sebagaimana yang dibahas para
filsuf dapat dikemukakan secara ringkas oleh sejumlah ahli antara lain (i).
Peter Angeles; (ii) A. Cornelius Benjamin; (iii) Israel Scheffler; dan (iv)
J.J.C.Smart.
Pertama, menurut Peter Angeles,
ilmu mempunyai empat bidang konsentrasi yang utama: (i) Telah mengenai berbagai
konsep, pranggapan dan metode ilmu berikut analisis, perluasan, dan
penyusunannya dalam memperoleh yang lebih baik dan cermat; (ii) Telaah dan
pembenaran mengenai proses penalaran dalam ilmu berikut strukturnya; (iii)
Telaah mengenai saling kaitan di antara berbagai ilmu; dan (iv) Telaah mengenai
akibat pengetahuan ilmiah bagi hal-hal yang berkaitan dengan penerapan dan
pemahaman manusia.
Kedua, A. Cornelius Benjamin.
Filsuf ini membagi pokok soal filsafat ilmu dalam 3 bidang: (i) Logika ilmu
yang berlawanan dengan epistemologi ilmu; (ii) Filsafat ilmu kealaman yang
berlawanan dengan filsafat ilmu kemanusiaan; (iii) Filsafat ilmu yang
berlawanan dengan telaah masalah filsafati dari sesuatu ilmu khusus; dan (iv)
Filsafat ilmu yang berlawanan dengan sejarah ilmu.
Ketiga, Israel Scheffler.
Lingkupannya dibagi menjadi tiga bidang yaitu: (i) Peranan ilmu dalam
masyarakat; (ii) Dunia sebagaimana digambarkan oleh ilmu; dan (iii)
Landasan-landasan ilmu.
Keempat, J.J.C. Smart. Filsuf ini
mengganggap filsafat ilmu mempunyai dua komponen utama yaitu, (i) Bahasan
analitis dan metodologis tentang ilmu; (ii) Penggunaan ilmu untuk membantu
pemecahan problem.