Pengertian Ilmu dan Filsafat Ilmu


Perkembangan ilmu mencapai puncak kejayaannya pada masa Newton. Ilmuwan Inggris melalui, antara lain, teori gaya berat dan kaidah-kaidah mekanika dalam karya tulisnya berjudul Philosophiae Naturalis Principia Mathe­matica (asas-asas matematik dari filsafat alam) terbit tahun 1687.
Pengetahuan sebagai produk berpikir merupakan obor dan semen peradaban di mana manusia menemukan dirinya dan menghayati hidup dengan lebih sempurna. Berbagai peralatan dikembangkan manusia untuk mening­katkan kualitas hidupnya dengan jalan menerapkan penge­tahuan yang diperolehnya. Proses penemuan dan pene­rapan itulah yang menghasilkan kapak dan batu zaman dulu sampai komputer hari ini. Berbagai masalah mema­suki benak pemikiran manusia dalam menghadapi ke­nyataan hidup sehari-hari dan beragam buah pemikiran telah dihasilkan sebagai bagian dari sejarah kebudaya­annya. Meskipun kelihatannya betapa banyak dan ber­aneka ragamnya buah pemikiran itu, namun pada hakikat­nya upaya manusia d.alam memperoleh pengetahuan di­dasarkan pada tiga masalah pokok yakni: Apakah yang ingin kita ketahui? (Ontologi) Bagaimanakah cara kita memperoleh pengetahuan? (Epistemologi) Dan apakah nilai pengetahuan tersebut bagi kita? (Aksiologi)

Pertanyaan tersebut kelihatannya sederhana, tetapi mencakup sebuah permasalahan besar yang menyangkut hak asasi. Berbagai buah pemikiran besar sebenarnya banyak dihasilkan dari serangkaian tiga pertanyaan tadi. Ilmu merupakan salah satu dari buah pemikiran manusia dalam menjawab pertanyaan ini. Ilmu merupakan salah satu dari pengetahuan manusia. Sehingga ilmu pengetahuan dapat diartikan sebagai keseluruhan dari pengetahuan yang terkoordinasi mengenai pokok pemikiran tertentu. Hubungan pengetahuan dan berpikir tersebut dapat dilihat pada diagram (Diagram 3.1.)
Pengertian ilmu juga dapat dirujukkan pada kata ‘ilm (Arab), science (Inggris), watenschap (Belanda), dan wissenschaf (Jerman). R. Harre menulis ilmu adalah a collection of well-tested theories which explain the patterns regularities and irregularities among carefully studied phenomena, atau kumpulan teori yang sudah diuji coba yang menjelaskan tentang pola-pola yang teratur atau pun tidak teratur di antara fenomena yang dipelajari secara hati­-hati.
Secara umum (science in general) berarti segenap pengetahuan ilmiah yang dipandang sebagai suatu ke­bulatan atau ilmu merupakan bidang pengetahuan ilmiah yang mempelajari pada bidang-bidang kajian tertentu seperti cabang ilmu antropologi, biologi, geografi, atau sosiologi. Lebih lanjut, Harre menjelaskan bahwa ada dua komponen utama yang dapat digunakan untuk meng­investigasi ilmu. Kita bertanya tentang fenomena sesuatu yang mana dianjurkan untuk mengetahuinya, dan berta­nya tentang subject matter dan content dari pengetahuan teorinya.
Dalam pengertian yang lain, ilmu merupakan per­kataan yang memiliki makna ganda, artinya mengandung lebih dari satu arti. Sering kali ilmu diartikan sebagai penge­tahuan, tetapi tidak semua pengetahuan dapat dinamakan sebagai ilmu, melainkan pengetahuan yang diperoleh dengan cara-cara tertentu berdasarkan kesepakatan para ilmuwan.
Pengetahuan yang dapat disepakati sehingga menjadi suatu “ilmu”, menurut Archie J. Bahm dapat diuji dengan enam komponen utama yang disebut dengan six kind of science, yang meliputi: (i) problems, (ii) attitude, (iii) method, (iv) activity, (v) conclusions, dan (vi) effects.
Dari pendapat Bahm tersebut dapat diartikan bahwa ilmu lahir dari pengembangan suatu permasalahan-per­masalahan (problems) yang dapat dijadikan sebagai ke­gelisahan akademik (kasus ilmiah atau objek ilmu). Atas dasar problem, para kreator akan melakukan suatu sikap (attitude) untuk membangun suatu metode-metode dan kegiatan-kegiatan (method and activity) yang bertujuan untuk melahirkan suatu penyelesaian-penyelesaian kasus (conclusions) dalam bentuk teori-teori. Konklusi-konklusi dapat diuji (diterima) dengan mempertimbangkan dari akibat-akibat yang ditimbulkan oleh teori (effects). Setiap individu yang berpotensi ilmiah dapat diketahui dari pengkayaan attitude yang meliputi curiosity (keingintahu­an), speculativeness (beraru bereksperimen), serta willingness to be objective, suatu sikap untuk selalu objektif.
Objek ilmu meliputi objek material dan objek formal. Objek material adalah sesuatu yang dijadikan sasaran penyelidikan, seperti tubuh manusia adalah objek material ilmu kedokteran. Adapun objek formal adalah cara pandang tertentu tentang objek material tersebut, seperti pendekatan empiris dan eksperimen dalam ilmu kedokteran.
Jika sudah menjadi ilmu pengetahuan, maka klasifikasi ilmu berkembang secara umum menjadi beragam cabang: (i) natural sciences, seperti ilmu fisika, kimia, astronomi, biologi, botani; (ii) i seperti ilmu sosiologi, ekonomi, politik, antropologi; serta humanity science seperti ilmu bahasa, agama, kesusastraan, kesenian, dan filsafat.
Dari beberapa penjelasan di atas, ilmu merupakan suatu perangkat fundamental dalam penciptaan peradab­an. Dalam ilmu termuat pengetahuan manusia yang bersifat alamiah (natural) kemudian dikonstruksi menjadi teori-teori yang dapat memberikan konklusi bagi setiap persoalan-persoalan kehidupan.


Related Posts

Subscribe Our Newsletter