BAB
I
PENDAHULUAN
Latar
Belakang
Dalam
melakukan penelitian, khususnya penelitian yang siaftanya uji hipotesis, maka
mau tidak mau kita harus menelaah teori-teori yang akan digunakan. Hal ini
dilakukan, karena suatu hipoteisi, dugaan, asumsi, dibangun berdasarkan teori
yang dihasilkan dari suatu bacaan.
Teori
adalah alat terpenting suatu ilmu pengetahuan. Artinya, tanpa teori berarti
hanya ada serangkaian fakta atau data saja, dan tidak ada ilmu pengetahuan.
Teori itu: (1) menyimpulkan generalisasi fakta-fakta, (2) memberi kerangka orientasi
untuk analisis dan klasifikasi fakta-fakta, (3) meramalkan gejala-gejala baru,
mengisi kekosongan pengetahuan tentang gejala-gejala yang telah ada atau sedang
terjadi.
Makalah
ini membahas tentang definisi teori, penempatannya
dalam sebuah
penelitian kuantitatif dan bentuk-bentuk
alternative yang dapat dipakai dalam rencana tertulis. Dalam penelitian
Kuantitatif, Hipotesa, pertanyaan penelitian dan tujuan harus dilandaskan pada
kerangka pengetahuan teoritis. Dalam disertasi kuantitatif bagian rencana penelitian
dapat digunakan untuk menjelaskan teori yang menjadi landasan penelitian.
Rumusan
Masalah
Dari penjelasan diatas,
maka dapat dirumuskan beberapa masalah yang akan d bahas antar lain:
1. Menjelaskan
tentang penggunaan teori Kualitatif dan Kuantitatif
2. Menjelaskan
tentang tinjawan pustaka kualitatif dan kuantitatif
C.TUJUAN
PENULISAN
Tujuan
dari penulisan makalah ini adalah agar memberikan pengetahuan bagi pembaca
tentang bagaimana Pengunaan
Teori Dalam sebuah Penelitian Kantitatif,kuantitatif dan penggunaan tinjawan
literature (pustaka).
BAB II
PEMBAHASAN
A.
Pengunaan Teori Dalam Penelitian
Kantitatif
Teori dalam penelitian kuantitatif itu
menjadi factor yang sangat penting sekali dalam sebuah penelitian itu sendiri.
Bahwa separuh dari kegiatan penelitian adalah proses teori atau proses
berteori. Pada proses ini peneliti harus melakukan analisis-analisis deduktif
untuk mencoba menjawab permasalahan yang sedang dihadapi, pada bagian ini pula
dinamakan dengan teori berfikir secara rasionalis logis[1]
Pada penelitian kuantitatip, teori
paradigma digunakan untuk menuntun masalah peneliti, menemukan
hipotesis,menemukan konsep-konsep , menemukan metodologi, dan menemukan
alat-alat analisis data. Karna itu amat penting teori dibicarakan dalam setiap
pembahasan penelitian kuantitatip, mengingat peran nya yang sangat dominan.
Melihat pentingnya kedudukan teori dalam penelitian kuantitatif , maka sebuah
keharusan setiap peneliti untuk memahami sebuah teori dan mengerti kedudukannya
dalam penelitiannya, bahkan untuk keperluan ini , peneliti dituntut untuk
me-mapping teori dalam menemukan Khazanah ilmu pengetahuan secara luas mengenai
permasalahan nyang sedang atau akan dibahas dan selanjutnya menemukan posisi
penelitian dalam Khazanah pengetahuan tersebut.
Menurut Klinger (1979), teori adalah
serangkaian variabel yang dibentuk menjadi dalil atau hipotesa yang berhubungan
yang membuat sebuah pandangan sistematis tentang fenomena dengan menentukan
hubungan antar variabel untuk menjelaskan fenomena yang alamiah. Bagian teori
dalam penelitian kuantitatif dinamakan grounded
theory, pemikiran teoritis, atau sudut pandang teoritis. Jadi hasil teori
itu, Dengan demikian Teori merupakan serangkaian
bagian ( variable) yang saling berhubungan, yang dibentuk menjadi dalil atau
hipotesa yang menentukan hubungan antar variable ( khususnya dalam hal ukuran
atau arah). Labovitz dan Hagedom(1971) menambah definisi dengan ide “ pemikiran
teoritis” yang didefinisikan sebagai ‘ menentukan” bagaimana dan mengapa
variable-variabel dan pernyataan saling berhubungan.[2]
Merriam mengelompokkan teori kedalam
tiga jenis. Pertama, Grounded Theory,
menjelaskan kategori besar fenomena dan paling banyak ditemukan di ilmu
pengetahuan alam. Kedua, Middle Range
Theory, termasuk antara hipotesa pekerjaan kecil kehidupan sehari-hari dan
teori besar secara keseluruhan. Ketiga, Substantive
Theory, terbatas pada suatu masalah tertentu.
B.
Penggunaan
Teori Dalam Penelitian Kualitatif
Sebagaimana
stereotip teoretis dalam penelitian kuantitatif, terkadang ketika suatu masalah
kualitatif harus dipecahkan, peneliti cenderung dipengaruhi oleh stereotip
teoretis kuantitatif dengan menggunakan teori untuk menjawabnya. Padahal, pada
prinsipnya, penelitian kualitatif menggunakan pendekatan induktif, dengan
demikian teori sesungguhnya adalah alat yang akan diuji kemudian dengan data
dan instrument penelitinya. Selain itu, kualitatif deskriptif juga berbeda pada
cara ia memperlakukan teori, yaitu lebih banyak dipengaruhi oleh pandangan-
pandangan deduktif- kualitatif. Bahkan di dalam sejarah penelitian kualitatif,
pendekatan kualitatif- deskriptif ini sendiri tidak mengakar pada penelitian
kualitatif, namun hanya kebiasaan dan pengaruh antara pandangan kuantitatif-
kualitatif sajalah akhirnya melahirkan tipe penelitian kualitatif deskriptif
tersebut, sehingga tipe penelitian kualitatif deskriptif lebih tepat disebut
sebagai quasi- kualitatif.
Pada
umumnya pula penelitian- penelitian kualitatif deskriptif berupaya keras agar
pembahasan mereka lebih cenderung kualitatif daripada kuantitatif, dengan
mendekati makna dan ketajaman analisis- logis dan juga dengan cara menjauhi
statistic “sejauh- jauhnya”, maka kualitatif deskriptif diterima sebagai salah
satu tipe penelitian kualitatif.
Beberapa
ahli penelitian kualitatifsepakat bahwa teorisasi daiam penelitian kualitatif
menggunakan beberapa model.
1. Model deduksi,
di mana teori masih menjadi alat penelitian sejak memilih dan menemukan
masalah, membangun hipotesis, maupun melakukan pengamatan di lapangan sampai
dengan menguji data. Model penggunaan teori inilah yang biasa dilakukan pada
penelitian deskriptif-kualitatif. Seperti yang telah dijelaskan di depan, bahwa
tipe penelitian kualitatif ini masih berbau kuantitatif dan kelahirannya bukan
dari tradisi kualitatif, namun karena pengaruh pragmatis antarariset-riset
kuantitatif dan riset riset kualitatif.
2.
Model
induksi, dimaksud bahwa peneliti tak perlu tahu tentang
sesuatu teori, akan tetapi langsung ke lapangan. Teori tidak penting di sini,
namun datalah yang paling penting. Ada dua pendapat yang berbeda dalam model
ini, pertama mengatakan bahwa peneliti harus memfokus perhatiannya pada data di
lapangan sehingga segala sesuatu tentang teori yang berhubungan dengan
penelitian menjadi tak penting. Peneliti dalam hal ini adalah "buta"
terhadap teori atau tak perlu membawa-bawa teori ke lapangan. Data menjadi amat
sangat penting sedangkan teori akan dibangun berdasarkan temuan data di
lapangan. Pada penelitian grounded
proses pembutaan terhadap teori adalah penting untuk menghindari pengaruh teori
terhadap pandangan- pandangan peneliti terhadapt data. Peneliti tak perlu memahami
teori tentang data yang akan diteliti. Karena data adalah segalanya yang dapat
memecahkan semua masalah penelitian. Peneliti berkeyakinan bahwa data harus
terlebih dahulu diperoleh untuk mengungkapkan misteri penelitian dan teori baru
akan dipelajari apabila seluruh data sudah diperoleh. Kedua, Para ahli mengatakan bahwa pemahaman terhadap teori bukan
sesuatu yang haram, namun data tetap menjadi focus peneliti di lapangan. Teori
menjadi tak penting, namun pemahaman objek penelitian secara teoritis juga
membantu penelitian di lapangan saat mengumpulkan data.
1. Teori Deduktif
Teorisasi dengan model deduktif tak
asing lagi dalam penelitian sosial, di mana teorisasi dilakukan secara
deduktif. Model umum teorisasi deduktif seperti yang umumnya dilakukan di berbagai penelitian kuantitatif dan
masih memengaruhi format kualitatif deskriptif merupakan teorisasi yang paling sering digunakan karena format kualitatif
deskriptif paling banyak digunakan
dalam penelitian kualitatil
Teori
digunakan sebagai awal menjawab pertanyaan penelitian, bahwa sesungguhnya
pandangan
deduktif menuntun penelitian dengan terlebih dahulu menggunakan teori sebagai
alat, ukuran dan bahkan instrumen untuk membangun hipotesis, sehingga peneliti
secara tidak langsung akan menggunakan teori sebagai "kacamata
kuda"nya dalam melihat masalah penelitian. Lepas dari berbagai kontroversi
terhadap teorisasi dalam format- penelitian macam ini, namun dalam tradisi
teorisasi model ini dibenarkan sebagai slah satu model yang paling banyak digunakan
karena dalam format penelitian kualitatif deskriptif dapat diterima sebagai
jalan keluar terhadap kesulitan- kesulitan metodis di lapangan terhadap
berbagai kemungkinan. Teorisasi deduktif umumnya diakhiri dengan bahasa- bahasa
tentang teori tersebut diterima mendukung dan memperkuat, meragukan dan
mengkritik, dan merevisi atau bahkan membantah dan menolak.
1. Menerima
teori artinya bahwa hasil- hasil penelitian ternyata mendukung teori tersebut
sehingga hasil penelitian dapat memperkuat teori yang ada, dengan demikian
teori semakin kokoh dibantahkan.
2. Meragukan
dimaksud adalah bahwa teori dalam posisi dapat dikritik karena telah mengalami
perubahan- perubahan disebabkan karena waktu yang berbeda, lingkungan dan
fenomena berbeda, untuk itu perlu dikritik dan merevisi teori tersebut.
3. Sedangkan
membantah teori dimaksudkan bahwa berdasarkan hasil penelitian, maka semua
aspek teori tidak dapat dipertahankan karena waktu yang berbeda, lingkungan
yang berbeda, dan fenomena yang sudah
jauh berbeda, dengan demikian teori tidak dapat dipertahankan atau direvisi
lagi.
2.
Teori
Induktif
Melakukan
teorisasi dengan model induktif selain berbeda juga bertolak belakang teorisasi
dengan model induksi deduktif. Perbedaanya adalah cara pandang terhadap teori,
di mana teorisasi deduktif menggunakan teori sebagai pijakan awal melakukan
teorisasi, sedangkan teori induktif menggunakan data sebagai pijakan awal
melakukan penelitian, bahwkan dalam format induktif tidak mengenal teorisasi
sama sekali. keunggulan model induktif
ini bahwa penelitian dilakukan pada tingkat paling mendasar sehingga sering
kali peneliti memulai dari titik nol sebuah penelitian, yaitu pada titik di
mana suatu fenomena itu belum terungkapkan dalam berbagai teori dan fenomena
sosial yang terbaca. Karena itu, model ini di samping memiliki ketiga kemampuan
seperti yang dijelaskan pada model deduktif, yaitu (1) Menerima teori karena
mendukung teori, (2) Meragukan teori kemudian mengkritiknya, (3) Membantah
teori kemudian menolaknya, Namun juga
(4) Membangun sebuah teori baru yang sebelumnya belum pernah ada. kemampuan
yang ke-4 itulah kelebihan model induktif di mana penelitian dilakukan terhadap
masalah yarig masih sangat baru bahwa prematur dan bersifat eksplorasi, maka dengan
penelitian inilah kemudian sebuah teori inti dibangun berdasarkan pada tindakan
eksplorasi yang dilakukan oleh peneliti.
Kunci
kendali memilih teori dalam penelitian adalah selain memahami konteks formal
dan material sebuah teori, juga dituntut memahami teori itu baik pada konteks
sejarah maupun konteks social di mana teori itu dilahirkan. Sehingga apabila
teori itu digunakan, peneliti akan memahami struktur masing- masing teori itu
bahkan mampu menyusun sebuah skema perkembangan teori dari masa lalu sampai
pada konteks di mana seseorang melakukan penelitian.
C. Struktur Teori
Ilmu social adalah ilmu yang sangat
canggih pada waktu itu dalam hazanah ilmu pengetahuan manusia. Perkembangan
ilmu social yang begitu pesat mengalahkan perkembangan ilmu alam disebabkan
karena fenomena manusia berkembang melebihi pesatnya fenomena alam. Apabila
pada awal- awal ilmu social ketika ilmu ini memisahkan diri dari filsafat
dikatakan bahwa ilmu social adalah ilmu yang tidak memiliki jati diri, dapatlah
diterima karena pada saat itu semua ilmuan yang berjasa mengembangkan ilmu
social berasal dari ilmu ilmu alam, sedangkan ilmu alam sendiri sudah
berkembang pesat.
Melihat kompleksnya fenomena social
maka ilmu social berkembang begitu kompleks dan begitu rumit. Namun apabila
disusun strukturnya, maka dalam ilmu- ilmu sosial selain paradigma, dikenal
pula struktur ilmu soisal, seperti rumpun teori yang dapat dikelompokan kedalam
grand theory, middle theory, dan application theory. Dari struktur ini
kemudian menghasilkan sebuah konseptualisasi (rancangan) dan metodologi. Grand theory umumnya adalah teori- teori
makro yang mendasari berbagai teori. Contohnya, teori- teori structural-
fungsional dan teori konflik selalu disebut menjadi grand theory dalam ilmu- ilmu social.
Disebut
grand theory, karena sampai saat ini
teori- teori itu menjadi dasar lahirnya teori- teori lain dalam berbagai level,
sementara disebut makro, karena teori- teori ini berda dilevel makro, ia becara
tentang struktur dan tidak berbicara fenomena- fenomena secara mikro. Sementara
teori yang disebut middle theory
adalah teori yang berada pada level mezzo, level menengah, di mana focus
kajiannya makro dan juga mikro. Teori- teori strukturalisasi Anthony Gidden
salah satu contoh teori mezo yang dimaksud. Sedangkan teori disebut sebagai application theory karena teori ini
berada di level mikro dan siap diaplikasikan dalam konseptualisasi. Teori
kebijakan public, teori pertukaran, teori interaksi simbolik adalah antara lain
contoh- contoh teori aplikasi. Yang penting dalam kajian teori pada suatu
penelitian, teori- teori yang digunakan (grand
theory), middle theory, dan application
theory) seperti dalam skema di halaman sebelumnya, harus relevan satu
dengan lain secara structural.
Ketika
sebuah masalah penelitian telah ditemukan, maka peneliti mencoba membahas
masalah penelitian tersebut dengan teori- teori yang dipilihnya sebagaimana
dijelaskan di atas, amalis deduktif dengan menggunakan teori akan sangant
membantu peneliti tidak saja pada saat menemukan masalah, akan tetapi juga
untuk membangun hipotesis, menyusun kerangka metodologi, maupun alat- alat
analisis yang digunakan nanti, sampai pada saat pembahasan hasil penelitian ,
bahwa teori dibahas untuk dikritik atau disempurnakan.
Apabila
kita kembali melihat hubungan antara paradigma, teori dan metodologi seperti
pada gambar di atas, maka sudah jelas bahwa dalam suatu penelitian kuantitatif,
pemilihan paradigma harus mendapatkan prioritas sebagaimana teori dan metode
dipilih dalam penelitian. Karena ketiga komponen itu tidak saling pisah dalam
penelitian. Ketika peneliti memulai dari sebuah paradigma, maka peneliti akan
memahami pendekatan paradigma apa yang akan dianutnya dalam penelitian.
Pada
akhirnya metode bekerja untuk menghasilkan teori yang paling lemah yang
proposisi yaitu statement imbangan
antara fenomena satu dan fenomena lainya. Proposisi apabila dikembangkan dan
dikaji berulang- ulang akan menjadi konsep, konsep yang telah diuji dan
diterima akan menjadi variable, kemudian akan menjadi ilmu bahkan disiplin
ngaruhi teori dan metode.
D. Bentuk Teori
Bentuk Teori Dapat berupa serangkaian hipotesa, pernyataan logis ”
jika....maka” atau model visual. [3]
Sebuah teori dapat
dinyatakan sebagai serangkaian pernyataan ” jika....maka” yang menjelaskan
mengapa kita mengharap variabel bebas untuk mempengaruhi atau mengakibatkan
variabel terikat Contoh:
” jika frekuansi interaksi antara dua orang atau lebih
meningkat kemungkinan mereka saling menyukai akan meningkat
E. Penempatan Teori
Dalam penelitian kuantitatif teori ditempatkan di awal
rencana penelitian (deduktif) yang tujuannya untuk menguji suatu teori. Dengan
kata lain menentukan teori terlebih dahulu, kemudian mengumpulkan data untuk
menguji dan menguji teori dengan hasil penelitian. Peneliti menguji teori
dengan membuat sebuah hipotesa yang mengandung variabel yang diukur menggunakan
unsur-unsur instrument.[4]
Ada empat penempatan teori dalam penelitian kuantitatif,
yaitu:
1.
Dalam pendahuluan, merupakan pendekatan deduktif yang
dapat ditemui di jurnal. Namun pembaca akan sulit membedakan dasar teori dari
bagian-bagian lain.
2.
Dalam tinjauan pustaka, merupakan perluasa logis atau
bagian dari pustaka. Namun pembaca akan sulit memandang teori karena terpisah
dengan tinjauan ilmiah pustaka.
3.
Setelah hipotesa, dapat menjelaskan bagaimana dan mengapa
variabel-variabel itu berhubungan. Namun penulis dapat memasukkan lebih banyak
teori setelah hipotesa dan menghilangkan diskusi tambahan tentang asal dan
penggunaan teori.
4.
Dalam bagian yang terpisah, pembaca akan lebih memahami
teori dan memungkinkan pembaca untuk dapat menidentifikasi penelitian. Namun
pembaca tidak akan mudah menghubungkan dengan bagian-bagian lain proses
penelitian.
F. Model
Penulisan Sudut Pandang Dalam Teori
1. Melihat
pustaka berdasarkan disiplin ilmu untuk mencari suatu teori.
2. Melihat
penelitian-penelitian sebelumnya yang berhubungan dengan topik.
3. Mengajukan
pertanyaan pelangi.
4. Menulis
bagian teori (masukkan teori, dalil utama teori, informasi tentang penggunaan
teori dalam penelitian terdahulu dan aplikasinya, dan pernyataan yang
menjelaskan bagaimana teori tersebut berhubungan dengan penelitian ke dalam
pembahasan teori kuantitatif
G.
Tinjawan Literatur (Pustaka)
Pengertian Literatur adalah bahan
atau sumber ilmiah yang biasa digunakan untuk membuat suatu karya tulis atau
pun kegiatan ilmiah lainnya. Literatur ini mirip dengan daftar pustaka atau
referensi. Jika anda kebingungan untuk mencari materi dari suatu ilmu
pengetahuan, maka anda akan mencari referensi ke sumber lain. Referensi ke
sumber lain itulah yang dinamakan literature.[5]
Literatur review atau tinjawan
pustaka pada penelitian kuantitatip adalah suatu tahap yang harus dilakukan
karena tahap ini bagian penting untuk; pertama
menentukan “state of the art” (
sebuah langkah mutakhir dalam sebuah penelitian yang akan dilakukan). Dimana
penelitian yang akan dilakukan dapat dibedakan dengan penelitian lain diman
apun. Jadi tinjawan pustaka ini dilakukan untuk melihat dimana teori teoristis
yang akan dikembangkan.
Kedua: tinjawan pustaka juga digunakan
untuk menentukan teori apa yang digunakan, dan dari teori itu, penelitu harus
dapat menentukan hipotesis penelitian dan variable-variabel penelitiannya. Pada
penelitian kiuuantitatif, keharusan untuk mengunakan teori untuk menjelaskan
variable yang digunakan atau kata lain
setiap pariabel yang digunakan harus memiliki teori. Variabel yang tidak
memiliki teori harus ditinggalkan sampai ditemukan teorinya atau mengganti
variable yang sesuay dengan teori.
Begitu pentingnya daftar pustaka
sehingga di dalam tahap ini perlu diperhatikan beberapa hal, yaitu bagaimana
penelusuran pustaka dilakukan, bagaimana menilai pustaka dan mengintegrasikan
pustaka kedalam penelitian yang akan digunakan.
Tinjawan literatur adalh langkah
membahas penerbitan informasi dalam bidang subjek yang ada kaitan erat dengan
penelitian yang akan dilakukan dalam jangka waktu tertentu, biasa juga hasil
sederhana dari sumber-sumber, tetapi biasanya memiliki organisasi dan
mengabunngkan baik ringkasan dan sintesis.
Ringkasan adalah rangkap informasi
penting dari sumber, tetapi proses sintesis adalah melakukan analisis terhadap
naskah keperpustakaan orang lainberdasarkan kebutuhan teoristis peneliti.
Gagasan utama tinjawan literature bahwa penelitian itu tidak memiliki awal atau
akhir.
1. Tujuan
Tinjawan Literatur
Ada beberapa tujuan dari tinjawan
literatur yang dapat diinpestasikan seperti di bawah ini
1. Untuk menunjukan kemampuan ilmiah
penieliti mengidentiffikasikan informasi yang releven dan untuk garis besar
pengetahuan yang ada
2. Untuk mengidentifikasikan ‘gap’ dalam penelitian, ini bahwa penelitian
berupaya untuk mengidentifikasikan lokasi terbitnya literatur ,posisi pekerjaan
dalam konteks penelitian sebelumnya dan menciptakan sebuah ruang penelitian
3. Untuk mengevaluasi dan melakukan
sintesis informasi sejalan denan konteks-konteks yang telah peneliti tentukan
sendiri untuk penelitian.
4. Untuk menghasilkan alas an atau
justifikasi setudi.
5. Untuk mengidentifikasikan kesenangan
dalam literature.
6. Untuk menghindari penelitian yang
sama nonverrifikasi (setidaknya ini akan menghemat waktu dan dapat menghentikan
peneliti dari membuat kesalahan yang sama seperti orang lain).
7. Untuk memulia melaksanakan suatu
penelitian dari mana orang lain telah mencapai suatu tahap yang tida perlu lagi
di ulangi.
8. Untuk mengidentifikasikan orang
lalin yang bekerja di bidang yang sama.
9. Untuk meningkatkan pengetahuan
peneliti tentang luas wilayah subjek penelitian yang dilakukan
10. Untuk mengidentifikasikan
mengidentifikasi kesenjangan dalam literature di dalam khazanah pengetahuan
yang di tekuninya.
H.
Sumber-Sumber Tinjawan Literatur
Ada tiga suber literature yang bias
digunakan di dalam penelusuran literatur yang seringkalil di gunakan
1. Sumber Primer
2. Sumber sekunder
3. Sumber tersier
Langkah-Langkah Umum Menulis Tinjawan Literatur
1. Berorientasi pada daftar bacaan
2. Organisasi tematik
3. Membaca lebih banyak
4. Menulis bagian individu
Cara Menulis Tinjawan Literatur
1. Latar belakng
2. Naskah
3. Temuan
4. Kesimpulan
5. Penelitian lebih lanjut
BAB
III
PENUTUP
A.
Kesiimpulan
Kunci kendali memilih teori dalam penelitian
adalah selain memahami konteks formal dan material sebuah teori, juga dituntut
memahami teori itu baik pada konteks sejarah maupun konteks social di mana
teori itu dilahirkan. Sehingga apabila teori itu digunakan, peneliti akan
memahami struktur masing- masing teori itu, bahkan mampu menyusun sebuah skema
perkembangan teori dari masa lalu sampai pada konteks di mana seseorang
melakukan penelitian.
I.
Tinjawan Literatur (Pustaka)
Pengertian Literatur adalah bahan
atau sumber ilmiah yang biasa digunakan untuk membuat suatu karya tulis atau
pun kegiatan ilmiah lainnya. Literatur ini mirip dengan daftar pustaka atau
referensi. Jika anda kebingungan untuk mencari materi dari suatu ilmu
pengetahuan
Sumber-Sumber
Tinjawan Literatur
Ada tiga suber literature yang bias
digunakan di dalam penelusuran literatur yang seringkalil di gunakan
4. Sumber Primer
5. Sumber sekunder
6. Sumber tersier
7.
Langkah-Langkah Umum Menulis
Tinjawan Literatur
5. Berorientasi pada daftar bacaan
6. Organisasi tematik
7. Membaca lebih banyak
8. Menulis bagian individu
9.
Cara Menulis Tinjawan Literatur
6. Latar belakng
7. Naskah
8. Temuan
9. Kesimpulan
Penelitian lebih lanjut
DAFTAR PUSTAKA
Arikunto, Sharsisni, 1996, Prosedur Penelitian, Rineka Cipta, Jakarta.
Hasibuan, Melayu SP., 1997, Managemen Sumber Daya Manusia, Gunung Agung, Jakarta.
Burhan, Bungin, 2007, Penelitian Kuantitatif, Putra Grapika,
Jakarta.
[1] Abuddin
Nata, Metodologi Studi Islam, (Jakarta: Rajagrafindo Persada, Cetakan
Kesembilan, 2004), hlm. 199.
[2] Singarimbun & Effendi,1989, Metode
Penelitian Survei, hlm.18.
[3] Singarimbun
& Effendi,1989, Metode Penelitian Survei, hlm. 17.
[4] http://lubisgrafura.wordpress.com/2009/01/20.
[5] http://www.anjasvias.com/2011/06/21/