MAKALAH PENGUNAAN TEORI DALAM PENELITIAN KUALITATIF DAN KUANTITATIF DAN TINJAWAN PUSTAKA


BAB I
PENDAHULUAN
Latar Belakang

Dalam melakukan penelitian, khususnya penelitian yang siaftanya uji hipotesis, maka mau tidak mau kita harus menelaah teori-teori yang akan digunakan. Hal ini dilakukan, karena suatu hipoteisi, dugaan, asumsi, dibangun berdasarkan teori yang dihasilkan dari suatu bacaan.
Teori adalah alat terpenting suatu ilmu pengetahuan. Artinya, tanpa teori berarti hanya ada serangkaian fakta atau data saja, dan tidak ada ilmu pengetahuan. Teori itu: (1) menyimpulkan generalisasi fakta-fakta, (2) memberi kerangka orientasi untuk analisis dan klasifikasi fakta-fakta, (3) meramalkan gejala-gejala baru, mengisi kekosongan pengetahuan tentang gejala-gejala yang telah ada atau sedang terjadi.
Makalah ini membahas tentang definisi teori, penempatannya dalam sebuah penelitian kuantitatif dan bentuk-bentuk alternative yang dapat dipakai dalam rencana tertulis. Dalam penelitian Kuantitatif, Hipotesa, pertanyaan penelitian dan tujuan harus dilandaskan pada kerangka pengetahuan teoritis. Dalam disertasi kuantitatif bagian rencana penelitian dapat digunakan untuk menjelaskan teori yang menjadi landasan penelitian.
Rumusan Masalah
Dari penjelasan diatas, maka dapat dirumuskan beberapa masalah yang akan d bahas antar lain:
1.      Menjelaskan tentang penggunaan teori Kualitatif dan Kuantitatif
2.      Menjelaskan tentang tinjawan pustaka kualitatif dan kuantitatif
C.TUJUAN PENULISAN
Tujuan dari penulisan makalah ini adalah agar memberikan pengetahuan bagi pembaca tentang bagaimana Pengunaan Teori Dalam sebuah Penelitian Kantitatif,kuantitatif dan penggunaan tinjawan literature (pustaka).


BAB II
PEMBAHASAN
A.    Pengunaan Teori Dalam Penelitian Kantitatif
Teori dalam penelitian kuantitatif itu menjadi factor yang sangat penting sekali dalam sebuah penelitian itu sendiri. Bahwa separuh dari kegiatan penelitian adalah proses teori atau proses berteori. Pada proses ini peneliti harus melakukan analisis-analisis deduktif untuk mencoba menjawab permasalahan yang sedang dihadapi, pada bagian ini pula dinamakan dengan teori berfikir secara rasionalis logis[1]
Pada penelitian kuantitatip, teori paradigma digunakan untuk menuntun masalah peneliti, menemukan hipotesis,menemukan konsep-konsep , menemukan metodologi, dan menemukan alat-alat analisis data. Karna itu amat penting teori dibicarakan dalam setiap pembahasan penelitian kuantitatip, mengingat peran nya yang sangat dominan. Melihat pentingnya kedudukan teori dalam penelitian kuantitatif , maka sebuah keharusan setiap peneliti untuk memahami sebuah teori dan mengerti kedudukannya dalam penelitiannya, bahkan untuk keperluan ini , peneliti dituntut untuk me-mapping teori dalam menemukan Khazanah ilmu pengetahuan secara luas mengenai permasalahan nyang sedang atau akan dibahas dan selanjutnya menemukan posisi penelitian dalam Khazanah pengetahuan tersebut.
Menurut Klinger (1979), teori adalah serangkaian variabel yang dibentuk menjadi dalil atau hipotesa yang berhubungan yang membuat sebuah pandangan sistematis tentang fenomena dengan menentukan hubungan antar variabel untuk menjelaskan fenomena yang alamiah. Bagian teori dalam penelitian kuantitatif dinamakan grounded theory, pemikiran teoritis, atau sudut pandang teoritis. Jadi hasil teori itu, Dengan demikian Teori merupakan serangkaian bagian ( variable) yang saling berhubungan, yang dibentuk menjadi dalil atau hipotesa yang menentukan hubungan antar variable ( khususnya dalam hal ukuran atau arah). Labovitz dan Hagedom(1971) menambah definisi dengan ide “ pemikiran teoritis” yang didefinisikan sebagai ‘ menentukan” bagaimana dan mengapa variable-variabel dan pernyataan saling berhubungan.[2]
Merriam mengelompokkan teori kedalam tiga jenis. Pertama, Grounded Theory, menjelaskan kategori besar fenomena dan paling banyak ditemukan di ilmu pengetahuan alam. Kedua, Middle Range Theory, termasuk antara hipotesa pekerjaan kecil kehidupan sehari-hari dan teori besar secara keseluruhan. Ketiga, Substantive Theory, terbatas pada suatu masalah tertentu.
B.  Penggunaan Teori Dalam Penelitian Kualitatif
Sebagaimana stereotip teoretis dalam penelitian kuantitatif, terkadang ketika suatu masalah kualitatif harus dipecahkan, peneliti cenderung dipengaruhi oleh stereotip teoretis kuantitatif dengan menggunakan teori untuk menjawabnya. Padahal, pada prinsipnya, penelitian kualitatif menggunakan pendekatan induktif, dengan demikian teori sesungguhnya adalah alat yang akan diuji kemudian dengan data dan instrument penelitinya. Selain itu, kualitatif deskriptif juga berbeda pada cara ia memperlakukan teori, yaitu lebih banyak dipengaruhi oleh pandangan- pandangan deduktif- kualitatif. Bahkan di dalam sejarah penelitian kualitatif, pendekatan kualitatif- deskriptif ini sendiri tidak mengakar pada penelitian kualitatif, namun hanya kebiasaan dan pengaruh antara pandangan kuantitatif- kualitatif sajalah akhirnya melahirkan tipe penelitian kualitatif deskriptif tersebut, sehingga tipe penelitian kualitatif deskriptif lebih tepat disebut sebagai quasi- kualitatif.
Pada umumnya pula penelitian- penelitian kualitatif deskriptif berupaya keras agar pembahasan mereka lebih cenderung kualitatif daripada kuantitatif, dengan mendekati makna dan ketajaman analisis- logis dan juga dengan cara menjauhi statistic “sejauh- jauhnya”, maka kualitatif deskriptif diterima sebagai salah satu tipe penelitian kualitatif.
Beberapa ahli penelitian kualitatifsepakat bahwa teorisasi daiam penelitian kualitatif menggunakan beberapa model.
1.      Model deduksi, di mana teori masih menjadi alat penelitian sejak memilih dan menemukan masalah, membangun hipotesis, maupun melakukan pengamatan di lapangan sampai dengan menguji data. Model penggunaan teori inilah yang biasa dilakukan pada penelitian deskriptif-kualitatif. Seperti yang telah dijelaskan di depan, bahwa tipe penelitian kualitatif ini masih berbau kuantitatif dan kelahirannya bukan dari tradisi kualitatif, namun karena pengaruh pragmatis antarariset-riset kuantitatif dan riset riset kualitatif.
2.      Model induksi, dimaksud bahwa peneliti tak perlu tahu tentang sesuatu teori, akan tetapi langsung ke lapangan. Teori tidak penting di sini, namun datalah yang paling penting. Ada dua pendapat yang berbeda dalam model ini, pertama mengatakan bahwa peneliti harus memfokus perhatiannya pada data di lapangan sehingga segala sesuatu tentang teori yang berhubungan dengan penelitian menjadi tak penting. Peneliti dalam hal ini adalah "buta" terhadap teori atau tak perlu membawa-bawa teori ke lapangan. Data menjadi amat sangat penting sedangkan teori akan dibangun berdasarkan temuan data di lapangan. Pada penelitian grounded proses pembutaan terhadap teori adalah penting untuk menghindari pengaruh teori terhadap pandangan- pandangan peneliti terhadapt data. Peneliti tak perlu memahami teori tentang data yang akan diteliti. Karena data adalah segalanya yang dapat memecahkan semua masalah penelitian. Peneliti berkeyakinan bahwa data harus terlebih dahulu diperoleh untuk mengungkapkan misteri penelitian dan teori baru akan dipelajari apabila seluruh data sudah diperoleh. Kedua, Para ahli mengatakan bahwa pemahaman terhadap teori bukan sesuatu yang haram, namun data tetap menjadi focus peneliti di lapangan. Teori menjadi tak penting, namun pemahaman objek penelitian secara teoritis juga membantu penelitian di lapangan saat mengumpulkan data.

1.      Teori Deduktif
Teorisasi dengan model deduktif tak asing lagi dalam penelitian sosial, di mana teorisasi dilakukan secara deduktif. Model umum teorisasi deduktif seperti yang umumnya dilakukan di berbagai penelitian kuantitatif dan masih memengaruhi format kualitatif deskriptif merupakan teorisasi yang paling sering digunakan karena format kualitatif deskriptif paling banyak digunakan dalam penelitian kualitatil
Teori digunakan sebagai awal menjawab pertanyaan penelitian, bahwa sesungguhnya
pandangan deduktif menuntun penelitian dengan terlebih dahulu menggunakan teori sebagai alat, ukuran dan bahkan instrumen untuk membangun hipotesis, sehingga peneliti secara tidak langsung akan menggunakan teori sebagai "kacamata kuda"nya dalam melihat masalah penelitian. Lepas dari berbagai kontroversi terhadap teorisasi dalam format- penelitian macam ini, namun dalam tradisi teorisasi model ini dibenarkan sebagai slah satu model yang paling banyak digunakan karena dalam format penelitian kualitatif deskriptif dapat diterima sebagai jalan keluar terhadap kesulitan- kesulitan metodis di lapangan terhadap berbagai kemungkinan. Teorisasi deduktif umumnya diakhiri dengan bahasa- bahasa tentang teori tersebut diterima mendukung dan memperkuat, meragukan dan mengkritik, dan merevisi atau bahkan membantah dan menolak.
1.      Menerima teori artinya bahwa hasil- hasil penelitian ternyata mendukung teori tersebut sehingga hasil penelitian dapat memperkuat teori yang ada, dengan demikian teori semakin kokoh dibantahkan.
2.      Meragukan dimaksud adalah bahwa teori dalam posisi dapat dikritik karena telah mengalami perubahan- perubahan disebabkan karena waktu yang berbeda, lingkungan dan fenomena berbeda, untuk itu perlu dikritik dan merevisi teori tersebut.
3.      Sedangkan membantah teori dimaksudkan bahwa berdasarkan hasil penelitian, maka semua aspek teori tidak dapat dipertahankan karena waktu yang berbeda, lingkungan yang berbeda,  dan fenomena yang sudah jauh berbeda, dengan demikian teori tidak dapat dipertahankan atau direvisi lagi.

2.      Teori Induktif
Melakukan teorisasi dengan model induktif selain berbeda juga bertolak belakang teorisasi dengan model induksi deduktif. Perbedaanya adalah cara pandang terhadap teori, di mana teorisasi deduktif menggunakan teori sebagai pijakan awal melakukan teorisasi, sedangkan teori induktif menggunakan data sebagai pijakan awal melakukan penelitian, bahwkan dalam format induktif tidak mengenal teorisasi sama sekali.  keunggulan model induktif ini bahwa penelitian dilakukan pada tingkat paling mendasar sehingga sering kali peneliti memulai dari titik nol sebuah penelitian, yaitu pada titik di mana suatu fenomena itu belum terungkapkan dalam berbagai teori dan fenomena sosial yang terbaca. Karena itu, model ini di samping memiliki ketiga kemampuan seperti yang dijelaskan pada model deduktif, yaitu (1) Menerima teori karena mendukung teori, (2) Meragukan teori kemudian mengkritiknya, (3) Membantah teori kemudian menolaknya, Namun  juga (4) Membangun sebuah teori baru yang sebelumnya belum pernah ada. kemampuan yang ke-4 itulah kelebihan model induktif di mana penelitian dilakukan terhadap masalah yarig masih sangat baru bahwa prematur dan bersifat eksplorasi, maka dengan penelitian inilah kemudian sebuah teori inti dibangun berdasarkan pada tindakan eksplorasi yang dilakukan oleh peneliti.
Kunci kendali memilih teori dalam penelitian adalah selain memahami konteks formal dan material sebuah teori, juga dituntut memahami teori itu baik pada konteks sejarah maupun konteks social di mana teori itu dilahirkan. Sehingga apabila teori itu digunakan, peneliti akan memahami struktur masing- masing teori itu bahkan mampu menyusun sebuah skema perkembangan teori dari masa lalu sampai pada konteks di mana seseorang melakukan penelitian.
C. Struktur Teori
Ilmu social adalah ilmu yang sangat canggih pada waktu itu dalam hazanah ilmu pengetahuan manusia. Perkembangan ilmu social yang begitu pesat mengalahkan perkembangan ilmu alam disebabkan karena fenomena manusia berkembang melebihi pesatnya fenomena alam. Apabila pada awal- awal ilmu social ketika ilmu ini memisahkan diri dari filsafat dikatakan bahwa ilmu social adalah ilmu yang tidak memiliki jati diri, dapatlah diterima karena pada saat itu semua ilmuan yang berjasa mengembangkan ilmu social berasal dari ilmu ilmu alam, sedangkan ilmu alam sendiri sudah berkembang pesat.
Melihat kompleksnya fenomena social maka ilmu social berkembang begitu kompleks dan begitu rumit. Namun apabila disusun strukturnya, maka dalam ilmu- ilmu sosial selain paradigma, dikenal pula struktur ilmu soisal, seperti rumpun teori yang dapat dikelompokan kedalam grand theory, middle theory, dan application theory. Dari struktur ini kemudian menghasilkan sebuah konseptualisasi (rancangan) dan metodologi. Grand theory umumnya adalah teori- teori makro yang mendasari berbagai teori. Contohnya, teori- teori structural- fungsional dan teori konflik selalu disebut menjadi grand theory dalam ilmu- ilmu social.
            Disebut grand theory, karena sampai saat ini teori- teori itu menjadi dasar lahirnya teori- teori lain dalam berbagai level, sementara disebut makro, karena teori- teori ini berda dilevel makro, ia becara tentang struktur dan tidak berbicara fenomena- fenomena secara mikro. Sementara teori yang disebut middle theory adalah teori yang berada pada level mezzo, level menengah, di mana focus kajiannya makro dan juga mikro. Teori- teori strukturalisasi Anthony Gidden salah satu contoh teori mezo yang dimaksud. Sedangkan teori disebut sebagai application theory karena teori ini berada di level mikro dan siap diaplikasikan dalam konseptualisasi. Teori kebijakan public, teori pertukaran, teori interaksi simbolik adalah antara lain contoh- contoh teori aplikasi. Yang penting dalam kajian teori pada suatu penelitian, teori- teori yang digunakan (grand theory), middle theory, dan application theory) seperti dalam skema di halaman sebelumnya, harus relevan satu dengan lain secara structural.
            Ketika sebuah masalah penelitian telah ditemukan, maka peneliti mencoba membahas masalah penelitian tersebut dengan teori- teori yang dipilihnya sebagaimana dijelaskan di atas, amalis deduktif dengan menggunakan teori akan sangant membantu peneliti tidak saja pada saat menemukan masalah, akan tetapi juga untuk membangun hipotesis, menyusun kerangka metodologi, maupun alat- alat analisis yang digunakan nanti, sampai pada saat pembahasan hasil penelitian , bahwa teori dibahas untuk dikritik atau disempurnakan.
            Apabila kita kembali melihat hubungan antara paradigma, teori dan metodologi seperti pada gambar di atas, maka sudah jelas bahwa dalam suatu penelitian kuantitatif, pemilihan paradigma harus mendapatkan prioritas sebagaimana teori dan metode dipilih dalam penelitian. Karena ketiga komponen itu tidak saling pisah dalam penelitian. Ketika peneliti memulai dari sebuah paradigma, maka peneliti akan memahami pendekatan paradigma apa yang akan dianutnya dalam penelitian.
            Pada akhirnya metode bekerja untuk menghasilkan teori yang paling lemah yang proposisi yaitu statement imbangan antara fenomena satu dan fenomena lainya. Proposisi apabila dikembangkan dan dikaji berulang- ulang akan menjadi konsep, konsep yang telah diuji dan diterima akan menjadi variable, kemudian akan menjadi ilmu bahkan disiplin ngaruhi teori dan metode.
D. Bentuk Teori
Bentuk Teori Dapat berupa serangkaian hipotesa, pernyataan logis ” jika....maka” atau model visual. [3]
Sebuah teori dapat dinyatakan sebagai serangkaian pernyataan ” jika....maka” yang menjelaskan mengapa kita mengharap variabel bebas untuk mempengaruhi atau mengakibatkan variabel terikat Contoh:
” jika frekuansi interaksi antara dua orang atau lebih meningkat kemungkinan mereka saling menyukai akan meningkat



E. Penempatan Teori
Dalam penelitian kuantitatif teori ditempatkan di awal rencana penelitian (deduktif) yang tujuannya untuk menguji suatu teori. Dengan kata lain menentukan teori terlebih dahulu, kemudian mengumpulkan data untuk menguji dan menguji teori dengan hasil penelitian. Peneliti menguji teori dengan membuat sebuah hipotesa yang mengandung variabel yang diukur menggunakan unsur-unsur instrument.[4]
Ada empat penempatan teori dalam penelitian kuantitatif, yaitu:
1.      Dalam pendahuluan, merupakan pendekatan deduktif yang dapat ditemui di jurnal. Namun pembaca akan sulit membedakan dasar teori dari bagian-bagian lain.
2.      Dalam tinjauan pustaka, merupakan perluasa logis atau bagian dari pustaka. Namun pembaca akan sulit memandang teori karena terpisah dengan tinjauan ilmiah pustaka.
3.      Setelah hipotesa, dapat menjelaskan bagaimana dan mengapa variabel-variabel itu berhubungan. Namun penulis dapat memasukkan lebih banyak teori setelah hipotesa dan menghilangkan diskusi tambahan tentang asal dan penggunaan teori.
4.      Dalam bagian yang terpisah, pembaca akan lebih memahami teori dan memungkinkan pembaca untuk dapat menidentifikasi penelitian. Namun pembaca tidak akan mudah menghubungkan dengan bagian-bagian lain proses penelitian.
F.         Model Penulisan Sudut Pandang Dalam Teori
1.      Melihat pustaka berdasarkan disiplin ilmu untuk mencari suatu teori.
2.      Melihat penelitian-penelitian sebelumnya yang berhubungan dengan topik.
3.      Mengajukan pertanyaan pelangi.
4.      Menulis bagian teori (masukkan teori, dalil utama teori, informasi tentang penggunaan teori dalam penelitian terdahulu dan aplikasinya, dan pernyataan yang menjelaskan bagaimana teori tersebut berhubungan dengan penelitian ke dalam pembahasan teori kuantitatif 
G.    Tinjawan Literatur (Pustaka)
Pengertian Literatur adalah bahan atau sumber ilmiah yang biasa digunakan untuk membuat suatu karya tulis atau pun kegiatan ilmiah lainnya. Literatur ini mirip dengan daftar pustaka atau referensi. Jika anda kebingungan untuk mencari materi dari suatu ilmu pengetahuan, maka anda akan mencari referensi ke sumber lain. Referensi ke sumber lain itulah yang dinamakan literature.[5]
Literatur review atau tinjawan pustaka pada penelitian kuantitatip adalah suatu tahap yang harus dilakukan karena tahap ini bagian penting untuk; pertama menentukan “state of the art” ( sebuah langkah mutakhir dalam sebuah penelitian yang akan dilakukan). Dimana penelitian yang akan dilakukan dapat dibedakan dengan penelitian lain diman apun. Jadi tinjawan pustaka ini dilakukan untuk melihat dimana teori teoristis yang akan dikembangkan.
Kedua: tinjawan pustaka juga digunakan untuk menentukan teori apa yang digunakan, dan dari teori itu, penelitu harus dapat menentukan hipotesis penelitian dan variable-variabel penelitiannya. Pada penelitian kiuuantitatif, keharusan untuk mengunakan teori untuk menjelaskan variable yang  digunakan atau kata lain setiap pariabel yang digunakan harus memiliki teori. Variabel yang tidak memiliki teori harus ditinggalkan sampai ditemukan teorinya atau mengganti variable yang sesuay dengan teori.
Begitu pentingnya daftar pustaka sehingga di dalam tahap ini perlu diperhatikan beberapa hal, yaitu bagaimana penelusuran pustaka dilakukan, bagaimana menilai pustaka dan mengintegrasikan pustaka kedalam penelitian yang akan digunakan.
Tinjawan literatur adalh langkah membahas penerbitan informasi dalam bidang subjek yang ada kaitan erat dengan penelitian yang akan dilakukan dalam jangka waktu tertentu, biasa juga hasil sederhana dari sumber-sumber, tetapi biasanya memiliki organisasi dan mengabunngkan baik ringkasan dan sintesis.
Ringkasan adalah rangkap informasi penting dari sumber, tetapi proses sintesis adalah melakukan analisis terhadap naskah keperpustakaan orang lainberdasarkan kebutuhan teoristis peneliti. Gagasan utama tinjawan literature bahwa penelitian itu tidak memiliki awal atau akhir.

1.      Tujuan Tinjawan Literatur
Ada beberapa tujuan dari tinjawan literatur yang dapat diinpestasikan seperti di bawah ini
1.      Untuk menunjukan kemampuan ilmiah penieliti mengidentiffikasikan informasi yang releven dan untuk garis besar pengetahuan yang ada
2.      Untuk mengidentifikasikan  ‘gap’ dalam penelitian, ini bahwa penelitian berupaya untuk mengidentifikasikan lokasi terbitnya literatur ,posisi pekerjaan dalam konteks penelitian sebelumnya dan menciptakan sebuah ruang penelitian
3.      Untuk mengevaluasi dan melakukan sintesis informasi sejalan denan konteks-konteks yang telah peneliti tentukan sendiri untuk penelitian.
4.      Untuk menghasilkan alas an atau justifikasi setudi.
5.      Untuk mengidentifikasikan kesenangan dalam literature.
6.      Untuk menghindari penelitian yang sama nonverrifikasi (setidaknya ini akan menghemat waktu dan dapat menghentikan peneliti dari membuat kesalahan yang sama seperti orang lain).
7.      Untuk memulia melaksanakan suatu penelitian dari mana orang lain telah mencapai suatu tahap yang tida perlu lagi di ulangi.
8.      Untuk mengidentifikasikan orang lalin yang bekerja di bidang yang sama.
9.      Untuk meningkatkan pengetahuan peneliti tentang luas wilayah subjek penelitian yang dilakukan
10.  Untuk mengidentifikasikan mengidentifikasi kesenjangan dalam literature di dalam khazanah pengetahuan yang di tekuninya.

H.    Sumber-Sumber Tinjawan Literatur
Ada tiga suber literature yang bias digunakan di dalam penelusuran literatur yang seringkalil di gunakan
1.      Sumber Primer
2.      Sumber sekunder
3.      Sumber tersier
Langkah-Langkah Umum Menulis Tinjawan Literatur
1.      Berorientasi pada daftar bacaan
2.      Organisasi tematik
3.      Membaca lebih banyak
4.      Menulis bagian individu
Cara Menulis Tinjawan Literatur
1.      Latar belakng
2.      Naskah
3.      Temuan
4.      Kesimpulan
5.      Penelitian lebih lanjut

BAB III
PENUTUP
A.    Kesiimpulan
Kunci kendali memilih teori dalam penelitian adalah selain memahami konteks formal dan material sebuah teori, juga dituntut memahami teori itu baik pada konteks sejarah maupun konteks social di mana teori itu dilahirkan. Sehingga apabila teori itu digunakan, peneliti akan memahami struktur masing- masing teori itu, bahkan mampu menyusun sebuah skema perkembangan teori dari masa lalu sampai pada konteks di mana seseorang melakukan penelitian.
I.       Tinjawan Literatur (Pustaka)
Pengertian Literatur adalah bahan atau sumber ilmiah yang biasa digunakan untuk membuat suatu karya tulis atau pun kegiatan ilmiah lainnya. Literatur ini mirip dengan daftar pustaka atau referensi. Jika anda kebingungan untuk mencari materi dari suatu ilmu pengetahuan
Sumber-Sumber Tinjawan Literatur
Ada tiga suber literature yang bias digunakan di dalam penelusuran literatur yang seringkalil di gunakan
4.      Sumber Primer
5.      Sumber sekunder
6.      Sumber tersier
7.      Langkah-Langkah Umum Menulis Tinjawan Literatur
5.      Berorientasi pada daftar bacaan
6.      Organisasi tematik
7.      Membaca lebih banyak
8.      Menulis bagian individu
9.      Cara Menulis Tinjawan Literatur
6.      Latar belakng
7.      Naskah
8.      Temuan
9.      Kesimpulan
Penelitian lebih lanjut

DAFTAR PUSTAKA

Arikunto, Sharsisni, 1996, Prosedur Penelitian, Rineka Cipta, Jakarta.
Hasibuan, Melayu SP., 1997, Managemen Sumber Daya Manusia, Gunung Agung, Jakarta.
Burhan, Bungin, 2007, Penelitian Kuantitatif, Putra Grapika, Jakarta.




[1] Abuddin Nata, Metodologi Studi Islam, (Jakarta: Rajagrafindo Persada, Cetakan Kesembilan, 2004), hlm. 199.
[2] Singarimbun & Effendi,1989, Metode Penelitian Survei, hlm.18.
[3] Singarimbun & Effendi,1989, Metode Penelitian Survei, hlm. 17.
[4] http://lubisgrafura.wordpress.com/2009/01/20.
[5] http://www.anjasvias.com/2011/06/21/

Related Posts

Subscribe Our Newsletter