PERKEMBANGAN SASTRA PADA MASA KHULAFAUR ROSYIDIN


PERKEMBANGAN SASTRA PADA MASA KHULAFAUR ROSYIDIN
Oleh: Andri Nazarudin M 

1.      PERKEMBANGAN SASTRA PADA MASA KHULAFAUR ROSYIDIN
Sastra adalah inti seni, bagaikan tercermin dari segala yang hidup dikalangan bangsa Arab, baik yang bersifat spiritual, politik, maupun selain keduanya. Islam terkait dan tak dapat dipidahkan dari bahasa Arab melalui al-Qur’an. Kesusteraan Arab dimulai dengan lembaran yang tak mungkin dicipta oleh manusia. Tebukti bahasa Arab merupakan bahasa yang sempurna dalam menangani topik yang sangat halus dari bentuk bahasa yang ditampilkan.
Pengamat sastra pada umumnya menyatakan ada dua pendapat tentang perkembangan sastra masa Khulafa al-Rasyidun :
1. Sastra mengalami stagnasi karena perhatian yang lebih kepada bahasa al-Qur’an,     sehingga syair dan sastra kurang berkembang.
2. Al-Qur’an sebagai sumber inspirasi untuk kegiatan sastra, karena dalam berdakwah diperlukan bahasa yang indah. Pengaruh Qur’an dan Hadis tidak bisa dilepaskan karena keduanya menjadi sumber pokok ajaran Islam.
Secara khusus dijelaskan bahwa puisi pada masa tersebut tidak jauh dari puisi pada masa Rasul, yang juga tidak jauh berbeda dengan masa sebelumnya (Jahiliyah). Maksudnya bahwa puisi kurang majudan berkembang kerena lebih memperhatikan al-Qur’an, sehingga aroma struktural kata dalam puisi sangat terpengaruh oleh al-Qur’an.
Prosa tertuang dalam 2 bentuk yaitu Khithabah ( bahasa pidato) dan kitabah (bahasa korespondensi). Khithabah menjadi alat yang paling efektif untuk berdakwah mengalami kesempurnaannya karena pengaruh al-Qur’an. Ruhnya khitabah adalah Rasul dan para khalifah, mereka adalah pemimpin yang sekaligus sastrawan, mereka sangat baligh dan fasih dalam berkhotbah. Ahli pidato yang sangat terkenal adalah Ali ibn Abi Thalib, khutbahnya dikumpulkan dalam kitab ”Nahj al-Balaghah” Tentang Kitabah tidak mengalami kemajuan sepesat khithabah meskipun di dalamnya banyak didapatkan nilai-nilai sastra.
Para penyair dua masa yaitu pra Islam dan masa Islam disebut Mukhadhram”, seperti Hasan ibn Tsabit dan Kaab ibn Zuhair. Hasan ibn Tsabir adalah penyair rumah tangga Rasul, ia selalu mengubah syair-syair untuk membela Islam dan memuliakan Rasulnya.

2.      PERKEMBANGAN PROSA PADA MASA KHALAFAUR ROSYIDIN (1-40 H/662-661 M)
Pada masa Khulafaur Rosyidun prosa yang berkembang antara lain: Khutbah, Kitabah atau Rosail (surat), Matsal.
Ø  Proasa Pada Masa Khulafaur Rosyidin
a.      Khutbah (Pidato)
Contoh Khutbah Pada periode ini:
Khutbah Abu Bakar Ash-Siddiq Ketika Diangkat Sebagai Khalifah
Sesaat setelah Meninggalnya Rasulullah – Shallallahu ‘alaihi wasallam- kaum muslimin memilih Abu Bakar Radhiallahu ‘anhu sebagai pemimpin mereka karena berbagai keutamaan yang ada padanya, ia adalah lelaki pertama yang beriman kepada Rasulullah, teman beliau didalam gua tsaur dan teman setia beliau ketika berhijrah ke Mekkah, Rasulullah juga pernah memerintahkannya untuk menjadi imam menggantikan beliau ketika beliau sakit.
Ketika diangkat sebagai Khalifah beliau berkhutbah kepada sekalian kaum muslimin dengan terlebih dahulu memuji Allah dan berkata :
أيها الناس, إني قد وليت عليكم ولست بخيركم , فإن رأيتمني على حق فأعينوني , وإن رأيتموني على باطل فسددوني , أطيعوني ما أطعت الله فيكم , فإذا عصيته فلا طاعة لي عليكم , ألا إن أقواكم عندي الضعيف , حتى آخذ الحق له , و أضعفكم عندي القوي حت آخذ الحق منه.
أقول قولي هذا , و أستغفر الله لي ولكم
Artinya: “Wahai sekalian manusia, sesungguhnya aku sekarang telah memimpin kalian, namun aku bukanlah yang terbaik diantara kalian, jika kalian melihatku berjalan diatas kebenaran maka bantulah aku, sedangkan jika kalian melihatku diatas kebatilan maka luruskanlah langkahku, taatilah aku selama aku mentaati Allah, dan apabila aku melakukan sebuah kemaksiatan maka kalian tidak boleh taat terhadapku akan hal itu, ketahuilah… Bahwasanya orang yang paling kuat diantara kalian dimataku adalah orang yang lemah hingga ia memperoleh haknya, sebaliknya orang yang terlemah dimataku adalah orang yang kalian anggap paling kuat hingga ia mengembalikan hak-hak orang lain. Demikianlah apa yang aku sampaikan kepada kalian seraya memohon ampun atas diriku dan kalian semua kepada Allah.”


b.      Kitabah atau Rosail (Surat)
Pada periode ini Kegiatan surat menyurat mulai berkembang dalam rangka dakwah islamiyah, pengaturan hukum dan kebijakan politik pemerintahan islam serta penulisan piagam perdamaian antar negeri. Sebagai contohnya adalah Surat Rasulullah kepada Khalid bin Walid.
Semenjak Allah memerintahkan Beliau untuk berdakwah kejalan Allah, Beliau begitu bersungguh-sungguh dalam upaya menyebarkan cahaya Islam dan mengajak manusia kembali kepada tauhid. Beliau tak pernah lelah dalam mendakwahi manusia kejalan Allah dengan penuh kebijaksanaan, nasihat yang baik dan akhlak yang terpuji.
Diantara kabilah Arab yang didakwahi oleh Beliau adalah kabilah Bani Al-Harits bin Ka’b, Beliau pun mengutus Khalid bin Walid untuk mengajak mereka kepada Islam. Sampai akhirnya Khalid bin Walid mengirimkan surat kepada Rasulullah bahwa kabilah tersebut menerima dakwah Islam. Rasulullah membalas surat tersebut memerintahkan Khalid bin Walid untuk kembali bersama utusan dari mereka untuk pembelajaran tentang keislaman Dalam suratnya Beliau berkata :
بـسم الله الرحمن الرحيم : من محمد النبي رسول الله إلى خالد بن الوليد , سلام عليك , فإ ني أحمد إليك الله الذي لا إله إلا هو
أما بعد : فإن كتابك جاءني مع رسو لك تخبر أن بني الحارث بن كعب قد أسلموا قبل أن تقاتلهم , وأجابوا إلى ما دعوتهم إليه من الإسلام , وشهدوا أن لا إله إلا الله , وأن محمدا عبدالله ورسوله , فبشرهم وأنذرهم , وأقبل واليقبل معك وفدهم , والسلام عليكم ورحمةالله وبركاته
Artinya: “Dengan menyebut Nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Dari Muhammad sang Nabi utusan Allah, semoga keselamatan selalu bersamamu, Aku panjatkan puji kepada Allah untukmu. Amma ba’du : Telah sampai kepadaku surat yang engkau kirimkan bersama utusanmu, menjelaskan bahwa kabilah Bani Al-Harits bin Ka’b telah masuk islam dengan damai tanpai terjadi pertempuran, mereka telah mengikuti apa-apa yang engkau dakwahkan dari Agama ini, mereka bersaksi bahwa tiada Ilah yang berhak disembah melainkan Allah dan bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan Allah, maka berilah kabar gembira atas keislaman mereka dan berilah mereka peringatan, dan kembalilah engkau wahai Khalid bersama utusan dari kabilah tersebut. Semoga keselamatan, rahmat serta barakah senantiasa Allah limpahkan kepadamu.”

c.       Matsal
Pada masa ini selain dikenal Khithobah dan Kitabah, ada bentuk prosa lain yang juga berkembang pesat saat itu, yaitu peribahasa (matsal).Prosa ini berkembang seiring dengan bermunculnya al-Quran dan Hadis Rasulullah. Isi dari peribahasa atau matsal itu adalah tentang akhlaq, tingkah laku, kehidupan dan kematian, manusia, agama, aturan kehidupan, hubungan manusia antara satu dengan sama lain, social, politik, dan sebagainya (Al-Hasyim,1968:241).
Penulisan ayat-ayat al-Qur’an sudah dimulai sejak zaman Nabi Muhammad, bahkan sejak awal diturunkannya al-Qur’an yang diwahyukan secara berangsur-angsur selama sekitar 23 tahun.

Setelah Rasulullah wafat dan Abu Bakar menjadi Khalifah, terjadi Perang Yamamah yang merenggut korban kurang lebih 70 sahabat penghafal al-Qur’an. Banyaknya sahabat yang gugur dalam peristiwa tersebut timbul kekhawatiran dikalangan sahabat khususnya Umar ibn al-Khattab akan menyebabkan hilangnya al-Qur’an. Uamar menyarankan kepada Abu Bakar dan beliau menyetujuinya. Kemudian ditunjuklah Zaid ibn Tsabit dengan berpegang pada tulisan yang tersimpan di rumah Rasulullah, hafalan dari sahabat dan naskah yang ditulis oleh para sahabat untuk dirinya sendiri.

Ø  Macam-Macam Prosa Masa Khulafaur Rosyidin
Secara global sastra prosa terbagi menjadi dua, yakni natsr ilm (prosa ilmiah) dan natsr fanni (prosa seni). Akhmad muzakki menulis tentang kualifikasi atau pembagian sastra prosa dalam kesusastraan arab: pengantar teori dan terapan mengutip ungkapan ahmad al-syayib menjelaskan bahwa dalam kesusastraan arab belum ada pembagian yang jelas mengenai sastra prosa oleh para sastrawan arab sebagaimana yang dilakukan para sastrawan barat, hal ini tentu dapat mempengaruhi terhadap apa yang dilakukan para sastrawan arab. Namun demikian tidaklah didiamkan oleh para sastrawan arab kemudian, misalnya Ibn Ja’far (w. 338 H) telah membagi prosa arab terdiri dari khithâbah (retorika), tarassul (korespondensi), ihtijâj (argumentasi), dan hadîts (cerita).
Kajian sastra prosa berdasarkan karakteristiknya secara garis besar terbagi menjadi tiga macam, diantaranya:
1.       An-Natsr Al-Adabi (Prosa Sastra)
An-natsr al-adabi atau prosa estetis adalah jenis prosa yang mengedepankan tujuan untuk membangkitkan rasa dan emosi para pembacanya. Akan tetapi sebuah karya bisa disebut sebagai prosa estetis jika prosa tersebut memenuhi empat unsur sastra, yakni: fikrah (gagasan), athîfah (emosi), lafadz atau uslûb (bahasa), dan khayal (imajinasi).
2.      An-Natsr Al-Ilmi (Prosa Ilmiah)
An-natsr al-ilmi atau prosa ilmiah adalah jenis prosa yang mengungkapkan realitas secara rasional atau menyampaikan pemikiran murni, seperti filsafat, sains, dan teknologi. Tidak seperti prosa estetis, sebuah karya bisa disebut sebagai prosa ilmiah jika hanya memenuhi dua unsur sastra, yakni gagasan dan bahasa saja.
3.      An-Natsr Ar-Rasâil (Korespondensi)
Natsr ar-rasâil atau korespondensi adalah jenis prosa yang berbentuk surat menyurat. Prosa jenis ini banyak berkaitan dengan terutama tugas-tugas pemerintahan pada masa dahulu. Meskipun secara terpisah prosa sendiri ada yang berbentuk seni dan resmi. Seni dalam kaitan prosa ar-rasâil adalah surat-surat yang berisi ungkapan hati dan banyak digunakan para sastrawan dalam mengungkapkan apa yang sedang bergejolak dalam hatinya. Sementara resmi kaitan prosa ar-rasâil adalah surat menyurat yang digunakan para raja sebagai sarana menjalankan pemerintahan.
Sementara Prof. DR. Nabila Lubis dalam bukunya Al-Mu’in fi Al-Adab Al-Arabiyah wa Tarikhihi menjabarkan macam-macam prosa, seperti:
1. Al-Khithâbah
2. Ar-Rasâil
3. Al-Amtsal
4. Al-Hikam
5. Al-Washaya
6. Al-Maqâmât
7. Al-Qishas
8. Al-Masrahiyyah

beberapa bentuk prosa yang dihadirkan diatas tentu barkaitan dengan prosa yang terjadi pada suatu masa dimana prosa itu tumbuh dan berkembang. Dan memperhatikan macam-macam prosa diatas, maka beberapa bentuk prosa bisa dikategorikan sebagai prosa estetis (an-natsr al-adabi) terkecuali ar-rasâil. Tentu saja, karena ar-rasâil mempunyai karakteristik yang berbeda dibanding lainnya sebagaimana disebutkan diatas.

BAB III
PENUTUP

KESIMPULAN
Dalam hal ini jika kita membicarakan sastra awal Islam memang tidak dapat dipisahkkan dari kontribusi Al-Qur’an sebagia karya sastra agung yang diturunkan ditengah-tengah bangsa Arab sebagi bangsa yang maju dalam bidang sastra. Sebagaiman kita ketahuai bersama bahwa Al-Qura’an adalah kitab Allah yang diturunkan kepada Rasul-Nya Muhammad saw.yang isinya sarat penuh dengan mu’jizat.
Dan turunnya Al-Qur’an dalam sejarah menimbulkan akibat yang luas salah satunya ialah melahirkan sastrawan-satrawan yang handal dan Islamy. Baik pada masa kejayaan Islam dan sesudahnya.

REFERENSI

Hasyim, Juzif, dkk. t.t. Al-Mufid Fi al-Adab al-Aroby. Beirut:al-Maktaby al-Tijary.
Wargadinata, Wildan, dkk. Sastra Arab dan Lintas Budaya. Malang:UIN Malang Press,2008.
Al-Faruqi, Ismail R. dan Lois Lamnya. Atlas Budaya Islam. Bandung: Mizan, 2000
Mahmud Jad ‘Akawi, Al-Mujaz fi al-Adab al-Arabi, 1972, jilid I hlm. 5-9
Ramdani Wahyu, Ilmu Budaya Dasar, (Bandung:  Pustaka Setia, 2008), hlm. 23
Renne Wellek & Austin Warren, Teori Kesusastraan, (Jakarta: PT Gramedia, 1989), hlm.3
Ibid., hlm. 354
Ahmad Al-Iskandari, Al-Wasith Fi al-Adab al-‘Arabiy wa Tarikh, (Mesir: Daar al Ma’arif, 1916), hlm. 12


Related Posts

Subscribe Our Newsletter