PEMBAHASAN
A. Hakikat Layanan Bimbingan di SD
M. Surya (1988:12) berpendapat bahwa bimbingan adalah
suatu proses pemberian atau layanan bantuan yang terus menerus dan sistematis
dari pembimbing kepada yang dibimbing agar tercapai perkembangan yang optimal
dan penyesuaian diri dengan lingkungan.
Bimbingan
adalah suatu proses yang terus-menerus untuk membantu perkembangan individu
dalam rangka mengembangkan kemampuannya secara maksimal untuk memperoleh
manfaat yang sebesar-besarnya, baik bagi dirinya maupun bagi masyarakat (Tim
Pengembangan MKDK IKIP Semarang, 1990:11).
Layanan
bimbingan merupakan suatu proses pengenalan, pemahaman, penerimaan,
penagarahan, dan perwujudan penyesuaian diri. Layanan bimbingan mempunyai peran
yang cukup besar terhadap perkembangan siswa yang apabila dilakukan dengan
tepat dapat memberikan pengaruh terhadap peningkatan motivasi belajar siswa.
Proses
pemberian bantuan merupakan suatu rangkaian kegiatan yang saling terkaint satu
sama lainnya dalam satu keseluruhan. Oleh karena itu, bantuan yang diberikan
harus dilaksanakan secara sistematik melalui langkah-langkah yang tepat.
B. Langkah-Langkah Pemberian Bantuan
Bantuan
yang diberikan harus dilaksanakan secara sistematik melalui langkah-langkah
yang tepat, sekurang-kurangnya ada lima langkah utama dalam proses pemberian
bantuan sebagai wujud layanan bimbingan kepada anak, yaitu sebagai berikut:
1. Identifikasi Masalah
Langkah awal
dari upaya bantuan adalah mengidentifikasi atau mengenal secara pasti masalah
yang dihadapi oleh anak. Masalah akan timbul apabila ada kesenjangan anatara
yang tampak pada diri anak dibandingkan dengan yang seharusnya.
Dalam langkah
ini hendaknya dibedakan antara gejala dan masalah. Gejala adalah apa yang
tampak, sedangkan masalah adalah hal ynag terkandung dibalik gejala yang
tampak. Beberapa cara untuk mengenal gejala masalah antara lain dengan:
a. Mengamati perkembangan dan perilaku anak sehari-hari dengan menggunakan
berbagai teknik observasi.
b. Mengamati dan menganalisis hasil kerja anak baik dalam pelajaran di kelas
maupun dalam tugas-tugas lainnya.
c. Mempelajari laporan-laporan yang diterimanya mengenai anak tersebut.
d. Melakukan wawancara atau menyebarkan angket kepada anak untuk mengetahui
berbagai perilaku mereka.
e. Melakukan pengukuran dan pemeriksaan kesehatan, prestasi belajar, dan pemeriksaan
psikologis.
2. Langkah Diagnosis
Langkah
diagnosis adalah langkah untuk menetapkan masalah berdasarkan analisis terhadap
latar belakang yang menjadi sebab timbulnya masalah itu. Dalam langkah ini
dilakukan kegiatan pengumpulan data mengenai berbagai hal yang menjadi latar
belakang dan diduga mempunyai keterkaitan dengan gejala yang dijumpai. Hasil
dan langkah ini ialah penetapan jenis dan bentuk masalah yang dihadapi oleh
anak atau sekelompok anak.
Bentuk masalah adalah rumusan yang menggambarkan keadaan masalah anak yaitu
situasi keadaan yang dirasakan sebagai hambatan atau kekurangan yang dilami
anak. Dalam pelaksanaannya, langkah diagnosis dilakukan dengan prosedur sebagai
berikut:
a. Mengumpulkan informasi mengenai latar belakang gejala yang tampak baik dan
berada didalam dirinya maupun diluar dirinya atau di lingkungan.
b. Melakukan analisis dan sintesis terhadap informasi latar belakang yang
telah terkumpul. Analisis maupun sintesis dilakukan dengan mencoba menelaah
keterkaitan antara informasi latar belakang dengan gejala yang tampak,
penelaahan terhadap berbagai informasi latar belakang lainnya kemudian dicoba
dilihat keterkaitannya antara informasi yang satu dengan yang lainnya dalam
hubungan dengan gejala yang tampak, proses ini disebut sebagai proses sintesis.
c. Berdasarkan analisis dan sintesis, kemudian diperkirakan jenis dan bentuk
masalah yang ada pada anak.
3. Langkah Prognosis
Langkah ini
merupakan kelanjutan langkah diagnosis, yaitu menetapkan alternatif tindakan
bantuan yang akan diberikan berdasarkan hasil diagnosis. Rumusan akhir dari
langkah diagnosis adalah mengenai jenis dan bentuk masalah berdasarkan hasil
analisis dan sintesis terhadap informasi latar belakang. Berdasarkan rumusan
ini kemudian dibuat alternatif kemungkinan tindakan bantuan yang akan diberikan
dalam membantu yang akan memecahkan masalah.
Pada garis
besarnya bentuk bantuan dapat dilakukan melalui tiga strategi yaitu:
a. Strategi Instruksional
Yaitu layananan bantuan yang
diberikan secara terpadu dengan kegiatan belajar mengajar, dalam hal ini proses
belajar mengajar dapat sekaligus berfungsi sebagai langkah tindakan membantu
anak dalam memecahkan masalahnya. Bentuk lain strategi ini misalnya pengajaran
remedial, diskusi kelas, kerja kelompok, dan karya wisata.
b. Strategi Interaktif
Yaitu banatuan dilaksanakan dalam
bentuk interaksi langsung antara guru dengan anak yang menghadapi masalah, baik
melalui pendekatan individual maupun kelompok. Bentuk batuan ini misalnya konseling, nasihat, konsultasi dan
pengajaran individual.
c. Strategi Pendekatan Sistem
Yaitu bantuan dilakukan dengan
menciptkan suasana lingkungan yang menunjang bagi perkembangan anak. Bentuk
pelaksanaannya dapat diwujudkan dengan kerja sama antara sekolah dengan
keluarga, dan menciptakan suasana sekolah yang baik dengan membuat
kegiatan-kegiatan menyenangkan.
Dalam hal ini apabila dijumpai adanya masalah yang
memerlukan penanganan yang bukan kewenangan guru maka dapat ditempuh bantuan
disebut referal atau alih tangan,
misalnya jika ada anak yang mengalami gangguan penglihatan atau kesehatan
lainnya dan diperkirakan mempunyai keterkaiatan denagan gejala dan masalah maka
penanganannya dapat diserahkan kepada ahlinya.
4. Langkah Pemberian Bantuan
Langkah ini merupakan realisasi
dari langkah-langkah sebelumnya, yaitu melaksanakan alternatif-alternatif
bentuk bantuan yang mungkin diberikan berdasarkan masalah dan latar belakang
yang menjadi penyebabnya. Agar pemberian bantuan dapat dilaksanakan secara
efektif maka keseluruhan pelaksanaan bantuan harus dikelola secara baik,
beberapa hal yang diperhatikan tentang pengelolaan pelaksanaan bantuan antara
lain perencanaan program, pengorganisasian, pengaturan dan pembagian tugas
diantara personil yang terkait, penjadwalan, penyediaan sarana, penggunaan
pendekatan dan teknik koordinasi, pemantauan, dan evaluasi.
Denagan
demikian, layanan pemberian bantuan kepada anak dilaksanakan secara
berkesinambungan, terpadu sistematik dan dalam suatu pengelolaan yang
terkoordinasi dengan baik.
5. Langkah Evaluasi dan Tindak Lanjut
Langkah ini dimaksudkan
untuk mengetahui ketepatan tindakan dan hasil pelaksanaan bantuan sebagaimana
dirumuskan. Evaluasi dilakukan selama proses berjalan untuk melihat ketepatan
langkah pemberian bantuan dan pada akhir tindakan untuk mengetahui hasil yang
dicapai.evaluasi dapat dilakukan dengan mengumpulkan data selama proses bantuan
dan pada akhir bantuan. Pengumpulan data dapat dilakukan dengan menggunakan
berbagai pendekatan dan teknik pengumpulan data, seperti wawancara, angket,
observasi, analisis tugas dan diskusi.
Informasi yang
diperoleh dari evaluasi ini digunakan sebagai dasar untuk menetapkan sampai
sejauh mana upaya yang telah dilaksanakan itu dapat dikatakan berhasil atau
kurang berhasil. Dari informasi itu dapat ditetapkan langkah-langkah
selanjutnya, seperti mamperbaiki atau mengubah tindakan bantuan atau
mengembangkan bantuan-bantuan itu.
REFERENSI
M. Surya, 1988. Pengantar Bimbingan dan Penyuluhan. Jakarta : UT.
Mungin Eddy Wibowo, 1986. Konseling di Sekolah Jilid I. FIP IKIP Semarang.
Nurihsan, Juntika. 2005. Manajemen Bimbingan Konseling di SD Kurikulum
Mungin Eddy Wibowo, 1986. Konseling di Sekolah Jilid I. FIP IKIP Semarang.
Nurihsan, Juntika. 2005. Manajemen Bimbingan Konseling di SD Kurikulum
2004. Jakarta: Gramedia Widiasaraan Indonesia.