PERKEMBANGAN PADA MASA AWAL KANAK KANAK


2.1       Periodesasi Perkembangan Manusia
Perkembangan merupakan perubahan fungsional yang dipengaruhi oleh pencapaian tingkat kematangan fisik dan intelek. Istilah perkembangan (development) mengandung pengertian sebagai suatu konsep perubahan manusia yang mengarah pada kualitas substansi perilakunya, akibat perubahan fisik maupun proses pembelajaran atau perkembangan yaitu pola perubahan yang dimulai dari masa pembuahan dan berlangsung secara terus menerus selama kehidupan seseorang.  Pertumbuhan memberi pengaruh pada kesiapan fisik untuk mengembangkan potensi menjadi suatu kompetensi setiap individu yang normal akan mengalami pertumbuhan dan perkembangan.  Hal ini dimulai sejak terjadinya peristiwa konsepsi hingga kelahiran menjadi seorang bayi, kemudian tumbuh kembang sebagai anak-anak, remaja, dewasa dan sampai mati. Dalam rentan waktu yang cukup panjang ini, guna kegiatan studi ilmiah yang bersifat sistematis, maka para ahli psikologi perkembangan membagi-bagi menjadi tahap-tahap yang dapat dikenali ciri-cirinya.
Secara umum papalia, olds dan Feldman (1998: 2004) membagi perkembangan manusia menjadi sembilan (9) :
1.    Masa pra natal (sejak terjadinya proses pembuahan sampai lahir) dengan usia 280 hari didalam kandungan.
2.    Bayi (dari lahir sampai umur 2 tahun) Anak-anak awal (early childhood) pada umur 2 sampai 6 tahun.
3.    Anak tengah (middle childhood)
4.    Anak akhir (late childhood)
5.    Masa pertengahan dan akhir anak-anak pada umur 6 sampai 12 tahun.
6.    Remaja (adolesrene) pada usia12 sampai 22 tahun.
7.    Dewasa muda (young adulthood) pada usia 22 sampai 30 tahun.
8.    Dewasa tengah (middle adulthood) pada usia 35 sampai 45 tahun.
9.    Dewasa akhir (late adulthood)pada usia 45 sampai 70 atau sampai mati.
2.2       Masa Awal Kanak-Kanak
Anak-anak awal (early childhood) secara kronologis adalah mereka yang berada pada usia 2 –6 tahun, walaupun masih terikat dan memfokuskan diri pada hubungan dengan orang tua atau keluarga, tetapi masa anak ini, ditandai dengan kemandirian, kemampuan control diri (self control) dan hasrat untuk memperluas pergaulan dengan anak-anak yang sebaya. Pergaulan yang makin luas ini akan mengurangi kelekatan emosi dengan orang tua, mengurangi egosentrisme, mengurangi sifat irasional, karena dalam pergaulan itu masing-masing anak saling mengkritik, mencela, mengejek, mungkin terjadi konflik, pertengkaran, yang kemudian diikuti dengan proses pembuatan kompromi, adaptasi norma-norma social yang baru.
Masa anak-anak awal, masih ditandai dengan kegiatan bermain baik sendiri maupun bermain dengan kelompok teman sebaya lainnya. Bahkan, kegiatan bermain ini tetap dibawa sampai masa remaja maupun dewasa. Hanya karakteristik permainan tiap fase perkembangan berbeda-beda. Hal yang penting permainan pada masa anak-anak awal ialah selain berguna bagi pengembangan kepribadian, bermain juga berguna untuk pengembangan psikomotirik halus dan kasar.
2.3       Perkembangan Kognitif Pada Masa Awal Anak-Anak
Perkembangan kognitif masa awal anak-anak kali ini berfokus pada tahap pemikiran praoperasional piaget, pemrosesan informasi, perkembangan bahasa, teori perkembangan Vygotssky, dan pendidikan masa kanak-kanak. Pada tahap masa awal anak seorang anak telah memasuki perkembangan kognitif tahap praoperasional.
Dunia kognitif masa kanak-kanak prasekolah adalah kreatif, bebas dan penuh imajinasi, di dalam seni mereka, matahari kadang-kadang berwarna hijau dan langit berwarna kuning, mobil mengambang di awan, dan manusia seperti kecebong, imajinasi kanak-kanak praseklah terus bekerja, dan daya serap mental mereka tentang dunia semakin meningkat. Pada tahap inilah konsep yang stabil dibentuk, penalaran mental muncul, egosentrisme mulai kuat dan kemudian melemah, serta keyakinan pada hal-hal magis terbentuk.
1)      Tahap pemikiran praoprasional piaget
Pemikiran praoperasional adalah awal kemampuan untuk merekonstruksi pada tingkat pemikiran apakah seorang anak dalam melakukan sesuatu pemikiran operasional juga mencakup peralihan penggunaan simbol dari yang primitive kepada yang lebih canggih. Pemikiran praoperasional piaget dapat dibagi dalam 2 sub tahap. Sub tahap fungsi simbolis dan sub tahap pemikiran intuitif.
a)    Sub tahap fungsi simbolis
Sub tahap fungsi Simbolis (symbolic function substage) adalah subtahap pertama pemikiran praoprasional yang terjadi kira-kira antara usia 2-4 tahun. pada sub tahap ini, anak-anak mengembangkan kemampuan untuk membayangkan secara mental suatu objek yang tidak ada. Kemampuan untuk berfikir simbolis semacam itu disebut “fungsi simbolis”, dan kemampuan itu mengembangkan secara cepat dunia mental anak. Anak-anak kecil menggunakan disaen corot-corot untuk menggambarkan manusia, rumah, mobil, awan dan lain-lain. Anak-anak tidak terlalu peduli dengan realitas gambar-gambar yang mereka buat.
Egosentrisme adalah suatu cirri pemikiran operasional yang menonjol. Egosentrisme adalah suatu ketidakmampuan untuk membedakan perspektif diri dengan perspektif orang lain. Anak belum memiliki kemampuan untuk merasakan apa yang dirasakan, dilihat dan dipikirkan oleh orang lain. Ia lebih cenderung untuk melihat sesuatu dari sudut pandang dirinya sendiri.
Animisme (animism), bentuk lain pemikiran praoperasional ialah keyakinan bahwa obyek yang tidak bergerak memiliki kualitas “semacam kehidupan” dan dapat bertindak. Anak kecil dapat memperlihatkan animism dengan mengatakan “pohon itu mendorong daunnya dan daunnya jatuh” atau “trotoar itu membuatku jatuh” anak kecil yang menggunakan animism sulit membedakan kejadian-kejadian yang tepat bagi penggunaan perspektif manusia dan bukan manusia. Namun sebagian ahli perkembangan bahwa animism merupakan pengetahuan dan pemahaman yang tidak lengkap, bukan suatu konsepsi umum tentang dunia (Dolgin dan Behrend, 1984).
b)  Sub tahap intuitif
Sub tahap intuitif adalah anak-anak mulai menggunakan penalaran primitive dan ingin tahu jawaban atas semua bentuk pertanyaan, Piaget menyebut bahwa pada tahap ini anak-anak tampaknya begitu yakin tentang pengetahuan dan pemahaman mereka.
c)  Pemrosesan informasi
Kita tidak hanya mempelajari tahap-tahap perkembangan kognitif yang dilalui anak-anak kecil, seperti yang dilakukan oleh Piaget, tetapi kita juga dapat mempelajari proses-proses kognitif yang berbeda dari dunia mental anak-anak kecil. Dua keterbatasan dalam pemikiran anak-anak prasekolah ialah dalam hal perhatian dan ingatan yakni dua bidang penting yang terlibat dalam cara anak kecil.
1.    Perhatian
Habituation dapat digambarkan sebagai hilangnya perhatian, sedangkan dishabituation dapat digambarkan sebagai pulihnya perhatian. Pentingnya aspek-aspek perhatian ini pada bayi selama tahun prasekolah ditegaskan oleh penelitian yang menunjukkan bahwa hilangnya dan pulihnya perhatian bila diukur pada 6 bulan pertama pada masa bayi, berkaitan dengan tingginya kecerdasan pada tahun-tahun prasekolah.
2.    Memori (ingatan)
Ingatan ialah suatu proses sentral dalam perkambangan kognitif anak. Ingatan meliputi penyimpanan informasi terus-menerus. Ingatan sadar muncul pada usia 7 bulan, walaupun anak-anak dan orang dewasa memiliki sedikit atau tidak ingat lagi akan peristiwa yang dialami sebelum usia 3 tahun. Diantara pertanyaan yang menarik perhatian tentang ingatan pada tahun-tahun prasekolah ialah mencakup ingatan jangka pendek. Dalam ingatan jangka pendek (short-term memory), individu menyimpan informasi selama 15 sampai 30 detik, dengan asumsi tidak ada latihan atau pengurangan. Salah satu pengukuran ingatan jangka pendek ialah tugas rentang ingatan.Penjelasan tentang kecepatan pemrosesan menegaskan suatu hal penting dalam hal perspektif pemrosesan informasi. Maksudnya ialah kecepatan seorang anak dalam memproses informasi merupakan suatu aspek penting dalam kemampuan kognitif anak.
3.    Perkembangan bahasa
Pemahaman anak-anak berusia muda kadang-kadang melampaui kemampuan bicara mereka. Seorang anak berusia 3 tahun, yamg tertawa gembira ketika angin musam panas yang menerpa rambut dan menggilitik kulitnya berkomentar “angin membelitku!” orang dewasa akan bingung ketika seorang anak kecil dengan berani berkata, “apapun tidak boleh dipecahkan hanya gelas dan piring” ketika yang ia maksudkan adalah “tidak ada yang dapat pecah kecuali piring dan gelas.” Banyak keganjilan bahasa anak kecil terdengar seperti kesalahan ditelinga orang dewasa. Namun, dari sudut pandang anak kecil, mereka tidak salah. Mereka menggunakan cara anak kecil dalam merasakan dan memahami dunia mereka pada masa perkembangannya.
5.    Pendidikan masa awal kanak-kanak
Dengan meningkatnya pemahaman tentang bagaimana anak-anak kecil berkembang dan belajar, telah muncul penakanan yang lebih besar pada pendidikan anak-anak kecil. Kita akan memahami tentang taman kanak-kanak yang berpusat pada anak, praktik cocok dan yang tidak cocok dalam progam bagi anak-anak kecil, persoalan nyata jika anak-anak masuk prasekolah sebelum taman kanak-kanak, pengaruh pendidikan masa awal anak-anak dan hakekat pendidikan bagi anak-anak kecil yang kurang beruntung.


2.4       Perkembangan Sosioemosional Masa Awal Kanak-Kanak
Sosialisasi adalah suatu proses seseorang belajar berperilaku tertentu sesuai dengan tuntutan budaya tempat ia hidup. Emosi didefinisikan sebagai perasaan yang melibatkan suatu campuran antara gejolak fisiologis dan perilaku yang tampak.
Selama masa ini anak-anak dalam proses sosioemosional yang anak-anak semakin belajar mandiri dan menjaga diri merkea sendiri, mengembangkan ketrampilan kesiapan bersekolah, dan meluangkan waktu bermain dengan teman-teman sebayanaya. Perubahan yang pertama dalam proses sosiemosional adalah perubahan pada relasi anak dengan orang lain
1)    Relasi dengan keluarga
Kasih sayang merupakan suatu aspek penting dari relasi keluarga selama masa anak-anak. Kasih sayang keluarga selama ini merupakan ramuan kunci dalam perkembangan sosial anak, dan meningkatkan kemungkinan anak akan berkompeten secara sosial dan menyesuaikan diri dengan baik pada tahun-tahun prasekolah dan sesudahnya. Peran kasih sayang yang terlalu dilebih-lebihkan akan mempengaruhi temperamen anak, perilaku anak, kompetensi sosial dan kesejahteraan sosial anak.
2). Relasi saudara sekandung dan urutan kelahiran
Menunjukkan bahwa anak-anak berinteraksi lebih positif dan lebih bervariasi dengan orang tuanya dari pada dengan saudara kandungnya. Anak-anak juga lebih mematuhi perintah orang tuanya dari pada saudara kandungnya. Dalam banyak hal pengaruh saudara kandung dalam proses sosialisasi dapat lebih kuat dibandingkan orang tua. Mengingat perbedaan-perbedaan dalam dinamika keluarga yang terlibat dengan urutan kelahiran, tidak mengherankan bahwa anak-anak yang lahir duluan dan yang lahir belakangan memilki karakteristik yang berbeda. Anak-anak yang lahir duluan lebih beroreintasi dewasa, suka menolong, dapat menyesuaikan diri, cemas, dan dapat mengendalikan diri dibandingkan saudaranya yang lahir kemudian. Orang tua memberi lebih banyak perhatian kepada anak-anak yang lahir duluan dan ini berkaitan dengan perilaku pengasuhan anak-anak yang lahir duluan. Tuntutan orang tua dan standar tinggi yang ditetapkan bagi anak-anak yang lahir duluan mengakibatkan anak-anak memilki karir akademik dan professional yang memuaskan.
3). Relasi teman sebaya
Teman sabaya adalah anak-anak yang tingkat usia dan kematangannya kurang lebih sama. Salah satu fungsi kelompok teman sebaya yang plaing penting yaitu menyediakan sumber informasi dan perbandingan tentang dunia diluar keluarga.
Orang tua juga dapat memperagakan kepada anak-anak mereka cara-cara berelasi dengan teman-teman sebayanya. Dengan teman-teman sebaya, anak-anak belajar merumuskan dan menegaskan pendapat-pendapat mereka sendiri menghormati pandangan teman-teman sebaya, bekerja sama mencari solusi atas ketidaksetujuan, dan membangun standar-standar perilaku yang dapat diterima bersama.
Pada masa awal anak-anak, anak-anak biasanya keluar dan memasuki dunia ini, mereka bertemu dengan teman-teman baru, menghabiskan waktu dalam berbagai macam lingkungan dan belajar banyak hal baru yang menarik. Dalam menjalin relasi anak-anak semakin tertarik pada anak lain. Mereka berkomunkasi dengan jelas, belajar berbagi dan memahami perasaan, keinginan atau kemauan orang lain. Oleh Karena itu, persahabatan merupakan landasan yang subur untuk perkembangan relasi anak pada masa ini.
Selain itu, anak-anak juga mulai mengembangkan ketertarikan pada permainan simbolik dan permainan berpura-pura. Permainan berpura-pura dapat memfasilitasi perkembangan emosi anak karena ketika bermain pura-pura, mereka dapat mengekspresikan atau memunculkan emosi yang berkaitan dengan permasalahan yang sensitive yang mereka pendiam.
Perubahan dalam proses sosioemosional yang kedua adalah perubahan pada emosi anak. Dunia anak-anak dipenuhi dengan emosi dan pengalaman emosional. Emosi adalah bahasa pertama yang digunakan oleh anak untuk berkomunikasi dengan orang tuanya sebelum anak dapat berbicara dengan baik. Berkaitan dengan emosi, anak-anak yagn ada dalam masa awal anak-anak mulai memiliki bermacam-macam ketakutan atau kecemasan. Ketakutan atau kecemasan yang dimiliki anak-anak ini juga cenderung memuncak. Contohnya adalah rasa takut itinggalkan, rasa tahu terhadap mimpi buruk, atau rasa takut pada gelap dsb.
Perubahan yang ketiga dalam proses sosioemosional adalah perubahan pada kepribadian anak. Menurut Erikson, tahap ini disebut tahap inisiatif versus rasa bersalah. Perkembangan anak pada tahap ini adalah belajar memiliki inisiatif atau ide tanpa terlalu banyak melakukan kesalahan. Inisiatif atau ide berarti tanggapan positif terhadpa tangtantangan dunia luar, tanggung jawab, pelajaran tentang kemampuan-kemampuan baru, dan awal anak memiliki tujuan.
Pada tahap ini, anak juga mulai memiliki kemampuan untuk membayangkan. Hal ini berarti anak perlu didorong untuk berimajinasi, memunculkan rasa ingin tahu dan ide-ide, serta mewujudkan ide-ide tersebut. Anak-anak yang mampu membayangkan apa yang akan terjadi, mampu membuat rencana, juga harus memiliki rasa tanggung jawab dan rasa sesal jika melakukan kesalahan.
2.5       Sosialisasi Pada Awal Masa Kanak-Kanak
Awal masa kanak-kanak sering disebit sebagai masa prakelompok.  Dasar untuk sosialisasi diletakan dengan menungkatnya hubungan antara anak dengan teman-teman sebayanya daru tahun ketahun.  Jenis hubungan sosial lebih penting dari pada jumlahnya.  Manfaat yang diperoleh anak dengan diberikannya kesempatan untuk berhubungan sosial akan sangat dipengaruhi oleh tingkat kesenangan hubungan sosial sebelumnya, yang umumnya terjadi dalam periode ini adalah bahwa anak lebih menyukai kintak soial sejenis dari pada hubungan sosial dengan kelompok jenis kelamin yang berlawanan.
a)      Pola Sosoalisasi Awal
Antara usia dua dan tiga tahun, anak menunjukan minat yang nyata untuk melihat anak-anak lain dan berusaha mengadakan kontak sosial dengan mereka.  Ini dikenal sebagai bermain sejajar, yaitu bermain sendiri-sendiri, tidak bemain dengan anak-anak lain kalaupun terjadi kontak, maka kontak ini cenderung bersifat perkelahian, bukan kerja sama.  Bermain sejajar merupakan bentuk kegiatan sosial yang pertama-tama dilakukan, dengan teman-teman sebaya.  Perkembangan berikutnya adalah bermain asosiatif, diman anak terlihat adalah kegiatan yang menyeupai kegiatan anak-anak lain.  Dengan meningkatnya kontak sosial, anak terlibat dalam bermain kooperatif, di mana ia menjadi anggota kelompok dan saling berinteraksi sekalipun anak sudah mulai bermain dengan anak lain, ia masih sering berperan sebagai penonton, mengamati anak lain bermain tatapi tidak berusaha benar-benar bermain dengannya.  Dari pengalaman mengamati ini, anak-anak muda belia belajar bagaimana anak lain mengadakan kontak sosial dan bagaimana prilakunya dalam berbagai situasi sosial.
b)     Pola Perilaku Sosial dan Tidak Sosial
a.    Pola Sosial
a)    Meniru agar sama dengan kelompok, anak meniru sikap dan prilaku orang yang sangat ia kagumi.
b)   Persaingan, keinginan untuk mengungguli dan mengalahkan orang-orang lain sudah tampak pada usia empat tahun.
c)    Kerja sama, pada akhir tahun ketiga bermain kooperatif dan kegiatan kelompok mulai berkembangdan meningkat baik dalam
d)   Simpati, membutuhkan pengertian tentang perasaan dan emosi orang-orang lain maka hal ini hanya kadang-kadang timbul sebelum tiga tahun.
e)    Empati, empati membutuhkan pengarian tentang perasaan dan emosi orang laintetapi disamping itu juga membutuhkan kemampuan untuk membayangkan diri sendiri di tempat orang lain.
f)    Dukungan sosail, menjelang berakhirnya awal masa kanak-kanak, dukungan dari teman-teman menjadi lebih penting dari pada persetujuan orang-orang dewasa.
g)    Membagi, dari pengalaman bersama orang-orang laun, anak mengetahiu bahwa salah satu cara untuk memperoleh persetjuan sosal adalah dengan membagi miliknya.
h)   Perilaku akrab, anak yang pada waktu bayi memperoleh kepuasan dari hubungan yang angat, erat, dan personal dengan orang lain.
b.   Pola Tidak Sosial
a)      Negatifisme atau melawan otoritas orang dewasa, mencapai puncaknya antara usia tiga dan empat tahun dan kemudian menurun.
b)      Agresif meningkat antra usia dua dan empat tahun dan kemudain menurun.
c)      Perilaku berkuasa atau merajai mulai sekitar usia tiga tahun dan semakin meningkat dengan bertambah banyaknya kesempatan untuk kontak social.
d)      Memikirkan diri sendiri, karena cakrawala social anak terutama terbatas di rumah, maka anak sering kali memikirkan dan mementingkan dirinya sendiri.
e)      Mementingkan siri sendiri, lambat laun diganti oleh minat dan perhatian kepada orang-orang lain.
f)       Merusak, ledakan amarah sering disertai dengan tindakan merusak benda-benda di sekitarnya.
g)      Pertentangan seks, sampai empat ahyn anak laki-laki dan perempuan bermain bersama-sama dengan baik, banyak anak laki-laki yang berprilaku agrisif yang melawan anak perempuan.
h)      Prasangka, sebagian besar anak prasekolah lebih suka bermain dengan teman-teman yang berasal dari ras yang sama, tetapi mereka jarang menolak bermain dengan anak-anak ras lain.
c)      Bentuk Perilaku Awal dalam Berbagai Situasi Sosial.
Bentuk prilaku social yang paling penting untuk penyasuaian social yang berhasil tampak dan mulai berkembang dalam periode ini.  Dalam penelitian longitudinal terhadap sejumlah anak, Waldrop dan Halverson melaporkan bahwa anak yang pada usia 2,5  tahun bersikap ramah dan aktif secara social akan terus bersikap seperti itu sampai usia 7,5 tahun.
a.    Penggolongan Teman
a)      Rekan adalah orang yang memuaskan kebutuhan akan teman dengan berada dalam lingkungan yang sama diman ia dapat dilihat dan didengar. 
b)      Teman bermain adalah orang yang dengan siapa individu terlibat dalam kegiatan yang mrnyenangkan.
c)      Teman baik bukan hanya teman bermain yang cocok tetapi juga seseorang pada siapa individu dapat berkomunikasi dengan bertukar pendapat dan saling dapat dipercaya.
d)      Teman pengganti, kalau kebutuhan berteman tidak terpenuhi baik karena keterpencilan geografis atau karena anak yang dapat dijadikan teman terdiri sari kelompok usia dan tingkat perkembangan yang berbeda atau mempunyai minat serta nilai yang berlainan, anak sering mengisi kekurangan ini dengan cara



2.6       Pola Bermain Awal Masa Kanak-Kanak
Masa awal kanak-kanak sering disebut sebagai tahap mainan, karena dalam periade ini hampir semua permainan menggunaan permainan.  Minat bermain anak-anak mengikuti suatu pola yang sangat dipengaruhi oleh kematangan dalam bentuk permainan tetentu dan oleh lingkungan dimana ia dibesarkan.  Misalnya anak yang sangat cerdas lebih menyukai permainan sandiwara, kegiatan-kegiatan kreatif dan buku-buku yang memberikan informasi dari pada yang bersifat hiburan.  Banyaknya alat bermain yang dimiliki dan banyak ruangan untuk bermain, keduanya dipengaruhi oleh status sosial  ekonomi keluarga, juga mempengaruhi pola bermain anak. Adapun pola bermain awal masa kanak-kanak yaitu sebagai berikut.
1)      Bermain dengan mainan, pada permulaan masa awal kanak-kanak bermain dengan mainan merupakan bentuk yang dominant.  Lagi pula, dengan meningkatnya minat terhadap bermain dalam kelompok, anak yang menganggap bermain dengan mainan yang umumnya bersifat bermain sendiri, tidak lagi menyenangkan. 
2)      Dramatisasi sekitar usia 3 tahun, dramatisasi terdiri dari permainan dengan meniru pengalaman-pengalaman hidup kemudian anak-anak bermain permainan pura-pura dengan teman-temannya seperti polisi dan perampok.
3)      Konstruksi, anak-anak membuat bentuk-bentuk dengan balok-balok, pasir, lumpur, tanah liat, manik-manik, cat, pasta, gunting, dan krayon. Menjelang berahirnya awal masa kanak-kanak, anak-anak sering menambahkan kreatifitasnya ke dalam konstruksi-konstruksi yang dibuat berdasarkan pengamatannya dalam kehidupan sehari-hari.
4)      Permainan, dalam tahun keempat anak mulai lebih menyukai permainan yang dimainkan bersama teman-teman sebaya dari pada dengan orang-orang dewasa.
5)      Membaca, anak-anak senang dibacakan dan melihat gambar-gambar dari buku.
6)      Film, radio, dan televisi.  Anak-anak jarang melihat bioskop, tetapi ia senang film kartun, film tentang binatang, dan film rumah tentang anggota-anggota keluarga.  Anak-anak juga senang mendengarkan radio, tetapi lebih senang melihat televisi.
2.7       Bahaya pada Awal Masa Kanak-kanak
Seperti halnya bahaya pada masa bayi, bahaya pada masa kanak-kanak dapat bersifat fisik, psikologis atau keduanya. Gizi yang kurang baik misalnya, dapat menghalangi pertumbuhan fisik dan mental seperti halnya pertengkaran keluarga dapat mengabaikan tekanan yang juga dapat menghambat pertumbuhan. Bahaya psikologis pada awal masa kanak-kanak lebih banyak daripada bahaya fisik dan lebih merusak penyesuaian pribadi serta penyesuaian sosial anak.
1)      Bahaya Fisik
Bahaya fisik awal masa kanak-kanak menimbulkan reaksi psikologis maupun fisik, terutama penyakit, kecelakaan dan kejanggalan.
a.  Penyakit
     Anak-anak sangat mudah terkena jenis penyakit, tetapi yang paling umum adalah penyakit pernapasan. Karena adanya ‘obat-obatan ajaib’ dan banyaknya imunisasi yang dapat diperoleh saat ini, penyakit anak tidak berlangsung lama. Namun penyakit secara psikologis dapat merusak karena dua hal, pertama anak yang sakitnya lama akan tertinggal dalam mempelajari berbagai keterampilan yang diperlukan untuk bermain dengan teman-temannya. Setelah sembuh dan dapat kembali mengikuti kelompok bermain. Ia merasa canggung. Kedua, kalau orang tua menganggap penyakit sebagai bencana keluarga dan menyalahkan anak karena menimbulkan kerepotan dan menambah biaya, maka keadaan ini membuat anak tegang dan gelisah. Ini tidak hanya akan semakin memperlama penyakit tetapi juga dapat merusak hubungan orang tua dan anak.
b. Kecelakaan
     Kebanyakan anak-anak mengalami luka iris, memar, radang, terbakar, patah tulang, otot kaku atau gangguan-gangguan ringan lain sebagai akibat kecelakaan. Anak lain mengalami kecelakaan yang lebih parah sehingga untuk beberapa saat atau untuk selamanya menderita ketidakmampuan.
2)      Bahaya Psikologis
Semua bidang perkembangan perilaku anak dikaitkan dengan potensi bahaya yang dapat membawa akibat buruk pada penyesuaian pribadi dan sosial.  Berikut ini dibahas sejumlah bahaya yang paling umum.
a.       Bahaya dalam Berbicara
Bicara merupakan sarana komunikasi dan karena komunikasi penting bagi kehidupan sosial maka anak-anak yang tidak dapat berkomunikasi dengan orang lain akan mengalami hambatan sosial dan akhirnya dalam dirinya timbul perasaan tidak mampu dan rendah diri.
b.      Bahaya Emosional
Bahaya emosional awal masa kanak-kanak yang besar kelihatan pada dominasi emosi yang kurang baik, terutama amarah. Kalau anak mengalami terlalu banyak emosi yang kurang baik dan sedikit mengalami emosi-emosi yang menyenangkan maka hal ini akan mengganggu pandangan hidup dan mendorong perkembangan watak yang kurang baik. Disamping itu, anak cepat kelihatan masam, cemberut atau tidak senang, suatu kondisi yang mengurangi daya tarik. Bahaya yang juga besar terhadap penyesuaian pribadi dan sosial berupa ketidakmampuan untuk melakukan empathic complex, suatu ikatan emosional antara individu dan orang-orang yang berarti. Hal ini disebabkan oleh dua hal. Pertama, anak yang ketika bayi tidak pernah mengalami perilaku akrab karena sedikit kesempatan untuk memperoleh hubungan yang hangat dan stabil dengan ibu atau pengganti ibu, tidak dapat menyadari kegembiraan yang dapat diperoleh dari hubungan akrab ini. Dengan demikian ia tidak berusaha untuk mengadakan hubungan yang hangat dan ramah dengan orang lain, baik dengan teman-teman sebaya maupun dengan orang lain cenderung terikat pada diri sendiri, dan ini menghambat dia untuk mengadakan hubungan emosional dengan orang-orang lain. Kedua, perkembangan kasih sayang yang terlalu kuat dari satu orang, biasanya ibu, Karenna ini menyebabkan anak merasa kurang aman dan gelisah pada saat perilaku orang yang dicintai tampaknya mengancam, dalam hal tidak menyetujui perilaku yang keliru atau kalau orang yang dicintai memberikan perhatian kepada orang lain dan berkembangnya ketergantungan emosional kepada satu orang, akan menyulitkan anak untuk menyelenggarakan hubungan yang baik dengan teman-temannya sebayanya.


BAB III
PENUTUP
3.1     Kesimpulan
Masa kanak-kanak awal adalah mereka yang berada pada usia 2-7 tahun, atau masa praoprasional, perkembangan kognitif anak pada masa ini dibagi dalam 3 fase atau sub tahap yaitu symbolik, egoisentrisme dan intuitif. Sedangkan perkembangan sosioemosionalnya dalam 3 tahap perubahan yaitu
1.    Pada relasi anak dengan orang lain
2.    Pada emosi anak
3.    Pada kepribadian anak
Setiap anak harus menghadapi masa ini dengan sukses karena masa ini adalah masa pembentukan kondasi yang kemudian akan membentuk sikap, dan tingkah laku serta kepercayaan dikemudian hari.
Perkembangan anak penting dijadikan perhatian khusus bagi orangtua. Sebab, proses tumbuh kembang anak akan mempengaruhi kehidupan mereka pada masa mendatang. Masa kanak-kanak merupakan masa-masa yang sulit bagi orang tua karena pada masa kanak-kanak awal, anak-anak sedang mengembangkan kepribadian yang unik. Perubahan yang terjadi pada diri anak tersebut meliputi beberapa aspek yaitu perubahan pada aspek kognitif dan fisik.
Hendaknya bagi orang tua dalam memperlakukan anak-anaknya pada masa ini adalah tetap, tak ada goncangan. Karena kegoncangan akan menyebabkan kebingungan dan keraguan pada anak. Anak-anak pada masa ini bersifat meniru, banyak bermain dengan lelakon (sandiwara) atau khayalan. Dan anak pada masa ini cenderung untuk mencari mana yang boleh dan mana yang tidak. Tugas orang tua adalah membimbing anak sehingga ia akan sampai pada penghargaan terhadap nilai-nilai. Sikap dan pandangan orang tua mengenai penampilan, kemampuan, dan prestasinya sangat mempengaruhi cara anak memandang dirinya sendiri.


REFERENSI

__. 2010. Aspek Perkembangan Kognitif Anak Usia Taman Kanak-kanak  (Online).http://www.Pembelajaranguru.Wosdpress.com. 15 April 2012. 19.00 WIB
Dariyo, Agoes. 2007. Psikolgi Perkembangan. Bandung : Refika Adiama
Hurlock, Elizabeth B. Psikologi Perkembangan. Jakarta: Erlangga
Melly. 2010. Perkembangan Kognitif (Online). http:www.Tumbuh-Kembang-Anak,com 15 April 2012. 19.10 WIB.
Nut’aeni.2004. Intervensi Dini Bagi Anak Bermasalah. Jakarta : Rineka Cipta
Rahmah, Elfi Yuliani. 2005. Psikologi Perkembangan. Ponorogo : STAIN Ponorogo Press.
Syah, Muhibbin. 1995. Psikologi Pendidikan Dengan Pendekatan Baru. Bandung : PT Remaja Rosda Karya.

Suryabrata, Sumadi. 2004. Psikologi Pendidikan. Bandung : PT Raja Grafindo.

Related Posts

There is no other posts in this category.
Subscribe Our Newsletter