A.
Kerajaan-kerajaan Islam Pertama di Sumatera
1.
Kerajaan Samudra Pasai
Kerajaan Islam pertama di Indonesia
adalah kerajaan Samudra Pasai yang merupakan kerajaan kembar. Kerajaan ini
terletak di pesisir timur laut Aceh Kabupaten Lhok Seumawe atau Aceh Utara kini.[2]
Kemunculannya sebagai kerajaan Islam diperkirakan awal atau pertengahan abad
ke-13 M, pendiri dan raja pertama kerajaan ini adalah Malik al-Saleh, sebagai
hasil dari proses islamisasi daerah pantai yang pernah disinggahi
pedagang-pedagang muslim sejak abad ke-7, ke-8 M, dan seterusnya. Daerah yang
diperkirakan masyarakatnya sudah banyak yang memeluk agama Islam adalah Perlak,
sepeti yang kita ketahui berita dari Marco Polo yang singgah di daerah itu pada
tahun 1292.
Bukti berdirinya kerajaan Samudra
Pasai pada abad ke-13 M, itu didukung dengan adanya nisan yang terbuat dari granit
asal Samudra Pasai. Dari nisan itu dapat diketahui bahwa raja pertama itu
meninggal pada bulan Ramadhan tahun 696 H, yang diperkirakan bertepatan dengan
tahun 1297 M.[3] Nisan
kuburan itu didapatkan di Gampong Samudera bekas kerajaan Samudera Pasai
tersebut.
Dari segi peta politik, munculnya
kerajaan Samdra Pasai abad ke-13 M itu sejalan dengan suramnya peranan maaritim
kaearajaan Sriwijaya, yang sebelumnya memegang peranan penting di kawasan
Sumatera daan sekelilingnya.
Dalam hikayat Raja-raja Pasai
disebutkan gelar Malik al-Saleh sebelum menjadi raja adalah Merah Sile atau
Merah Selu. Ia adalah putera Merah Gaajah, nama merah merupakan gelar bangsawan
yang lazim di Sumatera Utara. Selu berasal dari kata sungkala yang
aslinya berasal dari Sanskrit Chula. Merah Selu msuk Islam berkat
pertemuannya dengan Syekh Ismail, seorang utusan Syarif Mekah, yang kemudian
memberikannya gelar Sultan Malik al-Saleh.[4]
Kepemimpinannya yang menonjol menempatkan dirinya menjadi raja.
Tempat pertama sebagai pusat
kerajaan Samudera Pasai adalah Muara Sungai Peusangan, sebuah sungai yang cukup
panjang dan lebar di sepanjang jalur pantai. Ada dua kota yang terletak
bersebrangan di Muara Sungai Peusangan yaitu Pasai dan Samudera. Kota Samudera
terletak agak lebih ke pedalamaan, sedangkan kota Pasai terletak lebih ke
Muara. Ditempat yang terakhir inilah terletak beberapa makam raja-raja.
Pendapat bahwa Islam sudah berkembang
di sana sejak awal abad ke-13 M, didukung oleh berita Cina dan pendapat Ibn
Batutah, seorang pengembara terkenal asal Maroko, yang pada pertengahan abad
ke-14 M (746 H/1345 M), mengunjungi Samudera Pasai dalam perjalanannya dari
Delhi ke Cina. Ketika itu Samudera Pasai diperintahkan oleh Sultan Malik
al-Zahir, putera Sultan Malik al-Saleh. Menurut sumber-sumber Cina, pada awal
tahun 1282 M kerajaan kecil sa-mu-ta-la (Samudera) mengirim kepada raja Cina
duta-duta yang disebut dengan nama-nama muslim yakni Husein dan Sulaiman. Ibn
Batutah menyatakan bahwa Islam sudah hampir seabad lamanya disiarkan di sana.
Dan kerajaan Samudera Pasai pada saat itu merupakan pusat studi agama Islam dan
tempat berkumpul para ulama-ulama dari berbagai negeri Islam untuk berdiskusi
berbagai masalah keagamaan dan keduniaan.
Dalam kehidupan perekonomiannya,
kerajaan mariti ini tidak mempunyai basis agraris. Basis perekonomiannya adalah
perdagangan dan pelayaran. Tome Pires menceritakan, di Pasai ada mata uang
dirham. Adanya mata uang itu membuktikan bahwa kerajaanini pada saat itu
merupakan kerajaan yang makmur. Mata uang dari Samudera Pasai tersebut pernah
diteliti oleh H.K.J. Cowan untuk menunjukkan bukti-bukti sejarah raja-raja
Pasai. Mata uang tersebut menggunakan nama-nama sultan Alauddin, Sultan Manshur
Malik al-Zahir, Sultan Abu Zaid dan Abdullah. Pada tahun 1973 M, ditemukan lagi
11 mata uang dirham diantaranya bertuliskan nama Sultan Muhammad Malik
al-Zahir, Sultan Ahmad, Sultan Abdullah, semuanya adalah raja-raja Samudera
Pasai pada abad ke-14 dan 15 M.
Atas dasar mata uang emas yang
ditemukan itu dapat diketahui nama-nama raja dan urutannya, sebagai berikut:[5]
|
|||||
2. Kerajaan Aceh Darussalam
Kerajaan Samudra Pasai berlangsung sampai tahun 1524 M. Pada tahun 1521 M kerajaan ini ditaklukkan oleh Portugis yang mendudukinya selama tiga tahun, kemudian tahun 1524 M dianekasi oleh raja Aceh, Ali Mughayatsyah. Selanjutnya kerajaan Samudera Pasai di bawah pengaruh kesultanan Aceh yang berpusat di Bandar Aceh Darussalam.
Kerajaan Aceh terletak di daerah
yang sekarng dikenal dengan nama Kabupaten Aceh Besar. Di sini pula terletak
ibu kotanya. Dan belum diketahui pasti kapan kerajaan ini berdiri. Anas Machmud
berpendapat, kerajaan Aceh berdiri pada abad ke-15 M, di atas puing-puing
kerajaan Lamuri, oleh Mujaffar Syah (1465-1497 M). Dialah yang membangun kota
Aceh Darussalm.
Menurut H.J. de Graaf, Aceh menerima
Islam dari Pasai yang kini menjadi bagian wilayah Aceh, dan pergantian agama
diperkirakan terjadi padaa pertengahan abad ke-14 M. Menurutnya kerajaan Aceh
merupakan penyatuan dari dua kerajaan kecil, yaitu Lamuri dan Aceh Dar
al-Kamal. Ia juga berpendapat raja pertamanya adalah Ali Mughayat Syah.
Ali Mughayat Syah meluaskan wilayah
kekuasaannya ke daerah Pidie yang bekerja sama dengan Portugis, kemudian ke
Pasai pada tahun 1524 M. Dengan kemenangannya terhadap dua kerajaan tersebut,
Aceh dengan mudah melebarkan sayap kekuasaannya ke Sumatera Timur. Untuk
mengatur daerah Sumatera Timur, raja Aceh mengirimkan panglima-panglimanya,
salah satunya adalah Gocah pahlawan yang menurunkan sultan-sultan Deli dan
Serdang.
Peletak dasar kebesaran kerajaan
Aceh adalah Sultan Alauddin Riayat Syah yang bergelar al-Qahar.[6]
Dalam menghadapi balatentara Portugis, ia menjalin hubungan persahabatan dengan
kerajaan Utsmani di Turki dan negara-negara Islan di Indonesia. Puncak
kekuasaan kerajaan Aceh terletak pada masa pemerintahan Sultan Iskandar Muda
(1608-1637). Pada masanya Aceh menguasai seluruh pelabuhan di pesisir timur dan
barat Sumatera. Dari Aceh, Tanah Gayo yang berbatasan dengan diislamkan, juga
Minangkabau. Hanya orang-orang kafir Batak yang berusaha menangkis
kekuatan-kekuatan Islam yang datang bahkan mereka sampai meminta bantuan
Portugis. Sultan Iskandar kemudian bekerjasama dengan musuh Portugis yaitu
Belanda dan Inggris.[7]
Sultan Iskandar Muda memerintah
dengan tangan besi, sedangkan pengantinya Iskandar Tsani, bersikap lebih
liberal, lembut dan adil. Pada masanya Aceh terus berkembang. Pengetahuan agama
maju dengan pesat. Akan tetapi, kemtiannyaa diikuti oleh masa-masa bencana,
tatkala beberapa sultan perempuan menduduki singgahsana pada tahun 1641-1699,
beberapa wilayah taklukannya lepas, dan kesultanan menjadi terpecah belah,
sehingga menjelang abad ke-18 M kesultanan Aceh merupakan bayangan belaka dari
masa silam dirinya tanpa kepemimpinan dan kacau balau.
B.
Tumbuh dan Berkembangnya Kerajaan-kerajaan Islam di Jawa
Masuknya pengaruh Islam pertama
kalinya belum diketahui pasti. Namun kuburan batu nisan Ftimah binti Maemun di
Leran Gesik yang berangka 475 H (1028 M), barangkali bukti nyata kedatangan
Islam ke Jawa Timur.[8]
Peoses islamisasi di Jawa Timur
sudah terjadi semenjak kejayaan Majapahit. Hal ini dapat diketahui dari
penemuan puluhan nisan di Troloyo, Trowulan, Gresik, serta berita Ma-huan tahun
1416 yang menceritakan orang-orang Muslim yang bertempat tinggal di Gresik.[9]
Berikut adalah kerajaan-kerajaan Islam di Jawa.
- Kerajaan
Demak
Perkembangan Islam di Jawa bersamaan
waktunya dengan melemahnya posisi Raja Majapahit. Hal itu memberi peluang
kepada pengusaha-pengusaha islam di pesisir untuk membangun pusat kekuasaan
yang independen.
Di bawah pimpinan Sunan Ampel Denta,
wali songo bersepakat mengangkat Raaden Patah menjadi raja pertama kerajaan
Demak, kerajaan Islam pertama di Jawa, dengan gelar Senopati Jimbun
Ngabdurahman Panembahan Palembang Sayidina Panatagama. Sebelumnya Demak yang
masih bernama Bintoro merupakan daerah vasal Majapahit yang diberikan Raja
Majapahit kepada Radeen Patah.[10]
Pemerintahan Raden Patah berlangsung
sekitar akhir abad ke-15 hingga awal abad ke-16. Ia adalah seorang anak Raja
Majapahit daribseorang ibu muslim keturunan Campa. Ia digantikan oleh anaknya,
Sambrang Lor dikenal juga dengan Pati Unus. Menurut Tome Pires, Pati Unus
berusia 17 tahun ketika menggantikan ayahnya sekitar tahun 1507. Menurutnya,
tidak lama setelah naik tahta ia merencanakan suatu serangan terhadap Malaka.
Semangt perangnya semakin memuncak ketika Malaka dikalahkan oleh Potugis pada
tahun 1511. Akan teetapi sekitar pergantian tahun 1512-1513, tentaranya
mengalami kekalahan besar.
Pati Unus digantikan oleh Trenggono
yang dilantik sebagai sultan oleh Wali Songo “Sunan Gunung Jati” dengan gelar
Sultan Ahmad Abdul Arifin. Ia memerintah pada tahun 1524-1546. Pada msa sultan
Demak ketiga inilah Islam dikembangkan keseluruh tanah Jawa, bahkan sampai ke
Kalimantan Selatan. Penaklukan Sunda Kelapa berakhir pada tahun 1527 yang dilakukan oleh pasukan
gabungan Demak dan Cirebaon di bawah pimpinan Fadhilah Khan. Majapahit dan
Tuban jatuh kekuasaan Krajaan Demak diperkirakan pada tahun 1527 itu juga.
Selanjutnya pada tahun 1529, Demak berhasil menundukkan Madiun, Blora (1530),
Surabya (1531), Pasuruan (1535), dan antara tahun 1541-1542 Lmongan, Blitar,
Wirasaba dan Kediri (1544). Palembang dan Banjarmasin mengakui kekuasaan Demak.
Seamantara daerah Jawa Tengah bagian selatan sekitar Gunung Merapi, Pengging
dan Pajang berhasil dikuasai berkat pemuka Islam “Syekh Siti Jenar dan Sunan
Tembayat”. Pada tahun 1546, dalam penyerbuan ke Blambangan, Sultaan Trenggono
terbunuh. Ia digantikan adiknya Prawoto. Masa pemerintahannya tidak berlangsung
lama karena terjadi pemberontakan oleh adipati-adipati sekitar keeajaan Demak.
Sunan Prawoto sendiri kemudian dibunuh oleh Aria Penangsang kemenakannya dari
Jipang (Bojonegoro sekarangnya) pada tahun 1549. Dengan demikiankerajaan Demak
berakhir, dan dilanjutkan oleh kerajaan Pajang di bawah oleh Jaka Tingkir yang
berhasil membunuh Aria Penangsang.
- Kerajaan
Pajang
Pajang
adalah pelanjut atau sebagai pewaris kerajaan Demak. Sultan pertama kerajaan
ini adalah Jaka Tingkir yang berasal dari Pengging, di Lereng Gunung Merapi.
Oleh raja Demak ketiga Sultan Trenggono, Jaka Tingkir diangkat menjadi penguasa
di Pajang, setelah dikawinkan dengan anak perempuannya. Setelah Raja Demak
meniggal dunia Jaka Tingkir memerintahkan agar semua benda pusaka Demak
dipindahkan ke Pajang.[11]
Setelah menjadi raja yang paling berpengaruh di Pulau Jawa ia bergelar Sultan
Adiwijaya.
Sultan
Adiwijaya menghadiakan kota gede Yogyakarta dan mengangkat Ki Ageng Pemanahan
menjadi adipati di situ. Saat Ki Ageng Pemanahan meninggal, jabatan adipati
digantikan oleh anaknya, Sutawijaya. Sementara itu adipati Demak diserahkan
kepada Pangeran Aria Pangiri. Sutawijaya yang menjadi adipati di Mataram
(Yogyakarta) ingin menjadi raja dan berkuasa atas seluruh pulau Jawa.[12]
Sultan
Adiwijaya wafat pada tahun 1582, kedudukan digantikan putranya, Pangeran
Benowo. Saat Pangeran Benowo berkuasa, Aria Pangiri berusaha merebut kekuasaan
di Pajang, namun dapat digagalkan atas bantuan Sutawijaya.
Pangeran
Benowo memang tidak sanggup menggantikan kedudukan ayahnya sebagai Sultan
Pajang, oleh karenanya ia menyerahkan tahta kerajaan kepada Sutawijaya sebagai
rasa terimakasihnya. Akan tetapi Sutawijaya menyatakan keinginannya untuk tetap
tinggal di Mataram dan ia hanya meminta “pusaka Kerajaan Padang” diantaranya Gong
Kiai Skar Dlima, Kendali Kiai Macan Guguh, dan Pelana Kiai Jatayu.[13]
Namun dalam tradisi Jawa penyerahan benda-benda pusaka sama artinya dengan
penyerahan kekuasaan. Setelah itu kerajaan Pajang dipindahkan ke Mataram pada
tahun 1586 oleh Sutawijaya. Dan berakhirlah riwayat Kerajaan Pajang, dan
berdiri kerajaan Mataram yang bercorak Islam di Yogyakarta.
- Kerajaan
Mataram
Setelah
naik tahta kerajaan pada tahun 1586, Sutawijaya bergelar Panembahan Senapati
Ing Alaga Sayidin Panatagama. Kerajaan yang dipimpin oleh Sutajaya ini adalah
kerajaan kedua yang kini bercorak Islam, sementara yang dulu bercorak Hindu.
Namun letak Mataram Islam berada di bekas wilayah Kerajaan Mataram Hindu.
Sementara itu, Pajang yang dulu menjadi pusat kerajaan, msuk menjadi wilayah kekuasaan
Mataram Islam, dan Pangeran Benowo sebagai adipati Pajang.[14]
Setelah
Panembahan Senapati, berturut-turut yang menggantikan kedudukan Sultan Mataram
adalah Mas Jolang atau Pangeran Seda Krapyak (1601-1613), Mas Rangsang atau
Sultan Agung Hanyakrakusuma Senapati Ing Alaga Ngabdurrahman Khalifatullah
(1613-1645).
Sultan
Agung wafat pada tahun1645 dan dimakamkan di Imogiri. Semua keturunan Sultan
Agung baik dari Yogyakarta maupun Surakarta, juga dimakamkan di Imogiri.
Setelah Sultan Agung wafat, Mataram Islam mengalami kemunduran.
- Kerajaan
Cirebon
Kesultanan
Cirebon merupakan kerajaan Islam pertama di daerah Jawa Barat. Kerajaan ini
didirikan oleh Sunan Gunung Jati. Ia diperkirakan lahir pada tahun 1448 M dan
wafat pada tahun 1568 M, dalam usia 120 tahun.[15]
Kedudukannya sebagai Wali Songo mendapatkan penghormatan dari raja-raja di
Jawa, seperti Demak dan Pajang.
Setelah
Cirebon resmi berdiri sebuah Kerajaan Islam yang merdeka dari kekuasaan
Kerajaan Pajajaran, Sunan Gunung Jati berusaha meruntuhkan Kerajaan Pajajaran
yang belum menganut ajaran Islam.
Dari
Cirebon Sunan Gunung Jati, mengembnagkan ajaran Islam kedaerah-daerah lain
seperti Majalengka, Kuningan, Galuh, Sunda Kelapa dan Banten. Pada tahun 1525
M, ia kembali ke Cirebon dan menyerahkan Bnten kepada anaknya yang bernama
Sultan Hasanuddin. Sultan inilah yang meruntuhkan raja-raja Banten.
Setelah
Sunan Gunung Jati wafat, ia digantikan oleh cicitnya yang bergelar Pangeran
Ratu atau Panembahan Ratu. Panembahan wafat pada tahun 1650 M dan digantikan
oleh putranya yang bernama Panembahan Girilaya. Sepeninggalannya, Kesultanan
Cirebon dipecah menjadi dua pada tahun 1697[16]
dan dipentahkan oleh dua orang putranya, yaitu Martawijaya atau Panembahan
Sepuh dan Kartawijaya atau Panembahan Anom. Penembahan Sepuh memimpin
Kesultanan Kasepuhan yang bergelar Syamsuddin, semeentara Panembahan Anom
memimpin Kesultanan Kanoman yang bergelar Badruddin.
- Kerajaan
Banten
Sunda
Kelapa adalah pelabuhan yang pentig di Muara Sungai Ciliwung. Kedudukannya
lebih penting dari pada dua kota pelabuhan Pajajaran lainnya, yakni Banten dan
Cirebon.[17]
Setelah
Sunan Gunung Jati menaklukan Banten pada tahun 1525 M. Ia menyerahkan kekuasaan
kepada putranya yang bernama Sultan Hasanuddin. Sultan Hasanuddin kemudian
menikah dengan Putri Demak dan diresmikam menjadi Panembahan Bnten pda tahun
1552 M. Ia meneruskan usaha ayahnya dalam meluaskan daerah Islam, yaitu
Kelampung dan Sumatera Selatan. Pada tahun 1527 M, ia berhasil menaklukan Sunda
Kelapa.[18]
Pada
tahun 1568 M, ketika kekuasaan Demak beralih menjadi Pajang, Sultan Hasanuddin
memerdekakan Banten, oleh karena itu ia dianggap sebagai Raja Islam pertama di
Banten. Ktika ia meninggal pada tahun 1570 M, kedudukannya digantikan oleh
putaranya, yaitu Pangeran Yusuf. Ia menaklukan Pakuan pada tahun 1579 M,
sehingga banyak bangsawan sunda yang masuk Islam.
Setelah
Panerag Yusuf meninggal pada tahun1580 M, Ia digantikan puteranya yang bernama Muhammad,
yang masih muda belia. Selam selama itu kekuasaan dipegang oleh Qadi bersama
empat pembesar istana lainnya. Muhammad meninggal pada tahun 1596 M, dalam usia
25 tahun. Setelah itu kedudukannya digantikan oleh anaknya yang masih kecil
yang bernama Abdul Mafakhir Mahmud Abdulkadir. Ia memerintah secara resmi pada
tahun 1638 M dan mendapat gelar Sultan dari Mekah.
Pada
masa pemerintahan Sultsn Abdulfatah (1652-1659 M), terjadi beberapa peperangan
dengan VOC yang berakhir dengan perdamaiaan pada tahun 1659 M.
C. Tumbuh dan Berkembangnya
Kerajaan-Kerajaan Islam di Kalimantan, Maluku
dan Sulawesi
1. Kalimantan
Kalimantan terlalu luas untuk
berada pada satu kekuasaan pada waktu datangnya Islam. Daerah Barat Laut
menerima Islam dari Malaya, daerah Timur dari Makasar dan wilayah Selatan dari
Jawa.[19]
Berikut adalah kerajaan-kerajaan di Kalimantan :
- Kerajaan
Banjar di Kalimantan Selatan
Pada
abad ke-16, di pedaleman Kalimantan terdapat Kerajaan Nagaradaha (Kerajaan
Daha). Banjarmasin merupakan slah satu wilayah kekuasaan kerajaan tersebut.
Adipai Banjarmasi yang bernama Raden Samudera berhasil menaklukan kerajaan Nagaradaha
dengan bantuan Kerajaan Demak. Akhirnya berdirilah Kerajaan Banjar dengan Raden
Samudera sebagai rajanya. Setelah masuk Islam ia bergelar Sultan Suryanullah.[20]
Kerajaan Banjar merupakan kelanjutan dari Kerajaan Daha yang beragama Hindu
yang dipimpin oleh Raja Sukarama.[21]
Ketika
Surynullah, naik tahta beberapa daerah sekitarnya sudah mengakui keuasaannya,
yakni daerah Sambas, Batanglawai, Sukadana, Kotawaringin, Sampit, Mendawi, dan
Sambangan.
Sultan
Suryanullah digantikan oleh putera tertuanya yang bergelar Sultan Rahmatullah.
Raja-raja Banjar berikutnya adalah Sultan Hidayatullah (putera Sultan
Rahmatullah) dan Mahrum Panambahan yang dikenal dengan Sultan Musta’inullah.
Pada masa Mahrum Panambahan, ibu kota kerjaan dipindahkan beberapa kali.
Pertama ke Amuntai, kemudian ke
Tambangan dan Batang Banju, dan akhirnya ke Amuntai kembali. Terjadinya
perpindahan ibu kota tersebut karena datangnya pihak Belanda ke Banjar dan
menimbulkan hura-hura.
- Kerajaan
Kutai di Kalimantan Timur
Menurut
risalah Kutai, dua orang penyebar Islam tiba di Kutai pada masa pemerintahan
Raja Mahkota, yaitu Tuan di Bandang, yang dikenal dengan Dato’ Ri Bandang dari
Makasar dan yang satunya adalah Tuan Tunggang Parangan. Setelah pengislaman itu
Dato’ Ri Bandang kembali ke Makasar, sementara Tuan Tunggang Parangan tetap di
Kutai. Raja Mahkota tunduk kepada keimanan Islam, setelah itu segera dibanun
sebuah masjid dan pengajaran agama Islam dapat dimulai. Yang pertama mengikuti
pengajaran itu adalah Raja Mahkota sendiri, kemudian pangeran, para mentri,
panglima dan hulubalang dan akhirnya rakyat biasa.[22]
Sejak
itu Raja Mahkota berusaha keras menyebarkan Islam dengan pedang. Proses
Islamisasi di Kutai dan daerah sekitarnya diperkirakan terjadi pada tahun 1575.
Penyabaran lebih jauh daerah-daerah pedalaman dilakukan terutama pada waktu
puteranya Aji di Langgar, dan pengganti-penggantinya meneruskan perang ke
daerah Muara Kaman.
2. Maluku
Di
Maluku terdapat empat kerajaan yang terkenal yaitu Ternate, Tidore, Bacan dan
Jailolo.[23] Maluku
ialah pulau yang menghasilkan cengkeh, yang terletak di sebelah barat pulau
Halmahera. Dari pelabuhan-pelabuhan Jawa Timur, rempah-rempah diangkut ke
pantai Malabar di India, kemudian diteruskan kenegeri Arab dan dari sana dijual
kepada para pedagang Itali. Para saudagar Islam dari Jawa Timur itulah yang
menyebarkan Islam di Maluku.
- Kerajaan
Ternate
Kerajaan
Ternate berdiri pada abad ke-13 di Maluku Utara, dengan ibu kotanya di Sampalu.
Rajanya bernama Sultan Zaenal Abidin, ia belajar agama Islam di Gegesik. Kerajaan
Ternate merupakan penghasil rempah-rempah yang besar di Nusantara. Pada abad
ke-15, kerajaan ternate menjadi kerajaan terpenting di Maluku.
Kerajaan
Ternate mencapai kejayaannya pada masa pemerintahan Sultan Baabullah. Pada
waktu itu wilayah kekuasaan Ternate sampai ke Philipina Selatan.[24]
Untuk menjaga wilayah keamanannya, ia memiliki 100 kapal kora-kora untuk
menjaga wilayahnya. Kerajaan Ternate merupakan kerajaan Maritim.
Pada
masa itu Sultan Baabullah mendapat gelar seabagai “Yang Dipertuan di 72 pulau”.
Ia juga dikenal sebagai pahlawan yang gigih menentang penjajahan Portugis.
Dengan kegigiannya ia bersama rakyatnya nerhasil mengusir Portugis dari Maluku
pada tahun 1795.
- Kerajaan
Tidore
Seperti
halnya Kerajaan Ternate, Kerajaan Tidore pun merupakan penghasil cengkeh yang
besar. Berkat hasil cengkehnya itu kerajaan Tidore menjadi kerajaan yang maju.
Raja
yang terkenal di Kerajaan Tidore adalah Sultan Nuku. Pada masanya, kekuasan
Tidore meliputi Halmahera, Seram, Kai, dan Irian Jaya.
Pada
mulanya kerajaan Ternate dengan Kerajaan Tidore hidup damai berdampingan. Namun
sejak kedatangan Portugis , kedua kerajaan ini di adudombakan[25],
setelah mengetahui bahwa Portugis ingin menguasai Maluku, akhirnya dua kerajaan
ini bersatu dan mengusir Bangsa Portugis dari Maluku.
3. Sulawesi (Gowa-Tallo, Bone, Wajo,
Soppeng dan Luwu)
Kerajaan Gowa-Tallo, kerajaan yang
kembar yang saling berbatasan, biasanya disebut kerajaan Makasar.[26]
Kerajaan ini terletak di Semenanjung Barat Daya Pulau Sulawesi.
Gowa-Tallo
adalah kerajaan yang berpusat pemerintahan di Makasar (sekarang Ujung Padang),
yaitu di Simbaopu (Makasar). Selain itu pula terdapat kerajaan lain seperti
Bone, Sopeng, Wajo dan Luwu.[27]
Kerajaan
Makasar merupakan kerajaan yang pertama di Sulawesi. Sementara itu Bone, Waajo,
dan Soppeng bersatu yang disebut Tellum Pottjo (Tiga Kerajaan). Penguasa
Kerajaan Gowa-Tallo pada tahun 1605 masuk agama Islam. Raja Tallo yaitu Kraeng
Matoaya sebagai Mangkubumi Kerajaan Gowa (Makasar), ia bergelar Sultan
Abdullah. Sedangkan penguasa Gowa yaitu Daeng Manrabia sebagai raja Gowa
bergelar Sultan Alaudin (1605-1639). Mereka berdua giat menyebarkan agama
Islam. Mereka berdua berusaha memperluas daerah kekuasaannya. Pada awalnya
mereka mengajak Raja Bone, Sopeng dan Wajo untuk memeluk agama Islam. Karena
ditolak maka ketiga kerajaan tersebut diperanginya dan akhirnya masuk Islam.
Sultan
Alauudin, sangat menentang tindakan Belanda secara terang-terangan. Ia
meninggal pada tahun 1639, dan digantikan oleh anaknya yang bernama Sultan
Muhammad Said. Ia mengirimkan armada laut ke Maluku untuk melawan Belanda. Ia
meninggal pada tahun 1653. Perlawanan Makasar terhadap Belanda memuncak pada
masa pemerintahan Sultan Hasanuddin (1653-1669). Hasanuddin merupakan Raja
Makasar yang paling berani melawan Belanda, sehingga mendapat julukan “Ayam Jantan dari Timur”. Ia sering melakukan
penyerangan terhadap kapal-kapal
Belanda, yang sangat merugikan VOC (Belanda).
Bone
pada tahun 1660 melakukan pemberontakan ingin melepas diri dari Makasar.
Pemberontakan ini dibawah pimpinan seorang bangsawan Sopeng-Bone yang bernama
Aru Palaka. Kemudian Sultan Hasanuddin mengerahkan seluruh pasukan untuk menghantam Aru Palaka. Usaha
beliau tidak berhasil karena Aru Malaka dibantu oleh Belanda. Makasar diserang
dari lautan oleh armada laut Belanda, dari darat oleh Aru Palaka. Akhirnya Gowa
harus mengakui keunggulan Belanda, dan menyerah.[28]
Pada tahun 1667, ditandatangani Perjanjian Bongaya yang isinya sebagai berikut
:
Ø Belanda memperoleh hak monopoli dagang
di Makasar
Ø Belanda diizinkan mendirikan benteng di
Makasar
Ø Gowa harus melepaskan Bone dan
pulau-pulau lainnya
Ø Aru Palaka diakui sebagai Raja Bone
Beberapa
bulan kemudian Hasanuddin kembali menyerang Belanda. Setelah Benteng Somba Opu
hancur dan jatuh ketangan Belanda. Sultan Hasanuddin menyerahkan tahtanya
kepada puteranya yang bernama Mappasomba. Namun akhirnya Gowa dikuasai Belanda.
2.2.
Situasi Serta Kondisi Sosial Budaya Masa Kedatangan Islam
Di Indonesia pada masa kedatangan
dan penyebaran Islam terdapat beraneka ragam suku bangsa, organisasi
pemerintahan, struktur ekonomi dan sosial budaya. Dan pada saat itu belum
banyak mengalami percampuran jenis-jenis bangsa, struktur sosial,ekonomi, dan
budayanya agak statis dibandingkan dengan suku bangsa yang mendiami daerah pesisir.
Di Sumatera terdapat kerajaan
Sriwijaya dan Melayu, di Jawa terdapat Majapahit dan Sunda-Pajajaran, di
Kalimantan terdapat Kerajaan Negara-Daha dan Kutai. Di Bali kerajaan yang
bercorak Hindu masih terus sampai abad ke-20. Pada waktu itu di beberapa daerah
lainnya masih terdapat kerajaan tidak mendapat pengaruh dari kerajaan Hindu
tersebut. Kerajaan di Sulawesi ialah Gowa-Tallo, Wajo, Bone, Sompeng dan Luwu. Yang di beritakan oleh Tome
Pires (1512-1515) di sana kurang lebih 50 kerajaan yang subur tapi masih
berhala.[29]
Kerajaa-kerajan di Sulawesi tersebut
tidak menunjukkan pengaruh India atau Indonesia-Hindu. Dari berita Tome Pires,
bahwa di daerah Sumatera di samping sudah banyak kerajaan yang bercorak Islam
juga banyak yang belum karena itu seringkali disebut cafre.[30]
Mungkin diantaranya banyak tidak memperoleh banyak pengaruh budaya Hindu. Tome
Pires menyebutkan bahwa di Banda
sepanjang pantai terdapat pedagang-pedagang Muslim, tapi di pedalamannya
terdapat banyak yang menganut berhala, dan mereka tidak mempunyai kerajaan
tetapi desa-desanya yang diperintah oleh cabila dan orang tua-tua.
Struktur pemerintahan seperti diberitakan oleh Tome Pires itu diperkuat lagi
oleh Antonio Galvao yang menyebukan bahwa di Maluku, setiap tempat merdeka
dengan daerah dan batas-batasnya sendiri. Penduduknya hidup bersama dalam masyarakat-masyarakat
yang memenuhi keperluannya sendiri-sendiri. Masyarakat-masyarakat tersebut diperintah
oleh orang tua yang dianggap lebih baik dari pada yang lain.
Teori Brandes dan H. Kern yang didasarkan
atas ilmu bahasa dan teori R. Von Heine-Geldren dan P.V. Van Stein Callenfels
yang didasaarkan atas peninggalan alat-alat prasejarah, sebelum pengaruh budaya
India, nenek moyang bangsa Indonesia sudah mengenal budaya yang tinggi. J.C.
Van Leur, menekankan hal-hal yang penting diantara budaya bangsa Indonesia
sebelum pengaruh Hindu yaitu mengenai organisasi politik, pertanian dengan
irigasi, pelayaran dan pengolahan logam.
Berdasarkan beberapa bukti dari
unsur bentuk-bentuk ini maka masyarakat-masyarakat pra Hindu agaknya sudah
memiliki tingkat hidup yang sama dengan apa yang terdapat dalamstruktur sosial
dan kehidupan sosial-ekonomi bangsa Indonesia di berbagai daeerah pada masa
sekarang.[31]
Menurut Antonio Galovao, pada
abad-abad kedatangan dan penyebaran Islam , di daerah Maluku masih terdapat
beberapa kelompok masyarakat yang membuat patung-patung dari kayu atau batu
dengan wajah orang laki-laki, anjing, kucing, dan binatang-binatang yang mereka
sukai, yang bertujuan untuk menghormati para bapak dan nenek moyang. Mereka
memuja benda-benda langit, matahari, bulan dan bintang-bintang[32].
Dari berita tersebut bahwa pemuja yang digambarkan bukanlah bercorak
Hindu-Budha, tetapi kepercayaan kepada kekuatan-kekuatan alam. Kepercayaan
tersebut juga masih terdapat di Kalimantan, antaralain pada upacara Tiwah.
Sebelum dan masa kedatangan serta
penyebaran Islam, kepulauan Indonesia sangaat beranekaragam bahasanya, misalnya
di Jawa bahasa yang dipergunakan ialah Jawa Kuno, Sunda Kuno dan di
daerah-daerah Sumatera dan Semenanjung Melayu dipergunakan bahasa Melayu.
Terdapat bahasa-bahasa daerah lain seperti bahaasa Batak, Kubu, Nias,
Minangkabau, Padang dan sebagainya. Hampir setiap suku bangsa memakai bahasanya
sendiri. Demikian pula di Kalimantan terdapat bahasa Banjar, Melayu, dan Dayak,
di Sulawesi bahasa Bugis, Makasar, dan di Maluku juga terdapat bermacam-macam
bahasa. Antonio Galvao pada pertengahan abad ke-16 menceritakan bahwa di daerah
tersebut masyarakat yang bertetangga jarang sekali saling mengerti. Disamping
itu raja-raja, putera-putera dan orang-orang yang dekat padanya mempunyai cara
berbicara sendiri yang tidak dapat dimengerti oleh orang-orang lain.
Bahasa sangsakerta yang biasanya
hanya dipakai oleh golongan kecil, kaum Brahmana dan beberapa prasasti yang
digunakan oleh raja-raja, mungkin sejak kerajaan-kerajaan Indonesia – Hindu
yang terakhir, seoerti Majapahit, Sund Pajajaran, Sriwijaya, Melayu, sudah
tidak dipergunakan lagi.
2.3.
Konsep Kekuasaan di Kerajaan-Kerajaan Islam
Jika masa Hindu-Budha, konsep
kekuasaanya diwarnai oleh nilai-nilai religius Hindu-Budha sehingga muncul
kultur Dewa Raja maka pada masa kerajaan Islam, konsep kekuasan juga diwarnai
dengan nilai religius, yakni Islamisme.
Raja pada masa kerajaan Islam menggunakan
gelar Sultan atau Susuhunan. Sultan adalah istilah dari bahasa Arab yang
artinya Raja yakni penguasa kerajaan. Susuhunan dari kata suhun yang artinya
terhormat, dipuji.
Jika pada masa Hindu-Budha para
Brahmana berperan sebagai penasehat raja, maka pada masa Islam yang menjadi
penasehat raja adalah para wali/sunan, atau kiai. Raja pada masa Islam juga
memiliki kekuasaan yang besar seperti pada masa karajaan Hindu-Budha. Bahkan
untuk raja-raja Jawa umumnya dan Mataram Islam khususnya, muncul konsep Keagung-Binatharaan.
Dalam dunia pewayangan kekuasaan yang besar itu digambarkan sebagai Gung
Binathara Bau Dhendha Nyakrawati (sebesar
kekuasaan dewa, pemelihara hukum,dan penguasa dunia).[33]
Raja tidak hanya berkuasa di bidang politik, tetapi juga di bidang agama
sehingga muncul gelar Sayidin Panatagama.
Raja
yang dikatan baik adalah raja yang menjalankan kekuasaannya dalam keseimbangan
antara keweenangannya yang besar dan kewajibannya yang besar juga. Kosep itulah
yang disebut Keagung-Binatharaan, yakni berbudi bawa leksana, ameg
adil para marta (meluap budi luhur mulia dan sikap adilnya terhadap
sesama). Selain itu juga tugas raja adalah anjaga tata titi tentreming praja
(menjaga keteraturan dan ketentraman kehidupan rakyat) supaya tercapai suasana karta
tuwin raharja (aman dan sejahterah). Jika diibaratkan sama dengankonsep
Hindu-Budha berupa astabrata. Selanjutnya, untuk pembinaan kekuasaan
dilakukan dengan menyusun silsilah (silsilah politik) sebagai garis keturunan
yang berhak menggntikan tahta kerajaan.
BAB
III
PENUTUP
3.1.Kesimpulan
Islam
masuk ke Indonesia akibat adanya perdagangan dan pelayaran Internasional. Pada
saat itu, jalur perdagangan Internasional Timur Tengah-India-Malaka-Cina
merupakan satu-satunya jalur perdagangan Asia yang sangat ramai. Bersamaan
dengan kesibukan perdagangan antar bangsa yang melewati Indonesia itulah, Islam
masuk ke Indonesia.
Jika
masa Hindu-Budha, konsep kekuasaanya diwarnai oleh nilai-nilai religius
Hindu-Budha sehingga muncul kultur Dewa Raja maka pada masa kerajaan Islam,
konsep kekuasan juga diwarnai dengan nilai religius, yakni Islamisme. Raja pada
masa kerajaan Islam menggunakan gelar Sultan atau Susuhunan. Sultan adalah
istilah dari bahasa Arab yang artinya Raja yakni penguasa kerajaan. Susuhunan
dari kata suhun yang artinya terhormat, dipuji.
Pada
masa kedatangan dan penyebaran Islam terdapat beraneka ragam suku bangsa,
organisasi pemerintahan, struktur ekonomi dan sosial budaya. Dan pada saat itu
belum banyak mengalami percampuran jenis-jenis bangsa, struktur sosial,ekonomi,
dan budayanya agak statis dibandingkan dengan suku bangsa yang mendiami daerah pesisir.
Sebelum
dan masa kedatangan serta penyebaran Islam, kepulauan Indonesia sangaat
beranekaragam bahasanya, misalnya di Jawa bahasa yang dipergunakan ialah Jawa
Kuno, Sunda Kuno dan di daerah-daerah Sumatera dan Semenanjung Melayu
dipergunakan bahasa Melayu. Terdapat bahasa-bahasa daerah lain seperti bahaasa
Batak, Kubu, Nias, Minangkabau, Padang dan sebagainya. Hampir setiap suku
bangsa memakai bahasanya sendiri. Demikian pula di Kalimantan terdapat bahasa
Banjar, Melayu, dan Dayak, di Sulawesi bahasa Bugis, Makasar, dan di Maluku
juga terdapat bermacam-macam bahasa. Antonio Galvao pada pertengahan abad ke-16
menceritakan bahwa di daerah tersebut masyarakat yang bertetangga jarang sekali
saling mengerti. Disamping itu raja-raja, putera-putera dan orang-orang yang
dekat padanya mempunyai cara berbicara sendiri yang tidak dapat dimengerti oleh
orang-orang lain.
DAFTAR
PUSTAKA
Atikah, Ikah. 2004. Pengetahuan
Sosial Sejarah. Bandung : Angkasa
Ari
Listiyani, Dwi. 2009. Sejarah Untuk SMA/MA Kelas XI Program IPS. Jakarta
: Puasat Perbukuan Departemen Pendidikan Nasional
Firman,
M. 2004. Belajar Efektif Sejarah Kebudayaan Islam. Jakarta :
PT.Intimmedia Ciptanusantara
Wahid
Suratno, Abas. 2007. Sejarah Kebudayaan Islam. Solo : PT.Tiga Serangkai
Pustaka Mandiri
Suryana,
Candra dan Saprudin. 2004. Pengetahuan Sosial Sejarah 1 Kelas VII SMP.
Bandung : PT.Remaja Rosdakarya
Djoened
Poesponeogoro Nugroho Notosusanto, Mawarti. 1993. Sejarah Nasional Indonesia
III. Jakarta : Balai Pustaka
Yatim,
Badri. 2000. Sejarah Peradaban Islam. Jakarta : PT. Raja Grafindo
Persada
Nurdin,
Muhammad, S.W. Warsito dan Muhammad Nursa’ban. 2008. Mari Belajar Ilmu
Pengetahuan Sosial. Jakarta : PT. Hamudha Prima Media.
[1] Muhammad Nurdin, S.W.Warsito dan Muhammad Nursa’ban, Mari Belajar
Ilmu Pengetahuan Sosial, (Jakarta : PT.Hamudha Prima Media, 2008), hal.
196.
[2] Mawarti Djoened Poesponeogoro Nugroho Notosusanto, Sejarah Nasional
Indonesia III, (Jakarta : Balai Pustaka, 1993), hal. 3.
[3] Badri Yatim, Sejarah Peradaban Islam, (Jakarta : PT. Raja
Grafindo Persada, 2000), hal.205.
[4] Ibid., hal.206.
[5] Ibid., hal.208.
[6] Ibid., hal.209.
[7] Ibid., hal.210.
[8] Muhammad Nurdin, S.W.Warsito dan Muhammad Nursa’ban, op.cit., hal.
202.
[9] Ibid.,
[10] Badri Yatim, op.cit., hal. 210.
[11] Ibid., hal. 213.
[12] Muhammad Nurdin, S.W.Warsito dan Muhammad Nursa’ban, op.cit., hal.
207.
[13] Badri Yatim, op.cit., hal. 214.
[14] Muhammad Nurdin, S.W.Warsito dan Muhammad Nursa’ban, op.cit., hal.
208.
[15]Abas Wahid Suratno, Sejarah Kebudayaan Islam, (Solo : PT.Tiga
Serangkai Pustaka Mandiri, 2007), hal. 89.
[16] Saprudin dan Candra Suryana, Pengetahuan Sosial Sejarah 1 Kelas VII
SMP, (Bandung : PT.Remaja Rosdakarya, 2004), hal. 85.
[17] Ikah Atikah, Pengetahuan Sosial Sejarah, (Bandung : Angkasa,
2004), hal. 72.
[18] Abas Wahid Suratno, op.cit., hal. 89.
[19] Badri Yatim, loc,cit., hal.219.
[20] Saprudin dan Candra Suryana, loc.cit., hal. 89.
[21] Badri Yatim, hal. 220.
[22] Ibid.,
[23] Ikah Atikah, loc.cit., hal.76.
[24] Saprudin dan Candra Suryana, loc.cit., hal.88.
[25]Ibid.,
[26] Badri Yatim, loc.cit., hal. 223.
[27] M.Firman, Belajar Efektif Sejarah Kebudayaan Islam, (Jakarta
: PT.Intimmedia Ciptanusantara, 2004), hal. 106.
[28] Ibid., hal. 107.
[29] Mawarti Djoened Poesponeogoro Nugroho Notosusanto, loc.cit., hal. 173.
[30] Ibid.,
[31] Ibid., hal. 175.
[32] Ibid., hal. 177.
[33] Dwi Ari Listiyani, Sejarah Untuk SMA/MA Kelas XI Program IPS, (Jakarta
: Pusat Perbukuan Departemen Pendidikan Nasional, 2009), hal. 90-91.