PENDAHULUAN
Oleh: Andri Nazarudin M
A.
Latar
Belakang Masalah
Membaca merupakan salah satu ketempilan yang harus
dikuasai oleh siswa pada semua jenjang pendidikan. Diera globalisasi dan
kemajuan teknologi yang semakin maju, berbagai macam pengetahuan disajikan
dalam bentuk tulisan (huruf) sehingga
jika kita tidak terampil dalam membca tentunya akan menjadi penghambat dalam
memperoleh berbagai informasi baik dari media cetak maupun elektronik.
Oleh karena
pentingnya mengasah keterampilan membaca khususnya bahasa Arab yang menurut
asumsi masyarakat belajar membaca kalimat yang berbahasa Arab sangat sulit,
tentunya kita harus mengubah persepsi tersebut dengan mencari strategi yang
tepat untuk diterapkan dalam pembelajaran membaca sehingga tidak terkesan sulit
akan tetapi mudah dan menyenangkan.
B.
Rumusan
masalah
Mengacu dari pernyataan diatas maka muncul beberapa
rumusan masalah, yaitu:
1. Apa
pengertian membaca?
2. Apakah
tujuan dari membaca?
3. Bagaimana
kategori-kategori membaca?
4. Bagaimana tahapan
pembelajaran membaca?
5. Apa saja kesulitan-kesulitan
dalam membaca?
6. Bagaimana cara meningkatkan
kemampuan membaca?
7. Apa
saja metode yang digunakan dalam pembelajaran membaca?
8. Apa
saja startegi yang digunakan dalam pembelajaran membaca?
9. Apa
media yang digunakan dalam pembelajaran
membaca?
C.
Tujuan
penulisan
Mengacu dari pernyataan diatas maka muncul beberapa
rumusan masalah, yaitu:
1. Untuk mengetahui apa
pengertian membaca?
2. Untuk mengetahui
apakah tujuan dari membaca?
3. Untuk mengetahui
bagaimana kategori-kategori membaca?
4. Untuk mengetahui
bagaimana tahapan pembelajaran membaca?
5. Untuk mengetahui
apa saja kesulitan-kesulitan dalam membaca?
6. Untuk mengetahui
bagaimana cara meningkatkan kemampuan membaca?
7. Untuk mengetahui
apa saja metode yang digunakan dalam
pembelajaran membaca?
8. Untuk mengetahui
apa saja startegi yang digunakan dalam
pembelajaran membaca?
9. Untuk mengetahui
apa media
yang digunakan dalam pembelajaran membaca?
BAB
II
PEMBAHASAN
A.
Pengertian
Membaca
Membaca merupakan materi terpenting di antara
materi-materi pelajaran. Siswa yang
unggul dalam pelajaran membaca mereka unggul dalam pelajaran yang lain pada
semua jenjang pendidikan. Begitu juga, siswa tidak akan bisa unggul dalam
materi apapun dari materi-materi pelajaran kecuali jika siswa mempunyai
kemampuan keterampilan membaca yang baik. Oleh sebab itu membaca merupakan
sarana yang utama untuk mencapai tujuan pembelajaran bahasa, lebih-lebih bagi
pembelajar bahasa arab non Arab dan tinggal di luar Negara-negara Arab seperti
para pembelajar di Indonesia.
Membaca adalah salah
satu keterampilan berbahasa yang tidak mudah dan sederhana, tidak sekedar
membunyikan huruf-huruf atau kata-kata akan tetapi sebuah keterampilan yang
melibatkan berbagai kerja akal dan pikiran. Membaca merupakan
kegiatan yang meliputi semua bentuk-bentuk berpikir, memberi penilaian, memberi
keputusan, menganalisis dan mencari pemecahan masalah. Maka terkadang orang
yang sedang membaca teks harus berhenti sejenak atau mengulang lagi satu atau
dua kalimay yang telah dibaca guna berpikir dan memahami apa yang dimaksud oleh
bacaam. [1]
Membaca merupakan kegiatan penting, dan semakin
menjadi penting pada zaman modern ini, pada saat perkembangan dalam berbagai
segi kehidupan terjadi sangat cepat. Untuk memahami semua jenis informasi yang
termuat dalam berbagai bentuk tulisan, mutlak diperlukan kegiatan membaca,
disertai kemampuan isi bacaan. Tanpa kemampuan memahami isi bacaan, banyak
informasi yang tidak dapat diserap dengan tepat dan cepat.[2]
Membaca termasuk keterampilan pokok dalam
pembelajara bahasa disamping keterampilan yang lain seperti mendengarkan,
berbicara, dan menulis. Dalam bab ini akan dikemukakan beberapa teknik
pembelajaran membaca untuk pemula, tujuan pembelajaran membaca, ragam membaca,
dan tema-tema lain yang berkaitan dengan pembelajaran membaca.[3]
Setiap bahasa mempunai simbol tulisan yang khas,
berbeda antara satu bahasa dengan bahasa lainnya. Dilihat dari sistem
tulisannya, bahasa dibagi kedalam tiga kategori :
Pertama, sistem kata. Dalam
sistem ini setiapa kata mempunyai simbol tulisan tersendiri.
Kedua, sistem suku kata.
Dalam sistem ini setiap suku kata memiliki simbol tulisan tersendiri. Contohnya
bahasa Jepang.
Ketiga, sistem abjad. Dalam
sistem ini setiap fonem memiliki simbol tulisan tersndiri. Dengan kata lain,
setiap unit bunyi mempunyai simbol huruf sendiri-sendriri. Sistem ini merupakan
pengembangan dari sistem suku kata, dimana sistem suku kata juga merupaka pengembangan dari sistem kata. Sekarang ini hjampir semua
bahasa mengikuti sistem abjad dalam sistem tulisannya termasuk
bahasa Arab dan Bahasa Inggris.
Jika ada pertanyaan mengapa masalah sistem tulisan
ikut dibicarakan pada saat membahas masalah pengajaran membaca? Jawabannya
adalah karena aktifitas membaca sangat berkaitan dengan simbol tulisan. Kita
hany abisa membaca apa yang ditulis oleh orang lain, tanpa adanya tulisan kita
tidak mungkin bisa membaca.
B.
Tujuan
Membaca
Membaca
mamiliki tujuan yang beraneka ragam:
1.
Membaca dengan tujuan penelitian
atau pengkajian.
Pembaca hanya
sekedar pendahuluan untuk sebuah penelitian. Dalam keadaan ini ia hanya membaca
teks yang berkaitan dengan tema penelitiannya.
2.
Membaca dengan tujuan membuat
rangkuman atau kesimpulan.
Dalam hal ini
mambaca dengan sangat teliti dan mendalam sehingga ia menemukan gagasab-gagasan
utama dari bacaan itu.
3.
Membaca dengan tujuan memberi
pengumuman.
Seseorang kadang
membaca untuk diperdengarkan kepada orang lain. Hal mirip dengan yang dilakukan
oleh seorang penyiar di
Radio atau Televisi.
4.
Membaca karena ujian.
Seorang
terkadang membaca untuk persiapan menghadapi
ujian.
Dalam ha ini ia membaca dengan sangat teliti, fokus, dan penuh konsentrasi. Bahkan, kadang
ia melakukannya berulang-ulang agar lebih menguasai bahan bacaan tersebut atau
kalau
mungkin menghapalnya.
5.
Membaca dengan tujuan refreshing
dan mencari hiburan.
Dalam hal ini
seseorang tidak membaca
keseluruhan isi teks, tetapi dipilih alinea tertentu atau bahkan halaman
tertentu saja sesuai dengan seleranya.
6.
Membaca dengan tujuan ibadah.
Kadang seseorang
sengaja membaca untuk kepentingan ibadah seperti membca Al-Qur’an.
C.
Kategori
Membaca
Adanya
tujuan membaca yang beraneka ragam menyebabkan munculnya berbagai macam
kategori membaca, seperti membaca intensif, membaca pelengkap (pengayaan),
membaca dalam hati, membaca nyaring, dan membaca model.
a)
Membaca
Intensif
Yaitu model
membaca yang digunakan sebagaia sarana pengajran kosakata baru atau strukutur
baru. Oleh karena itu materinya biasanya cukup tinggi untuk ukuran siswa. Bahan
bacaan jenis ini merupakan inti dari program pembelajaran bahasa. Bahkan,
mayoritas isi bahan buku pelajaran adalah bacaan model ini sehingga jam-jam
pelajaran dan perhatian guru serta siswa terfokus pada materi qira’ah ini,
baik dalam konteks proses belajar mengajar maupun dalam evaluasi.
b)
Membaca
Pelengkap atau pengayaan
Disebut membaca
pengayaan karena membaca modelini merupakan penyempurnaan dan pelengkap dari
membaca intinsif. Membaca pelengkap disebut juga membaca pengayaan (qira’ah
muwassa’ah). Materi membaca model ini biasanya berbentuk cerita, baik
cerita panjang maupun pendek. Tujuan utamanya adalah penguatan terhadap materi
yang sudah dipelajarinya pada membaca intensif, baik dari sisi kosakata, maupun
struktur kalimat.
Untuk
memperjelas peran dan hakikat membaca pengayaan, mari bandingkan dengan model
membaca intensif:
1.
Tempat. Membaca
intensif biasanya diruang kelas, membaca pengayaan dilakukan dirumah.
2.
Tingkat
kesulitan. Materi membaca intensif biasanya lebih tinggi dari kemampuan siswa,
dalam membaca pengayaan materinya sesuai dengan tingkat kemampuan siswa.
3.
Tujuan. Tujuan
membaca intensif adalah menambah dan memperkaya perbendaharaan kata dan
strukutr baru, sedangkan membaca pengayaan bertujuan sebagai re-inforcement
terhadap materi yang sudah dipelajari pada membaca intensif.
4.
Konten. Muatan
materi pada membaca intensif biasanya bersifat dskriptif, ilmiah, bisa
diperdebatkan, dan cerita. Sedangkan muatan materi membaca pengayaan biasanya
bersifat cerita yang menghibur dan memberikan re-inforcement.
5.
Unit. Penyajian
materi membaca intensif bisa selesai pada unit yang pendek yang bisa
diselesaikan pada satu atau beberapa jam pelajaran, sedangkan membaca pengayaan
biasanya disajikan dalam benmtuk cerita yanga agak panjang.
6.
Kecepatan.
Materi membaca intensif disajikan dalam waktu yang tidak terlalu cepat,
sedangkan membaca pengayaan bisa berlangsung lebih cepat lagi, bisa
menyelesaikan beberapa halaman dalam waktu jam saja.
7.
Waktu. Membaca
intensif mempunyai porsi waktu lebih banyak sedangkan membaca pengayaan lebih
sedikit.
8.
Peran. Membaca
intensif memiliki peran yang sangat penting dan pokok dalam program
pembelajaran bahasa dan tidak bisa ditinggalkan, sedangkan peran membaca
pengayaan hanyalah pelengkap atau sekunder.
c)
Membaca
dalam hati
Membaca dalam
hati adalah membaca yang bisa dilakukan hanya dengan menggunakan mata tanppa
bunyi, bisikan atau gerakan bibir. Maksudnya, bahwa simbol-simbol tulisan
berubah menjadi makna dibenak pembaca tanpa melalui fase pengucapan.
Tujuan utama
dari membaca dalam hati adalah penguasaan, sebagaimana tujuan kebanyakan orang
dalam membaca. Hal ini karena hanya sdikit orang yang membutuhkan membaca
nyaring seperti yang dilakukan oleh para penyiar radio dan televisi.
Dari sini tampak
jelas bahwa membaca dalam hati merupakan keterampilan mendasar yang harus
dipelajari siswa karena mereka sangat membutuhkan kemampuan dalam hal ini.
Unsur poko dari membaca dalam hati adalah penguasaan (pemahaman) dan kecepatan.
Oleh karena itu siswa harus dilatih untuk menguasai dan memahami bahan yang
dibacanya dengan memperhatikan kecepatan dalam membaca.
Agar pemahaman
dan kecepatan dalam membaca dalam hati dapat terwujud, guuru harus melatih
siswanya untuk meluaskan pandangannya. Maksudnya, kemampuan mata untuk melihat
jumlah kata yang tertulis dalam teks dalam satu kali pandangan pada satu
halaman sambil memahami kandungannya.
Salah satu cara
untuk melatih kecepatan membaca dan keluasan pandangan adalah mebugaskan siswa
membaca teks tertentu dalam batasan waktu yang tidak terlalu lama dan tidak
terrlalu cepat. Jika waktu yang disediakan terlalu lama berarti memberi peluang
siswa membaca lambat, sedangkan jika waktu yang disediakan sedikit akan
menyebabkan kurangnya pemahaman.
Dengan demikian
kecepatan membaca dapt terwujud, paling tidak dengan empat unsur, yaitu:
1.
Meluaskan
jangkauan pandang,
2.
Menghindari
pengulangan pandangan,
3.
Mengurangi
kelambanan pandangan,
4.
Mengurangi
macetnya pandangan.
Dengan catatan
bahwa ketiga unsur terakhir memiliki dua sisi, yaitu kaitannya dengan waktu dan
kaitannya dengan jumlah. Misalnya kita melakukan pengulangan pandangan mata
selama satu detik atua lebih, ini menunjukkan pengulangan dari sisi waktu.
Kalau pengulangan itu tertuju pada tiap satu baris satu kali atau dua kali atau
satu kali untuk tiap dua baris, ini menunjukkan pengulangan dari sisi jumlah.
Dalam
mempraktekkan membaca dalam hati diruang kelas, ada beberapa hal yang harus
diperhatikan, diantaranya:
a) Hindarkan
siswa bersuara walaupun hanya bisikan disaat membaca,
b) Hindarkan
siswa dari kebiasaan menggerakan bibir saat membaca,
c) Terlebih
dahulu, guru hendaknya menentukan batasan waktu yang sesuai untuk setiap jenis bacaan,
d) Sertakan
beberapa pertanyaan untuk mengukur tingkat penguasaan dan pemahaman siswa, dan
e) Biasakan
siswa membaca cepat dan tepat waktu.
d)
Membaca
Nyaring
Ketika guru
menyuruh siswa membaca sebuah teks dengan nyaring didalam kelas, sebenarnya
guru ingin mencapai salah satu atau beberapa tujuan berikut:
1.
Menguji
kemampuan pengucapan siswa dan membetulkannya jika salah;
2.
Menguji
kemampuan intonasi dan ritme siswa dalam membaca dan membetulkannya jika salah;
3.
Menguji
kemampuan intonasi siswa dalam membaca dan membetulkannya jika salah;
4.
Menguji
kemampuan penggunaan tanda baca siswa dan membetulkannya jika salah;
5.
Menguji tingkat
pemahaman siswa terhadap bahan bacaan, sebagaimana dalam membaca pelan (dalam
hati);
6.
Memuaskan
keinginan siswa dalam mengyukur dirinya sendiri disaat teman-temannya
mendengarkan suaranya dan merasakan bahwa teman-temannya mendengarkan;
7.
Membaca nyaring
membantu siswa terbiasa berbicara dihadapan orang banyak;
8.
Membaca nyaring
melatih siswa terbiasa menghadapi pekerjaan atau profesi tertentu dimasa yang
akan datang sseperti membaca berita, penceramah, pembaca puisi, atau penyiar
radio dan televisi.
Disaat mempraktekkan membaca nyaring, guru
hendaknya memperhatikan hal-hal berikut:
1.
Mendahulukan
siswa yang paling baik bacaannya agar menjadi contoh bagi tman-temannya yang
lain.
2.
Meminta siswa
membaca sambil berdiri di depan kelas dihadapan teman-temannya, dengan maksud
menarik perhatian siswa lain yang sedang mendengarkan.
3.
Guru hendaknya
melibatkan semua siswa dalam mengoreksi kesalahan-kesalahan bacaan,
4.
Tidak menugaskan
satu siswa membaca teks secara keseluruhan.
5.
Jangan
menghabiskan waktu hanya untuk membaca nyaring diluar batas kewajaran,
6.
Membaca nyaring
sebaiknya dilakukan setelah membaca dalam hati disertai beberapa pertanyaan
pemahaman,
7.
Agar siswa lebih
tertarik dan termotivasi membaca nyaring, guru bisa mengadakan variasi dengan
memasukkan unsur kompetisi (perlombaan) dan permainan yang menyenangkan antara
anggota kelas untuk mengetahui siswa atau kelompok yang paling baik bacaannya.
Disamping
memiliki kelebihan, membaca nyaring pun memiliki kekurangan yaitu:
(1)
Membaca nyaring membutuhkan tenaga lebih
banyak dari membaca dalam hati.
(2)
Tingkat
pemahaman yang diperoleh dari membaca nyaring lebih rendah dari membaca dalam
hati.
(3)
Jenis membaca yang paling populer di
masyarakat dalam kehidupan sehari-hari adalah membaca dalam hati bukan membaca
nyaring.
(4)
Membaca nyaring
menimbulkan kegaduhan dan bisa mengganggu orang lain.
e)
Membaca
Model
Membaca model
adalah membaca yang dilakukan oleh guru sebagai contoh bacaan yang benar untuk
kemuidian ditirukan oleh siswa. Membaca model biasanya menyertai membaca dalam
hati yang diikuti beberapa pertanyaan pemahaman. Selain itu membaca model juga
dilakukan guru sebelum siswa membaca nyaring. Ada dua jenis model membaca yang
mungkin dilakukan oleh guru:
Pertama, membaca
keseluruhan teks. Guru membaca teks secara keseluruhan tanpa diikuti siswa jika
teksnya tidak terlalu panjang misalnya, terdiri dari satu atau dua allinea.
Kedua, membaca
sebagian-sebagian. Guru membaca teks per kalimat atau per bagian dengan
disesuaikan panjang pendeknya teks, kemudian diikuti siswa secara bersamaan.
Begitu seterusnya hingga selesai satu teks yang diajarkan.
Secara umum bisa
dikatakan bahwa membaca model jenis kedua lebih baik dari membaca model membaca
keseluruhan dengan beberapa alasan berikut:
1.
Membaca per
bagian lebih banyak memberi kesempatan kepada siswa mengikuti bacaan model,
sedangkan dalam membaca model keseluruhan siswa hanya mendengarkan saja.
2.
Perhatian
pendengaran siswa pada membaca model per bagian lebih besar dari pada membaca
keseluruhan karena setelah mendengarkan mereka diminta menirukannya. Sementara
pada model pertama, siswa tidak langsung mnirukan.
Namun demikian,
membaca model keseluruhan pun memiliki peran dan kedudukannya sendiri yaitu
adanya kesinambungan gagasan dari suatu teks serta intonasi yang jelas. Hal ini
tidak terasa dalam membaca model per bagian.
D.
Tahapan
Pembelajaran Membaca
Membaca
intensif dikelas bisa disajikan dalam tiga tahap: pertama, pra- membaca.
Pada tahap ini guru menyajikan kosakata dan struktur kalimat baru. Tahap ini
merupakan pengantar ke tahap berikutnya, yaitu tahap membaca. Kedua, membaca
dalam hati. Setelah siswa memahami kosakata dan struktur kalimat baru yang terdapat
dalam teks, guru meminta siswa untuk membaca dan memahaminya dalam hati. Ketiga,
pasca membaca. Setelah siswa menyelesaikan tahap membac dalam hati dilanjutkan
dengan tahap ketiga yaitu memahami dan menguasai pertanyaan yang harus dijawab.
E.
Kesulitan-
kesulitan Membaca
Para
pembelajar pemula sering kali menghadapi bberapa kesulitan dalam membaca,
diantaranya:
a)
Huruf
Tambahan (Za’idah)
Dalam beberapa
kasus terdapat huruf arab yang ditulis, tetapi tidak dibaca seperti huruf alif
dalam ذهبوا. Problematika semacam
ini kadang menjadi kendala bagi sebagian siswa.
b)
Huruf
Maqlub
Ada beberapa
huruf arab yang bacaannya tidak persis seperti tulisannya, tetapi malah dibalik
atau ditukar dengan bunyi lain sesuai aturan yang berlaku. Contohnya adalah
huruf lam yang terletak sebelum huruf syamsiyyah, dimana huruf lam ini
dihilangkan dan diganti dengan bunyi huruf lain yang terletak sesudahnya
seperti dalam kata (الشمس). Pelajar pemula ada
yang membaca kata ini seperti apa adanya, yaitu “alsyams”. Tentunya bacaan itu
melanggar aturan.
c)
Kesulitan
Bunyi atau Pengucapan
Banyak sekali siswa yang mengalami kesulitan dalam
mengucapkan beberapa huruf arab khususnya bunyi-bunyi velar seperti ك,
خ, غ dan
bunyi-bunyi huruf uvular ق, ح, ع
d)
Perbedaan
arah tulisan
Kebanyakn
tulisan dan cara membacanya dimulai dari arah kiri kekanan, sementara tulisan
arab dimulai dari kanan ke kiri.
e)
Lambat
dalam membaca
Beberapa siswa
mengalami kesulitan dalam masalah kecepatan membaca. Ada yang membaca sangat
lambat sekali, seakan-akan membaca huruf per huruf, per suku kata. Padahal
semestinya ia membaca satu unit kalimat sempurna.
f)
Membaca
nyaring
Siswa yang tidak
terbiasa membaca dalam hati ketika ditugaskan membaca dalam hati, ia masih
terlihat membaca dengan berbisik atau disertai gerakan bibir. Bahkan, masih
terdengar nyaring. Semua itu tidak termasuk kategori membaca dalam hati. Orang
yang tidak bisa membaca dalam hati biasanya kemampuan membacanya lambat dan
tingkat pemahamannya kurang.
g)
Pengulangan
arah pandangan
Siswa yang
sering mengulang-ulang arah pandangannya ke kata atau baris yang sudah
dibacanya, di satu sisi terkadang menambah tingkat pemahaman. Namun, kalau
pengulangan itu terlalu sering atau melampaui batas wajar akan menyebabkan
lambat dalam membaca.
h)
Stagnasi
pandangan
Kebiasaan
pembaca yang pandangannya terpaku pada satu arah dalam beberapa saat juga
menyebabkan banyak waktu terbuang dan memperlambat bacaan.
i)
Sempitnya
pandangan
Ada pembaca yang
kemampuan pandangannya sempit. Arah pandangan adalah jumlah kata yang mampu
dilihat mata dalam satu kalipandangan. Semakin luas arah pandangan seseorang
semakin cepat kemampuan membacanya.
j)
Kosakata
Kesulitan lain
yang ditemukan pembaca adalah masalah kosakata. Kesulitan kosakata bisa
menimbulkan rendahnya tingkat pemahaman. Untuk mengatasi masalah ini, guru
hendaknya mengajarkan kosakata-kosakata yang dianggap sulit yang terdapat pada
pelajaran baru sebelum tahapan membaca.
F.
Meningkatkan
Kemampuan Membaca
Ada
beberapa strategi yang bisa digunakan guru untuk meningkatkan kemampuan membaca
dan pemahaman siswa, yaitu:
a.
Penggunaan
kamus
Hendaknya
guru melatih siswa menggunakan kamus yang entrinya berbahasa arab. Dengan
demikian, siswa terbiasa dengan susunan abjad arab seperti yang terdapat dalam
kamus tersebut. Kebiasaan ini juga melatih siswa mengetahui karakteristik kamus
dalam menurunkan kata atau mengembangkannya dari sebuah kata dasar, sehingga
mereka mampu mencari sebuah kata dengan merujuk ke kata dasarnya.
b.
Mengenal
huruf za’idah
Guru juga hendaknya mengenalkan beberapa huruf tambahan
kepada siswa secara langsung, yaitu huruf-huruf yang ditulis tapi tidak
diucapkan waktu membaca. Pengenalan ini bisa menghindarkan siswa
dari kesalahan pengucapan dalam membaca.
c.
Meningkatkan
kecepatan membaca
Siswa
perlu berupaya meningkatkan kecepatan membaca dengan memperhatikan tingkat
pemahamannya. Untuk meningkatkan kecepatan membaca ada beberapa cara yang bisa
dilakukan diantaranya adalah ketika membaca dalam hati ada target batasan
waktu.
d.
Al-Isytiqaq
Semestinya
siswa mengetahui sistem isytiqaq (pembentukan kata) dalam bahasa arab.
Oleh karena itu, guru harus mengajarkan cara mengembangkan kata kerja menjadi masdar,
isim fa;’il, isim maf’ul, ‘ism marrah, ‘ism nau’, ‘ism makan, sifah musyabihah,
atau sigah mubalaghah.
e.
Flash
card
Flash card adalah kartu bertuliskan sebuah kata atau
kalimat yang nantinya akan diperlihatkan kepada siswa dalam waktu tidak lebih
dari dua atau tiga detik kemudian disembunyikan dari pandangan siswa. Ketika
kartu itu diperlihatkan kepada siswa, mereka diminta untuk membacanya. Kartu
semacam ini dianggap sebagai penerapan teori Gestalt dalam mengetahui hal-hal
yang umum dan pembiasaan penglihatan pembaca untuk melihat unit bacaan yang
lebih besar.
f.
Menyusun
alinea
Siswa
harus mengetahui struktur minimal dari sebuah alinea. Pengetahuan ini akan
membantu siswa lebih cepat memahami bacaan. Secara umum, sebagaimana kita
maklumi sebuah alinea dalam bahasa arab biasanya diawali dengan kalimat yang
berisi ide pokok, kemudian diikuti kalimat pelengkap yang menjelaskannya. Ada
juga kalimat yang menerangkan atau merinci kalimat pelengkap tadi secara
langsung. Jika siswa memahami karakter sebuah alinea, ia akan dengan mudah
memahami hubungan antar kalimat dalam alinea tersebut sehingga ide pokok alinea
tersbut akan mudah dicari.
g.
Menghubungkan
makna
Yang
tidak kalah pentingnya adalah pengetahuan siswa terhadap berbagai hubungan
antara kalimat dalam satu alinea. Tentunya hal ini harus disesuaikan dengan
tingkat usia dan kecerdasan siswa. Diantara hubungan makna antara kalimat
adalah : perbandingan, definisi, penilaian atau evaluasi, demonstratif, sebab
akibat, perumpamaan, generalisasi, pertanyaan, penyimpulan, jawaban, dan
pengulangan. Ada kalimat yang merupakan komparasi dari kalimat sebelumnya. Ada
kalimat yang merupakan definisi dari istilah yang muncul sebelumnya, ada
kalimat yang merupakan penilaian atau kritikan terhadap kalimat sebelumnya,
yang menjelaskan sebab dari kalimat sebelumnya, ada yang berupa pertanyaan atas
fenomena yang muncul dalam kalimat sebelumnya atau merupakan jawaban atas
prtanyaan sebelumnya. Ada kalimat yang berupa kesimpulan dari beberapa kalimat
sebelumnya atau generalisasi dan seterusnya. Jika siswa mengetahui berbagai hubungan
makna antar kalimat dalam satu alinea seperti diatas, maka siswa akan dengan
mudah mencari hubungan makna pada alinea berikutnya. Disamping itu mereka pun
terlatih dan terbiasa membaca cepat.
G.
Metode
Pembelajaran Qiraah
Dalam
pembelajaran membaca terdapat beberapa teori dan metode yang muncul dan
berkembang. Masing-masing memiliki sisi kelebihan dan kekurangannya. Di antara
metode-metode tersebut adalah :[4]
1)
Metode
harfiyah
Guru
memulai pelajaran dengan mengajarkan huruf hija’iyyah satu persatu. Muridpun
lambat dalam membaca, karena siswa cenderung membaca huruf per huruf dari pada
membaca kesatuan kata.
2)
Metode
sautiyyah
Metode
sautiyyah mirip dengan metode harfiyyah dari sisi urutan pengajaran yang
dimulai dari huruf , kemudian suku kata, lalu kata. Bedanya terletak pada cara
pengajaran huruf. Dalam metode harfiyyah huruf diajarkan dengan menyebutkan
namanya. Huruf ص misalnya diajarkan kepada siswa dengan
menyebut صَاد
, sedangkan pada Metode Sautiyyah huruf ص
diajarkan kepada siswa sebagai صَ
.
Dalam
metode Sautiyyah ini, urutan pengajara dimulai dengan mengajarkan huruf
berharakat fathah seperti بَ، تَ، ثَ، زَ، سَ
, dan seterusnya, kemudian huurf berharakat dhamah, selanjutnya kasrah, dan
sukun. Setelah itu lalu beralih ke pelajaran huruf berharakat fathatani (tanwan),
damamatani (tanwun), kasratani (tanwin). Berikutnya adalah pelajaran huruf
bertasydid disertai harakat fathah, lalu
dhammah, kemudian kasrah. Terakhir adalah pelajaran huruf bertasydid disertai
harakat fathatani,lalu dammatani, kemudian kasrataani.
Dengan
demikian, huruf ب dalam metode ini diajarkan dengan urutan
bunyi بٍّ، بٌّ،
بًّ، بِّ، بُّ، بَّ، بٍ، بٌ، بً، بْ،
بِ، بُ، بَ (ba, bu, bi, b, ban. Bun,
bin, bba, bbu, bbi, bban, bbun, bbin) jadi setiap huruf memiliki 13 harakat.
Dengan demikian, sebagaimana diketahui jumlah huruf dalam bahasa Arab ada 28
huruf, jika 28 x 13 = 364, maka dalam metode Sautiyyah diajarkan sebanyak 364
bunyi.
Diantara kelebihan metode ini adalah
mengajarkan huruf dengan bunyinya bukan dengan namamya. Namun, demikian ada
juga kekurangannya diantaranya bahwa metode ini terkadang menghambat kelancaran
atau kecepatan membaca siswa, karena siswa terbiasa membaca huruf hija’iyyah.
3)
Metode
suku kata
Dalam
metode ini siswa terlebih dahulu belajar suku kata, kemudian mempelajari kata
yang tersusun dari suku kata-suku kata tersebut. Untuk mengajarkan suku kata
harus didahului oleh pembelajaran huruf mad. Oleh karena itu pertama-tama siswa
belajar ا، و، ي , baru kemudian
belajar suku kata سَا، سُوْ، سِيْ. Dan suku kata
seperti رَا، رُوْ، رِيْ selanjutnya belajar
kata yang tersusun dari suku kata tersebut seperti سَارَا،
سُوْرِيْ، سِيْرِيْ dan seterusnya.
Terkadang
metode suku kata ini lebih baik dari metode harfiyyah dan metode sautiyyah,
karena metode ini memulai pelajaran dengan unit yang lebih besar dari sekedar
satu huruf atau satu bunyi.
4)
Metode Kata
Metode
kata dikategorikan ke dalam Metode Integral, karena siswa mulai belajar dari
kata kemudian belajar huruf-huruf yang membentuk kata tersebut. Metode ini
merupakan lawan atau kebalikan dari metode Harfiyyah dan Sautiyyah yang
mengawali pelajaran dari huruf dan bunyi kemudian beralih ke kata.
Metode
kata ini mempunyai landasan psikologis yang mengasumsikan bahwa siswa
mengetahui hal-hal yang umum dulu, kemudian berkembang mengetahui bagian-bagian
dari yang umum itu. Dengan demikian, metode kata ini sejalan dengan prinsip
dasar dan tabi`at pengetahuan manusia.
Dalm
mengimplementasikan metode ini, guru memulai dengan menampilkan sebuah kata
disertai dengan gambar yang sesuai jika
kata itu itu mungkin digambar, kemudian guru mengucapkan kata itu beberapa kali
dan diikuti siswa. Langkah selanjutnya guru menampilkan kata tadi tanpa
disertai gambar untuk dikenali dan dibaca oleh siswa. Setelah siswa mampu
membaca kata tersebut, baru kemudian guru menganalisa dan mengurai huruf-huruf
yang terkandung dalam kata tadi.
Metode
ini memiliki beberapa kelebihan:
1)
Sejalan dengan landasan psikologis pengetahuan visual
manusia yang dimulai dari hal-hal umum.
2)
Membiasakan siswa berlatih membaca cepat, karena siswa
memulai mengetahui kata sebagai kesatuan yang utuh dan tidak membaca huruf per
huruf
3)
Siswa memulai membaca satuan kata yang mempunyai arti.
Hal ini berbeda sama sekali dengan metode parsial yang memulai pelajaran dari
satuan yang tidak bermakna seperti huruf, bunyi, dan suku kata.
Di samping memiliki kelebihan, metode ini juga tidak
lepas dari kekurangan, diantaranya:
1)
Terkadang siswa lebih terfokus pada gambar dari pada kata
yang diajarkan.
2)
Terkadang siswa hanya menebak mengira-ngira kata
berdasarkan gambar, bukan membaca yang sesungguhnya. Bahkan, para pengkritik
metode ini menyebutnya sebagai “ Metode Lihat Dan Tebak “ sebagai plestan dari
“ Metode Lihat Dan Katakan “, nama lain metode ini.
3)
Jika kata yang diajarkan bentuknya sangat mirip, siswa
terkadang mengacaukannya. Mereka sering kali tidak membedakan antara kata تاب, باب , ثاب, dan ,ناب karena bentuk
kata itu mirip dan berdekatan.
4)
Terkadang metode ini membuat siswa lemah dalam kemampuan
imla`, karena metode ini kurang mempokuskan perhatian siswa pada huruf.
5)
Jika siswa menentukan kata yang baru yang tidak
dikenalnya, mereka merasa kesulitan membacanya.
5)
Metode kalimat
Prosedur pembelajaran membaca dengan metode ini adalah
dengan cara guru pertama kali menampilkan sebuah kalimat pendek di kartu atau
di papan tulis, kemudian membaca kalimat tersebut beberapa kali dan diikuti
oleh siswa. Lalu diteruskan dengan menambahkan satu kata baru pada kalimat
tersebut, lalu membacanya dan diikuti oleh siswa, misalnya: ذهب الولد, ذهب الولد مسرعا , kemudian guru membandingkan antara dua kalimat diatas untuk
mengetahui kata-kata yang sama dan yang berbeda. Setelah itu guru
mengurai dan memecah kata-kata tadi ke hururf-huruf yang membentuknya.
Urutan metode
kalimat ini adalah dari kalimat ke kata kemudian ke huruf. Diantara kelebihan
metode kalimat ini adalah :
1. Sejalan
dengan landasan psikologis pengetahuan dimulai dari hal-hal umum menuju
bagian-bagian yang lebih kecil.
2. Metode
ini mengedepankan satuan kalimat atau kata yang bermakna.
3. Membiasakan
siswa membaca satuan yang lebih besar dan memperluas pandangan. Hal ini
tentunya melatih siswa membaca cepat.
Metode kalimat
ini juga tidak luput dari kelemahan, diantanya adalah adalah sedikit banyak
menguras tenaga guru dan membutuhkan guru yang terlatih, sementara ketersediaan
guru propesional dalam bidang pembelajaran bahasa Arab bagi orang Asing sangat
terbatas.
6)
Metode gabungan
Para pengikut
metode gabungan ini berpendapat bahwa setiap metode memiliki segi kelebihan dan
kekurangan pada waktu yang sama. Jika memang demikian adanya, yang terbaik
adalah meramu semua metode dengan memperhatikan sisi baiknya dan tidak terpaku
kepada metode tertentu. Metode Harfiyyah, Metode Sautiyyah, Metode Suku Kata,
Metode Kata, dan Metode Kalimat semuanya memiliki kelebihan dan kekurangan.
H.
Strategi Pembelajaran Qiraah
Kemahiran membaca mengandung dua aspek/pengertian. Pertama, mengubah lambang tulis menjadi
bunyi. Kedua, menangkap arti dari seluruh situasi yang
dilambangkan dengan lambing-lambang tulis dan bunyi tersebut.
Inti dari kemahiran membaca tereletak pada aspek
yang kedua. Ini tidak berarti bahwa kemahiran dalam aspek pertama tidak
penting, sebab kemahiran dalam aspek pertama mendasari kemahiran dalam aspek
kedua. Betapapun juga, keduanya merupakan tujuan yang hendak dicapai oleh
pengajaran bahasa.[5]
a.
Kemahiran
mengubah lambang tulis menjadi bunyi
Abjad arab mempunyai sisetem yang berbeda dengan abjad latin. Abjad arab
bersifat “sillabary” sedangkan abjad latin bersifat “alphabetic”
Perbedaan lain adalah system penulisan arab yang dimulai dar kanan
kekiri, tidak dikenalnya huruf besar dengan betuk tertentu untuk memulai
kalimat baru, menulis nama orang atau tempat, dan perbedaan bentuk huruf-huruf
arab ketika berdiri sendiri, di awal, di tengah dan di akhir.
Perbedaan-perbedaan tersebut menimbulkan kesukaran bagi para siswa yang
sudah terbiasa dengan huruf latin. Ditambah lagi dengan kenyataan bahwa
buku-buku majalah dan surat-surat kabar berbahasa Arab ditulis dengan tanpa
memakai sykal (tanda vokal). Padahal syakal merupakan tanda vocal yang sangat
menentukan makna dan fungsi suatu kata dalam kalimat.
Kemahiran membaca, dengan demikian
tergantung kepada penguasaan kosakata dan gramatika. Oleh karena itu pada
tingkat permulaan, teks bacaan masih perlu dieberi syakal, dan secara bertahap
dikurangi sesuai dengan perkembangan penguasaan kosakata dan pola kalimat
bahasa Arab oleh para siswa. Tetapi pada prinsipnya sejak mula siswa dilatih
dan dibiasakan membaca tanpa syakal dalam rangka membina dan mengembangkan
kemampuan membaca untuk pemahaman.
b.
Kemahiran
memahami makna bacaan
Ada tiga unsure yang harus diperhatikan dan dikembangkan dalam pelajaran
membaca untuk pemahaman ini, ialah unsure kata, kalimat dn paragraph. Ketiga
unsure ini bersama-sama mendukung makna dari suatu bahan bacaan. Gabungan kata
membentuk satuan yang lebih besar yang disebut kalimat; gabungan kalimat
membentuk satuan yang lebih besar yang disebut paragraph; dan dari
paragraph-paragraf tersusunlah bab; kemudian dari bab-bab tersusunlah sebuah
buku.
Agar pelajaran kemahiran membaca untuk pemahaman ini menarik dan
menyenangkan, bahan bacaan hendaknya dipilih sesuai dengan minat, tingkat
perkembangan dan usia siswa. Sudah barang tentu landasan utama dalam pemilihan
bahan adalak kurikulum (Garis Besar Pokok Pengajaran) yang telah ditentukan.
Agar tidak membosankan, bahan bacaan harus bervariasi, baik topiknya (sejarah,
ilmiah popular, humor, riwayat hidup,deskripsi dan sebagainya), maupun ragam
bahasanya (Koran, sastra, buku, percakapan dan sebagainya)
Seperti perbedaan gambaran metode pembelajaran bahasa kedua untuk pembelajaran
qira’ah maka berbeda pula keterampilan membaca ini. Contohnya jika menggunakan
metode nahwu wa tarjamah maka secara ringkas langkah-langkah pembelajaran membaca
dapat djelaskan sebagai berikut:[6]
a)
Guru memulai
pelajaran dengan membaca teks bahasa Arab.
b)
Kemudian guru
menerjemahkan teks terhadap bahasa siswa (B2)
c)
Pelajaran
dilanjutkan dengan penjelasan dari guru
d)
Terakhir siswa
mengulang bacaan yang telah dipelajari.
Namun jadi berbeda jika menggunakan metode lain yang juga memperhatikan
keterampilan lain. Maka pelajaran dimulai dengan mengajukan seperangkat
mufrodat (kosa kata) dan tarkib (susunan kalimat) dalam konteks tertentu,
dilanjutkan dengan berlatih menuturkan, setelah siswa mendengarkan itu
semuakemudian baru siswa memulai belajar mufrodat dengan membaca.
Langkah-langkah ini dilakukan seperti ketika guru menggunakan metode
mubasyarah, sam’iyah syafawiyah dan lain-lainnya.
Atau bisa juga dengan mengikuti langkah-langkah berikut ini :
a)
Guru membacakan
beberapa kalimat dan jumlah disertai penjelasan maknanya (dengan menggunakan
gambar, isyarah, peragaan, dll). Setelah yakin bahwa siswa telah paham kemudian
guru menggunakan kalimat atau jumlah dalam komunikasi praktis.
b)
Guru menyuruh
siswa membuka buku dan membacakan kalimat dan jumlah sekali lagi dan meminta
siswa unutk mengulangi lagi.
c)
Siswa mengulangi
kalimat dan jumlah secara bersma-sama, kemudian kelas dibagi dua atau tiga
kelompok, setiap kelompok diminta untuk mengulang-ulang sampai akhirnya guru
memilih siswa secara acak untuk mengulang dan diikuti oleh teman lainnya.
d)
Setelah siswa
memahami kalimat dan jumlah, guru menampilkan teks sederhana dan menyuruh siswa
membaca dalam hati dalam waktu yang cukup.
e)
Setelah guru
merasa bahwa siswa secara umum telah selesai
membaca guru meminta siswa menghadap ke depan dan membiarkan buku tetap
terbuka.
f)
Sebaiknya
guru tidak member toleran waktu bagi yang belum selesai dan
g)
membeiarkan
mereka mengulangi teks pada waktu Tanya jawab. Ini mendorong siswa untuk
membaca secara cepat.
h)
Guru mengajukan
pertanyaan seputar teks dan buku tetap terbuka, karena guru tidak menguji
hafalan siswa serta guru mempersilahkan siswa mencari jawaban dalam teks.
i)
Sebaiknya
pertanyaan urut berdasarkan jawaban dalam teks sehingga dapat diketahui sampai
batas mana.
j)
Hendaknya
pertanyaan-pertanyaan yang membutuhkan jawaban pendek.
k)
Jika salah
seorang siswa tidak mampu menjawab pertanyaan hendaknya pertanyaan diberikan
pada yang lain.
l)
Memotivasi
siswa untuk menjawab pertanyaan sebagai mana yang ada dalam teks tanpa meminta
siswa menjawab dengan ungkapan baru.
m)
Hendaknya guru
menghentikan pertanyaan sekiranya perhatian siswa mulai melemah. Waktu yang
ideal untuk Tanya jawab kira-kira 20 sampai 25 menit.
n)
Setelah itu
siswa mengulangi lagi bacaan dengan membaca dalam hati atau menyuruh seorang
siswa yang bagus bacaannya untuk membaca dengan keras dan diikuti oleh siswa
lainnya.
o)
Terakhir
mendorong siswa mengajukan pertanyaan yang jawabannya ada dalam teks untuk
dijawab oleh teman-temannya baik mengenai pemahaman teks atau seputar kaidah.
Dalam pembelajaran bahasa Arab bagi pemula, biasanya membaca (qiraah)
merupakan satu-satunya poros pembelajaran. Artinya, keterampilan-ketrampilan
bahasa lainnya tercakup dalam pelajaran membaca. Jalannya pembelajaran membaca
model ini bias mengikuti langkah-langkah berikut secara berurutan:[7]
1.
Ketika guru masuk kelas, yang pertama kali dilakukan
adalah mengucapkan salam kepada para siswa. Ucapan salam yang popular adalah السلام
عليكم
2.
Guru
membersihkan papan tulis jika masih kotor kemudian menulis hari, tanggal, tahun
serta nomor unit atau pelajaran yang akan diajarkan dibagian atas papan tulis.
Susasana seperti ini bias membantu memusatkan konsebtgrasi siswa pada pelajaran
yang dimaksud.
3.
Jika guru member
PR, ia harus mengeceknya sebelum memulai pelajaran baru. Hal ini sangat
penting. Karena jika guru tidak menanyakan PR, siswa akan meremehkan PR-PR
berikutnya. Salah satu cara yang paling mudah untul mengecek PR siswa adalah
dengan menulis jawaba di papan tulis dan siswa mengoreksipekerjaannya sambil
membetulkan jawaban-jawaban yang salah.
Cara lain adalah dengan mengumpulkan buku PR
untuk dikoreksi guru diluar kelas.
4.
Setelah selesai membahas PR, guru bias
langsung mereview pelajaran yang lalu. Review bisa dirahkan kepada kosa
kata, struktur kalimat, saraf, kaidah imla’ dan sebagainya.
5.
Setelah selesai
mereview, guru menyampaikan kosakata baru yang terdapat dalam pelajaran
baru. Kemudian melatih penggunaan
kata-kata tersebut dalam kalimat lengkap.
6.
Setelah
menyampaikan kosakata baru , guru menyajikan beberapa struktur kalimat
baru yang terdapat dalam pelajaran baru.
Kemudian guru melatih siswa dalam penggunaan sturktur tersebut secara lisan.
7.
Setelah selesai
mengajarkan kosakata dan struktur baru, langkah berikutnya adalah membaca dalam
hati dengan tujuan pemahaman.
8.
Guru
menyampaikan beberapa pertanyaan untuk mengukur tingkat pemahaman siswa
terhadap teks yang dibacanya.
9.
Guru memberikan
contoh bacaan yang baik dan benar untuk kemudian ditirukan oleh siswa.
10.
Selanjutnya guru
meminta siswa untuk membaca nyaring secara individual sambil membetulkan kesalahan-kesalahan siswa
saat membaca.
11.
Siswa menjawab
beberapa latihan dalam buku secara lisan dengan bimbingan guru.
12.
Guru harus menyediakan
waktu khusus untuk kegiatan menulis, baik berupa kegiatan menyalin, atau
belajar khat, ikmla’, atau menulis jawaban latihan dalam buku.
13.
Terakhir adalah
member tugas PR yang sesuai seputar latihan atau drill yang telah dibahas secra
lisan di kelas.
Langkah-langkah diatas sangat komprehensif dan mencakup keterampilan
membaca dan menulis, demikian pula keterampilan mendengarkan dan berbicara.
Langkah-langkah diatas juga menckup pembelajaran kosakata, struktur kalimat,
membaca dalam hati, membaca nyaring, pemberian PR, mengulas PR di kelas, dan
mereview pelajaran yang lalu.
Untuk menerapkan langkah-langkah di atas, guru harus cermat mengatur
waktu. Tiga langkah pertama (salam, menyiapkan papan tulis, dan mengulas PR) cukup mengambil waktu 5
menit dari satu jam pelajaran berdurasi 45 menit. Mengulang pelajaran yang lalu
5 menit. Sedangkan mengajarakan kosakata dan struktur kalimat baru mengambill
waktu 15 menit. Membaca dalam hati dan pertanyaan pemahaman 5 menit. Membaca
nyaring dan membaca model 5 menit. Menjawab latihan dalam buku 5 menit.
Sedangkan 5 menit sisanya digunakan untuk kegiatan menulis dan memberikan PR.
Pengaturan ini untuk satu jam pelajaran
yang biasanya berdurasi sekitar 45 menit. Namun, dalam implementasinya
di kelas pengaturan ini sangat fleksibel disesuaikan dengan kondisi kebutuhan
di dalam kelas.
Adapun strategi pembelajaran bahasa Arab yang dapat digunakan dalam
keterampilan membaca menurut Dra. Hj. Radliyah Zaenuddin, M.Ag, dkk ini adalah
sebagai berikut:[8]
1.
Qira’ah
Muajjahah
Qiraah Muajjahah
merupakan salah satu strategi untuk mempelajari teks wacana dengan menggunakan
penuntun yang berupa pertanyan-pertanyaan, bagan, skema, dan sebagainya.
Strategi ini sangat cocok digunakan pada materi yang sekiranya tidak dapat
diselesaikan didalam kelas.
Langkah-langkah:
1.
Tentukan topok,
misalnya teks tentang القاهرة من فوق البرج
(kitab al-‘arabiyah li al-nasyiin, jilid III hal.194)
2.
Mintalah
mahasiswa untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan atau mengisi bagan yang sudah
disediakan .
3.
Tugas mahasiswa
adalah mempelajari teks lewat kisi-kisi pertanyaan.
4.
Bahas pertanyaan
darii ulasan.
2.
Mudzaakaraat
al-talaamiidz
Strategi ini
digunakan untuk meningkatkan keaktifan dan keberanian mahasiswa untuk mencari
tahu sendiri dengan mempertanyakan hal-hal yang belum difahami dari materi
bacaan.
Langkah-langkah:
1.
Tentukan teks
wacana dan minta mahasiswa untuk mempelajarinya dan beri tanda pada mufrodat
yang tidak difahami dalam batas waktu yang sudah ditentukan misalnya 10-15
menit.
2.
Beri kesempatan
untuk 5-10 menit mahasiswa bertanya.
3.
Mufradat yang
ditanyakan tersebut tidak langsung dijawab oleh dosen tapi tanyakan lagi
(sharing) pada mahasiswa lainnnya.
4.
Buka kesempatan
lagi untuk bertanya dan sharing dengan mahasiswa lannya dan seterusnya.
5.
Jelaskan secara
singkat teks wacana.
6.
Akhiri
pembelajaran dengan memberikan pertanyaan-pertanyaan seputar mufradat dan
pemahaman mahasiswa pada wacana yang telah dipelajari.
3.
Qiraah
Jahriyyah
Ini adalah
strategi yang dapat membantu mahasiswa dalam menghadirkan pemahaman dan
konsentrasi secara tidak langsung terhadap bahan bacaan. Penekanan strategi ini
terlihat bukan hanya dalam memahami teks bacaan, tapi juga pada ekspresi bahasa
(pelafadzan) bacaan bahasa Arab yang baik dan benar.
Langkah-langkah:
1.
Bagi mahasiswa
menjadi beberapa kelompok yang disesuaikan dengan pembagian bahan bacaan.
2.
Pilih teks yang
cukup menarik dan bagi menjadi 4 atau 5 bagian kemudian tugaskan pada
masing-masing kelompok mahasiswa untuk memfokuskan pemahaman pada bagian yang
menjadi tugasnya. Misalnya kelompok 1 bertugas memahami alinea 1 dan kelompok 2
memahami alinea 2 dan seterusnya.
3.
Minta mahasiswa
untuk membacakan teks dengan suara yang nyaring.
4.
Ketika bacaan
sedang berlangsung, berhentilah pada point tertentu untuk menekankan arti dan
penjelasan yang diperlukan.
5.
Akhiri proses
belajar dengan menanyakan tentang hal-hal yang ada dalam teks.
4.
Akhziyaat al-Nash
Strategi ini
digunakan untuk mempelajari teks wacana yang mempunyai beberapa segmen.
Mahasiswa dibagi menjadi beberapa kelompok sesuai jumlah segmen yang ada dalam
teks wacana tersebut. Kelebihan dari strategi ini adalah ia dapat melibatkan
seluruh mahasiswa untuk aktif belajar dan sekaligus mengajarkannya kepada
mahasiswa lain.
Langkah-langkah:
1.
Tentukan topic
bacaan yang akan dipelajari.
2.
Bagi mahasiswa
menjadi beberapa kelompok untuk mempelajari masing-masing sub judul yang ada
pada bacaan dimaksud.
3.
Minta semua
kelompok untuk berusaha mempelajari sub bahasan yang telah ditentukan secara
berbeda. Kelompok A untuk alinea 1, B alinea ke dua dan seterusnya.
4.
Minta tiap
kelompok untuk mempersiapkan diri menjelaskan sub-sub bahasan tersebut kepada
keompok yang lain.
5.
Setiap kelompok
mengirimkan anggotanya ke kelompok lain unutk menyampaikan apa yang telah
dipelajari. A ke B, B ke C dan seterusnya bergiliran hingga semua materi
tersampaikan secara keseluruhan.
6.
Mahasiswa
kembali ke suasana kelas seperti semula .
7.
Untuk mengecek
daya serap dan pemahaman mahasaiswa terhadap materi, mahasiswa diberi
pertanyaan.
5.
Talkhiis
Jamaa’i
Dalam strategi
ini team building perlu dibangun semenjak awal, karena ia menuntut adany kerja
sama kelompok dalam bekerja. Strategi ini dapat membantu mahasiswa menjadi
lebih akrab dan saling berinteraksi dalam menuangkan gagasannya dalam memahami
ide cerita.
Langkah-langkah:
1.
Bagi mahasiswa
menjadi beberapa kelompok
2.
Jelaskan bahwa
mereka mempunyai talenta untuk membuat resume dari materi yang akan dan telah
dibahas.
3.
Mahasiswa diberi
teks yang akan dipelajari.
4.
Minta mahasiswa
untuk meresume secara berkelompok tentang teks tersebut dan
mempresentasikannya.
6.
Tartiib
al-Nash
Ini adalah
strategi yang digunakan untuk mengetahui kemampuan membaca dan memahami
mahasiswa atas teks bacaan. Strategi ini tidak di tujukan bagi mahasiswa
pemula, yang baru mengenal bahasa Arab tapi untuk mahasiswa tingkat lanjutan
yang telah mengenal struktur kalimat bahasa Arab.
Langkah-langkah:
1.
Bagi mahasiswa
menjadi beberapa kelompok kecil. Setiap kelompok diberi satu teks lengkp yang
sudah dipotong-potong secara acak.
2.
Setiap kelompok
diminta untuk menyusun potongan-potongan teks wacana yang alur ceritanya
berurutan.
3.
Setelah
urutannya baik maka mereka diminta untuk menuliskannya kedalam buku catatannya.
I.
Media
Pembelajaran Qiraah
Adapun
media pembelajaran yang dapat dimanfaatkan untuk pembelajaran keterampilan
membaca antara lain:
1)
Kartu dan
macam-macamnya (al-bithoqath)
Kartu biasanya
terbuat dari kertas yang tebal atau keras, dan didalam masing-masing bagian
depan dan belakang terdapat kata, frasa, kalimat atau ungkapan. Untuk ukuran
kartu disesuaikan dengan keinginan guru yang terpenting adalah bahwa tulisan
pada kata tersebut harus terlihat oleh siswa yang berada dalam bagian
belakang.kartu biasanya digunakan guru untuk membelajarkan atau melatih siswa
membaca kata, kalimat atau ungkapan yang sempurna tanpa melakukan analisa
terhadap apa yang dibaca. Kartu juga digunakan untuk mengembangkan pengetahuan siswa
tentang kosakata latihan-latihan pola-pola tatanan bahasa dan membaca secara
keras.
2)
Laboratorium
baca
Laboratorium
bahasa merupakan salah satu media yang dapat dimanfaatkan untuk mengembangkan
keterampilan membaca. Laboratorium baca biasanya terdiri sejumlah kitab-kitab
kecil, isinya materi bahasa yang tersusun secara gradasi dari sederhana menuju
sulit yang dapat membantu siswa untuk lebih cepat dapat membaca sesuai dengan
kemampuannya.materi bahasa arab tersebut terdiri dari cerita-cerita pendek, makalah-makalah
ilmiah, atau sejarah yang bergambar, kemudian buku-buku tersebut diberi nomor
sesuai tingkat kesulitannya, sehingga dapat diketahui tingkat kemajuan siswa
dalam kemampuan membaca. Nomor 1 paling mudah dan seterusnya. Disamping itu
setiap akhir buku diberi latihan yang bias untuk mengukur kemampuan siswa dalam
membaca untuk menentukan bacaan berikutnya.
Media pembelajaran lainnya yang dapat dimanfaatkan untuk
mengembangkan keterampilan membaca masih banyak seperti: kartu hijaiyyah,
majalah dan sejenisnya, gambar-gambar karikatur iklan yang berisi tulisan dan
gambar yang berwarna yang dapat dibaca dari jarak jauh. Kartu
iklan, kotak baca dan lain sebagainya.[9]
Adapun menurut
Dr. Muhammad Ali Al-Khuli media yang bias digunakan dalam pembelajaran qira`ah
yaitu:
1.
Penggunaan Kamus
Hendaknya guru
melatih siswa menggunakan kamus yang entrinya berbahasa Arab. Dengan demikian,
siswa terbiasa dengan susunan abjad Arab seperti yang terdapat dalam kamus
tersebut. Kebiasaan ini juga melatih siswa mengetahiu karakteristik kamus dalam
menurunkan kata atau mengembangkannya dari sebuah kata dasar, sehingga mereka
mampu mencari seebuah kata dengan merujuk ke kaa dasarnya. Menggunkan kamus
sebenarnya bukan hanya untuk mencari makna, melainkan juga untuk mencari akar kata,
mengetahui ejaan, isytiqaq, dan mengetahui fungsi-fungsi gramatikal dan cara
penggunaannya.
2.
Flash Card
Flash card adalah kartu bertuliskan sebuah kata atau
kalimat yang nantinya akan diperlihatkan kepada siswa dalam waktu tidak lebih
dari dua atau tiga detik kemudian disembunyikan dari pandangan siswa. Ketika
kartu itu diperlihatkan kepada siswa, mereka diminta untuk membacanya. Kartu
semacam ini dianggap sebagai penerapan teori Gestalt dalam mengetahiu hal-hal
yang umum dan pembiasaan penglihatan pembaca untuk melihat unit bacaan yang
lebih besar.
BAB III
KESIMPULAN
Dari uraian diatas penulis
menarik kesimpulan sebagai berikut, yaitu:
1. Membaca merupakan kegiatan yang melibatkan seluruh
bentuk-bentuk berpikir memberi penilaian, memberi keputusan,
menganalisis dan mencari pemecahan masalah.
2. Membaca memiliki tujuan yang beraneka ragam
misalnya, unutk penelitian, membuat rangkuman, karena ujian, dan lain-lain.
3. Adanya
tujuan membaca yang beraneka ragam menyebabkan munculnya berbagai macam
kategori membaca, seperti membaca intensif, membaca pelengkap (pengayaan),
membaca dalam hati, membaca nyaring, dan membaca model.
4. Membaca
intensif dikelas bisa disajikan dalam tiga tahap: pertama, pra- membaca.
Pada tahap ini guru menyajikan kosakata dan struktur kalimat baru. Tahap ini
merupakan pengantar ke tahap berikutnya, yaitu tahap membaca. Kedua, membaca
dalam hati. Setelah siswa memahami kosakata dan struktur kalimat baru yang
terdapat dalam teks, guru meminta siswa untuk membaca dan memahaminya dalam
hati. Ketiga, pasca membaca. Setelah siswa menyelesaikan tahap membac
dalam hati dilanjutkan dengan tahap ketiga yaitu memahami dan menguasai
pertanyaan yang harus dijawab.
5. Beberapa kesulitan-kesulitan dalam
membaca, diantaranya:
1)
Huruf Tambahan
(Za’idah)
2)
Huruf Maqlub
3)
Kesulitan Bunyi
atau Pengucapan
4)
Perbedaan arah
tulisan
5)
Lambat dalam
membaca
6)
Membaca nyaring
7)
Pengulangan arah
pandangan
8)
Stagnasi
pandangan
9)
Sempitnya
pandangan
10) Kosakata
6.
Ada beberapa
strategi yang bisa digunakan guru untuk meningkatkan kemampuan membaca dan
pemahaman siswa, yaitu:
1)
Penggunaan kamus
2)
Mengenal huruf
za’idah
3)
Meningkatkan
kecepatan membaca
4)
Al-Isytiqaq
5)
Flash card
6)
Menyusun alinea
7)
Menghubungkan
makna
7.
Dalam
pembelajaran membaca terdapat beberapa teori dan metode yang muncul dan
berkembang. Masing-masing memiliki sisi kelebihan dan kekurangannya. Di antara
metode-metode tersebut adalah:
(1) Metode
harfiyah
(2) Metode
sautiyyah
(3)
Metode Kata
(4)
Metode kalimat
(5)
Metode gabungan
8.
Strategi pembeljaran qiraah yaitu:
1.
Qira’ah Muajjahah
2.
Mudzaakaraat al-talaamiidz
3.
Qiraah Jahriyyah
4.
Akhziyaat al-Nash
5.
Talkhiis Jamaa’i
6.
Tartiib al-Nash
9. Media pembelajaran qiraah yaitu bias dengan
menggunakan kartu atau laboratorium baca, dan sebagainya.
[1] H.M abdul hamid,dkk. Pembelajaran Bahasa Arab.2008:45
[2] Abdul Wahab Rosyidi MPd. Media Pembelajaran Bahasa Arab. 2009: 68
[3] Hasan saefullah.Strategi Pembelajaran Bahasa Arab.2010:99
[4]
[4] Hasan saefullah.Strategi Pembelajaran Bahasa Arab.2010:100
[5]
Ahmad Fuad Effendy, Metodologi Pengajaran
Bahasa Arab.2005:127
[6]
H.M abdul hamid,dkk. Pembelajaran Bahasa
Arab.2008:46
[7]
Hasan saefullah.Strategi Pembelajaran
Bahasa Arab.2010:104
[8]
Dra. Hj. Radliyah Zaenuddin, M.Ag, dkk. Metodologi
& Strategi Alternative Pembelajaran Bahasa Arab.2005:72
[9]
Abdul Wahab Rosyidi MPd. media
Pembelajaran Bahasa Arab. 2009: 68