PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Balaghah
merupakan ilmu yang membahas cara-cara menyusun kalimat yang baik dan bernilai
tinggi menurut sastrawan dan salah satu tujuannya adalah untuk dapat berbicara
atau menulis dengan teratur sesuai dengan kondisi dan situasi dan dengan cara
yang indah.
Keindahan
adalah merupakan sifat-sifatnya yang paling menonjol.keistimewaan yang nampak
dan sasaran keindahannya ialah bahasa yang menampilkan khayalan indah, gambaran
halus, dan menyentuh kepada bentuk-bentuk penyerupaan yang jauh antara beberapa
hal.
Dalam
kali ini, kami akan memaparkan tentang kalam dalam balaghah. Serta tujuannya.
Kalam (kalimat) terbagi menjadi dua, yaitu, kalam khabar dan khalam insya.
Masing-masing mempunyai makna, bagian,bentuk, serta tujuan yang berbeda. Maka
dari itu, dalam makalah ini, hanya akan membahas tentang pembagian kalam Insyai
yang berupa Istifham. Makalah ini berusaha untuk mendeskripsikan tentang kajian
Istifham dalam Ilmu balagoh.
B. Rumusan Masalah
1.
Apa yang dimaksud dengan
Istifham ?
2.
Ada berapakah perabot
istifham ?
3.
Apa saja yang termasuk
makna Istifham ?
C. Tujuan Masalah
Untuk mengetahui kata yang menggunakan perabot atau jenis-jenis istiham
dalam sebuah kalimat sehingga mampu membedakan antara makna kandungan yang
terdapat dalam kalimat tersebut berupa kalam insya tholabi atau insya ghoiru
tholabi.
BAB II
PEMBAHASAN
A. Pengertian Istifham
وأمَّا
الاستفهامُ، فهوَ طَلَبُ العلْمِ بشيءٍ، وأدواتُه الهمزةُ، و(هلْ)، و(ما)،
و(مَنْ)، و(متى)، و(أيَّانَ)، و(كيفَ)، و(أينَ)، و(أنَّى)، و(كمْ)، و(أيُّ).
Istifham berasal dari
bahasa Arab, masdar dari kata istafhama yang berartiistaudhaha. Akar
katanya adalah fahima yang berarti faham, mengerti, jelas. Akar
kata ini mendapat tambahan alif, sin dan ta’ di awal kata yang salah satu fungsinya
adalah untuk meminta. Dengan demikian itu berarti permintaan penjelasan (thalabul
fahmi). Sedangakan secara istilah, istifham menurut Al Zarkasi adalah
mencari pemahaman tentang suatu hal yang tidak diketahui. Selain itu, istifham juga bisa dikatakan merupakan bentuk
kalimat yang dipergunakan untuk mendapatkan informasi yang jelas tentang suatu
masalah yang belum diketahhui sebelumnya.
Istifham adalah tuntunan untuk mengetahui
sesuatu yang sebelumnya tidak diketahui. (Prof. Dr. H. Machasin, MA:106)
Contoh :
§ أ أنت المسافر أم أخوك
“Apakah Kamu Yang Telah Bepergian Ataukah
saudaramu”.
§ هل يعقل الحيوان
“Apakah
hewan itu berakal”.
§ من فتح مصر
“Siapakah
yang menaklukan Mesir”
§ كم لبثتم
“Berapa
(lama) kamu tinggal”
B.
Perabot
Istifham dan contoh-contohnya
Adapun yg dikatakan istifham (dlm ilmu ma’ani) adalah, menuntut pengetahuan
tentang sesuatu. Adad istifham (alat kata Tanya) berupa :
1. Hamzah 6. Ayyaana 11. Ayyu.
2. Hal 7. Kaifa
3. Maa 8. Aina
4. Man 9. Annaa
5. Mataa 10. Kam dan
1. Hamzah 6. Ayyaana 11. Ayyu.
2. Hal 7. Kaifa
3. Maa 8. Aina
4. Man 9. Annaa
5. Mataa 10. Kam dan
فالهمزةُ،
لطَلَبِ التصوُّرِ أو التصديقِ.
1.
HAMZAH (أ
= A)
Dipergunakan untuk menuntut:
1. TASHAWWUR (penggambaran/konsepsi)
2. TASHDIQ (pembenaran nisbat/konfirmasi)
1. TASHAWWUR (penggambaran/konsepsi)
2. TASHDIQ (pembenaran nisbat/konfirmasi)
والتصوُّرُ: هوَ
إدراكُ المفرَدِ، كقولِكَ: (أعليٌّ مسافرٌ أَمْ خالدٌ؟)، تَعتقِدُ أنَّ السفَرَ
حَصَلَ منْ أحدِهما، ولكنْ تَطْلُبُ تعيينَه؛ ولذا يُجابُ بالتعيينِ، فيُقالُ:
(عليٌّ)، مَثلًا.
· Tashowwur
(penggambaran) adalah : hal mengetahui mufrad (salah-satu dari dua bagian
penisbatan (musnad ataupun musnad ilaih)).
Contoh:
Contoh:
Kamu Berkata: “A ‘ALIYYUN MUSAAFIRUN AM
KHOOLID?”
“Apakah yg
pergi itu ALI atau KHOLID?” (menanyakan mufrad yg berupa musnad ilaih)
Kamu meyakini bahwa penisbatan SAFAR/perjalanan telah berhasil terjadi pada salah-seorang keduanya, namun kamu menuntut Ta’yin (penentuan). Oleh karena itu dijawab secara Ta’yin, maka dijawab: “ALI ” –misalnya.
Kamu meyakini bahwa penisbatan SAFAR/perjalanan telah berhasil terjadi pada salah-seorang keduanya, namun kamu menuntut Ta’yin (penentuan). Oleh karena itu dijawab secara Ta’yin, maka dijawab: “ALI ” –misalnya.
والتصديقُ: هوَ إدراكُ النِّسبةِ، نحوُ: (أسافَرَ عليٌّ)؟ تَستفْهِمُ عنْ حصولِ
السفَرِ وعدَمِه. ولذا يُجابُ بـ (نعم) أوْ (لا).
· Tashdiq
(pembenaran) adalah : hal mengetahui nisbat contoh:
“A SAAFARO ALIY?”
“Apakah ALI PERGI?” (menanyakan nisbat/hukum perginya Ali)
Menuntut pengetahuan tentang terjadinya pergi atau tidak, oleh karena itu dijawab “NA’AM=iya” atau “LAA= tidak”
“A SAAFARO ALIY?”
“Apakah ALI PERGI?” (menanyakan nisbat/hukum perginya Ali)
Menuntut pengetahuan tentang terjadinya pergi atau tidak, oleh karena itu dijawab “NA’AM=iya” atau “LAA= tidak”
والمسؤولُ عنه
في التصوُّرِ ما يَلِي الهمزةَ، ويكونُ لهُ معادِلٌ يُذْكَرُ بعدَ (أمْ)،
وتُسَمَّى متَّصِلَةً.
Suatu yang
dipertanyakan (dg adat istifham hamzah) dalam hal tashowwur yaitu lafazh yang
mengiringi hamzah, kemudian ada lafazh Mu’adil (pertimbangan) yang disebut
setelah أم
(AM=ataukah) dan dinamakan AM MUTTASHILAH.
فتقولُ في
الاستفهامِ عن المسْنَدِ إليه: (أَأَنْتَ فعلْتَ هذا أَمْ يُوسفُ؟(
Contoh dalam istifham
tentang musnad ilaih :
أَأَنْتَ فعلْتَ هذا أَمْ يُوسفُ؟
“A ANTA FA’ALTA HADZA AM YUSUF?” = “apakah KAMU yg mengerjakan ini ataukah YUSUF?”
أَأَنْتَ فعلْتَ هذا أَمْ يُوسفُ؟
“A ANTA FA’ALTA HADZA AM YUSUF?” = “apakah KAMU yg mengerjakan ini ataukah YUSUF?”
وعن المسْنَدِ:
(أَرَاغِبٌ أنتَ عن الأمْرِ أَمْ راغبٌ فيه؟(
Contoh istifham
tentang musnad:
أَرَاغِبٌ أنتَ عن الأمْرِ أَمْ راغبٌ
فيه؟
“A ROOGHIBUN ANTA ‘ANIL-’AMRI AM ROOGHIBUN FIIHI?” = “apakah KAMU MEMBENCI perkara itu, ataukah KAMU MENYUKAI-nya?”
وعن المفعولِ:
(أَإِيَّايَ تَقْصِدُ أَمْ خالدًا؟
Contoh istifham
tentang maf’ul:
أَإِيَّايَ تَقْصِدُ أَمْ خالدًا؟
A IYYAAYA TAQSHIDU AM KHOOLIDAN?
Apakah KEPADAKU kamu bermaksud, ataukah KEPADA KHOLID?
وعن الحالِ:
(أراكبًا جئتَ أَمْ ماشيًا؟)
Contoh istifham
tentang haal A ROOKIBAN JI’TA AM MAASYIYAN? = apakah BERKENDARAAN kamu datang,
ataukah JALAN KAKI?
وعن الظرْفِ:
(أيومَ الخميسِ قَدِمْتَ أَمْ يومَ الجمُعَةِ؟
Contoh istifham
untuk zhorof (waktu/tempat)
A YAUMUL-KHOMIISI QADIMTA AM YAUMAL-JUM’ATI? = apakah HARI KAMIS kamu datang, ataukah HARI JUM’AT?
Demikian juga untuk ta’alluq2 istifham yg lain. (misal jar-majrur, maf’ul mutlaq, liajlih dan sebaginya disebut dalam kitab yg lebih detil)
A YAUMUL-KHOMIISI QADIMTA AM YAUMAL-JUM’ATI? = apakah HARI KAMIS kamu datang, ataukah HARI JUM’AT?
Demikian juga untuk ta’alluq2 istifham yg lain. (misal jar-majrur, maf’ul mutlaq, liajlih dan sebaginya disebut dalam kitab yg lebih detil)
.وقدْ لا
يُذْكَرُ المعادِلُ، نحوُ: (أَأَنْتَ فَعَلْتَ هَذَا؟)، (أَرَاغِبٌ أنتَ عن
الأمْرِ؟)، (أإيَّايَ تَقْصِدُ؟)، (أراكبًا جئتَ؟)، (أيومَ الخميسِ قَدِمْتَ؟
Terkadang tidak
menyebut Mu’adil (tapi tetap disebut IDROK TASHOWUR bukan IDROK TASHDIQ dengan
mengira-ngira ada mu’adil sebagaimana contoh tersebut diatas).
Contoh :
A ANTA FA’ALTA HADZA? = apakah KAMU yg mengerjakan ini?
A ROOGHIBUN ANTA ‘ANIL-AMRI? = apakah kamu MEMBENCI perkara itu?
A IYYAAYA TAQSHIDU? = apakah KEPADAKU maksudmu?
A ROOKIBAN ANTA? = apakah BERKENDARA kamu datang?
A YAUMAL-KHOMIISI QODIMTA? = apakah DI HARI KAMIS kamu datang?
Contoh :
A ANTA FA’ALTA HADZA? = apakah KAMU yg mengerjakan ini?
A ROOGHIBUN ANTA ‘ANIL-AMRI? = apakah kamu MEMBENCI perkara itu?
A IYYAAYA TAQSHIDU? = apakah KEPADAKU maksudmu?
A ROOKIBAN ANTA? = apakah BERKENDARA kamu datang?
A YAUMAL-KHOMIISI QODIMTA? = apakah DI HARI KAMIS kamu datang?
والمسؤولُ عنه
في التصديقِ النِّسبةُ. ولا يكونُ لها معادِلٌ، فإنْ جاءتْ (أمْ) بعدَها قُدِّرتْ
منْقَطِعَةً، وتكونُ بمعنى (بلْ).
Hal yg ditanyakan di dalam tashdiq yaitu
nisbat, dan tidak ada Mu’aadil. Apabila terdapat أم (am) setelahnya, maka diakdir sebagai AM
MUNQOTI’ (Am Munfashilah) dan mempunyai arit BAL = Bahkan.
و (هلْ) لطلَبِ التصديقِ فقطْ، نحوُ: (هلْ جاءَ صديقُكَ)؟
والجوابُ: (نعم) أوْ (لا) ولذا يَمتَنِعُ معها ذِكْرُ المعادِلِ، فلا يُقالُ: (هلْ
جاءَ صديقُك أمْ عدوُّك؟
2. HAL (هل)
Berfungsi untuk
menuntut TASHDIQ saja. Contoh:
HAL JAA-A SHODIIQUKA? = apakah temanmu telah datang? dan sebagai jawabannya adalah : NA’AM atau LAA.
Oleh karenanya dilarang menyebut Mu’aadil, maka jangan mengatakan :
HAL JAA-A AHODIIQUKA AM ‘ADUWWUKA?
HAL JAA-A SHODIIQUKA? = apakah temanmu telah datang? dan sebagai jawabannya adalah : NA’AM atau LAA.
Oleh karenanya dilarang menyebut Mu’aadil, maka jangan mengatakan :
HAL JAA-A AHODIIQUKA AM ‘ADUWWUKA?
و (هل) تُسمَّى
بسيطةً إن استُفْهِمَ بها عنْ وجودِ شيءٍ في نفسِه، نحوُ: (هَلِ العَنْقَاءُ
موجودةٌ؟). ومركَّبةً إن استُفْهِمَ بها عنْ وجودِ شيءٍ لشيءٍ، نحوُ: (هلْ تَبِيضُ
العَنْقَاءُ وتُفْرِخُ؟)
HAL dinamakan
Basithah jika dipakai untuk mempertanyakan adanya sesuatu dalam zatnya. Contoh
HAL AL-’UNQO-U MAUJUUDUN? = apakah BURUNG UNQA’ itu ada? (burung mitos berkepala
dan bersayap seperti garuda dan berbadan spt singa).
Dan dinamakan Murokkab jika dipakai untuk mempertanyakan adanya sesuatu didalam sesuatu. Contoh. HA TABYADHDHU AL-UNQO’ WA TUFRIKHU? = apakah BURUNG UNQA’ itu BERTELUR DAN MENETAS? (disebut murokkab sbb mempertanyakan keberadaan burung unqa’ tentang bertelur dan menetas).
Dan dinamakan Murokkab jika dipakai untuk mempertanyakan adanya sesuatu didalam sesuatu. Contoh. HA TABYADHDHU AL-UNQO’ WA TUFRIKHU? = apakah BURUNG UNQA’ itu BERTELUR DAN MENETAS? (disebut murokkab sbb mempertanyakan keberadaan burung unqa’ tentang bertelur dan menetas).
و(ما) يُطْلَبُ
بها شرحُ الاسمِ، نحوَ: ما العَسْجَدُ أو اللُّجَيْنُ؟ أوْ حقيقةُ الْمُسمَّى،
نحوُ: (ما الإنسانُ؟) أوْ حالُ المذكورِ معها، كقولِك لقادِمٍ عليك: (ما أنتَ؟)
3. MAA (ما)
Digunakan
untuk mempertanyakan keterangan/penjelasan suatu nama. Contoh:
MAA AL’ASJAD AW LAJAIN? = apa itu asjad? atau lajain? (asjad=emas, lajain=perak). Atau mempertanyakan hakikat sesuatu yg diberi nama. Contoh: MAA AL-INSAN? Apa itu manusia? Atau mempertanyakan hal-ihwal lafal yg disebut bersama MAA. Contoh kamu berkata pada orang yg datang padamu: MAA ANTA? = siapa kamu? (jawab: Tamu, atau Utusan Raja).
MAA AL’ASJAD AW LAJAIN? = apa itu asjad? atau lajain? (asjad=emas, lajain=perak). Atau mempertanyakan hakikat sesuatu yg diberi nama. Contoh: MAA AL-INSAN? Apa itu manusia? Atau mempertanyakan hal-ihwal lafal yg disebut bersama MAA. Contoh kamu berkata pada orang yg datang padamu: MAA ANTA? = siapa kamu? (jawab: Tamu, atau Utusan Raja).
و (مَن) يُطلَبُ بها تَعيينُ العُقلاءِ،
كقولِك: (مَنْ فَتَحَ مِصْرَ؟)
4. MAN (من)
Menuntut menentukan
suatu yang berakal, contoh: MAN FATAHA MISHRO? Siapa yg menaklukkan Mesir?
(jawab: Amr bin ‘Ash).
و(متى) يُطْلَبُ بها تَعيينُ الزمانِ، ماضيًا كانَ أوْ
مستَقْبلًا، نحوُ: (متى جِئْتَ؟) و(متى تَذْهَبُ؟)
5. MATAA (متى)
Menuntut
menentukan zaman baik madhi (telah lewat) atau istiqbal (akan datang). Contoh:
MATAA JI’TA? Kapan kamu datang? MATAA TADZHABU? Kapan kamu akan pergi?
MATAA JI’TA? Kapan kamu datang? MATAA TADZHABU? Kapan kamu akan pergi?
و(أيَّانَ) يُطْلَبُ بها تَعيينُ الزمانِ المستَقْبَلِ
خاصَّةً، وتكونُ في موضِعِ التهويلِ، كقولِه تعالى: {يَسْأَلُ أَيَّانَ يَوْمُ
الْقِيَامَةِ}؟
6. AYYAANA (أيان)
Menuntut
menentukan zaman istiqbal scara khusus, dan digunakan suatu yg luar biasa.
Contoh Firman Allah:
YAS’ALU AYYAANA YAUMUL QIYAAMATI? = ia bertanya bilakah hari kiamat?
YAS’ALU AYYAANA YAUMUL QIYAAMATI? = ia bertanya bilakah hari kiamat?
و(كيفَ)
يُطْلَبُ بها تعيينُ الحاِل، نحوُ: (كيفَ أنتَ)
7. MATAA (متى)
Menuntut
menentukan hal keadaan. Contoh:
KAIFA ANTA? Bagaimana keadaan kamu?
KAIFA ANTA? Bagaimana keadaan kamu?
و(أينَ)
يُطْلَبُ بها تعيينُ المكانِ، نحوُ: (أينَ تَذْهَبُ؟
8. AINA (أنى)
Menuntut menentukan tempat. Contoh:
AINA TADZHABU? = kemana kamu pergi?
AINA TADZHABU? = kemana kamu pergi?
و(أنَّى) تكونُ
بمعنى (كيفَ)، نحوُ: {أَنَّى يُحْيِـي هَـذِهِ اللَّهُ بَعْدَ مَوْتِهَا}؟ وبمعنى
(مِنْ أينَ)، نحوَ: {يَا مَرْيَمُ أَنَّى لَكِ هَـذَا}؟ وبمعنى (متى)، نحوُ: (زِدْ
أنَّى شئتَ؟
9. ANNAA أنى
1.
Sama dengan ma’na KAIFA. Contoh :
ANNAA YUHYII HADZIHI ALLAAHU BA’DA MAUTIHAA?
Bagaimana Allah menghidupkan kembali negeri ini setelah hancur?
ANNAA YUHYII HADZIHI ALLAAHU BA’DA MAUTIHAA?
Bagaimana Allah menghidupkan kembali negeri ini setelah hancur?
2. sama dengan
ma’na MIN AINA. Contoh:
YAA MARYAMU ANNAA LAKI HADZAA?
Hai Maryam dari mana kamu memperoleh (makanan) ini?
YAA MARYAMU ANNAA LAKI HADZAA?
Hai Maryam dari mana kamu memperoleh (makanan) ini?
3. Sama dengan
ma’na MATAA. Contoh:
ZID ANNAA SYI’TA?
Tambahkan kapankah kamu suka?.
ZID ANNAA SYI’TA?
Tambahkan kapankah kamu suka?.
و(كمْ) يُطلَبُ
بها تَعيينُ عددٍ مبْهَمٍ نحوُ:{كَمْ لَبِثْتُمْ}؟
10. KAM (كم)
Menuntut untuk
menentukan jumlah/hitungan yg samar. Contoh:
KAM LABITSTUM?
Berapa lama kalian tinggal?
KAM LABITSTUM?
Berapa lama kalian tinggal?
و(أيُّ)
يُطْلَبُ بها تمييزُ أحَدِ المتشاركيْنِ في أمْرٍ يَعمُّهما، نحوُ: {أَيُّ
الْفَرِيقَيْنِ خَيْرٌ مَقَامًا}؟
ويُسأَلُ بها عن الزمانِ والمكانِ والحالِ والعددِ والعاقلِ وغيرِه، حسَبَ ما تُضَافُ إليه.
ويُسأَلُ بها عن الزمانِ والمكانِ والحالِ والعددِ والعاقلِ وغيرِه، حسَبَ ما تُضَافُ إليه.
11. AYYU (أي)
Menuntut
untuk membedakan satu dari dua kemungkinan didalam perkara yg mengumumi Pada
keduanya. Contoh:
AYYU-LFARIIQOINI KHOIRUN MAQOOMAN?
Manakah
di antara kedua golongan (kafir dan mukmin) yang lebih baik tempat tinggalnya?
C.
Makna Istifham
istifham seperti
yang dijabarkan di atas merupakan pengungkapan yang memiliki bermacam makna
bergantung pada siyaqul kalamnya, Diantaranya yaitu:
1. Untuk
pengingkaran dan maknanya adalah untuk menafikan kalimat sesudahnya. Karena
itulah pertanyaan ini dapat diikuti oleh Illa (إلا ), seperti Firman
Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam QS. Al-Ahqaf: 35
2. Untuk
menjelekkan. Sebagian ulama memasukkan hal ini ke dalam bagian pengingkaran.
Tetapi yang pertama berupa pengingkaran untuk membatalkan dan yang kedua adalah
pengingkaran untuk menjelekkan, seperti Firman Allah Ta’ala dalam QS. Fathir:
37
3. Membawa
pendengar untuk menetapkan dan menyetujui sesuatu hal yang telah terjadi
padanya, seperti Firman Allah Ta’ala dalam QS. Adl-Dluha :6-7
4. Untuk
takjub dan membuat takjub, seperti dalam QS. Al-Baqarah:28
5. Untuk
menyindir, seperti Firman Allah Ta’ala dalam QS. At-Taubah:43
6. Untuk
memberikan peringatan. Firman Allah Ta’ala QS. Yaasiin:60
7. Untuk
membanggakan diri, seperti dalam QS. Az-Zukhruf:51
8. Untuk
membesar-besarkan, seperti dalam QS. Al-Kahfi:49
9. Untuk
menakut-nakuti, seperti QS. Al-Qari’ah:1-2
10.
Untuk
memudahkan dan meringankan, seperti dalam QS. An-Nisaa:39
11.
Untuk
memberikan ancaman, seperti dalam QS. Al-Mursalat:16
12.
Untuk
membuat banyak, seperti dalam QS. Al-A’raf:4
13.
Untuk
membuat sama, yaitu: suatu pertanyaan yang masuk kepada sebuah kalimat yang
dapat digantikan dengan mashdar, seperti Firman Allah Subhanahu wa
Ta’ala dalam QS. Al-Baqarah:6
14. Untuk
memerintahkan, seperti dalam QS. Ali Imran:20
15. Untuk memberi peringatan,
seperti dalam QS. Al-Furqan:45
16. Untuk menumbuhkan
kecintaan, seperti dalam QS. Al-Baqarah:245
17. Untuk larangan, seperti
dalam Qs. At-Taubah:13
18. Untuk do’a. dan ini
seperti larangan, tetapi do’a itu (bertingkat-tingkat) dari yang lebih rendah
kepada yang lebih tinggi, seperti dalam QS. Al-A’raf:155
BAB III
PENUTUP
Kesimpulan
Istifham dalam
al Qur’an memiliki adawat (adat-adat) sebagai ciri khas yang
membedakannya dengan kaidah lain. Yaitu ditandai dengan huruf hamzah,
lafal hal, ma, man,kaifa, mata, ayyana, anna, kam, aina, ayyu.
Adapun makna dari ungkapan istifham bisa bermacam-macam bergantung pada siyaqul
kalamnya. Sedangkan tujuan dari kaidah istifham dalam ilmu tafsir
adalah untuk memberikan pengertian kepada para pendengar dan memiliki
pengetahuan untuk menafikan atau menetapkan suatu ayat Al-Qur’an.
Adapun yg dikatakan
istifham (dlm ilmu ma’ani) adalah, menuntut pengetahuan tentang sesuatu. Adad istifham
(alat kata Tanya) berupa :
1. Hamzah 6. Ayyaana 11. Ayyu.
2. Hal 7. Kaifa
3. Maa 8. Aina
4. Man 9. Annaa
5. Mataa 10. Kam dan
1. Hamzah 6. Ayyaana 11. Ayyu.
2. Hal 7. Kaifa
3. Maa 8. Aina
4. Man 9. Annaa
5. Mataa 10. Kam dan
DAFTAR PUSTAKA
Prof. Dr. H.
Machasin, MA. 2007. Menguasai Balaghah.Yogyakarta: Nurma Media
Idea.
Hifni Bek
Dayyab, Muhamad Bek Dayyab, Syeikh Musthafa Tomum, Mahmud Bek Muhamad .
1991. Kaidah Tata Bahasa Arab. Jakarta: Darul Ulum Press.
Al-Jarim,
Ali dan Musthafa Usman. 2006. Al-Balaghatul Wadlihah. Bandung:
Sinar Baru Algensindo.
M.
Sholihuddin Shofwan. 2008. Jauharul Maknun. Jombang: Darul
Hikmah.
سيّد أحمد الهاشمى.١٩٩٩ . جواهر البلاغة فى
المعانى والبيان والبديع. المكتبة العصريّة