Oleh: Andri Nazarudin M
A.
Haid
1.
Pengertian Haid
Secara etimologi kata haid berasal dari bahasa arab yang artinya
mengalir. Sedangkan menurut terminologi (syara) haid adalah darah yang secara
karakteristiknya (bukan karna sakit) keluar dari pangkal rahim wanita pada
waktu-waktu tertentu.[1] Di
terangkan juga dalam kitab bidayatul mujtahidin bahwa yang dinamakan darah haid
adalah darah yang keluar dari rahim perempuan secara alami dan normal dan
biasanya terjadi setiap bulan. [2]
Dari dua pengertian diatas dapat di simpulkan bahwa darah haid
adalah darah yang bukan karna penyakit atau secara normal dan alami keluar dari
rahim perempuan pada waktu-waktu tertentu. Para imam madzhab sepakat bahwa usia
minimal perempuan haid adalah 9 th kurang 16 hari (8th 11bln 14 hari) dan
keluarnya secara alami sebagai tabiat perempuan bukan di sebabkan karna
melahirkan atau penyakit. Dengan demikian darah yang keluar ketika wanita belum
berumur 9th kurang 16 hari disebabkan penyakit atau melahirkan maka tidak dinamakan
darah haid. [3]
2.
Dalil Haid dalam Al Qur’an dan Hadits
Allah
telah berfirman dalam al qur’an Qs al baqarah ayat 222:
tRqè=t«ó¡our Ç`tã ÇÙÅsyJø9$# ( ö@è% uqèd ]r& (#qä9ÍtIôã$$sù uä!$|¡ÏiY9$# Îû ÇÙÅsyJø9$# ( wur £`èdqç/tø)s? 4Ó®Lym tbößgôÜt.......... ÇËËËÈ
“Mereka bertanya kepada mu tentang haid,
katakanlah: “ haid itu adalah sesuatu kotoran”. Oleh sebab itu hendaklah kamu
menjauhkan diri dari wanita di waktu haid, dan janganlah kamu mendekati mereka,
sebelum mereka suci......”(Qs al baqarah: 222)
Rasulullah
Saw. Telah bersabda dalam sebauh hadits:
عن عائشة رضي الله عنها قالت: خرجنا لامرى الا الحج فلما كنا بسرف حضت
قدخل على رسولالله صلى الله عليه وسلم وانا ابكي قال: مالك انفست؟ قلث:نعم قال:
(ان هذا امركتب الله على بنت ادم فقضى ما يقضى الحج غير ان لا تطو فى باالبيت.(روه
البخري والمسلم)
“Dari aisyah r.a, ia berkata :” kemi bepergian
kami tidak bertujuan apa-apa kecuali mau berhaji, ketika kami telah sampai di
sarif saya haid, maka ketika rasulullah Saw. Menemui saya, saya menangis, lalu
beliau bertanya: apa yang terjadi denganmu? Apakah kamu haid? Saya menjawab:
ya, kemudian beliau bersabda: sesungguhnya haid ini adalah sesuatu yang telah
di tetapkan allah kepada anak cucu adam wanita, selesaikanlah hajimu, tetapi
kamu jangan melakukan tawaf di baitul haram . dalam satu riwayat...sampai engkau
suci.” (HR. Al bukhari dan muslim).
3.
Warna dan Sifat Darah Haid
Darah
haid itu macam-macam sifat dan warnanya dan kesemua itu menandakan atas
tingkatan darah. Warna darah seauai dengn urutan yang paling kuat:
· Hitam. seperti
dalam hadis rasull Saw
دم الحيض دم اسود يعرف
“Darah haid itu
adalah suatu jenis darah hitam yang sudah di kenal.” (HR abu dawud dan nasa’i)
· Merah
· Merah jambu
· Kuning
· Keruh [4]
Namun
mengenai darah kuning dan keruh diatas para fuqaha masih banyak yang berbeda
pendapat, tentang apakah jenis darah tersebut masuk kategori darah haid atau
bukan. Menurut sebagian fuqaha itu termasuk kategori darah haid. Ini juga di
perkuat oleh pendapat imam syafi’i dan imam abu hanifah. Dalam kitab al mudawwanah,
imam malik berpendapat darah jenis diatas termasuk haid , baik keluarnya
langsung setelah darah haid atau ada bekas darah haid.
Sebab
perbedaan di kalangan para fuqaha itu adalah adanya dua haidts yang lahirnya
saling bertentangan.
Pertama, hadits
ummu athiyah yang menyatakan:
كنالانعد الصفرة والكدرة بعدالغسل شيئا
“dari ummu athiyah r.a, ia berkata: kami tidak menganggap warna
kuning dan keruh sebagai darah haid
stelah suci dari haid.”(HR. Abu dawud dan bukhari)
Kedua, hadits riwayat aisyah r.a :
عن علقمة بن ابى علقمة عن امه مرجا نة مولاةعائشة رضي الله عنها
قالت:كا نت النساء يبعثن الى عائشة بالدرجة فيها الكرسف فيه الصفرة فتقول لاتعجلن
حتى ترين القصة البيضاء (روه ابو داود والبجارى)
“ dari al qamah bin abi al qamah dari ibunya
marjanah mawlat ‘aisyah r.a’ ia berkata: para wanita telah diutus menghadap
kepada aisyah r.a, dengan membawa wadah make up yang di dalamnya terdapat kapas
yang terkena (darah haid) berwarna kuning. Maka aisyah berkata; janganlah
tergesahgesah (mandi) , sampai kalian melihat kapas itu berwarna putih.”(HR
malik dan muhammad bin al hasan, serta di riwayatkan oleh bukhari secara
mu’alaq)
Ulama yang menguatkan hadits aisyah menganggap shufrah (darah
kuning) itu sebagai darah haid,baik keluar pada masa haid atau tidak, maupun
keluar bersamaan dengan darah haid atau tidak.
Ada pun fuqaha yang memahami lahir hadits ummu athiyah secara
mutlak. Tanpa memperhitungkan itu keluar pada masa haid atau tidak, keluar
langsung atau setelah darah haid terputus.
Sedangkan ulama yang menggunakan metode komprehensip dalam memahami
kedua hadits di atas menyatakan bahwa hadits ummu athiyah harus di fahami, jika
darah kudrah (keruh) dan shufrah (kuning) keluar setelah darah haid terputus
itu tidak dianggap darah haid. Sedang hadits aisyah di fahami, jika itu keluar
langsung mengiringi atau ada bekas haid maka shufrah dan kudrah tersebut di
anggap darah haid. Jadi dapat di fahami hadits aisyah itu berlaku jika
keluarnya pada masa haid dan hadits ummu athiyah berlaku jika keluarnya buakan
pada masa haid.[5]
Karna
waran darah itu tidak cukup hanya satu saja maka dapat di bedakan sebagai
berikut:
a)
Darah qawi yaitu darah yang paling kuat (paling tua warnanya).
Misalkan warna hitam lebih tua jika di bandingkan dengan warna merah.
b)
Darah dha’if yaitu darah yang di lihat tampak lebih lemah warnanya
di banding dengan yang lainnya. Misalkan warna merah lebih lemah warnanya jika
di bandingkan dengan warna hitam.
c)
Darah ad’af yaitu darah yang dilihat tampak lebih lemah warnanya
jika di bandingkan dengn kedua darah diatas. Misalkan warna merah jambu lebih
lemah jika di bandingkan dengan warna hitam dan merah.
Hal ini tidak menutup kemungkinanbahwa warna qawi itu hanya yang
berwarna hitam saja. Namun dari uraian diatas bahwa warna qawi itu sangat
bersifat relatif, artinya melihat darah yang keluar itu warnanya apa. Jika
berwarna merah jambu maka merah jambu itu lebih kuat di bangdingkan dengan
warna kuning, begitu seterusnya.[6]
4.
Waktu Haid dan Suci
· Masa haid terlama
dan terpendek
Imam malik berpendapat bahwa masa haid terlama adalah 15 hari 15
malam, ini pun sama dengan pendapat imam syafi’i dan imam hambali, menurut imam
abu hanifah paling lama masa haid adalah 10 hari. Sedangkan masa haid terpendek
menurut imam maliki tidak ada batasnya, bisa jadi hanya keluar satu gumpal atau
satu tetes darah dapat di kategorikan sebagai haid. Menurut imam syafi’i dan
imam hambali sedikitnya masa haid adalah sehari semalam. sedangkan menurut imam
abu hanifah sedikitnya masa haid adalah 3hari.
· Masa suci
terpendek dan terlama
Imam syafi’i dan imam hanafi berpendapat bahwa masa minimal suci
adalah 15 hari. Imam Hambali berpendapat masa minimal suci adalah 13 hari dan imam
maliki berpendapat masa minimal suci adalah 10 hari. Sedangkan masa terlama
suci para ulama imam madzhab tidak memberi batasan.[7]
Dengan demikian, berdasarkan beberapa pendapat diatas diantaranya
ada batas masa haid terpendek, darah yang keluar dari rahim wanita yang sudah
sampai umur, kurang dari batas minimal yang telah di tentukan maka itu
merupakan darah penyakit (istihadhah).
Sedang bagi ulama yang tidak membatasi masa haid terpendek, tentu satu tetes
atau satu gumpal darah sudah termasuk haid. Demikian juga bagi ulama yang membatasi masa haid terlama, darah yang keluar
melewati batas masa tersebut maka diamggap sebagai darah istihadhah. Sedangkan
pada umumnya ulama di indonesia dalam menetapkan hukum syara berpegang pada
madzhab imam syafi’i.
Tetapi
dalam masalah ini imam malik mengajukan suatu kesimpulan bahwa wanita itu
terbagi atas dua kelompok.
1)
Wanita yang baru mengalami haid
Bagi
wanita ini di anjurkan untuk meninggalkan shalat, ketika baru melihat darah
sampai sempurna 15 hari. Jika lewat masa itu darah terus keluar, berarti ia
istihadhah dan di anjurkan untuk shalat. Pendapat ini juga di kemukakan oleh
imam syafi’i.
2)
Wanita yang sudah biasa haid
Ada
dua riwayat dari imam malik:
· Pertama,
berdasarkan kebiasaan masa haid yang sudah berjalan, di tambah 3hari asal tidak
melebihi batas masa haid maksimal.
· Kedua, wanita
itu terus tidak mengerjakan shalat sampai masa haid maksimal atau berdasarkan
kemampuan membedakan haid dan istihadhah.
Sedangkan
menurut imam syafi’i wanita yang tergolong kelompok dua ini hendaknya
berpedoman pada kebiasaan haidnya sendiri. Perbedaan pendapat tentang masa haid
minimal, maksimal dan masa suci minimal yng di perdebatkan oleh para fuqaha
sebenarnya hanya berdasarkan kebiasaan dan pengalaman secara umum yang di alami
oleh wanita. Dengan demikian batas konkritnya sulit di ketahui. Para fuqaha
hanya sepakat secara umum bahwa wanita yang mengalami haid lebih lama dari
kebiasaan haid maksimalnya bararti dalam kondisi istihadhah. Hal ini
berdasarkan petunjuk rasulullah pada fatimah binti hubaisy dengan sabdanya:
اذ
اقبلت الحيضت فاتركي الصلاة فاذا ذهبت قدرها فا غسلي عنك الدم وصلي (روه البخارى
والمسلم)
“jika
haid itu datang tinggalkanlah shalat, kemudian jika (darah itu terus keluar)
melebihi batas (biasa), cucilah darah itu dan shalatlah” (HR.bukhari dan
muslim).[8]
5.
Masa Menopouse
Para imam madzhab berpendapat tentang batas waktu berhentinya haid
(menopouse). Menurut imam hanafi yang di riwayatkan oleh hasan bin ziyad sampai
umur 60th. Muhammad bin hasan dalam arrumiyyat 50 th. Sedangkan menurut imam
maliki dan imam syafi’i berpendapat tidak ada batas yang tetap bagi masa
menopouse. Hal ini bergantungn pada keadaan suatu negri di sebabkan perbadaan
panas dan dingin iklim suatu negri. Sementara itu imam hambali memiliki 3
riwayat. Pertama, 50 th untuk perempuan arab dan bukan arab secaara mutlak.
Kedua, 60th secara mutlak. Ketiga, 60th bagi perempuan arab dan 50th bagi
perempuan bukan arab.[9]
B.
Nifas
1.
Pengertian Nifas
secara etimologi kata nifas berarti melahirkan. Sedangkan menurut
terminologi /syara nifas adalah darah yang keluar setelah kosongnya rahim dari
kandungan karna melahirkan.[10]
Pengertian lain dalam kitab bidayatul mujtahidin mengartiakan nifas adalah
darah yang keluar bersamaan dengn lahirnya bayi atau sesudanya.[11]
Dari pengertian diatas dapat disimpulkan bahwa darah nifas adalah
darah yang keluar dari rahim perempuan bersamaan pada saat melahirkan bayi atau
sesudahnya.
2.
Dalil Nifas dalam Hadits
عن ام سلمة رضي الله عنها قلث: كنت المراة من نساء النبي صلى الله
عليه وسلم تقعد في النفا س اربعين ليلة لايامرها النبي صلى الله عليه وسلم بقضاء
صلاة النفا س (روه ابو داود)
“dari ummu salamah ia berkata: salah seorang
wanita ari istri-istri nabi Saw. mereka duduk (tidak shalat) di waktu nifas
selama 40 malam. Nabi Saw, tidak memerintahkan mengqadha shalat yang di
tinggalkannya karena nifas.” (HR. Abu dawud)
3.
Waktu Nifas
· Masa nifas
minimal dan maksimal
Para ulama berbeda pendapat tentang masa nifas minimal dan masa
nifas maksimal. Masa nifas minimal menurut imam malik dan imam syafi’i tidak
terbatas. Menurut imam abu hanifah terbatas sampai 25 hari. Menurut abu yusuf
(murid imam abu hanifah) hanya 11hari, sedangkan menurut hasan basri 20 hari.
Sedangkan masa nifas maksimal
menurut imam hanafi dan hambali adalah 40 hari, demikian juga salah satu
pendapat imam maliki. Dan menurut imam syafi’i serta imam maliki (dalam
pendapat lain) berpendapat lama masa nifas adalah 60 hari.[12]
Hitungan nifas di mulai sejak usia melahirkan bukan sejak kelaurnya
darah. Tetapi yang di hukumi nifas sejak keluarnya darah. Jadi misalkan wanita
yang melahirkan tanggal 1 kemudian tanggal 10 baru keluar darah, maka hitungan
60hari60 malam/40 hari 40 malam itu di hitung sejak tanggal 1. Sedangkan
nifasnya terhitung sejak tanggal 10. Dan selama belum keluar darah nifas maka
di hukumi suci. Tapi jika jarak antara selesai melahirkan dan keluarnya darah
terpisah waktu 15 hari 15 malam, maka darah itu tidak di hukumi nifas melainkan
darah haid. Misalkan taggal 1 melahirkan dan tidak mengeluarkan darah baru
setelah tanggal 15 mengeluarkan darah. Maka darah itu di hukumi darah haid.
C.
Hal-hal yang di Haramkan
Bagi
wanita yang sedang haid dan nifas di haramkan untuk:
· Shalat, baik
wajib maupun sunnah.
· Sujud tilawah
dan sujud syukur.
· Membaca al
qur’an dengan niat membaca al qur’an. Namun dalam masalah ini banyak ulama yang
masih berbeda pendapat. Adapun murut imam syafi’i, hanafi dan hambali adalah
tidak boleh. Sedangkan menurut imam maliki ada dua riwayat, pertama, boleh
membaca ayat asal sedikit. Kedua, yang di nukil dari kebanyakan sahabat yaitu
boleh membaca ayat sebanyak yang di kehendaki.
· Menyentuh
mushaf
· Tawaf di abitul
allah
· Berpuasa
· Diam si masjid
walaupun hanya sebentar.
· Memasuki atau
berjalan di masjid bila di hawatirkan daranya menetes, jika tidak di
khawatirkan darahnya menetes maka boleh memasuki atau berjalan di masjid
· Bersuci dari
hadats
· Bersenggama
dengan suaminya dan Di cerai oleh suami.[13]
D.
Istihadhah
1.
Pengertian Istihadhah
Secara etimologi kata istihadhah berarti “mengalir” menurut istilah
syara istihadhah adalah darah yang keluar dari vagina wanita selain haid dan
nifas.[14]
Sedangkan pengertian istihadhah di dalam kitab bidayatul mujtahidin adalah
darah yang keluar dari rahim wanita secara tidak alami dan normal.[15]
Dari pengertian diatas dapat disimpulkan bahwa darah istuhadhah
adalah darah yang keluar dari rahim perempuan secara tidak alami dan normal di
sebabkan karna penyakit atau yang lainnya.
Orang yang mengeluarkan darah istihadhah disebut mustahadhah.
Mustahadhah adalh wanita yang mengalami pendarahan haid lebih dari 15 hari 15
malam atau pendarahannifas lebih dari 60 hari 60 malam. (ini jika mengikuti
ketetapan imam syafi’i).[16]
2.
Dalil Istihadhah dalam Hadits
جائت فاطمه ابنة ابي حبيش الىرسول الله صلى الله عليه وسلم فقالت: يا
رسول الله اني امراة استحا ض : فلا اطهر افاء دع الصلاة؟ فقال لها عليه الصلاة
والسلم :انما ذلك عمرق وليست بالحيضة فاذ اقبات الحيضة فد عي الصلاة واذا ادبرت
فاغسلي عنك الدم وصلي.(رواهالبخار والمسلم)
“ fatimah bint abi hubaisy datang menemui
rasul Saw, ia bertanya, wahai rasulullah, saya ini sesungguhnya wanita yang
menderita istihadhah, mak saya tidak suci, apakah saya boleh meninggalkan
shalat? Rasulullah Saw, menjawab,: tidak boleh, sebab darah istihadhah adalah
darah urat, bukan darah haid. Jika darah haid datang tinggalkanlah shalat,
sebaikknya jiak darah haid itu pergi maka cucilah darah itu dan lakukanlah
shalat.”(HR. Bukahari dan muslim).[17]
3.
Sebab Terjadinya Istihadhah
Banyak hal yang menyebabkan terjadinya istihadhah. Keadaan
psikologis juga terbukti mempengaruhi keteraturan haid. Diantaranya gangguan
emosional, ketegangan, kegelisahan,ketidak harmonisan pernikahan,
tekananpekerjaan, kekhawatiran yang terpendam dan lain-lain yang kesemuanya itu
membawa kepada ketidak teraturan dan ketidak normalan pendarahan rahim.[18]
E. Hukum Mempelajari
Ilmu Haid, Nifas dan Istihadhah
Hukum mempelajari ilmu haid nifas dan istihadhah itu terbagi
menjadi dua yaitu:
·
Fardu a’in bagi wanita baligh
Wajib bagi wanita yang sudah baligh untuk mempelajari dan mengerti
permasalahan yang berhubungan dangen haid, nifas dan istihadhah. Sebab
mempelajari hal-hal yang menjadi kriteria sah dan batalnya suatu ibadah adlah
fardu a’in. Sehingga boleh bagi wanita untuk keluar rumah untuk mempelajari
ilmu tersebut. Dan bagi suami atau mahramnya tidak boleh melarangnya.
·
Fardu kifayah bagi laki-laki
Karna permasalahan haid, nifas dan istihadhah ini tidak berkaitan
lamgsung dengan rutinitas ibadah laki-laki mak hukum mampelajarinya adalah
fardu kifayah. Dan bersifat untuk mengakan agama serta keperluan ifta (memberi
fatwa kepada orang lain).[19]
F.
Hikmah Darah Haid dan Darah Nifas
Allah swt bukan karna kuasa menjadikan sesuatu lalu menciptakan dan
memberi sesuatu yang tidak ada faedahnya. Akna tetapi sebaliknya. Begitu juga
allah menjadikan masalah haid dan nifas itu bukan merupakan sesuatu yang kecil
atau remeh, akan tetapi pasti mempunyai faedah di dalamnya. Diantara hikmah
darah haid yaitu:
·
Oleh karna perempuan itu pada akhirnya kan membersihkan kotoran dan
merawat anaknya yang bayi serta najis-najisnya, maka allah Swt, membari
latiahan (pelajaran)berupa haid, agar perempuan rajin, tidak merasa jijik an
cekatan dalam merawat bayi serta mengerti cara mencuci.
·
Faedah dari haid adalah dapat dijadikan sebagai tanda baligh
·
Haid juga dapat di gunakan sebagai tanda idah
·
Haid juga dapat di gunakan sebagai tanda kekosongan kandungan.
Beberapa
hikamah nifas diantaranya:
·
Disebabkan nifas tersebut dai tidak boleh shalat dan ibadah
lainnya, sehingga ia mempunyai benyak waktu untuk merawat dan memelihara
anaknya.
·
Disebabkan nifas tersebut, seorang istri yang selama mengandung
tidak pernah mengalami haid, dengan demikian darah kotor yang selama mengandung
tidak pernah keluar, maka setelah melahirkan darah tersebut keluar sehingga
rahimnya menjadi bersih.[20]
PENUTUP
A.
Kesimpulan
Secara
etimologi kata haid berasal dari bahasa arab yang artinya mengalir. Sedangkan
menurut terminologi (syara) haid adalah darah yang bukan karna penyakit atau
secara normal dan alami keluar dari rahim perempuan pada waktu-waktu tertentu.
secara etimologi kata nifas berarti melahirkan. Sedangkan menurut
terminologi /syara nifas adalah darah yang keluar dari rahim perempuan
bersamaan pada saat melahirkan bayi atau sesudahnya.
Kedua jenis darah diatas merupakan darah yang keluar dari rahim
perempuan yang menyebabkan perempuan pada saat-saat tertentu di haramkan untuk
melaksanakan sholat dan ibadah lain yang terkait.
Dasar hukum dari haid dan nifas terdapat pada Qs, al baqarah ayat
222 dan beberapa hadits rasul yang telah di tuliskan diatas.
Selain dua macam darah yang telah tersebut diatam ada juga satu
jenis darah yang lainnya yang sering di alami oleh perempuan yaitu darah
istihadhah. Secara etimologi kata istihadhah berarti “mengalir” menurut istilah
syara adalah darah yang keluar dari rahim perempuan secara tidak alami dan
normal di sebabkan karna penyakit atau yang lainnya.
Darah jenis ini sama-sama darah yang keluar dari rahim perempuan
akan tetapi tidak menyebabkan perempuan tersebut gugur akan shalatnya,
melainkan sebaliknya. Karna darah jenis ini bukanlah merupakan darah kotor yang
tergolong hadats akan tetapi darah yang keluar disebabkan penyakit atau yang
lainnya. Oleh karna itu wanita yang mengalami istihadhah mereka tetap di
wajibkan melaksanakan shalat dan ibadah-ibadah lain selayaknya wanita yang
suci.
DAFTAR PUSTAKA
Abdurrahman Ad-Dimasyqi, Syeh Al Allamah Muhammad.2010. Terjemah
Fiqih Empat Madzhab, Penerjemah: Abdullah Zaki Alkaf.Bandung: Hasyimi.Cet
13.
Fuadi, Dafid.2006. Kupas Tuntas Permasalahan Haid, Nifas, Dan
Istihadhah. Pasuruan: Lembaga Keilmuan Darul Hifdhi As-Salafiyah.
Nabhan, Syeh Salim Su’ud.2010. Terjemah Risalatul Mahidh,
Penerjemah: Ainul Ghoerry Suchaimi. Surabaya: Salim Nabhan.
Rusydi, Ibnu.1989. Terjemah Bidayatul Mujtahidin,
Penerjemah:Imam Ghazali Said Dan Achmad Zaidun. Jakarta: Pustaka Amani.Cet 1.
[1] Dafid Fuadi,Kupas Tuntas Permasalahan Haid, Nifas, Dan Istihadhah,(Pasuruan:
Lembaga Keilmuan Darul Hifdhi As-Salafiyah,2006),Hal 1
[2] Ibnu Rusydi, Terjemah Bidayatul Mujtahidin, Penerjemah:Imam
Ghazali Said Dan Achmad Zaidun,Cet 1, (Jakarta: Pustaka Amani,1989),Hal 98
[3] Syeh Al Allamah Muhammad Bin Abdurrahman Ad-Dimasyqi, Terjemah
Fiqih Empat Madzhab, Penerjemah: Abdullah Zaki Alkaf, Cet 13,(Bandung:
Hasyimi,2010),Hal 40
[4] Dafid Fuadi,Op.cit, Hal 2-3
[5] Ibnu Rusydi,Op.cit,Hal 105-106
[6] Dafid Fuadi,Op.cit,Hal 7
[7] Syeh Al Allamah Muhammad Bin Abdurrahman Ad-Dimasyqi,Op.cit,Hal 41
[8] Ibnu Rusydi,Op.cit,Hal 100
[9] Syeh Al Allamah Muhammad Bin Abdurrahman Ad-Dimasyqi,Op.cit,Hal 40
[10] Dafid Fuadi,Op.cit,Hal 11
[11] Ibnu Rusydi,Op.cit,Hal 98
[12] Syeh Al Allamah Muhammad Bin Abdurrahman Ad-Dimasyqi,Op.cit,Hal 44
[13] Dafid Fuadi,Op.cit 16-23
[14] Ibid,Hal 32
[18] Dafid Fuadi,Op,cit
[19] Ibid,Hal 3-4
[20] Syeh Salim Su’ud Bin Nabhan,Terjemah Risalatul Mahidh,
Penerjemah: Ainul Ghoerry Suchaimi,(Surabaya:Tb Salim Nabhan,2010),Hal 10