Sejarah Pertumbuhan dan Perkembangan Ahlaq


Akhlak sebagai suatu ilmu sebenarnya pembahasannya sudah sejak lama terjadi tetapi orang yang membukukan mengenai pertumbuhan dan perkembangan tentang ini barulah dimulai sejak Ahmad Amin dalam karyanya yang berjudul Al-Akhlak dengan menggunakan pendekatan kebangsaan, religi dan periodisasi kemudian membaginya kepada pertumbuhan dan perkembangan akhlak pada bangsa Yunani, abad pertengahan, bangsa Arab, agama Islam dan zaman baru. Pembagian ini menurut pendekatan sejarah terkesan agak kurang sistematik. Oleh karena itu disini akan membahas akhlak dari pendekatan keagamaan,akhlak dilihat dari pendekatan keagamaan di golongkan kedalam tiga bagian yaitu : ilmu akhlak di luar agama Islam, dalam agama Islam dan  di zaman modern.

      1.  Ilmu Akhlak di Luar Agama Islam
1.1 Sejarah perkembangan akhlak pada zaman Yunani diduga yang pertama kali yang mengadakan penyelidikan tentang akhlak yang berdasarkan ilmu pengetahuan ialah Bangsa Yunani. Ahli-ahli filsafat Yunani kuno tidak banyak memperhatikan pada akhlak, tetapi kebanyakan penyelidikannya mengenai alam, sehingga datangnya Sephisticians (500-450 SM). Arti dari Sephisticians adalah orang yang bijaksana. (Sufisem artinya orang-orang bijak). Pada masa itu kata akhlak terungkap dengan kata etika dengan arti yang sama.
Golongan ahli-ahli filsafat dan juga menjadi guru yang tersebar di beberapa negeri. Buah pikiran dan pendapat mereka berbeda-beda akan tetapi tujuan mereka adalah satu, yaitu menyiapkan angkatan muda bangsa Yunani, agar menjadi nasionalis yang baik lagi merdeka dan mengetahui kewajiban mereka terhadap tanah airnya.
Pandangan tentang kewajiban-kewajiban ini menimbulkan pandangan mengenai sebagian tradisi lama dan pelajaran-pelajaran yang dilakukan oleh orang-orang dahulu, yang demikian itu tentu membangkitkan kemarahan kaum yang kolot “conservative”. Kemudian datang filsafah yang lain dan ia pun menentang sekaligus mengecam mereka, dan ia pun menuduh dan suka memutar balikan kenyataan. Oleh sebab itu buruklah nama mereka, meskipun terkadang ada diantara mereka lebih jauh pandangannya pada zamanya. Di antara sekian banyak ahli-ahli fikir Yunani yang menyingkapkan pengetahuan akhlak, disini akan di kemukakan beberapa di antaranya yaitu:
a)      Socrates (469-399 SM), terkenal dengan semboyan: “ Kenalilah diri engkau dengan diri engkau sendiri”. Dia dipandang sebagai perintis Ilmu Akhlak Yunani yang pertama. usahanya membentuk pergaulan manusia-manusia. Dengan dasar ilmu pengetahuan. “Cynics dan Cyrenics” kedua pengikut Socrates. Untuk golongan Cynics hidup pada tahun (444-370 SM) diantara pelajarannya bahwa ketuhanan itu bersih dari segala kebutuhan dan sebaik-baik manusia itu yang berperangai dengan akhlak ketuhanan. Pemimpinya adalah Diogenes yang meninggal tahun 323 SM. Ia memberi pelajaran kepada kawan-kawannya supaya membuang beban yang ditentukan oleh ciptaan manusia dan perannya. Untuk golongan Cyrenics pemimpinya adalah Aristippus dilahirkan di Cyrena (kota di Barkah) di Afrika utara. Golongan ini berpendapat bahwa mencari kelezatan dan menjauhi kepedihan ialah satu-satunya tujuan yang benar untuk hidup, dan perbuatan itu dinamai utama bila timbul kelezatan yang lebih besar dari kepedihan. Adapun CynicsCyrenics berpendapat bahwa kebahagiaan itu dalam mencari kelezatan dan mengutamakannya. Berpendapat pula bahwa kebahagiaan itu menghilangkan kejahatan dan menguranginya sedapat mungkin. Sehingga Ia berpendapat bahwa akhlak dan bentuk perhubungan itu tidak menjadi benar kecuali bila didasarkan kepada ilmu pengetahuan, sehingga ia berpendapat bahwa “ keutamaan adalah ilmu”. Tetapi sesuatu hal yang tidak jelas dalam ilmu akhlaknya Socrates, apa tujuan yang terakhir dari akhlak itu serta ukuran apa yang dipergunakan menentukan baik buruknya suatu akhlak. Maka disini timbullah beberapa golongan yang berbeda-beda pendapatnya tentang tujuan akhlak, lalu muncul beberapa paham mengenai akhlak sejak zaman itu hingga sekarang ini.

b)      Plato (427-347 SM), seorang filsafat Athena dan murid dari Socrates, bukunya yang terkenal adalah “Republic”. Ia membangun ilmu akhlak melalui akademi yang ia dirikan. Pandangannya dalam akhlak berdasar dari “teori contoh” bahwa di balik alam ini ada alam rohani sebagai alam yang sesungguhnya. Dan di alam rohani ini ada kekuatan yang bermacam-macam, dan kekuatan itu timbul dari pertimbangan tunduknya kekuatan pada hukum akal, ia pun berpendapat bahwa pokok-pokok keutamaan ada empat antara lain hikmah/kebijaksanaan, keberanian, keperwiraan dan keadilan. Keempat-empatnya itu adalah tiang penegak bangsa-bangsa dan perseorangan.

c)      Aristoteles (9394-322 SM), dia murid Plato yang membangun suatu paham yang khas, yang mana pengikutnya diberi nama dengan “Paripatetics”karena mereka memberikan pelajaran sambil berjalan. Dan ia berpendapat bahwa tujuan terakhir yang dikehendaki manusia mengenai segala perbuatannya ialah “bahagia” ia berpendapat bahwa jalan mencapai kebahagiaan ialah dengan mempergunakan jalan mencapai kebahagiaan yaitu mempergunakan kekuatan akal pikiran sebaik-baiknya. Selain itu Aristoteles ialah pencipta teori serba tengah tiap-tiap keutamaan adalah tengah-tengah diantara kedua keburukan,
seperti dermawan adalah tengah-tengah antar membabi buta dan takut.
Pada akhir abad yang ketiga Masehi tersiarlah kabar Agama Nasrani di Eropa. Agama itu dapat merubah pikiran manusia dan membawa pokok-pokok akhlak yang tercantum di dalam Taurat. Demikan juga memberi pelajaran kepada manusia bahwa tuhan sumber segala akhlak. Tuhan yang memberi segala patokan yang harus kita pelihara dalam bentuk perhubungan kita, dan yang menjelaskan arti baik dan buruk, baik menurut arti yang sebenarnya ialah kerelaan tuhan dan melaksanakan perintah-perintah-Nya.
Menurut para ahli filsafat Yunani bahwa pendorong untuk melakukan perbuatan baik dan ilmu pengetahuan atau kebijaksanaan; menurut Agama Nasrani bahwa pendorong untuk melakukan perbuatan baik itu ialah cinta kepada tuhan dan iman kepada-Nya.
1.2 Sejarah Akhlak pada Bangsa Romawi (Abad pertengahan). Kehidupan masyarakat Eropa di abad pertengahan dikuasai oleh gereja. Pada waktu itu gereja berusaha memerangi filsafat Yunani serta menentang penyiaran ilmu dan kebudayaan kuno. Gereja berkeyakinan bahwa kenyataan “hakikat” telah diterima dari wahyu. Apa yang telah diperintahkan oleh wahyu tentu benar adanya. Oleh kerana itu tidak ada artinya lagi penggunaan akal dan pikiran untuk kegiatan penelitian. Mempergunakan filsafat boleh saja asalkan tidak bertentangan dengan doktrin yang dikeluarkan oleh gereja, atau memilki perasaan dan menguatkan pendapat gereja. Diluar ketentuan sperti itu penggunaan filsafat tidak diperkenankan.
Namun demikian sebagai dari kalangan gereja ada yang mempergunakan pemikiran Plato, Arostoteles dan Stoics untuk memperkuat ajaran gereja, dan mencocokkannya dengan akal. Filsafat yang menentang Agama Nashrani dibuang jauh-jauh.
Dengan demikian ajaran akhlak yang lahir di Eropa pada abad pertengahan itu adalah ajaran akhlak yang dibangun dari perpaduan antara ajaran Yunani dan ajaran Nashrani. Diantara mereka yang termasyhur ialah Abelard,, sorang ahli filsafat Perancis (1079-1142) dan Thomas Aquinas, seorang ahli filsafat Agama berkebangsaan Italia (1226-1274).
1.3 Sejarah Akhlak Pada Bangsa Arab Sebelum Islam Bangsa Arab pada Zaman Jahiliyah tidak ada yang menonjol dalam segi filsafat sebagaimana Bangsa Yunani (Socrates, Plato dan Aristoteles), Tiongkok dan lain-lainnya. Di sebabkan karena penyelidikan akhlak terjadi hanya pada Bangsa yang sudah maju pengetahuannya. Sekalipun demikian, bangsa Arab waktu itu ada yang mempunyai ahli-ahli hikwah yang menghidangkan syair-syair yang mengandung nilai-nilai akhlak, misalnya: Luqman el-hakim, Aktsan bin Shoifi, Zubair bin Abi Sulma dan Hotim al-Thoi.
Adapun sebagian syair dari kalangan Bangsa Arab diantaranya: Zuhair ibn Abi Salam yang mengatakan: ”barang siapa menepati janji, tidak akan tercela; barang siapa yang membawa hatinya menunjuka kebaikan yang menentramkan, tidak akan ragu-ragu”. Contoh lainnya, perkataan Amir ibnu Dharb Al-Adwany ”pikiran itu tidur dan nafsu bergejolak. Barang siapa yang mengumpulkan suatu antara hak dan batil tidak akan mungkin terjadi dan yang batil itu lebih utama buatnya. Sesungguhnya penyelesaian akibat kebodohan”.
Simak apa yang dikatakan Aktsam ibn Shaify yang hidup pada zaman jahiliah dan kemudian masuk Islam. Ia berkata: ”jujur adalah pangkal keselamatan; dusta adalah merusakkan: kejahatan adalah merusakkan; ketelitian adalah sarana menghadapi kesulitan; dan kelemahan adalah penyebab kehinaan. Penyakit pikiran adalah nafsu, dan sebaik-baiknya perkara adalah sabar. Baik sangka merusak, dan buruk sangka adalah penjagaan”.
Al-Adwany pernah berpesan kepada anaknya Usaid dengan sifat-sifat terpuji, ujarnya: ’Berbuatlah dermawan dengan hartamu, Memuliakan tetanggamu, bantulah orang yang meminta pertolongan padamu, hormatilah tamumu dan jagalah dirimu dari perbuatan meminta-minta sesuatu pada orang lain”.
Dengar pula apa yang yang dikatan Amr ibn Al-Ahtam kepada budaknya:”Sesungguhnya kikir itu merupakan perangai yang akurat untuk lelaki pencuri; bermurahlah dalam cinta karena sesungguhnya diriku dalam kedudukan suci dan tinggi adalah orang yang belah kasih. setiap orang mulia akan takut mencelamu, dan bagi kebenaran memiliki jalanya sendiri bagi orang-orang yang baik.[1]
Dari kisah di atas dapat dipahami bahwa bangsa Arab sebelum Islam telah memiliki kadar pemikiran yang minimal pada bidang akhlak, pengetahuan tentang berbagai macam keutamaan dan mengerjakannya, walaupun nilai yang tercetus lewat syair-syairnya belum sebanding dengan kata-kata hikmah yang diucapkan oleh filosof-filosof Yunani kuno. Dalam syariat-syariat mereka tersebut saja sudah ada muatan-muata akhlak.


      2. Ilmu Akhlak di dalam Agama Islam

Kemudian datanglah agama Islam yang antara lain ajarannya adalah bahwa agama Islam mengajak supaya manusia percaya bahwa Allah-lah pencipta alam semasta ini, dan dari pada-Nya sumber dari segala sesuatu, dan dengan kekuasaan-Nya alam ini berdiri dengan teratur. Allah menetapkan beberapa keutamaan, seperti benar dan adil yang harus dilaksanakan, dan menjadikan kebahagian di dunia dan di akhirat sebagai pahala bagi orang yang mentaati-Nya. Allah menjadikan lawan keutamaan seperti dusta, dzalim, zina, mabuk, mencuri, membunuh, berjudi, minuman keras, yang kesemuanya ini harus dijauhi. Dan menjadikan kesengsaraan di dunia dan di akhirat sebagai hukuman bagi siapa saja yang melakukan lawan keutamaan tersebut.
Dalam ajaran Islam ini manusia diperintahkan untuk berbuat baik di dunia, ini menyiapkan diri untuk kembali ke kampung akhirat dan juga tidak begitu saja meninggalkan kesenangan dunia, sebagaimana firman Allah dalam surat Al-Qashash ayat 77:
Æ÷tGö/$#ur !$yJ‹Ïù š9t?#uä ª!$# u‘#¤$!$# notÅzFy$# ( Ÿwur š[Ys? y7t7ŠÅÁtR šÆÏB $u‹÷R‘‰9$# ( `Å¡ômr&ur !$yJŸ2 z`|¡ômr& ª!$# šø‹s9Î) ( Ÿwur Æ÷ö7s? yŠ$|¡xÿø9$# ’Îû ÇÚö‘F{$# ( ¨bÎ) ©!$# Ÿw =Ïtä† tûïωšøÿßJø9$# ÇÐÐÈ
Artinya: “Dan carilah dengan rezeki yang diberikan Allah kepadamu untuk kebahagian dikampung akhirat, dan janganlah kamu lupakan bagianmu kemakmuran di dunia. Berbuatlah kebaikan sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu. Dan janganlah kamu berbuat bencana di muka bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat binasa.”  
Dalam surat al-Nahl ayat 90 Allah berfirman:

* ¨bÎ) ©!$# ããBù'tƒ ÉAô‰yèø9$$Î/ Ç`»|¡ômM}$#ur Ç›!$tGƒÎ)ur “ÏŒ 4†n1öà)ø9$# 4‘sS÷Ztƒur Ç`tã Ïä!$t±ósxÿø9$# ̍x6YßJø9$#ur ÄÓøöt7ø9$#ur 4 öNä3ÝàÏètƒ öNà6¯=yès9 šcr㍩.x‹s? ÇÒÉÈ
Artinya, “Sesungguhnya Allah menyuruh berlaku adil, berbuat kebajikan, memberi kepada kaum kerabat, dan Allah melarang berbuat keji, kemungkaran, kedurhakan, dia memberi pelajaran kepadamu agar kamu mengerti (mawas diri).”

Bangsa Arab tidak banyak menyelidiki akhlak berdasarkan ilmu, karena telah terasa puas mengambil akhlak dari agama, dan tidak merasa butuh kepada penyelidikan ilmiah mengenai dasar baik dan buruk itu. Kemudian muncul di luar bangsa Arab yang beragama Islam, seperti Al-Ghazaly dengan bukunya Ihya ‘Ulumuddin, di samping itu dalam buku lain ( akhlak tasawuf ) karangan Prof.Dr.Abuddin Nata di terangkan pula perkembangan  masyarakat arab pada saat itu, di dalam masyarakat arab mulailah muncul kegiatan penelitian di bidang kahlak. Dan tokoh yang termasyhur melakukan penyelidikan tentang akhlak dengan berdasarkan ilmu pengetahuan ialah Abu Nasr Al Farabi beliau meninggal dunia pada tahun 339 H. Demikian juga Ikhwanus sofa di dalam risalah brosurnya , dan Abu Ibnu Sina ( 370-428 H ). Mereka telah mempelajari filsafah Yunani, terutama pendapat-pendapat Yunani mengenai akhlak. Dan tokoh arab yang terbesar dalam melakukan penyelidikan mengenai akhlak adalah Ibn Maskawaih yang meninggal pada tahun 421 H. Dia telah menyusun kitabnya yang tekenal yaitu Tazhib Al Akhlak ( pendidikan akhlak ). Dalam bukunya ia telah mencampurkan ajaran  Pluto, Arirtoteles dan Galinus dengan ajaran-ajaran Islam.[2]

Sejalan dengan masuknya pemikiran filsafah Yunani ke dalam islam di zaman daulah Abbasiyah (8-13 M), akhlak dalam islam di warani oleh corak yang bersifat Filsafah dan Rasionalistik. Seperti halnya para Mutakallim dari kalangan Muktazilah pada saat itu banyak menggunakan akal pikiran sebagaimana terlihat dalam ajaran pokok yang lima, yaitu Al Tauhid ( mengesakan allah ), Al Adl ( keadilan ), Al Wa’ad Wa Al Wa’id ( janji baik dan ancaman buruk ), Al Manzilah Bain Al Manzilatain ( posisi di antara dua posisi ) dan Al Amr Al Ma’ruf Wa Al Nahy An Al Mungkar ( perintah mengerjakan yang baik dan mencegah perbuatan yang buruk ). Kalima ajaran Muktazilah yang di ketahui banyak di pengaruhi pemikiran filsafah Yunani itu sangat erat kaitannya dengan akhlak.[3] 
   
      3. Ilmu Akhlak di Zaman Modern

Pembahasan akhlak pada zaman ini dimulai dengan bangkitnya ilmu pengetahuan, teknologi dan filsafat di Eropa pada abad XV, menggeser kehidupan mereka yang semula terikat pada dogma kristiani, khayal dan mitos kepada peran akal pikiran yang lebih besar, hingga akhirnya mereka menerapkan pola bertindak dan berpikir secara liberal. Ini Pun termasuk pada persoalan akhlak. Kedermawanan misalnya, yang pada abad pertengahan dianggap mempunyai nilai yang tinggi pada zaman ini tidak lagi, bahkan merubah pola akhlak kepada kemandirian, sehingga akibat dari ini menimbulkan sifat individualistik, mandiri dan inovatif. Di antara tokoh yang lahir pada abad ini adalah Rene Descartes, Shafebury dan Hatshon, Bentham, John Stuart Mill Kant dan Bertrand Russel.







[1] Mustafa,A.2005.Akhlak Tasawuf.Hal 58-67.Bandung. CV.Pustaka Setia.
[2].Abuddin Nata..2010.Akhlak Tasawuf.Hal 78-79.Jakarta.PT.Raja Grafindo Persada.
[3].Abuddin Nata.Opcit.Hal 80-81 

Related Posts

Subscribe Our Newsletter