SANAD DAN MATAN HADIS


PEMBAHASAN
Oleh: Andri Nazarudin M
A.  Sanad Hadis
1.    Pengertian sanad hadis
Sanad secara etimologi berarti : al-mu’tamad ) المعتمد) ,yaitu yang di perangi (yang kuat)/ yang bisa di jadikan pegangan [1],bentuk jamaknya adalah ) اسنا د ) segala sesuatu yang anda sandarkan kepada yang lain di sebut (مسند  ),[2] atau dapat juga diartikan :
مار تفع من الارض
Yaitu sesuatu yang terangkat (tinggi) dari tanah.[3]
Adapun pengertian sanad dalam Kamus Al-Mufid, sanad berarti menyandarkan, menegakkan sesuatu dengan kokoh.

Adapun secara terminologi, definisi sanad ialah:

·     هو طر يق المتن , اي سلسلة الرواة الذين نقلواالمتن من مصدره الاول                             
“Sanad adalah jalnnya matan, yaitu silsilah para perawi yang memindahkan (meriwayatkan) matan dari sumbernya yang pertama”.
·     سلسلة الرجال الموصلة للمتن                                                                               
 “Silsilah orang-orang yang mennghubungkan kepada matan hadis”
Orang-orang yang di maksud ialah susunan atau rangkaian orang-orang yang menyampaikan materi hadis tersebut, sejak yang di sebut pertama sampai rosulullah Saw, yang perkataan, perbuatan takriri dan yang lainnya merupakan materi atau matan hadis. Dari pengertian diatas maka sebutan sanad hanya berlaku pada rangkaina orang-orang bukan dilihat dari sudut pribadi secara perorangan, sedangkan sebutan pribadi, yang menyampaikan hadis dilihat dari sudut orang-perorangan di sebut rawi.
·      Sedangkan al badru ibn jama’ah dan ath-thibi sebagaimana di sebutkan oleh as-suyuthimengemukakan defiinisi yang hampir sama, yaitu:
الاخبار عن طر يق
“Berita –berita tentang jalan matan”
Yang di maksud jalan matan (thariq al-min) pada definisi diatas adalha serangkain orang-orang yang menyampaikan atau meriwayatkan matan hadis, mulai perawi pertama sampai yang terakhir.[4]
·     الطريقة الموصلة الى المتن                                                                                   
“jalan yang menyampaikan pada matan hadis”
Yakni rangkaian paar perawi yang memindahkan matan dari sumber primernya.

Dari definisi-definisi diatas dapat di pertegas dengan definisi yang lebih terperinci, seperti berikut:
طر يق المتن او سلسلة الرواة الذين نقلو المتن عن مصدره الاول

Jalan matan hadis, yaitu para perawi yang menukil kan matan hadis dari sumbernya yang pertama, Rasul Saw.
Dengan demikian, sanad adalah rantaian penutur atau perawi (periwayat) hadis.
Contohnya:
حد ثناالحميدي عبد الله بن الزبير قال : حد ثنا سفيا ن قال : حد ثنا يحي بن سعيد الانصاري قال : اخبر ني محمد بن ابراهيم التميمي انه سمع علقمة بن وقاص الليثي يقول : سمعت عمر بن الخطاب رضي الله عنه على المنبر قال : سمعت رسول الله صلى الله عليه وسلم يقول  :.........................
sebuah hadis dapat memiliki beberapa sanad dengan jumlah penutur atau perawi bervariasi dalam lapislan sanadnya,lapisan dalam sanad di sebut dengan thaqabah. Signifikasi jumlah sanad dan penutur dalam tiap thaqabah sanad akan menetukan derajat hadis tersebut. Jadi yang perlu di cermati dalam memahami hadis terkait dengan sandnya adalah keutuhan sanadnya, jumlahnya dan perawi akhirnya.      
2.    Isnad Musnad dan Musnid
Selain istilah sanad, terdapat juga istilah lainya yang mempunyai kaitan erat dengan istilah sanad, seperti al-isnad,al-musnad, dan al-musnid. Istilah al-isnad berarti “menyandarkan, menegaskan (mengembalikan ke asal),dan mengangkat. Yang dimaksud disini ialah:
“ Menyandarkan hadis kepada orang yang mengatakannya.”
Atau,              
    عزوالحد يث الى قا ئله          
  “mengasalkan hadis kepada yang mengataknnya”[5]
Manurut ath-thibi, kata isnad dengan as-sanad mempunyai arti yang hampir sama atau berdekatan, sedangkan menurut ibn al-jama’ah,menurutnya bahwa ulama muhadisin memandang kedua istilah tersebut mempunyai pengertian yang sama, yang keduanya dapat di pakai secara bergantian.
Berbeda dengan istilah al isnad, istilah al-musnad mempunyai beberapa arti : pertama, berarti hadis yang di riwayatkan dan disandarkan atau di sanadkan kepada seseorang yang membawanya, seperti ibn syihab az-zuhri, malik bin anas, dan amaran binti abdurrahman. Kadua, berarti nama suatu kitab yang menghimpun hadis-hadis dengan sisitem penyusunannya berdasarkan nama-nama para sahabat perawi hadisseperti kitab musnad ahmad,berarti nama bagi hadis yang memenuhi kriteria marfu’(disandarkan keapada nabi) dan muttashil (sanadnya bersambung sampai keakhir).
3.    tinggi rendahnya rangkaina sanad (silsilatu adzahab)
          Para muhaddisin membagi tingkatan sanad menjadi sebagai berikut :
a.       Ashahu al asanid (sanad-sanad yang lebih sahih)
Para ulama seperti imam an nawawi dan ibn ash shalah tidak embenarkan menilai suatu (sanad) hadis dengan ashahhu al asanid, atau menilai suatu (matan)hadis dengan ashahhual asanid, secara mutlak, yakni tanpa menyandarkan kepada yang mutlak. Penilaian ashahhu al asanid hendaklah secara muqayyad. Artinya di khususkan kepada sahabat tertentu, misalnya ashahhu al asanid dari abu hurairah r.a atau di khususkan kepada penduduk daerah tertentu, misalnyaashahhu al asanid dari penduduk madinah, atau di khususkan dalam masalah tertentu.
Contoh ashahhu al asanid yang muqayyad :
·         Sahabat tertentu, yaitu:
Umar bin khattab r.a, yaitu yang meriwayatkan oleh ibn syihab az-zuhari dari salim bin abdullah bin umar, dari ayahnya (abdullah bin umar), dari kakeknya (umar bin khattab).
·         Penduduk kota tertentu, yaitu:
Kota mekah yaitu yang diriwayatkan oleh ibnu uyainah dari amru bin dinar dari jabir bin abdullah r.a.
Contoh ashahhu alasanid yang mutlak, seperti :
·         Jika menurut imam Bukhari, yaitu malik,nafi, dan ibn umar r.a.
·         Jika menurut ahmad bin hambal, yaitu az-zuhari, salim bin abdillah, dan ayahnya (abdillah bin umar)
·         Jika menurut iamam an-nasa’i, yaitu ubaidillah ibnu abbas dan umar bin khattab r.a.
b.      Ahsanu al-asanid
Hadis yang bersanad ashahhu la asanid lebih rendah derajatnya dari pada yang bersanad ashahhu al asanid. Ahsanu al-asanid itu antara lain bila sand tersebut bersanad:
ü  Bahaz bin hakim dari ayahnya (hakim bin muawiyah) dari kakeknya (muawiyah bin haidah).
ü  Amru bin syuaib dari ayahnya (syuaib bin muhammad) dari kakeknya (muhamad bin abdillah bin amr bin ash)
c.       Adh’afu al-asanid
Rangkaian sanad yang paling rendah derajatnya di sebut adh’afu atau auha sl-asanid. Rangkaian sanad yanga adh’afu al asanid, yaitu:
a)      Yang muqayyad kepada sahabat :
o  Abu bakar as shidik r.a, yaitu hadis yang di riwayatkan oleh shadaqah bin musa dari abi ya’qub fardaq bin ya’qub dari murrah ath-thayyib dari abu bakar.
b)      Yang muqayyadkepada penduduk:
o  Kota yaman, yaitu hadis yang di riwayatkan oleh hafsh bin umar dari al
hakam bin aban dari ikrimah dariibnu abbas r.a.

4.    Jenis-jenis sanad hadis
1)      Sanad aliy
Saand aliy adalah sanad yang jumlah rawinya lebih sedikit di bandingkan dengan sanad lain. Sanad aliy ini di bagi menjadi dua bagian, yaitu sanad mutlak dan sanad yang nisbi (relatif).
§  Sanad aliy yang bersifat mutlak adalah sebuah sanad yang jumlah rawinya hingga sampai kepada rosulullah lebih sedikit jika di bandingkan dengan sanad yang lain.
§  Sanad aliy yang bersifat nisbi adalah sebuah sanad yang jumlah rawi di dalamnya lebih sedikit jika di bandingkan dengan para imam hali hadis, seperti syu’bah, al-a’masy, dan sebagainya,meskipun jumlah rawinya setelah mereka hingga sampai ke rosulullah lebih banyak.
2)      Sanad nazli
Sanad nazli adalah sebuah sanad jumlkah rawinya lebih banyak jika di bandingkan denga sanad yang lain.

B.  Matan hadis
1.      Pengertian matan hadis
Secara etimologi matan berarti segala sesuatu yang keras bagian atasnya,[6] pnggung jalan (muka jalan), tanah keras yang tinggi. Sedangkan di buku lain juga di terangkan matan secae etimologi berarti ma shaluba wa irtafa’a min al-ardhi (tanha yang meninggi). Secara terminologi istilah matan memiliki beberapa definisi, yang pada dasarnya mempunyai makna sama, yaitu materi atau lafal hadis itu sendiri. Salah satu definisi yang sangat sederhana di sebutkan bahwa matan itu ialah ujung atau tujuan sanad (gayah as-sanad). Dari definisi ini memberi pengertian bahwaapa yang tertulis setelah (penulisan) silsilah sanad, adalah matan hadis.
ما ينتمى اليه السند من الكلا م  
“suatu kalimat tempat berakhirnya”
Sedangkan ath-thabi’i mendefinisikanya dengan:
الفا ظ الحد يث التى تتقوم ها معا نيه
“lafad-lafad haids yang di dalamnya mengndung makna-makna tertentu (ajjaj al khathib, t.t:31)”
          Kalimat “ujung sanad” tempat berakhirnya sanad “ atau lafal haids yang di dalamnya mengandung makna-makna tertentu, kegiatannya menunjukan pada pemahaman yang sama, bahwa yang di sebut matan ialah materi atau lafal hadis itu sendiri, yang penulisannya di tempatkan setelah sanad dan sbelum rawi atau mudawwin.
Sedangkan yang di maksud matan dalam ilmu hadis adalah:

ما انتهى اليه السند من الكلام فهو نفس الحد يث الذي ذكر الاسنادله
“perkataan yang di sebut pada akhir sanad, yakni sabda rasulullah Saw. Yang disebut sesudah habis di sebutkan sanadnya”
Dengan kata lain matan adalah : redaksi dari hadis itu sendiri.
Dari contoh sebelumnya matan hadis yang bersangkutan ialah :
انما الا علمال بالنيا ت وانما لكل امرىء ما نوى فمن كا نت هجرته الى الد نيا يص ها او الى امراة يب ينقحها فهجرثه الى ما ها جراليه                                                                                                                                    
     Terkait dengan matan atau redaksi, yang perlu di cermati dalalmmemahami hadis adalah:
§  Ujung sanad sebagai sumber redaksi, apakah berujung pada nabi muhammad atau bukan.
§  Matan hadis itu sendiri dalam hubungannya dengan haids lain yang lebih kuat sanadnya (apakah ada yang melemahkan atau manguatkan) dan selanjutnya dengn ayat dalam al qur’an (apakah ada yang bertolak belakang).
C.  KEDUDUKAN SANAD DAN MATAN HADIS
Para ahli hadis sangat hati-hati dalam menerima suatu hadis kecuali apabila mengenal dari siapa mereka menerima setelah benar-benar dapat dipercaya. Pada umumnya riwayat dari golongan sahabat tidak disyaratkan apa-apa untuk diterima periwayatannya. Akan tetapi mereka pun sangat hati-hati dalam menerima hadis .
Pada masa Abu bakar r.a. dan Umar r.a. periwayatan hadis diawasi secara hati-hati dan tidak akan diterima jika tidak disaksikan kebenarannya oleh seorang lain. Ali bin Abu Thalib tidak menerima hadis sebelum yang meriwayatkannya disumpah. Meminta seorang saksi kepada perawi, bukanlah merupakan keharusan dan hanya merupakan jalan untuk menguatkan hati dalam menerima yang berisikan itu. Jika dirasa tak perlu meminta saksi atau sumpah para perawi, mereka pun menerima periwayatannya.
Adapun meminta seseorang saksi atau menyeluruh perawi untuk bersumpah untuk membenarkan riwayatnya, tidak dipandang sebagai suatu undang-undang umum diterima atau tidaknya periwayatan hadis. Yang diperlukan dalam menerima hadis adalah adanya kepercayaan penuh kepada perawi. Jika sewaktu-waktu ragu tentang riwayatnya, maka perlu didatangkan saksi/keterangan.
Kedudukan sanad dalam hadis sangat penting, karena hadis yang diperoleh/ diriwayatkan akan mengikuti siapa yang meriwayatkannya. Dengan sanad suatu periwayatan hadis dapat diketahui mana yang dapat diterima atau ditolak dan mana hadis yang sahih atau tidak, untuk diamalkan. Sanad merupakan jalan yang mulia untuk menetapkan hukum-hukum Islam. Ada beberapa hadis dan atsar yang menerangkan keutamaan sanad, di antaranya yaitu: Diriwayatkan oleh muslim dari Ibnu Sirin, bahwa beliau berkata:
هداالعلم د ين قا نظرواعمن تا خذ ون د ينكم
Artinya:
"Ilmu ini (hadis ini), idlah agama, karena itu telitilah orang-orang yang kamu mengambil agamamu dari mereka,"
 Abdullah lbnu Mubarak berkata:
الا سنا د من الد ين لولا الاسنا دلقال من شاء ما شاء بيننا وبين القوم القوائم مثل الذي يطلب امر ديننه بلا اسنا د كمثل الذي ير تقى السطح بلا سلم                                                                                                                           
Artinya:
"Menerangkan sanad hadis, termasuk tugas agama Andaikata tidak diperlukan sanad, tentu siapa saja dapat mengatakan apa yang dikehendakinya. Antara kami dengan mereka, ialah sanad. Perumpamaan orang yang mencari hukum-hukum agamanya, tanpa memerlukan sanad, adalah seperti orang yang menaiki loteng tanpa tangga."
Asy-Syafii berkata.
مثل الذي يطلب الحد يث بلا اسنا د كمثل حا طب ليل
Artinya:
"Perumpamaan orang yang mencari (menerima) hadis tanpa sanad, sama dengan orang yang mengumpulkan kayu api di malam hari. "
Perhatian terhadap sanad di masa sahabat yaitu dengan menghapal sanad-sanad itu dan mereka mempuyai daya ingat yang luar biasa. Dengan adanya perhatian mereka maka terpelihara sunnah Rasul dari tangan-tangan ahli bid'ah dan para pendusta. Karenanya pula imam- imam hadis berusaha pergi dan melawat ke berbagai kota untuk memperoleh sanad yang terdekat dengan Rasul yang dilakukan sanad 'aali. Ibn Hazm mengatakan bahwa nukilan orang kepercayaan dari Orang yang dipercaya hingga sampai kepada Nabi SAW. dengan bersambung-sambung perawi-perawinya adalah suatu keistimewaan dari Allah khususnya kepada orang-orang Islam. Memperhatikan sanad riwayat adalah suatu keistimewaan dari ketentuan-ketentuan umat Islam.


PENUTUP
Kesimpulan
Dalam mempelajari Hadis Nabi SAW, seseorang harus mengetahui dua unsur penting yang menentukan keberadaan dan kualitas Hadis tersebut, yaitu al-sanad dan al-matan. Kedua unsur Hadis tersebut begitu penting artinya dan antara yang satu dan yang lainnya saling berhubungan erat, sehingga apabila salah satunya tidak ada maka akan berpengaruh terhadap, dan bahkan dapat merusak, eksistensi dan kualitas dari suatu Hadis. Suatu berita yang tidak memiliki sanad, menurut ulama Hadis, tidak dapat disebut sebagai Hadis; dan kalaupun disebut juga dengan Hadis maka ia dinyatakan sebagai Hadis palsu (Mawdhu). Demikian juga halnya dengan matan, sebagai menentukan keberadaan sanad, karena tidak akan dapat suatu sanad atau rangkaian para perawi disebut sebagai Hadis apabila tidak ada matan atau materi Hadisnya, yang terdiri atas perkataan, perbuatan, atau ketetapan (taqrir)Rasul SAW.
Di dalam penilaian kualitas suatu Hadis, unsur sanad dan matan adalah sangat menentukan. Oleh karenanya, yang menjadi objek kajian dalam penelitian Hadis adalah kedua unsur tersebut, yaitu sanad dan matan.
Kedudukan sanad dalam hadits sangat penting, karena hadits yang diperoleh/diriwaytkan akan mengikuti siapa yang meriwayatkannya. Dengan sanad suatu periwayatan hadits dapat diketahui mana yang dapat diterima atau ditolak dan mana hadits yang sahih atau tidak, untuk diamalkan. Sanad merupakan jalan yang mulia untuk menetapkan hukum-hukum Islam.  

DAFTAR PUSTAKA
Sahrani Sohari, Ulumul Hadis,Bogor:Galia Indonesia,2010.
Agus Solahudin,Agus Suyadi, Ulumul Hadis,Bandung: Pustaka Setia, 2009.
Http://pustaka.abatasa.com




[1] Sohari Sahrani,2010,Ulumul Hadis,Hal 129,Bogor,Galia Indonesia.
[2] Agus Solahudin,Agus Suyadi,2009,Ulumul Hadis,Hal 89,Bandung, Pustaka Setia.
[3] Sohari Sahrani,Op.Cit,Hal 129
[4] Ibid.hal 130
[5] Agus solahudin,Op.cit,Hal 93
[6] Agus solahudin,Op.cit,Hal 97

Related Posts

Subscribe Our Newsletter