KATA PENGANTAR Alhamdulillah puji
syukur kehadirat Allah SWT yang senantiasa melimpahkan rahmat dan hidayah serta
Inayah-Nya, sehingga kami dapat menyelesaikan tugas pembuatan makalah ini yang
membahas tentang Kebudayaan
Hellenik dan dapat diselesaikan dengan tepat tanpa mengalami
hambatan yang berarti. Semoga dengan selesainya makalah ini dapat bermanfaat
bagi kami selaku penulis dan bagi para pembaca semuanya.
Dalam penyusunan makalah ini kami
selaku penulis menyadari tidak lepas dari bimbingan ataupun bantuan dari semua
pihak yang terkait terutama Bapak Jaja Suteja, M.Pd.I, selaku dosen
matakuliah Sejarah Dunia Klasik yang telah membimbing kami selama ini,
kami selaku penulis mengucapkan terimakasih, sehingga dapat terselesaikan
dengan tepat waktu.
Kami menyadari dalam penyusunan
makalah ini masih jauh dari kesempurnaan. Oleh karena itu demi penyempurnaan
tulisan ini, kami mengharapkan masukan dan saran yang bersifat membangun.
Akhirnya penulis berharap semoga
makalah ini bermanfaat bagi pihak-pihak yang berkompeten. Amin.
BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar
Belakang
Perkembangan dan kemajuan Negara-negara saat ini adalah merupakan
warisan peradaban masa lalu yang masih terus dilestarikan hingga sekarang ini. Sadar
ataupun tidak kehidupan masa lalu sangatlah berharga jika kita mau
merenunginya. Kalau kita tidak memikirkan itu maka tak ubahlah hanyalah angin
lalu saja. Namun jika diteliti peristiwa-peristiwa masa lampau itu memiliki
pelajaran-pelajaran yang dapat diambil hikmahnya.
Maka dalam makalah kami akan mengungkap hal-hal mengenai sejarah
dunia khususnya di wilayah Yunani, dengan mengambil tema Kebudayaan Hellenik yaitu
Yunani Kuno. Mengapa kami ambil tema itu? Ada beberapa alasan, yang pertama
ialah karena memang kami mendapat giliran untuk membahas masalah itu, kedua
kalinya ialah karena kebudayaan yang ada disana patut dipelajari sehingga
informasi-informasi mengenai hal seputar kebudayaannya itu mungkin dapat kita
contoh nanti. Baikalah untuk lebih jelasnya akan dibahas berikut ini.
B.
Rumusan
Masalah
1.
Dimanakah
letak geografis Yunani Kuno
2.
Bagaimanakah
sejarah peradaban Yunani Kuno saat itu
3.
Apa
sajakah kebudayaan Hellenik yang dihasilkan saat itu dari berbagai bidang
C.
Rumusan
Tujuan
1.
Mengetahui
letak geografis Yunani Kuno
2.
Mengetahui
bagaimanakah sejarah peradaban Yunani Kuno saat itu
3.
Mengetahui
apa sajakah kebudayaan Hellenik yang dihasilkan saat itu dari berbagai bidang
BAB II
PEMBAHASAN
KEBUDAYAAN HELLENIK
A.
Letak
Geografis Yunani
Yunani (bahasa Yunani modern yaitu Ellada, bahasa Inggris yaitu Greece), secara resmi
bernama Republik Hellenik (Elliniki Dimokratia; bahasa Indonesia: Republik Yunani), adalah sebuah negara tempat lahirnya budaya Dunia Barat yang berada di Eropa bagian selatan/tenggara, terletak
di ujung selatan Semenanjung Balkan, di bagian timur Laut Tengah (Mediterania). Batas wilayahnya yaitu sebelah Utara
berbatasan dengan Albania, Bulgaria dan Republik Makedonia,
yaitu bekas Republik Yugoslavia Makedonia (FYROM). Sebelah Timur berbatasan dengan Turki dan Laut Aegea. Sebelah Selatan
Laut Tengah (Mediterranean),
dan sebelah Barat Laut Ionia.[1]
B.
Peradaban
Yunani Kuno
Peradaban Yunani kuno yang berkembang sejak 1600 SM bermula dari
peradaban Pulau Kreta atau budaya Minos Knosos serta kebudayaan Mykene di
daratan Yunani, karena keduanya merupakan akar dari budaya Yunani. Dengan
meneruskan gaya hidup budaya Minos Knosos dan kebudayaan Mykene sekaligus
menyerap budaya Mesir dan Asia Minor (Etruska dan Funisia) Yunani tumbuh
menjadi pusat peradaban kuno di Eropa.[2] Bangsa
Yunani menyebut negerinya sebagai Hellas. runtuhnya Negara ini membawa Yunani
ke zaman kegelapan yang ditandai dengan kemiskinan, kemunduran, dan kehancuran.
keadaan ini berlangsung antara tahun 1100 – 800 SM. Kebudayaan asli Yunani
disebut Kebudayaan Hellenik. Yang dianggap sebagai pengembangnya adalah Bangsa Ionia,
Doria, dan Aeolia yang dipercaya sebagai nenek moyang bangsa Yunani.
Bangsa Yunani mengembangkan pemerintahan yang berbentuk polis.
Polis-polis di Yunani, antara lain Athena, Sparta, Thebe, Corinthia, dan Argos.
Athena dan Sparta adalah polis yang dominan. Athena menganut sistem demokrasi
langsung, sedangkan Sparta menerapkan sistem militer. Dengan latar belakang
tersebut, polis Athena jauh lebih berkembang daripada Sparta. Pengetahuan
tentang sejarah awal pertumbuhan Yunani diketahui melalui epos Illiad dan
Odyssey yang ditulis oleh Homerus.
Sistem kepercayaan yang dianut oleh bangsa Yunani pada saat itu
adalah polytheisme. Dewa tertinggi bangsa Yunani adalah Zeus. Dewa-dewa
lainnya, antara lain Apollo (dewa matahari), Ares (dewa perang), Aphrodite
(dewi asmara), Athena (dewi ilmu pengetahuan). Untuk menghormati keagungan Dewa
Zeus, rakyat Yunani menyelenggarakan perlombaan-perlombaan olahraga yang
kemudian mengilhami penyelenggaraan pesta olahraga dunia, yaitu Olimpiade. Tokoh
yang secara tidak langsung berjasa mengembangkan kebudayaan Yunani ke Persia
dan Mesir akibat usaha penaklukan kedua negara tersebut adalah Alexander Agung.
Dampak peperangan antara bangsa Yunani dan bangsa-bangsa lain adalah terjadinya
percampuran kebudayaan Yunani dengan kebudayaan bangsa-bangsa taklukannya. Percampuran
kebudayaan tersebut menghasilkan kebudayaan baru yang disebut hellenistik.
C.
Kebudayaan
Hellenik
Beberapa budaya dari Yunani yang diterima oleh bangsa-bangsa di
luar Yunani bahkan menjadi akar dari budaya modern diantaranya yaitu:
1.
Ide
Negara Republik dan Demokrasi
Pada Polis Athena dan kemudian diikuti polis-polis yang lain, sejak
683 SM pemerintahan diatur dalam bentuk Republik Aristokrat lewat para Arkhon yang
dipilih oleh Dewan Kota. Sebagai akibat dari tuntutan rakyat biasa untuk turut
serta dalam pemerintahan yang direalisir oleh Kleistenes pada 507 SM dan Efiales
462-461 SM, pemerintahan kaum elit di Athena diambil alih oleh kekuatan suara
rakyat. Sejak ini di Athena tidak ada lembaga politik yang lebih berkuasa
daripada Dewan Rakyat.
Hampir semua Negara mengambil bentuk republik dengan Dewan
Rakyatnya masing-masing, setidak-tidaknya pada Negara yang masih berbentuk monarkhi,
sudah dilengkapi dengan Lembaga Perwakilan Rakyat, contoh Inggris, Belanda, Jepang,
Malaysia maupun Thailand.
2.
Filsafat
Kebebasan
berpolitik dan berfikir di Yunani mendorong munculnya para pemikir yang
menyukai kebijaksanaan. Diantara filsuf Yunani ada 3 orang filsuf yang tidak
boleh dilupakan karena sistem berfikirnya mendasari sebagian besar filsafat
barat yaitu Socrates, Plato, dan Aristoteles. Dalam rantai emas filsuf Yunani,
ketiganya adalah yang bersinar paling terang di antara pendahulu dan pengganti
mereka, dan Socrateslah yag bersinar paling terang di antara ketiganya.[3]
3.
Ilmu Pengetahuan
Hampir semua
ahli fisafat yang lahir di Yunani dan peletak dasar dari filsafat dunia
sehari-harinya adalah ahli-ahli ilmu pengetahuan yang handal yang cara kerjanya
mempengaruhi cara kerja sarjana modern, di antaranya yaitu:
Thales
|
Ahli
matematika
|
Pythagoras
|
Ahli
matematika (rumus Pythagoras)
|
Plato
|
Ahli
matematika dan negarawan
|
Aristoteles
|
Peletak dasar
metode ilmiah modern, ahli berbagai ilmu pengetahuan
|
Anaksigoras
|
Ahli fisika
|
Hecatacus
|
Ahli geografi
|
Herodotus
|
Ahli sejarah,
penulis historia, sejarah perang Persia
|
Thukidides
|
Ahli sejarah,
penulis perang Peloponesos
|
Hipokrates
|
Ahli
kedokteran, perumus sumpah dokter
|
4.
Seni Bangunan
Sejak zaman
budaya Pulau Kreta dan budaya Mykene Yunani terkenal dengan seni bangunan.
Bangunan rumah tinggal, kuil pemujaan, gudang pemerintahan, dan sebagainya
dibangun dengan megah dari batu dan marmer. Sejak 750 SM seni bangunan Yunani terkenal
dengan gaya arsitekturnya yaitu arsitektur Doria, Ionia dan Korinthia. Adapun
bangunan terkenal yang dihasilkan oleh seni bangunan Yunani antara lain kuil
Athena Nike, Acropolis, Propilae, gedung Parthenon, gedung Erekhteum (semuanya
berada di Athena) dan kuil Apollo di Pulau Delos, serta kuil Zeus di Olymphia.[4]
Dalam referensi
lain disebutkan bangunan pemujaan yang didirikan di Italia Selatan ada kuil Harakles
dan Zeus, di Milete ada kuil Apollo, yang keduanya bergaya bangunan Ionia.
Bangunan bergaya Doria antara lain bangunan di daerah Korinthe, Delfi, dan Aigina.[5] Seni
ini nanti diserap dalam seni bangunan Romawi dan dari Romawi inilah seni
bangunan Yunani menyebar di Eropa, Asia bahkan Afrika.
5.
Aksara
Sampai dengan
900 SM bangsa yunani masih menggunakan aksara-aksara terkuno yaitu Linear A
dari budaya Pulau Kreta yang belum dapat dibaca dan aksara Linear B yang
dipergunakan dalam budaya Mykene yang sudah dapat di baca. Tetapi pada 800 SM Yunani
mengambil alih aksara Funisia, lahirlah aksara Etruska/Yunani Kuno. Aksara ini
berkembang menjadi aksara Kalkidia (Yunani Barat 700 SM) dan aksara Ionia Timur
(aksara baku Yunani, sekitar 500 SM) atau disebut aksara Yunani Klasik, yag
setelah diambil oleh Romawi aksara ini kita kenal sebagai aksara Latin Modern yang
dipergunakan untuk berkomunikasi tulis hampir semua bangsa di dunia.[6]
6.
Seni Patung
Seni patung Yunani
mula-mula tidak begitu berkembang, tetapi sejak abad ke 7 SM perhatian seniman
patung Yunani ditujukan ke Mesir. Dengan mencontoh seni patung Mesir, seni
patung Yunani tampak dengan pesona yang hebat, naturalisti, mementingkan
keindahan, telanjang dengan otot-otot yang jelas atau berbusana lepas rangkap
berlipat-lipat, tidak lagi kaku seperti patung gaya Mesir.[7]
Berkat jasa Alexander
yang mengembangkan kekuasaan Yunani sampai ke India, seni patung Yunani berpengaruh
besar atas lahirnya seni patung Budhisme, dan seni patung Budhisme ini nanti
mempengaruhi seni patung di Asia Tenggara termasuk Nusantara.
7.
Pesta Olahraga dan Seni
Dalam rangka
menghormati para dewa, bangsa Yunani secara periodik menyelenggarakan pesta
olahraga dan seni yang khusus hanya boleh diikuti oleh peserta pria. Porseni Olimpiade
misalnya diselenggarakan 4 tahun sekali di kota Olympia untuk menghormati dewa Zeus.
Pesta ini di meriahkan dengan cabang-cabang olahraga meliputi gulat, lari,
tinju, lompat, lempar cakram, lempar lembing, balap kereta maupun lomba
menggubah musik dan puisi, meniup terompet, bahkan lomba kecantikan dan lomba
minum.
Kecuali Olympiade,
di Yunani juga diselenggarakan POR Tanah Genting di Kota Korintus 2 tahun
sekali, POR Phitia di kota Delfi 4 tahun sekali dan POR Nemea di Kota Argolis 2
tahun sekali. Pesta olahraga yang semula berlaku di Yunani untuk menghormati
dewa-dewa mereka nantinya cara-cara seperti ini diterima sebagai pesta olahraga
yang tidak dikaitkan dengan kepercayaan dan diikuti oleh banyak bangsa dan
Negara, seperti pesta olahraga Olympiade, Asean Games, Auropa Cup, dan lainnya.[8]
BAB III
PENUTUP
KESIMPULAN
Dari pembahasan yang telah
dipaparkan dapat dibuat kesimpulan bahwa kebudayaan Hellenik itu sangat banyak
dan beberapa budayanya diterima oleh bangsa-bangsa di luar Yunani, seperti:
¥ Ide Negara republik
dan demokrasi.
¥ Munculnya para
pemikir dalam bidang filsafat yang sistem berfikirnya mendasari sebagian besar
filsafat Barat yaitu Socrates, Plato, dan Aristoteles.
¥ Lahirnya
ahli-ahli ilmu pengetahuan yang handal yang cara kerjanya mempengaruhi cara
kerja para sarjana modern, seperti Thales, Pythagoras, Plato, Aristoteles, Anaksigoras,
Hecatacus, Herodotus, Thukidides, dan Hipokrates.
¥ Menciptakan
arsitektur bangunan yang nantinya diserap dalam seni bangunannya ke
wilayah-wilayah di luar Yunani. Adapun seni bangunan yunani seperti Kuil Zeus,
Kuil Parthenon, Kuil Apollo, dan sebagainya.
¥ Menciptakan
aksara latin seperti yang kita kenal sekarang.
¥ Menciptakan
seni-seni patung yang tampak hebat, naturalistik, mementingkan keindahan,
telanjang dengan otot-otot yang jelas atau berbusana lepas rangkap
berlipat-lipat, tidak lagi kaku. Seperti patung-patung dewa, atau atlit-atlit
Yunani.
¥ Menciptakan
pesta olahraga olympiade dalam rangka menghormati dewa zeus, yag nantinya
cara-cara ini diterima sebagai olahraga yang tidak dikaitkan dengan kepercayaan
dan diikuti oleh banyak bangsa dan Negara.
[1] Lihat Http://Id.Wikipedia.Org/Wiki/Yunani.
[2] Soekotjo, dkk, Sejarah Budaya, cet 1, (Jakarta: Mutiara
Sumber Widya, 1996), hlm. 23.
[3] Arnold Toybee, Sejarah Umat Manusia, terj. Agung Prihantoro,
Imam Muttaqien, Imam
Baehaqi, dan Moh. Shodiq,
(Yogyakarta: Pustaka Belajar, 2006), hlm. 265.
[4] Ibid., hlm. 25.
[5] Edhie Wurjantoro, Sejarah Nasional dan Umum I, (Jakarta: Depdikbud,
1996), hlm. 101.
[6] Arnold Toybee, Op.Cit., hlm. 25.
[7] Ibid., hlm 25.
[8] Ibid., hlm. 26.