1. Teori kognitif
Menurut teori ini
tingkah laku tidak digerakkan oleh apa yang disebut motivasi, melainkan oleh
rasio. Pandangan ini adalah pandangan para filsuf kuno seperti Plato,
Aristoteles, tetapi juga filsuf abad pertengahan seperti Thomas Aquinas,
Descates, Spinoza, Hobbes, bahkan pandangan ini pada masa yang silam hampir
menjadi pandangan umum dikalangan masyarakat.
2. Teori Hedonistis
Teori ini mengatakan
bahwa segala perbuatan manusia, entah itu disadari ataupun tidak disadari,
entah itu timbul dari kekuatan luar ataupun kekuatan dalam, pada dasarnya
mempunyai tujuan yang satu, yaitu mencari hal-hal yang menyenangkan dan
menghindari hal-hal yang menyakitkan.Jika dikaitkan dengan masalah motivasi,
dapat dikatakan bahwa tindakan seseorang sangat tergantung pada antisipasi atau
ekspektansi seseorang terhadap objek atau rangsangan yang dihadapinya. Dengan
kata lain, menurut teori hedonistis yang diperbaharui ini reaksi seseorang atau
tingkah laku seseorang dapat dibedakan menjadi dua yaitu tingkah laku mendekati
rangsangan yang dirasakan akan membawa keenakan dan tingkah laku menjauhi
rangsang yang dirasakan akan membawa rasa tidak enak. Namun unsur pokok
motivasi dalam teori hedonistis ini adalah rangsangan yang ditimbulkan dari
rasa enak dan tidak enak.
3. Teori Keseimbangan
Dari kedua teori diatas
diperjelas lagi oleh teori keseimbangan yang mengatakan bahwa tingkah laku
manusia timbul karena adanya suatu kebutuhan, dan tingkah laku manusia tersebut
mengarah pada pencapaian tujuan yang dapat memenuhi atau memuaskan kebutuhan
itu.
Menurut Abarham. H. Maslow. Kebutuhan yang harus dipenuhi agar manusia dapat berkembang
dengan baik adalah sebagai berikut:
a. Kebutuhan fisiologis
Kebutuhan fisiologis ini merupakan kebutuhan dasar, paling kuat dan paling
jelas dari antara sekalian kebutuhan manusia adalah kebutuhannya untuk
mempertahankan hidupnya secara fisik, yaitu kebutuhan akan makan, minum, tempat
beteduh, seks, tidur, dan oksigen.
b. Kebutuhan akan rasa
aman
Setelah kebutuhan
fisiologis terpuaskan muncullah kebutuhan akan rasa aman karena jika kebutuhan
akan rasa aman ini tidak ditemukan maka individu akan merasa cemas dan merasa
tidak aman.
c. Kebutuhan akan cinta
kasih dan rasa memiliki
Kebutuhan akan cinta
kasih dan rasa memiliki muncul ketika berhubungan dengan orang lain atau ingin diakui dalam suatu kelompok dan individu
tersebut akan berusaha keras mencapai tujuan itu.
Abraham Maslow mengatakan bahwa “kebutuhan akan cinta meliputi cinta yang
memberi dan cinta yang menerima” contoh misalnnya orang yang diputuskan oleh
pasangannya akan memberikan dampak negatif seperti males makan, belajar kurang
semangat dan lain-lain.
d. Kebutuhan akan
penghargaan
Penghargaan merupakan suatu kebutuhan yang diinginkan oleh setiap individu
dari orang lain namun jika penghargaan tidak didapatkan individu tersebut maka
akan diliputi rasa rendah diri serta rasa tidak berdaya, yang selanjutnya dapat
menimbulkan rasa putus asa serta tingkah laku neurotik. Maka Abraham Maslow mengelompokkan
tentang kebutuhan penghargaan yakni, harga diri dan penghargaan dari orang
lain. 1) harga diri meliputi kebutuhan akan kepercayaan diri, kompetensi,
penguasaan, kecukupan, prestasi, ketidaktergantungan dan kebebasan. 2)
penghargaan dari orang lain meliputi prestise, pengakuan, penerimaan,
perhatian, kedudukan, nama baik serta penghargaan.
e. Kebutuhan untuk tahu
dan memahami
Abraham
Maslow berkeyakinan bahwa salah satu ciri mental yang
sehat ialah adanya rasa ingin tahu. Dan alasan-alasan untuk mengemukakan rasa
ingin tahu sebagai berikut:
1) Tertarik pada hal-hal
yang penuh rahasia yang tak dikenal dan yang tak dapat dijelaskan.
2) Anak-anak memiliki rasa
ingin tahu yang alamiah.
3) Pemenuhan rasa ingin
tahu ternyata secara subjektif juga memuaskan. banyak orang melaporkan bahwa
belajar dan menemukan sesuatu menibulkan rasa puas dan bahagia. Oleh sebagaian
orang proses ini disebut dengan pencarian makna, sebagai dalil adanya hasrat
untuk memahami, menyusun, mengatur, menganalisis, menemukan hubungan-hubungan
dan makna-makna, membangun suatu sistem nilai.
f. Kebutuhan akan
keindahan
Maslow menemukan bahwa
paling tidak pada sementara orang, kebutuhan akan keindahan ini begitu
mendalam, sedangkan hal-hal yang jelek benar-benar membuat seseorang tidak
nyaman. Penelitian menunjukan bahwa keburukan menimbulkan kejemuan serta
melemahkan semangat.Dr Maslow menemukan bahwa dalam arti biologis, sama seperti
kebutuhan akan kalsium dalam makanan, setiap orang membutuhkan keindahan.
Karena keindahan membuat seseorang lebih sehat dan semangat.
g. Kebutuhan akan kebebasan bertindak (aktualisasi diri)
Setiap orang harus berkembang sepenuh kemampuannya, pemaparan tentang
kebutuhan psikologis untuk menumbuhkan, mengembangkan kemampuan, oleh maslow
disebut dengan aktualisasi diri, merupakan salah satu aspek penting teorinya
tentang motivasi pada manusia. Kebutuhan ini sebagai “hasrat untuk menjadi diri
sepenuh kemampuannya sendiri, menjadi apa saja menurut kemampuannya. Abraham Maslow mengatakan bahwa kebutuhan akan aktualisasi diri ini biasanya
muncul sesudah kebutuhan akan cinta dan akan penghargaan terpuaskan secara
memadai.
4. Teori dorongan
Pada prinsipnya untuk
mempertegas, teori dorongan ini memberikan tekanan pada hal yang mendorong
terjadinya tingkah laku.Bahkan
sebenarnya teori keseimbangan dasarnya adalah teori dorongan ini, dan teori
keseimbangan memperkuat teori dorongan ini.Teori dorongan ini diperkenalkan
oleh Robert Woodworth pada tahun 1918 pada waktu itu Robert Woodworth
mengartikan dorongan sebagai suatu tenaga dari dalam diri kita yang menyebabkan
kita berbuat sesuatu.Oleh karena itu kata motif juga diberi arti dorongan yang
menimbulkan dan mengarahkan tingkah laku manusia.[1]Sedangkan menurut hasan langgulung motivasi adalah keadaan psikologis yang
merangsang dan memberi arah terhadapa aktifitas manusia.Dialah kekuatan yang
mendorong aktifitas seseorang.Motivasi seseorang itulah yang membimbingnya ke
arah tujuan-tujuannya.[2]
Kemudian motivasi
menurut Mc. Donald sebagaimana dikutipSyaiful Bahri Djamarah, adalah an
energy change within the person charactrized by affective arousal and
anticipatory goal reactions.suatu perubahan energi di dalam pribadi
seseorang yang ditandai dengan timulnya afektif (perasaan) dan reaksi utuk
mencapai tujuan). Karena seseorang mempunyai tujuan tertentu dari aktivitasnya,
maka seseorang mempunyai motivasi yang kuat untuk mencapainya dengan segala
upaya yang dapat dilakukan untuk mencapainya.[3]
Sedangkan menurut Sardiman bahwa motivasi mengandung tiga elemen penting:[4]
a. Bahwa motivasi itu
mengawali terjadinya perubahan energi pada diri setiap individu manusia.
Perkembangan motivasi akan membawa beberapa perubahan energi di dalam sistem “neurophysiological”
yang ada pada organisme manusia. Karena menyangkut perubahan energi manusia
(walaupun motivasi itu muncul dari dalam diri manusia), penampakkannya
menyangkut kegiatan fisik manusia.
b. Motivasi ditandai dengan munculnya, rasa atau feeling, afeksi seseorang. Dalam hal ini motivasi relevan dengan persoalan-persoalan kejiwaan, afeksi
dan emosi yang dapat menentukan tingkah laku manusia.
c. Motivasi dirangsang
karena adanya tujuan. Jadi motivasi dalam hal ini sebenarnya merupakan respon
dari suatu aksi, yakni tujuan. Motivasi memang muncul dari dalam diri manusia,
tetapi kemunculannya karena terangsang atau terdorong oleh adanya unsur lain
dalam hal ini adalah tujuan. Tujuan ini akan menyangkut soal kebutuhan.
Dari ketiga elemen di atas,
maka dapat disimpulkankan bahwa motivasi merupakansuatu yang komplek,
sehingga motivasi menyebabkan
terjadinya suatu perubahan energi yang ada pada diri manusia, dan menyangkut dengan persoalan gejala kejiwaan, perasaan dan juga emosi, untuk bertindak
atau melakukan sesuatu,
hal tersebut didorong karena adanya suatu tujuan, kebutuhan. Sedangkan motivasi merupakan suatu dorongan kebutuhan
yang menyebabkan seseorang melakukan suatu perbuatan untuk mencapai tujuan
tertentu. Adapun motivasi berasal dari kata motif yang berarti
"dorongan" atau rangsangan atau "daya penggerak" yang ada
dalam diri seseorang.
Dari
uraian di atas dapat disimpulkan bahwa konsep motivasi dapat didefinisikan
sebagai konstruk hipotesis yang digunakan oleh keinginan, arah, intensias, dan
keajegan perilakuyang diarahkan oleh tujuan. Karena dalam motivasi tercakup
konsep-konsep, seperti kebutuhan untuk berprestasi, kebiasaan, dan
keingintahuan seseorang terhadap sesuatu.[5] sebuah
abstraksi, gagasan atau idea yang relatif sempurna dan bermakna yang
menggambarkan dorongan atau tenaga yang menimbulkan sebuah motivasi dalam
segala perilaku dan mempunyai semangat yang tinggi sehingga motivasi menjadi
suatu kekuatan, tenaga atau daya, atau suatu keadaan yang kompleks dan kesiap
sedian dalam diri individu untuk bergerak ke arah tujuan tertentu, baik
disadari maupun tidak disadari. Motivasi seseorang
dapat ditimbulkan dan tumbuh berkembang melalui dirinya sendiri-intrinsik dan
dari lingkungan-ekstrinsik. Motivasi intrinsik bermakna sebagai keinginan dari
diri sendiri untuk bertindak tanpa adanya rangsangan dari luar .Motivasi intrinsik akan lebih menguntungkan dan
memberikan keajegan dalam belajar. Motivasi ekstrinsik dijabarkan sebagai
motivasi yang datang dari luar individu dan tidak dapat dikendalikan oleh
individu tersebut, mencontohkannya dengan nilai, hadiah, atau penghargaan yang
digunakan untuk merangsang motivasi seseorang.
[1]Martin Handoko, Motivasi Daya Penggerak Tingkah Laku, hlm. 25.
[2]Elly
Handayani, Motivasi Beragama Dalam
Training IESQ Lembaga Dakwah At-Takwa Yogyakarta, skripsi tidak
diterbitkan, (Fakultas Dakwah: UIN-Suka, 2004), hlm, 8-9.
[3]Syaiful Bahri Djamarah, Psikologi Belajar, (Jakarta: Rineka Cipta,
2011), hlm. 148.
[4]Sardiman, Interaksi dan Motivasi Belajar Mengajar, (Jakarta: CV.
Rajawali, 1986), hlm. 74.
[5]Hamzah. B. Uno, Teori Motivasi dan Pengukurannya, (Jakarta: PT Bumi
Akasara, 2012), hlm. 3.